Orangutan dengan 74 peluru

Petugas kesehatan memeriksa Hope, orangutan betina dewasa yang diselamatkan dari Subusssalam, Aceh (10/3/2019) di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan  Sumatera di Sibolangit, Sumatera Utara, Minggu (17/3/2019). Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 74 peluru senapan angin di badan dan wajahnya sehingga menyebabkan buta total di kedua matanya. Selain itu Orangutan Hope juga mengalami patah tulang di bahu kiri serta dengan luka-luka benda tajam di sekujur tubuh dan kemudian menjalani operasi patah tulang dengan bantuan seorang ahli bedah tulang dan syaraf dari Swiss Dr. Andreas Messikommer, seorang relawan dokter yang sudah beberapa kali membantu tim medis YEL-SOCP menangani kasus serupa. ANTARA FOTO/HO/YEL-SOCP/Suryadi/foc.

Benih ikan koi ditebar di taman hutan Kota Madiun-Jatim

Benih ikan koi di kolam Taman Hutan Kota Patihan guna memaksimalkan fungsi ruang hijau terbuka (RTH) di wilayah setempat

Madiun (ANTARA) – Wali Kota Madiun, Jawa Timur, Sugeng Rismiyanto menebar benih ikan koi di kolam Taman Hutan Kota Patihan guna memaksimalkan fungsi ruang hijau terbuka (RTH) di wilayah setempat.

Ratusan ikan benih ikan koi tersebut diharapkan mampu menjadikan taman kota yang baru selesai digarap pada akhir tahun 2018 tersebut menjadi lebih indah.

Wali Kota Sugeng mengatakan Taman Hutan Kota Patihan yang terletak di Jalan Basuki Rahmat tersebut selain untuk RTH juga bisa dikembangkan sebagai sarana edukasi.

“Selain kawasan hijau, juga untuk edukasi mengenal tanaman dan habitatnya. Pokoknya rimbun dulu, tanam apa saja,” katanya di sela kegiatan sambung rasa Wali Kota Madiun dengan warga Kecamatan Manguharjo di Taman Hutan Kota Patihan Madiun.

Ia ingin, taman hutan kota tersebut nantinya dapat digunakan maksimal oleh warga Kota Madiun.

Kepala Bidang Pertamanan, Pemakaman, dan Penerangan Jalan, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Madiun Aang Marhendra mengatakan, Taman Hutan Kota Patihan tersebut belum bisa dinikmati secara maksimal, sebab masih dalam masa karantina.

“Beberapa tanaman belum tumbuh sempurna. Namun, kalau warga mau melihat-lihat, boleh,” kata Aang.

Saat ini Kota Madiun telah memiliki tiga hutan kota. Selain Taman Hutan Kota Patihan, dua lainnya adalah taman hutan kota di wilayah Ngegong dan Tawangrejo.

Sementara, berdasarkan data Dinas Perkim Kota Madiun, Taman Hutan Kota Patihan dibangun dengan dana sebesar Rp4,042 miliar. Sesuai kontrak, taman tersebut dikerjakan oleh PT Mutiara Rejeki Nusantara.

Selain bertujuan sebagai tempat rekreasi warga, taman tersebut juga berfungsi sebagai ruang terbuka hijau Kota Madiun. Adapun Pemkot Madiun saat ini telah memiliki sebanyak 52 RTH dan diharapkan akan terus bertambah.

Baca juga: Madiun berencana bangun tujuh ruang terbuka hijau tahun ini

Baca juga: Ikan Koi sumbang devisa Rp178 miliar

Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hasil riset LIPI sebut kawasan Pura Balingkang Bali layak jadi kebun raya

Bangli, Bali (ANTARA) – Hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  menyatakan lahan seluas 15,9 hektare pada kawasan Pura Dalem Balingkang, di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali layak dijadikan kebun raya, kata Bupati Bangli I Made Gianyar, di Bangli, Selasa.

Kepastian ini didapat ketika Bupati Bangli I Made Gianyar menghadiri undangan LIPI, dalam rangka penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, LIPI dengan Bappeda Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Bangli tentang Pembangunan, Pengelolaan dan Pengembangan Kebun Raya Bangli.

