Belasan gajah masih berkeliaran di permukiman warga Nagan Raya

Banda Aceh (ANTARA News) – Belasan gajah masih berada di kawasan permukiman warga Gampong Blang Tengku dan Tuwie Meulesong di Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, hingga Sabtu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Sabtu, mengatakan aparat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Nagan Raya dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Rayon Meulaboh dengan bantuan petugas TNI/Polri dan warga masih berusaha menggiring gajah-gajah itu kembali ke hutan.

Kawanan gajah liar merambah areal pertanian, perkebunan, dan rumah warga di Blang Tengku dan Tuwie Meulesong sejak Minggu (6/1). Ulah mereka menyebabkan dua rumah warga Tuwie Meulesong dan satu rumah warga Blang Tengku rusak.

Keuchik (Kepala Desa) Blang Tengku Samsirman mengatakan kawanan gajah itu sempat meninggalkan permukiman setelah warga berupaya mengusir mereka, namun kemudian masuk lagi ke permukiman.

Satwa-satwa berbelalai itu berhasil digiring ke hutan pada Rabu (9/1) malam, namun sebagian kemudian datang lagi dan menimbulkan kerusakan rumah warga. Pada Kamis (10/1) malam satu gajah jantan datang ke Blang Tengku dan mengobrak-abrik tanaman warga.

“Batang kelapa, pinang, dan sebagainya juga dijatuhkan sehingga menimpa rumah warga kami. Kami benar-benar ketakutan saat ini karena satu ekor gajah jantan ini memang sangat ganas,” katanya.

Baca juga:
Gajah masuk permukiman warga Nagan Raya, Aceh
Korban amukan gajah dirawat di Banda Aceh

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dalam sepekan dua dugong ditemukan mati di Dumai, Riau

Pekanbaru (ANTARA News) – Dalam sepekan terakhir ada dua dugong — jenis mamalia laut yang populasinya terancam– yang ditemukan mati di perairan Kota Dumai, Provinsi Riau.

“Satu di daerah Puak, dan yang tarakhir ditemukan di Pantai Pulai Bungkuk. Itu masih satu hamparan pantai yang sama, sekitar 15 menit dari pusat Kota Dumai,” kata Putra CP, warga Kota Dumai, ketika dihubungi Antara dari Pekanbaru, Sabtu.

Menurut dia, satu dugong ditemukan mati pada Rabu (9/1) di Puak, dan sehari setelahnya ada temuan dugong mati di Pantai Pulai Bungkuk Indah.

Bangkai dugong yang ditemukan di Pantai Pulai Bungkuk Indah tidak menunjukkan bekas luka, jadi kemungkinan mamalia laut itu tidak mati tertabrak kapal.

“Mungkin mati karena sebab lain, bisa jadi keracunan, karena kita tahu bagaimana kotornya laut Dumai sekarang akibat limbah pabrik,” kata Putra, yang melihat langsung bangkai dugong yang ditemukan di objek wisata Pantai Pulau Bungkuk Indah.

Ia menambahkan saat ditemukan bangkai dugong sudah berbau busuk dan membiru, dan sempat dijadikan mainan oleh anak-anak setempat. Warga mengunggah video yang menunjukkan anak-anak memainkan bangkai dugong itu ke media sosial.

“Awalnya saya sangka itu kayu, ternyata itu bangkai dugong,” katanya.

Putra mengatakan bangkai dugong tersebut kini sudah dikuburkan oleh warga setempat, yang menganggap dugong sebagai satwa yang harus dijaga, tidak boleh ditangkap apalagi dikonsumsi.

“Ada warga yang percaya kalau ada dugong ditemukan mati, pasti ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. Saya menganggap itu mitos, tapi mungkin saja itu tanda-tanda bahwa kondisi lingkungan kita sudah tercemar,” katanya.

