Banyak Burung Cenderawasih “menari” di Hutan Warkesi Raja Ampat

Masyarakat setempat menjaga kawasan tersebut dari penebangan pohon secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga Burung Cenderawasih tidak berpindah tempat

Waisai (ANTARA) – Wisatawan asing khususnya pencinta alam sangat mengagumi keindahan hutan Pulau Waigeo Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, khususnya kawasan Hutan Warkesi.

Kawasan Hutan Warkesin merupakan salah satu kawasan hutan di Pulau Waigeo yang dikagumi wisatawan. Kawasan hutan itu dinilai oleh wisatawan sebagai kawasan hutan ramah burung, karena sangat banyak Burung Cenderawasih.

Untuk menjangkau Hutan Warkesi guna melihat Burung Cenderawasih menari, wisatawan dapat menggunakan ojek dan mobil dengan jarak tempuh 25 menit dari Waisai, ibu kota Raja Ampat.

Penjaga kawasan Hutan Warkesi Orgenes Manggaprou di Waisai, Papua Barat, Minggu, mengatakan setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan Hutan Warkesi pasti mengagumi keindahannya.

Dia mengatakan pekan lalu ada enam orang wisatawan asal Thailand yang berkunjung ke kawasan Hutan Warkesi dan mereka sangat kagum melihat Burung Cenderawasih menari.

“Wisatawan fotografer Thailand tersebut berjam-jam di dalam kawasan hutan di Pulau Waigeo mengambil gambar Burung Cenderawasih menari,” ujarnya.

Menurutnya, hutan yang asli dan Burung Cenderawasih menari mendatangkan wisatawan. Ia mengatakan kunjungan wisatawan adalah sumber penghasilan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

“Masyarakat setempat menjaga kawasan tersebut dari penebangan pohon secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga Burung Cenderawasih tidak berpindah tempat,” tambah dia.

Pewarta: Ernes Broning Kakisina
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BBKSD sosialisasi perlindungan ketam kenari di Kepulauan Fam

Sorong (ANTARA) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat menggandeng Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan atau UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat dan Conservation International (CI) Indonesia menyelenggarakan sosialisasi peraturan tentang tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi.

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Papua Barat Heri Wibowo di Waisai, Minggu mengatakan sosialisasi tersebut merupakan upaya merespon banyaknya keluhan dan laporan dari wisatawan yang berkunjung ke Piaynemo terkait dengan maraknya perdagangan ketam kenari (Birgus latro) atau kepiting kelapa, salah satu satwa dilindungi.

Dia mengatakan, salah satu tugas BBKSDA Papua Barat adalah pengawasan dan pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar dilindungi termasuk ketam kenari.

“Sosialisasi tumbuhan dan satwa dilindungi merupakan upaya penyadaran masyarakat akan satwa dilindungi salah satu ketam kenari,” ujarnya.

Dia menjelaskan, ketam kenari dimanfaatkan masyarakat guna menunjang ekonomi meskipun dilarang sebab itu pemerintah berupaya mencari jalan tengah dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat.

Dikatakannya, ketam kenari dilindungi berdasarkan peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan (PERMEN-LHK) P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Namun, dalam paparannya status perlindungan ketam kenari juga menyiratkan pemanfaatan yang bersifat non konsumtif yaitu melalui upaya penangkaran berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan (PERMENHUT) No. 19 tahun 2005.

“Masyarakat kepulauan Fam berinisiatif membuat penangkaran ketam kenari sebagai bentuk pemanfaatan yang berkelanjutan melalui Kelompok Tani Hutan binaan BBKSDA Papua Barat yang akan direalisasikan dalam waktu dekat,” tambah dia.*

Baca juga: Ketam kenari gagal diselundupkan dari Baubau

Pewarta: Ernes Broning Kakisina
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Walhi: selamatkan orangutan dari perburuan liar

Penyelamatan satwa langka yang dilindungi itu, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga warga masyarakat

Medan (ANTARA) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sumatera Utara meminta kepada pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar menyelamatkan orangutan yang berada di kawasan hutan dan pengunungan.

“Penyelamatan satwa langka yang dilindungi itu, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga warga masyarakat,” kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut Dana Tarigan, di Medan, Sabtu.

Masyarakat, menurut dia, harus mengawasi ekstra ketat perburuan orangutan dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mencari keuntungan dari satwa yang dilindungi.

“Pemburu liar yang melanggar hukum, dan tidak mendukung penyelamatan orangutan agar dijatuhi hukuman berat, sehingga dapat membuat efek jera,” ujar Dana.

Ia mengatakan, perlindungan orangutan tersebut, untuk menyelamatkan satwa langka itu, agar populasinya tidak berkurang dan dikhawatirkan akan mengalami kepunahan. Orangutan tersebut, harus dipertahankan dan jangan sampai ditangkap pemburu liar, orang yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu, katanya, orangutan yang kesasar masuk ke perkampungan masyarakat, jangan sampai dianiaya atau “diramai-ramaikan” masyarakat.

“Orangutan tersebut bisa diserahkan kepada petugas Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat, dan selanjutnya dikembalikan ke hutan,” katanya.

Sebelumnya, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) sejak Januari hingga Maret 2019 berhasil mengevakuasi dan menyita sedikitnya 10 individu orangutan dari sejumlah lokasi, baik dari Sumatera Utara maupun Aceh.

Ketua YOSL-OIC, Panut Hadisiswoyo di Medan, Sabtu (23/3), mengatakan, ke-10 orangutan yang berhasil dievakuasi tersebut ada yang disita dari masyarakat yang memeliharanya maupun yang terjebak di perkebunan-perkebunan sawit.

Ke-10 orangutan yang dievakuasi maupun hasil penyitaan tersebut selanjutnya menjalani pemeriksaan kesehatan di Karantina Orangutan Sumatera milik SOCP di Sibolangit, Sumatera Utara.

“Sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya, orangutan itu terlebih dahulu menjalani perawatan di pusat karantina,” katanya.

Baca juga: Walhi: Selamatkan orangutan Tapanuli

Pewarta: Munawar Mandailing
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karantina Bandara Bali gagalkan penyelundupan orang utan ke Rusia

Badung, Bali (ANTARA) – Otoritas karatina Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menggagalkan penyelundupan seekor anak orang utan yang dibius, di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (22/3) malam, yang dilakukan seorang warga Rusia berinisial Z.A untuk dikirim ke negaranya.

Penanggung jawab Karantina Wilayah Kerja Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Dewa Delanata, saat dikonfirmasi di Badung, Sabtu, mengakui adanya upaya penyelundupan satwa yang dilindungi pemerintah itu ke Rusia.

“Ya betul, Petugas Karantina Denpasar dan Avsec yang berjaga mendapatkan orang utan ini di keberangkatan internasional pada Jumat malam, Pukul 22:30 WITA,” ujar Dewa.

Ia menuturkan penemuan orang utan yang dibius dan dimasukkan dalam keranjang kecil ini membuat geger di Bandara Ngurah Rai.

Awalnya, petugas menduga yang dibawa pelaku ini kera sehingga petugaa tidak berani membuka keranjang tersebut, karena takut kera itu agresif dan lepas di ruang keberangkatan.

Namun setelah dibawa ke ruang pemeriksaan, ternyata satwa itu orang utan yang dilindungi.

“Pelaku kemudian diperiksa lebih lanjut terus ditahan di Kantor Polsek KP3 Bandara Ngurah Rai untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.

Menurut keterangan pelaku, orang utan tersebut dibeli dari seseorang yang ada di jawa dengan harga 300 dollar Amerika.

Menurut keterangan, Z.A mengatakan anak orang utan berjenis kelamin jantan berumur sekitar dua tahun ini, dibius pelaku dengan cara diberikan tablet bius yang dicekoki melalui spuit dengan kerja obat selama 2-3 jam.

“Hal ini ini dibuktikan dengan temuan spuit dan obat bius dikopernya. Rencana penerbangan akan transit di Korea Selagan dan akan ditambahi lagi obat bius disana untuk melanjutkan perjalanan ke Rusia, sadis memang,” katanya.

Selain ditemukan obat bius dalam kopernya, ternyata WNA ini juga rencananya akan menyelundupkan dua ekor tokek dan lima ekor kadal yang didapatkan dalam kopernya.

Sementara, barang bukti di serahkan BKSDA dan KP3 untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut dan si pembawa telah diamankan untuk dilakukan pemeriksaan.

Pewarta: Made Surya dan Naufal Fikri Yusuf
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Amankan satwa dilindungi

Burung Kakatua Raja (Probosciger aterrimus) berdiam dalam kandang saat konferensi pers tindak lanjut terhadap penggagalan penyelundupan satwa liar yang dilindungi di Kantor BBKSDA Riau, di Pekanbaru, Riau, Sabtu (23/3/2019). BBKSDA Riau menerima sebanyak 40 ekor satwa liar dilindungi diantaranya 2 ekor Owa Ungko dan 38 ekor burung yang hendak diselundupkan ke Malaysia melalui perairan Dumai oleh lima orang pelaku dan berhasil digagalkan petugas Bea Cukai Dumai bekerjasama TNI AL Dumai. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/foc.

BKSDA Sumatera Barat temukan populasi bunga raflesia di Sigantang

Simpang Empat, Sumatera Barat (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menemukan populasi bunga raflesia di Sigantang, Kecamatan Ranah Batahan, Kabupaten Pasaman Barat, Sabtu.

Menurut Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Sumatera Barat Ade Putra mengatakan populasi tumbuhan langka itu ditemukan di perkebunan karet milik warga di Jorong Sigantang, Nagari Persiapan Batahan Utara, Pasaman Barat.

Populasi bunga raflesia itu, menurut dia, berada sekitar 600 meter dari pemukiman warga.

“Bunga raflesia ternyata cukup banyak di daerah ini. Kita akan terus melakukan eksplorasi beberapa hari ke depan,” kata Ade.

Di Sigantang, tim BKSDA menemukan populasi tumbuhan raflesia yang terdiri atas setidaknya 17 individu dengan ukuran diameter bunga beragam.

“Satu knop diketahui sudah mekar lima hari yang lalu dengan diameter 53 centimeter dan sudah mengalami fase layu membusuk,” Ade menjelaskan.

Tim BKSDA hingga beberapa hari ke depan akan melanjutkan pencarian populasi bunga raflesia di daerah itu, karena menurut keterangan warga jenis bunga langka itu setidaknya tersebar di tiga lokasi di daerah tersebut.

Ade mengatakan sebelumnya bunga raflesia diketahui hanya ada di cagar alam Batang Palupuh, Kabupaten Agam.

Dalam dua tahun terakhir, BKSDA sudah menemukan setidaknya 16 lokasi populasi bunga raflesia yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Kepala Jorong Sigantang Hansastri berharap penemuan bunga raflesia bisa menarik wisatawan ke daerahnya.

“Tanaman bunga raflesia merupakan tanaman langka yang dilindungi. Tentu kita berharap kerja samanya dengan BKSDA dalam upaya melindungi bunga raflesia yang ada,” katanya.

Baca juga:
Rafflesia gaduatensis raksasa ditemukan Hutan Angkola Tapanuli Selatan
15 bunga raflesia mekar di Bukit Barisan Bengkulu

Pewarta: Altas Maulana
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

10 orangutan disita YSOL-OIC selama 2019

Sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya, orangutan itu terlebih dahulu menjalani perawatan di pusat karantina,

Medan (ANTARA) – Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) sejak Januari hingga Maret 2019 berhasil mengevakuasi dan menyita sedikitnya 10 individu orangutan dari sejumlah lokasi baik dari Sumatera Utara maupun Aceh.

Ketua YOSL-OIC Panut Hadisiswoyo di Medan, Sabtu, mengatakan, ke-10 orangutan itu disita dari masyarakat yang memeliharanya maupun yang terjebak di perkebunan-perkebunan sawit.

Ke-10 orangutan yang dievakuasi maupun hasil penyitaan tersebut selanjutnya menjalani pemeriksaan kesehatan di Karantina Orangutan Sumatera milik YOSL-OIC di Sibolangit, Sumatera Utara.

“Sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya, orangutan itu terlebih dahulu menjalani perawatan di pusat karantina,” ujarnya.

Dalam kesmepatan tersebut, ia juga menyampaikan harapan agar masyarakat dapat membantu dalam upaya menjaga habitat orangutan dengan tidak mengalihfungsikan lahan menjadi perkebunan.

“Beri ruang bagi mahluk lain untuk eksis karena bumi ini bukan hanya untuk manusia tempat hidup tapi ada mahluk lain seperti orangutan. Orangutan bukan satwa berbahaya, kalau melihat orangutan masuk ke perkebunan mohon hubungi kami agar dapat membantu upaya mengevakuasinya secara aman,” jelasnya.

Sebelumnya Kamis (21/3) Tim dari BKSDA Aceh berhasil mengevakuasi satu individu orangutan dengan perkiraan umur 7 tahun dari perkebunan sawit di Dusun Rikit, Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

Penyelamatan orangutan yang kemudian diberi nama Pertiwi tersebut tanpa melalui proses pembiuasan karena Pertiwi dalam kondisi lemah.

Dari hasil pemeriksaan fisik, Orangutan Pertiwi memiliki berat badan sekitar 5 kg, berjenis kelamin betina, dengan kondisi malnutrisi (kurus) dan kondisi tangan sebelah kanan yang kurang resposif (kurang gerak).

Setelah semua pemeriksaan fisik selesai dinyatakan orangutan itu tidak layak untuk di lepasliarkan kembali kehabitatnya serta harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Karantina Orangutan Sumatera milik YOSL-OIC di Sibolangit Sumatera Utara.
 

Pewarta: Juraidi
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Riau jalur favorit penyelundupan satwa

Pekanbaru (ANTARA) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyatakan bahwa Provinsi Riau merupakan jalur tradisional sekaligus favorit dalam kejahatan penyelundupan satwa dilindungi bagi para jaringan penyelundup satwa internasional.

Kepala BBKSDA Riau Suharyono kepada Antara di Pekanbaru, Sabtu mengatakan aktivitas penyelundupan satwa dilindungi dari Indonesia ke luar negeri cukup marak dilakukan pada tahun 1990 hingga awal 2000-an.

“Jadi Riau ini jalur tradisional. Dari dulu dipakai namun sempat ditinggalkan, beralih menggunakan transportasi udara. Sekarang mereka balik lagi. Ini sama kejadiannya seperti awal 2000 an saat marak penyelundupan trenggiling,” kata Haryono.

Ia menjelaskan bahwa sepanjang 2019 ini tercatat tiga kali kasus penyelUndupan satwa dilindungi yang terjadi dibawah area kewenangan BBKSDA Riau.

Sekitar dua pekan lalu, katanya, terjadi aksi penyelundupan 31 satwa dilindungi jenis unggas, termasuk diantaranya jenis cenderawasih yang terjadi di Batam, Kepulauan Riau. Kemudian, sekitar satu bulan yang lalu juga terjadi aksi penyelundupan dengan jenis satwa yang sama via pelabuhan tikus di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

Terakhir, aktivitas penyelundupan satwa dilindungi kembali berhasil diungkap di Kota Dumai dengan 40 satwa jenis unggas dan primata berhasil diselamatkan sebelum sempat menyeberang secara gelap ke Malaysia.

Dia mengatakan rangkaian aktivitas tersebut menjadi indikasi kuat bahwa aksi penyelundupan kembali marak terjadi, dengan Riau sebagai wilayah yang kerap digunakan sebagai jalur utama pelaku.

“Mereka ini satu rangkaian yang terorganisir. Meskipun beda narkoba, namun mereka juga punya jaringan dari Indonesia ke Malaysia,” jelasnya.

Untuk itu, dia mengimbau kepada masyarakat apabila menemukan aktivitas mencurigakan yang terindikasi bagian dari jaringan penyelundupan satwa dilindungi untuk dapat segera melaporkan ke pihak berwajib. Dia mengatakan, khusus BBKSDA Riau sendiri telah membuat ‘call center’ atau sistem pelaporan terpadu sehingga masyarakat dapat dengan mudah memberikan informasi ke petugasnya.

“Kepada masyarakat sekiranya menemukan atau mengetahui terkait perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dilakukan secara ilegal dapat melaporkan ke call center kita di 0813-7474-2981,” ujar Haryono.

Petugas Bea dan Cukai Kota Dumai serta TNI AL berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 40 satwa dilindungi. 38 diantar satwa itu merupakan jenis unggas yang terdiri dari tujuh ekor cenderawasih minor (Paradisea minor), dua ekor cenderawasih mati kawat (Seleucidis melanoleucus), dua ekor cenderawasih raja (Cicinnurus regius), dua cenderawasih botak (Cicinnurus republica).

Selanjutnya turut disita 12 ekor burung kakak tua raja (Probosciger aterrimus) dan tiga ekor burung julang emas Sulawesi (Acetos cassidix). Selain itu, petugas turut menyita dua ekor ungko dan 10 burung lainnya yang belum terindentifikasi.

Suharyono mengatakan terdapat lima orang pelaku turut ditangkap dari pengungkapan tersebut. Mereka terdiri dari empat pria warga Lampung masing-masing YA (28), TR (21), AN (24) dan SW (36). Sementara turut diamankan seorang warga lokal asal Kabupaten Bengkalis berinisial EF (48), yang diduga berperan sebagai penghubung.

Kepala Balai Gakkum Sumatera Eduwar Hutapea menjelaskan status para pelaku masih terperiksa. Dia mengatakan pihaknya memiliki waktu 24 jam untuk menetapkan status para pelaku.

“Kita masih terus melakukan pemeriksaan secara maraton karena baru tiba di Pekanbaru jam tiga dinihari tadi setelah kita jemput ke Dumai,” kata Edo.

Pewarta: Anggi Romadhoni
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gerakan tanam sejuta pohon penahan tsunami dimulai di Kota Padang

Diharapkan melalui penanaman pohon dan menciptakan hutan pantai bisa menyerap tekanan air sampai 80 persen sehingga memberi daya tahan terhadap daya rusak daerah pantai, dan yang terpenting untuk mitigasi bencana tsunami

Padang, (ANTARA) – Pemerintah Kota Padang memulai penanaman pohon dalam rangka Gerakan Sejuta Pohon yang digagas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk penahan tsunami di sepanjang pantai yang dimulai di kawasan Pantai di Kelurahan Parupuak Tabing.

“Diharapkan melalui penanaman pohon dan menciptakan hutan pantai bisa menyerap tekanan air sampai 80 persen sehingga memberi daya tahan terhadap daya rusak daerah pantai, dan yang terpenting untuk mitigasi bencana tsunami,” kata Wali Kota Padang Mahyeldi di Padang, Jumat

Pada kesempatan itu Wali Kota Padang Mahyeldi melakukan penanaman pohon bersama TNI, Polri, aparatur pemerintah dan komponen masyararakat.

Ia menyampaikan Kota Padang terletak di garis pantai dengan panjang lebih kurang 68,126 kilometer sehingga wilayah di sekitar pantai berpotensi terkena abrasi dan gelombang air laut.

Proses penanaman pohon, katanya, dirancang sebaik mungkin agar akses nelayan ke laut juga tersedia dan masyarakat diimbau bersama-sama bertanggung jawab merawat dan menjaga pohon tersebut.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyampaikan terdapat potensi gempa megathrus dengan kekuatan 8,9 Skala Richter (SR) yang berpusat di Mentawai dan diperkirakan mendatangkan gelombang tsunami dengan jangkauan hingga 12 kilometer dengan kecepatan 827 kilometer per jam.

“Ini bukan menakut-nakuti tapi memang riil dan sesuai dengan pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Manando beberapa waktu lalu, untuk itu Gerakan Tanam Sejuta Pohon merupakan salah satu upaya mitigasi bencana,” kata dia.

