Tangan nelayan putus diterkam buaya

Sampit (ANTARA News) – Buaya di Sungai Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali mengganas dan menerkam seorang warga Dusun Seranggas Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit bernama Julhaidir (41) hingga tangan korban putus.

“Kejadian itu memang benar terjadi. Korban sudah dilarikan ke rumah sakit. Kami sangat berharap ini menjadi perhatian pemerintah agar bisa ditanggulangi,” kata Yansyah, seorang warga di Sampit, Jumat malam.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.30 WIB saat korban mandi di Sungai Seranggas yang merupakan anak Sungai Mentaya wilayah RT 09 Desa Lempuyang. Saat itu korban mandi seperti biasanya, meski hari mulai gelap.

Buaya berukuran besar itu diduga sudah berada di sekitar lanting tempat korban mandi, sementara korban tidak menyadarinya. Tanpa diduga, saat tangan korban diulurkan ke sungai untuk mengambil air, tiba-tiba buaya besar muncul dan langsung menerkam tangan kiri korban.

Satwa ganas itu menarik korban hingga tubuh korban terseret ke dalam sungai. Korban berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari gigitan buaya yang belum diketahui jenisnya itu.

Kuatnya gigitan buaya membuat tangan kiri korban hingga bagian siku, putus diterkam buaya. Tapi saat itulah korban dengan kemampuan yang tersisa berenang hingga berhasil muncul ke permukaan sungai.

Korban berteriak meminta pertolongan dan warga pun berdatangan. Warga bergegas mengeluarkan korban dari dalam sungai sebelum buaya ganas itu muncul lagi.

Warga langsung mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Pratama Samuda. Informasinya, korban akan dirujuk ke RSUD dr Murjani Sampit untuk mendapatan penanganan lebih intensif.

Komandan Pos Jaga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah di Sampit, Muriansyah saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sedang berkoordinasi terkait kejadian itu. Ini merupakan kejadian pertama serangan buaya terhadap manusia pada 2019 ini.

Muriansyah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat berada di sungai. Masyarakat diminta menghindari beraktivitas di sungai saat hari mulai atau sudah gelap karena itu merupakan saat sangat rawan kemunculan buaya.

“Hampir setiap tahun terjadi serangan buaya terhadap manusia di Sungai Mentaya. BKSDA sudah sejak lama memasang papan pengumuman untuk mengingatkan masyarakat mewaspadai serangan buaya karena di wilayah itu terdapat habitat buaya, diperkirakan di kawasan Pulau Lepeh yang terletak di tengah Sungai Mentaya,” ujarnya.*

Baca juga: BKSDA Kalteng pancing buaya ganas Sungai Mentaya Sampit dengan bebek

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Populasi komodo di TNK masih stabil

Kupang (ANTARA News) – Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) mencatat, jumlah populasi satwa purba Komodo di TNK, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih stabil yaitu sebanyak 2.897 ekor hingga 2018.

“Dalam catatan kami jumlah populasi Komodo masih stabil karena berada di kisaran antara 2.000 ekor sampai 3.000 ekor,” kata Petugas Monitoring Satwa Komodo BTNK, Jackson, kepada Antara ketika dihubungi dari Kupang, Sabtu.

Ia menjelaskan, jumlah populasi komodo ini menyebar di Pulau Komodo sebanyak 1.727 ekor, Pulau Rinca 1.049 ekor, Pulau Gili Motang 58 ekor, Pulau Nusa Kode 57 ekor, dan Pulau Padar enam ekor.

Jumlah poluasi pada 2018, lanjutnya, juga tercatat naik dari sebelumnya di 2016 sebanyak 1.186 ekor, dan 2017 sebanyak 1.412 ekor.

“Jumlah populasi ini juga fluktuatif, kadang di Pulau Komodo naik sedangkan di Pulau Rinca turun, dan sebaliknya,” katanya.

Ia menjelaskan, perhitungan jumlah populasi itu berdasarkan hasil penelitian dari BTNK bekerja sama dengan Komodo Survival Project yang didukung dari luar negeri.

Jackson mengatakan, BTNK terus menjaga keberlangsungan populasi kadal raksasa itu dengan menjaga kealamian lingkungan di kawasan tersebut.

“Jadi kita tidak pernah memberikan makanan kepada komodo seperti yang dilakukan di kebun binatang. Yang kita lakukan menjaga lingkungan agar pakannya tetap aman,” katanya.

Selain itu, BTNK juga secara rutin melakukan patroli pengamanan kawasan untuk mencegah adanya aktivitas terlarang seperti perburuan liar, pembakaran hutan, maupun pengeboman ikan dan lainnya.

“Dalam beberapa tahun terakhir ini kegiatan pengamanan ditingkatkan sepanjang tahun, baik dilakukan sendiri dari BTNK, maupun dengan Kepolisian,” ujar Jackson.

Baca juga: Menpar sebut isu penutupan TN Komodo tidak relevan bagi pariwisata
Baca juga: KLHK: Penutupan kawasan Taman Nasional Komodo masih dalam pembahasan
Baca juga: Wapres: TN ditutup atau tidak, komodo tetap perlu makan

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Prestasi “Silver Award” untuk Panda “Caitao” akan dipertahankan Taman Safari Indonesia

Cisarua, Bogor (ANTARA News) – Prestasi yang diraih satwa panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca) di Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bernama “Caitao” mendapatkan medali perak dari organisasi “Giant Panda Global” pada 2018 akan berusaha dipertahankan lembaga konservasi satwa “ex-situ” (di luar habitat alami) itu pada 2019.

“Indonesia sangat bangga karena pada masa awal kedatangan panda ke Indonesia, ‘Cai Tao’ sudah memperoleh medali perak (silver award) sebagai panda terfavorit di luar China, sebagai tempat habitat aslinya,” kata Direktur TSI Cisarua, Drs Jansen Manansang, M.Sc, seperti disampaikan Humas TSI Yulius H Suprihardo di Bogor, Minggu.

Giant Panda Global, sebuah organisasi yang berpusat di Belgia, yang dipimpin Jeroen Jacobs itu, bertujuan untuk memromosikan pekerjaan penting konservasi panda raksasa di China maupun di luar RRC, dan setiap tahun mengadakan penghargan “Giant Panda Global Awards”.

Cai Tao, panda jantan yang ada di TSI Cisarua mendapatkan penghargaan kategori terfavorit di antara yang hidup di luar habitat alaminya di luar RRC.

Dalam penobatan yang berlangsung di Berlin, Jerman, pada Juli 2018, “Cai Tao” berhasil memperoleh 300.000 suara dari empat negara, yaitu Tiongkok, Prancis, Amerika Serikat, dan Indonesia.

Saat ini di seluruh dunia ada 1.864 ekor panda raksasa berada di habitat aslinya. Sedangkan populasi di kebun binatang berbagai negara berjumlah 520 ekor.

Tidak hanya “Caitao”, penghargaan juga diperoleh Jansen Manansang juga dinobatkan sebagai tokoh peduli panda (human panda personality), setelah Direktur China Conservation and Reseach Center for Giant Pandas, Zhang Hemin, dan Direktur Chendgu Panda Base Sichuan, China, Zhang Zhihe.

Menurut Jansen Manansang, pengelolaan “Cai Tao” di TSI Cisarua menunjukkan kepada dunia bahwa panda juga mampu hidup di luar habitat alaminya.
   

Sementara itu, pada perinatan “World Nature Conservation Day” tahun lalu, apresisasi “Global Conservationist Award” juga diberikan oleh Giant Panda Global kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, Siti Nurbaya Bakar, dan Dubes RRC di Indonesia, Xiao Qian.

Dukungan kedua pejabat tersebut membuat masyarakat Indonesia dapat lebih dekat dengan panda raksasa.

Sepasang panda dari China bernama Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina), didatangkan ke Indonesia pada 28 September 2017 melalui program peminjaman untuk pengembangbiakan (breeding loan) dari Pemerintah China kepada Pemerintah Indonesia.

KLHK sebagai pembina Lembaga Konservasi (LK) telah menetapkan PT TSI sebagai lokasi “breeding loan” panda raksasa itu.

Baca juga: Panda Cai Tao-Hu Chun dikarantina di TSI

Baca juga: Panda raksasa TSI makin diminati pengunjung

Pewarta: Andi Jauhary
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kampanye perlindungan primata

Aktivis Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia menggelar aksi teatrikal saat kampanye simpatik satwa primata dilindungi di Taman Hutan Kota Ciamis, Jawa Barat, Minggu (3/2/2019). Aksi tersebut mengajak masyarakat untuk berhenti melakukan perburuan dan memelihara primata dilindungi karena dari 60 spesies hewan primata yang ada Indonesia hampir 70 persennya terancam punah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/foc.

31 penyu raksasa bertelur di Raja Ampat

Waisai  (ANTARA News) – Sebanyak 31 ekor Penyu Belimbing yang dikenal sebagai penyu raksasa, sang penjelajah dunia, mendarat dan bertelur di Kampung Yenbekaki, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, sepanjang 2018.

Kelompok Penggiat Konservasi Penyu Kampung Yenbekaki mencatat pada Mei 2018 sebanyak delapan ekor Penyu Belimbing mendarat dan bertelur di kawasan Pantai Warebar, Kampung Yenbekaki.

Selanjutnya pada Juni sebanyak lima ekor, Juli sebanyak delapan ekor, Agustus sebanyak tiga ekor, September sebanyak tiga ekor, dan Oktober sebanyak empat ekor, Sehingga total 31 ekor penyu raksasa tersebut mendarat dan bertelur di Kampung Yenbekaki.

Ketua Kelompok Penggiat Koservasi Kampung Yenbekaki Yusuf Mayor di Waisai, Papua Barat, Senin, mengatakan sebanyak 31 ekor Penyu Belimbing yang mendarat di kawasan Pantai Warebar sepanjang 2018, bertelur sebanyak 3.706 butir.

Dia mengatakan masyarakat penggiat konservasi penyu kampung Yenbekaki menjaga kawasan Pantai Warebar tempat sarang penyu raksasa tersebut dari serangan predator yang mengincar telurnya.

Ia menjelaskan bahwa dari total 3.706 telur penyu belimbing tersebut, sebanyak 1.000 rusak dan berhasil menetas sebanyak 2.706 menjadi tukik. Masyarakat penggiat konservasi penyu kampung Yenbekaki melakukan penangkaran terhadap tukik penyu tersebut agar terhindar dari serangan predator.

Menurut dia, penangkaran terhadap tukik dilakukan paling lama dua minggu setelah telur menetas. Agar tukik tersebut benar-benar kuat dan dapat menghindar dari serangan predator barulah dilepaskan ke laut.

“Hasil kerja masyarakat penggiat konservasi penyu Kampung Yenbekaki, Raja Ampat, sepanjang 2018 berhasil melepaskan sebanyak 2.706 ekor tukik penyu raksasa ke laut,” ujarnya.

Baca juga: Ratusan penyu dilepas menjaga konservasi keragaman hayati

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Warga Aceh Jaya selamatkan 117 telor penyu belimbing

Banda Aceh (ANTARA News) – Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja, Aceh Jaya bersama warga setempat memindahkan atau menyelamatkan 117 butir telur penyu belimbing (Dermochelys coriacea) yang dilindungi undang-undang.

“Telur penyu belimbing di bibir pantai Aceh Jaya sebanyak 117 butir sudah kami selamatkan,” kata Koordinator Tim Konservasi Penyu Aroen Menbanja, Aceh Jaya, Dedi, saat dihubungi Antara dari Banda Aceh, Senin.

Selain warga setempat, pemindahan telur penyu belimbing itu juga melibatkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penanggulangan Kebencanaan (PK) Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh.

Ia menjelaskan penyu belimbing salah satu spesies dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Pemindahan telur penyu pada Sabtu (2/2) untuk tujuan penyelamatan dan dibenarkan oleh undang-undang,” ujar dia.

Dedi menyatakan penyu belimbing itu bertelur sekitar 10 meter dari bibir pantai setempat. Jika tidak dipindahkan, dikhawatirkan basah saat air pasang sehingga tidak akan menetas.

Hal itu, katanya, artinya pemindahan telur penyu belimbing itu untuk menghindari basah saat air pasang.

“Telur penyu itu menetas maksimal 70 hari dan nanti akan dilepas liarkan kembali,” katanya.

Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja, Aceh Jaya sejak 2012 hingga sekarang telah melepaskanliarkan tukik atau penyu 11 ribuan di wilayah tersebut.

Pasal 19 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 menyebutkan setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam.

Pada Pasal 40, barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 Ayat 1 dan Pasal 33 Ayat 1 dipidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp200 juta.

Baca juga: Ratusan telur penyu yang akan dijual diamankan di Jember
Baca juga: Penyu mulai bertelur di pesisir selatan DIY

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pencinta alam imbau masyarakat hentikan pembunuhan buaya

Sungailiat, Babel, (ANTARA News) – Ketua Umum Komunitas Pencinta Alam dan Relawan (Pelawan) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tri Harmoko mengajak masyarakat di daerah itu menghentikan pembunuhan buaya.

“Saya mengajak masyarakat untuk menghentikan pembunuhan binatang buaya. Dan buaya yang tertangkap harus ditangkar,” katanya di Sungailiat, Senin.

Dia menyarankan agar masyarakat yang menangkap buaya hendaknya terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKDSDA) setempat atau dipindahkan ke habitat yang masih layak untuk kehidupannya.

Dikatakan, buaya salah satu hewan predator yang memiliki peranan penting dalam ekosistem di sungai, rawa, kolong. Terjadinya penyerangan buaya pada beberapa tempat kepada manusia dengan kesalahan ditimpakan kepada buaya adalah sebuah pemikiran yang keliru.

“Suatu anggapan yang keliru ketika buaya menyerang manusia atau warga disalahkan pada binatang tersebut, padahal proses alamiah itu terjadi karena habitatnya terganggu, cadangan makanan buaya menipis,” jelasnya.

Menurut dia, perilaku manusia yang kerap menganggu saat buaya muncul di permukaan air, sehingga naluri pada binatang itu melakukan perlawanan.

“Serangan buaya dibalas dengan perburuan buaya hingga pembunuhan menjadi fenomena berulang yang mendesak ekosistem buaya,” katanya.

Perlakuan itu, kata Tri Harmoko, menganggu rantai makananan yang mana apabila buaya terus diburu akan mengakibatkan terjadi ketidakseimbangan rantai makanan dengan predator tertinggi yang ada seperti babi dan monyet hingga mengakibatkan masalah baru berupa terlalu banyak babi atau monyet dan sejenisnya sebagai hama bagi peternakan atau pertanian.

Padahal untuk kesimbangan alam, buaya lah menjadi pemangsa monyet atau babi dalam rantai makanan. “Untuk itu, bijaknya tidak membalas serangan buaya dengam perburuan hingga pembunuhan buaya, tetapi lebih kepada menjaga ekosistemnya dan tidak mengganggu cadangan makanannya,” ujar Tri.*

Baca juga: Buaya raksasa resahkan warga Bangka akhirnya tertangkap-mati

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Kalteng pasang perangkap buaya pemangsa di Sungai Seranggas

Sampit (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah memasang perangkap dan alat pancing untuk menangkap buaya pemangsa di Sungai Seranggas Desa Lempuyang, Kabupaten Kotawaringin Timur.

“Sampai saat ini belum ada hasil. Rencananya alat pancing dan perangkap buaya itu akan dipasang selama satu minggu,” kata Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit Kotawaringin Timur Muriansyah di Sampit, Selasa.

Ia menjelaskan konflik antara buaya dengan manusia kembali menjadi perhatian masyarakat setempat. Mereka khawatir karena aktivitas buaya makin meningkat dan dirasakan membahayakan keselamatan mereka.

Pada Jumat (1/2), sekitar pukul 18.30 WIB, seorang warga Dusun Seranggas, Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit bernama Julhaidir (41), diterkam buaya saat mandi di sungai. Akibatnya, tangan kirinya putus.

Buaya sempat menyeret korban ke sungai. Saat tangannya putus akibat gigitan buaya, korban berenang ke permukaan sungai dan berteriak meminta pertolongan warga, sebelum buaya itu muncul lagi.

Setelah kejadian, Tim BKSDA dari Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat didatangkan ke Kotawaringin Timur untuk menangkap buaya tersebut. Mereka membawa perangkap buaya yang terbuat dari besi berbentuk sangkar berukuran besar.

