Orangutan berkeliaran di kebun warga ditangkap BKSDA Kalteng

Oleh Kasriadi dan Jaya W Manurung

Pangkalan Bun, Kalteng,  (ANTARA News)) – Wildlife Rescue Unit Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI), menangkap dua orangutan yang berkeliaran di kebun warga di RT13 RW06, Desa Lada Mandala Jaya, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Dua orangutan yang ditangkap itu berjenis kelamin betina berumur sekitar 30 tahun dengan berat 30 kg dan anaknya umur tiga tahun seberat 5 kg, kata Kepala SKW II BKSDA Kalteng Agung Widodo saat dihubungi dari Pangkalan Bun, Senin.

“Penangkapan yang dilakukan, Sabtu (19/1), itu karena ada laporan dari Kepala Desa Lada Mandala Jaya. Kami bersama OFI pun melakukan rescue terhadap dua orangutan tersebut. Induk dan anak orangutan ditangkap dengan cara dibius,” katanya.

Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, kondisi dua orangutan tersebut baik-baik saja dan tidak ada penyakit. BKSDA Kalteng pun, Senin (21/1) pagi, melakukan pelepasliaran ke Taman Nasional Tanjung Puting.

“Secara fisik kondisi keduanya dalam keadaan sehat. Dokter juga sudah mengambil sampel darah keduanya untuk diperiksa di laboratorium. Tapi biasanya orangutan liar sangat kecil kemungkinan terkena penyakit, karena memang tidak melakukan kontak langsung dengan manusia,” kata Agung.

Sementara itu, Fajar Dewanto, staf OFI di Pangkalan Bun mengaku belum mengetahui pasti dari mana kedua orangutan tersebut berasal. Sebab, kedua orangutan liar itu belum terdata oleh OFI.

Apalagi menurut SK 529/2012 lokasi rescue atau penangkapan orangutan liar tersebut memiliki fungsi Area Penggunaan Lain (APL).

“Lokasi tersebut merupakan kebun karet milik masyarakat atas nama Pak Sapari. Sedangkan untuk hutan di sekitar wilayah tersebut sudah tidak ada karena beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan buah. Jadi kami belum bisa memperkirakan dari mana kedua Orang Utan itu berasal,” kata Fajar.

Baca juga: Tujuh orangutan diserahkan kepada BKSDA Kalteng

Baca juga: Sambut Hari Bumi, Kalteng lepas liarkan 12 orangutan

Baca juga: Orangutan dari Kuwait kembali ke Kalteng

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Empat ekor penyu sisik dilepasliarkan BKSDA Maluku

Ambon, (ANTARA News) – Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Tual melepasliarkan empat ekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di perairan laut Pulau Ohoiwa Langgur di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.

“Hari ini petugas BKSDA Maluku Resort Tual bersama petugas karantina Tual, Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara dan anggota WWF Tual telah melepasliarkan empat ekor penyu sisik di perairan laut Pulau Ohoiwa Langgur,” kata Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi, Senin, di Ambon.

Menurut dia, empat ekor penyu yang dilepasliarkan itu merupakan penyerahan dari masyarakat Videles Savsavubun di Langgur kabupaten Maluku Tenggara.

“Penyu tersebut telah dipelihara selama satu tahun, dengan ukuran rata-rata penyu panjang lengkung kerapas 43 cm dan lebar lengkung kerapas 38 cm,” ujarnya.

Mukhtar mengatakan, berdasarkan laporan masyarakat bahwa di sekitar daerah Langgur diketahui ada masyarakat yang melihara penyu. Langkah selanjutnya Kepala Resort Tual bersama petugas melakukan investigasi.

“Selanjutnya hari ini petugas mendekati lokasi dan melakukan sosialisasi ke pemilik, dan mendapat respon baik pemilik penyu tersebut, menyerahkan empat ekor penyu untuk dilepasliarkan ke habitatnya,” katanya.

Ia menjelaskan, semua jenis penyu di Indonesia termasuk di Provinsi Maluku telah dilindungi Undang-Undang, sehingga jika ada masyarakat yang memelihara, memburu dan menangkap atau memperjualbelikan maka hal itu merupakan perbuatan pidana.

Sesuai dengan ketentuan UU nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem, maka sanksi berupa pidana yakni ancaman penjara lima tahun dan denda 100 juta.

“Kita mengimbau masyarakat untuk tidak memelihara, menangkap atau memperjualbelikan hewan atau tumbuhan yang dilindungi, karena akan dikenankan ancaman penjara dan denda 100 juta,” tandasnya.