Nasrul berharap,gerakan seperti ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai kawasan pantai.

Gerakan Tanam Sejuta Pohon di kawasan Pantai Simpang Gia, Kelurahan Parupuak Tabing juga diikuti Danrem 032 Wirabraja Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo, Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Fakhrizal Danlantamal II Padang Laksamana Pertama TNI Agus Sulaeman, Dandim 0312 Padang Letkol (Czi) RN Yudha Tri Ananda, Kepala BPBD Sumatera Barat Erman Rahman, Kepala Kemenkumham Sumatera Barat Ajub Suratman dan SKPD Pemkot Padang.

Baca juga: Pemkab tanam 5.000 pohon penghijauan pantai

Baca juga: Dinas Kehutanan Sumbar bagikan 1.000 bibit pohon

Baca juga: Pemerintah rencanakan penanaman Pohon Pule sebagai penahan tsunami

Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

WWF-UNAS sepakati pendidikan pembangunan keberlanjutan dan konservasi

Jakarta (ANTARA) – WWF-Indonesia dan Universitas Nasional (UNAS) menyepakati kerja sama mewujudkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan penelitian konservasi alam.

CEO WWF-Indonesia Rizal Malik dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Jumat (22/3), mengatakan pendidikan tinggi harus peka terhadap perubahan, mengajarkan pembaharuan sehingga dapat menjadi inspirasi bagi peserta didik, sehingga menghasilkan perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, menurut dia, pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan harus menjadi arus utama di tingkat pendidikan tinggi, sehingga tujuan untuk mencetak manusia berkarakter demi pelestarian lingkungan dapat diwujudkan.

Universitas Nasional juga sudah lama berkegiatan bersama WWF-Indonesia, di antaranya kerja sama untuk sosialisasi Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerja sama Universitas Nasional Prof Dr Ernawati Sinaga mengatakan dunia pendidikan adalah kunci bagi pembentukan manusia berkarakter dan berkualitas, salah satunya demi bumi yang lebih baik.

Lebih lanjut ia mengatakan univeristas mempunyai peranan yang sangat penting demi tercapainya Sustainable Development Goal (SDG).

“MoU ini menjadi dasar untuk kolaborasi lebih jauh dalam upaya perguruan tinggi menyinergikan bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar dia.

Ada tiga hal yang menjadi peranan universitas dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, pertama, terus melakukan penelitian tentang sustainability, kedua, melakukan pengajaran tentang pembangunan berkelanjutan kepada peserta didik, ketiga, membentuk kampus ramah lingkungan agar menjadi contoh dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat sekitar.

“Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, sudah seharusnya kita mengetahui info lebih dalam bagaimana cara melindungi dan memanfaatkannya secara bijak. Hal ini didapatkan melalui kegiatan perkuliahan, diskusi dan lain-lain di lembaga pendidikan tinggi,” lanjutnya.

Kegiatan dengan Universitas Nasional melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan konservasi alam di Indonesia, dengan menyelenggarakan beberapa kegiatan seperti kuliah umum tentang pembangunan berkelanjutan, pengetahuan tentang konservasi spesies, peningkatan kapasitas seperti pelatihan, kegiatan penelitian, kuliah kerja di lokasi kerja WWF-Indonesia serta kegiatan umum lainnya.

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

FAO-KLHK suarakan pendidikan hutan untuk selamatkan kehidupan

Jakarta (ANTARA) – Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyuarakan pendidikan hutan untuk menyelamatkan kehidupan dengan mempertahankan tegakan.
 

“Pendidikan dan pelatihan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran di antara pengguna hutan dan masyarakat umum tentang hutan dan kehutanan,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya pada peringatan Hari Hutan Internasional yang mengangkat tema Hutan dan Pendidikan.
 

Siti Nurbaya dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Kamis, juga menekankan setelah menerapkan tindakan korektif untuk memulihkan hutan dan lingkungan yang sehat, langkah selanjutnya adalah menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas dalam mengelola hutan dan lingkungan, melalui pendidikan dan pelatihan.
 

Lebih lanjut ia mengatakan pendidikan hutan membantu anak-anak terhubung dengan alam. Proses ini akan membuat generasi masa depan sadar akan manfaat pohon dan hutan serta kebutuhan untuk mengelolanya secara berkelanjutan.
 

Bagi beberapa anak, hutan adalah sumber makanan langsung, selain juga tempat mereka memperoleh kayu untuk tempat tinggal, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Anak-anak lain dapat menemukan hutan di ruang kelas dan sekolah hutan, dengan menghabiskan waktu di hutan dan taman kota, atau dengan belajar tentang pohon yang tumbuh di kota dan kebun, ujar dia.
 

Rimbawan yang telah menyadari pentingnya peran hutan, tetap membutuhkan pelatihan dan pendidikan untuk mengakses teknologi terbaru dalam kehutanan. FAO, lanjutnya, membantu rimbawan Indonesia untuk belajar bagaimana menggunakan teknologi satelit terbaru untuk memastikan bahwa hutan dipantau dan dikelola secara berkelanjutan.
 

Masyarakat pedesaan dan adat juga memiliki pengalaman dan pengetahuan penting tentang bagaimana melindungi sumber daya hutan dan memastikan bahwa mereka dikelola dan dipanen secara berkelanjutan.
 

“Dengan berinvestasi dalam pendidikan kehutanan di semua tingkatan, negara-negara dapat membantu memastikan para ilmuwan, pembuat kebijakan, rimbawan dan masyarakat lokal bekerja untuk menghentikan deforestasi dan memulihkan lahan yang terdegradasi. Pada gilirannya, hutan yang sehat akan membantu kita mencapai banyak tujuan pembangunan berkelanjutan,” ujar Kepala Perwakilan FAO di Indonesia (AI) Adam Gerrand.

Hutan
 

Populasi dunia akan bertambah menjadi 8,5 miliar pada 2030, sehingga peran hutan menjadi lebih penting dari sebelumnya. Hutan menjaga udara, tanah dan air tetap sehat.
 

Siti mengatakan hutan juga memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan terbesar seperti perubahan iklim, menghilangkan kelaparan dan membuat pembangunan masyarakat perkotaan dan pedesaan berkelanjutan
 

Hutan mencakup sepertiga dari semua daratan di bumi dan merupakan bagian mendasar dari ekosistem global. Hutan juga menyediakan kayu, makanan, bahan bakar dan obat-obatan untuk lebih dari sepertiga populasi dunia.
 

Selain itu, ia mengatakan hutan juga melindungi lingkungan dan mampu menyerap 2,6 miliar ton karbon dioksida (CO2) per tahun dan membantu menghadapi perubahan iklim.
 

Daerah aliran sungai memasok 75 persen air segar yang digunakan di rumah, dan lahan pertanian irigasi di hilir. Mereka melindungi daratan dari erosi, dan dapat mengurangi dampak bencana alam seperti tsunami.
 

Hutan adalah rumah bagi 80 persen spesies hewan dan tumbuhan darat di planet ini.
 

Hutan adalah salah satu sistem pendukung kehidupan, penting bagi setiap insan untuk mengelola hutan secara berkelanjutan yang hanya dapat dicapai melalui pemahaman tentang hutan yang lebih baik.*

Baca juga: Ratusan hektare hutan bakau di Nagekeo terancam punah

Baca juga: Empat hektare lahan gambut di Aceh hangus terbakar

Baca juga: Di Batam terjadi 30-40 kebakaran lahan dalam sebulan

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Satu orangutan diselamatkan dari perkebunan sawit

Penyelamatan tanpa adanya kendala karena memang kondisinya sudah lemah

Medan (ANTARA) – Tim dari BKSDA Aceh berhasil mengevakuasi satu individu orangutan dengan perkiraan umur 7 tahun dari perkebunan sawit di Dusun Rikit, Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

Ketua Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) Panut Hadisiswoyo di Medan, Kamis, mengatakan penyelamatan orangutan yang kemudian diberi nama Pertiwi tersebut tanpa melalui proses pembiusan karena Pertiwi dalam kondisi lemah.

“Tim penyelamat yang terdiri dari BKSDA Aceh, tim HOCRU OIC, dan WCS-IP berhasil mengevakuasi orangutan tersebut. Penyelamatan tanpa adanya kendala karena memang kondisinya sudah lemah,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan fisik, Orangutan Pertiwi memiliki berat badan sekitar 5 kg, berjenis kelamin betina, dengan kondisi malnutrisi (kurus) dan kondisi tangan sebelah kanan yang kurang resposif (kurang gerak).

Setelah semua pemeriksaan fisik selesai dinyatakan orangutan itu tidak layak untuk di lepasliarkan kembali ke habitatnya serta harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Karantina Orangutan Sumatera milik SOCP di Sibolangit Sumatera Utara.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan saat ini tim dari BKSDA Aceh dan mitra terus memantau daerah perkebunan yang diperkirakan masih ada orangutan yang terisolasi.

BKSDA akan terus serius melakukan upaya-upaya mengatasi konflik antara manusia dan orangutan sehingga insiden konflik yang mengakibatkan kematian dan perburuan orangutan dapat dicegah. 

Baca juga: Orangutan turun ke perkebunan warga di Subulussalam

Baca juga: Orangutan dengan puluhan peluru di tubuh jalani operasi tulang

Pewarta: Juraidi dan Irsan
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mangrove Muara Angke bertambah jadi 32 ribu dalam 10 tahun

Jakarta (ANTARA) – Kawasan Hutan Mangrove Ecomarine di Muara Angke, Jakarta Utara, mendapat tambahan naungan menjadi 32 ribu pohon dalam 10 tahun terakhir.

“Dari penanaman 2008 hingga sekarang ada 32 ribu pohon mangrove tumbuh di sini,” kata Ketua Komunitas Mangrove Muara Angke Muhammad Said (44) di Hutan Mangrove Ecomarine, Muara Angke, Jakarta Utara, Rabu.

Mangrove yang tumbuh di kawasan hutan seluas 1,8 hektare di pinggiran Muara Kali Adem itu, menurut dia, meliputi mangrove pidada (Sonneratia), api-api (Avicennia), nipah (Nypa fruticans) dan bakau (Rhizophora).

Said mengungkapkan penanaman mangrove di kawasan Muara Angke semula ditujukan untuk memulihkan ekosistem hutan mangrove di kawasan pesisir utara Jakarta yang mulai terancam akibat konversi lahan.

“Dulu memang sempat ada mangrove, namun sejak 1990-an sudah tidak ada lagi karena dampak pembangunan. Pada 2008, kami membentuk komunitas mangrove dan mulai menanam atas dasar sosial, peduli lingkungan,” katanya.

Penanaman mangrove dimulai tahun 2008. Ketika itu komunitas menanam 100 bibit mangrove di daerah Muara Kali Adem, yang bagian atas tanahnya bercampur dengan banyak plastik sehingga sulit ditanami.

“Muara ini adalah destinasi 12 sungai di Jakarta, sampah menumpuk. Kami harus menggali tanah lebih dalam supaya akar mangrove dapat berkembang dengan baik,” jelas Said.

Meski demikian, penanaman mangrove di kawasan tersebut tetap dilanjutkan sehingga jumlah pohonnya sampai ribuan seperti sekarang.

Said mengemukakan sekarang hutan mangrove itu membawa berkah bagi lingkungan sekitarnya.

“Dulu angin kencang sering masuk ke rumah, tapi kini terhalang karena adanya pohon mangrove. Air pasang yang dulunya tinggi, sekarang sudah kurang karena diserap akar pohon,” ungkapnya.

Makanan olahan yang terbuat dari buah mangrove hasil produksi industri rumahan di Muara Angke, Jakarta, Rabu (20/3/2019). Bahan baku buah mangrove diambil dari Hutan Mangrove Ecomarine yang dikelola masyarakat. (ANTARA/Sugiarto P)
Selain itu, mangrove bisa menyerap karbon dioksida (CO2), sehingga turut andil meredam pemanasan global.

Hutan mangrove bisa menjadi tempat tinggal, mencari makan dan berkembangbiak bagi banyak spesies satwa.

Bagi masyarakat sekitarnya, hutan mangrove juga memberikan manfaat ekonomi.

Warga sekitar Hutan Mangrove Ecomarine mengolah buah mangrove jenis pidada menjadi sari buah, dodol dan selai serta menjualnya.

Sari buah mangrove ukuran 300 mililiter (ml) dijual seharga Rp15 ribu, dodol mangrove Rp25 ribu per 250 gram, dan selai mangrove Rp15 ribu untuk ukuran 200 gram.

“Buah mangrove yang awalnya hanya jatuh ke tanah, kini bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. Ibu-ibu di sekitar sini bisa kerja bikin makanan sehat dari olahan mangrove,” kata Saanit (58).

Hutan Mangrove Ecomarine berada di ujung perkampungan nelayan di Muara Angke, sekitar 10 menit berjalan kaki dari Pelabuhan Kali Adem.

Di sana, ada tiga saung kecil, satu rumah edukasi serta tambak budi daya ikan mujair. Pengunjung tidak ditarik uang sepeser pun untuk memasuki kawasan hutan mangrove yang dikelola masyarakat tersebut.

Pewarta: Virna P Setyorini, Sugiarto P
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Burung Dara Laut Terpantau Migrasi Ke Australia

Ambon (ANTARA) – Hasil pemantauan dan penandaan burung dara laut jambul (Thalasseus bergii) yang dilakukan tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya (BKSDA) Maluku, Burung Indonesia di Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, terpantau telah bermigrasi ke Australia.

Hasil penandaan yang dilakukan 17 Februari 2019 terhadap tiga ekor burung dara laut jambul, terpantau pada pertengahan Maret 2019 telah migrasi ke Australia sebanyak satu ekor.

“Sedangkan satu ekor terpantau masih di sekitar pulau Seram dan satu ekor lagi belum terpantau,” kata Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi, Rabu.

Ia mengatakan, burung dara laut Cina (Thalasseus bernsteini) dan Dara Laut Jambul (Thalasseus bergii), merupakan dua dari sekian jenis burung dalam famili Sternidae yang dilindungi pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Ia menjelaskan, menurut International Union for Conservation of Nature IUCN, status konservasi Dara Laut Cina tersebut yaitu critically endangered/CR atau kritis. Diperkirakan jumlah individu dewasa di dunia kurang dari 100 ekor.

“Kedua burung tersebut merupakan burung yang bermigrasi melalui Indonesia. Pada 2018, burung-burung tersebut terpantau berada di perairan Seram Utara, Maluku Tengah,” ujarnya.

Menurut Mukhtar, pemantauan dan penandaan tersebut dilakukan Februari 2019, bertepatan dengan musim migrasi dara laut Cina dari tempat berbiaknya di Cina ke tempat-tempat yang lebih hangat seperti Indonesia dan Australia.

Dalam pemantauan tersebut, diketahui satu ekor dara laut Cina (Thalasseus bernsteini) bersama dalam kelompok beberapa ekor Dara Laut Jambul (Thalasseus bergii).

“Hasilnya tim berhasil menandai dan memasang satelite pada dua ekor Dara Laut Jambul untuk mendeteksi jalur migrasinya,” katanya.

Ditambahkannya, burung dara laut jambul saat penandaan telah dipasang cincin plastik berwarna orange dengan kode tertentu, semua burung yang ditangkap dipasangi tanda berupa pita logam permanen yang berisi kode internasional tersendiri pada kaki burung tersebut.

“Dara laut jambul   dipantau setiap hari selama durasi umur sattelite tag. Sattelite tag tersebut dapat berfungsi optimal sekitar 12 – 18 bulan, karena menggunakan solar panel sebagai sumber energi, dan akan terlepas dengan sendirinya,” ujarnya.  

Baca juga: BirdLife deteksi jalur migrasi dara laut di Seram Utara
Baca juga: Burung Dara Dilarang Berkeliaran Saat Hari Nasional

 

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tiga direktur pemilik kayu ilegal dari Jayapura berstatus tersangka

Jakarta (ANTARA) – Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan dan Kehutanan (GAKKUM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan tiga direktur perusahaan kayu pemilik 140 kontainer merbau ilegal asal Jayapura menjadi tersangka.

Saat ini ketiga tersangka sudah ditahan untuk keperluan penyidikan lebih lanjut, dan menahan dua tersangka lainnya untuk kasus kayu ilegal dari Papua Barat.

Dirjen Gakkum KLHK Rasio Ridho Sani dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Rabu, mengatakan ketiga tersangka itu adalah DG merupakan Direktur PT MGM, dengan barang bukti 61 kontainer kayu merbau ilegal, DT merupakan Direktur PT EAJ, dengan barang bukti 31 kontainer kayu merbau ilegal, dan TS yang merupakan Direktur PT RPF, dengan barang bukti 38 kontainer kayu merbau ilegal.

Penetapan ketiganya sebagai tersangka merupakan hasil pengembangan dari dua penangkapan serta penyitaan 57 kontainer dan 199 kontainer kayu merbau asal Jayapura diawal 2019.

Ia mengatakan ketiga tersangka diduga kuat telah melanggar Pasal 12, Pasal 14 dan Pasal 16 Undang Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pengamanan Hutan dengan ancaman hukuman kurungan 10 tahun dan denda Rp100 miliar.

Ia menegaskan akan terus bekerja untuk membongkar jaringan kayu illegal yang sudah merugikan negara dan menghancurkan ekosistem.

“Kami mengapresiasi putusan Hakim PN Makassar Baslin Sinaga yang menolak gugatan praperadilan terkait penyidikan kayu illegal asal Papua ini,” katanya.

Baca juga: Polisi sita delapan truk bermuatan kayu ilegal

Baca juga: Gakkum KLHK amankan 384 kontainer kayu ilegal asal Papua

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tim SOCP selesai mengoperasi bahu orangutan Hope

Medan (ANTARA) – Tim Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) sudah selesai mengoperasi bahu Hope, namun belum mengeluarkan puluhan peluru yang bersarang pada tubuh orangutan tersebut.

Dokter hewan senior YEL-SOCP Yenny Saraswati di Medan, Rabu, mengemukakan tim dokter memprioritaskan penanganan cedera tulang bahu Hope mengingat risiko infeksi pada bagian tersebut.

“Sepanjang proses operasi kondisi Hope cukup stabil. Saat ini dia masih dalam perawatan pasca-operasi dan kita semua berharap semoga proses penyembuhan pasca operasi ini juga bisa berjalan baik,” katanya.

Kalaupun nantinya Hope berhasil diselamatkan, orangutan itu tidak akan dapat dilepasliarkan ke alam mengingat satwa itu buta total karena kedua matanya juga kena peluru. Hope kemungkinan akan dipindahkan ke fasilitas Orangutan Haven yang sedang dalam pembangunan.

Supervisor Rehabilitasi dan Reintroduksi untuk YEL-SOCP drh. Citrakasih Nente mengatakan karantina dan rehabilitasi orangutan dimaksudkan untuk memeriksa secara intens kondisi kesehatan orangutan dan merehabilitasi mereka baik secara fisik maupun psikologis.

Selain mengoperasi Hope, Tim SOCP juga melakukan operasi pada bayi orangutan berumur sekitar tiga hingga empat bulan yang diberi nama Brenda.

Brenda lengan atas bagian kirinya patah dan dievakuasi minggu lalu oleh seorang anggota TNI dari area pembukaan lahan di daerah Aceh Barat Daya.

Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh dan SOCP pada Senin (11/3) bergerak ke Aceh Barat Daya lalu membawa Brenda ke Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan di Sibolangit agar bisa mendapat perawatan intensif.
 

Pewarta: Juraidi dan Irsan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Delapan gajah di hutan konservasi Lahat terpaksa dievakuasi

Palembang (ANTARA) – Sebanyak delapan ekor gajah di kawasan hutan konservasi Sumber Daya Alam, Lahat, Sumatera Selatan terpaksa dievakuasi petugas untuk merespon semakin meruncingnya konflik lahan dengan sekelompok warga Dusun Padang Baru, Kecamatan Merapi Selatan.