Dugong merupakan jenis mamalia laut yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, juga Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Jenis mamalia laut ini membutuhkan waktu 10 tahun untuk menjadi dewasa dan 14 bulan untuk melahirkan satu individu baru pada interval 2,5 sampai 5 tahun.

Lembaga konservasi WWF Indonesia di laman resminya menyebutkan populasi dugong di Indonesia belum diketahui pasti karena terbatasnya kajian mengenai status populasi satwa tersebut.

Namun menurut WWF Indonesia populasi dugong menghadapi ancaman karena kerusakan habitat, penangkapan ilegal, atau secara tidak sengaja terjaring alat tangkap perikanan.

Baca juga:
Duyung 2,4 meter ditemukan mati di Pantai Rupat
Dugong nyaris punah akibat pencemaran laut di semenanjung Malaka

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Warga benar-benar ketakutan, gajah kembali masuk permukiman di Aceh

Meulaboh  (ANTARA News) – Satu gajah pejantan dilaporkan kembali ke permukiman, mengamuk dan menumbangkan pohon kelapa sehingga menimpa rumah masyarakat Desa Blang Tengku, Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, sehingga warga ketakutan.

Kepala Desa (Keuchik) Blang Tengku, Samsirman, yang dihubungi dari Meulaboh, Aceh, Sabtu, mengatakan, dua hari sebelumnya kawanan gajah sudah meninggalkan permukiman setelah dilakukan upaya pengusiran, namun tiba-tiba kembali masuk permukiman.

“Batang kelapa, pinang, dan sebagainya juga dijatuhkan sehingga menimpa rumah warga kami. Kami benar-benar ketakutan saat ini karena satu ekor gajah jantan ini memang sangat ganas,” katanya melalui sambungan telepon.

Samsirman, menyampaikan, pada Rabu (9/1) malam kawanan gajah sudah meninggalkan permukiman setempat, namun satwa berbelalai panjang itu bukan kembali ke hutan, tapi justru merusak tiga unit rumah desa tetangga, Desa Tuwie Meuleusong.

Baca juga: Gajah masuk perkampungan rusak tiga rumah

Kemudian, pada Kamis (11/1) malam, satu ekor gajah pejantan kembali ke Desa Blang Tengku dan mengobrak abrik tanaman muda, batang kelapa, dan pinang, ditumbangkan hingga menimpa rumah masyarakat, beruntung tidak ada korban jiwa.

Suasana perkampungan mereka akhir-akhir ini mencekam, kata Samsirman, sebab amukan satwa gajah tersebut sudah berlangsung lama, warga tidak berani keluar rumah saat malam karena satwa dilindungi undang-undang tersebut masih berkeliaran.

“Gajah yang selama ini bermain, sudah seperti `warga kami`, dia mondar-mandir, menampakkan diri. Saya sering bertemu di jalan saat pulang dari masjid menuju rumah, tiba-tiba saja di tengah jalan dia berdiri, siapa berani usir,” keluhnya.

Baca juga: Korban amukan gajah dirawat di Banda Aceh

Bukan hanya pohon dan rumah yang menjadi sasaran amukan gajah liar di kawasan tersebut, tanaman palawija serta tanaman padi tidak bisa tumbuh dengan baik karena menjadi santapan satwa gajah yang terdeteksi masih di kawasan itu.

Sebelumya Pusdalop Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagan Raya, Agus Salim, menyampaikan, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh masih berada di kawasan itu melakukan upaya menghalau satwa gajah.

Rencananya kegiatan mengusir satwa gajah tersebut dilakukan selama lima hari yakni terhitung sejak Senin (7/1) dan kemungkinan ditambah apabila dibutuhkan.

Menghalau gajah dilakukan dengan meledakan mercon dan pada hari ke dua kawanan gajah telah menjauh sekitar 13 kilometer dari Desa Blang Tengku.

“Karena masih awal tahun, kami hanya mampu mendatangkan BKSDA bersama tim lainnya untuk menghalau satwa gajah dari permukiman. Awalnya sudah berhasil, gajah sudah menjauh 13 km,” demikian Agus Salim.

