Bangkai Gajah Sumatra Dibakar

Petugas Conservation Response Unit (CRU) Peusangan, Bener Meriah, menutupi bangkai gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang ditemukan mati menggunakan kayu untuk dibakar, di pinggiran Sungai Peusangan antara perbatasan Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Bireuen, Aceh, Sabtu (29/12/2018). Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah melaporkan kasus kematian gajah liar jantan yang diperkirakan berusia 40 tahun dan ditemukan mati dengan kondisi gading hilang kepada Polres Bireuen untuk diproses secara hukum. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/kye.

Polisi tangkap pelaku pemburu rusa di Pulau Komodo

Kupang, NTT (ANTARA News) – Polres Bima Kota di NTB, menangkap pelaku perburuan rusa di pulau Komodo, yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo, di Manggarai Barat, NTT.

Kepala Satuan Reskrim Polres Bima Kota, Inspektur Satu Polisi Akmal Reza, ketika dihubungi dari Kupang, Minggu sore, mengatakan, pelaku saat ini sudah ditahan di Polres setempat.

“Tersangka saat ini sudah kami tahan, dan masih lakukan pemeriksaan lanjutan. Benar bahwa yang bersangkutan sudah berburu rusa di kawasan TNK,” katanya.

Tersangka kata dia, usai memburu rusa di kawasan TNK itu, kemudian mengumpulkan buruannya di suatu tempat, kemudian baru membawa mereka dengan kapal menuju ke pantai So Toro Wamba, Desa Poja, Sape, Bima.

Tersangka bernama Nurdin dari Desa Sangia itu ditangkap saat hendak membawa kurang lebih sembilan rusa yang mati itu ke dalam kendaraan yang sudah disiapkan di pinggir pantai.

Reza menambahkan, dari hasil penangkapan itu pihaknya berhasil mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya dua buah senjata api rakitan laras panjang, delapan amunisi, sembilan rusa mati, satu kepala kerbau, dan satu unit kapal kayu.

Lebih lanjut kata dia, pihaknya masih terus mengembangkan kasus itu karena menurut informasi ada empat pelaku lain yang melarikan diri.

Kemudian apakah akan dilimpahkan ke Polres Manggarai Barat, kata Akmal masih menunggu informasi lanjutan.

“Mengingat lokasi kejadiannya ada di Pulau Komodo, maka kemungkinan akan dilimpahkan ke Polres Manggarai Barat. Tetapi itu masih menunggu keputusan dari pimpinan,” ujar dia.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Ribuan pohon dtanam pegiat sungai di Samarinda

Samarinda, (ANTARA News) – Pegiat sungai di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur yang tergabung dalam Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) bersama masyarakat yang peduli, berhasil menanam sekitar 7.000 pohon.

“Pohon yang ditanam bersama mahasiswa, lembaga swasta, lembaga pemerintah, komunitas, maupun masyarakat perorangan ini merupakan pohon khas yang secara ekosistem biasa tumbuh di daerah resapan air,” kata Ketua GMSS-SKM, Misman di Samarinda, Senin.

Ia menjelaskan jenis pohon khas pinggir sungai maupun khas kawasan perairan tawar yang sudah tertanam sejak tahun 2016 hingga saat ini antara lain rengas, bungur, kademba, singkuang, putat, bengalon dan aneka spesies lainnya.

Aneka pohon tersebut sejak ditanam dua tahun lalu hingga sekarang terus dipelihara semampunya karena personilnya memang terbatas, namun ia bersyukur karena ada sejumlah komunitas yang datang membantu merawat dan menyulam tanaman yang mati.

Jika ada komunitas maupun perorangan yang datang ingin membantu merawat sungai agar ke depan sungainya bersih dan sehat, lanjut Misman, ada beberapa teknik yang pihaknya lakukan, antara lain memberikan pemahaman tentang peran dan fungsi sungai, mengajak membibitkan, membuat lubang tanam, memelihara, menanam, berwisata, bahkan memungut sampah di sungai.

“Kita lihat kondisinya dulu, baru kita tentukan aksi. Misalnya, jika banyak tanaman lama tidak dipelihara, maka mereka yang datang diarahkan menyiangi rumput dan menyulam tanaman yang mati. Jika semua tanaman dalam keadaan aman, maka mereka yang datang diarahkan membuat lubang tanam kemudian menanaminya, begitu seterusnya,” katanya.