Kepala Seksi BKSDA wilayah II Lahat, Martialis yang dihubungi Antara, Rabu, mengatakan delapan gajah sudah dievakuasi menggunakan truk pada Selasa (19/3), untuk dipindahkan ke kawasan hutan konservasi Padang Sugihan, jalur 21, Banyuasin.

Sementara dua ekor gajah lainnya terpaksa ditinggal karena satu ekor gajah bernama Nensi, berusia sekitar 30 tahun, mengamuk saat akan dinaikkan ke dalam truk. Nensi diketahui baru sekali berpengalaman dievakuasi, yakni saat dipindahkan ke Lahat.

“Nensi tidak biasa dibawa naik truk. Dia ngamuk, sepertinya stress jadi terpaksa ditinggal,” kata dia.

Lantaran itu, terpaksa seekor gajah lagi namanya Argo usia juga sekitar 30 ditinggalkan juga untuk menemani Nensi.

Ia mengatakan BKSDA terpaksa mengambil keputusan sulit mengevakuasi gajah-gajah ini karena konflik dengan sekelompok warga kian meruncing.

Warga yang diketahui merupakan warga dusun Padang Baru ini telah menanam bibit karet di kawasan konservasi. Dari cara penanamannya, dinilai lebih kepada ingin membatasi atau menandai lahan.

Kemudian petugas BKSDA melakukan pencabutan terhadap tanaman karet tersebut sehingga memicu konflik. Bahkan beberapa hari lalu sempat ada pengancaman dan pemukulan terhadap pawang gajah.

“Untuk kejadian ini kami sudah lapor polisi, dan pawang juga sudah divisum,” kata dia.

Kemudian, pemicu lainnya adanya pemindahan gajah ini yakni sebanyak empat ekor gajah mendadak sakit.

“Gajah ini serentak mencret dan feses (kotoran) mengeluarkan darah. Kenapa serempak tapi sekarang feses gajah lagi dicek di laboratorium, wajar kami curiga karena gajah-gajah ini mendapat suplai daun pelepah dari sekitar kawasan konservasi,” kata dia.

Dengan adanya konflik yang sudah terang-terangan tersebut membuat nyawa gajah-gajah ini semakin terancam. Apalagi wilayah jelajah gajah semakin berkurang dari 210 hektare yang ditetapkan pemerintah sebagai kawasan konservasi, praktis kini hanya tersisa 10-20 hektare yang terbilang aman untuk gajah.

“Padahal jelajah angon satu ekor gajah itu mencapai 50 hektare. Ini kami ada 10 ekor, jelas sudah kondusif lagi di sini,” kata dia.
Baca juga: Tujuh gajah liar dihalau kembali ke hutan

Oleh karena itu, keputusan pemindahan gajah ini dinilai paling tepat untuk sementara ini, sembari BKSDA mencari cara agar kawasan konservasi di Lahat ini kembali kondusif.

Asal muasal berdirinya kawasan konservasi ini juga atas permintaan Pemkab Lahat karena dapat dijadikan pusat pelatihan gajah.

Kemudian beberapa gajah mulai dikirim ke lokasi tersebut sejak beberapa tahun lalu.

“Gajah-gajah ini umumnya berlatar belakang dari konflik lahan juga di daerah lain. Mereka dipindahkan di kawasan konservasi dengan maksud dapat terlindungi,” ujar dia.

Ia mengatakan berdasarkan dokumen legal pemerintah, kawasan ini sebenarnya berada di Desa Ulak Pandan. Sementara Desa Padang Baru ini baru muncul belakangan hari karena sebelumnya hanya ada Desa Padang.

Baca juga: Kawanan gajah yang masuk perkebunan digiring ke hutan Minas

Baca juga: Walhi: gangguan gajah di Aceh akan berlanjut tanpa penghentian alih fungsi hutan

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Orangutan dengan 74 peluru

Petugas kesehatan memeriksa Hope, orangutan betina dewasa yang diselamatkan dari Subusssalam, Aceh (10/3/2019) di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan  Sumatera di Sibolangit, Sumatera Utara, Minggu (17/3/2019). Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 74 peluru senapan angin di badan dan wajahnya sehingga menyebabkan buta total di kedua matanya. Selain itu Orangutan Hope juga mengalami patah tulang di bahu kiri serta dengan luka-luka benda tajam di sekujur tubuh dan kemudian menjalani operasi patah tulang dengan bantuan seorang ahli bedah tulang dan syaraf dari Swiss Dr. Andreas Messikommer, seorang relawan dokter yang sudah beberapa kali membantu tim medis YEL-SOCP menangani kasus serupa. ANTARA FOTO/HO/YEL-SOCP/Suryadi/foc.

Benih ikan koi ditebar di taman hutan Kota Madiun-Jatim

Benih ikan koi di kolam Taman Hutan Kota Patihan guna memaksimalkan fungsi ruang hijau terbuka (RTH) di wilayah setempat

Madiun (ANTARA) – Wali Kota Madiun, Jawa Timur, Sugeng Rismiyanto menebar benih ikan koi di kolam Taman Hutan Kota Patihan guna memaksimalkan fungsi ruang hijau terbuka (RTH) di wilayah setempat.

Ratusan ikan benih ikan koi tersebut diharapkan mampu menjadikan taman kota yang baru selesai digarap pada akhir tahun 2018 tersebut menjadi lebih indah.

Wali Kota Sugeng mengatakan Taman Hutan Kota Patihan yang terletak di Jalan Basuki Rahmat tersebut selain untuk RTH juga bisa dikembangkan sebagai sarana edukasi.

“Selain kawasan hijau, juga untuk edukasi mengenal tanaman dan habitatnya. Pokoknya rimbun dulu, tanam apa saja,” katanya di sela kegiatan sambung rasa Wali Kota Madiun dengan warga Kecamatan Manguharjo di Taman Hutan Kota Patihan Madiun.

Ia ingin, taman hutan kota tersebut nantinya dapat digunakan maksimal oleh warga Kota Madiun.

Kepala Bidang Pertamanan, Pemakaman, dan Penerangan Jalan, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Madiun Aang Marhendra mengatakan, Taman Hutan Kota Patihan tersebut belum bisa dinikmati secara maksimal, sebab masih dalam masa karantina.

“Beberapa tanaman belum tumbuh sempurna. Namun, kalau warga mau melihat-lihat, boleh,” kata Aang.

Saat ini Kota Madiun telah memiliki tiga hutan kota. Selain Taman Hutan Kota Patihan, dua lainnya adalah taman hutan kota di wilayah Ngegong dan Tawangrejo.

Sementara, berdasarkan data Dinas Perkim Kota Madiun, Taman Hutan Kota Patihan dibangun dengan dana sebesar Rp4,042 miliar. Sesuai kontrak, taman tersebut dikerjakan oleh PT Mutiara Rejeki Nusantara.

Selain bertujuan sebagai tempat rekreasi warga, taman tersebut juga berfungsi sebagai ruang terbuka hijau Kota Madiun. Adapun Pemkot Madiun saat ini telah memiliki sebanyak 52 RTH dan diharapkan akan terus bertambah.

Baca juga: Madiun berencana bangun tujuh ruang terbuka hijau tahun ini

Baca juga: Ikan Koi sumbang devisa Rp178 miliar

Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hasil riset LIPI sebut kawasan Pura Balingkang Bali layak jadi kebun raya

Bangli, Bali (ANTARA) – Hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  menyatakan lahan seluas 15,9 hektare pada kawasan Pura Dalem Balingkang, di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali layak dijadikan kebun raya, kata Bupati Bangli I Made Gianyar, di Bangli, Selasa.

Kepastian ini didapat ketika Bupati Bangli I Made Gianyar menghadiri undangan LIPI, dalam rangka penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, LIPI dengan Bappeda Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Bangli tentang Pembangunan, Pengelolaan dan Pengembangan Kebun Raya Bangli.

Juga dari hasil penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bupati Bangli dengan Kepala LIPI tentang Penelitian Pengembangan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, di Jakarta, Kamis (14/3).

Sebelum Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan MoU ini ditandatangani, Bupati Bangli I Made Gianyar sempat melakukan diskusi dengan Kepala LIPI Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati  Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Dr. R. Hendrian, M.Sc., Kepala Bidang Pengembangan Kawasan Kebun Raya Danang Wahyu Purnomo, M.Sc dan sejumlah pejabat LIPI lainnya.

Diskusi tentang rencana penyususan topografi dan pembuatan Master Plan Kebun Raya Bangli, sebagai salah satu yang diisyaratkan dalam Perpres No. 93 Tahun 2011 tentang Kebun Raya.

Diskusi ini menghasilkan kesimpulan bahwa pelaksanaan pekerjaan Master Plan Kebun Raya Bangli akan dikerjakan oleh LIPI.

Master Plan ini, direncanakan mulai dikerjakan pada minggu kedua bulan April tahun 2019 mendatang.

Di sela-sela acara berlangsung, Ketua LIPI Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya hayati terkaya di dunia.

Oleh karena itu, konservasi tumbuhan baik secara in-situ maupun ex-situ harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. “Dengan ini, LIPI akan membantu perencanaan pembangunan Kebun Raya Bangli, mulai dari perencanaan, pengelolaan, pendampingan, monitoring hingga evaluasi,” katanya.

 Baca juga: Kebun raya terbesar bakal ada di Kotawaringin Timur 2020
Baca juga: Presiden ajak Jan Ethes jalan-jalan di Kebun Raya Bogor

Pewarta: Adi Lazuardi
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peneliti jelaskan asal hiu Sentani menyusul kemunculan hiu pascabanjir

Hiu yang merupakan ikan air asin kemudian beradaptasi dengan air danau dan air sungai atau sumber mata air tawar yang terhubung dengan Danau Sentani…

Jayapura (ANTARA) – Peneliti dari Balai Arkeologi Papua menjelaskan asal hiu Sentani menyusul penemuan beberapa ikan hiu oleh warga BTN Sosial Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa pagi, setelah banjir melanda daerah itu.

Berkenaan dengan penemuan ikan hiu pascabanjir di Sentani yang menjadi viral di berbagai media sosial itu, peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto mengemukakan bahwa pada masa lalu Danau Sentani merupakan bagian dari laut yang menjorok ke darat.

“Bagian laut ini, sebelah utara berbatasan dengan Gunung Dafonsoro atau kini Cagar Alam Cycloops. Bagian laut ini terhubung oleh sungai dan mata air dari Cycloops,” katanya.

Pergerakan lapisan bumi, alumnus Universitas Udayana Bali itu melanjutkan, kemudian membuat air Danau Sentani yang semula asin menjadi tawar.

“Hiu yang merupakan ikan air asin kemudian beradaptasi dengan air danau dan air sungai atau sumber mata air tawar yang terhubung dengan Danau Sentani. Dalam perkembangannya hiu-hiu ini berubah menjadi ikan hiu air tawar,” katanya berpendapat.

Dia mengungkapkan bahwa bukti arkeologi menunjukkan adanya motif-motif ikan hiu di Situs Megalitik Tutari. Selain itu, ia menambahkan, Suku Sentani yang tinggal di Pulau Asei menggambarkan ikan hiu pada lukisan kulit kayu.

Hari menuturkan memori Suku Sentani tentang ikan hiu, yang dikabarkan sempat menghilang dari Sentani dan terakhir ditangkap tahun 1970-an, juga tertuang dalam lambang klub sepakbola kebanggaan Kabupaten Jayapura, Persidafon Dafonsoro.

Baca juga:
Korban meninggal banjir bandang di Kabupaten Jayapura capai 83 orang
Bupati Jayapura instruksikan relokasi BTN Gajah Mada

 

Pewarta: Alfian Rumagit
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Orangutan dengan puluhan peluru di tubuh jalani operasi tulang

Penanganan saat ini masih fokus dan intensif mengobati luka trauma yang infeksi,

Banda Aceh (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengatakan orangutan yang diberi nama Hope dengan puluhan peluru di tubuhnya, berhasil menjalani operasi pada tulang bahunya yang patah.

“Operasi melibatkan dokter hewan YEL-SOCP dan dokter spesialis tulang dari Swiss. Operasi dilakukan pada Minggu (17/3), berlangsung selama tiga jam,” kata Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Senin.

Operasi berlangsung di Pusat Karantina dan Rehabilitasi orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara, Hope saat ini dalam perawatan Tim Sumatran Orangutan Conservation Programme atau SOCP.

Untuk rencana operasi pengambilan peluru, sebut Sapto Aji, ditunda dengan mempertimbangkan kondisi Hope. Saat ini, konsentrasi operasi adalah pemasangan plat pada bahu yang patah.

“Penanganan saat ini masih fokus dan intensif mengobati luka trauma yang infeksi. Hope sudah sadar setelah proses pembiusan,” ungkap Sapto Aji Prabowo.

Sebelumnya, BKSDA Aceh mengevakuasi Hope dan anaknya yang berusia satu bulan. Namun, bayi orangutan tersebut akhirnya meninggal dunia ketika dibawa ke pusat karantina di Sibolangit. Bayi orangutan tersebut meninggal karena kekurangan nutrisi.

Sapto Aji Prabowo mengatakan, orangutan tersebut dievakuasi dari kebun warga di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

“Evakuasi berlangsung pada Minggu (10/3). Kondisi induk saat dievakuasi memprihatinkan. Begitu juga anak orangutan tersebut, kekurangan nutrisi, sehingga menyebabkan satwa dilindungi itu mati saat dalam perjalanan ke lokasi karantina,” sebut dia.

Sapto Aji menyebutkan, induk orangutan saat dievakuasi memprihatinkan dengan kondisi luka kaki dan jari tangan. Mata Hope buta terkena peluru senapan angin serta ditemukan 74 butir peluru senapan angin di tubuhnya.

“Kami berkomitmen membantu mengungkap kasus penganiayaan dan penembakan orangutan dan anaknya. Kami juga berterima kasih kepada tim medis yang telah mengoperasi Hope,” kata Sapto Aji Prabowo. 

Baca juga: Polisi didesak usut penembakan orang utan
Baca juga: BKSDA Aceh evakuasi orangutan dengan kondisi luka tembak

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kawasan Taman Nasional Lore Lindu jadi momok masyarakat

Kami berharap pada 2019 jalannya sudah mulai dikerjakan

Poso,Sulteng (ANTARA) – Kawasan Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah menjadi momok bagi masyarakat sekitar karena dianggap sebagai suatu area yang tidak bisa dijamah sama sekali.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) menjembatani kerja sama antara pengelola Taman Nasional Lore Lindu dengan pemerintah desa di Kecamatan Lore Barat.

Wakil Bupati Poso, Zamsuri, Senin mengharapkan kerja sama tersebut bisa menghapus anggapan bahwa Taman Nasional Lore Lindu tidak bisa disentuh sama sekali oleh masyarakat di Lembah Bada yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.

Selain itu, ia mengharapkan kerja sama tersebut bisa memberikan dampak saling menguntungkan di mana pengelola kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu bisa membina masyarakat dalam memanfaatkan kawasan tersebut sesuai aturan yang berlaku.

Wakil Bupati Zamsuri mengatakan masyarakat bukan tidak boleh menyentuh kawasan konservasi. Dibolehkan, kata dia, asal kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan pemerintah dan juga atas bimbingan dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu.

Menurut dia, dengan adanya kerja sama dimaksud, pihak Taman Nasional Lore Lindu tentu akan mendidik dan membina masyarakat bagaimana agar bisa meningkatkan ekonomi dan taraf hidup mereka, tanpa harus mengganggu kawasan konservasi.

Karena itu, pihaknya  mendorong program pemberdayaan yang dilakukan selama ini oleh pengelola Taman Nasional Lore Lindu kepada masyarakat yang ada di sekitar kawasan konservasi, khususnya yang berada di wilayah Kabupaten Poso.

Wabup Zamsuri juga mengatakan pemerintah akan membuka akses jalan untuk menghubungkan Kecamatan Lore Barat dan Lore Selatan dengan Kecamatan Lore Timur, Lore Tengah, Lore Piore dan Lore Utara sehingga masyarakat yang akan menuju Lore Barat dan Lore Selatan tidak lagi harus berputar lewat Poso-Tentena.

Begitu pula dengan masyarakat dari Lore Barat dan Lore Selatan bisa langsung menuju Palu, tanpa harus lewat Poso-Tentena yang jaraknya memang cukup jauh.

Jarak dari Palu menuju Lembah Bada mencapai sekitar 400 kilometer. Padahal jika dari Palu lewat Napu, Lore Utara hanya sekitar 200 kilometer saja. “Kami berharap pada 2019  jalannya sudah mulai dikerjakan,” ujar Zamsuri.

Pewarta: Anas Masa
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pencurian satwa di Taman Nasional Togean Sulteng masih berlangsung

Paling banyak dilakukan oleh masyarakat lokal yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional kepulauan Togean

Tojo,Sulteng (ANTARA) – Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Bustang, mengaku hingga kini pencurian berbagai hasil hutan dan satwa baik di darat maupun laut di kawasan konservasi itu masih berlangsung.

“Paling banyak dilakukan oleh masyarakat lokal yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional kepulauan Togean,” katanya di Palu, Sulawesi Tengah, Senin.

Ia mengatakan dengan jumlah personil polisi hutan (polhut) yang sangat terbatas, cukup menyulitkan untuk mengamankan dan mengawasi berbagai gangguan berupa pencurian ikan dengan menggunakan bom dan juga pembalakan liar.

Namun, kata dia, dalam tiga tahun terakhir ini, gangguan di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean baik di laut maupun di daratan sudah semakin berkurang.

Pihaknya terus melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan pemberdayaan dan juga sosialisasi dan cukup berhasil.

Bahkan, katanya, ada sejumlah desa yang cukup proaktif membantu petugas Taman Nasional Kepulauan Togean melakukan berbagai kegiatan di lapangan sehingga masyarakat sudah tidak ada lagi yang melakukan pencurian ikan dan satwa lainnya serta pembalakan liar. Tetapi, ada juga beberapa desa yang masyarakatnya masih tetap melakukan kegiatan tak terpuji tersebut.

“Kami terus mendekati mereka dan mencoba untuk mengubah pola pikir, meski tantangan cukup berat,” ujar Bustang.

Padahal pihaknya telah memberi akses bagi masyarakat lokal untuk mengelola bersama kawasan konservasi bagi kesejahteraan dan juga perolehan devisa negara dari berbagai objek wisata yang ada di Taman Nasional Kepulauan Togean.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung di kawasan konservasi Kepulauan Togean dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan cukup mengembirakan.

Dengan demikian, pendapatan masyarakat juga setidaknya bisa meningkat. Begitu pula perolehan devisa bagi negara dari sektor pariwisata dipastikan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya kunjungan wisatawan.

Bustang juga menambahkan jika tidak ada aral melintang, Taman Nasional Kepulauan Togean akan dideklarasikan sebagai cagar biosfer anggota jaringan dunia oleh Unesco.

“Kami sudah usulkan kepada Unesco untuk bisa menjadi anggota cagar biosfer dunia dan berharap pada 2019 ini juuga bisa dideklarasikan,” ujar dia.

Luas kawasan konservasi TN Kepulauan Togean mencapai 365.241 hektar terdiri darat sekitar 25.000 hektar, sedangkan kawasan konservasi laut mencapai 340.000 hektar.

Pewarta: Anas Masa
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hutan kekayaan masyarakat Jambi harus dilestarikan, kata Kepala BNPB

Apakah kita hanya akan mengenang satwa-satwa tadi kelak..?”,

Jakarta (ANTARA) – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan hutan yang menjadi kekayaan masyarakat Jambi harus dilestarikan untuk generasi mendatang jangan ditebang dan dibakar.