Juga dari hasil penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bupati Bangli dengan Kepala LIPI tentang Penelitian Pengembangan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, di Jakarta, Kamis (14/3).

Sebelum Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan MoU ini ditandatangani, Bupati Bangli I Made Gianyar sempat melakukan diskusi dengan Kepala LIPI Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati  Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Dr. R. Hendrian, M.Sc., Kepala Bidang Pengembangan Kawasan Kebun Raya Danang Wahyu Purnomo, M.Sc dan sejumlah pejabat LIPI lainnya.

Diskusi tentang rencana penyususan topografi dan pembuatan Master Plan Kebun Raya Bangli, sebagai salah satu yang diisyaratkan dalam Perpres No. 93 Tahun 2011 tentang Kebun Raya.

Diskusi ini menghasilkan kesimpulan bahwa pelaksanaan pekerjaan Master Plan Kebun Raya Bangli akan dikerjakan oleh LIPI.

Master Plan ini, direncanakan mulai dikerjakan pada minggu kedua bulan April tahun 2019 mendatang.

Di sela-sela acara berlangsung, Ketua LIPI Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya hayati terkaya di dunia.

Oleh karena itu, konservasi tumbuhan baik secara in-situ maupun ex-situ harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. “Dengan ini, LIPI akan membantu perencanaan pembangunan Kebun Raya Bangli, mulai dari perencanaan, pengelolaan, pendampingan, monitoring hingga evaluasi,” katanya.

 Baca juga: Kebun raya terbesar bakal ada di Kotawaringin Timur 2020
Baca juga: Presiden ajak Jan Ethes jalan-jalan di Kebun Raya Bogor

Pewarta: Adi Lazuardi
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peneliti jelaskan asal hiu Sentani menyusul kemunculan hiu pascabanjir

Hiu yang merupakan ikan air asin kemudian beradaptasi dengan air danau dan air sungai atau sumber mata air tawar yang terhubung dengan Danau Sentani…

Jayapura (ANTARA) – Peneliti dari Balai Arkeologi Papua menjelaskan asal hiu Sentani menyusul penemuan beberapa ikan hiu oleh warga BTN Sosial Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa pagi, setelah banjir melanda daerah itu.

Berkenaan dengan penemuan ikan hiu pascabanjir di Sentani yang menjadi viral di berbagai media sosial itu, peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto mengemukakan bahwa pada masa lalu Danau Sentani merupakan bagian dari laut yang menjorok ke darat.

“Bagian laut ini, sebelah utara berbatasan dengan Gunung Dafonsoro atau kini Cagar Alam Cycloops. Bagian laut ini terhubung oleh sungai dan mata air dari Cycloops,” katanya.

Pergerakan lapisan bumi, alumnus Universitas Udayana Bali itu melanjutkan, kemudian membuat air Danau Sentani yang semula asin menjadi tawar.

“Hiu yang merupakan ikan air asin kemudian beradaptasi dengan air danau dan air sungai atau sumber mata air tawar yang terhubung dengan Danau Sentani. Dalam perkembangannya hiu-hiu ini berubah menjadi ikan hiu air tawar,” katanya berpendapat.

Dia mengungkapkan bahwa bukti arkeologi menunjukkan adanya motif-motif ikan hiu di Situs Megalitik Tutari. Selain itu, ia menambahkan, Suku Sentani yang tinggal di Pulau Asei menggambarkan ikan hiu pada lukisan kulit kayu.

Hari menuturkan memori Suku Sentani tentang ikan hiu, yang dikabarkan sempat menghilang dari Sentani dan terakhir ditangkap tahun 1970-an, juga tertuang dalam lambang klub sepakbola kebanggaan Kabupaten Jayapura, Persidafon Dafonsoro.

Baca juga:
Korban meninggal banjir bandang di Kabupaten Jayapura capai 83 orang
Bupati Jayapura instruksikan relokasi BTN Gajah Mada

 

Pewarta: Alfian Rumagit
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Orangutan dengan puluhan peluru di tubuh jalani operasi tulang

Penanganan saat ini masih fokus dan intensif mengobati luka trauma yang infeksi,

Banda Aceh (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengatakan orangutan yang diberi nama Hope dengan puluhan peluru di tubuhnya, berhasil menjalani operasi pada tulang bahunya yang patah.