Perangkap dipasang tidak jauh dari lokasi serangan buaya. Tim juga memasang pancing buaya dengan umpan seekor bebek untuk menarik buaya pemangsa itu muncul.

Saat terjadi serangan buaya di anak Sungai Remiling Kecamatan Seranau beberapa waktu lalu itu, Tim BKSDA juga mencoba menangkap buaya dengan cara memancing menggunakan umpan bebek. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil.

“Dalam beberapa hari ini akan ada evaluasi, terutama untuk lokasi pemasangan dan umpan. Perangkap dan pancing buaya itu terus kami pantau,” kata Muriansyah.

Populasi buaya di Sungai Mentaya diperkirakan masih cukup banyak karena warga masih sering melihat buaya muncul di perairan dekat permukiman.

Aktivitas buaya yang mengganas dan menyasar perairan kawasan permukiman diduga karena kelaparan karena sumber makanan di habitat mereka makin sulit didapat.

Muriansyah meminta masyarakat lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai karena buaya masih berkeliaran.

Masyarakat juga diimbau tidak beraktivitas di sungai saat hari gelap karena rawan serangan buaya.

“Dari beberapa kasus yang terjadi, serangan buaya terjadi saat menjelang malam hingga subuh,” ujarnya.*

Baca juga: Tangan nelayan putus diterkam buaya

Baca juga: Pencinta alam imbau masyarakat hentikan pembunuhan buaya

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penelitian Hiu Tikus

Mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP)  Universitas Syiah Kuala mengukur panjang ikan Hiu Tikus (thresher Shark) sebagai bahan penelitian di Pelabuhan Perikanan Koutaraja, Banda Aceh, Selasa (5/2/2019). Penelitian tersebut untuk mendata dan mengetahui tingkat kepunahan, kematian, dan penyakit, terkait menurunnya populasi hiu itu. ANTARA FOTO/Ampelsa/foc.

Warung kopi galang dana pelestarian penyu Aceh Jaya

Banda Aceh (ANTARA News) – Salah satu warung kopi, Leuser Caffee, di Banda Aceh, mengalang dana melalui penjualan bubuk kopi Arabica untuk pelestarian penyu di Panga, Kabupaten Aceh Jaya. 

“Kami menyisihkan 50 persen dari hasil penjualan bubuk kopi Arabica dengan kemasan khusus pemeliharaan penyu Panga yang bekerja sama dengan Komonitas Aroen Meubanja,” kata Pemilik Leuser Coffee, Danurfan di Banda Aceh Aceh, Jumat. 

Ia menjelaskan dana yang terkumpul dari penggalangan dana dari penjualan kopi Arabica akan dimanfaatkan untuk program pemeliharaan penyu di Panga, sehingga populasi terus terjaga. 

Ia menyebutkan untuk penjualan kopi Arabica dengan kemasan khusus pemeliharaan penyu dihargai Rp75.000 dengan isi 250 gram.

“Pemeliharaan yang dilakukan termasuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak mengkonsumsi lagi telur penyu,” kata Danurfan.

Ia menjelaskan dalam program pemeliharaan penyu tersebut masyarakat yang tergabung dalam komunitas tersebut juga akan melakukan patroli di daerah kawasan pantai yang menjadi lokasi penyu bertelur.

Danurfan mengatakan donasi yang dilakukan tersebut tidak terlepas dari konsep konservasi yang diusung dari kehadiran usaha Leuser Coffee. 

Ia mengatakan penggalangan tersebut akan dilakukan hingga Maret 2019 dan saar ini yang sudah terkumpul Rp765 ribu. 

Ia menambahkan sebelumnya pihaknya juga telah menggalang dana pengobatan anak gajah yang diberi nama Amirah.

Baca juga: LSM jajagi konservasi penyu di Simeulue

Baca juga: Yogyakarta gencarkan kaderisasi penyelamat penyu

Baca juga: Bantul kembangkan konservasi penyu di empat pantai
 

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua warga tewas diterkam buaya di Maluku

Ambon (ANTARA News) – Satu warga Negeri Makariki di Kabupaten Maluku Tengah dan satu warga Desa Atubul Dol di Kecamatan Wertambrian, Kabupaten Maluku Tengara Barat, tewas diterkam buaya menurut pejabat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku.

“Di hari yang sama Kamis (7/2) dua warga di lokasi yang berbeda tewas secara mengenaskan diterkam buaya,” kata Kepala BKSDA Maluku Mukhtar Amin Ahmadi, Jumat.

Adamalik Batalata (48) tewas diterkam buaya di perairan Desa Atubul Dol, sementara Jonias Makaweru (37) diterkam harimau di muara Sungai Ruata di Negeri Makariki saat mencari ikan pada Kamis (7/2).

“Petugas BKSDA bersama warga mencari bagian tubuh korban yang diduga masih ada di Sungai Ruata, tetapi tidak ditemukan bagian tubuh korban,” kata Mukhtar tentang upaya pencarian jasad Jonias.

Sementara Adamalik Batalata sempat mendapat pertolongan dari dua nelayan yang mencari ikan tak jauh darinya di perairan Desa Atubul Dol. Dua nelayan itu memanah buaya yang menerkam Adamalik hingga melepaskan terkamannya.

“Korban mengalami luka gigitan tetapi korban tidak tertolong, kedua nelayan membawa pulang jenazah dan melaporkan peristiwa ini ke Kepala Desa,” kata Mukhtar.

Petugas BKSDA terus melakukan pemantauan di lokasi kejadian. “Kami terus melakukan pemantauan di lapangan, mengimbau warga untuk selalu waspada dan tidak beraktivitas di lokasi rawan buaya,” kata Mukhtar.

Baca juga:
Serangan buaya menewaskan seorang bocah di Riau
Pekanbaru perlu rambu peringatan bahaya buaya

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

25 monyet akan dilepasliarkan ke Pulau Nusa Barong

Jember, 8/2 (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bekerja sama dengan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) akan melepasliarkan 25 monyet ke Cagar Alam Pulau Nusa Barong di kawasan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 20 Februari.

Sebelum pelepasliaran, monyet-monyet ekor panjang dan monyet yang sebelumnya digunakan untuk pertunjukan topeng monyet itu ditempatkan di kawasan City Forest and Farm Arum Sabil di Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jumat sore.

“Monyet itu berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, baik dari hasil sitaan, hasil penyerahan, maupun penertiban topeng monyet,” kata Kepala BKSDA Wilayah III Jember Setyo Utomo di Jember, Jumat.

Ia menjelaskan monyet-monyet itu sudah menjalani tahapan rehabilitasi sebelum pelepasliaran dan dalam dua pekan terakhir dititipkan di City Forest and Farm Arum Sabil Jember.

“Saya juga mengimbau kepada masyarakat yang memiliki peliharaan monyet agar diserahkan kepada pihak yang berwenang atau BKSDA karena hewan tersebut dapat membahayakan warga yang memilikinya dan masyarakat sekitar,” tuturnya.

Kepala Polres Jember AKBP Kusworo Wibowo mengatakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah mengeluarkan surat edaran tentang pelarangan topeng monyet dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur menindaklanjutinya dengan melakukan penertiban. Hasilnya, BKSDA menyita dan menerima 25 monyet.

“BKSDA Jatim menyerahkan 25 ekor monyet itu kepada Jakarta Animal Aid Network untuk direhabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Hari ini puluhan monyet ekor panjang transit lebih dulu ke kawasan City Forest and Farm Arum Sabil, yang sudah disurvei layak untuk tempat transit,” katanya.

“Saya juga mengimbau masyarakat yang memelihara monyet untuk diserahkan kepada BKSDA, karena monyet-monyet tersebut sangat berbahaya dan bisa menyerang anak-anak, bahkan monyet tersebut kadang bisa menularkan penyakit yang berbahaya bagi kesehatan manusia,” ia menambahkan.

Baca juga:
Desa Sidoarjo pertahankan monyet ekor panjang
50 satwa topeng monyet disita di Jabar

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aktivis kritik penggunaan cenderawasih dalam kampanye Pemilu Papua

Jayapura  (ANTARA News) – Aktivis lingkungan  Yasminta Ridhian Wasaraka mengkritik penggunaan bulu burung Cenderawasih yang dibuat menjadi ikat kepala atau atribut lainnya untuk berkampanye dalam pemilu 2019 di Papua.

 “Selalu begitu, setiap ada Pemilu semua ingin dihormati, ingin dianggap merakyat dengan simbol ketokohan. Ikat kepala atau mahkota yang terbuat dari bulu burung Cenderawasih lantas dipakai sebagai pemanis, dan bukan satu tapi banyak sekali,” katanya di Kota Jayapura, Papua, Rabu.

 Kritikan ini sengaja dilontarkan oleh pengurus Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG) Jayapura itu terkait maraknya baliho, spanduk, hingga stiker para politisi yang akan bertarung dalam pemilu legislatif 2019.

 Ia menyebut bahwa seharusnya sudah ada paradigma baru dalam berkampanye yang juga memiliki poin positif dalam lingkungan, sehingga tak perlu menyematkan atribut yang diambil dari satwa yang sesungguhnya dilindungi.

 “Cenderawasih sudah jelas dilindungi dan saya heran kalau para calon wakil kita ini menggunakan dengan mudahnya hanya untuk menunjukkan jika ia memiliki kedekatan dengan masyarakat atau merasa diri tokoh Papua padahal menggunakan atribut dari satwa dilindungi,” katanya yang akrab disapa Dian.

 Dian yang juga Sekretaris Eksekutif Rumah Belajar Papua atau akrab disebut RBP ini mengajak agar para calon wakil rakyat lebih elegan dalam berkampanye, sehingga bisa mendapatkan simpati dari para pemilih.

 “Silahkan kita nilai calon wakil yang seperti ini,” ujar Dian yang dalam waktu dekat ini akan meluncurkan buku tentang Suku Korowai.

 Senada itu disampaikan Ketua FPPNG Fredy Wanda bahwa ada cara lain yang bisa digunakan untuk diterima masyarakat tanpa harus menunjukkan sikap yang tak mendukung isu konservasi.

 “Saya pikir dunia mengakui jika Cenderawasih dilindungi dan Pak Gubernur Papua juga sudah menyatakan itu lewat surat edaran bahkan Menteri KLHK juga menyetujui petisi tentang pelarangan mahkota Cenderawasih dan segala sesuatu yang berkaitan dengan satwa endemik yang dilindungi,” katanya.

 Untuk itu, mantan polisi hutan itu meminta kepada publik agar memberi penilaian terhadap calon wakil rakyat yang tidak bijak dengan kebanggaan Papua itu.

 “Ada noken yang sudah membumi, kenapa bukan itu saja yang dipakai. Saya pikir kita perlu bijak dalam bersikap dengan memberi dukungan pada pelestarian satwa dilindungi apalagi mahkota inikan budaya Papua dan sebaiknya ?jangan dikaitkan dengan politik,” katanya.

Baca juga: Kapolri imbau partai dan caleg lakukan kampanye santun
 Baca juga: Bawaslu: ASN tidak diperkenankan pakai atribut kampanye

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

KLHK: Penutupan kawasan Taman Nasional Komodo masih dalam pembahasan

Jakarta (ANTARA News) – Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno mengatakan rencana  penutupan Taman Nasional Komodo (TN Komodo) di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut. 

“Wacana penutupan sementara TN Komodo yang bertujuan untuk melakukan perbaikan tata kelola khususnya untuk mendukung tujuan konservasi, perlu segera dibahas antara Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pariwisata, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Keuangan,” kata  Wiratno di Jakarta, Senin. 

Pengelolaan TN Komodo berada di bawah Direktorat Jenderal KSDAE KLHK, sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan bidang lingkungan hidup dan Kehutanan.
 
Peraturan perundangan tersebut yaitu UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, UU No.23/2014 tentang Pemerintahan Daerah, PP No.28/2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, Perpres No.16/2015 tentang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.18/MENLHK-II/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.7/MENLHK/SETJEN/OTL.0/1/2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional.

Wiratno mengatakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan cq Direktur Jenderal KSDAE memiliki kewenangan untuk menutup atau membuka kembali suatu taman nasional, berdasarkan pertimbangan ilmiah, fakta lapangan, kondisi sosial ekonomi dan masukan dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten serta para pihak lainnya.

“Dengan demikian penutupan kawasan taman nasional menjadi kewenangan Direktorat Jenderal KSDAE KLHK,” ujar Wiratno.

Dia juga mencontohkan kasus penutupan pendakian sementara di TN Gunung Rinjani, TN Gunung Merapi, TN Bromo Tengger Semeru, karena terjadi erupsi gunung berapi dan kondisi cuaca ekstrim. 

“Dapat juga dikarenakan adanya kerusakan habitat, atau gangguan terhadap satwa liar yang dilindungi, akibat dari aktivitas pengunjung, bencana alam, dan mewabahnya hama dan penyakit seperti di TN Way Kambas,” lanjutnya.

Berdasarkan monitoring Balai TN Komodo dan Komodo Survival Programme, pada 2017, jumlah populasi komodo sebanyak 2.762 individu yang tersebar di Pulau Rinca (1.410), Pulau Komodo (1.226), Pulau Padar (2), Pulau Gili Motang (54) dan Pulau Nusa Kode (70). Sedangkan populasi rusa adalah sebanyak 3.900 individu dan kerbau sebanyak 200 individu.

Pada 2018, ditemukan satu individu komodo mati secara alamiah karena usia. Ancaman terhadap spesies biawak besar ini adalah masih ditemukannya perburuan rusa, namun saat ini program breeding rusa telah dibangun di Kecamatan Sape Kabupaten Bima, untuk mengurangi tingkat perburuan rusa di TN Komodo.*

Baca juga: Wapres: TN ditutup atau tidak, komodo tetap perlu makan

Baca juga: Peneliti LIPI: rumah penetasan lebih efektif tingkatkan populasi komodo

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pengelolaan kebun binatang Taman Rimbo

Seekor Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) betina berumur 13 tahun, Uni berjalan di dalam kandang Kebun Binatang Taman Rimbo, Jambi, Senin (28/1/2019). BKSDA Jambi mengevaluasi pengelolaan kebun binatang oleh UPTD Kebun Binatang Taman Rimbo pascakematian beruntun seekor Harimau Sumatra betina bernama Ayu (8 tahun) akibat penyakit paru-paru basah (Pneumonia) dan seekor Singa (Phantera leo) jantan bernama Hori (11 tahun) akibat sakit di bulan ini. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc.

15 persen burung endemik Indonesia terancam punah

Padang (ANTARA News) – Sekurangnya 15 persen dari sekitar 400 jenis burung endemik Indonesia berada diambang kepunahan karena rusaknya habitat serta perburuan oleh oknum.

“Di Indonesia ada sekitar 1.771 jenis burung, 400 jenis di antaranya adalah endemik. Burung endemik itu sebagian sudah terancam punah,” kata Presiden Indonesian Ornithology Union (IdOU) Ignatius Pramana Yuda di Padang, Senin.

Ia mengatakan itu dalam Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KPPBRI) ke V bekerja sama dengan Jurusan Biologi Universitas Andalas (Unand).

Jenis burung yang terancam punah itu diantaranya jalak putih (Sturnus melanopterus), ekek-geling jawa (Cissa thalassina), trulek jawa (Vanellus macropterus) , kakatua, elang, rangkong gading, jalak bali dan jenis kuau raja yang menjadi endemik Sumbar.

Menurut Ignatius, ulah manusia menjadi ancaman terbesar untuk kelangsungan hidup beberapa jenis burung di Indonesia. Perburuan dan upaya memperjualbelikan burung untuk dipelihara membuat populasi burung berkurang drastis.

Padahal berdasarkan Undang-undang No 5 Tahun 1990 Tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pemburu, penangkap serta penjual satwa liar di Indonesia bisa dikenai pidana.

Dalam pasal 40 UU Nomor 5 tahun 1990 ayat 2 disebutkan bahwa hukuman pidana bagi pihak-pihak yang memperjualbelikan di dalam atau negeri, memburu, dan menyimpan dalam bentuk hidup atau mati tumbuhan dan satwa yang dilindungi adalah kurungan penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah.

Ia berharap ada aturan turunan dari UU itu hingga ke tingkat desa atau nagari agar semua pihak menjadi lebih awas dan bisa berpartisipasi dalam pelestarian satwa dilindungi.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyatakan dukungan terhadap upaya pelestarian satwa endemik milik daerah, termasuk jenis burung.