Baca juga: Dinas PUPR: Ada 200-300 titik jalan rusak di Pekanbaru

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tersangka penjual satwa gunakan akun facebook palsu

Medan (ANTARA News) – Kepolisian Daerah Sumatera Utara mengungkapkan tersangka penjual satwa berinisial ARN (25), warga Desa Paluh Manan, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, menggunakan akun Facebook palsu.

“Tersangka menggunakan akun Facebook palsu dengan memakai nama inisial KS, nama wanita,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumatera Utara, Komisaris Besar Polisi Rony Samtama, di Medan, Jumat (11/1).

Selain itu, kata dia, tersangka juga bergabung dalam komunitas akun Facebook Jual Beli Segala Jenis Hewan Medan untuk memasarkan satwa yang dilindungi kepada pembeli.

“Satwa dilindungi yang dijual tersangka, antara lain, lutung emas atau lutung budeng, kucing akar/kucing kandang, musang, monyet, dan tupai,” kata dia.

Satwa tersebut, lanjut dia, diantar dengan jasa Gojek yang wilayah pemasarannya masih berada di Medan dan sekitarnya.

Tersangka mendapat satwa liar yang dilindungi dari nelayan dan masyarakat di Desa Batang Serai, Desa Palu Subur, dan Desa Parit Belang, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang.

“Tersangka tidak memiliki izin dari pihak berwenang dalam kepemilikan satwa yang dilindungi tersebut,” ucapnya.

Sebelumnya, anggota Ditreserse Krimsus Polda Sumatera Utara bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara meringkus penjual satwa yang dilindungi berinisial ARN (25), Rabu (8/1).

Dalam pengungkapan kasus tersebut, polisi menyamar untuk bisa ketemu dengan tersangka, dan kemudian mendapatkan tiga  anak lutung emas dan langsung mengembangkan temuan itu ke rumah tersangka di Desa Paluh Manan.

Aparat juga menemukan tiga anak elang brontok (Nisaetus cirrhatus) dan satu anak kucing akar/kucing tandang (Prionailurus bengalensis) di rumah tersangka.

Seluruh satwa tersebut kemudian disita dan diserahkan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara untuk dibawa ke Taman Wisata Sibolangit.

Ia menambahkan bahwa tersangka ARN menjual satwa dilindungi itu selama enam bulan.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Korban amukan gajah dirawat di Banda Aceh

 Banda Aceh,   (ANTARA News) – Korban amukan gajah liar, T Muhammad Bardan (65), warga Gampong Drien Tujoh, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Dokter RSUD Zainoel Abidin, Syahrizal Rahman SpOT di Banda Aceh, Aceh, Jumat, menyatakan korban amukan gajah mengalami patah tulang dan luka serius pada tangan kanannya.

“Kondisi ini menyebabkan pasien memerlukan penanganan medis secara intensif. Beberapa bagian tulang pada tangan kanan korban mengalami patah dan juga pada lengan mengalami luka serius,” ujar dia

Secara fisik, sebutnya kondisi korban sudah membaik setelah  mendapat penganan medis. Namun perlu perawatan intensif pada luka agar tidak menimbulkan tetanus.

“Terdapat luka serius pada tangan kanan korban yang harus dibersihkan dan membutuhkan operasi, termasuk operasi tulang yang mengalami patah karena amukan gajah liar tersebut,” ujar dia.

Menurutnya, operasi tulang perlu dilakukan tidak hanya sekali, tetapi   beberapa kali, termasuk luka kulit  pada tangan pasien.  

Sebelumnya T Muhammad Bardan sempat dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Tgk Chiek Di Tiro, Sigli, Pidie. Korban diamuk gajah pada Selasa  (8/1) sekitar pukul 17.00 WIB.