“Operasi melibatkan dokter hewan YEL-SOCP dan dokter spesialis tulang dari Swiss. Operasi dilakukan pada Minggu (17/3), berlangsung selama tiga jam,” kata Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Senin.

Operasi berlangsung di Pusat Karantina dan Rehabilitasi orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara, Hope saat ini dalam perawatan Tim Sumatran Orangutan Conservation Programme atau SOCP.

Untuk rencana operasi pengambilan peluru, sebut Sapto Aji, ditunda dengan mempertimbangkan kondisi Hope. Saat ini, konsentrasi operasi adalah pemasangan plat pada bahu yang patah.

“Penanganan saat ini masih fokus dan intensif mengobati luka trauma yang infeksi. Hope sudah sadar setelah proses pembiusan,” ungkap Sapto Aji Prabowo.

Sebelumnya, BKSDA Aceh mengevakuasi Hope dan anaknya yang berusia satu bulan. Namun, bayi orangutan tersebut akhirnya meninggal dunia ketika dibawa ke pusat karantina di Sibolangit. Bayi orangutan tersebut meninggal karena kekurangan nutrisi.

Sapto Aji Prabowo mengatakan, orangutan tersebut dievakuasi dari kebun warga di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

“Evakuasi berlangsung pada Minggu (10/3). Kondisi induk saat dievakuasi memprihatinkan. Begitu juga anak orangutan tersebut, kekurangan nutrisi, sehingga menyebabkan satwa dilindungi itu mati saat dalam perjalanan ke lokasi karantina,” sebut dia.

Sapto Aji menyebutkan, induk orangutan saat dievakuasi memprihatinkan dengan kondisi luka kaki dan jari tangan. Mata Hope buta terkena peluru senapan angin serta ditemukan 74 butir peluru senapan angin di tubuhnya.

“Kami berkomitmen membantu mengungkap kasus penganiayaan dan penembakan orangutan dan anaknya. Kami juga berterima kasih kepada tim medis yang telah mengoperasi Hope,” kata Sapto Aji Prabowo. 

Baca juga: Polisi didesak usut penembakan orang utan
Baca juga: BKSDA Aceh evakuasi orangutan dengan kondisi luka tembak

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kawasan Taman Nasional Lore Lindu jadi momok masyarakat

Kami berharap pada 2019 jalannya sudah mulai dikerjakan

Poso,Sulteng (ANTARA) – Kawasan Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah menjadi momok bagi masyarakat sekitar karena dianggap sebagai suatu area yang tidak bisa dijamah sama sekali.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) menjembatani kerja sama antara pengelola Taman Nasional Lore Lindu dengan pemerintah desa di Kecamatan Lore Barat.

Wakil Bupati Poso, Zamsuri, Senin mengharapkan kerja sama tersebut bisa menghapus anggapan bahwa Taman Nasional Lore Lindu tidak bisa disentuh sama sekali oleh masyarakat di Lembah Bada yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.

Selain itu, ia mengharapkan kerja sama tersebut bisa memberikan dampak saling menguntungkan di mana pengelola kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu bisa membina masyarakat dalam memanfaatkan kawasan tersebut sesuai aturan yang berlaku.

Wakil Bupati Zamsuri mengatakan masyarakat bukan tidak boleh menyentuh kawasan konservasi. Dibolehkan, kata dia, asal kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan pemerintah dan juga atas bimbingan dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu.

Menurut dia, dengan adanya kerja sama dimaksud, pihak Taman Nasional Lore Lindu tentu akan mendidik dan membina masyarakat bagaimana agar bisa meningkatkan ekonomi dan taraf hidup mereka, tanpa harus mengganggu kawasan konservasi.

Karena itu, pihaknya  mendorong program pemberdayaan yang dilakukan selama ini oleh pengelola Taman Nasional Lore Lindu kepada masyarakat yang ada di sekitar kawasan konservasi, khususnya yang berada di wilayah Kabupaten Poso.