Namun kendala selama ini, tidak semua masyarakat mengetahui jenis burung yang dilindungi dan terancam punah itu sehingga perburuan masih menyasar jenis tersebut.

“Butuh informasi dan rekomendasi terkait jenis atau spesies burung yang harus dilindungi ini agar pemerintah daerah bisa menyikapi,” ujarnya.

Jenis burung di Sumbar sangat beragam karena memiliki kawasan taman nasional seluas 1,2 juta hektar dengan 500 hektar diantaranya masih alami untuk menjaga habitat beragam fauna yang ada di dalamnya.

“Ke depan kita akan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, serta merangkul organisasi dan masyarakat pecinta burung untuk membantu perlindungan jenis burung itu,” katanya.

Sementara itu Rektor Unand Tafdil Husni menyebutkan pihaknya memiliki wilayah kampus 500 hektar, dan 200 hektar diantaranya merupakan hutan lindung.

Kawasan hutan lindung itu adalah tempat penelitian jurusan biologi, termasuk tempat kawasan bebas berbagai jenis burung untuk berkembangbiak.

“Unand sangat peduli dan berperan aktif terkait konservasi serta menjaga lingkungan, termasuk menjaga keberadaan spesies burung. Bahkan, lebih 40 hasil penelitian dosen dan mahasiswa Unand terkait hal ini,” katanya.

Baca juga: Jenis burung khas Indonesia bertambah
Baca juga: Burung endemik Rote resmi bernama Myzomela irianawidodoae

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bangkai harimau Sumatera Taman Rimba Jambi dibakar

Jambi  (ANTARA News) – Bangkai harimau sumatera (Panthera tigris Sumatrae) yang mati di kebun binatang Taman Rimba Jambi telah dibakar untuk menghindari pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan bangkai spesimen satwa langka tersebut.

“Bangkainya sudah dibakar karena dari BKSDA Jambi tidak mau ambil risiko nantinya ada pihak yang memanfaatkan spesimen bangkai itu,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Rimba Jambi, Taufik Bukhari di Jambi, Senin.

Bangkai harimau Sumatera bernama Ayu yang berusia delapan tahun itu setelah mati pada Sabtu 26 Januari lalu langsung dibakar kemudian dikuburkan.

Sedangkan bangkai Singa yang bernama Hori yang juga mati pada Sabtu pekan lalu (19/1) itu juga telah dikuburkan setelah dilakukan bedah bangkai untuk mengetahui penyebab kematiannya.

“Kasus kematian kedua binatang buas, langka dan dilindungi itu sudah saya sampaikan semuanya ke Polda Jambi dan pihak Polda juga telah memeriksa terkait apakah ada unsur kesengajaan terkait kematian beruntun satwa ikonik tersebut,” kata Taufik Bukhari.

Selain itu, pasca-kematian beruntun dua ekor satwa yang dilindungi tersebut pihak Pemerintah provinsi (Pemprov) Jambi langsung mengevaluasi pengelolaan kebun binatang satu-satunya di Provinsi Jambi tersebut.

Sekda Provinsi Jambi juga hari ini langsung meninjau ke Taman Rimba guna mengetahui langsung dan meminta untuk melakukan pembenahan.

Sebelumnya, dua ekor satwa koleksi kebun binatang Taman Rimba Jambi, yakni harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) dan singa (panthera leo) mati karena sakit. Keduanya mati hampir berbarengan atau hanya selisih sepekan.

Harimau bernama Ayu mati, Sabtu (26/1) dinihari sekitar pukul 01.00 WIB diketahui akibat menderita penyakit paru-paru basah (Pneumonia) setelah dilakukan bedah bangkai oleh tim medis dokter hewan.

Sedangkan singa jantan dewasa yang bernama Hori yang kandang display-nya bersebelahan lebih dulu mati atau sepekan yang lalu, Sabtu (19/1).

Singa jantan dewasa yang sekitar dua tahun telah menghuni kebun binatang kebanggaan masyarakat Jambi itu diketahui mati juga akibat sakit.

“Hori mati mendadak, gejalanya menurut tim dokter terjadi pembengkakan pada jantungnya,” kata Kepala UPTD Taman Rimba Jambi, Taufik Bakhori.

Setelah kematian beruntun dua ekor satwa ikonik itu, saat ini Taman Rimba Jambi masih menyisakan satu ekor Harimau Sumatera, yakni Uni (induk Ayu) dan singa betina bernama Cinta yang sebelumnya didatangkan dari Taman Satwa Siantar, Sumatera Utara.

Baca juga: Harimau dan singa di Taman Rimba Jambi mati
 Baca juga: Kronologis kematian singa dan harimau di Jambi

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bangkai dugong ditemukan terdampar di pesisir Karimun

Karimun, Kepri  (ANTARA News) – Bangkai seekor dugong dengan bobot hampir setengah ton ditemukan terdampar di pesisir pantai Kelurahan Teluk Uma, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, Senin.

Bangkai dugong atau duyung tersebut ditemukan nelayan bernama Zaini dalam kondisi membusuk.

“Diperkirakan sudah mati 2 atau 3 hari,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Karimun Ruffindy Alamsyah di lokasi penemuan bangkai dugong tersebut.

Menurut Ruffindy, temuan bangkai dugong tersebut baru pertama kali terjadi di Karimun dan kemungkinan terseret arus. “Perairan Karimun juga bukan habitat dugong,” katanya.

Di tempat yang sama, koordinator Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang Satker Tanjungpinang Ice Muhammad Rizqan mengatakan, bangkai dugong tersebut berjenis kelamin betina dan mengalami pembusukan tingkat lanjut, terdampar dengan kondisi perut pecah.

Bobot bangkai dugong tersebut, jelas dia, sekitar sekitar 400 kilogram, panjang sekitar 3,4 meter, lingkar badan 187 centimeter, lebar 115 cm dan lebar sirip 23 cm.

“Kami menduga dugong ini terseret arus gelombang musim angin utara,” katanya.

Ia mengatakan bangkai dugong tersebut merupakan yang terberat yang pernah ditemukan di Kepulauan Riau.  Penemuan bangkai dugong menjadi tontonan warga yang penasaran dengan mamalia langka tersebut.

“Sekilas mirip anjing laut. Tapi setelah saya amati, ?bentuk kepalanya berbeda dengan anjing laut,” kata salah seorang warga.

Bangkai dugong tersebut langsung dikubur di lokasi dengan menggunakan alat berat yang dipinjam dari perusahaan setempat.

Mengutip Wikipedia, dugong atau dugon atau duyung adalah sejenis mamalia laut yang merupakan salah satu anggota Sirenia atau lembu laut yang masih bertahan hidup hingga usia 22 sampai 25 tahun.

Duyung bukanlah ikan karena menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat?evolusi?dari?gajah. Ia merupakan satu-satunya hewan yang mewakili suku Dugongidae.

Selain itu, ia juga merupakan satu-satunya lembu laut yang bisa ditemukan di kawasan perairan sekurang-kurangnya di 37 negara di wilayah Indo-Pasifik walaupun kebanyakan duyung tinggal di kawasan timur Indonesia dan perairan utara Australia.

Baca juga: Pakar kelautan sebut mamalia mati di Riau bukan dugong
Baca juga: Dalam sepekan dua dugong ditemukan mati di Dumai, Riau

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kontes kucing di Bali

Juri memeriksa tubuh kucing saat kontes kucing “Catzvaganza” di Kuta, Badung, Bali, Minggu (27/1/2019). Kontes yang diikuti puluhan kucing berbagai jenis tersebut menggelar berbagai kegiatan seperti lomba ketangkasan kucing, peragaan kostum kucing serta pemberian vaksin bagi kucing peliharaan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pras.

BKSDA Maluku lepasliarkan rusa timor ke Pulau Seram

Ambon,  (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Maluku kembali melepasliarkan tiga ekor satwa liar jenis rusa timor (Cervus Timorensius Mollucensis) ke habitatnya di kawasan hutan lindung kaki Gunung Manusela, Pulau Seram, Kabupaten Maluku Tengah.

“Ketiga ekor rusa timor itu merupakan hasil penyerahan masyarakat Ambon secara sukarela, dan dilakukan pelepasliaran oleh petugas pada Sabtu (26/1),” kata Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi, di Ambon, Minggu.

Ia menjelaskan bahwa setelah dilakukan penangkapan, petugas melakukan perjalanan ke lokasi pelepasliaran di kaki Gunung Manusela, Pulau Seram.

Sesampainya di lokasi, ketiga rusa tersebut langsung dilepasliarkan, katanya.

Menurut dia, satwa tersebut dipelihara di atas lahan seluas dua hektare di kawasan Desa Passo selama tiga tahun, sehingga rusa tersebut benar-benar liar.

Proses menangkap ketiga ekor rusa di tempat pemeliharaanya dibutuhkan waktu dua hari.

Hari pertama penangkapan dipimpin drh Dirwan, dengan cara memberikan obat bius oral (anastesi) yang dicampurkan ke dalam makanan.

Tetapi upaya tersebut tidak berhasil, karena dosis obat yang dibutuhkan sampai rusa terbius sulit terpenuhi akibat obat tersebut tidak termakan oleh rusa.

“Selanjunya penangkapan di hari kedua penangkapan menggunakan perangkap jaring yang dibantu 10 orang masyarakat sekitar lokasi,” katanya.

Mukhtar mengakui, petugas awalnya mengalami kesulitan untuk melakukan penggiringan rusa tersebut untuk masuk ke dalam jaring, tetapi akhirnya dengan kesabaran yang tinggi rusa dapat ditangkap.

Setelah rusa masuk jaring, segera diberikan obat bius suntik dengan dosis tertentu agar rusa tidak mengamuk.

Ketiga ekor rusa yang diliarkan terdiri atas satu ekor jantan dengan tanduk yang sudah bercabang dan diperkirakan berusia empat tahun, sedangkan dua ekor betina dara usia sekitar dua tahun.

Ia mengimbau masyarakat jika ada yang masih memelihara satwa jenis rusa atau jenis lainnya yang dilindungi, agar segera diserahkan secara sukarela ke BKSDA untuk diliarkan kembali ke habitatnya.

“Jika ada masyarakat yang hobi memelihara rusa, maka dapat mengusulkan kepada BKSDA Maluku melalui izin penangkaran rusa sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” demikian Mukhtar Amin Ahmadi.

Baca juga: Empat ekor penyu sisik dilepasliarkan BKSDA Maluku

Baca juga: BKSDA Maluku selamatkan 1.007 tumbuhan dan satwa dilidungi

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Jambi evaluasi kebun binatang terkait kematian hewan

Jambi (ANTARA News)- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi mengevaluasi pengelolaan  Taman Rimba Jambi terkait kematian beruntun dua ekor satwa yakni harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan singa (Panthera leo) di kebun binatang itu.

“BKSDA melakukan evaluasi dengan melibatkan beberapa ahli yang nantinya untuk merumuskan rekomendaisnya seperti apa,” kata Kepala BKSDA Jambi Rahmat Simbolon dalam gelaran jumpa pers di Jambi, Minggu.

Saat ini pihaknya tengah menunggu hasil evaluasi yang dilakukan oleh tim. Kemudian hasil rekomendasi dari evaluasi tersebut akan dijadikan sebagai bahan untuk langkah selanjutnya.

“Dan yang menerbitkan izin LK (Lembaga konservasi) itu pusat. Saat ini izin LK tersebut masih aktif dan sudah kitalakukan peninjauan dan ada beberapa catatan,” katanya.

Pascakematian beruntun dua ekor satwa ikonik di kebun binatang tersebut tim BKSDA, menurut Rahmat, juga akan melakukan medical chek-up terhadap semua satwa yang menjadi koleksi kebun binatang satu-satunya di Provinsi Jambi itu.

Harimau sumatera betina yang sebelumnya ditemukan mati pada Sabtu dini hari (26/1), sekitar pukul 01.00 WIB, bernama Ayu berusia delapan tahun. Tim dokter hewan menemukan penyebab kematiannya akibat menderita penyakit paru-paru basah (Pneumonia). 

Sedangkan singa jantan dewasa yang bernama Hori yang kandang display bersebelahan dengan kandang Ayu itu lebih dulu mati atau sepekan yang lalu, Sabtu (19/1).

Singa jantan dewasa yang sekitar dua tahun telah menghuni kebun binatang kebanggan masyarakat Jambi itu, diketahui mati karena sakit. “Shiro mati mendadak, gejalanya menurut tim dokter terjadi pembengkakan pada jantungnya,” kata Kepala UPTD Taman Rimba Jambi Taufik Bakhori.

Setelah kematian beruntun dua ekor satwa ikonik itu, saat ini Taman Rimba Jambi masih menyisakan satu ekor harimau sumatera, yakni Uni (induk Ayu) dan singa betina bernama Cinta yang sebelumnya didatangkan dari Taman Satwa Siantar, Sumatera Utara.

Baca juga: Harimau dan singa di Taman Rimba Jambi mati

Baca juga: Empat anak harimau sumatera diperkenalkan di Kebun Binatang Tierpark, Jerman

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pasukan kuning Singkawang temukan ikan berkepala buaya

  Pontianak,  (ANTARA News) – Pasukan Kuning Singkawang, Kalimantan Barat dihebohkan dengan penemuan seekor ikan berkepala buaya tepatnya di saluran di Jl Tani Gang Kelapa Dua, Kelurahan Kuala, Kecamatan Singkawang Barat.

Kepala UPT Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Singkawang, Rustam Effendy di Singkawang, Minggu, mengatakan, ditemukannya seekor ikan berkepala buaya itu ketika dia bersama anak buahnya sedang membersihkan saluran yang terletak di Jl Tani Gang Kelapa Dua.

 “Sewaktu pembersihan parit sedang berjalan, anak buah saya melihat ada seekor ikan sedang berenang,” kata Rustam.

Tetapi, sewaktu mau ditangkap, ikan tersebut sempat lari. “Anggota ke kanan, dia (ikan) ke kiri. Begitu seterusnya,” ujarnya.

Namun, upaya yang dilakukan tak sia-sia, akhirnya anak buahnya berhasil menangkap seekor ikan berkepala aneh tersebut.

“Anehnya, sewaktu ditetak pakai parang, badan ikan tersebut tidak apa-apa, bahkan sisiknya pun tidak tergores sama sekali, keras kulitnya,” ungkapnya.

Sekarang ini, ikan berkepala aneh itu sedang dibawa anak buahnya. “Tidak tahulah mau diapakan. Sewaktu dibawa pakai mobil pun, ikannya masih menggelepar,” katanya.

Secara terpisah, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang, Dani Arief Wahyudi, menduga jika ikan yang ditemukan merupakan ikan sejenis predator yang berasal dari perairan daerah tropis Amerika Selatan.

“Ikan ini dinamakan ikan Arapaima Gigas,” katanya.

 Jika dibiarkan, katanya, cukup berbahaya karena bisa mendominasi spesies lokal.

Arapaima Gigas yang merupakan ikan air tawar terbesar di dunia dari perairan daerah tropis Amerika Selatan dan berbahaya bila dibudidayakan di Indonesia.

Habitat asli spesies ikan Arapaima ini berasal dari Sungai Amazon yang mempunyai iklim tropis. “Sehingga penyebarannya ada pada daerah iklim tropis, di antaranya Indonesia, Australia bagian utara, Papua Nugini, dan tentu Amerika Selatan,” ucap Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Hasil Perikanan KKP, Rina.

Dengan demikian, peluang penyebaran di Indonesia cukup tinggi. Sebab, pada prinsipnya penyebaran secara alami bisa terjadi pada daerah yang beriklim sama dengan habitat aslinya, padahal keseluruhan spesies Arapaima sp itu bersifat invasif.

Baca juga: KKP paparkan karakteristik ikan berbahaya Arapaima gigas
 Baca juga: Ikan Mirip Buaya Ditangkap Warga Banjar

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tujuh bunga Rafflesia gagal mekar di Agam

Lubukbasung (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam, Sumatera Barat, menemukan tujuh knop atau calon bunga Rafflesia jenis tuan-mudae gagal mekar di kawasan Cagar Alam Maninjau Marambuang, Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan.

Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam, Ade Putra di Lubukbasung, Sabtu, mengatakan tujuh knop bunga rafflesia yang gagal mekar itu berada di titik petak pengamatan dengan diameter sekitar lima meter.