“Hutan merupakan aset berharga bagi kehidupan masyarakat Jambi,” katanya dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana Provinsi Jambi sebagaimana siaran pers diterima di Jakarta, Sabtu.

Ia menambahkan wilayah Jambi dikenal dengan kekayaan satwa yang langka seperti harimau, gajah dan badak. Bila hutan tidak dilestarikan satwa-satwa langka itu tidak akan bisa bertahan hidup.

“Apakah kita hanya akan mengenang satwa-satwa tadi kelak..?”, tanyanya.

Menurut Doni, hutan sangat erat berkaitan dengan peluang bahaya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Jambi.

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, empat wilayah kabupaten yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan adalah Tanjung Jabung Timur, Batang Hari, Bungo, dan Sarolangun.

Pada 2018, luas hutan dan lahan terbakar mencapai 970,16 hektare, dengan rincian gambut 272,06 hektare dan lahan mineral 698,1 hektare. Sementara itu, luas lahan gambut di Jambi mencapai 617.562 hektare.

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

12.000 bibit bakau ditanam di TN Way Kambas

Lampung Timur (ANTARA) – Balai Pengembangan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Way Seputih-Way Sekampung Lampung bersama Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur, LSM mitra TNWK, polisi hutan (polhut), aparat TNI, Polri dan warga serta pelajar setempat menanam sebanyak 12.000 bibit pohon bakau (mangrove) jenis rhizophora.

Penanaman bibit bakau itu dilaksanakan di kawasan pantai areal hutan TNWK di Kabupaten Lampung Timur, Sabtu, bertepatan dengan peringatan Hari Bakti Rimbawan setiap tanggal 16 Maret.

Pelaksanaan penanaman bibit bakau itu dimulai secara seremonial di kawasan pantai TNWK, di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Sabtu pagi.

Kegiatannya kembali akan dilanjutkan pada Minggu (17/3) besok oleh warga, pelajar, dan unsur pemerintah daerah setempat.

“Kegiatan hari ini intinya edukasi dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan,” kata Kepala BPDAS Way Seputih-Way Sekampung, Idi Bantara yang ditemui di lokasi penanaman bibit bakau itu.

Idi Bantara menjelaskan, semangat yang diusung pada kegiatan ini, yakni menjaga lingkungan untuk mengembalikan lingkungan yang rusak dengan cara penghijauan.

Dia menyebutkan, sebanyak 12.000 bibit pohon mangrove spesies rhizophora akan ditanam di atas lahan seluas 30 hektare.

Kepala Balai TNWK Subakir menyebutkan panjang pantai TNWK yang gundul sepanjang 75 kilometer.

Subakir menyatakan, manfaat adanya hutan bakau selain menjaga lahan dari abrasi, juga sangat mendukung kelestarian satwa-satwa liar yang hidup di sekitarnya.

Menurut Subakir, hutan Way Kambas memiliki lima ekor satwa kunci, yaitu badak, harimau, gajah, tapir, dan beruang. Satwa-satwa besar tersebut sering keluar ke hutan bakau manakala hutan bakaunya tumbuh rimbun dan rindang.

“Hutan bakau ini sangat bagus untuk kelestarian ekosistem, terutama untuk satwa-satwa besar, kalau pantainya tertutup mereka akan datang mencari makan dan minum, tapi kalau lahannya terbuka mereka tidak akan mau keluar,” ujarnya lagi.

Ke depan, kata Subakir, kawasan pantai TNWK seluruhnya bakal dihijaukan supaya hutannya terlindungi berikut satwa di dalamnya agar terjaga kelestariannya.

Baca juga: TN Way Kambas jadi kawasan Taman Warisan ASEAN
Baca juga: WCS : tercatat 26 gajah Way Kambas ditemukan mati akibat perburuan

Pewarta: Budisantoso B & Muklasin
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

SILFA Aceh dukung pembentukan kawasan konservasi penyu di Simeulue

Meulaboh, Aceh (ANTARA) – Pegiat lingkungan yang tergabung dalam Selamatkan Isi Alam dan Flora Fauna (SILFA) Aceh mendukung pembentukan kawasan konservasi penyu di Kabupaten Simeulue untuk menjaga habitat kura-kura laut di pulau terluar Provinsi Aceh itu.

Mereka sudah menemui para pemangku kepentingan terkait di Simeulue untuk mendukung penyiapan qanun atau peraturan daerah mengenai penetapan kawasan konservasi penyu. 

“Kita sudah melakukan sosialisasi ke masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjaga dan mengelola kawasan konservasi penyu tersebut,” kata Direktur Eksekutif SILFA Aceh Irsadi Aristora saat dihubungi dari Meulaboh, Sabtu.

Pelibatan warga sekitar, ia mengatakan, penting dalam pengelolaan kawasan konservasi dan pelestarian habitat penyu di kawasan pesisir Simeulue. 

Irsadi mengatakan bahwa di Simeulue dia melihat banyak telur penyu diperjualbelikan. “Itu menunjukkan bahwa di sana banyak habitat penyu dan penyu masih menyukai pantai setempat untuk bertelur, maka harus dijaga,” ia menambahkan.

Saat melakukan observasi dan pemetaan lokasi penangkaran penyu di Simeulue, pegiat SILFA menemukan beberapa lubang tempat penyu bertelur dan telur-telur penyu. Di kawasan Pantai Lasikin misalnya, pegiat SILFA menemukan 80 telur penyu hijau dan 29 telur penyu belimbing.

Selama ini, menurut Irsadi, warga sekitar masih mengonsumsi telur penyu. Pembentukan kawasan konservasi, ia melanjutkan, memungkinkan pengaturan pengelolaan habitat untuk minimal membatasi pengambilan telur penyu di pantai.

Kalau telur-telur penyu tidak diambil dan dibiarkan menetas dan tumbuh, ia menjelaskan, maka populasi penyu di Simeulue akan meningkat dan pemerintah daerah bisa membangun kawasan wisata penyu yang bisa mendatangkan penghasilan bagi warga sekitar.

“Tanggal 14 April 2019 ini, akan ada telur penyu dalam penangkaran yang menetas dan akan dilepas bersama pemda. Harapan kita Simeulue menjadi daerah wisata penyu sebagaimana di Aceh Jaya,” katanya.

Pewarta: Anwar
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gajah jinak Yeti akhirnya mati di Way Kambas Lampung

Lampung Timur (ANTARA) – Gajah jinak sumatera (Elephas maximus sumatranus) berusia empat tahun bernama Yeti, berjenis kelamin betina yang menderita sakit di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur, akhirnya mati.

Yeti mati di Camp Elephant Response Unit (ERU) Margahayu, TNWK, di Kabupaten Lampung Timur, Kamis (14/3) kemarin.

“Iya, Yeti mati Kamis kemarin, penyebabnya mungkin karena sakit,” kata Kepala Balai TNWK Subakir, saat dihubungi, Jumat.

Subakir menerangkan, gajah Yeti merupakan anak gajah hasil evakuasi pihaknya dari kanal gajah di Desa Braja Yekti pada 28 November 2013. Pada waktu dievakuasi, usianya masih sekitar tiga bulan. Gajah itu dievakuasi karena ditinggal oleh induk dan kawanannya.

Yeti lalu dibawa ke Rumah Sakit Gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK untuk mendapatkan perawatan oleh tim dokter hewan.

Menurut Subakir, Yeti tergolong anak gajah yang malang, mengingat semenjak dievakuasi sering sakit-sakitan. “Yeti memang sudah sakit-sakitan dari awal, semenjak pertama kali ditemukan,” katanya pula.

Upaya mengobatinya telah dilakukan oleh tim dokter hewan, namun akhirnya tidak tertolong juga.

“Catatan terakhir Yeti mengalami sakit kejang-kejang dan gatal-gatal,” ujarnya lagi.

Subakir menyatakan, Yeti telah dikuburkan, namun sebelum dikubur, oleh tim dokter bagian dalam tubuhnya diambil untuk diteliti agar mengetahui sakit yang dialami.

“Penyakitnya bisa diketahui setelah diuji di laboratorium, bagian dalam tubuhnya sudah diambil untuk dibawa ke lab,” ujarnya pula.

Baca juga: Yeti, gajah Way Kambas Lampung sakit
Baca juga: Seekor gajah jinak ditemukan mati di Pidie
Baca juga: 11 ekor gajah mati di Aceh selama 2018

Pewarta: Budisantoso B & Muklasin
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Polisi didesak usut penembakan orang utan

Penembakan terhadap orang utan menggunakan senapan angin merupakan bentuk penyiksaan. Satu individu induk orang utan mengalami luka parah setelah 74 peluru senapan angin bersarang di tubuhnya,

Banda Aceh (ANTARA) – Kalangan aktivis lingkungan hidup mendesak kepolisian mengusut kasus penembakan terhadap satu individu orang utan yang menyebabkan di tubuh satwa dilindungi itu bersarang puluhan peluru senapan angin di Kota Subulussalam, Aceh.

Desakan tersebut disuarakan dua puluhan aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam Koalisi Peduli Orang Utan pada unjuk rasa di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Jumat.

Nuratul Faizah, koordinator aksi menyebutkan, penembakan terhadap orang utan menggunakan senapan angin merupakan bentuk penyiksaan. Satu individu induk orang utan mengalami luka parah setelah 74 peluru senapan angin bersarang di tubuhnya.

“Induk orang utan diberi nama Hope juga mengalami kebutaan total. Akibat penembakan tersebut menyebabkan bayi Hope berusia sebulan mati setelah mengalami kekurangan nutrisi,” tambahnya.

Penembakan orang utan tersebut semakin mengancam keberadaan satwa dilindungi itu. Pengusutan terhadap penembakan Hope merupakan upaya memberi efek jera bagi pelaku dan yang lainnya untuk tidak membunuh satwa dilindungi.

Menurut Nuratul Faizah, pelaku penembakan Hope yang menyebabkan bayinya mati harus dihukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam.

“Ancaman hukuman terhadap pelaku penembakan satwa dilindungi lima tahun penjara dan denda maksimal Rp100 juta. Karena itu, kami mendesak polisi menangkap pelakunya,” kata dia.

Selain itu, ia menyebutkan, aktivis lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Peduli Orang Utan Sumatera juga mendesak kepolisian menertibkan penggunaan senapan angin.

Sebab, senapan angin banyak digunakan menembak satwa dilindungi seperti orang utan maupun burung langka. Penertiban ini juga agar kasus penembakan terhadap Hope tidak terulang,” tambah Nuratul Faizah.

Unjuk rasa berlangsung tertib. Aksi aktivis lingkungan hidup tersebut menjadi perhatian masyarakat yang melintas di bundaran pada lalu lintas itu. Massa aktivis akhir membubarkan diri dengan tertib setelah menyampaikan aspirasinya.

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemkab Lumajang lestarikan anggrek ekor tupai

Kegiatan itu sebagai salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai lingkungan dan mengajak masyarakat semakin sadar terhadap lingkungan dengan ikut aktif menanam tanaman di lingkungan sekitar

Lumajang (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama Komunitas Puspa Semeru melestarikan anggrek ekor tupai (Rhycostilis retusa) yang merupakan tanaman endemik di wilayah setempat dengan menanamnya secara simbolis dalam rangkaian acara “Lumajang Menanam Bunga” di kawasan alun-alun Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Jumat.

“Kami mendapatkan sumbangan dari komunitas pecinta bunga Puspa Semeru sebanyak 1.000 anggrek ekor tupai yang akan ditempel di pohon dan secara simbolis ditanam di depan rumah dinas saya,” kata Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati di Lumajang.

Wakil bupati Lumajang menanam anggrek dengan menggunakan sky lift milik Dinas Lingkungan Hidup karena anggrek tersebut harus ditanam menempel di pohon bagian atas sehingga perlu alat bantu untuk menanamnya.

“Kegiatan itu sebagai salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai lingkungan dan mengajak masyarakat semakin sadar terhadap lingkungan dengan ikut aktif menanam tanaman di lingkungan sekitar,” katanya.

Indah mengucapkan terima kasih kepada komunitas Puspa Semeru yang telah berpartisipasi dan berkontribusi dalam kegiatan peduli lingkungan, khususnya dalam kegiatan menanam pohon di Kabupaten Lumajang.

Sementara Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dinas Lingkungan Hidup Lumajang Yuli Harismawati menyampaikan apresiasinya terhadap Paguyuban Puspa Semeru Lumajang atas sumbangsihnya memperindah kota Lumajang dengan memberikan tanaman anggrek ekor tupai.

“Dengan partisipasi kepedulian mempercantik Lumajang, semakin meyakinkan Pemkab Lumajang bahwa teman-teman komunitas juga peduli terhadap lingkungan, terutama terhadap pelestarian keanekaragaman hayati,” katanya.

Ia menjelaskan tanaman anggrek ekor tupai banyak ditemui di beberapa wilayah di Kabupaten Lumajang dan dapat disebut sebagai tanaman endemik Kota Pisang dan seringkali anggrek jenis itu dianggap sebagai gulma yang menempel di pohon asem dan jati karena ketidaktahuan masyarakat.

“Selama ini orang menganggap tanaman itu sebagai gulma, padahal anggrek itu sangat cantik. Teman-teman dari Puspa Semeru nanti akan mengawal adaptasi di pohon karena ada 1.000 anggrek yang disumbangkan dan menjadi kebanggaan yang akan membuat masyarakat mencintai kotanya dengan keindahan tanaman hias,” ujarnya.

Baca juga: Pemkab Lumajang Siapkan Ribuan Masker Antisipasi Abu Bromo

Baca juga: Tiga kecamatan di Lumajang-Jatim diterjang angin kencang

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Izinkan warga manfaatkan TWA, Menteri LHK syaratkan jaga ekosistem hutan

Warga berhak memanfaatkan dan mengelola daerah areal wisata alam tanpa merusak tatanan ekosistem laut dan hutan untuk untuk mencari nafkah…

Aceh Singkil (ANTARA) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nurbaya, meninjau objek Taman Wisata Alam (TWA) di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh dan mengizinkan warga memanfaatkan areal WTA dengan konsep perhutanan sosial, tanpa merusak ekosistem laut dan hutan.

Dalam kunjungannya ke pulau terluar Aceh Singkil, pada Kamis (14/3) siang itu, Siti Nurbaya berdiskusi dengan masyarakat setempat membicarakan persoalan pengelolaan TWA untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

“Warga berhak memanfaatkan dan mengelola daerah areal wisata alam tanpa merusak tatanan ekosistem laut dan hutan untuk untuk mencari nafkah dan meningkatkan perekonomian,” katanya di sela sela kegiatan itu.

Hal itu menanggapi usulan dari masyarakat setempat yang mengharapkan pemerintah memberikan ruang terhadap pengelolaan sumber daya alam laut di taman wisata alam sebagai sumber perekonomian warga di kepulauan tersebut.

Dalam kunjungannya Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, selain membahas pengelolaan taman wisata alam, juga menyikapi persoalan abrasi yang terus terjadi selama belasan tahun di Kecamatan Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil.

Siti Nurbaya menyampaikan warga boleh memanfaatkan areal taman wisata alam dengan konsep perhutanan sosial, tanpa merusak ekosistem laut dan hutan.

Sementara terkait permasalahan abrasi yang dilaporkan warga, Siti Nurbaya, berjanji akan segera melakukan penanaman pohon bakau (mangrove) dan tanaman pantai lainnya secara massal.

Siti Nurbaya mengatakan kedatangannya kali ini merupakan bukti keseriusannya dalam menanggapi surat dari Bupati Aceh Singkil Dulmusrid, bulan Oktober 2018 lalu, terkait sejumlah persoalan yang ada di kepulauan itu.

Sejumlah warga terlihat antusias dan menyambut meriah kedatangan menteri LHK yang mendarat pukul 10.30 WIB dengan menggunakan helikopter di lapangan bola Desa Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak Kabupaten Aceh Singkil.

Pewarta: Anwar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Kalteng lepasliarkan dua ekor kukang di Pararawen

Kembalinya dua ekor kukang ke habitat alaminya diharapkan dapat meningkatkan populasi satwa tersebut di alam dan kelestariannya dapat terus terjaga

Muara Teweh (ANTARA) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melalui Kantor Seksi Konservasi Wilayah III Muara Teweh, kembali melepasliarkan satwa primata dua ekor kukang (Nycticebus menagensis) di kawasan Cagar Alam Pararawen I dan Pararawen II Kecamatan Teweh Tengah.

“Dua ekor kukang berjenis kelamin jantan tersebut berasal dari penyerahan masyarakat dari dua desa yakni Desa Bukit Sawit Kecamatan Teweh Selatan dan Hajak Kecamatan Teweh Baru yang diantar langsung ke kantor BKSDA Kalteng SKW III,” kata Kepala BKSDA Kalteng SKW III Muara Teweh Nizar Ardhanianto di Muara Teweh, Jumat

Menurut Nizar, setelah dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan hasil kondisi fisik sehat dan gigi taringnya lengkap. Kondisi ini memungkinkan untuk kukang tersebut dilepasliarkan ke habitat alaminya. Sebelum dilakukan pelepasliaran, satwa ini terlebih dahulu dilakukan observasi dan perawatan.

Pelepasliaran yang dilaksanakan pada Rabu (13/3) itu dilakukan oleh enam personel tim Wild Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalteng – SKW III menembus Sungai Mantuhang yang secara administratif terletak di Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah untuk mengantar dua ekor kukang ini kembali ke habitatnya.
  Tim Wild Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalteng – SKW III Muara Teweh melepasliarkan dua ekor kukang di kawasan hutan Cagara Alam Pararawen Kecamatan Teweh Tengah, Rabu (13/3/2019). (Foto BKSDA Kalteng SKW III Muara Teweh)
“Kembalinya dua ekor kukang ke habitat alaminya diharapkan dapat meningkatkan populasi satwa tersebut di alam dan kelestariannya dapat terus terjaga. Sekali satwa punah dari muka bumi, dunia akan menjadi tempat yang sepi dan tidak ramah lagi bagi manusia. Mari kita lestarikan kekayaan alam bumi Kalimantan ini,” kata Nizar.

Kukang merupakan satwa dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Sementara itu, Badan Konservasi Dunia IUCN, memasukkan kukang dalam kategori vulnerable (rentan), yang artinya memiliki peluang untuk punah 10 persen dalam waktu 100 tahun. Sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) memasukkan kukang ke dalam apendix I.

“Pelepasliaran bukanlah akhir, tapi justru ini merupakan langkah awal dari primata pemalu tersebut untuk beradaptasi dan berkembang biak dialam. Membiarkan mereka hidup liar merupakan cara bijak kita melestarikan kukang di alam,” ujarnya.

Baca juga: BKSDA rawat seekor kukang liar dari warga

Baca juga: 27 kukang korban perdagangan jalani rehabilitasi

Pewarta: Kasriadi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Beruang masuk ke pemukiman gegerkan warga Kalimantan Tengah

Jika dilihat dari kondisi lokasi yang sangat jauh dari hutan, mungkin beruang tersebut adalah peliharaan warga yang terlepas. Kalau beruang liar sangatlah kecil kemungkinannya

Palangka Raya (ANTARA) – Warga Jalan Mentaya Raya, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, digegerkan dan dibuat takut akibat seekor beruang masuk di permukiman .

“Kami sedang berupaya melakukan pencarian serta memasang perangkap besi di sekitar lokasi beruang tersebut terlihat,” kata Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit, Muriansyah, Kamis.

Dia mengatakan berdasarkan keterangan masyarakat yang sempat melihat beruang, satwa liar tersebut berwarna hitam dengan ukuran tubuhnya seukuran anjing dewasa.