Wabup Zamsuri juga mengatakan pemerintah akan membuka akses jalan untuk menghubungkan Kecamatan Lore Barat dan Lore Selatan dengan Kecamatan Lore Timur, Lore Tengah, Lore Piore dan Lore Utara sehingga masyarakat yang akan menuju Lore Barat dan Lore Selatan tidak lagi harus berputar lewat Poso-Tentena.

Begitu pula dengan masyarakat dari Lore Barat dan Lore Selatan bisa langsung menuju Palu, tanpa harus lewat Poso-Tentena yang jaraknya memang cukup jauh.

Jarak dari Palu menuju Lembah Bada mencapai sekitar 400 kilometer. Padahal jika dari Palu lewat Napu, Lore Utara hanya sekitar 200 kilometer saja. “Kami berharap pada 2019  jalannya sudah mulai dikerjakan,” ujar Zamsuri.

Pewarta: Anas Masa
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pencurian satwa di Taman Nasional Togean Sulteng masih berlangsung

Paling banyak dilakukan oleh masyarakat lokal yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional kepulauan Togean

Tojo,Sulteng (ANTARA) – Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Bustang, mengaku hingga kini pencurian berbagai hasil hutan dan satwa baik di darat maupun laut di kawasan konservasi itu masih berlangsung.

“Paling banyak dilakukan oleh masyarakat lokal yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional kepulauan Togean,” katanya di Palu, Sulawesi Tengah, Senin.

Ia mengatakan dengan jumlah personil polisi hutan (polhut) yang sangat terbatas, cukup menyulitkan untuk mengamankan dan mengawasi berbagai gangguan berupa pencurian ikan dengan menggunakan bom dan juga pembalakan liar.

Namun, kata dia, dalam tiga tahun terakhir ini, gangguan di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean baik di laut maupun di daratan sudah semakin berkurang.

Pihaknya terus melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan pemberdayaan dan juga sosialisasi dan cukup berhasil.

Bahkan, katanya, ada sejumlah desa yang cukup proaktif membantu petugas Taman Nasional Kepulauan Togean melakukan berbagai kegiatan di lapangan sehingga masyarakat sudah tidak ada lagi yang melakukan pencurian ikan dan satwa lainnya serta pembalakan liar. Tetapi, ada juga beberapa desa yang masyarakatnya masih tetap melakukan kegiatan tak terpuji tersebut.

“Kami terus mendekati mereka dan mencoba untuk mengubah pola pikir, meski tantangan cukup berat,” ujar Bustang.

Padahal pihaknya telah memberi akses bagi masyarakat lokal untuk mengelola bersama kawasan konservasi bagi kesejahteraan dan juga perolehan devisa negara dari berbagai objek wisata yang ada di Taman Nasional Kepulauan Togean.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung di kawasan konservasi Kepulauan Togean dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan cukup mengembirakan.

Dengan demikian, pendapatan masyarakat juga setidaknya bisa meningkat. Begitu pula perolehan devisa bagi negara dari sektor pariwisata dipastikan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya kunjungan wisatawan.

Bustang juga menambahkan jika tidak ada aral melintang, Taman Nasional Kepulauan Togean akan dideklarasikan sebagai cagar biosfer anggota jaringan dunia oleh Unesco.

“Kami sudah usulkan kepada Unesco untuk bisa menjadi anggota cagar biosfer dunia dan berharap pada 2019 ini juuga bisa dideklarasikan,” ujar dia.

Luas kawasan konservasi TN Kepulauan Togean mencapai 365.241 hektar terdiri darat sekitar 25.000 hektar, sedangkan kawasan konservasi laut mencapai 340.000 hektar.

Pewarta: Anas Masa
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hutan kekayaan masyarakat Jambi harus dilestarikan, kata Kepala BNPB

Apakah kita hanya akan mengenang satwa-satwa tadi kelak..?”,

Jakarta (ANTARA) – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan hutan yang menjadi kekayaan masyarakat Jambi harus dilestarikan untuk generasi mendatang jangan ditebang dan dibakar.

“Hutan merupakan aset berharga bagi kehidupan masyarakat Jambi,” katanya dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana Provinsi Jambi sebagaimana siaran pers diterima di Jakarta, Sabtu.