“Knop bunga rafflesia itu dengan kondisi membusuk berdasarkan pengamatan di lokasi,” ujarnya.

Menurutnya tumbuhan yang dilindungi itu gagal mekar akibat curah hujan cukup tinggi melanda daerah itu pada akhir 2018, sehingga menyebabkan udara di lokasi itu menjadi lembab.

Selain itu juga akibat aktivitas satwa di kawasan Cagar Alam Maninjau.

“Kami menemukan jejak kaki babi hutan di sekitar tumbuhan langka ini,” sebutnya.

Selain knop bunga gagal mekar, tambahnya di lokasi itu juga ditemukan tujuh bunga yang sudah melalui fase mekar sempurna.

Diperkirakan bunga itu mekar sempurna pada beberapa minggu yang lalu.

“Bunga itu mekar sempurna berbagai ukuran dan kita tidak bisa menentukan diameter akibat bunga sudah membusuk,” katanya.

Sebelumnya, BKSDA Resor Agam menemukan 46 knop bunga rafflesia di Cagar Alam Maninjau Marambuang.

Dari 46 knop itu, sekitar 26 knop yang sudah mekar sempurna dan gagal mekar. Saat ini masih tinggal sekitar 25 knop yang akan mekar beberapa bulan lagi.

“Pada Sabtu (26/1), pihaknya menemukan dua individu baru di lokasi tersebut. Di lokasi ini juga pernah mekar bunga rafflesia terbesar di dunia dengan diameter 107 centimeter pada akhir 2017,” jelasnya.

BKSDA Resor Agam telah memasang papan imbauan di lokasi agar tidak diganggu warga, karena tumbuhan itu dilindungi Undang-undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Data Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Kedepan, lokasi ini akan dijadikan sebagai pusat atau stasiun pengamatan dan penelitian bunga rafflesia dan direncanankan akan dikembangkan pada 2019.

Pada 2018, mahasiswa dari Universitas Negeri Padang, Universitas Andalas Padang, Universitas Muhanmadiyah Sumatera Barat, Universitas Sumatera Utara dan Universitas Nasional Jakarta telah melakukan penelitian di lokasi.

Baca juga: Rejang Lebong-Bengkulu termasuk habitat bunga rafflesia, sebut BKSDA
Baca juga: BKSDA temukan lokasi baru Rafflesia

 

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Harimau dan singa di Taman Rimba Jambi mati

Jambi (ANTARA News) – Dua ekor satwa koleksi kebun binatang Taman Rimba Jambi, yakni Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) dan Singa (Panthera leo) mati karena sakit.

Kepala UPTD Taman Rimba Jambi, Taufik Bakhori dihubungi di Jambi, Sabtu, membenarkan dua ekor satwa di kebun binatang tersebut mati yang kejadiannya hampir berbarengan atau hanya selisih sepekan.

Harimau Sumatera betina tersebut bernama Ayu berusia delapan tahun yang mati Sabtu (26/1) dinihari sekitar pukul 01.00 WIB.

Satwa yang dikenal dengan julukan raja rimba itu, kata Taufik diketahui mati akibat menderita penyakit paru-paru basah (Pneumonia) setelah dilakukan bedah bangkai oleh tim medis dokter hewan.

“Hasil labor dari tim medis seperti itu, karena kemungkinan ini si Ayu (Harimau sumatera) suka tidur dilantai semen,” katanya.

Sedangkan Singa jantan dewasa yang bernama Shiro yang kandang display bersebelahan dengan kandang Harimau Sumatera itu lebih dulu mati atau sepekan yang lalu, Sabtu (19/1).

Shiro, Singa jantan dewasa yang sekitar dua tahun telah menghuni kebun binatang kebanggan masyarakat Jambi itu, diketahui mati juga akibat sakit.

“Shiro mati mendadak, gejalanya menurut tim dokter terjadi pembengkakan pada jantungnya,” katanya.

Setelah kematian beruntun dua ekor satwa ikonik itu, saat ini Taman Rimba Jambi masih menyisakan satu ekor Harimau Sumatera dan satu ekor Singa betina.

“Sekarang Harimau tinggal satu, yakni Uni (induk Ayu) dan Singa tinggal satu ekor betina,” katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Rahmat Simbolon saat dikonfirmasi membenarkan dan telah mengetahui kematian dua ekor satwa yang dilindungi itu.

Baca juga: Harimau mati terjerat seharusnya lahirkan dua anak
 

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pohon cemara udang ditanam Pemkot Surabaya untuk pemecah ombak

Surabaya, (ANTARA News) – Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, melakukan penanaman pohon cemara udang di kawasan pantai utara sebagai salah satu solusi untuk memecah ombak besar yang melanda pesisir tersebut.

“Selain bikin tanggul, kami juga tanami cemara udang. Jadi cemara udang itu untuk nahan ombak-ombak laut. Jadi ombak menghantam cemara udang dulu sebelum ke daratan,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Surabaya, Jumat.

Sejak awal kepemimpinannya, pihaknya terus melakukan penanaman pohon cemara udang di tepi pantai utara, seperti kawasan Bulak, Kenjeran, hingga sekitar Jembatan Suramadu.?

“Karena daerah tersebut tidak bisa ditanami mangrove sehingga kami memilih menaman pohon cemara udang,” katanya.

Ia menilai kawasan pantai lebih rawan terkena banjir. Ada dua faktor kemungkinan yang dapat menyebabkan wilayah pesisir banjir, yakni intensitas curah hujan tinggi dan timbulnya rob.

“Jadi memang yang daerah-daerah pantai itu menghadapi dua faktor,  curah hujan tinggi sama air rob. Makanya kita harus pintar-pintar menyiasati itu,” ujarnya.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya itu, menuturkan selain membangun tanggul untuk penghadang rob, penanaman pohon cemara udang juga penting sebagai metode pemecah ombak besar.

Dia mengharapkan pohon tersebut dapat mengurangi derasnya ombak sebelum mencapai daratan.

Ia mengatakan jika di luar negeri mereka biasa menggunakan alat konstruksi bangunan untuk memecah derasnya ombak sebelum mencapai daratan.

Namun, karena harganya realatif mahal, ia kemudian memilih menanam pohon cemara udang sebagai salah satu solusi.?

“Kalau yang mangrove, maka ombak dihadapi mangrove, tapi yang daerah-daerah seperti Bulak, Kenjeran, sekitaran Jembatan Suroboyo kan tidak bisa, makanya kita tanam cemara udang,” katanya.

Dia mengatakan pohon cemara udang memiliki struktur batang yang kuat dan proses penanamannya juga mudah.

Apalagi, katanya, pohon tersebut juga dapat membuat kawasan pesisir utara menjadi lebih rindang.

“Kira-kira lima tahunan sudah besar. Kita terus tanami itu, tambah makin maju, makin maju ke laut, untuk nanggkal pemecah ombak,” katanya.

Baca juga: Pepohonan cemara udang Pantai Bantul terancam hilang

Baca juga: Menteri Susi tinjau pemecah ombak di Jember

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rejang Lebong-Bengkulu termasuk habitat bunga rafflesia, sebut BKSDA

Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Bengkulu-Lampung mengatakan wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu termasuk salah satu habitat bunga rafflesia arnoldii.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Kantor Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu yang berada di Rejang Lebong, Hayu, Jumat mengatakan ditemukannya bungai rafflesia arnoldii yang tumbuh di daerah itu menunjukkan jika Kabupaten Rejang Lebong termasuk habitat puspa langka yang dilindungi tersebut.

“Jika melihat mekarnya bunga rafflesia dalam beberapa lokasi di Kabupaten Rejang Lebong dalam beberapa tahun belakangan menunjukkan jika daerah ini termasuk habitat dari bunga rafflesia arnoldii,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam dua tahun belakangan pihaknya setidaknya sudah empat kali menerima laporan dari masyarakat di beberapa di Rejang Lebong yang melaporkan temuan bunga rafflesia yang mekar di tempat meraka, di antaranya pada 2017 di Hutan Lindung Bukit Balai Rejang dan di Desa Pal Batu, Kecamatan Selupu Rejang.

Sedangkan pada 2018, ada di Desa Air Dingin, Kecamatan Sindang Kelingi dan Desa Dataran Tapus, Kecamatan Bermani Ulu Raya, dan yang terbaru ditemukan mekar di Desa Kampung Melayu, Kecamatan Bermani Ulu pada Rabu (23/1).

“Di Desa Kampung Melayu ini kami baru tahu ini, dan rencananya kami akan ke lokasi untuk mengeceknya. Untuk menjaga kelestariannya, agar diperhatikan inang atau tempat bunga ini tumbuh agar tidak dirusak sehingga nantinya bisa tumbuh lagi,” kata Hayu.

Tanaman ini tumbuh setelah melakukan simbiosis yang terdiri dari akar dan pohon sebagai tempatnya inangnya menempel. Untuk itu inang pada pohon ini jangan sampai mati agar nantinya bunga endemik Bengkulu itu bisa kembali tumbuh di Rejang Lebong.

Sementara itu, itu sebaran bungan rafflesia arnoldii di Bengkulu di antaranya berada di cagar alam Taba Penanjung, cagar alam Pagar Gunung dan cagar alam Bukit Kaba. Selain itu, bunga ini juga sering tumbuh di kebun milik warga di luar kawasan hutan lindung.

Baca juga: Bunga bangkai mekar di lahan pertanian warga

Baca juga: Rafflesia Arnoldii mekar di Bukit Daun Bengkulu

Baca juga: Bengkulu ajak warga lestarikan habitat rafflesia arnoldii

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PLG Saree amankan gajah liar

Mahout Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menunggangi gajah jinak untuk menarik gajah liar (kiri) yang diamankan sementara di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Jumat (25/1/2019). BKSDA Aceh terpaksa mengamankan gajah liar yang diberi nama Septi karena merusak perkebunan warga di Kota Subulussalam. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/foc.

Semua pihak diajak Forina selamatkan orangutan

Pontianak, (ANTARA News) – Forum Orangutan Indonesia (Forina) mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama-sama dalam menjaga dan menyelamatkan satwa dilindungi, yakni orangutan.

“Khusus di Kalimantan Barat, ada dua sub spesies orangutan, yakni Pongo Pygmaeus Morio di utara Sungai Kapuas, dan Pongo Pygmaeus Wurmbii yang berada di selatan Kalbar,” kata Ketua Forina Aldrianto Priadjadti di Pontianak, Jumat.

Ia menjelaskan, di dua kawasan itu ada meta populasi (kelompok populasi) yang harus dijaga benar-benar agar populasi orangutan di Kalbar tidak sampai terancam, bahkan punah.

“Terutama meta populasi orangutan antarnegara seperti di Kabupaten Bengkayang, kemudian ada meta populasi di TNBK (Taman Nasional Netung Kerihun) di Kabupaten Kapuas Hulu yang tantangannya juga sangat besar, karena ada pengembangan perkebunan,” katanya.

Ia menambahkan, meta populasi orangutan tersebut harus dipetakan dan dijaga kelestariannya. “Untuk penjagaan tersebut tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan semua pihak, mulai dari pengambil kebijakan, sektor swasta, LSM, akademisi dan pemerhati lingkungan,” katanya.

Menurut dia, kalau meta populasi tersebut tidak diselamatkan, maka orangutan akan terencam punah. “Sementara populasi orangutan yang kecil-kecil mari kita carikan solusinya agar orangutan tidak terus terancam,” ujarnya.

Sementara itu, populasi orangutan, menurut data Forina di Pulau Kalimantan, yakni untuk jenis Pongo Pygmaeus Morio sebanyak 14.630 individu populasi liar di Kalimantan, kemudian jenis Pongo pygmaeus wurmbii sebanyak 38.200 individu (sekitar 2.760 individu di Kalbar, Kalteng, dan beberapa di Kalsel).

Sementara itu, Kasubag TU BKSDA Kalbar, Lidia Lili menyatakan, sekitar 90 persen orangutan berada di luar kawasan hutan lindung dan konservasi sehingga rawan konflik dengan manusia.

“Untuk menyelamatkan orangutan tersebut, maka dibutuhkan komitmen bersama dalam melindungi habitat orangutan itu agar tidak rusak atau tetap ada,” katanya.

Ia menjelaskan, orangutan adalah satwa yang harus dilindungi semua pihak, karena hanya ada di Indonesia dan sebagian kecil di Malaysia, dan di Indonesia hanya ada di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Baca juga: Peneliti: kondisi populasi orangutan Kalimantan kritis

Baca juga: BKSDA Kalimantan Barat sita orangutan dan kucing hutan

Baca juga: Ditemukan habitat orangutan di pembukaan lahan tanpa izin

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

90 persen orangutan berada di luar hutan lindung

 Pontianak  (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat menyatakan, sekitar 90 persen orangutan berada di luar kawasan hutan lindung dan konservasi sehingga rawan konflik dengan manusia.

 “Sehingga untuk menyelamatkan orangutan tersebut dibutuhkan komitmen bersama dalam melindungi habitat orangutan itu agar tidak rusak atau tetap ada,” kata Kasubag TU BKSDA Kalbar, Lidia Lili di Pontianak, Jumat.

 Ia menjelaskan, orangutan adalah satwa yang harus dilindungi semua pihak, karena hanya ada di Indonesia dan sebagian kecil di Malaysia. Di Indonesia pun hanya ada di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

 “Dengan semakin majunya pemukiman, pembangunan jalan yang membuka daerah-daerah yang terisolasi serta kawasan hutan, kemudian perluasan perkebunan dan tambang tidak dipungkiri semakin mempersempit ruang gerak orangutan tersebut,” ungkapnya.

  Saat ini yang bisa dilakukan, yakni bagaimana memperlambat dan memperkecil dampak dari aktivitas manusia.

  “Sehingga ke depannya semua pihak harus bersinergi dengan baik dalam mencegah agar orangutan tidak semakin terjepit dan terus bisa hidup aman serta dilindungi agar tidak punah,” ujarnya.

 Memang, menurut dia, tidak mudah untuk melakukan hal tersebut, karena itu, pihaknya mengundang berbagai pihak, mulai dari pengambil kebijakan, LSM peduli orangutan, pemerhati, akademisi dan pelaku usaha seperti dari pihak perkebunan dan tambang untuk hadir dalam acara diseminasi kehidupan orangutan di lanskap multifungsi pada Jumat ini.

 “Artinya dalam melindungi orangutan butuh dukungan semua pihak, karena kami tidak bisa bekerja sendiri dalam hal ini,” katanya.

 Sebelumnya, Acting Manager Protected and Conserved Areas sekaligus focal point untuk spesies orangutan WWF-Indonesia, Albertus Tjiu mengatakan upaya penetapan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) satwa liar yang saat ini dibahas secara langsung akan berkontribusi dalam mendukung target pencapaian nasional yang tertuang di dalam dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) orangutan dan bekantan.

 Hal itu, termasuk merespon rekomendasi dari laporan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016 yang menyebutkan salah satu meta-populasi orangutan, yaitu Pygmaeus Fragmented South yang datanya masih belum tersedia.

  “Koridor orangutan yang dimaksud adalah bagian meta-populasi untuk jenis pygmaeus. Dengan demikian, Kalbar telah berupaya menjalankan rencana aksi di level nasional ke tingkat sub-nasional, sekaligus menjawab rekomendasi PHVA 2016,” ujar Albert.

Baca juga: Orangutan berkeliaran di kebun warga ditangkap BKSDA Kalteng
Baca juga: orangutan sumatera yang terisolasi ditranslokasikan BKSDA Aceh

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pertamina bantu pelestarian gajah sumatera, elang bondol

Jakarta (ANTARA News) – PT Pertamina (Persero) menyalurkan bantuan Rp1 miliar yang terkumpul dari hasil penjualan tiket Pertamina Eco Run Desember 2018 untuk upaya pelestarian gajah sumatera dan elang bondol.

“Donasi yang diperoleh dari partisipasi masyarakat yang turut serta dalam Pertamina Eco Run akan disalurkan untuk melestarikan dua satwa yaitu elang bondol dan gajah sumatera, masing-masing sekitar Rp 549 juta,” kata Manajer Komunikasi Media Pertamina Arya Dwi Paramita dalam siaran pers perusahaan.

Sumbangan untuk konservasi gajah sumatera disalurkan ke Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli. 