Diakuinya, hasil pemantauan bahwa populasi penyu di Maluku populasi penyu masih cukup banyak,? khususnya di Pulau Buru dan Kei serta sejumlah pulau lainnya di Maluku.

“Tetapi kita juga masih menjumpai adanya perburuan penyu baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk diperjualbelikan,” kata Mukhtar.

Baca juga: Puluhan telur penyu sisik menetas di penangkaran

Baca juga: BKSDA Maluku selamatkan 1.007 tumbuhan dan satwa dilidungi

Baca juga: Aktivitas nelayan ancam kelestarian penyu sisik

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peneliti LIPI: rumah penetasan lebih efektif tingkatkan populasi komodo

Jakarta (ANTARA News) – Peneliti zoologi pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Evy Arida mengatakan fasilitas rumah penetasan akan lebih efektif untuk membantu meningkatkan populasi komodo selain menutup Taman Nasional Komodo (TNK) selama setahun.

“(Kalau untuk) menaikkan populasi (komodo) secara langsung dalam kurun waktu satu tahun sepertinya tidak mungkin,” kata Evy dihubungi di Jakarta, Senin.

Kecuali, menurut dia, memang sudah ada telur-telur biawak komodo (Varanus komodoensis) yang siap ditetaskan.

Dengan demikian, selain menutup taman nasional yang berada di Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut selama setahun perlu juga dilakukan penetasan telur dan dipelihara selama setahun di rumah penetasan.

Ketika ukuran anak-anak komodo sudah melewati masa rentan predasi oleh jantan dewasa spesies biawak besar ini, baru dilepaskan ke habitatnya, lanjutnya.

Adanya rumah penetasan ini, lanjut Evy, bertujuan untuk memaksimalkan presentase penetasan telur dan melindungi anak komodo yang baru menetas dari predator atau aksi kanibalisme seperti di kebun binatang.

Karena itu, ia mengatakan perlu diklarifikasi apakah niat melakukan penutupan taman nasional selama satu tahun itu harapannya memang menambah individu biawak komodo atau memaksimalkan periode kawin saja.

“Kalau untuk menambah individu, barang kali maksudnya untuk melindungi telur yang sudah ditaruh di sarang burung megapoda dari keusilan turis,” kata Evy.

Reproduksi biawak komodo, menurut Evy, relatif lambat. Musim kawin sekitar lima bulan dan betina bertelur sekitar 20 butir saja.

“Delapan bulan baru menetas telurnya dan ada kemungkinan hanya 25 persen saja yang berhasil menetas,” lanjut Evy.

Menurut dia, bahaya kanibalisme hewan jantan cukup tinggi. Komodo sudah menjadi dewasa di usia delapan tahun dan dapat hidup hingga lebih dari 25 tahun.

Sebelumnya diberitakan bahwa Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat mengatakan kawasan wisata TNK akan ditata kembali untuk menjaga habitat komodi agar dapat berkembang dengan baik.

Dirinya tidak menyebutkan kapan tepatnya penutupan wisata taman nasional yang menjadi rumah dari biawak besar ini, namun hal tersebut diyakninya dapat mempermudah  pemerintah daerah dalam menata kawasan wisata ini.

Viktor juga mengatakan habitat komodo di Pulau Komodo, Rinca, Gili Motang dan Gili Dasami memang perlu diperbaiki agar bisa meningkatkan populasi. Selain itu, dirinya menilai kondisi tubuh spesies biawak besar ini tidak lagi sebesar dulu, karena rusa yang menjadi pakan alaminya banyak diburu oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Baca juga: KLHK tanyakan alasan Pemda NTT akan tutup TN Komodo

Baca juga: Pemda NTT berencana tutup Taman Nasional Komodo selama satu tahun

Baca juga: Polisi tangkap pelaku pemburu rusa di Pulau Komodo
 

Pewarta:
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Palembang rancang peraturan pelestarian burung

Palembang, Sumatera Selatan (ANTARA News) – Pemerintah Kota Palembang merancang Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Pelestarian Burung untuk menjaga beragam spesies hewan liar yang mulai menjadi sasaran perburuan ilegal.

Wali Kota Palembang Harnojoyo di Palembang, Senin, mengatakan, peraturan itu akan mencakup pelarangan menjerat, menangkap, serta memburu burung di wilayah Kota Palembang.