Ia menambahkan wilayah Jambi dikenal dengan kekayaan satwa yang langka seperti harimau, gajah dan badak. Bila hutan tidak dilestarikan satwa-satwa langka itu tidak akan bisa bertahan hidup.

“Apakah kita hanya akan mengenang satwa-satwa tadi kelak..?”, tanyanya.

Menurut Doni, hutan sangat erat berkaitan dengan peluang bahaya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Jambi.

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, empat wilayah kabupaten yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan adalah Tanjung Jabung Timur, Batang Hari, Bungo, dan Sarolangun.

Pada 2018, luas hutan dan lahan terbakar mencapai 970,16 hektare, dengan rincian gambut 272,06 hektare dan lahan mineral 698,1 hektare. Sementara itu, luas lahan gambut di Jambi mencapai 617.562 hektare.

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

12.000 bibit bakau ditanam di TN Way Kambas

Lampung Timur (ANTARA) – Balai Pengembangan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Way Seputih-Way Sekampung Lampung bersama Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur, LSM mitra TNWK, polisi hutan (polhut), aparat TNI, Polri dan warga serta pelajar setempat menanam sebanyak 12.000 bibit pohon bakau (mangrove) jenis rhizophora.

Penanaman bibit bakau itu dilaksanakan di kawasan pantai areal hutan TNWK di Kabupaten Lampung Timur, Sabtu, bertepatan dengan peringatan Hari Bakti Rimbawan setiap tanggal 16 Maret.

Pelaksanaan penanaman bibit bakau itu dimulai secara seremonial di kawasan pantai TNWK, di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Sabtu pagi.

Kegiatannya kembali akan dilanjutkan pada Minggu (17/3) besok oleh warga, pelajar, dan unsur pemerintah daerah setempat.

“Kegiatan hari ini intinya edukasi dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan,” kata Kepala BPDAS Way Seputih-Way Sekampung, Idi Bantara yang ditemui di lokasi penanaman bibit bakau itu.

Idi Bantara menjelaskan, semangat yang diusung pada kegiatan ini, yakni menjaga lingkungan untuk mengembalikan lingkungan yang rusak dengan cara penghijauan.

Dia menyebutkan, sebanyak 12.000 bibit pohon mangrove spesies rhizophora akan ditanam di atas lahan seluas 30 hektare.

Kepala Balai TNWK Subakir menyebutkan panjang pantai TNWK yang gundul sepanjang 75 kilometer.

Subakir menyatakan, manfaat adanya hutan bakau selain menjaga lahan dari abrasi, juga sangat mendukung kelestarian satwa-satwa liar yang hidup di sekitarnya.

Menurut Subakir, hutan Way Kambas memiliki lima ekor satwa kunci, yaitu badak, harimau, gajah, tapir, dan beruang. Satwa-satwa besar tersebut sering keluar ke hutan bakau manakala hutan bakaunya tumbuh rimbun dan rindang.

“Hutan bakau ini sangat bagus untuk kelestarian ekosistem, terutama untuk satwa-satwa besar, kalau pantainya tertutup mereka akan datang mencari makan dan minum, tapi kalau lahannya terbuka mereka tidak akan mau keluar,” ujarnya lagi.

Ke depan, kata Subakir, kawasan pantai TNWK seluruhnya bakal dihijaukan supaya hutannya terlindungi berikut satwa di dalamnya agar terjaga kelestariannya.

Baca juga: TN Way Kambas jadi kawasan Taman Warisan ASEAN
Baca juga: WCS : tercatat 26 gajah Way Kambas ditemukan mati akibat perburuan

Pewarta: Budisantoso B & Muklasin
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

SILFA Aceh dukung pembentukan kawasan konservasi penyu di Simeulue

Meulaboh, Aceh (ANTARA) – Pegiat lingkungan yang tergabung dalam Selamatkan Isi Alam dan Flora Fauna (SILFA) Aceh mendukung pembentukan kawasan konservasi penyu di Kabupaten Simeulue untuk menjaga habitat kura-kura laut di pulau terluar Provinsi Aceh itu.