“Kejadian munculnya beruang itu terjadi pada Rabu (13/3). Saat ini Masih belum kami ketahui jenis beruang tersebut, namun jika dilihat dari ciri-ciri yang disampaikan warga, satwa dilindungi tersebut sepertinya beruang madu,” kata Muriansyah.

Untuk menangkap beruang tersebut, tim BKSDA Pos Jaga Sampit memasang perangkap yang terbuat dari besi dan diberi umpan buah cempedak.

“Mudah-mudahan beruang tersebut tertarik dengan umpan yang kami pasang di dalam perangkap, sehingga beruang itu bisa segera kita tangkap,” katanya.

Muriansyah memperkirakan beruang tersebut saat ini masih berada di dalam semak-semak di sekitar permukiman tersebut.

“Jika dilihat dari kondisi lokasi yang sangat jauh dari hutan, mungkin beruang tersebut adalah peliharaan warga yang terlepas. Kalau beruang liar sangatlah kecil kemungkinannya,” katanya.

Menurut Muriansyah, beruang madu saat ini mulai langka dan sangat sulit ditemukan. Beruang madu juga termasuk dalam kategori dilindungi karena satwa tersebut sudah hampir punah.

Beruang madu memiliki ukuran kecil dibanding dengan beruang jenis lainnya. Satwa ini memiliki cakar kuku yang tajam.

Berkurangnya jumlah beruang di Kotawaringin Timur karena habitat aslinya yang sudah rusak dan membuat satwa dilindungi itu kesulitan mencari makan.

Baca juga: Bayi beruang madu ditemukan warga Katingan

Baca juga: 1.000 euro “Red Dress Run” ekspatriat untuk konservasi beruang madu

Pewarta: Rendhik Andika/Untung Setiawan
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Atas alasan ini, BKSDA Kalteng berencana bongkar perangkap buaya di Sungai Seranggas

BKSDA Kalteng memasang perangkap berupa kerangkeng besi dan alat pancing dengan umpan bebek untuk menangkap buaya. Tindakan itu dilakukan setelah seorang warga bernama Julhaidir (41) diterkam buaya hingga tangan kirinya putus saat mandi di Sungai Ser

Palangka Raya (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), berencana membongkar perangkap dan pancing buaya yang sudah sekitar satu bulan dipasang di Sungai Seranggas Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit.

“Info terakhir dari ketua RT, buaya sudah tidak pernah terlihat lagi. Rencananya minggu depan perangkap itu akan dibongkar,” kata Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit, Muriansyah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kamis.

BKSDA Kalteng memasang perangkap berupa kerangkeng besi dan alat pancing dengan umpan bebek untuk menangkap buaya. Tindakan itu dilakukan setelah seorang warga bernama Julhaidir (41) diterkam buaya hingga tangan kirinya putus saat mandi di Sungai Seranggas.

Jumat (8/2) dini hari lalu, seekor buaya berukuran sekitar 3,5 meter berhasil ditangkap menggunakan perangkap besi yang dipasang di Sungai Serangas. Buaya itu kemudian dibawa ke Taman Wisata Bukit Tangkiling Palangka Raya.

Sabtu (23/2) sekitar pukul 21.00 WIB, seekor buaya berukuran 3,6 meter tersangkut pancing yang dipasang BKSDA. Namun pagi harinya buaya tersebut mati dan bangkainya dikubur di kompleks pemakaman di desa itu.

Masyarakat memperkirakan masih banyak buaya berkeliaran di Sungai Seranggas yang merupakan anak Sungai Mentaya. Bahkan satu malam sebelumnya, sempat ada seekor buaya tersangkut pancing namun kemudian buaya itu berhasil melepaskan diri.

Atas permintaan masyarakat, pancing dan perangkap buaya itu kembali dipasang hingga saat ini. Namun karena tidak ada lagi buaya yang tertangkap dan tidak ada buaya yang muncul, pancing dan perangkap itu segera dibongkar.

“Rencananya Sabtu atau Minggu akan kami bongkar perangkapnya. Meski begitu, kami selalu mengimbau kepada masyarakat untuk terus waspada saat beraktivitas di sungai untuk menghindari kemungkinan terjadinya serangan buaya,” kata Muriansyah.

Populasi buaya di Sungai Mentaya dan anak sungainya diperkirakan masih cukup banyak. Habitatnya diperkirakan berada di kawasan Pulau Lepeh, yaitu pulau kecil tak berpenghuni yang terletak di tengah Sungai Mentaya karena warga sering melihat buaya berjemur di bantaran pulau itu.

Buaya menyasar ke perairan sekitar permukiman penduduk diduga untuk mencari makan karena kelaparan. Sumber makanan di habitatnya diduga makin sulit didapat sehingga satwa ganas itu menyebar mencari makanan hingga ke perairan permukiman penduduk.

Pewarta: Rendhik Andika/Norjani
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sebanyak ini jumlah anak gajah jinak dimiliki TN Way Kambas

16 ekor anak gajah itu terdiri dari hasil evakuasi dari hutan karena ditinggal induk serta kelompoknya dan anak dari gajah jinak Way Kambas,

Lampung Timur (ANTARA) – Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung kini memiliki 16 ekor anak gajah sumatera jinak.

Kepala Balai TNWK Lampung, Subakir di Lampung Timur, Kamis, menyebutkan 16 ekor anak gajah itu terdiri dari hasil evakuasi dari hutan karena ditinggal induk serta kelompoknya dan anak dari gajah jinak Way Kambas.

Nama-nama bayi gajah jinak itu, di antaranya Yulia, betina (berusia 4 tahun), Amel, betina (4), Fatra, jantan (4), Pangeran, jantan (3), Verdy, jantan (3), Ratu Fitria, betina (1), Desti, betina (1), Nunik, betina (1), Qori, betina (1), Linda, betina (1), Sonja, betina (kurang dari setahun).

Ditambah dua anak gajah jantan yang lahir di Camp Eru Way Kambas pada 14 Januari 2019, dan 26 Februari 2019.

Lalu, anak gajah dari evakuasi, Yeti, betina (4), Erin, betina (3), Elene, betina (3).

Humas Balai TNWK Sukatmoko menambahkan secara total jumlah gajah jinak di Way Kambas mencapai 68 ekor. “68 ekor itu sudah termasuk 16 ekor anak gajah itu,” katanya lagi.

Sedangkan jumlah gajah liar berdasarkan survei Balai TNWK pada tahun 2010 diperkirakan mencapai sebanyak 247 ekor.

Menurut Sukatmoko, akan dilakukan survei ulang pada tahun ini untuk mengetahui peningkatan atau penurunan populasi gajah liar sumatera (Elephas maximus sumatranus) di hutan Way Kambas.

Selain di Taman Nasional Way Kambas, gajah liar di Lampung juga terdapat di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berada pada empat wilayah, yaitu Kabupaten Lampung Barat, Pesisir Barat, Tanggamus (Provinsi Lampung), dan wilayah Provinsi Bengkulu.

Pewarta: Budisantoso B & Muklasin
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Inilah… jumlah orangutan yang dilepasliarkan ke TNBBBR

Kami di Balai TNBBBR bersama tim dari Yayasan BOS, bertanggung jawab menjamin keselamatan dan kesejahteraan para orangutan itu. Kami berharap mereka pun bisa membentuk generasi baru populasi orangutan liar yang mandiri dan lestari,

Palangka Raya (ANTARA) – Yayasa Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah, kembali melepasliarkan enam orangutan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Katingan.

Melestarikan satwa liar di habitatnya, adalah langkah penting untuk memastikan keberhasilan upaya konservasi dalam jangka panjang, kata Kepala Balai TNBBBR Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, Agung Nugroho di Palangka Raya, Kamis.

“Kami di Balai TNBBBR bersama tim dari Yayasan BOS, bertanggung jawab menjamin keselamatan dan kesejahteraan para orangutan itu. Kami berharap mereka pun bisa membentuk generasi baru populasi orangutan liar yang mandiri dan lestari,” ucapnya.

Enam orangutan itu terdiri dari tiga jantan yakni Rosidin umur 20 tahun, Tristan umur 16 tahun, dan Borneo 1 tahun, dan tiga betina yakni Buntok umur 12 tahun, Paijah 15 tahun, dan Danida 13 tahun.

CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite mengatakan keenam orangutan itu sebelum dilepasliarkan, harus menempuh perjalanan selama 10 hingga 12 jam menempuh jalur darat dan sungai menuju titik-titik pelepasliaran yang telah ditentukan di hutan TNBBBR.

“Manusia sebenarnya menerima manfaat terbesar apabila lingkungan hidup terjaga baik dan lestari. Oleh karena itu, kita seharusnya bekerja bersama untuk mewujudkan hal ini,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalteng, Adib Gunawan mengaku pihaknya terus menjalin kerja sama erat dengan berbagai pihak yang aktif bergerak dalam upaya pelestarian lingkungan.

Dia mengemukakan Yayasan BOS yang membantu pihaknya merehabilitasi orangutan korban deforestasi pun secara teratur melepasliarkan orangutan ke habitat alaminya, yang dengan baik dikelola rekan-rekan kami di Balai TNBBBR.

Sejak 2016, kerja sama ini telah berhasil memulangkan ratusan orangutan ke habitatnya. pelepasliaran enam orangutan itu pun sebagai hasil kerja bersama yang luar biasa, jumlah totalnya mencapai 120,” ujarnya.

Dia pun berharap upaya ini bisa direplikasi atau bahkan dikembangkan oleh para pemangku kepentingan lain, demi pelestarian lingkungan di provinsi Kalteng.

Pewarta: Rendhik Andika
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA rawat seekor kukang liar dari warga

Bengkulu (ANTARA) – Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Bengkulu-Lampung di Kabupaten Rejang Lebong, saat ini tengah merawat seekor primata dilindungi jenis kukang yang diserahkan warga di daerah itu.

Kepala Unit Polisi Hutan BKSDA Wilayah I Bengkulu-Lampung, Reza Al Fitriansyah, di Rejang Lebong, Rabu, mengatakan satwa dilindungi itu diserahkan warga dalam kondisi mengalami luka dibagian paha kiri.

“Saat ini sedang dilakukan perawatan guna memulihkan lukanya. Kukang ini diserahkan oleh warga Kelurahan Kampung Jawa, setelah ditangkap karena berkeliaran untuk mencari makan di wilayah itu,” ujarnya.

Kukang yang diserahkan warga ini tambah dia, akan dilakukan perawatan hingga satu bulan ke depan guna menyembuhkan lukanya, dan nantinya akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Dari pemeriksaan yang dilakukan pihaknya, diketahui jika kukang dewasa yang belum diketahui umur dan jenis kelaminnya itu masih tergolong liar, hal ini bisa dilihat dari perilaku, gigi dan kukunya masih tajam.

Sejauh ini kasus penemuan kukang yang masuk ke pemukiman penduduk, kata dia, sudah sering terjadi sejak beberapa tahun belakangan karena lokasi habitat kukang di Kabupaten Rejang Lebong terus menyusut karena perkembangan penduduk.
Habitat primata ini biasanya berada di hutan dan juga sering ditemukan di perkebunan warga serta hutan bambu.

Untuk itu, dia mengimbau warga agar tidak memperdagangkannya, atau warga yang memeliharanya agar diserahkan kepada petugas BKSDA, karena kukang termasuk satwa dilindungi sesuai dengan UU No.5/1990, Konservasi SDA Hayati dan Ekosistemnya, di mana ancaman hukumannya bisa mencapai 5 tahun penajara.*

Baca juga: Warga Sukabumi serahkan hewan dilindungi

Baca juga: 77 kukang diserahkan ke BKSDA Jabar

Pewarta: Nur Muhamad
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Warga diimbau waspada ancaman buaya

Ambon (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku mengimbau warga Desa Mamala Kabupaten Maluku Tengah, untuk mewaspadai munculnya buaya muara di sungai air besar.

“Akhir-akhir ini sering munculnya buaya muara di Desa Mamala, kami menghimbau kepada warga yang sering melakukan aktifitas sehari di sungai air besar untuk waspada, terutama di malam hari karena buaya sifatnya nokturnal artinya aktif di malam hari,” kata Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi, Rabu.

Ia mengatakan, imbauan disampaikan mengingat seekor buaya muara kembali ditangkap warga Pukul 13.05 WIT di Dusun Air Besar, Desa Mamala.

Buaya muara jenis kelamin jantan dengan panjang sekitar 1,2 meter ditemukan warga Mamala Zakaria pukul 01.00 wit dini hari di sungai air besar, Desa Mamala.

“Informasi dari warga bahwa buaya sudah terlihat di sungai air besar sejak seminggu yang lalu, dan tidak ada korban dari keberadaan buaya di sungai karena buaya tergolong masih kecil,” katanya.

Menurut dia, sebelum buaya tersebut diserahkan kepada petugas BKSDA Maluku, ada oknum warga yang tidak mau menyerahkan buaya, karena diduga buaya akan dikomersilkan.

“Akhirnya warga menyerahkan buaya muara kepada petugas BKSDA disaksikan anggota Polsek Leihitu dan Babinsa TNI,” ujarnya.

Mukhtar mengakui, buaya muara saat ini berada di kandang karantina di Desa Passo untuk direhabilitasi dahulu yakni mengobati luka dikepalanya, sebelum buaya tersebut dilepasliarkan ke habitatnya.

Proses pelepasliaran akan dilakukan setelah buaya dinyatakan sehat. Sesuai rencana akan diliarkan di kawasan suaka alam Sungai Nief Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Selain itu sesuai rencana Kamis (14/3) petugas BKSDA Maluku (Resort Pulau Ambon) bersama warga Desa Mamala akan melakukan investigasi dan penyisiran ke TKP untuk mencari kemungkinan masih adanya buaya lainnya di sungai tersebut.

“Upaya ini dilakukan karena sungai air besar bukanlah habitat buaya,” tandasnya.

Mukhtar juga mangimbau waraga jika melihat adanya kemunculan atau keberadaan buaya agar disampaikan kepada petugas, atau melaporkan melalui call center BKSDA Maluku 085244440772.

“Hal ini penting karena buaya muara merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi undang undang,” katanya.*

Baca juga: BKSDA Maluku amankan buaya muara di kandang transit

Baca juga: BKSDA Maluku pasang perangkap buaya yang muncul di Pelabuhan Yos Sudarso

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Aceh evakuasi orangutan dengan kondisi luka tembak

Kami menyesalkan dan mengutuk siapapun yang melukai serta menyiksa kedua individu orangutan tersebut. Kami bersama penegak hukum akan berupaya mengungkap pelaku kekejaman tersebut

Banda Aceh (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengevakuasi dua individu orangutan ((Pongo abelii) , induk dan anak yang mengalami luka tembak senapan angin.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Selasa, mengatakan, orangutan tersebut dievakuasi dari kebun warga di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

“Evakuasi berlangsung pada Minggu (10/3). Kondisi induk saat dievakuasi memrihatinkan. Begitu juga anak orang utan tersebut, kekurangan nutrisi, sehingga menyebabkan satwa dilindungi tersebut mati saat dalam perjalanan ke lokasi karantina,” katanya.

Evakuasi melibatkan personel Satuan Konservasi Wilayah II Resor 17 Rundeng bersama mitra kerja Wildlife Conservation Center Indonesia Program (WCS-IP) dan Orangutan Information Centre (OIC).

Sapto Aji Prabowo menyebutkan, induk orangutan saat dievakuasi kurang sehat dengan kondisi luka kaki dan jari tangan. Mata induk orang utan tersebut juga terkena peluru senapan angin.

Setelah berhasil ditangkap, anak dan induk orang utan tersebut ke lokasi karantina di Sibolangit, Sumatera Utara. Namun, dalam perjalanan anak orang utanmati karena kondisinya malnutrisi.

“Anak orangutan tersebut dikubur di Sibolangit. Sedangkan hasil pemeriksaan induk orangutan di Sibolangit, ditemukan 73 butir peluru senapan angin,” katanya.

Selain itu, induk orangutan tersebut juga mengalami patah tulang tangan, kaki tangan, dan jari. induk orang utan tersebut mengalami luka bacok bernanah di punggung.

“Kami menyesalkan dan mengutuk siapapun yang melukai serta menyiksa kedua individu orang utan tersebut. Kami bersama penegak hukum akan berupaya mengungkap pelaku kekejaman tersebut,” demikian Sapto Aji Prabowo. 

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ratusan hektare hutan mangrove di Secanggang Langkat-Sumut rusak

Kerusakan disebabkan karena banyaknya alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. pertambakan dan faktor alam lainnya

Langkat (ANTARA) – Kerusakan hutan mangrove di Desa Selotong Kecamatan Secanggang, Langkat, Sumatera Utara, hingga kini diperkirakan mencapai 650 hektare disebabkan alih fungsi menjadi perkebunan sawit dan pertambakan, kata pejabat berwenang

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Wampu dan Sei Ular, Heru Winarto, di Langkat, Selasa, mengatakan 640 hektare lahan hutan mangrove (bakau) yang sudah rusak tersebut harus segera diantisipasi dengan dilakukan penanaman kembali.

“Kerusakan disebabkan karena banyaknya alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. pertambakan dan faktor alam lainnya,” katanya.

Padahal, kata dia, hutan mangrove tersebut memiliki banyak fungsi dan mamfaat di antaranya bisa menanahan ombak (abrasi), tempat tumbuh dan berkembang biaknya biota laut seperti ikan, udang, kepiting, serta tempat berlindungnya mamalia lainnya seperti monyet.

“Kalau sampai kondisi tersebut dibiarkan berlarut tentunya akan berdampak pada ekositem alam disana. Tentunya kita sangat mengharapkan kepada masayrakat agar sama-sama menjaga kelestarian hutan bakau,” katanya.

Selotong Imran, salah seorang warga setempat, mengatakan, saat ini sudah ada upaya untuk perbaikan yang dilakukan dengan menanam kembali di atas lahan seluas dua hektare dengan 2.000 batang pohon mangrove.

Selain itu juga akan ditanam 5.000 batang pohon bibit lainnya yang disumbangkan dari Kemeneterian Kehutanan maupun swadaya dari relawan, katanya.

“Direncanakan lahan yang rusak yang berada di Desa Selotong itu, akan diupayakan untuk dilakukan penanaman kembali,” katanya.

Baca juga: Kerusakan hutan mangrove Langkat sangat mengkhawatirkan

Baca juga: Hutan mangrove Langkat kawasan wisata belajar

Pewarta: Juraidi dan imam Fauzi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BPBD sebut karhutla di Nagan Raya-Aceh diduga sengaja dibakar

Kuat dugaan, lahan di Cot Meu sengaja dibakar oknum untuk proses pembersihan guna membuka lahan baru

Banda Aceh (ANTARA) – Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut awalnya terjadi di Gampong (desa) Cot Meu hingga meluas menjadi sekitar 18,7 hektare di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, diduga kuat segaja dibakar.

“Kuat dugaan, lahan di Cot Meu sengaja dibakar oknum untuk proses pembersihan guna membuka lahan baru,” kata Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Senin.

Ia menjelaskan bahwa total ke-18,7 hektare lahan yang terbakar ini, 12,2 hektare di antaranya merupakan milik masyarakat di Desa Cot Mue, Kecamatan Tadu Raya yang mulai terbakar pada Jumat (8/3).

Lahan yang terbakar tersebut meluas hingga ke lahan di dua gampong milik masyarakat, dan satu perusahaan, yakni Desa Lawa Batu, Kecamatan Kuala seluas lima hektare, dan PT SPS di Kecamatan Darul Makmur seluas 1,5 hektare pada Sabtu (9/3).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagan Raya, aparat gabungan unsur TNI/Polri, dan masyarakat setempat hingga kini masih melakukan upaya pemadaman di lokasi dengan mengerahkan satu unit mobil pemamdam, tiga unit mesin pompa air, dan satu alat berat.