Ia mengaku bahagia karena bibit yang ditanam bersama masyarakat yang peduli tersebut saat ini mengalami pertumbuhan baik dan subur, bahkan tinggi pohon banyak yang sudah di atas 2 meter dengan cabang yang menggembirakan, sedangkan bibit yang baru beberapa bulan ditanam terus mendapat pengawasan agar tumbuh subur.

Misman menyadari bahwa bibit yang ditanam di bantaran Sungai Karang Mumus tersebut terlalu rapat karena jaraknya hanya sekitar 1 meter antara pohon satu dengan pohon yang lain, namun hal itu dilakukan salah satu alasannya adalah kelak akan terseleksi oleh alam, yakni mana pohon yang kuat akan terus tumbuh, sedangkan pohon yang lemah akan mati.

Ia melanjutkan bahwa salah satu fungsi sungai adalah secara hidrologi sebagai alat untuk mengalirkan air permukaan baik yang berasal dari hujan, rawa, parit, dan lainnya, sehingga dengan banyaknya tanaman dan tumbuhan di riparian maupun ruang sungai, maka akan mampu memfilter air polutan sebelum akhirnya dialirkan untuk dikonsumsi manusia maupun makhluk lain.

Air yang mengalir ke sungai tidak ada yang menjamin kebersihan dan kesehatannya karena banyak limbah yang masuk, maka filter alami harus ada sehingga tumbuhan harus banyak di ruang sungai.

“Selain sebagai filter, pohon yang kita tanam juga menjadi hutan kota, tempat wisata, penahan erosi, tempat berkembangnya satwa, dan puluhan fungsi lain,” demikian Misman.

Baca juga: Mahasiswa dan Dekan bersih-bersih Sungai Karang Mumus

Baca juga: Ikan di Delta Mahakam aman dikonsumsi

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Macan tutul Lawu dimasukkan ke Taman Satwa Taru Jurug

Solo (ANTARA News) – Satu macan tutul betina dari hutan Gunung Lawu yang masuk perangkap di Desa Wonorejo, Kabupaten Karanganyar, setelah sepekan masuk karantina dimasukkan ke Taman Satwa Taru Jurug Solo dan menjadi tontonan pengunjung pada Rabu.

“BKSDA belum melepas macan tutul, meski sudah menjalani karantina selama sepekan,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Suharman.

Ia mengatakan tim dokter Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) masih mengobservasi kesehatan macan tutul tersebut, sementara tim BKSDA masih akan melakukan survei ke lapangan untuk mengetahui populasi macam sejenis dan ketersediaan makanan mereka di kawasan hutan Gunung Lawu.

“Kami tidak ingin setelah macan dilepas di alam bebas, kemudian kembali menyerang hewan ternak kambing milik warga di lereng Lawu. Kami harus pastikan ketersediaan makan macan di hutan, dipastikan harus cukup,” katanya.

Menurut Nuraini, dokter hewan TSTJ Solo, macan tutul berusia 2,5 tahun dengan panjang 80 centimeter, tinggi 60 centimeter dan berat 30 kilogram itu sudah sehat setelah menjalani karantina salama sepekan.

Setiap hari, menurut dia, macan tutul tersebut mendapat jatah pakan rata-rata sekitar 1,5 kilogram daging ayam dicampur daging sapi.

Direktur Utama TSTJ Solo Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso berharap BKSDA menghibahkan macan tutul itu ke taman satwa.

“Kami berharap macan tutul asal Lawu agar dihibahkan ke TSTJ. TSTJ dapat dijadikan tempat perjodohan macan tutul. Apalagi TSTJ dijadikan konservasi resmi BKSDA Jateng,” katanya.

Baca juga:
BKSDA amankan macan tutul dari Gunung Lawu
Macan Tutul terekam kamera di kawasan Taman Nasional Bromo

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Taman bunga celocia di Aceh Jaya

Pengunjung berswafoto di kawasan objek wisata taman bunga celocia garden di Desa Alue Pit, Kecamatan Panga, Aceh Jaya, Aceh, Rabu (2/1/2019). Pemilik taman bunga mengaku taman bunga celocia seluas satu hektar yang baru dikelolanya sekitar empat bulan tersebut banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah setelah sempat viral di media sosial. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj.

11 ekor gajah mati di Aceh selama 2018

Banda Aceh (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mencatat 11 gajah ditemukan mati di berbagai wilayah di Provinsi Aceh sepanjang 2018.