Mereka sudah menemui para pemangku kepentingan terkait di Simeulue untuk mendukung penyiapan qanun atau peraturan daerah mengenai penetapan kawasan konservasi penyu. 

“Kita sudah melakukan sosialisasi ke masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjaga dan mengelola kawasan konservasi penyu tersebut,” kata Direktur Eksekutif SILFA Aceh Irsadi Aristora saat dihubungi dari Meulaboh, Sabtu.

Pelibatan warga sekitar, ia mengatakan, penting dalam pengelolaan kawasan konservasi dan pelestarian habitat penyu di kawasan pesisir Simeulue. 

Irsadi mengatakan bahwa di Simeulue dia melihat banyak telur penyu diperjualbelikan. “Itu menunjukkan bahwa di sana banyak habitat penyu dan penyu masih menyukai pantai setempat untuk bertelur, maka harus dijaga,” ia menambahkan.

Saat melakukan observasi dan pemetaan lokasi penangkaran penyu di Simeulue, pegiat SILFA menemukan beberapa lubang tempat penyu bertelur dan telur-telur penyu. Di kawasan Pantai Lasikin misalnya, pegiat SILFA menemukan 80 telur penyu hijau dan 29 telur penyu belimbing.

Selama ini, menurut Irsadi, warga sekitar masih mengonsumsi telur penyu. Pembentukan kawasan konservasi, ia melanjutkan, memungkinkan pengaturan pengelolaan habitat untuk minimal membatasi pengambilan telur penyu di pantai.

Kalau telur-telur penyu tidak diambil dan dibiarkan menetas dan tumbuh, ia menjelaskan, maka populasi penyu di Simeulue akan meningkat dan pemerintah daerah bisa membangun kawasan wisata penyu yang bisa mendatangkan penghasilan bagi warga sekitar.

“Tanggal 14 April 2019 ini, akan ada telur penyu dalam penangkaran yang menetas dan akan dilepas bersama pemda. Harapan kita Simeulue menjadi daerah wisata penyu sebagaimana di Aceh Jaya,” katanya.

Pewarta: Anwar
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gajah jinak Yeti akhirnya mati di Way Kambas Lampung

Lampung Timur (ANTARA) – Gajah jinak sumatera (Elephas maximus sumatranus) berusia empat tahun bernama Yeti, berjenis kelamin betina yang menderita sakit di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur, akhirnya mati.

Yeti mati di Camp Elephant Response Unit (ERU) Margahayu, TNWK, di Kabupaten Lampung Timur, Kamis (14/3) kemarin.

“Iya, Yeti mati Kamis kemarin, penyebabnya mungkin karena sakit,” kata Kepala Balai TNWK Subakir, saat dihubungi, Jumat.

Subakir menerangkan, gajah Yeti merupakan anak gajah hasil evakuasi pihaknya dari kanal gajah di Desa Braja Yekti pada 28 November 2013. Pada waktu dievakuasi, usianya masih sekitar tiga bulan. Gajah itu dievakuasi karena ditinggal oleh induk dan kawanannya.

Yeti lalu dibawa ke Rumah Sakit Gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK untuk mendapatkan perawatan oleh tim dokter hewan.

Menurut Subakir, Yeti tergolong anak gajah yang malang, mengingat semenjak dievakuasi sering sakit-sakitan. “Yeti memang sudah sakit-sakitan dari awal, semenjak pertama kali ditemukan,” katanya pula.

Upaya mengobatinya telah dilakukan oleh tim dokter hewan, namun akhirnya tidak tertolong juga.

“Catatan terakhir Yeti mengalami sakit kejang-kejang dan gatal-gatal,” ujarnya lagi.

Subakir menyatakan, Yeti telah dikuburkan, namun sebelum dikubur, oleh tim dokter bagian dalam tubuhnya diambil untuk diteliti agar mengetahui sakit yang dialami.

“Penyakitnya bisa diketahui setelah diuji di laboratorium, bagian dalam tubuhnya sudah diambil untuk dibawa ke lab,” ujarnya pula.