T Muhammad Bardan mengaku diamuk gajah liar saat membersihkan kebun kacang di kawasan Gampong Lhok Sandeng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Sebelumnya, ia mengaku sering berjumpa gajah liar tersebut.

“Saya tidak mengira seekor gajah liar menyerang. Gajah melilitkan belalai dan beberapa saat kemudian melepas lilitan. Lalu, gajah itu pergi masuk hutan,” jelas dia.

Setelah gajah tersebut masuk hutan, T Muhammad Bardan berupaya bangkit menuju sepeda motornya dan pulang. Namun di tengah perjalanan, T Muhammad Bardan  merasa pusing dan menghubungi keluarga melalui telepon seluler minta bantuan.

“Tidak berselang lama, datang warga menolongnya. Melihat kondisinya yang begitu parah, warga langsung membawa saya ke RSUD Tgk Chiek Di Tiro di Sigli, Kabupaten Pidie,” ungkap T Muhammad Bardan.

Baca juga: Gajah masuk perkampungan rusak tiga rumah
Baca juga: 11 ekor gajah mati di Aceh selama 2018 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

11.932 tukik dilepas di pantai konservasi Aceh Jaya

Meulaboh, Aceh (ANTARA News) – Lembaga Konservasi Penyu Aroen Meubanja mencatat telah melepas 11.932 tukik atau anak penyu di Pantai Pasie Aron Panga, Kecamatan Pangga, Kabupaten Aceh Jaya, sepanjang delapan tahun terakhir.

Ketua Konservasi Penyu Aroen Meubanja, Murniadi, dihubungi di Aceh Jaya, Jumat mengatakan kelompok reptil laut tersebut sudah mulai dilepas sejak organisasi penangkar penyu itu hadir pada 2012 sampai dengan Januari 2019.

“Kami dari konservasi Penyu Aroen Meubanja telah melepaskan 11.932 tukik jenis lekang dan belimbing sejak 2012 -2019. Konservasi ini kami dirikan dengan swadaya orang yang peduli keberlangsungan hidup penyu,” katanya.

Kegiatan terakhir dilaksanakan pada Kamis (10/1) petang, kegiatan itu dilakukan para penggiat konservasi penyu, diramaikan mahasiswa dan masyarakat yang ikut melepas liarkan 63 ekor tukik di kawasan pantai konservasi tersebut.

Penangkaran dan pelepasan bayi-bayi penyu tersebut merupakan upaya menjaga keberlangsungan hidup satwa dilindungi undang – undang, selain itu menjadi pemicu pengembangan kawasan konservasi sebagai objek wisata lingkungan.

“Ini juga menjadi langkah menjadikan pantai Pasie Aroen Panga sebagai lokasi wisata berwawasan lingkungan, tentunya dengan mengutamakan konservasi alam serta aspek edukasi lingkungan,” jelasnya kepada sejumlah wartawan.

Pria yang akrap disapa Dedi, itu menyampaikan, populasi penyu semakin menipis apabila habitatnya terganggu oleh sampah yang mencemari laut, karena itu perlu juga diberikan edukasi pentingnya menjaga kebersihan pantai dari sampah.

Selain itu, tukik yang telah dilepas pun, tidak dapat dipastikan bisa hidup dan tumbuh dewasa setelah dilepas liarkan di kawasan konservasi sebagai habitatnya, sebab umur tukik relatif labil menjadi sasaran kelompok predator laut.

“Bukan hanya sekadar pelepasan tukik tetapi mahasiswa dan anak – anak serta warga sekitar diberikan pemahaman tentang pentingnya menyelamatkan penyu dan mengimbau agar tidak memburu telur penyu saat musim bertelur di pantai,” kata Dedi.

Baca juga: 433 tukik tuntong laut Aceh Tamiang dilepasliarkan
 

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kondisinya luka, seekor lumba-lumba terdampar di Pantai Serang-Blitar

Oleh Destyan Hendri dan Asmaul Chusna

Blitar, Jatim (ANTARA News) – Seekor lumba-lumba terdampar di kawasan Pantai Serang, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dalam kondisi badan yang penuh luka, yang diduga terbawa arus hingga ke tepi pantai.