“Sepanjang 2018, ditemukan 11 gajah mati. Kematian gajah tersebut karena berbagai sebab,” kata Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Kamis.

Dari 11 temuan gajah mati tersebut, kata Sapto, tiga di antaranya mati akibat konflik dengan manusia, tiga karena perburuan, dan lima gajah lainnya mati karena alami.

Menurut Sapto, angka kematian gajah tersebut menurun dibanding 2017. Di mana pada 2017, ada 13 kematian gajah. Tujuh di antara mati karena konflik, serta tiga gajah lainnya mati karena perburuan dan tiga lainnya mati karena alami.

Sedangkan wilayah kematian gajah, terbanyak ditemukan di Kabupaten Aceh Timur dengan jumlah sebanyak empat kasus. Kemudian, Kabupaten Aceh Besar tiga kasus.

Serta di Kabupaten Bener Meriah dua kasus, di Kabupaten Pidie satu kasus, dan Kabupaten Pidie Jaya satu kasus, kata Sapto Aji Prabowo.

Sapto Aji menambahkan, kasus kematian gajah yang menjadi sorotan yakni gajah jantan jinak dan terlatih di Aceh Timur. Gajah jantan bernama Bunta ditemukan mati karena diracun serta gading hilang dipotong.

Serta kasus kematian gajah yang terakhir, gajah jantan liar yang bernama Bongkok di Kabupaten Bireuen. Gajah jantan ini mati dalam kondisi gading sudah diambil orang tidak dikenal.

“Kasus kematian di Kabupaten Bireuen ini sudah dilaporkan kepolisian. Laporan ke polisi selain kematian gajah, juga karena gadingnya hilang,” kata Sapto Aji Prabowo.*

Baca juga: Gajah liar ditemukan mati tanpa gading di Aceh

Baca juga: Anak gajah mati di Aceh

Baca juga: Seekor gajah jinak ditemukan mati di Pidie

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perambahan hutan di TNLL Palu makin berkurang

Palu (ANTARA News) – Perambahan di kawasan hutan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Palu selama 2018 semakin berkurang, namun tetap mendapat perhatian dari pihak pengelola kawasan konservasi itu.

Kepala Balai Besar TNLL, Jusman, di Palu, Jumat,  mengatakan hingga kini masih ada saja oknum masyarakat yang merambah, mencuri dan memburu satwa dalam kawasan konservasi tersebut.

Namun, katanya, hal itu setiap tahunnya semakin berkurang seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan hutan dan satwa dalam kawasan itu.

“Kami terus gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar kawasan TNLL,” katanya.

Namun demikian, katanya, bagi mereka yang terbukti mengganggu kawasan konservasi tetap ditindak tegas sesuai aturan hukum yang berlaku.

Dia mengaku sepanjang 2018 sudah ada oknum masyarakat yang ditindak karena terbukti merambah dan mencuri hasil hutan dalam kawasan.

“Mereka diproses secara hukum dan juga ada yang hanya terkena sanksi adat,” katanya.

Jusman berharap pada tahun ini, tidak ada lagi kasus perambahan hutan, termasuk kasus lainnya.

Dia meminta masyarakat untuk menjaga flora maupun fauna yang ada di dalam kawasan demi keberlangsungan hidup manusia dan hewan serta tumbuh-tumbuhan karena hutan adalah sumber air yang dibutuhkan manusia dan mahluk hidup lainnya.

Selain itu, tambahnya, hutan berfungsi agar tidak terjadi erosi, banjir dan longsor yang akhirnya mengancam keselamatan jiwa manusia.

TNLL terketak sebagian di Kabupaten Poso dan Sigi dengan luas areal mencapai 217.000 hektare.

Baca juga: Perambahan hutan mengancam Taman Nasional Gunung Leuser
Baca juga: KLHK buru cukong perambah kawasan hutan Bengkalis
Baca juga: Tujuh Nagari tolak perambahan hutan di Solok Selatan

Pewarta:
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ratusan burung dilindungi hasil sitaan terancam mati

Jember (ANTARA News) – Ratusan burung yang dilindungi hasil penyitaan aparat kepolisian pada Oktober 2018 lalu dari kasus pengungkapan aktivitas penangkaran ilegal di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terancam mati karena telantar dan kehabisan pakan.