Baca juga: Yeti, gajah Way Kambas Lampung sakit
Baca juga: Seekor gajah jinak ditemukan mati di Pidie
Baca juga: 11 ekor gajah mati di Aceh selama 2018

Pewarta: Budisantoso B & Muklasin
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Polisi didesak usut penembakan orang utan

Penembakan terhadap orang utan menggunakan senapan angin merupakan bentuk penyiksaan. Satu individu induk orang utan mengalami luka parah setelah 74 peluru senapan angin bersarang di tubuhnya,

Banda Aceh (ANTARA) – Kalangan aktivis lingkungan hidup mendesak kepolisian mengusut kasus penembakan terhadap satu individu orang utan yang menyebabkan di tubuh satwa dilindungi itu bersarang puluhan peluru senapan angin di Kota Subulussalam, Aceh.

Desakan tersebut disuarakan dua puluhan aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam Koalisi Peduli Orang Utan pada unjuk rasa di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Jumat.

Nuratul Faizah, koordinator aksi menyebutkan, penembakan terhadap orang utan menggunakan senapan angin merupakan bentuk penyiksaan. Satu individu induk orang utan mengalami luka parah setelah 74 peluru senapan angin bersarang di tubuhnya.

“Induk orang utan diberi nama Hope juga mengalami kebutaan total. Akibat penembakan tersebut menyebabkan bayi Hope berusia sebulan mati setelah mengalami kekurangan nutrisi,” tambahnya.

Penembakan orang utan tersebut semakin mengancam keberadaan satwa dilindungi itu. Pengusutan terhadap penembakan Hope merupakan upaya memberi efek jera bagi pelaku dan yang lainnya untuk tidak membunuh satwa dilindungi.

Menurut Nuratul Faizah, pelaku penembakan Hope yang menyebabkan bayinya mati harus dihukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam.

“Ancaman hukuman terhadap pelaku penembakan satwa dilindungi lima tahun penjara dan denda maksimal Rp100 juta. Karena itu, kami mendesak polisi menangkap pelakunya,” kata dia.

Selain itu, ia menyebutkan, aktivis lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Peduli Orang Utan Sumatera juga mendesak kepolisian menertibkan penggunaan senapan angin.

Sebab, senapan angin banyak digunakan menembak satwa dilindungi seperti orang utan maupun burung langka. Penertiban ini juga agar kasus penembakan terhadap Hope tidak terulang,” tambah Nuratul Faizah.

Unjuk rasa berlangsung tertib. Aksi aktivis lingkungan hidup tersebut menjadi perhatian masyarakat yang melintas di bundaran pada lalu lintas itu. Massa aktivis akhir membubarkan diri dengan tertib setelah menyampaikan aspirasinya.

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemkab Lumajang lestarikan anggrek ekor tupai

Kegiatan itu sebagai salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai lingkungan dan mengajak masyarakat semakin sadar terhadap lingkungan dengan ikut aktif menanam tanaman di lingkungan sekitar

Lumajang (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama Komunitas Puspa Semeru melestarikan anggrek ekor tupai (Rhycostilis retusa) yang merupakan tanaman endemik di wilayah setempat dengan menanamnya secara simbolis dalam rangkaian acara “Lumajang Menanam Bunga” di kawasan alun-alun Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Jumat.

“Kami mendapatkan sumbangan dari komunitas pecinta bunga Puspa Semeru sebanyak 1.000 anggrek ekor tupai yang akan ditempel di pohon dan secara simbolis ditanam di depan rumah dinas saya,” kata Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati di Lumajang.

Wakil bupati Lumajang menanam anggrek dengan menggunakan sky lift milik Dinas Lingkungan Hidup karena anggrek tersebut harus ditanam menempel di pohon bagian atas sehingga perlu alat bantu untuk menanamnya.

“Kegiatan itu sebagai salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai lingkungan dan mengajak masyarakat semakin sadar terhadap lingkungan dengan ikut aktif menanam tanaman di lingkungan sekitar,” katanya.

Indah mengucapkan terima kasih kepada komunitas Puspa Semeru yang telah berpartisipasi dan berkontribusi dalam kegiatan peduli lingkungan, khususnya dalam kegiatan menanam pohon di Kabupaten Lumajang.