“Diharapkan, nantinya burung dibiarkan beterbangan, jangan hidup di sangkar, sehingga Kota Palembang akan terlihat asri dan hijau. Jangankan manusia, burung dan ikan pun harus nyaman tinggal di Kota Palembang,” kata dia.

Peraturan mengenai pelestarian burung itu juga ditujukan untuk meningkatkan kesadaran warga dalam menjaga alam dan lingkungan di sekitar mereka.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palembang Sayuti mengatakan sampai sekarang warga masih sering menangkap burung untuk dijual atau dipelihara, membuat populasi burung di habitat aslinya menyusut.

Penerapan peraturan mengenai pelestarian burung diharapkan bisa menekan perburuan burung secara ilegal, serta menjaga habitat burung.

“Semoga dengan semakin banyak burung di alam liar akan menjadi daya tarik wisata sekaligus mengkondisikan ekosistem agar lebih baik,” kata Sayuti.

Baca juga:
Sensus burung di Angke Kapuk identifikasi 14 jenis burung
Pegiat bersihkan jerat burung di Kerinci Seblat

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

LSM jajagi konservasi penyu di Simeulue

Meulaboh, Aceh, (ANTARA News) – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Selamatkan Isi Alam dan Flaura Fauna (Silfa) Aceh berencana membentuk kawasan konservasi satwa penyu hijau di salah satu pulau terluar di Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh.

Direktur Eksekutif Silfa Aceh, Irsadi Aristora, di Meulaboh, Minggu, mengatakan, telah dilakukan survei dan ditemukan empat spesies penyu yang naik ke darat, namun telurnya terus diambil oleh masyarakat secara besar-besaran.

“Ada lima titik pendaratan penyu hasil pemantauan. Salah satunya di Pulau Mincau, Kecamatan Teupah Tengah, Simeulue. Selain terdapat bekas jejak penyu dan ada bekas galian yang dilakukan oleh masyarakat,” katanya.

Irsadi menyatakan, inisiasi tersebut berawal dari informasi banyak perdagangan telur penyu maupun ada kelompok masyarakat yang memakannya, sementara populasi penyu di kepulaun terluar Provinsi Aceh itu sangat banyak.

Salah satunya adalah spesies penyu hijau yang sudah langka dan tidak ditemukan di kawasan pesisir Barat Selatan Provinsi Aceh, namun aktivitas perdagangan telur satwa tersebut di Simeulue sangat berisiko terhadap punahnya habitat penyu.

“Hampir seluruh spesies penyu ada di sana, kemudian saya mengecek di pasar, ternyata banyak sekali telur yang dijual. Saya hitung ada 500 butir per meja , artinya ada 3-4 sarang penyu yang diambil masyarakat,” ujar Irsadi.

Irsadi yang merupakan dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Teuku Umar (Fisipol – UTU) itu, menyampaikan, rencananya satu pulau yang telah di jajaki tersebut akan dibuatkan zonasi kawasan konservasi.

Pulau yang telah ditinjau tersebut memiliki lahan kebun kelapa yang disewa oleh pihak lain dan telah dilakukan koordinasi untuk kegiatan konservasi, hanya saja semua itu membutuhkan persetujuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simeulue.

“Kami telah menemui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) maupun Pemkab Simeulue sangat responsif. Makanya pada Februari – Maret 2019, kita rutin ke sana untuk pembinaan masyarakat lokal sebagai kelompok pengelola,” katanya.

Lebih lanjut, Irsadi, mengemukakan, pembentukan konservasi sebenarnya bukan melarang masyarakat secara mutlak mengambil telur penyu, akan tetapi hanya dilakukan penataan dengan mengutamakan kearifan lokal warga setempat.

Sebagaimana yang telah berhasil dikembangkan di Kabupaten Aceh Jaya oleh Konservasi Penyu Aron Meubanja, yang membuat qanun atau peraturan mukim dan memberikan hak masyarakat setempat mengambil, namun dibatasi secara adil.

“Dibentuk konservasi itu sebenarnya tidak mutlak melarang masyarakat, di Aceh Jaya misalkan, dibuat qanun. Kalau ada satu sarang di Aceh Jaya jumlah telur ditemukan 100 butir, hanya 50 persen boleh diambil penemu,” tandas Irsadi.*

Baca juga: Aceh Selatan lepas 400 tukik

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sensus burung di Angke Kapuk identifikasi 14 jenis burung

Jakarta (ANTARA News) – Sensus burung air yang dilaksanakan oleh gerakan anak muda pecinta keanekaragaman hayati Biodiversity Warriors Yayasan Kehati di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu mengidentifikasi 14 jenis burung air.