“Di PT SPS, titik api sudah padam. Sedangkan di Gampong Cot Mue, dan Gampong Lawa Batu telah dilakukan lokalisir menggunakan ekskavator agar api tidak merambat ke lahan kering yang lain,” katanya.

“Petugas di lapangan juga menghadapi kendala akibat tanah gambut, sehingga mobil pemadam tidak bisa masuk kelokasi lahan yang terbakar. Kurangnya peralatan, dan minimnya sumber air,” kata Dadek.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun lalu menyatakan, sedang mengembangkan teknologi tepat guna yang memudahkan masyarakat membuka lahan tanpa melakukan pembakaran.

“Kami sedang melakukan studi dan pelatihan untuk pembukaan lahan tanpa bakar dan ini diperlukan teknologi, tentunya teknologi yang tepat guna sehingga rakyat tidak perlu membakar tapi cukup dengan menggunakan teknologi ini,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Ruandha Agung Sugardiman.

Ruandha menjelaskan membuka lahan dengan melakukan pembakaran, apalagi pada yang lahan luas, berisiko mengganggu lingkungan sekitar selain menambah buangan gas rumah kaca yang mempengaruhi perubahan iklim.

Kementerian, ia melanjutkan, melakukan sosialisasi dari rumah ke rumah untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai bahaya melakukan pembakaran lahan atau area hutan.

“Jadi kami lakukan sosialisasi door to door (rumah ke rumah) sehingga rakyat akan sadar bahwa kebakaran hutan ini menjadikan bahaya tidak saja bagi daerah mereka masing-masing, tapi juga bagi Indonesia pada umumnya,” katanya.

Baca juga: Api hanguskan 10 hektare lahan gambut di Nagan Raya

Baca juga: Kebakaran landa 6,5 hektare hutan di Nagan Raya

Pewarta: Muhammad Said
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Isteri menteri Kabinet Kerja tanam mangrove di Lombok

Luas hutan mangrove yang rusak mencapai 1,81 juta hektare dari total 3,48 juta hektare. Kerusakan mangrove itu berdampak pada hilangnya kemampuan menyerap 190 juta ton CO2 setiap tahunnya.

Mataram (ANTARA) – Sejumlah istri menteri yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) bersama Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Nusa Tenggara Barat menanam 5.000 mangrove di Pantai Cemare, Desa Lembar Selatan, Senin (11/3).

Hadir dalam kegiatan penanaman tersebut, istri Menteri Agama Trisna Willy Lukman Hakim, istri Menteri Pemuda dan Olahraga Shobibah Rohmah Nahrawi, Ketua TP-PKK NTB Hj Niken Zulkieflimansyah, Ketua TP-PKK Kabupaten Lombok Barat Hj Khairatun Fauzan Khalid, dan Komandan Distrik Militer 1606 Lombok Barat Letkol (Czi) Djoko Rahmanto.

Istri Menteri Agama, Trisna Willy Lukman Hakim, dalam sambutannya mengatakan kegiatan penanaman mangrove tersebut sebagai upaya peningkatan pengetahuan dan membangun peran perempuan dalam mitigasi bencana dan perubahan iklim di wilayah pesisir.

Kondisi saat ini, kata dia, luas hutan mangrove yang rusak mencapai 1,81 juta hektare dari total 3,48 juta hektare. Kerusakan mangrove tersebut berdampak pada hilangnya kemampuan menyerap 190 juta ton CO2 setiap tahunnya.

“Serta meningkatnya kerentanan terhadap abrasi dan bencana gelombang laut atau tsunami,” katanya.

Trisna juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menumbuhkembangkan kesadaran untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove dan hutan pantai serta memulihkan ekositem mangrove yang kondisinya rusak melalui upaya rehabilitasi.

Sementara itu, Ketua TP-PKK Lombok Barat Hj Khairatun Fauzan Khalid mengaku sangat antusias dengan program yang diinisiasi Ibu Negara Iriana Joko Widodo.

Melalui kegiatan tersebut diharapkan mampu memberi keteladanan kepada masyarakat untuk menjaga ekosistem lingkungan pantai.

“Ekosistem laut yang kita lihat sekarang jauh lebih baik dibanding dengan tahun sebelumnya. Dan jangan merusak lingkungan kita, apa yang sudah kita tanam terkait mangrove ini dan harus dipertahankan untuk penanaman kembali,” katanya.

Agung, salah seorang nelayan sekitar, menyampaikan dukungannya atas kegiatan penanamam ribuan batang bibita mangrove

Menurut dia, pohon mangrove yang tumbuh di sekitaran pesisir pantai dapat berfungsi untuk membantu ekosistem lingkungan pantai.

“Harapan ke depannya semoga lingkungan di pantai cemare khususnya di daerah pantai tetap alami dan tidak tercemar oleh polusi dan limbah sehingga kelangsungan ekosistem biota laut dapat tumbuh dan berkembang biak,” tuturnya.

Program penanaman bibit mangrove yang digagas Ibu Negara Iriana Joko Widodo tersebut menargetkan jumlah pohon yang ditanam sebanyak 1 juta batang.

Untuk tahap pertama, sebanyak 53 ribu batang pohon ditanam secara serentak pada Senin (3/11), di 10 provinsi, yakni di kawasan pantai Kabupaten Langkat Sumatera Utara, Kecamatan Pasir Saleti Lampung Timur, Lemah Wungkuk Cirebon Jawa Barat, Sawo Jajar Brebes Jawa Tengah, Tanah Bumbu Kalimantan Selatan.

Selain itu, Pohuwato Gorontalo, Donggala Sulawesi Tengah, Pandeglang Banten, Teluk Ambon Maluku, dan Pantai Cemare, NTB. 

Baca juga: Warga Lombok Barat berikrar menjaga kelestarian mangrove

Baca juga: Lombok Barat targetkan tanam 80 ribu mangrove

Pewarta: Awaludin
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengakhiri eksploitasi kera ekor panjang

Jakarta (ANTARA) – Atraksi topeng monyet yang kembali muncul di Jakarta menjadi alasan bagi aparat terkait melakukan tindakan tegas berupa razia. Tujuannya agar ibu kota benar-benar bebas dari atraksi tersebut.

Akhir pekan lalu, aparat Dinas Kehutanan DKI Jakarta dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyita delapan kera ekor panjang (Macaca Fascicularis) yang dijadikan media atraksi topeng monyet. Penyitaan dari pelaku usaha topeng monyet dilakukan saat razia di Gang Sawah Lio 8, Jembatan Lima, Jakarta Barat.

Selain menyita delapan kera, tim juga mengamankan dua pelaku usaha beserta sejumlah alat peraga topeng monyet. Dua pelaku usaha topeng monyet ditangkap ketika bersiap untuk berangkat ngamen.

Setelah dicek identitasnya, pelaku menujukkan Karta Tanda Penduduk (KTP). Kedua pelaku berasal dari Cirebon (Jawa Barat).

Hanya saja, untuk pelaku usaha topeng monyet tidak dikenai sanksi melainkan diminta datang ke Dinas Kehutanan DKI Jakarta. Tujuannya supaya tidak mengulang tindakannya, yakni menggunakan kera sebagai sumber mata pencaharian.

Kera dan alat peraga topeng monyet disita agar tidak lagi digunakan untuk atraksi. Kemudian pelakunya yang diminta datang ke Dinas Kehutanan untuk diberi pembinaan dan pengarahan agar tidak melakukan usahanya lagi.

Petugas BKSDA dan Dinas Kehutanan DKI Jakarta kemudian menyerahkan barang bukti kera dan alat peraga topeng monyet kepada Jakarta Animal Aid Network (JAAN) untuk dilakukan rehabilitasi. Namun sebelum proses rehabilitasi, pihak JAAN akan melakukan tes kesehatan kepada delapan monyet di Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

Saat berlangsung penyitaan, teridentifikasi satu kera bersin-bersin hingga keluar ingusnya. Ada dugaan sementara terkena flu, namun untuk kepastiannya masih menunggu hasil laboratorium.

Jika hasil tes kesehatan kera teridentifikasi terkena tuberkulosis (TBC) dan rabies maka pihak JAAN akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan pengecekan kesehatan. Pengecekan kesehatan tidak saja terhadap monyet atau keranya, namun juga kepada pemilik topeng monyet.

Setelah dilakukan tes kesehatan nantinya delapan kera ini akan direhabilitasi di pusat rehabilitasi eks topeng monyet di Cikole, Lembang, Bandung (Jawa Barat).

Baca juga: Pelaku usaha topeng monyet harus ditindak tegas Seekor Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) diikat oleh petugas saat tertangkap dalam razia topeng monyet di kantor BKSDA DKI Jakarta, Jalan Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu (9/3/2019). (ANTARA/Galih Pradipta)
Hentikan Pelatihan
Menurut Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsitawati mengatakan saat razia di Jakarta Barat, petugas dari Dinas Kehutanan tidak melakukan penangkapan terhadap para pelaku. Hal itu dilakukan mengingat belum adanya regulasi larangan topeng monyet yang memuat sanksi tegas bagi para pelaku.

Yang jelas, pencegahan masuknya kelompok usaha topeng monyet ke Jakarta tidak hanya dilakukan melalui razia. Namun juga mendorong pihak terkait lainnya agar tempat-tempat pelatihan topeng monyet di beberapa daerah dihentikan.

Dinas Kehutanan dan BKSDA DKI Jakarta telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menghentikan kegiatan pelatihan atau “sekolah” topeng monyet yang berada di Jawa Barat. Selama tempat melatih kera itu masih ada, maka tidak mudah menghentikan keinginan menghentikan munculnya kelompok yang mengusahakan topeng monyet sebagai pekerjaan.

Berdasarkan inormasi yang diterima Dinas Kehutanan dan BKSDA Jakarta, tempat-tempat pelatihan topeng monyet berdi Sumedang, Tasikmalaya dan Cirebon. Semua di Jawa Barat.

Ke depan, jika kelompok topeng monyet itu masih masuk Jakarta, akan dijerat dengan KUHP pasal penyiksaan hewan. Dengan tindakan tegas itu dharapkan tempat pelatihan topeng monyet tutup dan tidak ada lagi topeng monyet dari daerah-daerah.

Untuk sementara, Dinas Kehutanan DKI tidak melakukan penangkapan terhadap pelaku usaha topeng monyet. Yang dilakukan adalah upaya persuasif dan pemberitahuan bahwa kegiatan yang mereka lakukan dilarang.

Hasil rapat koordinasi dengan BKSDA salah satunya adalah mendorong Dinas Kehutanan untuk menyusun perda tentang larangan topeng monyet.

Pemerintah provinsi memang belum membuat perda yang memuat sanksi bagi para pelaku usaha topeng monyet yang bertujuan untuk mberikan efek jera. Pemerintah harus mencari solusi untuk memberikan alih profesi bagi pelaku usaha topeng monyet.

Baca juga: JAAN bersama Pemprov DKI merazia topeng monyet Petugas menyita seekor monyet berikut peralatan atraksi topeng monyet usai dilakukan razia di Jakarta Pusat, Sabtu (9/3/2019). (ANTARA/Shofi Ayudiana)
Luar Jakarta
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ahmad Munawir mengatakan hukuman yang terdapat di pasal 302 KUHP belum diterapkan kepada pelaku usaha topeng monyet. Kebanyakan para pelakunya ini dibina oleh Dinas Sosial untuk dididik dan mendapatkan pelatihan supaya tidak melakukan atraksi topeng monyet lagi.

Berdasarkan identifikasi, mayoritas pelaku usaha topeng monyet berasal dari luar Jakarta. Setelah pembinaan itu, pelaku usaha topeng monyet diminta pula ke daerahnya masing-masing.

Bagi JAAN, razia topeng monyet itu sebagai langkah yang tepat. Tanpa ada tindakan tegas berupa razia dan penegakan aturan, dikhawatirkan topeng monyet akan marak di Jakarta.

Itulah sebabnya, JAAN mendukung Dinas Kehutanan mendesak pemerintah mengeluarkan peraturan untuk memberikan sanksi kepada para pelaku usaha topeng monyet. Ke depan harus ada aturan yang mengatur berkoordinasi terkait pelarangan topng monyet.

Pihaknya pun mendorong agar ada peraturan tegas dengan menambah berat sanksi bagi para pelaku. Ini dinilai penting agar ada efek jera kepada pelakunya.

Kepala Divisi Satwa Liar JAAN Rahmat Zai menyatakan pelaku usaha topeng monyet harus ditindak tegas. Hukuman kepada pelaku usaha topeng monyet salah satunya diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 302 tentang penyiksaan hewan.

Namun ketentuan hukuman dalam pasal tersebut dikeluarkan pada zaman Belanda. Sanksi yang diberikan pun tergolong ringan, yaitu kurungan penjara selama tiga bulan dan denda Rp2.500.

Baca juga: JAAN: waspadai penyakit menular dari topeng monyet Kepala Divisi Satwa Liar Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Rahmat Zai (kiri) mengamankan pelaku usaha topeng monyet di Ragunan, Jakarta, Jumat (7/12/2018). (ANTARA/Andi Firdaus/Ist)
Penyiksaan
Atraksi topeng monyet melanggar KUHP karena merupakan bentuk eksploitasi dan kekerasan terhadap hewan untuk semata-mata memperoleh keuntungan dari hewan tersebut. Namun sanksinya masih terbilang ringan sehingga mereka yang tertangkap tidak jera dan berusaha untuk tetap kembali ke Jakarta.

Dengan hukuman yang ringan, pelaku masih bisa mencari celah untuk tetap melakukan usaha topeng monyet di Jakarta. Meski monyet atau keranya telah disita, pelaku berusaha melanjutkan usaha topeng monyetnya dengan menyewa monyet yang lain.

Bahkan ada temuan bahwa pelaku sampai melakukan kredit monyet. Artinya, menyewa atau membeli monyet dengan cara mengkredit yang angsurannya berasal dari pendapatan saat atraksi.

JAAN pun mendorong seluruh pemerintah provinsi di Indonesia untuk membuat surat keputusan yang mengatur pelarangan topeng monyet karena hal tersebut adalah bentuk eksploitasi dan penyiksaan hewan. Selain DKI Jakarta, beberapa provinsi di Indonesia sudah mengeluarkan edaran pelarangan topeng monyet di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur.

Selain melanggar KUHP, topeng monyet juga melanggar Peraturan Kementan Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 Pasal 66 ayat 2 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1995 tentang Pengawasan Hewan Rentan Rabies dan Peraturan Daerah Nomor 2007 Pasal 11 ayat 2 tentang Ketertiban Umum.

Meski telah ada aturan mengenai pelarangan topeng monyet, tetapi atraksi itu masih kerap muncul di permukiman penduduk. Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah-daerah.

Butuh keseriusan dan ketegasan untuk menyikapinya. Namun juga bijak dalam menindaknya terutama terkait alih profesi bagi orang-orang yang selama ini menggeluti dan menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut.

Baca juga: Sekolah topeng monyet harus segera ditutup

Pewarta: Sri Muryono dan SDP XIX-10
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menghalau topeng monyet

Topeng monyet. Demikian nama y (ANTARA) – Topeng monyet. Demikian nama yang sangat populer di kalangan masyarakat, khususnya warga Jakarta untuk menggambarkan sebuah atraksi semacam sirkus jalanan yang menggunakan kera ekor panjang.

Entah apa yang mendasari penamaan atraksi itu dengan sebutan topeng monyet. Mungkin karena aktor utamanya, yaitu monyet kadang dipasangi topeng atau hal lain.

Yang pasti, monyet dalam atraksi ini tampak terlatih. Bisa menggunakan beragam peralatan yang dimaui pelaku usahanya, termasuk menggunakan sendiri topengnya.

Tak hanya itu, monyet dalam atraksi ini juga kadang dipakaikan baju atau celana. Kadang juga topi dan asesoris, seperti gelang dan kalung.

Dalam atraksi ini, monyet diminta pengasuhnya untuk memeragakan adegan yang diinginkan. Misalnya, naik sepeda mainan, main bola, berjoget atau menari.

Musik dari pengeras suara atau seperangkat gamelan sering mengiringi semua adegan kera dalam beragam gaya. Dalam setiap pertunjukkan, suara gaelan atau musik berbunyi keras sehingga menarik perhatian orang untuk mendekat dan menyaksikan atraksi ini.

Semakin keras bunyi atau suara yang diperdengarkan, semakin banyak orang berdatangan. Anak-anak adalah sasaran utama pertunjukan jalanan ini.

Ada gelak tawa dan keriuhan dari pertunjukkan ini. Anak-anak dan warga kadang sedikit takut mendekat kera yang sedang beratraksi, namun tetap menyaksikannya.

Takut dicakar atau digigit kera. Namun anak-anak dan sebagian warga tidak juga pergi meninggalkan atraksi yang cukup mengibur suasana.

Dari kerumunan itu, pemilik usaha topeng monyet meraup lembaran dan keoingan rupiah yang dilemparkan anak-anak dan warga. Dari lembaran rupiah itu, pemiik usaha topeng monyet bisa hidup.

Dulu pertunjukkan semacam itu sempat marak di perempatan atau lampu merah (traic light) di Jakarta. Sejak 2013, dilakukan pelarangan dan secara rutin dilakukan razia. Mereka pun hilang dari perempatan di ibu kota.

Bukan hanya di perempatan di kawasan yang jauh dari jalan protokol, aksi mereka pernah sering dilakukan di kawasan yang dekat objek vital kenegaraan. Sebut saja, mereka pernah sering mangkal di perempatan Patung Tani (Jakarta Pusat) atau perempatan sekitarnya.

Atraksi itu menarik perhatian pengguna jalan yang berhenti saat lampu merah menyala. Saat itu, selalu ada pengguna jalan yang melemparkan uangnya ke arah monyet yang menari atau beratraksi.

Sejak pelarangan dan razia, mereka tidak terlihat lagi. Praktis atraksi topeng monyet tak pernah terlihat lagi di perempatan lampu merah.

Namun pemilik usaha topeng monyet tampaknya tidak kehabisan akal untuk terus mempertahankan usahanya. Mereka pun berpindah tempat, dari jalanan ke permukiman atau kawasan padat penduduk.

Sampai akhirnya dilakukan penertiban atau pelarangan atraksi tersebut. Razia dilakukan secara rutin diiringi penyitaan peralatan atraksi dan monyet-monyetnya.

Monyet-monyet yang disita kemudian dikirim ke Taman Marga Satwa Ragunan untuk direhabilitasi. Hal itu menjadikan Jakarta bebas dari topeng monyet.
Baca juga: JAAN: waspadai penyakit menular dari topeng monyet Seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) diikat oleh petugas saat tertangkap dalam razia topeng monyet di kantor BKSDA DKI Jakarta, Jalan Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu (9/3/2019). (ANTARA/Galih Pradipta)
Eksploitasi
Alasan penyiksaan atau eksploitasi hewan sejenis monyet menjadi landasan aparat terkait melarang pertunjukkan ini. Pengelola usaha topeng monyet dianggap tidak manusiawi menyiksa kera untuk tujuan komersialisasi.

Penyiksaan terhadap monyet atau kera itu terlihat dari fisiknya yang terlihat kurus. Bulu-bulunya juga terlihat jarang.

Eksploitasi atau penyiksaan terlihat pula dari cara pengelolanya saat memerintahkan monyet memeragkaan atraksi tertentu. Kadang monyet harus dipecut dulu, setelah berlari sambil memeragakan atraksi tertentu kemudian memeragakan adegan lainnya.

Monyet juga ditarik dan diminta berlari ke sana-ke mari.Tali atau rantai dari baja dikalungkan di leher monyet.

Cara-cara seperti dipandang sebagai sebuah penyiksaan atau eksploitasi untuk memberi pendapatan kepada pelaku usahanya. Beragam kecaman pun diutarakan pegiat dan penyayang hewan.