Kepala Desa Serang, Dwi Handoko, saat ditemui, Rabu mengemukakan, ikan itu ditemukan masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Bina Samudera di kawasan pantai, pada Selasa (8/1) pagi dalam kondisi hidup.

Temuan ikan itu lalu dikoordinasikan dengan petugas di kawasan pantai, dengan harapan segera ada tindak lanjut untuk penyelamatan ikan tersebut.

“Petugas berupaya agar lumba-lumba yang terdampar itu dikembalikan ke laut sejauh kurang lebih 100 meter dari bibir pantai. Ada enam anggota dari Pokmaswas Bina Samudera Pantai Serang itu sekitar jam 09.00 WIB. Namun, pada pukul 13.00 WIB, ikan itu kembali menepi ke pantai,” kata dia.

Petugas, kata dia, juga langsung berupaya kembali menolong ikan tersebut untuk dikembalikan ke laut. Sambil menunggu gelombang laut.

Setelah dibiarkan, lumba-lumba itu juga masih kembali ke bibir pantai hingga pukul 15.00 WIB. Fisik ikan itu juga diketahui lemah, sehingga sudah tidak dimungkinkan untuk dikembalikan lagi ke laut.

Ikan itu, tambah dia, kemudian dievakuasi oleh tim ke dalam kolam bak fiber di samping kantor Pokmaswas Bina Samudera di kawasan pantai. Tim lalu berkoordinasi dengan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, DKP Provinsi Jatim, UPT Pelabuhan Dan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (P2SKP) Tambakrejo, Sahabat Alam Indonesia, JAAN, Dolphin Project, hingga COP guna mendapatkan bantuan lebih untuk penanganan ikan tersebut.

Ia menyebut, saat ditemukan tubuh ikan itu dipenuhi dengan luka. Dimungkinkan tubuhnya terbentur dengan karang, sehingga luka. Tim juga memerlukan bantuan dari tim ahli lainnya, yang lebih memahami untuk penanganan ikan lumba-lumba. Terlebih lagi, di tubuh ikan banyak luka.

“Kondisinya memang parah. Kemungkinan di tengah laut menabrak karang sampai dia mendarat. Dari pemeriksaan tim ahli ada sekitar 180 luka baik lebam dan lecet,” kata dia.

Petugas ahli, tambah dia, juga langsung datang dan berupaya untuk melakukan identifikasi dan perekaman video sebagai dokumentasi kondisi ikan itu, termasuk melakukan identifikasi morfometri.

Namun, dalam pengecekan yang dilakukan ternyata ikan itu mati, sehingga diputuskan untuk dikubur.

Dari hasil identifikasi morfometri, diketahui kematian lumba-lumba itu diduga akibat adanya fraktur di bagian “blowhole” atau lubang sembur dan mengacu pada bekas luka goresan yan gada pada tubuh ikan itu, dipastikan bukan karena dampak jaring nelayan.

Ikan itu adalah jenis lumba-lumba belang atau “Stripped dolphin”. Ikan itu berjenis kelamin jantan dewasa dengan berat badan kurang lebih 40-50 kilogram, panjang 147 centimeter. Selain luka gores hingga 180 titik, juga terdapat 14 titik jamur, inflamasi atau peradangan akut di mata kanan dan fraktur pada “blowhole”.

“Tadi proses identifikasi selesai pada pukul 02.55 (Rabu, 9/1) dan selanjutnya dilakukan penguburan bangkai lumba-lumba yang mati itu selesai pagi tadi, jam 05.00 WIB.

Handoko juga menyebut, ikan lumba-lumba yang terdampar hingga Pantai Serang termasuk kejadian langka. Namun, sejumlah nelayan biasanya mengetahui ikan ini juga berada di kawasan pantai selatan. Diharapkan, para nelayan juga berhati-hati saat mencari ikan, untuk tidak menangkap ikan yang dilindungi, seperti lumba-lumba.