Ke-14 jenis burung itu seluruhnya adalah jenis burung penetap di lokasi itu yakni, Blekok sawah, Cangak abu, Kuntul besar, Kuntul kecil, dan Kuntul China.

Selain itu ditemui pula jenis burung Kareo padi, Kokokan laut, Kowak malam abu, Trinil pantai, Tikusan alis putih, Itik benjut, Pecuk padi hitam, Pecul ular asia, dan Bambangan kuning.

Pegiat Kehati yang membawahi bagian edukasi dan outreach Ahmad Baihaqi menyebut jumlah ini memang menurun jika dibanding sensus yang dilakukan oleh pihaknya di tempat yang sama 2016 silam.

Singkatnya durasi pengamatan dan cuaca yang kurang bersahabat membuat temuan yang ada dinilai belum maksimal.

“Pertama kondisi cuaca, hari ini hujan dan mendung memengaruhi keluarnya burung, waktu yang cukup singkat dimulai dari jam 09.00 sampai 12.00 WIB pun memengaruhi sehingga aktivitas pengamatan tidak maksimal,” kata pria yang akrab disapa Abay usai kegiatan sensus. 

Tim sensus yang melibatkan partisipasi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, umum, dan sekolah sedianya memang akan memulai kegiatan pada pukul 07.00 WIB. Sayang, hujan yang cukup deras membuat kegiatan sempat tertunda.

Tidak banyaknya jenis burung yang ditemukan di sekitar hutan mangrove pun membuat tim melakukan penelusuran sungai menggunakan perahu sampai menemukan beberapa jenis burung air di kawasan sungai.

Belum maksimalnya pengamatan pun membuat sensus yang dilakukan tim Biodiversity Warriors Kehati  tak menemukan jenis burung air migrasi.

“Biasanya ditemukan burung yang migrasi karena cuaca ekstrem di daerah asalnya sehingga mereka mencari hangat, mencari makan, dan berkembang biak ke sini,” ucap dia.

Padahal, di tahun 2016 ketika Kehati mengorganisasi kegiatan Asian Waterbird Census di lokasi tersebut menemukan 18 jenis burung migrasi.

“Ada burung bangau beluwok, mereka biasanya ada di Pulau Rambut dan Cikalang Christmas dari Australia. Dulu kami juga menemukan jenis burung Raja Udang, pernah masuk tapi ternyata ketika kami riset lagi mereka tidak termasuk burung air. Lalu ada jenis Cekakak Sungai juga,” ucap Abay.

Abay tak memungkiri, untuk mengamati kedatangan burung air secara maksimal harus dilakukan secara penuh di pekan kedua sampai ketiga di bulan Januari.

Rentang waktu ini disinyalir sebagai waktu yang digunakan untuk jenis burung air dari luar bermigrasi ke kawasan Teluk Jakarta.

 “Durasi memang memengaruhi. Dari minggu kedua sampai minggu ketiga, bukan di antaranya saja. Tetapi dalam satu hari kita bisa dapat 14 jenis, kalau rutin bisa jadi menemukan jenis yang lain. Karena kan burung itu bergerak terus,” ucap dia.

Adapun masa burung air menetap masih bisa diamati sampai Mei hingga sekitar akhir Juni.

“Nanti bisa dipantau lagi ada hari Migrasi Burung Sedunia. Karena untuk mengamati jenis burung migran banyak periode waktunya, September sampai Desember misalnya untuk burung pemangsa migran, sementara burung air Mei sampai Juni masih bisa,” ucap dia.

Baca juga: Burung air sulit beradaptasi karena alam semakin rusak
Baca juga: Pegiat kehati lakukan senus burung air

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kehati nilai ada perbaikan habitat di hutan lindung Angke Kapuk

Jakarta (ANTARA News) – Temuan 14 jenis burung air dari sensus yang dilakukan oleh Biodiversity Warriors  Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, Sabtu menunjukkan adanya perbaikan habitat di kawasan itu.

Pegiat Kehati yang membawahi bidang edukasi dan outreach Ahmad Baihaqi menyebut dari 18 jenis burung air yang diidentifikasi pada 2016, penurunannya tidak signifikan.

“Habitat di sini sebelum tahun ini lebih banyak sampahnya, tapi semakin tahun memang berkurang,” kata Ahmad.

Pria yang akrab disapa Abay ini menyebut sebagai muara yang seringkali menjadi tempat menampung sampah yang dibuang sembarangan dari 13 sungai di sekitarnya, kondisi  di kawasan hutan lindung ini memang memprihatinkan.