Mereka bersama aparat terkait kemudian melakukan razia. Razia rutin dan tindakan tegas bisa mengakhiri maraknya atraksi topeng monyet di DKI.
Baca juga: Sekolah topeng monyet harus segera ditutup Kepala Divisi Satwa Liar Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Rahmat Zai (kiri) saat mengamankan pelaku usaha topeng monyet di Ragunan, Jakarta, Jumat (7/12/2018). (ANTARA/Andi Firdaus/Ist)
Penyakit Menular
Selain alasan manusiawi dan penyiksaan atau eksploitasi, hal lain yang mendasari dilakukan razia dan pelarangan topeng monyet adalah alasan kesehatan. Ini merupakan temuan dari kera-kera yang disita ternyata mengandung penyakit yang potensial menular ke manusia.

Adalah Jakarta Animal Aid Network (JAAN) yang selama ini aktif menentang ekspolitasi kera untuk atraksi tersebut. Organisasi non pemerintah yang terdiri atas para pegiatan atau aktivis perlindungan satwa itupun banyak melakukan edukasi kepada masyarakat terkait risiko dari atraksi topeng monyet.

Berdasarkan temuan dari monyet atau era yang disita kemudian direhabilitasi, JAAN mengimbau masyarakat untuk mewaspadai zoonosis atau penularan penyakit hewan kepada manusia dari kera jenis buntut panjang yang kerap merebak melalui aksi topeng monyet. Temuan itu tentu saja membuka mata hati masyarakat terkait atraksi topeng monyet.

Hasil kajian JAAN bersama tim medis menyebutkan bahwa aksi topeng monyet di tengah masyarakat berpotensi menularkan penyakit rabies, cacingan hingga tuberculosis (TBC). Temuan itu disampaikan Kepala Divisi Satwa Liar JAAN, Rahmat Zai di Jakarta, Jumat (8/3)..

Pada kurun 2013, JAAN bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta mendeteksi pengusaha topeng monyet yang dinyatakan positif mengidap TBC pada salah satu kawasan di wilayah setempat. Penyakit TBC diduga ditularkan kepada manusia melalui udara dari monyet pengidap penyakit pernafasan itu selama interaksi pelatihan maupun penangkaran.

Sejumlah kasus monyet yang pernah menggigit manusia pun dideteksi mengidap rabies. Kasus monyet atau kera menyerang beberapa bocah di kawasan Jakarta pernah terjadi.

Temuan itu menguatkan tekad untuk melakukan edukasi kepada masyarakat. Di samping itu, bersama pihak terkait gencar melakukan razia terhadap kelompok pelaku usaha topeng monyet.

Namun berdasarkan laporan dari masyarakat yang masuk melalui call center JAAN di nomor telepon 082210800810, eksploitasi terhadap satwa yang tidak dilindungi itu kembali muncul di Jakarta sejak Januari 2019 hingga sekarang.

Sebelumnya topeng monyet sempat terhenti di Jakarta pada kurun 2013 hingga 2018 karena masifnya penertiban. Namun dalam beberapa bulan terahir dideteksi muncul lagi.

Modus yang dilakukan mulai bergeser dari titik keramaian di persimpangan jalan besar menuju ke gang sempit di beberapa perkampungan di Jakarta. Biasanya atraksi marak pada hari Minggu.
Baca juga: JAAN intensifkan razia pelaku usaha topeng monyet Petugas menyita monyet yang biasa digunakan untuk atraksi topeng monyet (Ist)
Rabies
Pada kurun waktu 2013-2018, lembaga nonprofit itu bersama otoritas terkait menyita total 170 monyet dari berbagai tempat di Jakarta. Dari monyet sebanyak itu, 18 persen di antaranya positif TBC dan 100 persen cacingan.

Ada pula yang positif rabies walau angkanya tidak terlalu besar. Ini merupakan potensi risiko apalagi pengusaha topeng monyet diduga melepas liar hewan peliharaannya di lingkungan masyarakat di Jakarta.

Biasanya kalau monyet sudah berusia tua, sudah tidak laku lagi menjadi topeng monyet karena anak kecil biasanya takut dengan tubuhnya yang besar sehingga pelakunya melepaskan begitu saja monyet di Jakarta hingga dikhawatiran menyerang manusia.

Itulah sebabnyak, JAAN bersama pihak terkait kembali mengitensifkan razia kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang biasa digunakan para pelaku usaha topeng monyet selama beroperasi di wilayah Jakarta.

Upaya penyitaan monyet dari tangan pelaku usaha topeng monyet dilakukan JAAN dengan melibatkan sejumlah unsur terkait. Sebut saja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta hingga Satpol PP di wilayah masing-masing.

Tidak ada kompensasi untuk para pelaku usaha topeng monyet. Pelaku biasanya berkelompok yang berjumlah dua hingga tiga orang per monyet.

Dari 170 monyet yang disita, telah dilepaskan ke alam bebas sebanyak 145 ekor. Pelepasan itu dilakukan setelah monyet menjalani perawatan di penangkaran.

Terakhir JAAN dan BKSDA DKI pada Febuari 2019 melepas kera ekor panjang ke alam sebanyak 22 ekor. Pelepasan dilakukan di Gunung Tilu Bandung (Jawa Barat).

Sebelum dilepasliarkan kera-kera menjalani pembinaan, rehabilitasi dan perawatan oleh tim medis dalam waktu satu hingga tiga tahun. Melalui penangkaran, petugas bertugas mengembalikan kebiasaan alaminya dan menormalkan trauma hewan selama pertunjukan.

Menurut Kepala BKSDA DKI Jakarta Ahmad Munawir, sebenarnya sudah ada edaran gubernur (era Gubernur Joko Widodo) tentang pelarangan topeng monyet. Namun belakangan muncul lagi.

Karena itu, pihaknya bekerjasama dengan pihak terkait akan melakukan penyitaan terhadap kera-kera yg digunakan sebagai media topeng monyet itu. Diakui memang sudah lama vakum penindakan, namun baru-baru ini ada laporan lagi dari warga adanya topeng monyet di daerahnya.

Petugas telah melakukan beberapa kali penangkapan para pelaku usaha topeng monyet tersebut mayoritas berasal dari luar DKI Jakarta, yaitu Tasikmalaya dan Cirebon. Jika pelakunya dari DKI Jakarta akan dibina di Dinas Sosial untuk mendapat pelatihan tapi jika dari luar daerah akan dikembalikan ke daerah asalnya.

Aturan hukum terkait larangan aktivitas topeng monyet di Jakarta tertuang dalam sejumlah peraturan.Para pelaku usaha topeng monyet telah melanggar KUHP Pasal 302, Peraturan Kementan Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 Pasal 66 ayat 2 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dasar hukumnya juga diperkuat melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1995 tentang Pengawasan Hewan Rentan Rabies serta Pencegahan dan Penanggulangan Rabies Pasal 6 ayat 1 dan Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum Pasal 17 ayat 2.

Dari sisi aturan, lebih dari cukup alasan untuk melarang topeng monyet beraksi di Jakarta.
Baca juga: Pelaku usaha topeng monyet harus ditindak tegasatraksi

Pewarta: Sri Muryono dan SDP XIX-10
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sekolah topeng monyet harus segera ditutup

Jakarta (ANTARA) – Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsitawati mendesak pemerintah pusat untuk segera menutup sekolah topeng monyet yang ada di Sumedang, Cirebon dan Tasikmalaya (Jawa Barat).

“Menjerat pelaku sekolah usaha topeng monyet dengan pasal KUHP (penyiksaan hewan) sehingga diharapkan tidak ada lagi topeng monyet di daerah-daerah,” katanya ketika dihubungi Sabtu.

Dia menambahkan Dinas Kehutanan DKI tidak melakukan penangkapan terhadap pelaku pengguna jasa sekolah topeng monyet. Yang dilakukan adalah upaya persuasif dan pemberitahuan bahwa kegiatan yang mereka lakukan dilarang.

“Hasil rapat koordinasi dengan kepala BKSDA salah satu poinnya adalah mendorong Dinas Kehutanan untuk membuat perda tentang larangan topeng monyet,” katanya.

Namun pemerintah, menurut dia, memang belum membuat perda yang memuat sanksi bagi para pelaku usaha topeng monyet yang bertujuan untuk memberikan efek jera. Pemerintah harus mencari solusi untuk memberikan alih profesi bagi pelaku usaha topeng monyet.

Sementara itu, Jakarta Animal Aid Network (JAAN) mendukung Dinas Kehutanan mendesak pemerintah mengeluarkan peraturan untuk memberikan sanksi pada para pelaku usaha sekolah topeng monyet.

“Harus ada aturan yang mengatur berkoordinasi dan didorong untuk mengeluarkan peraturan untuk menambah sanksi bagi para pelaku,” kata Kepala Divisi Satwa Liar, Rahmat Zai ketika ditemui di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Sabtu.

Dinas Kehutanan bersama dengan JAAN dan BKSDA melakukan razia pemeliharaan monyet yang digunakan untuk atraksi topeng monyet di Gang Sawah Liong 8, Jembatan Lima, Jakarta Barat, setelah beberapa lama tidak melakukan penertiban terhadap pelaku usaha topeng monyet di DKI Jakarta.
Baca juga: JAAN intensifkan razia pelaku usaha topeng monyet
Baca juga: Pelaku usaha topeng monyet harus ditindak tegas
Baca juga: JAAN: waspadai penyakit menular dari topeng monyet

Pewarta: Sri Muryono dan Shofi Ayudiana
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hutan orangutan terancam alih lahan

Palangka Raya (ANTARA) – Ketua Yayasan Borneo Nature Foundation, Juliarta Bramansa Ottay menyebut spesies langka di sejumlah wilayah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) terancam punah.

“Melalui penelitian yang kami lakukan, terungkap keragaman satwa liar, termasuk sejumlah spesies langka, kini terancam,” kata Juliarta Bramansa Ottay di Palangka Raya, Jumat.

Dia menerangkan, penelitian yang dilakukan tersebut meliputi bentang wilayah sungai Rungan yang berada Kota Palangka Raya, Kabupaten Gunung Mas dan Pulang Pisau Kalimantan Tengah.

Juliarta mengatakan, melalui pengamatan kamera jebakan dan survei fauna, pihaknya berhasil mendokumentasikan sebanyak 34 spesies mamalia yang 19 diantaranya dilindungi oleh hukum dan 108 spesies pohon yang 12 diantaranya rentan dan terancam.

Kemudian sebanyak 118 spesies burung yang 27 diantaranya dilindungi oleh hukum, 20 spesies reptil dan amfibi yang lima diantaranya dilindungi oleh hukum serta 20 spesies ikan.

World Conservation Union mengklasifikasikan, dua dari spesies ini statusnya sangat terancam punah, yakni orangutan Kalimantan dan ibis berbahu putih. Kemudian empat lainnya berstatus terancam punah dan 16 dalam kondisi rentan.

“Mereka semua menghadapi ancaman kepunahan yang tinggi di masa depan, makanya penting bagi kita untuk melestarikannya,” katanya.

Juliarta menjelaskan, rangkaian penelitian berkualitas tinggi sengaja dilakukan untuk menyediakan informasi berbasis bukti ilmiah bagi pengelolaan dan strategi pelestarian serta pembuatan kebijakan di masa mendatang terhadap bentang alam Rungan.

Khususnya berupa identifikasi, deskripsi dan penelitian potensi konservasi serta menghasilkan rencana konservasi untuk wilayah tersebut bersama masyarakat, pemerintah dan pihak terkait lainnya.

Sementara itu, pada penilaian kelayakan habitat dan populasi orangutan tahun 2016 yang dilakukan KLHK dan FORINA, lanskap Rungan berada pada urutan ke-4 prioritas konservasi orangutan dengan proyeksi meta-populasi sebanyak 2.260 orangutan.

“Hutan Rungan merupakan salah satu lokasi populasi orangutan terbesar di dunia, berada di wilayah yang tidak dilindungi serta memiliki rencana alih lahan hutan,” ungkap Juliarta.

Diharapkan melalui sejumlah upaya yang telah dan sedang dilakukan, mampu melindungi keanekaragaman hayati dan mencegahnya dari berbagai potensi kerusakan maupun upaya perusakan dari oknum tidak bertanggung jawab.*

Baca juga: Orangutan masuk desa di pedalaman Barito Utara-Kalteng

Baca juga: Orangutan berkeliaran di kebun warga ditangkap BKSDA Kalteng

Pewarta: Rendhik Andika/Muhammad Arif Hidayat
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sarang buaya yang menyerang warga Pasaman ditemukan BKSDA Agam-Sumbar

Kita akan memasang imbauan berupa spanduk agar warga tidak melakukan aktivitas di dalam sungai dan meminta pemerintah ‘nagari’ untuk melarang warga melakukan aktivitas di sungai

Lubukbasung (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam, Sumatera Barat, menemukan tiga lokasi diduga merupakan sarang buaya muara (Crocodylus porosus) di Sungai Batang Masang Kiri, tempat Misrel (35) warga Pasaman diserang hewan dilindungi itu, Rabu (6/3) malam.

Kepala BKSDA Resor Agam Syarial Tanjung didampingi Pengendali Ekosistem Hutan, Ade Putra di Lubukbasung, Jumat, mengatakan, pihaknya menemukan jejak kaki dari buaya di lokasi itu dengan berbagai ukuran.

“Ini berdasarkan penyisiran yang kita lakukan di sepanjang Sungai Masang Kiri di Silareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kamis (7/3),” katanya.

Penyisiran itu melibatkan petugas BKSDA, anggota Polres Agam, aparat pemerintahan nagari setempat, petugas keamanan PT AMP Plantation dan salah seorang teman korban.

Dari keterangan teman korban, petugas melakukan penyisiran dihampir sepanjang Sungai Batang Masang Kiri dan menemukan beberapa lokasi yang diduga merupakan sarang satwa dilindungi tersebut.

Pihaknya juga menemukan puluhan warga yang sedang menangkap ikan di dalam sungai dan meminta untuk keluar atau tidak melakukan aktivitas.

“Kita akan memasang imbauan berupa spanduk agar warga tidak melakukan aktivitas di dalam sungai dan meminta pemerintah ‘nagari’ untuk melarang warga melakukan aktivitas di sungai,” katanya.

BKSDA akan meningkatkan pemantauan dan patroli di sekitar lokasi setiap saat, karena buaya dalam keadaan terluka.

“Ini berdasarkan keterangan teman korban pada malam naas tersebut, buaya dalam kondisi terluka akibat pertarungan sengit dengan korban dan teman-temannya dalam upaya menyelematkan korban,” katanya

“Dengan kondisi itu dikhawatirkan buaya akan semakin agresif dan mengganas, sehingga akan menyerang warga saat berada di dalam sungai,” tambahnya.

Sebelumnya, Misrel (35) beserta tiga orang temannya atas nama IN (37), Birin (50) dan Sarel (30) menangkap ikan di Sungai Batang Masang Kiri dengan cara menyelam untuk menembak ikan, Rabu (6/3) malam.

Tidak berapa lama, tambahnya, tiba-tiba Misrel digigit buaya, namun korban berhasil melepaskan diri dari terkaman buaya setelah dibantu temannya.

Setelah itu korban langsung dibawa ke rumah bidan yang ada di Silareh Aia, Kecamatan Palembayan dan sesampai di rumah bidang korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubukbasung dan dirujuk ke Rumah Sakit

Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang setelah mengalami patang tulang dan luka robek pada kaki kanan.

“Tiga orang teman korban selamat dari gigitan buaya itu,” tambahnya. 

Baca juga: BKSDA Agam pasang jaring antisipasi buaya muara masuk permukiman

Baca juga: BKSDA Agam data populasi buaya muara untuk pengusulan lokasi KEE

Pewarta: Altas Maulana dan Yusrizal
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Koalisi aktivis desak pemerintah selamatkan orangutan tapanuli

Jakarta (ANTARA) – Koalisi Perlindungan Orangutan pada Rabu mendesak pemerintah Indonesia menyelamatkan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) dari dampak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Sumatera Utara.

“Orangutan tapanuli adalah spesies yang berbeda yang harus dilindungi,” kata Glenn Hurowitz, pemimpin eksekutif Mighty Earth, organisasi nirlaba yang gencar melakukan kampanye untuk melindungi hutan tropis, laut dan iklim dunia.

Dia mengatakan investasi luar negeri sesungguhnya dapat digunakan untuk membantu Indonesia melindungi sumber daya alam dan faunanya serta mengembangkan infrastruktur hijau.

Hurowitz menekankan bahwa harus ada alternatif untuk pengembangan ekonomi yang secara bersamaan melindungi lingkungan di sekitar area pembangunan PLTA Batang Toru.

Dia mengatakan hilangnya habitat akan menimbulkan efek jangka panjang yang parah bagi keberlangsungan hidup spesies, apalagi bagi orangutan tapanuli yang populasinya sudah sedikit dan sangat terancam punah.

Menurut perkiraan ada 800 orangutan tapanuli di kawasan tempat PLTA Batang Toru akan dibangun.

Dan jika Indonesia ingin meluncurkan program konservasi komprehensif untuk memperluas habitat spesies, Hurowitz mengatakan, maka akan ada dukungan keuangan yang kuat dari dunia internasional.

Ia menuturkan investasi luar negeri sesungguhnya dapat digunakan untuk membantu Indonesia melindungi sumber daya alam dan faunanya serta mengembangkan infrastruktur hijau.

Koalisi Perlindungan Orangutan telah mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo dalam upaya mendesak pemerintah melindungi spesies orangutan tapanuli dengan menghentikan rencana pembangunan PLTA Batang Toru. Surat itu diterima oleh Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko pada Selasa sore (5/3).

Koalisi mendorong pemerintah melakukan peninjauan lokasi bendungan dan bekerja dengan lembaga pemerintah daerah terkait untuk mengidentifikasi pilihan alternatif guna meningkatkan produksi energi, misalnya dengan tenaga surya dan panas.

Sementara peneliti dari Sumatra Orang Utan Conservation Arrum Harahap mengatakan pemerintah Indonesia bisa memanfaatkan potensi panas bumi untuk menghasilkan lebih banyak energi.

Dia mengemukakan kawasan di mana PLTA Batang Toru akan dibangun merupakan kawasan yang strategis untuk habitat spesies orangutan tapanuli karena tanahnya subur dan kaya sumber pakan.

  Peneliti dari Sumatra Orang Utan Conservation Arrum Harahap berbicara dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (06/03/2019). (ANTARA News/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meminta PT North Sumatera Hydro Energi (NSHE), perusahaan yang akan membangun PLTA Batang Toru, memperkuat konservasi habitat orangutan dan satwa liar lainnya.

“Kami sudah mengirimkan surat. Nantinya hasilnya akan menjadi pedoman sejak pembangunan (PLTA) hingga beroperasi,” kata Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta pada 28 September 2018.

Pembangunan PLTA di Batangtoru ini, kata Wiratno, bisa menjadi contoh bahwa kelestarian bisa sejalan dengan pembangunan. Pembuktian itu nantinya bisa direplikasi untuk pembangunan PLTA di tempat lain di Indonesia.

Baca juga:
Pemerintah minta pengembang buat jembatan arboreal di Batang Toru
Pemerintah minta Amdal PLTA Batang Toru diperbaiki

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua Jenis Kakatua Dirawat Oleh BBKSDA NTT

Kupang (ANTARA) – Dua jenis burung Kakatua saat ini sedang dirawat di lokasi penangkaran milik Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur di Kota Kupang.

Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara kepada wartawan di Kupang, Rabu (6/3) mengatakan bahwa dua jenis burung kakatua yang dirawat itu adalah Kakatua Jambul kuning (Cacatua sulphurea) dan kakatua Maluku (Cacatua moluccensis).