Baca juga: Seekor lumba-lumba terdampar di Pantai Kenjeran

Baca juga: Lumba-lumba terdampar di Surabaya ditemukan tewas

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cegah abrasi pantai di Pati, duta wisata ikut tanam mangrove

Pati, Jateng, 8/1 (ANTARA News) – Paguyuban duta wisata bersama aktivis lingkungan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, melakukan penanaman tanaman bakau (mangrove) untuk mencegah terjadinya abrasi di sepanjang Pantai Pangkalan, Desa Pangkalan, Pati, Selasa.

Penanaman 3.000 bibit mangrove di Kecamatan Margoyoso tersebut ditanam serentak di garis Pantai Pangkalan tersebut.

Menurut Duta Wisata Pati tahun 2017, Gunita, penanaman tanaman mangrove dilakukan bersama Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia, Karang Taruna Kabupaten Pati, Komunitas Peduli Pantai Utara Pati, dan Komunitas Sedulur Jelajah Pati.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat diikuti masyarakat untuk menjaga pantai pesisir Pati agar tetap lestari.

Apalagi, lanjut dia, komoditas tersebut bermanfaat untuk mencegah abrasi laut serta menjadi tempat hidup dan sumber makanan bagi beberapa jenis satwa dan ikan.

“Kegiatan ini juga sebagai salah satu bentuk perhatian terhadap konservasi lingkungan hidup agar ekosistem di sekitar tetap terjaga,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, tanaman mangrove juga memiliki nilai ekonomis, mulai dari kayu hingga buahnya bisa dimanfaatkan.

Kegiatan penanaman tersebut, lanjut dia, tentunya sejalan dengan visi dan misi Duta Wisata Kabupaten Pati untuk menjaga lingkungan pantai.

“Kami tidak hanya dituntut untuk berpenampilan menarik, tetapi juga memiliki rasa peduli dan wawasan yang luas tentang pariwisata, terlebih wisata mangrove di Kabupaten Pati yang sedang berkembang,” ujarnya.

Aktivis peduli lingkungan di Kabupaten Pati sedang menggalakkan penanaman mangrove di tepi pantai yang rawan abrasi.

Bahkan, ada yang dikembangkan menjadi objek wisata, seperti objek wisata hutan tanaman mangrove di Desa Sambilawang, Kecamatan Trangkil, Pati.

Hutan mangrove yang dilengkapi dengan trek yang berada di Desa Sambilawang itu memang cukup luas, karena mencapai 15 hektare.

Baca juga: Masyarakat Jateng diajak menjadi pelopor penghijauan

Baca juga: Mayoritas mangrove dinilai kurang baik

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemunculan buaya di Ambon disisir BKSDA Maluku

Ambon, (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya (BKSDA) Provinsi Maluku menyisir keberadaan buaya yang dilaporkan masyarakat muncul di pesisir Ambon, yakni kawasan Pelabuhan Yos Sudarso.

“Setelah menerima laporan dari masyarakat pada Senin (7/1) kami telah melakukan penyisiran di kawasan pesisir, terutama Pelabuhan Yos Sudarso,” kata Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi, di Ambon, Selasa.

Ia mengatakan, informasi dari warga sekitar terdapat empat ekor buaya, yakni satu ekor buaya dengan panjang tiga meter dan tiga ekor panjangnya satu meter.

Empat ekor buaya mulai dilihat warga sekitar pada 31 Desember 2018. Kemunculan buaya tersebut dilihat warga saat ingin berjemur di sekitar got besar atau tempat pembuangan kotoran di kawasan pasar lama atau  Pelabuhan Slamet Riyadi.

“Laporan masyarakat ditindaklanjuti dengan penyisiran dan rencana penangkapan buaya, kami juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan ke ‘call center’ BKSDA Maluku jika buaya terlihat kembali,” katanya.