Arya mengatakan Marketing Operation Region (MOR) 1 Pertamina bekerja sama dengan Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli selaku pemangku Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) di Kabupaten Simalungun menetapkan peta jalan perlindungan gajah sumatera dari 2017 hingga 2021. 

Perusahaan pada 2017 telah membantu penanaman tumbuhan pakan gajah, serta penyediaan klinik gajah. Tahun 2018 perusahaan membantu pemasangan papan informasi, edukasi serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung konservasi gajah.

Selanjutnya, pada 2019, perusahaan akan mendukung pembangunan sarana produksi biogas dari kotoran gajah dan pemberdayaan ekonomi kader kelompok peduli gajah.

“Hingga tahun 2021, Pertamina berharap program CSR Kehati ini akan menciptakan ekosistem alami untuk gajah sumatera berkembang biak,” kata Arya.

Baca juga:
Bengkulu segera jalankan program koridor gajah sumatera
Dukungan internasional mengalir untuk pelestarian gajah sumatera

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Lhokseumawe terima sanca batik tangkapan pekerja

Lhokseumawe (ANTARA News) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe menerima satu ular sanca batik (Python reticulatus) tangkapan pekerja PT Perta Arun Gas.

Menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe Dedi Irvansyah di Lhokseumawe, Kamis malam, ular sanca batik berbobot tujuh kilogram yang panjangnya 4,5 meter itu ditangkap oleh pekerja di kompleks perusahaan.

Dedi mengungkapkan dalam sebulan terakhir ular sering ditemukan di area perusahaan itu, membuat para pekerja resah.

Menurut dia ular berkeliaran di kompleks PT Perta Arun Gas karena lingkungan tersebut kondusif bagi perkembangan ular.

Oleh karena itu, besar harapan PT PAG agar dilakukan penangkapan ular di area tersebut supaya tidak menjadi ancaman serius bagi pekerja, kata Dedi Irvansyah.

Baca juga:
Warga Surabaya digegerkan penemuan 2 ular sanca
Polisi amankan ular sanca selundupan

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perawatan bayi Siamang

PERAWATAN BAYI SIAMANG

Dokter hewan dan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memeriksa kondisi kesehatan bayi Siamang (Symphalangus syndactylus) di kandang rehabilitasi BKSDA, Banda Aceh, Aceh, Kamis (24/1/2019). Bayi Siamang yang diberi nama Billy merupakan satwa langka dan dilindungi yang disita BKSDA dari warga di Kabupaten Pidie. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/wsj.

Ratusan pohon perindang ditambah di Yogyakarta

Yogyakarta, (ANTARA News) – Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta akan menambah 500 pohon perindang tahun ini yang akan ditanam di beberapa lokasi, khususnya di tepi jalan.

“Untuk lokasinya sudah ada, namun kami tetap harus melihat secara langsung apakah di lokasi tersebut memungkinkan atau tidak untuk ditanami pohon perindang,” kata Kepala Seksi Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Pramu Haryanto, di Yogyakarta, Kamis. 

Menurut dia, di Kota Yogyakarta memang tidak ada lokasi yang benar-benar ideal untuk ditanami pohon perindang, namun lokasi yang dinilai mendekati ideal masih ada di beberapa titik.

DLH, lanjut Pramu, akan memastikan bahwa di lokasi yang akan ditanami pohon perindang bebas dari gangguan, yaitu tidak berada di dekat saluran air limbah atau saluran air hujan, serta tidak berada di dekat jaringan listrik atau telepon.

“Kami pun tidak akan melakukan penanaman pohon perindang di dekat lampu lalu lintas karena dikhawatirkan pertumbuhan pohon bisa menutupi lampu lalu lintas dan kemudian mengganggu pengguna jalan,” katanya.

Sebagian besar pohon perindang, lanjut dia, akan ditanam di tepi trotoar sehingga lokasi penanaman diusahakan tidak mengganggu pejalan kaki atau pengguna jalan lainnya. DLH akan memilih trotoar yang cukup lebar untuk menanam pohon.

“Kalau trotoarnya sudah kecil, maka tidak akan ditanami perindang. Mencari lokasi yang ideal memang cukup sulit, tetapi kami tetap usahakan untuk terus memperbanyak pohon perindang di Kota Yogyakarta,” kata Pramu. 

Pada tahun 2018 DLH Kota Yogyakarta juga menambah sekitar 500 pohon perindang sehingga saat ini jumlah pohon perindang mencapai sekitar 18.000 pohon.

Pohon perindang milik Pemerintah Kota Yogyakarta biasanya diberi tanda, yaitu sebagian batang pohon dicat putih.

“Artinya, pohon itu adalah pohon perindang milik Pemerintah Kota Yogyakarta dan tidak bisa ditebang sembarangan,” katanya.

Sementara itu, jenis pohon perindang yang disiapkan tahun ini di antaranya adalah gayam untuk ditanam di Jalan Gayam, atau kenari untuk ditanam di Jalan Kenari.

“Tujuannya adalah menegaskan karakteristik kawasan, katanya.

Selain itu, DLH juga menyiapkan beberapa jenis pohon perindang seperti tanjung dan tabebuya, serta angsana.

Total anggaran yang dialokasikan tahun ini untuk penambahan pohon perindang mencapai sekitar Rp60 juta, demikian Pramu Haryanto.

Baca juga: Yogyakarta tanam pohon langka sebagai identitas wilayah

Baca juga: Pohon buah-buahan hijaukan Stasiun di Yogyakarta

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penyitaan Orangutan peliharaan warga

Petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Aceh bersama Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) memeriksa Orangutan Sumatera (Pongo abelii) peliharaan warga sebelum disita di Desa Suka Makmur, Kecamatan Indra Makmur, Aceh Timur, Aceh, Rabu (23/1/2019). Petugas terkait menyita dan mengevakuasi hewan dilindungi tersebut untuk mendapat perawatan lebih lanjut. ANTARA FOTO/Zamzami/foc.

Orangutan peliharaan warga aceh disita

(Antara)-Sebuah organisasi penyelamat orangutan  mengevakuasi seekor orangutan, yang dipelihara warga di Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh. Hewan langka yang dilindungi itu, rencananya akan dirawat di pusat karantina Orangutan Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Ditemukan habitat orangutan di pembukaan lahan tanpa izin

Jakarta (ANTARA News) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengatakan ditemukannya habitat orangutan di wilayah perusakan hutan akibat pembukaan lahan tanpa izin di wilayah gambut di Kalimantan Tengah.

Hal itu diketahui setelah Badan Restorasi Gambut melakukan verfikasi lapangan pada 25 November 2018 atas laporan tertulis yang dilakukan oleh beberapa aktivis lingkungan dan Save Our Borneo (SOB) terkait perusakan hutan tersebut. 

“Pada saat di lokasi, tim Badan Restorasi Gambut menemukan satu sarang orangutan,” kata Direktur Walhi Kalimantan Tengah Dimas Novian Hartono dalam konferensi pers di Kantor Eksekutif Nasional Walhi, Jakarta Selatan, Rabu.

Pada November 2018, sejumlah aktivis lingkungan telah melaporkan perusakan hutan rawa gambut yang terjadi di kilometer 15, jalan trans Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, Kelurahan Mendawai Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat. 

Lokasi pembukaan lahan tanpa ijin tersebut berada pada kawasan gambut yang merupakan wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Sungai Lamandau-Sungai Arut dengan fungsi lindung di mana memiliki kedalaman lebih dari tiga meter.

Berdasarkan informasi dari Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Tengah, lokasi tersebut merupakan wilayah habitat Orangutan Kalimantan. Sejak tahun 2015-2017 BKSDA dan mitranya telah melakukan penyelamatan dan translokasi Orangutan Kalimantan sebanyak 11 individu pada kawasan tersebut.

Dimas mengatakan lokasi pembukaan lahan itu sudah memasuki kawasan dengan fungsi lindung sekitar 28 hektar dan enam hektar berada difungsi budidaya.

Diduga telah terjadi tindak pidana kehutanan dan lingkungan hidup sebagaimana tertuang dalam pasal 17 ayat (2) UU 18 tahun 2013 juncto pasal 92 UU 18 tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Selain itu juga diduga telah terjadi pelanggaran terhadap UU 32 tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Atas dasar hasil verifikasi dan analisa hukumnya, Desember 2018, Badan Restorasi Gambut (BRG) mengirimkan surat kepada Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Kotawaringin Barat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar dapat menindaklanjuti hasil verifikasi dan temuan yang dilakukan BRG dengan aktivis lingkungan.

Satu bulan pasca surat yang dikirimkan BRG dan laporan yang dilakukan oleh aktivis lingkungan itu, belum ada respon dari pihak terkait untuk menindaklanjuti surat BRG.

Safrudin dari Save Our Borneo Kalimantan mengatakan verifikasi lapangan yang dilakukan BRG dan aktivis lingkungan guna melihat kondisi sebenarnya yang terjadi di lapangan dan membuktikan bahwa lokasi tersebut merupakan kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut. 

“Dari monitoring kami menemukan fakta kawasan yang kami pantau sedang dalam proses pembukaan lahan di daerah gambut,” ujarnya. 

Tim BRG menemukan pembukaan lahan dan pembuatan kanal dengan menggunakan alat berat, luas lahan gambut yang sudah dibuka sekitar 38 hektar dengan kanal primer sebanyak tiga buah dengan panjang dua kilometer dan lebar dua meter. 

BRG juga mencatat sekitar 109 kanal sekunder dengan panjang 100 meter dengan lebar satu meter.*

Baca juga: Seekor orangutan sumatera dievakuasi dari kandang ayam

Baca juga: Orangutan berkeliaran di kebun warga ditangkap BKSDA Kalteng

Baca juga: Alba si orangutan albino bisa beradaptasi dengan habitat aslinya

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Seekor orangutan sumatera dievakuasi dari kandang ayam

Medan (ANTARA News) – Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre mengevakuasi seekor Orangutan Sumatera (Pongo Abeli) yang dipelihara oleh seorang warga di Gampang Raya, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh.

Ketua Yayasan Orangutan Sumatera lestari (YOSL)-Orangutan Information Centre (OIC) Panut Hadisiswoyo di Medan, Rabu, mengatakan, Orangutan Sumatera jantan tersebut diperkirakan berusia dua tahun.

Pada saat dievakuasi, orangutan  berada di dalam kandang ayam dan dalam kondisi kekurangan nutrisi karena mengkonsumsi makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhannya.

“Orangutan itu menurut informasi sudah enam bulan dipelihara warga. Setelah di evakuasi akan dirawat di Pusat Karantina Orangutan Batu Mbelin Sibolangit, Kabupaten Deliserdang,” tuturnya.

Ia menyampaikan keberadaan orangutan yang dipelihara warga tersebut diperoleh dari petugas Taman Nasional Gunung Leuser dan ditindaklanjuti oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam bersama OIC guna melakukan mengevakuasi primata langka tersebut.

Dari pengakuan warga berinisial S yang memeliharanya, orangutan jenis kelamin jantan yang sudah dipelihara sejak enam bulan lalu itu dibeli dari seseorang yang mendapatkannya di hutan Kawasan Gunung Leuser.

S sendiri mengaku tidak tahu kalau tindakannya memelihara satwa langka itu melanggar hukum, ucapnya.

“Terkait tindakan hukum, kami menyerahkan sepenuhnya kepada Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera karena sebelumnya ada praktik jual beli satwa orangutan sumatera itu,” ujarnya.

Sementara tim medis OIC Zulhilmi mengatakan orangutan yang di evakuasi tersebut sudah diberi makanan yang sesuai dengan seharusnya. Setelah dievakuasi, orangutan akan dibawa ke Pusat rehabilitasi orangutan di Batu Mbelin.

“Saat pemeriksaan awal kami tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh hewan itu,” katanya.

Baca juga: Alba si orangutan albino bisa beradaptasi dengan habitat aslinya

Baca juga: orangutan sumatera yang terisolasi ditranslokasikan BKSDA Aceh

Baca juga: Walhi: Selamatkan orangutan Tapanuli

Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wapres: TN ditutup atau tidak, komodo tetap perlu makan

Jakarta, 22/1 (ANTARA News) – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, ditutup atau tidak Taman Nasional Komodo, komodo tetap perlu makan, sehingga hal itu seharusnya bukan menjadi alasan bagi Pemprov NTT untuk menutup taman nasional tersebut.

“Kalau saya lihat, alasannya Gubernur Viktor itu untuk memperbanyak atau mengembangbiakkan rusa. Tapi jangan lupa, dikunjungi atau tidak dikunjungi, itu tetap saja (komodo) perlu makan,” kata Wapres JK kepada wartawan di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Selasa.

Menurut Wapres JK, upaya pengembangbiakan rusa seharusnya dapat berjalan seiring dengan pembukaan Taman Nasional Komodo. Pengembangbiakan rusa tersebut dapat dilakukan di tempat lain, sehingga TN Komodo tidak perlu ditutup.

“Itu benar bahwa perlu makannya rusa, kambing itu lebih terkait. Kalau ada pertanyaan apa dikembangkan di tempat lain dulu lalu dibawa ke situ, itu bisa saja,” tambah JK.

Kelangkaan rusa dan kambing, sebagai makanan utama komodo, menjadi alasan utama bagi Pemprov NTT untuk menutup Taman Nasional itu selama satu tahun.

Semakin sedikitnya rusa dan kambing dikhawatirkan dapat merusak rantai makanan komodo, sehingga hewan berspesies biawak besar itu nantinya dapat saling memakan sejenisnya.

Sementara itu, Gubernur NTT Viktor Bungitulu Laiskodat mengatakan penutupan Taman Nasional Komodo bertujuan untuk mempermudah pemerintah daerah dalam menata kawasan wisata itu.

Kondisi habitat komodo di ujung Pulau Flores itu sudah semakin berkurang, ditambah dengan kondisi fisik komodo yang semakin kecil sebagai dampak dari berkurangnya rusa.

“Kondisi tubuh komodo tidak sebesar dulu lagi, karena populasi rusa sebagai makanan utama komodo terus berkurang karena maraknya pencurian rusa di kawasan itu,” ujar Viktor. 

Baca juga: KLHK tanyakan alasan Pemda NTT akan tutup TN Komodo
Baca juga: TN Komodo tingkatkan kemampuan puluhan penjaga kawasan
Baca juga: Pengamat: jadwal kunjungan ke TN Komodo perlu diatur

Pewarta: Fransiska Ninditya
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemerintah rencanakan penanaman Pohon Pule sebagai penahan tsunami

Jakarta (ANTARA News) – Pemerintah melalui berbagai kementerian-lembaga terkait penanganan bencana merencanakan penanaman Pohon Pule sebagai penahan gelombang tsunami secara alami guna meminimalkan jumlah korban akibat bencana.

“Kita coba mencarikan penyelesaian mengatasinya juga dengan alam, alam di sini adalah menyiapkan vegetasi yaitu tanaman. Tanaman yang kita pilih yang cocok dengan kawasan tersebut, contoh misalnya pohon yang kita temukan di daerah Carita, itu juga ada pohon sejenis yang ditemukan di Bali, Lombok, dan Ambon, yaitu Pule,,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo di kantor Kemenko PMK Jakarta, Selasa.

Doni mengatakan pohon yang sering disebut Pohon Pule di berbagai daerah, atau yang dalam bahasa Indonesia disebut Pohon Pulai, bisa memiliki ketinggian mencapai 30 hingga 40 meter. 

“Pohon pule tertinggi sekarang itu ada di Lamtamal, Ambon, dengan diameter sekitar dua meter lebih, tingginya 30-40 meter,” kata dia.

Berdasarkan kajian dan penelitian dari pakar tsunami, pohon pule terbukti bisa memperlambat laju gelombang tsunami sehingga mengurangi tekanan atau daya rusak yang dihasilkan dari terjangan air laut.

“Itu terbukti, pohon-pohon itu bisa memperlambat 80 persen laju gelombang tsunami ke darat, itu ada kajiannya,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati.

Doni mengungkapkan bahwa kejadian tsunami di suatu daerah bisa disebabkan karena adanya sebuah siklus yang berulang dalam masa puluhan hingga ratusan tahun.

Oleh karena itu dia berpendapat apabila penanaman pohon penghalau gelombang tsunami sudah dilakukan sejak saat ini, jika terjadi siklus bencana pada puluhan hingga ratusan tahun mendatang sudah memiliki mitigasi sendiri.