Padahal dengan banyaknya sampah itu akan membuat biota laut tercemar dan mengurangi keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia.

“Banyaknya sampah ini memengaruhi keberadaan burung air. Tidak jarang sampah ini dimakan burung air atau karena mereka makannya ikan, kualitas ikannya jelek karena airnya tercemar. Tapi memang di sini ada pemulihan habitat,” kata Abay.

Banyak faktor yang membuat perbaikan  habitat ini terjadi, yang paling utama tentunya peran kebijakan pemerintah.

“Pemprov DKI biasa mengambil sampah dari sini, kalau tak diangkat bayangkan akan seperti apa air yang tercemar, biota laut yang jadi sumber makan ikan mati, memengaruhi keberadaan burung air. Kebijakan pemerintah berperan penting di sini,” ucap dia.

Meski demikian, Abay menilai perlunya perhatian lebih dari pemerintah dalam mengelola hutan lindung, karena jika ditata dengan baik keberadaan hutan lindung ini bisa menjadi nilai lebih.

“Kan bisa jadi ekowisata atau tempat riset. Mahasiswa, peneliti datang ke sini . Banyak manfaat hutan mangrove di Jakarta,” ucap dia.

Baca juga: Sensus burung di Angke Kapuk identifikasi 14 jenis burung
 Baca juga: Ratusan burung dilindungi hasil sitaan terancam mati
 

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karang masih rusak, kapal Ocean Princess dilarang tinggalkan NTT

Kupang (ANTARA News) – Kapal tanker Ocean Princess yang karam di perairan laut Kabupaten Alor,  dilarang meninggalkan wilayah perairan laut Nusa Tenggara Timur (NTT) sampai menyerahkan surat jaminan (Letter of Undertracking/LoU) mengatasi kerusakan karang.

“Belum boleh. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kalahabi untuk tidak mengeluarkan surat izin berlayar (SIB),” kata Ketua Tim Valuasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT Saleh Goro kepada Antara di Kupang, Sabtu.

Menurut dia, KSOP dapat menerbitkan SIB, jika pihak perusahan pemilik kapal tanker itu telah menerbitkan surat jaminan.

“Kami mengharapkan kepada pihak KSOP untuk tidak menerbitkan SIB bagi kapal ini hingga adanya surat jaminan dan surat pemberitaan dari DKP Provinsi NTT,” kata Saleh.

Dia menjelaskan LoU itu sebagai bentuk jaminan pihak perusahaan terhadap kerusakan biota laut di wilayah perairan Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar dan laut sekitarnya akibat kapal karam.

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan tim valuasi menunjukkan bahwa karang di perairan laut SAP Selat Pantar dan laut sekitarnya mengalami kerusakan parah akibat kandasnya kapal tanker Ocean Princess di perairan pesisir Desa Aemoli, Kabupaten Alor.

Selain itu, terdapat sekitar 28 spot karang yang hancur serta satu hamparan dengan ukuran 163×73 centimeter (cm) karang yang tidak bisa dikenali.

“Ada 28 spot karang yang hancur, terdiri dari 19 spot karang massive (padat) dan tujuh spot karang bercabang,” katanya.

Karang massive ini, masa pertumbuhannya 1 sampai dengan 2 cm per tahun. Hasil investigasi lain adalah koloni karang yang rusak berdiameter 10 s.d. 130 cm. 

“Dalam hubungan dengan itu, maka DKP NTT memandang perlu meminta KSOP Kalabahi untuk tidak menerbitkan SIB untuk kapal Ocean Princess, sebelum ada jaminan dari pihak perusahan,” kata Saleh.

Baca juga: Kapal “Ocean Princess” karam di Alor-NTT sudah ditarik

Baca juga: Kapal Tanker Ocean Princess rusak biota laut Selat Pandar

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Burung air sulit beradaptasi karena alam semakin rusak

Jakarta (ANTARA News) – Kondisi alam yang semakin rusak dan tidak terawat di sepanjang Kali Angke membuat ekosistem burung air yang ada di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, menjadi sulit beradaptasi.

Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos saat melakukan sensus burung air di kawasan hutan lindung Angke, Jakarta, Sabtu.

Pada pengamatan terakhir yang dilakukan oleh Biodiversity Warriors dari Yayasan KEHATI, kelompok anak muda yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan, melihat kotornya lingkungan di sekitar hutan lindung menjadi tempat yang tidak nyaman bagi burung air.