Menurut Mukhtar, warga yang melaporkan kemunculan buaya sempat melihat hewan reptil muncul di gorong-gorong kawasan Pelabuhan Slamet Riyadi dan juga di perairan dekat Pasar Mardika Ambon.

“Kita juga melakukan identifikasi jenis buaya yang dilaporkan masyarakat, apakah itu buaya muara atau laut,” ujarnya.

BKSDA Maluku saat ini juga telah menyiapkan jaring yang akan dipakai untuk menangkap empat ekor buaya.

“Kita juga telah berkoordinasi dengan pihak pelabuhan untuk menyiapkan jaring yang akan digunakan untuk menangkap buaya yang muncul di gorong-gorong sekitar Pelabuhan Yos Sudarso Ambon,” tandasnya.

Ditambahkannya, jika buaya tersebut telah ditangkap, sesuai rencana akan direlokasi ke habitat yang lebih aman dan jauh dari masyarakat.

“Sesuai rencana kita akan merelokasi ke habibatnya di Seram Bagian Barat, mengingat sebelumya kita telah melakukan relokasi beberapa kali di sana,” demikian Mukhtar Amin Ahmadi.

Baca juga: Anak buaya diserakan kepada BKSDA Maluku

Baca juga: Buaya kembali terkam nelayan Saumlaki

Baca juga: BKSDA Maluku selamatkan 1.007 tumbuhan dan satwa dilidungi

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wisata Lumba-Lumba

Pelatih mengarahkan lumba-lumba saat atraksi di Batang Dolphins Center, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (26/12/2018). Batang Dolphins Center yang berada di bawah manajemen Taman Safari Indonesia menjadi salah satu destinasi wisata favorit warga saat liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 dengan peningkatan pengunjung mencapai 1.200 orang per hari. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/kye.

BKSDA Yogyakarta lepasliarkan merak hijau di Alas Purwo

Banyuwangi (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta bersama Gembiraloka Zoo dan Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta-Wildlife Rescue Center melepasliarkan 10 burung merak hijau (Pavo muticus) di Sabana Sadengan Taman Nasional Alas Purwo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis.

“Burung merak hijau yang dilepasliarkan tersebut berjenis kelamin jantan sebanyak empat ekor dan betina enam ekor,” kata Kepala Seksi Konservasi I BKSDA Yogyakarta Untung Suripto mewakili Kepala BKSDA Yogyakarta Junita Parjanti.

Menurut dia, satwa tersebut berasal dari hasil sitaan dan penyerahan sukarela masyarakat di wilayah kerja BKSDA Yogyakarta selama periode 2014 sampai dengan 2018, sehingga sebelum dilepasliarkan dititipkan sementara di lembaga konservasi Gembiraloka Zoo sebanyak lima ekor, dua ekor di Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta dan sisanya tiga ekor direhabilitasi di BKSDA Yogyakarta.

“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi BKSDA Yogyakarta dengan mitra seperti lembaga konservasi di Daerah Istimewa Yogyakarta karena dapat membangun citra positif sekaligus ikut berkontribusi dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi sinergi antarlembaga konservasi dan salah satu tujuan utama dari rehabilitasi satwa langka yang dilindungi yakni pengembalian satwa liar ke alam, sehingga hal itu menjadi salah satu harapan dari kegiatan konservasi satwa liar dapat kembali lagi ke alam.

Sementara itu, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Yogyakarta Andie Chandra Herwanto mengatakan burung merak tersebut menjalani habituasi di kandang habituasi, setelah melalui perjalanan dari Yogyakarta dan tiba di Banyuwangi pada 23 Desember 2018.

“Hal itu dilakukan sebagai tahap akhir sebelum dilepasliarkan di savana Sadengan Kawasan Taman Nasional Alas Purwo, sehingga sudah dilakukan berbagai kajian perilaku dan kesehatannya sebelum dilepas ke alam bebas,” tuturnya.