“Kalau kita bisa mempersiapkan dari sekarang dengan siklus 50-100 tahun akan datang, maka ini akan jadi benteng alam terbaik,” kata Doni.*

Baca juga: Lima menteri tanam pohon pule di arboretum

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

5.000 bibit mangrove ditanam di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar Surabaya

Surabaya, (ANTARA News) – Pertamina EP Leaders Forum 2019, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) di sektor eksplorasi migas bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan penanaman 5.000 bibit mangrove di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar, Surabaya, Jatim, Selasa.

Kepala Dinas Pertanian Kota Surabaya, Joestamadji, menjelaskan tentang jenis mangrove ditanam di antaranya jenis Rhizophora yang fungsinya untuk menahan erosi menjadi tanah yang ada tidak tergerus dan terbawa air.

“Kalau di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar Surabaya ini rencananya akan kami tanami 250 jenis mangrove,” katanya.

Untuk prosesnya, menurut Joestamadji, pihaknya akan bekerja sama dengan banyak pihak, salah satunya adalah Pemerintah Kota Kyushu di Jepang.

Ia mengatakan, Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar ini adalah kebun raya pertama di Indonesia yang mengkhususkan diri pada jenis tanaman mangrove.

President Director Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf, mengatakan selain mendukung pengembangan Kebun Raya Mangrove, pihaknya juga membantu dua perahu untuk pengembangan wisata di kawasan itu.

“Di sini kami tanam 5. 000 bibit mangrove. Harapan kami, itu bisa turut mengurangi emisi, sedangkan bantuan dua buah perahu itu nantinya bisa membantu pengembangan wisata,” ujarnya.

Nanang mengatakan, kegiatan penanaman mangrove dan bantuan dua perahu wisata merupakan salah satu wujud komitmen Pertamina EP untuk tumbuh serta berkembang bersama masyarakat dan lingkungan.

“Kami memiliki semangat untuk terus tumbuh serta berkembang bersama masyarakat dan lingkungan. Itu bukan hanya jargon dan slogan semata,” katanya.*

Baca juga: Cegah abrasi pantai di Pati, duta wisata ikut tanam mangrove

Baca juga: Mahasiswa Tangerang tanam ribuan pohon mangrove

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pegiat kehati lakukan sensus burung air

Jakarta (ANTARA News) – Sejumlah pegiat keanekaragaman hayati (kehati) yang tergabung dalam Gerakan Anak Muda Biodiversity Warrior Yayasan KEHATI melakukan kegiatan Asian Waterbird Census 2019 di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, Sabtu.

Kegiatan yang diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari umum, mahasiswa dan sekolah ini merupakan kali keempat  dan rutin digelar di pekan ketiga atau keempat Januari setiap tahunnya di tempat yang sama.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos mengatakan kegiatan sensus secara berkala ini penting karena burung air merupakan indikator keseimbangan ekosistem lahan basah.

Ekosistem ini menyediakan makan, tempat istirahat, dan bertengger bagi spesies yang dikenal karismatik ini.

“Tujuan kami mendukung kegiatan Asian Waterbird Census 2019 selain ingin terlibat dalam pelestarian burung air, kami ingin mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat Indonesia terutama generasi muda tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan makhluk hidup yang terdapat di dalamnya,” kata Riki.

Dengan luas 44,67 hektare, hutan lindung ini memang tergolong kecil, tetapi posisinya strategis dan merupakan kawasan peralihan antara daratan dan lautan di bagian utara DKI Jakarta yang memanjag dari muara Sungai Angke di bagian timur sampai perbatasan DKI Jakarta dengan Banten di bagian barat.

Menurut Riki, dengan posisi seperti ini, Hutan Lindung Angke Kapuk berperan penting dalam menjaga stabilitas kawasan di sekitarnya.

“Termasuk keberadaan burung air,” ucap dia.

Baca juga: Burung air sulit beradaptasi karena alam semakin rusak

Baca juga: Kerusakan habitat ancam populasi burung air

Baca juga: Azyumardi: manusia sebagai khalifah bertugas memakmurkan alam

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Orangutan berkeliaran di kebun warga ditangkap BKSDA Kalteng

Oleh Kasriadi dan Jaya W Manurung

Pangkalan Bun, Kalteng,  (ANTARA News)) – Wildlife Rescue Unit Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI), menangkap dua orangutan yang berkeliaran di kebun warga di RT13 RW06, Desa Lada Mandala Jaya, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Dua orangutan yang ditangkap itu berjenis kelamin betina berumur sekitar 30 tahun dengan berat 30 kg dan anaknya umur tiga tahun seberat 5 kg, kata Kepala SKW II BKSDA Kalteng Agung Widodo saat dihubungi dari Pangkalan Bun, Senin.

“Penangkapan yang dilakukan, Sabtu (19/1), itu karena ada laporan dari Kepala Desa Lada Mandala Jaya. Kami bersama OFI pun melakukan rescue terhadap dua orangutan tersebut. Induk dan anak orangutan ditangkap dengan cara dibius,” katanya.

Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, kondisi dua orangutan tersebut baik-baik saja dan tidak ada penyakit. BKSDA Kalteng pun, Senin (21/1) pagi, melakukan pelepasliaran ke Taman Nasional Tanjung Puting.

“Secara fisik kondisi keduanya dalam keadaan sehat. Dokter juga sudah mengambil sampel darah keduanya untuk diperiksa di laboratorium. Tapi biasanya orangutan liar sangat kecil kemungkinan terkena penyakit, karena memang tidak melakukan kontak langsung dengan manusia,” kata Agung.

Sementara itu, Fajar Dewanto, staf OFI di Pangkalan Bun mengaku belum mengetahui pasti dari mana kedua orangutan tersebut berasal. Sebab, kedua orangutan liar itu belum terdata oleh OFI.

Apalagi menurut SK 529/2012 lokasi rescue atau penangkapan orangutan liar tersebut memiliki fungsi Area Penggunaan Lain (APL).

“Lokasi tersebut merupakan kebun karet milik masyarakat atas nama Pak Sapari. Sedangkan untuk hutan di sekitar wilayah tersebut sudah tidak ada karena beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan buah. Jadi kami belum bisa memperkirakan dari mana kedua Orang Utan itu berasal,” kata Fajar.

Baca juga: Tujuh orangutan diserahkan kepada BKSDA Kalteng

Baca juga: Sambut Hari Bumi, Kalteng lepas liarkan 12 orangutan

Baca juga: Orangutan dari Kuwait kembali ke Kalteng

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Empat ekor penyu sisik dilepasliarkan BKSDA Maluku

Ambon, (ANTARA News) – Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Tual melepasliarkan empat ekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di perairan laut Pulau Ohoiwa Langgur di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.

“Hari ini petugas BKSDA Maluku Resort Tual bersama petugas karantina Tual, Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara dan anggota WWF Tual telah melepasliarkan empat ekor penyu sisik di perairan laut Pulau Ohoiwa Langgur,” kata Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi, Senin, di Ambon.

Menurut dia, empat ekor penyu yang dilepasliarkan itu merupakan penyerahan dari masyarakat Videles Savsavubun di Langgur kabupaten Maluku Tenggara.

“Penyu tersebut telah dipelihara selama satu tahun, dengan ukuran rata-rata penyu panjang lengkung kerapas 43 cm dan lebar lengkung kerapas 38 cm,” ujarnya.

Mukhtar mengatakan, berdasarkan laporan masyarakat bahwa di sekitar daerah Langgur diketahui ada masyarakat yang melihara penyu. Langkah selanjutnya Kepala Resort Tual bersama petugas melakukan investigasi.

“Selanjutnya hari ini petugas mendekati lokasi dan melakukan sosialisasi ke pemilik, dan mendapat respon baik pemilik penyu tersebut, menyerahkan empat ekor penyu untuk dilepasliarkan ke habitatnya,” katanya.

Ia menjelaskan, semua jenis penyu di Indonesia termasuk di Provinsi Maluku telah dilindungi Undang-Undang, sehingga jika ada masyarakat yang memelihara, memburu dan menangkap atau memperjualbelikan maka hal itu merupakan perbuatan pidana.

Sesuai dengan ketentuan UU nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem, maka sanksi berupa pidana yakni ancaman penjara lima tahun dan denda 100 juta.

“Kita mengimbau masyarakat untuk tidak memelihara, menangkap atau memperjualbelikan hewan atau tumbuhan yang dilindungi, karena akan dikenankan ancaman penjara dan denda 100 juta,” tandasnya.

Diakuinya, hasil pemantauan bahwa populasi penyu di Maluku populasi penyu masih cukup banyak,? khususnya di Pulau Buru dan Kei serta sejumlah pulau lainnya di Maluku.

“Tetapi kita juga masih menjumpai adanya perburuan penyu baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk diperjualbelikan,” kata Mukhtar.

Baca juga: Puluhan telur penyu sisik menetas di penangkaran

Baca juga: BKSDA Maluku selamatkan 1.007 tumbuhan dan satwa dilidungi

Baca juga: Aktivitas nelayan ancam kelestarian penyu sisik

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peneliti LIPI: rumah penetasan lebih efektif tingkatkan populasi komodo

Jakarta (ANTARA News) – Peneliti zoologi pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Evy Arida mengatakan fasilitas rumah penetasan akan lebih efektif untuk membantu meningkatkan populasi komodo selain menutup Taman Nasional Komodo (TNK) selama setahun.

“(Kalau untuk) menaikkan populasi (komodo) secara langsung dalam kurun waktu satu tahun sepertinya tidak mungkin,” kata Evy dihubungi di Jakarta, Senin.

Kecuali, menurut dia, memang sudah ada telur-telur biawak komodo (Varanus komodoensis) yang siap ditetaskan.

Dengan demikian, selain menutup taman nasional yang berada di Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut selama setahun perlu juga dilakukan penetasan telur dan dipelihara selama setahun di rumah penetasan.

Ketika ukuran anak-anak komodo sudah melewati masa rentan predasi oleh jantan dewasa spesies biawak besar ini, baru dilepaskan ke habitatnya, lanjutnya.

Adanya rumah penetasan ini, lanjut Evy, bertujuan untuk memaksimalkan presentase penetasan telur dan melindungi anak komodo yang baru menetas dari predator atau aksi kanibalisme seperti di kebun binatang.

Karena itu, ia mengatakan perlu diklarifikasi apakah niat melakukan penutupan taman nasional selama satu tahun itu harapannya memang menambah individu biawak komodo atau memaksimalkan periode kawin saja.

“Kalau untuk menambah individu, barang kali maksudnya untuk melindungi telur yang sudah ditaruh di sarang burung megapoda dari keusilan turis,” kata Evy.

Reproduksi biawak komodo, menurut Evy, relatif lambat. Musim kawin sekitar lima bulan dan betina bertelur sekitar 20 butir saja.

“Delapan bulan baru menetas telurnya dan ada kemungkinan hanya 25 persen saja yang berhasil menetas,” lanjut Evy.

Menurut dia, bahaya kanibalisme hewan jantan cukup tinggi. Komodo sudah menjadi dewasa di usia delapan tahun dan dapat hidup hingga lebih dari 25 tahun.

Sebelumnya diberitakan bahwa Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat mengatakan kawasan wisata TNK akan ditata kembali untuk menjaga habitat komodi agar dapat berkembang dengan baik.

Dirinya tidak menyebutkan kapan tepatnya penutupan wisata taman nasional yang menjadi rumah dari biawak besar ini, namun hal tersebut diyakninya dapat mempermudah  pemerintah daerah dalam menata kawasan wisata ini.

Viktor juga mengatakan habitat komodo di Pulau Komodo, Rinca, Gili Motang dan Gili Dasami memang perlu diperbaiki agar bisa meningkatkan populasi. Selain itu, dirinya menilai kondisi tubuh spesies biawak besar ini tidak lagi sebesar dulu, karena rusa yang menjadi pakan alaminya banyak diburu oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Baca juga: KLHK tanyakan alasan Pemda NTT akan tutup TN Komodo

Baca juga: Pemda NTT berencana tutup Taman Nasional Komodo selama satu tahun

Baca juga: Polisi tangkap pelaku pemburu rusa di Pulau Komodo
 

Pewarta:
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Palembang rancang peraturan pelestarian burung

Palembang, Sumatera Selatan (ANTARA News) – Pemerintah Kota Palembang merancang Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Pelestarian Burung untuk menjaga beragam spesies hewan liar yang mulai menjadi sasaran perburuan ilegal.

Wali Kota Palembang Harnojoyo di Palembang, Senin, mengatakan, peraturan itu akan mencakup pelarangan menjerat, menangkap, serta memburu burung di wilayah Kota Palembang.

“Diharapkan, nantinya burung dibiarkan beterbangan, jangan hidup di sangkar, sehingga Kota Palembang akan terlihat asri dan hijau. Jangankan manusia, burung dan ikan pun harus nyaman tinggal di Kota Palembang,” kata dia.

Peraturan mengenai pelestarian burung itu juga ditujukan untuk meningkatkan kesadaran warga dalam menjaga alam dan lingkungan di sekitar mereka.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palembang Sayuti mengatakan sampai sekarang warga masih sering menangkap burung untuk dijual atau dipelihara, membuat populasi burung di habitat aslinya menyusut.

Penerapan peraturan mengenai pelestarian burung diharapkan bisa menekan perburuan burung secara ilegal, serta menjaga habitat burung.

“Semoga dengan semakin banyak burung di alam liar akan menjadi daya tarik wisata sekaligus mengkondisikan ekosistem agar lebih baik,” kata Sayuti.

Baca juga:
Sensus burung di Angke Kapuk identifikasi 14 jenis burung
Pegiat bersihkan jerat burung di Kerinci Seblat

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

LSM jajagi konservasi penyu di Simeulue

Meulaboh, Aceh, (ANTARA News) – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Selamatkan Isi Alam dan Flaura Fauna (Silfa) Aceh berencana membentuk kawasan konservasi satwa penyu hijau di salah satu pulau terluar di Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh.

Direktur Eksekutif Silfa Aceh, Irsadi Aristora, di Meulaboh, Minggu, mengatakan, telah dilakukan survei dan ditemukan empat spesies penyu yang naik ke darat, namun telurnya terus diambil oleh masyarakat secara besar-besaran.

“Ada lima titik pendaratan penyu hasil pemantauan. Salah satunya di Pulau Mincau, Kecamatan Teupah Tengah, Simeulue. Selain terdapat bekas jejak penyu dan ada bekas galian yang dilakukan oleh masyarakat,” katanya.

Irsadi menyatakan, inisiasi tersebut berawal dari informasi banyak perdagangan telur penyu maupun ada kelompok masyarakat yang memakannya, sementara populasi penyu di kepulaun terluar Provinsi Aceh itu sangat banyak.

Salah satunya adalah spesies penyu hijau yang sudah langka dan tidak ditemukan di kawasan pesisir Barat Selatan Provinsi Aceh, namun aktivitas perdagangan telur satwa tersebut di Simeulue sangat berisiko terhadap punahnya habitat penyu.

“Hampir seluruh spesies penyu ada di sana, kemudian saya mengecek di pasar, ternyata banyak sekali telur yang dijual. Saya hitung ada 500 butir per meja , artinya ada 3-4 sarang penyu yang diambil masyarakat,” ujar Irsadi.

Irsadi yang merupakan dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Teuku Umar (Fisipol – UTU) itu, menyampaikan, rencananya satu pulau yang telah di jajaki tersebut akan dibuatkan zonasi kawasan konservasi.

Pulau yang telah ditinjau tersebut memiliki lahan kebun kelapa yang disewa oleh pihak lain dan telah dilakukan koordinasi untuk kegiatan konservasi, hanya saja semua itu membutuhkan persetujuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simeulue.

“Kami telah menemui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) maupun Pemkab Simeulue sangat responsif. Makanya pada Februari – Maret 2019, kita rutin ke sana untuk pembinaan masyarakat lokal sebagai kelompok pengelola,” katanya.

Lebih lanjut, Irsadi, mengemukakan, pembentukan konservasi sebenarnya bukan melarang masyarakat secara mutlak mengambil telur penyu, akan tetapi hanya dilakukan penataan dengan mengutamakan kearifan lokal warga setempat.

Sebagaimana yang telah berhasil dikembangkan di Kabupaten Aceh Jaya oleh Konservasi Penyu Aron Meubanja, yang membuat qanun atau peraturan mukim dan memberikan hak masyarakat setempat mengambil, namun dibatasi secara adil.