“Saat ini kami sedang berkonsultasi dengan pimpinan di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur dan juga sedang berkoordinasi dengan lembaga konservasi yang menangani satwa untuk proses evakuasi,” kata Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember Setyo Utomo di Kabupaten Jember, Sabtu.

Kepolisian Daerah Jawa Timur mengamankan sebanyak 443 ekor burung langka yang dilindungi dari sebuah perusahaan penangkaran CV Bintang Terang yang berada di Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, pada pada Oktober 2018 karena usaha penangkaran burung milik perusahaan g tersebut tidak memiliki izin yang sah.

Dari kegiatan tersebut, petugas berhasil menyita 443 ekor burung paruh bengkok yang diduga terdapat praktik perdagangan ilegal di dalam penangkaran satwa yang dilindungi tersebut.

Burung-burung paruh bengkok berjenis nuri dan kakatua sitaan itu dititipkan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, kemudian BBKSDA menitipkan barang bukti ke penangkaran CV Bintang Terang untuk dilakukan perawatan selama proses hukum berlangsung.

Kemudian permasalahan muncul setelah Direktur CV Bintang Terang, Liau Djin Ai ditahan oleh Kejaksaan Negeri Jember untuk menjalani proses hukum yang saat ini sudah memasuki tahap II.

Sementara itu, Muhammad Davis kuasa hukum Liau Djin Ai mengatakan bahwa penahanan tersebut berdampak pada keberlangsungan hidup ratusan burung-burung yang kini hanya tersisa 380 ekor.

“Saat ini tidak ada institusi yang bertanggung jawab atas barang bukti yang sudah disita tersebut,” katanya.

Ia juga telah meminta kepada pihak Kejaksaan Negeri Jember untuk mengabulkan pemohonan penangguhan kliennya agar 380 ekor burung yang sekarang masih ada di penangkaran tidak terbengkalai dan mati sia-sia.

“Ratusan burung paruh bengkok itu terancam mati karena sisa pakan yang tersedia hanya bertahan untuk dua hari lagi dan apabila tidak ditangani segera, maka kami tidak tahu sampai kapan burung-burung tersebut akan bertahan,” ujarnya.

Davis berharap ada solusi yang diberikan oleh pemerintah pemilik otoritas penanganan barang bukti satwa yang dalam keadaan hidup tersebut.

Baca juga: BKSDA lepaskan 73 burung nuri hasil sitaan
Baca juga: BKSDA lepas 30 kakatua sitaan di Waigeo Timur

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bantu ungkap kasus, pewarta foto Antara terima penghargaan KLHK

Banda Aceh (ANTARA News) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menganugerahi penghargaan pewarta foto LKBN Antara Biro Aceh, Irwansyah Putra, atas dedikasinya mempublikasi perawatan kesehatan hingga membantu mengungkap kasus kejahatan terkait satwa liar. 

“Penghargaan untuk jurnalis sebagai bentuk apresiasi kami terhadap dedikasinya mencengah serta mengungkapkan kasus kejahatan satwa liar yang dilindungi Undang-undang di Indonesia,” kata Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Sabtu.

Selain pewarta foto Antara, KLHK juga memberikan penghargaan serupa kepala fotografer Agence France-Presse (AFP) Chaideer Mahyuddin dan Jurnalis Video Net TV Munandar Syamsuddin.

Sapto Aji menyatakan penghargaan tersebut diberikan kepada pewarta foto dan video karena sering  memberitakan perawatan kesehatan satwa liar serta pelepasliarkannya.

Kemudian, lanjutnya, para jurnalis tersebut juga ikut serta mengungkap kasus kejahatan terhadap satwa liar di provinsi paling barat Sumatera ini.

“Kami sangat berterima kasih kepada semua awak media di Aceh yang telah berperan aktif mencengah terjadinya pemburuan satwa liar melalui pemberitaan,” ujar Sapto Aji.

Peran jurnalis sangatlah penting untuk menyuarakan penyelamatan terhadap satwa liar yang dilindungi Undang-undang di Indonesia. Untuk itu, Sapto Aji berharap awak media lebih proaktif memberitakan penyelamatan satwa liar di Propinsi Aceh.

Penghargaan untuk pewarta foto LKBN Antara, AFP dan Net TV tersebut diserahkan oleh Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Aceh, drh Taing Lubis di Kantor BKSDA Banda Aceh, Sabtu malam (5/1).