“Sisa sampah yang dibuang dari aktivitas manusia di Kali Angke menjadikan ekosistem yang berada di bawah air tidak lagi menjadi tempat yang baik ikan yang menjadi makanan burung air,” kata Riki.

Pada 2016, Biodiversity Warriors berhasil mendata 18 jenis burung air yang berada di kawasan tersebut.

Beberapa di antaranya yakni burung kokokan laut (Butorides striatus), cangak abu (Ardea cinerea), pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecuk ular asia (Anhinga melanogaster) dan beberapa jenis burung air lainnya.

“Jadi sensus ini untuk mengonfirmasi apakah kawasan tersebut masih menarik bagi burung air untuk menetap ataupun singgah,” kata Riki.

Kegiatan yang diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari umum, mahasiswa dan sekolah ini merupakan kali keempat dan rutin digelar di pekan ketiga atau keempat Januari setiap tahunnya di tempat yang sama.

Riki Frindos mengatakan kegiatan sensus secara berkala ini penting karena burung air merupakan indikator keseimbangan ekosistem lahan basah.

Ekosistem ini menyediakan makan, tempat istirahat dan bertengger bagi spesies burung yang dikenal karismatik ini.

Baca juga: Kerusakan habitat ancam populasi burung air

Baca juga: Azyumardi: manusia sebagai khalifah bertugas memakmurkan alam

Baca juga: Bengkulu jadi jalur migrasi 12 jenis burung air

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pegiat kehati lakukan senus burung air

Jakarta (ANTARA News) – Sejumlah pegiat keanekaragaman hayati (kehati) yang tergabung dalam Gerakan Anak Muda Biodiversity Warrior Yayasan KEHATI melakukan kegiatan Asian Waterbird Census 2019 di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, Sabtu.

Kegiatan yang diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari umum, mahasiswa dan sekolah ini merupakan kali keempat  dan rutin digelar di pekan ketiga atau keempat Januari setiap tahunnya di tempat yang sama.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos mengatakan kegiatan sensus secara berkala ini penting karena burung air merupakan indikator keseimbangan ekosistem lahan basah.

Ekosistem ini menyediakan makan, tempat istirahat, dan bertengger bagi spesies yang dikenal karismatik ini.

“Tujuan kami mendukung kegiatan Asian Waterbird Census 2019 selain ingin terlibat dalam pelestarian burung air, kami ingin mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat Indonesia terutama generasi muda tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan makhluk hidup yang terdapat di dalamnya,” kata Riki.

Dengan luas 44,67 hektare, hutan lindung ini memang tergolong kecil, tetapi posisinya strategis dan merupakan kawasan peralihan antara daratan dan lautan di bagian utara DKI Jakarta yang memanjag dari muara Sungai Angke di bagian timur sampai perbatasan DKI Jakarta dengan Banten di bagian barat.

Menurut Riki, dengan posisi seperti ini, Hutan Lindung Angke Kapuk berperan penting dalam menjaga stabilitas kawasan di sekitarnya.

“Termasuk keberadaan burung air,” ucap dia.

Baca juga: Burung air sulit beradaptasi karena alam semakin rusak

Baca juga: Kerusakan habitat ancam populasi burung air

Baca juga: Azyumardi: manusia sebagai khalifah bertugas memakmurkan alam

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Migrasi burung layang-layang

Ribuan burung Layang-layang Asia (Hirundo rustica), bertengger pada kabel listrik di Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (18/1/2019) malam. Pada Januari, Provinsi Jawa Barat menjadi salah satu tempat singgah migrasi burung layang-layang Asia untuk menghindari musim dingin atau musim salju di Belahan bumi utara. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.

Bayi panda merah sehat dan aktif setelah lahir

Bogor (ANTARA News) – Bayi Panda merah (Ailurus fulgens) yang lahir di Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kondisinya saat ini dalam keadaaan sehat dan aktif menyusu pada induknya.

“Saat ini bayi Panda Merah berada dalam pengawasan perawat satwa dan dokter hewan, dan tampak cukup aktif dan menyusu pada induknya,” kata Jansen Manansang, Direktur TSI Cisarua, dalam siaran pers yang diterima Antara di Bogor, Jumat malam.

Bayi Panda Merah yang lahir di TSI Cisarua merupakan kelahiran pertama kali di Indonesia. Proses kelahiran berlangsung Kamis (17/1) kemarin sekitar pukul 06.30 WIB.