“Dibentuk konservasi itu sebenarnya tidak mutlak melarang masyarakat, di Aceh Jaya misalkan, dibuat qanun. Kalau ada satu sarang di Aceh Jaya jumlah telur ditemukan 100 butir, hanya 50 persen boleh diambil penemu,” tandas Irsadi.*

Baca juga: Aceh Selatan lepas 400 tukik

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sensus burung di Angke Kapuk identifikasi 14 jenis burung

Jakarta (ANTARA News) – Sensus burung air yang dilaksanakan oleh gerakan anak muda pecinta keanekaragaman hayati Biodiversity Warriors Yayasan Kehati di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu mengidentifikasi 14 jenis burung air.

Ke-14 jenis burung itu seluruhnya adalah jenis burung penetap di lokasi itu yakni, Blekok sawah, Cangak abu, Kuntul besar, Kuntul kecil, dan Kuntul China.

Selain itu ditemui pula jenis burung Kareo padi, Kokokan laut, Kowak malam abu, Trinil pantai, Tikusan alis putih, Itik benjut, Pecuk padi hitam, Pecul ular asia, dan Bambangan kuning.

Pegiat Kehati yang membawahi bagian edukasi dan outreach Ahmad Baihaqi menyebut jumlah ini memang menurun jika dibanding sensus yang dilakukan oleh pihaknya di tempat yang sama 2016 silam.

Singkatnya durasi pengamatan dan cuaca yang kurang bersahabat membuat temuan yang ada dinilai belum maksimal.

“Pertama kondisi cuaca, hari ini hujan dan mendung memengaruhi keluarnya burung, waktu yang cukup singkat dimulai dari jam 09.00 sampai 12.00 WIB pun memengaruhi sehingga aktivitas pengamatan tidak maksimal,” kata pria yang akrab disapa Abay usai kegiatan sensus. 

Tim sensus yang melibatkan partisipasi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, umum, dan sekolah sedianya memang akan memulai kegiatan pada pukul 07.00 WIB. Sayang, hujan yang cukup deras membuat kegiatan sempat tertunda.

Tidak banyaknya jenis burung yang ditemukan di sekitar hutan mangrove pun membuat tim melakukan penelusuran sungai menggunakan perahu sampai menemukan beberapa jenis burung air di kawasan sungai.

Belum maksimalnya pengamatan pun membuat sensus yang dilakukan tim Biodiversity Warriors Kehati  tak menemukan jenis burung air migrasi.

“Biasanya ditemukan burung yang migrasi karena cuaca ekstrem di daerah asalnya sehingga mereka mencari hangat, mencari makan, dan berkembang biak ke sini,” ucap dia.

Padahal, di tahun 2016 ketika Kehati mengorganisasi kegiatan Asian Waterbird Census di lokasi tersebut menemukan 18 jenis burung migrasi.

“Ada burung bangau beluwok, mereka biasanya ada di Pulau Rambut dan Cikalang Christmas dari Australia. Dulu kami juga menemukan jenis burung Raja Udang, pernah masuk tapi ternyata ketika kami riset lagi mereka tidak termasuk burung air. Lalu ada jenis Cekakak Sungai juga,” ucap Abay.

Abay tak memungkiri, untuk mengamati kedatangan burung air secara maksimal harus dilakukan secara penuh di pekan kedua sampai ketiga di bulan Januari.

Rentang waktu ini disinyalir sebagai waktu yang digunakan untuk jenis burung air dari luar bermigrasi ke kawasan Teluk Jakarta.

 “Durasi memang memengaruhi. Dari minggu kedua sampai minggu ketiga, bukan di antaranya saja. Tetapi dalam satu hari kita bisa dapat 14 jenis, kalau rutin bisa jadi menemukan jenis yang lain. Karena kan burung itu bergerak terus,” ucap dia.

Adapun masa burung air menetap masih bisa diamati sampai Mei hingga sekitar akhir Juni.

“Nanti bisa dipantau lagi ada hari Migrasi Burung Sedunia. Karena untuk mengamati jenis burung migran banyak periode waktunya, September sampai Desember misalnya untuk burung pemangsa migran, sementara burung air Mei sampai Juni masih bisa,” ucap dia.

Baca juga: Burung air sulit beradaptasi karena alam semakin rusak
Baca juga: Pegiat kehati lakukan senus burung air

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kehati nilai ada perbaikan habitat di hutan lindung Angke Kapuk

Jakarta (ANTARA News) – Temuan 14 jenis burung air dari sensus yang dilakukan oleh Biodiversity Warriors  Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, Sabtu menunjukkan adanya perbaikan habitat di kawasan itu.

Pegiat Kehati yang membawahi bidang edukasi dan outreach Ahmad Baihaqi menyebut dari 18 jenis burung air yang diidentifikasi pada 2016, penurunannya tidak signifikan.

“Habitat di sini sebelum tahun ini lebih banyak sampahnya, tapi semakin tahun memang berkurang,” kata Ahmad.

Pria yang akrab disapa Abay ini menyebut sebagai muara yang seringkali menjadi tempat menampung sampah yang dibuang sembarangan dari 13 sungai di sekitarnya, kondisi  di kawasan hutan lindung ini memang memprihatinkan.

Padahal dengan banyaknya sampah itu akan membuat biota laut tercemar dan mengurangi keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia.

“Banyaknya sampah ini memengaruhi keberadaan burung air. Tidak jarang sampah ini dimakan burung air atau karena mereka makannya ikan, kualitas ikannya jelek karena airnya tercemar. Tapi memang di sini ada pemulihan habitat,” kata Abay.

Banyak faktor yang membuat perbaikan  habitat ini terjadi, yang paling utama tentunya peran kebijakan pemerintah.

“Pemprov DKI biasa mengambil sampah dari sini, kalau tak diangkat bayangkan akan seperti apa air yang tercemar, biota laut yang jadi sumber makan ikan mati, memengaruhi keberadaan burung air. Kebijakan pemerintah berperan penting di sini,” ucap dia.

Meski demikian, Abay menilai perlunya perhatian lebih dari pemerintah dalam mengelola hutan lindung, karena jika ditata dengan baik keberadaan hutan lindung ini bisa menjadi nilai lebih.

“Kan bisa jadi ekowisata atau tempat riset. Mahasiswa, peneliti datang ke sini . Banyak manfaat hutan mangrove di Jakarta,” ucap dia.

Baca juga: Sensus burung di Angke Kapuk identifikasi 14 jenis burung
 Baca juga: Ratusan burung dilindungi hasil sitaan terancam mati
 

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karang masih rusak, kapal Ocean Princess dilarang tinggalkan NTT

Kupang (ANTARA News) – Kapal tanker Ocean Princess yang karam di perairan laut Kabupaten Alor,  dilarang meninggalkan wilayah perairan laut Nusa Tenggara Timur (NTT) sampai menyerahkan surat jaminan (Letter of Undertracking/LoU) mengatasi kerusakan karang.

“Belum boleh. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kalahabi untuk tidak mengeluarkan surat izin berlayar (SIB),” kata Ketua Tim Valuasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT Saleh Goro kepada Antara di Kupang, Sabtu.

Menurut dia, KSOP dapat menerbitkan SIB, jika pihak perusahan pemilik kapal tanker itu telah menerbitkan surat jaminan.

“Kami mengharapkan kepada pihak KSOP untuk tidak menerbitkan SIB bagi kapal ini hingga adanya surat jaminan dan surat pemberitaan dari DKP Provinsi NTT,” kata Saleh.

Dia menjelaskan LoU itu sebagai bentuk jaminan pihak perusahaan terhadap kerusakan biota laut di wilayah perairan Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar dan laut sekitarnya akibat kapal karam.

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan tim valuasi menunjukkan bahwa karang di perairan laut SAP Selat Pantar dan laut sekitarnya mengalami kerusakan parah akibat kandasnya kapal tanker Ocean Princess di perairan pesisir Desa Aemoli, Kabupaten Alor.

Selain itu, terdapat sekitar 28 spot karang yang hancur serta satu hamparan dengan ukuran 163×73 centimeter (cm) karang yang tidak bisa dikenali.

“Ada 28 spot karang yang hancur, terdiri dari 19 spot karang massive (padat) dan tujuh spot karang bercabang,” katanya.

Karang massive ini, masa pertumbuhannya 1 sampai dengan 2 cm per tahun. Hasil investigasi lain adalah koloni karang yang rusak berdiameter 10 s.d. 130 cm. 

“Dalam hubungan dengan itu, maka DKP NTT memandang perlu meminta KSOP Kalabahi untuk tidak menerbitkan SIB untuk kapal Ocean Princess, sebelum ada jaminan dari pihak perusahan,” kata Saleh.

Baca juga: Kapal “Ocean Princess” karam di Alor-NTT sudah ditarik

Baca juga: Kapal Tanker Ocean Princess rusak biota laut Selat Pandar

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Burung air sulit beradaptasi karena alam semakin rusak

Jakarta (ANTARA News) – Kondisi alam yang semakin rusak dan tidak terawat di sepanjang Kali Angke membuat ekosistem burung air yang ada di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, menjadi sulit beradaptasi.

Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos saat melakukan sensus burung air di kawasan hutan lindung Angke, Jakarta, Sabtu.

Pada pengamatan terakhir yang dilakukan oleh Biodiversity Warriors dari Yayasan KEHATI, kelompok anak muda yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan, melihat kotornya lingkungan di sekitar hutan lindung menjadi tempat yang tidak nyaman bagi burung air.

“Sisa sampah yang dibuang dari aktivitas manusia di Kali Angke menjadikan ekosistem yang berada di bawah air tidak lagi menjadi tempat yang baik ikan yang menjadi makanan burung air,” kata Riki.

Pada 2016, Biodiversity Warriors berhasil mendata 18 jenis burung air yang berada di kawasan tersebut.

Beberapa di antaranya yakni burung kokokan laut (Butorides striatus), cangak abu (Ardea cinerea), pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecuk ular asia (Anhinga melanogaster) dan beberapa jenis burung air lainnya.

“Jadi sensus ini untuk mengonfirmasi apakah kawasan tersebut masih menarik bagi burung air untuk menetap ataupun singgah,” kata Riki.

Kegiatan yang diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari umum, mahasiswa dan sekolah ini merupakan kali keempat dan rutin digelar di pekan ketiga atau keempat Januari setiap tahunnya di tempat yang sama.

Riki Frindos mengatakan kegiatan sensus secara berkala ini penting karena burung air merupakan indikator keseimbangan ekosistem lahan basah.

Ekosistem ini menyediakan makan, tempat istirahat dan bertengger bagi spesies burung yang dikenal karismatik ini.

Baca juga: Kerusakan habitat ancam populasi burung air

Baca juga: Azyumardi: manusia sebagai khalifah bertugas memakmurkan alam

Baca juga: Bengkulu jadi jalur migrasi 12 jenis burung air

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pegiat kehati lakukan senus burung air

Jakarta (ANTARA News) – Sejumlah pegiat keanekaragaman hayati (kehati) yang tergabung dalam Gerakan Anak Muda Biodiversity Warrior Yayasan KEHATI melakukan kegiatan Asian Waterbird Census 2019 di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, Sabtu.

Kegiatan yang diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari umum, mahasiswa dan sekolah ini merupakan kali keempat  dan rutin digelar di pekan ketiga atau keempat Januari setiap tahunnya di tempat yang sama.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos mengatakan kegiatan sensus secara berkala ini penting karena burung air merupakan indikator keseimbangan ekosistem lahan basah.

Ekosistem ini menyediakan makan, tempat istirahat, dan bertengger bagi spesies yang dikenal karismatik ini.

“Tujuan kami mendukung kegiatan Asian Waterbird Census 2019 selain ingin terlibat dalam pelestarian burung air, kami ingin mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat Indonesia terutama generasi muda tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan makhluk hidup yang terdapat di dalamnya,” kata Riki.

Dengan luas 44,67 hektare, hutan lindung ini memang tergolong kecil, tetapi posisinya strategis dan merupakan kawasan peralihan antara daratan dan lautan di bagian utara DKI Jakarta yang memanjag dari muara Sungai Angke di bagian timur sampai perbatasan DKI Jakarta dengan Banten di bagian barat.

Menurut Riki, dengan posisi seperti ini, Hutan Lindung Angke Kapuk berperan penting dalam menjaga stabilitas kawasan di sekitarnya.

“Termasuk keberadaan burung air,” ucap dia.

Baca juga: Burung air sulit beradaptasi karena alam semakin rusak

Baca juga: Kerusakan habitat ancam populasi burung air

Baca juga: Azyumardi: manusia sebagai khalifah bertugas memakmurkan alam

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Migrasi burung layang-layang

Ribuan burung Layang-layang Asia (Hirundo rustica), bertengger pada kabel listrik di Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (18/1/2019) malam. Pada Januari, Provinsi Jawa Barat menjadi salah satu tempat singgah migrasi burung layang-layang Asia untuk menghindari musim dingin atau musim salju di Belahan bumi utara. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.

Bayi panda merah sehat dan aktif setelah lahir

Bogor (ANTARA News) – Bayi Panda merah (Ailurus fulgens) yang lahir di Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kondisinya saat ini dalam keadaaan sehat dan aktif menyusu pada induknya.

“Saat ini bayi Panda Merah berada dalam pengawasan perawat satwa dan dokter hewan, dan tampak cukup aktif dan menyusu pada induknya,” kata Jansen Manansang, Direktur TSI Cisarua, dalam siaran pers yang diterima Antara di Bogor, Jumat malam.

Bayi Panda Merah yang lahir di TSI Cisarua merupakan kelahiran pertama kali di Indonesia. Proses kelahiran berlangsung Kamis (17/1) kemarin sekitar pukul 06.30 WIB.

Bayi panda merah ini lahir dari induk bernama Xing Xing (8) dan bapak bernama Bai Bai (9). Pasangan panda merah ini datang ke Indonesia pada tanggal 13 Oktober 2017 dari Guangzhou, China.

Jansen mengatakan, Taman Safari melakukan upaya untuk pengembangbiakan satwa ini mulai dari perjodohan, pengamatan perilaku perkawinan dan pemantauan status reproduksi induk melalui pemeriksaan ultrasonografi.

Menurutnta, keberhasilan perkembangbiakan ini besar artinya bagi konservasi satwa ini karena Panda Merah termasuk satwa yang dilindungi dan masuk dalam daftar endangered berdasar IUCN Red List.

Populasi satwa ini di alam terus mengalami penurunan dikarenakan adanya perburuan liar baik dalam kondisi hidup mau pun mati.

Hilangnya habitat dan banyaknya intervensi manusia dalam kawasan hutan membuat panda merah terancam.

“Induk panda juga sayang terhadap bayinya. Semoga bayi panda merah ini sehat sampai dewasa,” kata Jansen.*

Baca juga: Panda merah pertama Indonesia lahir di Bogor
Baca juga: Penjaga satwa konfirmasi kelahiran bayi Panda Merah di Taman Safari

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Panda merah pertama Indonesia lahir di Bogor

Jakarta (ANTARA News) – Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia (TSI) di Bogor, Jawa Barat, pada 17 Januari pukul 06.30 WIB menyambut kelahiran bayi panda merah (Ailurus fulgens) pertama di Indonesia.

“Belum bisa tahu jenis kelaminnya, masih dijaga terus sama induknya,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno di Jakarta, Jumat, mengenai bayi panda merah yang baru lahir itu.

Wiratno juga membagikan informasi dari Direktur Taman Safari Indonesia Jansen Manansang yang menyebutkan bahwa bayi panda merah itu anak dari induk bernama Xing Xing (8) dan panda jantan bernama Bai Bai (9), yang tiba di Indonesia pada 13 Oktober 2017 dari Guangzhou, China. 

Taman Safari Indonesia, menurut Jansen, mengupayakan perkembangbiakan panda itu dengan melakukan penjodohan, pengamatan perilaku perkawinan dan pemantauan status reproduksi induk melalui pemeriksaan ultrasonografi.

Keberhasilan perkembangbiakan panda merah itu besar artinya bagi konservasi satwa tersebut karena panda merah termasuk satwa yang yang dilindungi dan masuk dalam daftar spesies terancam punah dalam Daftar Merah lembaga konservasi internasional IUCN.