Baca juga: Kematian gajah dan pencurian gading dilaporkan BKSDA kepada polisi

Baca juga: Kulit harimau Sumatera hasil sitaan di Aceh diidentifikasi

Baca juga: Seekor gajah ditemukan mati tanpa gading di Aceh

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BBKSDA periksa kondisi 400 lebih burung langka sitaan di Jember

Jember (ANTARA News) – Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur dan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember memeriksa kondisi 400 lebih burung langka sitaan polisi pada Oktober 2018 yang dikabarkan terancam mati karena kekurangan pakan di penangkaran ilegal milik CV Bintang Terang di Kabupaten Jember.

“Hari ini tim BBKSDA Jatim turun ke lapangan bersama petugas Bidang KSDA Jember untuk melakukan pendataan dan mengecek kondisi burung tersebut. Hingga malam ini masih 140 ekor yang diperiksa,” kata Kepala BKSDA Wilayah III Setyo Utomo di Kabupaten Jember, Sabtu malam.

Setiap hari, menurut dia, petugas memantau satwa sitaan aparat Kepolisian Daerah Jawa Timur yang ada di lokasi penangkaran burung milik CV Bintang Terang di Desa Curahkalong, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember.

“Ada sekitar 10 personel yang melakukan pengecekan kondisi satwa dan stok pakan burung,” katanya.

Petugas yang memantau satwa di penangkaran burung CV Bintang Terang, menurut dia, melaporkan bahwa ada burung paruh bengkok yang mati di tempat itu, antara lain karena stres dan faktor cuaca.

“Ada delapan ekor burung langka hasil sitaan yang mati karena berbagai hal dan semuanya sudah dilaporkan kepada pimpinan, namun kami berusaha maksimal agar burung langka hasil sitaan itu tetap hidup di penangkaran,” tuturnya.

Setyo menjelaskan lembaganya akan menyediakan pakan untuk burung-burung sitaan yang ada di tempat penangkaran tersebut hingga dua pekan ke depan untuk memastikan stok pakan burung paruh bengkok dan burung sitaan lainnya cukup.

“Itu kami lakukan untuk menjaga agar satwa-satwa tersebut tetap bertahan hidup, sehingga pasokan pakan dipastikan aman selama dua pekan ke depan, sambil kami mencari solusi terkait kondisi itu,” katanya.

Aparat Kepolisian Daerah Jawa Timur pada Oktober 2018 menyita 443 burung langka dilindungi milik perusahaan penangkaran CV Bintang Terang di Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, karena usaha penangkaran burung tersebut tidak berizin.

Burung sitaan itu meliputi 11 jenis yang terdiri atas 212 Nuri Bayan, 99 Kakatua Besar Jambul Kuning, 23 Kakatua Jambul Orange, 82 Kakatua Govin, lima Kakatua Raja, satu Kakatua Alba, satu Jalak Putih, enam Burung Dara Mahkota, empat Nuri Merah Kepala Hitam, enam anakan Nuri Bayan dan enam Nuri Merah.

Baca juga: Ratusan burung dilindungi hasil sitaan terancam mati
Baca juga: BKSDA lepaskan 73 burung nuri hasil sitaan

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kucing hutan resahkan peternak ayam di Lebak

Lebak (ANTARA News) –  Kucing hutan jenis Felis Bengalensis yang banyak berkeliaran di Kabupaten Lebak, Banten, meresahkan warga terutama peternak yang mengeluhkan kehilangan ternak ayam mereka.

“Dalam sepekan terakhir sekitar 25 ayam kampung dimakan Meong Congkok,” kata Samian (50), warga Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, Minggu.

Dia mengatakan, hampir setiap hari ternak ayam warga dimangsa hewan tersebut sehingga merugikan masyarakat terutama peternak. Kucing hutan yang disebut warga setempat dengan Meong Congkok itu mendatangi perkampungan dalam jumlah berkelompok biasanya terdiri dari tiga hingga enam ekor. 

“Kami kesulitan untuk menangkap Meong Congkok karena begitu liar juga melakukan perlawanan,” katanya menjelaskan.

Ade (45), warga Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, juga mengaku sejak sepekan terakhir kehilangan ternak ayam sebanyak 20 ekor karena dimangsa kucing hutan.

“Kami pernah mengejar binatang itu setelah memakan ayam, namun mereka sangat cepat lari ke hutan,” kata Ade.

Ade memperkirakan, banyaknya kucing hutan yang berkeliaran di permukiman dan memangsa ternak ayam warga karena habitatnya terganggu akibat alih fungsi lahan. Wilayah Kabupaten Lebak dilintasi proyek pembangunan jalan tol Serang-Panimbang.