Ia mengatakan prosesnya cukup panjang bagi hewan langka yang dilindungi tersebut sebelum dilepasliarkan ke alam di Taman Nasional Alas Purwo, sehingga diharapkan burung merak yang berusia 3 hingga 4 tahun tersebut bisa tetap bertahan di alam bebas.

“Kegiatan melepasliarkan merak hijau tersebut juga menjadi edukasi kepada masyarakat untuk menjaga keseimbangan rantai makanan di alam, sehingga diharapkan masyarakat juga ikut menjaga ekosistem alam dan tidak melakukan perburuan satwa yang dilindungi,” katanya.

Berdasarkan data Taman Nasional Alas Purwo, lanjut dia, populasi merak hijau di kawasan savana  Sadengan mencapai 50 ekor yang terpantau petugas, sehingga dengan penambahan 10 ekor yang baru dilepasliarkan BKSDA Yogyakarta, maka populasi merak hijau bertambah menjadi 60 ekor.

“Dipilihnya Taman Nasional Alas Purwo sebagai tempat pelepasliaran burung merak hijau karena memiliki sejumlah alasan yakni kesesuaian habitat dan kecukupan sumber pakan alami. Hal itu diperlukan untuk mengenalkan satwa dengan habitat aslinya,” ujarnya.

Ia menjelaskan 10 ekor merak hijau yang dilepasliarkan tersebut diberi tanda dengan menggunakan mikrochip yang ditempel di sayap burung tersebut dan diputihkan (bleaching) pada bulu sekundernya untuk memudahkan monitoring yang dilakukan petugas Taman Nasional Alas Purwo.

Andie mengakui masih ada perburuan liar merak hijau baik untuk diperdagangkan secara ilegal maupun dipelihara sendiri, sehingga pihak BKSDA Yogyakarta melakukan penyuluhan dan edukasi secara masif kepada masyarakat untuk menyerahkan satwa langka yang dilindungi tersebut kepada pihak yang berwenang.

Baca juga: Foksi: merak hijau jadi identitas Jatim

Baca juga: Menteri LHK lepasliarkan satwa dilindungi di Situbondo

Baca juga: Seorang warga sukarela serahkan burung merak hijau

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Gajah liar ditemukan mati tanpa gading di Aceh

Banda Aceh (ANTARA News) – Satu gajah jantan liar ditemukan mati tanpa gading di Desa Pantan Lah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, Kamis (27/12) malam.

“Ditemukan mati dengan kondisi gading hilang. Gading gajah itu hilang seperti dipatahkan,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Jumat.

Gajah yang diperkirakan berumur 40 tahun itu diduga mati sekira 15 hari lalu karena tubuhnya yang terluka sudah membusuk saat ditemukan pada Kamis malam di area berjarak sekitar tiga kilometer dari pemukiman penduduk.

Sapto mengatakan gajah jantan anggota kawanan gajah liar di wilayah Pintu Rime Gayo itu memiliki luka lama pada pangkal leher atas.

Gajah itu, ia melanjutkan, empat bulan lalu diobati oleh Tim BKSDA Aceh dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

“Tim BKSDA sudah menuju lokasi untuk memastikan penyebab kematian gajah jantan itu. Setelah diperiksa baru bisa diketahui penyebab kematian, apakah karena dibunuh atau karena luka dideritanya,” kata dia.

Baca juga:
Gajah masuk permukiman warga Nagan Raya, Aceh
Riau buru pemasang jerat satwa

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pelestarian Burung Rangkong

Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memberi makan burung rangkong yang sedang direhabilitasi di Aceh Besar, Aceh, Jumat (28/12/2018). Burung rangkong hasil sitaan BKSDA Aceh akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya setelah melewati proses rehabilitasI sebagai upaya pelestarian satwa langka dan dilindungi. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/foc.