Populasi panda merah di alam terus mengalami penurunan karena ada perburuan liar, baik dalam kondisi hidup maupun mati, serta hilangnya habitat dan banyaknya intervensi manusia dalam kawasan hutan.

Saat ini, menurut Jansen, bayi Ailurus fulgens yang berada dalam pengawasan perawat satwa dan dokter hewan tampak cukup aktif. Bayi panda itu menyusu pada induknya, yang terlihat menyayangi bayinya. 

“Semoga bayi panda merah ini sehat sampai dewasa,” kata Jansen. 

Baca juga: Penjaga satwa konfirmasi kelahiran bayi Panda Merah di Taman Safari
 

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penjaga satwa konfirmasi kelahiran bayi Panda Merah di Taman Safari

Bogor, Jawa Barat (ANTARA News) – Petugas penjaga satwa mengonfirmasi kelahiran bayi Panda Merah di Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor.

Cacih Lidia petugas penjaga satwa utama Panda Merah TSI Cisarua saat dikonfirmasi Antara melalui pesan singkat, Jumat, menyatakan bayi Panda Merah itu merupakan anak dari pasangan Xing Xing dan Pay Pay, panda yang didatangkan dari China tahun 2017.

Namun dia belum bisa memberikan informasi rinci mengenai bayi Panda Merah yang baru lahir tersebut, termasuk berat dan jenis kelaminnya.

“Maaf belum bisa kasih info,” kata Cacih.

Kabar mengenai kelahiran Panda Merah itu pertama kali muncul dari cuitan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya pada 17 Januari 2019.

“Terimakasih Tuhan, baru saja menerima kabar, tadi Red Panda di Istana Panda TSI Taman Safari Indonesia Cisarua melahirkan, ini merupakan peristiwa yang pertama di Indonesia. Lihat deh, lucu banget yah,” demikian tulisannya di Twitter.

Panda Merah betina Xing Xing (betina) dan pejantannya Pay Pay didatangkan dari China tahun 2017. Saat tiba di Indonesia usianya sudah empat tahun.

Baca juga: Sehari panda di Taman Safari habiskan 30 kg bambu
Baca juga: Dua panda raksasa bertolak dari Chengdu ke Jakarta

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BP2LHK Aek Nauli terapkan siklus lokasi angon gajah

Jakarta (ANTARA News) – Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Pematangsiantar, Sumatera Utara, menerapkan daur dan siklus lokasi angon  gajah untuk menjaga keberlangsungan lingkungan konservasi eksitu. 

Kepala BP2LHK Aek Nauli Pratiara dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan sebagai bagian daerah tangkapan air (DTA), Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli memiliki beragam jenis tumbuhan dan satwa liar dilindungi yang harus dijaga kelestariannya. 

“Salah satunya dengan menentukan daur dan siklus lokasi angon gajah di sini,” kata Pratiara.

Penentuan siklus lokasi ini penting, mengingat keberadaan gajah di KHDTK Aek Nauli berpotensi menyebabkan terjadinya perubahan pada kawasan hutan. Lantai hutan menjadi lebih terbuka, karena berkurang atau hilangnya vegetasi untuk tingkat semai, dan tumbuhan bawah. 

Tumbuhan pioner juga bermunculan, sehingga berpeluang menyebabkan perubahan komposisi jenis.

“Selama ini gajah dibiarkan diangon di hutan secara bebas, karena memang belum ada area khusus untuk ngangon, jadi pemulihan kawasan hutan harus segera dilakukan,” ujar Pratiara.

Tujuan pemulihan kawasan hutan tersebut adalah untuk mengembalikan komposisi, dan struktur vegetasi mendekati kondisi semula sebelum terjadinya gangguan. Dengan demikian, ekosistem hutan KHDTK Aek Nauli dapat kembali menjalankan peran dan fungsinya sebagai kawasan hutan lindung.

Agar pemulihan ini dapat berjalan baik dan berhasil, diperlukan informasi komposisi dan struktur vegetasi di kawasan hutan, baik pada ekosistem hutan yang masih baik maupun yang telah mengalami gangguan. Tersedianya kondisi acuan merupakan komponen penting dalam kegiatan pemulihan kawasan hutan.

Berdasarkan kajian awal yang dilakukan peneliti BP2LHK Aek Nauli Sriyanti Puspita Barus diketahui bahwa pada ekosistem yang terganggu telah terjadi penurunan kerapatan vegetasi tingkat semai dan pancang. 

Penurunan vegetasi tingkat semai terjadi sebesar 37 persen yaitu dari 82.500 individu per hektare (ha) menjadi 51.667 individu per ha, dalam setahun pertama keberadaan gajah di sana. Bahkan pada tingkat pancang, penurunan kerapatan lebih besar yakni 57 persen. 

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu segera dilakukan pengayaan jenis dengan penanaman jenis-jenis yang hilang. Salah satu prasyarat keberlangsungan regenerasi alami suatu ekosistem adalah ketersediaan tingkat permudaan yang mencukupi, ujar dia. 

Namun, lanjutnya, proses regenerasi alami tersebut mungkin sangat lambat tercapai di KHDTK Aek Nauli karena sebagian besar adalah tegakan pohon pinus.

 “Perlu upaya untuk mempercepat proses regenerasi tersebut, karena regenerasi alami pada ekosistem hutan pinus berjalan sangat lambat, hal tersebut karena zat allelopati yang dihasilkan oleh serasah pinus membuat pertumbuhan terhambat, sehingga ketersediaan pohon lain sebagai sumber benihpun menjadi sangat jarang,” ujar Sriyanti.

Gajah Sumatera merupakan salah satu satwa liar yang telah banyak mengalami penjinakan. Gajah jinak (captive) hasil penjinakan tersebut, kemudian mendapat pengasuhan dari mahout, yaitu orang yang bertugas untuk merawat dan melatih gajah. 

Pemanfaatan gajah jinak di Indonesia, sejauh ini telah dilakukan untuk beberapa hal, diantaranya untuk pendidikan, dan mitigasi konflik gajah dengan manusia. Selain itu, dapat bermanfaat untuk penelitian ekologi, kegiatan konservasi, dan ekowisata, seperti yang dilakukan di KHDTK Aek Nauli. 

Baca juga: Belasan gajah masih berkeliaran di permukiman warga Nagan Raya

Baca juga: Bengkulu segera jalankan program koridor gajah sumatera

 

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karyawan TWNC ditemukan tewas diterkam harimau di Lampung

Jakarta (ANTARA News) – EP (40) yang merupakan salah seorang karyawan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) ditemukan tewas dengan luka bekas serangan harimau di Tambling, Lampung pada Selasa (15/1). 

Penanggung jawab TWNC Teguh Wardoyo dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan korban ditemukan meninggal dengan bekas luka di tengkuk kepala dan bagian tubuh lainnya di Kawasan Konservasi TWNC, pesisir barat Lampung. 

“Korban sudah diingatkan jangan berjalan sendiri  namun tidak peduli,” kata Teguh.

Menurut Teguh, TWNC sebenarnya sudah membuat peraturan yang antara lain melarang karyawan melintas pada jam-jam harimau atau satwa liar lainnya aktif hilir mudik di koridor satwa, yang dulu selalu ditentang dan diprotes oleh masyarakat. 

Hasil penyelidikan di area korban diserang, menurut Teguh, banyak ditemukan jejak harimau seperti cakaran di pohon dan tanah. Hal ini menandakan kawasan ini adalah teritori harimau. 

Teguh mengatakan pihak TWNC turut berduka cita atas meninggalnya EP yang juga merupakan warga Dusun Pengekahan. Karyawan kawasan konservasi ini diperkirakan  diserang harimau pada Senin (14/1). 

Ahli waris keluarga, menurut dia, sudah  menyatakan ikhlas menerima bahwa ini adalah murni musibah yang terjadi karena korban tidak patuh terhadap standar operasional prosedur (SOP) yang sudah dikeluarkan.  

TWNC, kata Teguh, membuat aturan bukan untuk mempersulit masyarakat maupun karyawan, tetapi semata-mata untuk kebaikan dan keselamatan pengguna jalur lintas dari Pekon Tampang Tua ke Pengekahan.

“Kami meminta kepada warga untuk selalu waspada terjadinya konflik susulan. Terutama warga  yang tinggal atau memiliki kebun dekat kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) tersebut,” ujar dia. 

Ia menegaskan agar karyawan atau masyarakat tidak keluar di jam-jam aktif harimau atau satwa liar lainnya melintas, juga tidak diperbolehkan berjalan sendiri serta selalu membunyikan suara-suara gaduh.

Ini, menurut dia, merupakan kejadian pertama harimau Sumatera menyerang manusia di TWNC. Dan hal ini sudah diperkirakan sejak dibakarnya pos-pos keamanan di lima lokasi di kawasan TNBBS pada 2014 oleh oknum-oknum dan juga pencurian camera trap beberapa tahun terakhir sehingga mengganggu sistem keamanan dan monitoring satwa-satwa liar.

Sementara itu, menurut staf ahli konservasi TWNC Risgianto, jika dilihat dari ukuran dan komposisi jejak kaki, dugaan sementara yang menyerang EP adalah harimau sumatera jantan dewasa. 

Untuk memastikan dugaan tersebut ia mengatakan tim TWNC telah memasang camera trap di tiga titik strategis, salah satunya di titik ditemukannya korban. 

“Jika dilihat dari kondisinya, lokasi ditemukan korban adalah sarang atau tempat beristirahat harimau karena tempatnya bersih dan ada tanda cakaran di pohon (lama dan baru) dan tanda berupa jejak,” kata Risgianto.

 Baca juga: Mengantar harimau sumatera ke rumah baru
Baca juga: Puisi untuk sang raja hutan

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Satu pekerja ditemukan tewas diterkam harimau di Tambling

Jakarta (ANTARA News) – Seorang karyawan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) ditemukan tewas dengan luka bekas serangan harimau pada Selasa (15/1). 

Penanggung jawab TWNC Teguh Wardoyo dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan korban yang berinisial EP (40) tahun ditemukan meninggal dengan bekas luka di tengkuk dan bagian tubuh lainnya di Kawasan Konservasi TWNC, pesisir barat Lampung. 

Menurut hasil penyelidikan di area korban diserang, menurut Teguh, ditemukan banyak jejak harimau seperti cakaran di pohon dan tanah, menandakan area itu merupakan teritori harimau. 

“Korban sudah diingatkan jangan berjalan sendiri namun tidak peduli,” kata Teguh.

EP diperkirakan diserang harimau pada Senin (14/1). 

Staf ahli konservasi TWNC Risgianto mengatakan jika dilihat dari ukuran dan komposisi jejak kaki, dugaan sementara yang menyerang EP adalah harimau sumatera jantan dewasa. 

Untuk memastikan dugaan tersebut, ia mengatakan, tim TWNC telah memasang camera trap di tiga titik strategis, salah satunya di titik ditemukannya korban. 

“Jika dilihat dari kondisinya, lokasi ditemukan korban adalah sarang atau tempat beristirahat harimau karena tempatnya bersih dan ada tanda cakaran di pohon (lama dan baru) dan tanda berupa jejak,” kata Risgianto.

Teguh mengatakan TWNC turut berduka cita atas meninggalnya EP, warga Dusun Pengekahan.

Ahli waris korban, menurut dia, sudah menyatakan ikhlas menerima bahwa kejadian itu murni musibah yang terjadi karena kerabat mereka tidak mematuhi standar operasional prosedur yang sudah ditetapkan.

TWNC, menurut dia, sudah membuat peraturan yang antara lain melarang karyawan melintas pada jam-jam harimau atau satwa liar lainnya hilir mudik di koridor satwa.

Aturan itu, menurut dia, bukan ditujukan untuk mempersulit warga maupun karyawan, tetapi semata-mata untuk kebaikan dan keselamatan pengguna jalur lintas Pekon Tampang Tua ke Pengekahan.

“Kami meminta kepada warga untuk selalu waspada terjadinya konflik susulan. Terutama warga yang tinggal atau memiliki kebun dekat kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) tersebut,” ujar dia. 

Ia menegaskan karyawan atau warga hendaknya tidak keluar di jam-jam aktif harimau atau satwa liar lainnya melintas di koridor satwa, atau berjalan sendiri saat melintasi area tersebut serta menimbulkan suara gaduh.

Menurut Teguh peristiwa Senin merupakan kejadian pertama harimau sumatera menyerang manusia di TWNC.

Konflik dengan satwa sudah diperkirakan terjadi sejak pos-pos keamanan di lima lokasi di kawasan TNBBS jadi sasaran pembakaran pada 2014 dan pencurian kamera pengawas beberapa dalam tahun terakhir yang mengganggu sistem keamanan dan monitoring satwa-satwa liar.
 

Baca juga:
Mengantar harimau sumatera ke rumah baru
Puisi untuk sang raja hutan

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Alba si orangutan albino bisa beradaptasi dengan habitat aslinya

Jakarta (ANTARA News) – Dalam waktu hampir sebulan setelah pelepasliaran, orangutan albino usia enam tahun bernama Alba sudah menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan habitat aslinya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Pemimpin Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (The Borneo Orangutan Survival Foundation/BOSF) Dr Jamartin Sihite dalam keterangan tertulisnya, Kamis, mengatakan Alba dalam keadaan sehat dan sudah bisa beradaptasi dengan habitatnya di hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Sebagaimana yang diharapkan, orangutan betina itu bisa kembali menjalani kehidupan di alam liar, mencari makan, membuat sarang, dan bersosialisasi dengan orangutan lain dengan sangat baik. 

Berdasarkan pantauan harian tim Post-Release Monitoring (PRM) yang diperkuat oleh seorang dokter hewan dari BOSF Nyaru Menteng, Sihite menjelaskan, Alba terus berusaha beradaptasi menjalani kehidupan orangutan liar di hutan.

Orangutan albino itu  telah menjelajahi hutan hingga sekitar empat kilometer dari titik pelepasliarannya.

“Pemantauan harian yang kami lakukan berlangsung sejak matahari terbit sampai matahari terbenam, kami menyebutnya nest-to-nest, atau dari sarang-ke-sarang,” kata Sihite.

“Kami merencanakan untuk terus melakukan ini hingga lima bulan ke depan, sehingga kita akan memiliki informasi kemampuan adaptasi Alba selama enam bulan,” ia menambahkan.

Setelah itu, ia mengatakan, pemantauan dan pencatatan data Alba dilakukan saat tim patroli bertemu dengannya, sama seperti yang dilakukan pada orangutan lain yang sudah dilepasliarkan.

“Karena itu, tantangan yang kini kita hadapi bersama adalah harus mampu menjamin keamanan Alba. Ini adalah tantangan yang besar mengingat luas TNBBBR di Kabupaten Katingan yang mencapai 110 ribu hektare,” katanya.

Namun BOS Foundation dan Balai TNBBBR yakin dapat memberikan pengamanan bagi Alba dan semua orangutan yang dilepasliarkan di tamah nasional dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan terkait.

Selama empat pekan pemantauan, Alba teramati kerap bersama Kika, orangutan betina berusia enam tahun yang dilepasliarkan bersama dia, serta Winda, orangutan betina lain berusia sekitar 16 tahun yang dilepasliarkan tahun 2016. 

Fakta bahwa Alba mampu bergaul dengan orangutan yang telah lebih lama dilepasliarkan, menurut Sihite, merupakan indikator positif.

Meski tidak selalu berkumpul bersama Kika dan Winda, namun Alba tidak pernah tampak berkonflik dengan keduanya. Ini menunjukkan orangutan yang dilepasliarkan pada 19 Desember 2018 tersebut memiliki kemampuan berinteraksi yang seimbang.

BOS Foundation bersama pemangku kepentingan terkait lainnya akan terus bekerja keras untuk memastikan Alba dan orangutan-orangutan lain yang telah dilepasliarkan di hutan TNBBBR menikmati hidup aman dan bebas di habitatnya. 

Baca juga:
Orangutan Albino dilepasliarkan ke taman nasional

BOSF lepas liarkan 10 orangutan ke TN Bukit Baka

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ada penangkaran burung langka di rumah dokter

(Antara)- Seorang Dokter Umum di kota Solo membuat Pusat Konservasi Burung Langka dirumah pribadinya.  Dari usahanya itu sekitar 80 ekor dari dua puluh sub species burung langka bisa dikembangbiakkan dan hasil dari konservasi tersebut tidak ada satupun yang dijual.