 Selain itu juga sejumlah pegunungan di kawasan tersebut dieksploitasi pertambangan pasir dan batu.

Baca juga: BKSDA Jambi lepas liarkan kucing hutan
 

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kera Hitam Sulawesi tertangkap warga

Anak Kera Hitam khas Sulawesi (Macaca ocreata) diikat tali di sebuah pondok setelah tertangkap warga di Lepolepo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (7/1/2019). Primata endemik khas Sulawesi yang biasa disebut Kera Hitam Sulawesi itu termasuk satwa yang dilindungi dan kini semakin sering menampakkan diri di pinggiran kawasan hutan mendekati kota secara berkelompok, diduga karena habitatnya mengalami kerusakan. ANTARA FOTO/Jojon/pras.

Enam ekor burung langka dievakuasi ke BBKSDA Jatim

Jember (ANTARA News) – Sebanyak enam ekor dari ratusan burung langka yang dilindungi hasil sitaan aparat Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur yang dikabarkan terlantar di penangkaran ilegal CV Bintang Terang yang berada di Kabupaten Jember akhirnya dievakuasi ke Kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur di Surabaya.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, ada enam ekor burung yang dievakuasi ke BBKSDA Jatim untuk upaya penyelamatan, agar burung tersebut bisa bertahan hidup,” kata Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Kabupaten Jember Setyo Utomo di Jember, Senin.

Menurut dia, enam ekor burung yang dievakuasi tersebut terdiri dari dua ekor burung Kakaktua besar jambul kuning (cacatua galerita triton, dua ekor Kakaktua medium jambul kuning (cacatua galerita eleonora), dan dua Kakaktua tanimbar (cacatua goffiniana).

“Enam ekor burung yang dievakuasi tersebut sebagian besar karena sakit karena berdasarkan pemeriksaan tim di lapangan menyebutkan sebanyak lima ekor burung sakit yakni dua ekor Kakaktua medium jambul kuning sebanyak dua ekor, dua ekor kakaktua tanimbar, dan satu ekor burung Nuri bayan,” ujarnya.

Jumlah burung langka yang berada di penangkaran ilegal CV Bintang Terang di Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember hingga 5 Januari 2019 sebanyak 408 ekor dengan rincian 231 ekor Nuri bayan (Elektus roratus), sebanyak ekor Kakatua tanimbar (Cacatua goffininana), sebanyak 28 ekor Kakatua besar jambul kuning (Cacatua galerita triton), dan sebayak 67 ekor Kakatua medium jambul kuning (Cacatua galerita eleonora).

“Delapan ekor burung dilaporkan mati karena berbagai sebab, namun petugas BKSDA Wilayah III Jember setiap hari melakukan pengawasan dan pemantauan di lokasi penangkaran CV Bintang Terang untuk memantau kondisi satwa langka yang dilindungi itu,” katanya.

Setyo menjelaskan pihak BKSDA akan menyuplai pakan ternak ratusan burung di penangkaran tersebut selama dua pekan ke depan, sambil melakukan koordinasi dengan BBKSDA Jatim dan lembaga konservasi lainnya untuk mencari solusi terkait dengan keberlangsungan hidup ratusan burung langka yang disita Polda Jatim tersebut.

Sebelumnya Polda Jawa Timur mengamankan sebanyak 443 ekor burung langka yang dilindungi dari sebuah perusahaan penangkaran CV Bintang Terang berada di Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember pada pada Oktober 2018 karena usaha penangkaran burung CV Bintang Terang tersebut tidak memiliki izin yang sah.

Direktur CV Bintang Terang, Liau Djin Ai ditahan oleh Kejaksaan Negeri Jember untuk menjalani proses hukum yang saat ini sudah memasuki tahap II.

Baca juga: BBKSDA periksa kondisi 400 lebih burung langka sitaan di Jember
Baca juga: Jenis burung khas Indonesia bertambah

 

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Serah terima satwa dilindungi

Petugas mengamati seekor Trenggiling (Manis Javanica) yang diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali saat serah terima di Denpasar, Bali, Senin (7/1/2019). BKSDA Bali menerima seekor satwa liar dilindungi tersebut dari seorang warga yang menyerahkannya setelah Trenggiling itu ditemukan masuk ke dalam rumahnya. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pras.