Bayi panda merah ini lahir dari induk bernama Xing Xing (8) dan bapak bernama Bai Bai (9). Pasangan panda merah ini datang ke Indonesia pada tanggal 13 Oktober 2017 dari Guangzhou, China.

Jansen mengatakan, Taman Safari melakukan upaya untuk pengembangbiakan satwa ini mulai dari perjodohan, pengamatan perilaku perkawinan dan pemantauan status reproduksi induk melalui pemeriksaan ultrasonografi.

Menurutnta, keberhasilan perkembangbiakan ini besar artinya bagi konservasi satwa ini karena Panda Merah termasuk satwa yang dilindungi dan masuk dalam daftar endangered berdasar IUCN Red List.

Populasi satwa ini di alam terus mengalami penurunan dikarenakan adanya perburuan liar baik dalam kondisi hidup mau pun mati.

Hilangnya habitat dan banyaknya intervensi manusia dalam kawasan hutan membuat panda merah terancam.

“Induk panda juga sayang terhadap bayinya. Semoga bayi panda merah ini sehat sampai dewasa,” kata Jansen.*

Baca juga: Panda merah pertama Indonesia lahir di Bogor
Baca juga: Penjaga satwa konfirmasi kelahiran bayi Panda Merah di Taman Safari

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Panda merah pertama Indonesia lahir di Bogor

Jakarta (ANTARA News) – Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia (TSI) di Bogor, Jawa Barat, pada 17 Januari pukul 06.30 WIB menyambut kelahiran bayi panda merah (Ailurus fulgens) pertama di Indonesia.

“Belum bisa tahu jenis kelaminnya, masih dijaga terus sama induknya,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno di Jakarta, Jumat, mengenai bayi panda merah yang baru lahir itu.

Wiratno juga membagikan informasi dari Direktur Taman Safari Indonesia Jansen Manansang yang menyebutkan bahwa bayi panda merah itu anak dari induk bernama Xing Xing (8) dan panda jantan bernama Bai Bai (9), yang tiba di Indonesia pada 13 Oktober 2017 dari Guangzhou, China. 

Taman Safari Indonesia, menurut Jansen, mengupayakan perkembangbiakan panda itu dengan melakukan penjodohan, pengamatan perilaku perkawinan dan pemantauan status reproduksi induk melalui pemeriksaan ultrasonografi.

Keberhasilan perkembangbiakan panda merah itu besar artinya bagi konservasi satwa tersebut karena panda merah termasuk satwa yang yang dilindungi dan masuk dalam daftar spesies terancam punah dalam Daftar Merah lembaga konservasi internasional IUCN.

Populasi panda merah di alam terus mengalami penurunan karena ada perburuan liar, baik dalam kondisi hidup maupun mati, serta hilangnya habitat dan banyaknya intervensi manusia dalam kawasan hutan.

Saat ini, menurut Jansen, bayi Ailurus fulgens yang berada dalam pengawasan perawat satwa dan dokter hewan tampak cukup aktif. Bayi panda itu menyusu pada induknya, yang terlihat menyayangi bayinya. 

“Semoga bayi panda merah ini sehat sampai dewasa,” kata Jansen. 

Baca juga: Penjaga satwa konfirmasi kelahiran bayi Panda Merah di Taman Safari
 

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penjaga satwa konfirmasi kelahiran bayi Panda Merah di Taman Safari

Bogor, Jawa Barat (ANTARA News) – Petugas penjaga satwa mengonfirmasi kelahiran bayi Panda Merah di Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor.

Cacih Lidia petugas penjaga satwa utama Panda Merah TSI Cisarua saat dikonfirmasi Antara melalui pesan singkat, Jumat, menyatakan bayi Panda Merah itu merupakan anak dari pasangan Xing Xing dan Pay Pay, panda yang didatangkan dari China tahun 2017.

Namun dia belum bisa memberikan informasi rinci mengenai bayi Panda Merah yang baru lahir tersebut, termasuk berat dan jenis kelaminnya.

“Maaf belum bisa kasih info,” kata Cacih.

Kabar mengenai kelahiran Panda Merah itu pertama kali muncul dari cuitan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya pada 17 Januari 2019.

“Terimakasih Tuhan, baru saja menerima kabar, tadi Red Panda di Istana Panda TSI Taman Safari Indonesia Cisarua melahirkan, ini merupakan peristiwa yang pertama di Indonesia. Lihat deh, lucu banget yah,” demikian tulisannya di Twitter.