“Ada dua jenis yakni kakatua jambul kuning satu pasang yang habitatnya ada di NTT, dan satu pasang lagi adalah kakatua Maluku yang habitatnya ada di Maluku,” kata dia.

Ia menjelaskan bahwa dua jenis kakatua yang dirawat di tempat penangkaran sementara itu adalah kakatua yang ditemukan ditangan warga.

Ia memberi contoh sepasang kakatua Maluku yang dirawat saat ini adalah kakatua yang ditemukan di atas sebuah kapal dari Maluku saat tiba di Kupang.

“Saat ditemukan jumlahnya belasan. Tetapi sebagian sudah dikirim kembali ke Maluku, agar kembali ke habitatnya, sementara dua kakatua Maluku ditinggalkan di Kupang untuk dirawat terlebih dahulu,” tambah dia.

Sejumlah kakatua itu tambah dia, nantinya akan dilepas ke habitatnya jika memang sudah dirasa perlu untuk dilepas.

“Kami juga khawatir jika dilepas nanti ada yang memburunya lagi, tentu jadi masalah baru lagi,” tambahnya.

Selain dua jenis kakatua yang dirawat di kadang penangkaran BBKSDA, ada juga burung Nuri Merah juga dirawat di tempat penangkaran itu.

Baca juga: Kakatua jambul kuning tersisa 40 di NTT
Baca juga: Kakatua jambul kuning NTB tersisa 145 ekor
Baca juga: 21 kakatua akan dilepas ke Pegunungan Cyclop, Papua

Pewarta:
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Orangutan masuk desa di pedalaman Barito Utara-Kalteng

Sore tadi orangutan tersebut sudah kembali naik pohon sebagai tempat tidurnya di kawasan Desa Lampeong I

Muara Teweh, Kalteng (ANTARA) – Seekor orangutan (Pongo pygmaeus) yang diperkirakan jenis kelamin jantan diduga tersesat dan masuk kampung di wilayah Desa Lampeong I Kecamatan Gunung Purei Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

“Sore tadi orangutan tersebut sudah kembali naik pohon sebagai tempat tidurnya di kawasan Desa Lampeong I,” kata anggota Tim WRU Wildlife Rescue unit Seksi Konservasi Wilayah III Muara Teweh Badan Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng, Perdi saat berada di Desa Lampeong Kecamatan Gunung Purei ketika dihubungi dari Muara Teweh, Selasa malam.

Orangutan yang terlihat sudah tua dan punya jipet (pipi yang menggelambir) ini diketahui warga setempat masuk desa pada Selasa (4/3) pagi sekitar pukul 08.00 WIB.

Satwa primata menjadi tontonan masyarakat setempat karena sudah tua sehingga banyak aktif di bawah, kecuali kalau sudah malam atau mau tidur baru naik ke atas pohon.

“Saat kami datang pada sore hari, orangutan ini sudah berada di atas pohon, namun berdasarkan keterangan warga binatang ini diperkirakan sudah tua,” katanya.

Rencananya Rabu (6/3) pagi orangutan tersebut dievakuasi oleh tim dari Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng Palangka Raya.

Kedatangan organisasi yang memang khusus menangani orangutan ini akan membawa orangutan itu ke kawasan program reintroduksi orangutan Kalteng.

“Malam ini mereka berangkat dari Palangka Raya menuju Muara Teweh kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Lampeong yang perkirakan dinihari nanti sudah sampai di desa tersebut.Pagi harinya akan mengevakuasi orangutan itu,” kata Perdi.

Orangutan itu diperkirakan berasal dari kawasan hutan di perbatasan Kecamatan Gunung Purei Kabupaten Barito Utara, Kalteng dengan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur yang hutannya sudah mulai habis untuk kegiatan tambang batu bara.

Baca juga: Orangutan berkeliaran di kebun warga ditangkap BKSDA Kalteng

Baca juga: BOSF sesalkan temuan bangkai orangutan tanpa kepala

Baca juga: Tujuh orangutan diserahkan kepada BKSDA Kalteng

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peneliti imbau pengunjung bijak perlakukan bunga bangkai

Cianjur, Bogor (ANTARA) – Peneliti Bungai Bangkai di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Destri mengimbau pengunjung bijak memperlakukan bunga bangkai dan tanaman lain saat berwisata ke Kebun Raya Cibodas di Cianjur, Jawa Barat.

Di Kebun Raya Cibodas, Selasa, Destri mengatakan perlakuan pengunjung akan mempengaruhi daya bertahan hidup tanaman, termasuk tumbuhan langka seperti bunga bangkai yang rapuh.

Satu bunga bangkai (Amorphophallus titanum Becc) di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas mekar pada Senin (4/3) dini hari. Bunga bangkai itu tingginya 281 centimeter dan lebar 124,4 centimeter.

“Sejak pertama kali bunga ini mekar di Kebun Raya Cibodas, selalu mendapat perlakuan buruk dari pengunjung. Mereka merusak bunga dengan melempar dari luar pagar dengan batu,” kata Destri.

Ia menjelaskan bunga tersebut rapuh, ketika dalam proses berkembang bunga terganggu, bunga akan rusak dan mekar dengan kondisi patah.

Sampai tahun 2016, dia mengatakan, perilaku buruk pengunjung terhadap tanaman itu tidak berubah sehingga akhirnya pengelola kebun raya membuat “kandang” untuk melindungi tanaman itu.

“Jadinya tidak nyaman untuk melihat, tapi itu semua karena kita belum bisa menghargai makhluk hidup dengan baik,” tuturnya.

Pada Selasa pengunjung kebun raya juga berdatangan untuk melihat bunga bangkai yang mekar.

Destri berharap pengunjung yang antusias melihat bunga bangkai itu ramah memperlakukan tanaman koleksi kebun raya, tidak melakukan tindakan yang dapat merusak atau menganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Baca juga:
Bunga bangkai kembali mekar di Kebun Raya Cibodas LIPI
Perburuan liar ancam keberadaan Bunga Bangkai

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

74 anakan komodo lahir di Kebun Binatang Surabaya

Sejumlah anakan komodo (Varanus komodoensis) berada dalam kandang di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Surabaya, Jawa Timur, Selasa (5/3/2019). Sebanyak 74 anakan komodo tersebut lahir pada Januari sampai Februari 2019 yang berasal dari tujuh induk Komodo sehingga menambah koleksi Komodo di kebun binatang itu menjadi 142 ekor. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/pras.

Buaya yang resahkan warga berhasil ditangkap

Banda Aceh (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menangkap seekor buaya muara yang dilaporkan berada di pemukiman penduduk dan meresahkan warga di Kabupaten Aceh Selatan.

Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Selasa, mengatakan, buaya muara tersebut ditangkap di Sungai Mangki, Desa Ujung Mangki, Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan.
 
“Buaya muara tersebut ditangkap Minggu (3/3). Sebelum ditangkap, tim sudah memasang jerat lebih dari seminggu,” kata Sapto Aji Prabowo menyebutkan.

Kepala BKSDA Aceh itu menyebutkan, buaya muara yang ditangkap tersebut berjenis kelamin jantan dengan panjang 2,65 meter. Buaya dengan berat 90 kilogram itu diperkirakan berumur tujuh hingga delapan tahun.

Sapto Aji menyebutkan, buaya muara itu ditangkap berdasarkan laporan masyarakat. Masyarakat melaporkan buaya tersebut memasuki pemukiman penduduk.

“Beberapa warga mengaku pernah dikejar buaya tersebut. Kendati begitu tidak ada korban keberadaan buaya tersebut. Begitu juga dengan ternak warga, tidak ada laporan dimangsa buaya tersebut,” ujar dia.

Buaya tersebut sudah dievakuasi ke Banda Aceh. Untuk sementara waktu, buaya muara tersebut ditempatkan di sebuah kandang di halaman depan Kantor BKSDA Aceh.

“Sementara ini, buaya ditempatkan di kandang khusus hingga pelepasan liar ke habitat yang aman dari masyarakat. Kami masih mencari lokasi pelepasan buaya tersebut,” pungkas Sapto Aji Prabowo.*

Baca juga: Warga Aceh Tamiang tangkap buaya 2,5 meter di kebun sawit

Baca juga: Buaya yang ditangkap warga Aceh berusia 70 tahun

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

11 ekor penyu dilepasliarkan di Banggai

Luwuk (ANTARA) – Bupati Banggai Herwin Yatim bersama pejabat dari Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Kemanan Hasil Perikanan Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, melepasliarkan 11 ekor penyu dan tiga ekor ikan napoleon di Pantai Kilo Lima, Kota Luwuk.

Kepala Kantor Stasiun KIPM Luwuk Banggai, Darwis Darwis S.Pi, M.P mengemukakan di Luwuk, Selasa, kedua jenis hewan laut ini merupakan hasil operasi lapangan yang dilakukan oleh Satuan Polisi Air dan Udara (Polair) Sulawesi Tengah dari masyarakat di Kecamatan Pagimana.

Darwis mengungkapkan pelepasliaran penyu hasil tangkapan baru kali ini dilakukan di Kabupaten Banggai.

“Harapan kami masyarakat mengetahui ini, bahwa hewan yang dilindungi itu tidak boleh ditangkap apalagi diperdagangkan,” katanya.

Ia menjelaskan pelepasliaran itu sengaja dilakukan di objek wisata Pantai Kilo Lima agar dapat memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa wilayah perairan tersebut sudah ditetapkan sebagai zona aman dari perburuan hewan laut.

Senada dengan itu, Alip Muntoha, SH, perwakilan dari Dirpolairud Polda Sulawesi Tengah mengungkapkan meski barang bukti berupa penyu dan ikan telah diamankan dan dilepasliarkan, namun tidak menghapus perbuatan hukum yang dilakukan masyarakat.

“Ini tidak menghapus tindak pidananya. Proses penyidikan masih berlanjut,” ucapnya.

Alip mengaku sejak tahun 2018, tercatat ada tiga kasus yang ditangani Polairud Polda Sulawesi Tengah akan tetapi kasus tersebut kebanyakan berlokasi di Kabupaten Morowali.

“Untuk pelanggaran dengan barang bukti, kemarin sudah kami limpahkan ke kejaksaan,” ungkap Alip.

Sementara itu, Bupati Banggai Herwin Yatim mengapresiasi apa yang dilakukan Polairud dan BKIPM dan menurutnya sudah seyogyanya semua elemen menjaga kelestarian lingkungan laut, termasuk hewan dan biota lautnya.

Atas pengungkapan dan pengembalian 11 ekor penyu dan tiga ekor ikan napoleon itu, bupati mengaku sangat bersyukur dan mengapresiasi kinerja dua instansi pemerintah ini cukup membantu pemerintah Kabupaten Banggai dalam menjaga amanat undang-undang terkait perlindungan terhadap sejumlah hewan laut.

“Berkat kinerja Polairud bekerja sama dengan stasiun karantina, alhamdulillah bisa menyelamatkan hewan yang dilindungi,” kata Herwin yang mengaku sangat gembira atas pelepasliaran itu.

Di daerah ini, kata Herwin, ada sejumlah hewan yang dilindungi seperti burung maleo, penyu, cardinal fish, napoleon dan sejumlah ikan lainnya. “Saya pernah ke Bualemo dan selalu mencari kesempatan untuk melihat penyu hijau tapi tidak pernah ketemu. Alhamdulillah, kali ini berkat kerjasama semua saya bisa melihat langsung,” ujarnya.*

Baca juga: Mengunjungi rumah penyu hijau Tanjung Waka

Baca juga: Mencegah penyu dari ancaman kepunahan

Baca juga: Polisi tangkap maling penyu hijau

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Polisi ingatkan warga berhati-hati soal harimau sumatera liar

Tembilahan, Riau (ANTARA News) – Polres Kabupaten Indragiri Hilir dan Polsek Gaung berkoordinasi bersama BBKSDA dan Polisi Kehutanan Riau mengupayakan langkah yang akan dilakukan pasca harimau sumatera menerkam Mardian (31) warga Desa Pungkat, Sabtu malam (2/3).

Kepala Subbag Humas Polres Indragiri Hilir, AKP Syafri Joni, Minggu, sudah mengintruksikan Polsek Gaung agar bekerja sama dengan unsur Forkopimcam mengimbau masyarakat tidak mencari kayu di hutan sementara waktu.

“Karena tidak menutup kemungkinan binatang yang telah menerkam warga desa Pungkat itu masih berkeliaran,” ujar Joni.

Masyarakat Desa Pungkat dan sekitarnya juga diminta lebih berhati-hati dan selalu waspada karena biasanya raja hutan itu tidak bisa hilang begitu saja justru akan kembali mencari objek perburuan baru.

“Kami bersama Polsek Gaung juga meminta bantuan kepada masyarakat jika melihat harimau tersebut agar secepatnya memberikan laporan,” imbaunya.

Kemarin, satu harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) menerkam Mardian hingga dia luka parah dan dirawat di RSUD Puri Husada Tembilahan, saat dia menggesek kayu di hutan Sungai Rawa, Desa Simpang gaung bersama dua orang rekannya Bujang dan Nahar,

Akibat dari kejadian itu, Mardian luka gigitan pada bagian punggung sebelah kanan dan luka gigitan pada bagian kepala.

“Sampai saat ini kondisi Korban masih dalam keadaan trauma dan mengalami kesakitan bekas gigitan binatang buas tersebut,” ucap Joni.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BBKSDA Riau utus penembak jitu tangkap harimau penyerang warga

Pekanbaru (ANTARA) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau akan segera mengirim tim penembak jitu untuk menangkap harimau yang menyerang warga di Kabupaten Indragiri Hilir.

“Kita telah kirim tim pertama untuk memastikan lokasi kemunculan dan serangan harimau tersebut. Setelah dipastikan lokasi persisnya, kita akan segera kirim lagi (tim), terdiri penembak jitu serta kerangkeng besi,” kata Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Mahfud kepada Antara di Pekanbaru, Minggu.

Saat ini, Mahfud mengatakan, tim masih menggali informasi dari korban serta dua rekan korban yang menyaksikan serangan harimau tersebut.

“Teman-teman kita masih terus menggali informasi dan berkoordinasi dengan aparat TNI dan Polri di sana. Lokasi persisnya belum tahu, karena informasi sementara di Sungai Gaung. Begitu kita tahu, langsung segera kirim tim ke sana,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Polres Indragiri Hilir AKBP Christian Rony Putra telah memerintahkan Kepala Polsek Gaung menuju lokasi serangan harimau dan meminta anggotanya menjalin komunikasi dan koordinasi dengan BBKSDA Riau.

“Saya telah perintahkan Kapolsek Gaung untuk membentuk tim pencari harimau dengan berkoordinasi bersama Pak Camat, juga tiga pilar, serta BBKSDA,” kata Rony.

Rony mengatakan proses pencarian dan evakuasi harimau yang penyerang warga tersebut serupa dengan upaya yang sebelumnya dilakukan untuk menangkap harimau Bonita.

Saat itu, Polri bersama TNI dan BKSDA Riau membentuk tim gabungan guna menangkap harimau betina yang kehilangan habitat dan masuk ke perkebunan sawit milik perusahaan swasta di Pelangiran tersebut.

“Polanya akan sama dengan Bonita. Bedanya, Bonita di Pelangiran, yang sekarang di Gaung. Selain itu, kami juga mengimbau kepada masyarakat setempat agar sementara waktu tidak ke hutan,” katanya.

Mardian, warga Sungai Rawa, Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir, diserang harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) saat mencari kayu di hutan pada Sabtu (2/3).

Akibat serangan harimau itu, Mardian (31) terluka cukup parah, terutama pada bagian kepala dan punggung.

Hingga hari ini, Mahfud mengatakan, Mardian masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.

Baca juga:
Warga Inhil kembali diterkam harimau
Satu pekerja ditemukan tewas diterkam harimau di Tambling

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anak burung kuntul

Anak burung kuntul (Babulcus Ibis) dan kuntul kecil (Egretta garzetta) atau little egret yang terancam punah berdiam di kawasan penimbunan hutan mangrove pinggiran sungai Kota Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (2/3/2019). Berdasarkan sensus Internasional Waterbird Cencus (IWC) kedua jenis burung habitat dari hutan magrove terus mengalami penurunan populasi, akibat semakin berkurangnya kawasan hutan mangrove dampak perusakan dan perambahan hutan mangrove untuk pembangunan dan di buru oleh manusia. ANTARA FOTO/Rahmad/foc.

Mengunjungi rumah penyu hijau Tanjung Waka

Di Tanjung Waka, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, penyu-penyu hijau pada malam hari bermunculan di pantai untuk bermain atau bertelur.

Mereka yang menyelam di sekitar perairan objek wisata Tanjung Waka, biasanya juga akan berjumpa dengan penyu hijau (Chelonia mydas) , yang tak jarang mendekati para penyelam seakan ingin menyampaikan ucapan selamat datang.

Wisatawan asal Jakarta, Sugianto, menyebut Tanjung Waka sebagai tempat yang paling mengasyikan untuk melihat penyu hijau.

Perairan Tanjung Waka yang berarus tenang dan bersih dari polusi menjadi tempat hidup banyak penyu hijau. Hamparan pasir putih di sekitar tujuh kilometer pantainya menjadi tempat penyu laut itu singgah, bermain dan bertelur.

Populasi penyu hijau di wilayah itu juga relatif tidak banyak terganggu karena warga sekitar sudah tidak lagi menangkap penyu atau mengambil telurnya.

Muhammad Hamid, tokoh masyarakat setempat, mengatakan warga tidak lagi mengambil telur-telur penyu hijau setelah mendapat sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa yang banyak hidup di perairan tropis dekat dengan pesisir benua dan sekitar kepulauan tersebut.

Dengan menjaga kelestarian penyu hijau serta habitatnya, warga sekitar merasakan keuntungan dari banyaknya wisatawan dalam mau pun luar negeri yang berkunjung ke Tanjung Waka.

Perkembangan pariwisata memberi mereka kesempatan untuk berdagang cendera mata dan kuliner, menawarkan jasa transportasi, dan menyewakan penginapan bagi turis.

Tanjung Waka juga menawarkan keindahan pemandangan kehidupan bawah laut dengan keragaman jenis ikan dan terumbu karang.

Kondisi terumbu karang Tanjung Waka umumnya masih bagus, karena warga sekitar ikut menjaga kelestariannya dengan tidak menangkap ikan menggunakan bahan peledak atau zat kimia penyebab kerusakan terumbu karang.

Berbenah

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Sula Muhammad Drakel mengatakan pemerintah daerah membenahi infrastruktur untuk mendukung pengembangan pariwisata di Tanjung Waka.

Jalan sepanjang 48 kilometer dari Sanana, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sula, menuju Tanjung Waka diperbaiki. Pemerintah daerah menargetkan tahun 2019 seluruh jalur jalan itu sudah beraspal.

Muhammad Drakel mengakui jalur transportasi dari dan ke Kepulauan Sula belum sebaik di daerah lain di Maluku Utara. Namun dia mengatakan bahwa wisatawan tidak akan kesulitan jika ingin mengunjungi Kepulauan Sula dan Tanjung Waka.

Wisatawan menuju ke Kepulauan Sula dengan menggunakan sarana transportasi udara dari Ternate ke Sanana, yang menyediakan layanan dua kali sepekan, atau menggunakan kapal laut yang membuka layanan tiga kali seminggu dari Ternate. Dari Sanana menuju Tanjung Waka, tersedia angkutan umum atau angkutan sewa.

Wisatawan yang ingin mengunjungi Tanjung Waka, sebaiknya mengindari bepergian pada Juni hingga September karena pada masa itu cuaca biasanya kurang bersahabat.

Baca juga:
Penyu hijau dapat penjagaan
Dilema konservasi penyu di Bali

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019