Panda Merah betina Xing Xing (betina) dan pejantannya Pay Pay didatangkan dari China tahun 2017. Saat tiba di Indonesia usianya sudah empat tahun.

Baca juga: Sehari panda di Taman Safari habiskan 30 kg bambu
Baca juga: Dua panda raksasa bertolak dari Chengdu ke Jakarta

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BP2LHK Aek Nauli terapkan siklus lokasi angon gajah

Jakarta (ANTARA News) – Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Pematangsiantar, Sumatera Utara, menerapkan daur dan siklus lokasi angon  gajah untuk menjaga keberlangsungan lingkungan konservasi eksitu. 

Kepala BP2LHK Aek Nauli Pratiara dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan sebagai bagian daerah tangkapan air (DTA), Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli memiliki beragam jenis tumbuhan dan satwa liar dilindungi yang harus dijaga kelestariannya. 

“Salah satunya dengan menentukan daur dan siklus lokasi angon gajah di sini,” kata Pratiara.

Penentuan siklus lokasi ini penting, mengingat keberadaan gajah di KHDTK Aek Nauli berpotensi menyebabkan terjadinya perubahan pada kawasan hutan. Lantai hutan menjadi lebih terbuka, karena berkurang atau hilangnya vegetasi untuk tingkat semai, dan tumbuhan bawah. 

Tumbuhan pioner juga bermunculan, sehingga berpeluang menyebabkan perubahan komposisi jenis.

“Selama ini gajah dibiarkan diangon di hutan secara bebas, karena memang belum ada area khusus untuk ngangon, jadi pemulihan kawasan hutan harus segera dilakukan,” ujar Pratiara.

Tujuan pemulihan kawasan hutan tersebut adalah untuk mengembalikan komposisi, dan struktur vegetasi mendekati kondisi semula sebelum terjadinya gangguan. Dengan demikian, ekosistem hutan KHDTK Aek Nauli dapat kembali menjalankan peran dan fungsinya sebagai kawasan hutan lindung.

Agar pemulihan ini dapat berjalan baik dan berhasil, diperlukan informasi komposisi dan struktur vegetasi di kawasan hutan, baik pada ekosistem hutan yang masih baik maupun yang telah mengalami gangguan. Tersedianya kondisi acuan merupakan komponen penting dalam kegiatan pemulihan kawasan hutan.

Berdasarkan kajian awal yang dilakukan peneliti BP2LHK Aek Nauli Sriyanti Puspita Barus diketahui bahwa pada ekosistem yang terganggu telah terjadi penurunan kerapatan vegetasi tingkat semai dan pancang. 

Penurunan vegetasi tingkat semai terjadi sebesar 37 persen yaitu dari 82.500 individu per hektare (ha) menjadi 51.667 individu per ha, dalam setahun pertama keberadaan gajah di sana. Bahkan pada tingkat pancang, penurunan kerapatan lebih besar yakni 57 persen. 

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu segera dilakukan pengayaan jenis dengan penanaman jenis-jenis yang hilang. Salah satu prasyarat keberlangsungan regenerasi alami suatu ekosistem adalah ketersediaan tingkat permudaan yang mencukupi, ujar dia. 

Namun, lanjutnya, proses regenerasi alami tersebut mungkin sangat lambat tercapai di KHDTK Aek Nauli karena sebagian besar adalah tegakan pohon pinus.

 “Perlu upaya untuk mempercepat proses regenerasi tersebut, karena regenerasi alami pada ekosistem hutan pinus berjalan sangat lambat, hal tersebut karena zat allelopati yang dihasilkan oleh serasah pinus membuat pertumbuhan terhambat, sehingga ketersediaan pohon lain sebagai sumber benihpun menjadi sangat jarang,” ujar Sriyanti.

Gajah Sumatera merupakan salah satu satwa liar yang telah banyak mengalami penjinakan. Gajah jinak (captive) hasil penjinakan tersebut, kemudian mendapat pengasuhan dari mahout, yaitu orang yang bertugas untuk merawat dan melatih gajah. 

Pemanfaatan gajah jinak di Indonesia, sejauh ini telah dilakukan untuk beberapa hal, diantaranya untuk pendidikan, dan mitigasi konflik gajah dengan manusia. Selain itu, dapat bermanfaat untuk penelitian ekologi, kegiatan konservasi, dan ekowisata, seperti yang dilakukan di KHDTK Aek Nauli. 

Baca juga: Belasan gajah masih berkeliaran di permukiman warga Nagan Raya

Baca juga: Bengkulu segera jalankan program koridor gajah sumatera

 

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019