Sementara Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dinas Lingkungan Hidup Lumajang Yuli Harismawati menyampaikan apresiasinya terhadap Paguyuban Puspa Semeru Lumajang atas sumbangsihnya memperindah kota Lumajang dengan memberikan tanaman anggrek ekor tupai.

“Dengan partisipasi kepedulian mempercantik Lumajang, semakin meyakinkan Pemkab Lumajang bahwa teman-teman komunitas juga peduli terhadap lingkungan, terutama terhadap pelestarian keanekaragaman hayati,” katanya.

Ia menjelaskan tanaman anggrek ekor tupai banyak ditemui di beberapa wilayah di Kabupaten Lumajang dan dapat disebut sebagai tanaman endemik Kota Pisang dan seringkali anggrek jenis itu dianggap sebagai gulma yang menempel di pohon asem dan jati karena ketidaktahuan masyarakat.

“Selama ini orang menganggap tanaman itu sebagai gulma, padahal anggrek itu sangat cantik. Teman-teman dari Puspa Semeru nanti akan mengawal adaptasi di pohon karena ada 1.000 anggrek yang disumbangkan dan menjadi kebanggaan yang akan membuat masyarakat mencintai kotanya dengan keindahan tanaman hias,” ujarnya.

Baca juga: Pemkab Lumajang Siapkan Ribuan Masker Antisipasi Abu Bromo

Baca juga: Tiga kecamatan di Lumajang-Jatim diterjang angin kencang

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Izinkan warga manfaatkan TWA, Menteri LHK syaratkan jaga ekosistem hutan

Warga berhak memanfaatkan dan mengelola daerah areal wisata alam tanpa merusak tatanan ekosistem laut dan hutan untuk untuk mencari nafkah…

Aceh Singkil (ANTARA) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nurbaya, meninjau objek Taman Wisata Alam (TWA) di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh dan mengizinkan warga memanfaatkan areal WTA dengan konsep perhutanan sosial, tanpa merusak ekosistem laut dan hutan.

Dalam kunjungannya ke pulau terluar Aceh Singkil, pada Kamis (14/3) siang itu, Siti Nurbaya berdiskusi dengan masyarakat setempat membicarakan persoalan pengelolaan TWA untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

“Warga berhak memanfaatkan dan mengelola daerah areal wisata alam tanpa merusak tatanan ekosistem laut dan hutan untuk untuk mencari nafkah dan meningkatkan perekonomian,” katanya di sela sela kegiatan itu.

Hal itu menanggapi usulan dari masyarakat setempat yang mengharapkan pemerintah memberikan ruang terhadap pengelolaan sumber daya alam laut di taman wisata alam sebagai sumber perekonomian warga di kepulauan tersebut.

Dalam kunjungannya Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, selain membahas pengelolaan taman wisata alam, juga menyikapi persoalan abrasi yang terus terjadi selama belasan tahun di Kecamatan Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil.

Siti Nurbaya menyampaikan warga boleh memanfaatkan areal taman wisata alam dengan konsep perhutanan sosial, tanpa merusak ekosistem laut dan hutan.

Sementara terkait permasalahan abrasi yang dilaporkan warga, Siti Nurbaya, berjanji akan segera melakukan penanaman pohon bakau (mangrove) dan tanaman pantai lainnya secara massal.

Siti Nurbaya mengatakan kedatangannya kali ini merupakan bukti keseriusannya dalam menanggapi surat dari Bupati Aceh Singkil Dulmusrid, bulan Oktober 2018 lalu, terkait sejumlah persoalan yang ada di kepulauan itu.

Sejumlah warga terlihat antusias dan menyambut meriah kedatangan menteri LHK yang mendarat pukul 10.30 WIB dengan menggunakan helikopter di lapangan bola Desa Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak Kabupaten Aceh Singkil.

Pewarta: Anwar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Kalteng lepasliarkan dua ekor kukang di Pararawen

Kembalinya dua ekor kukang ke habitat alaminya diharapkan dapat meningkatkan populasi satwa tersebut di alam dan kelestariannya dapat terus terjaga

Muara Teweh (ANTARA) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melalui Kantor Seksi Konservasi Wilayah III Muara Teweh, kembali melepasliarkan satwa primata dua ekor kukang (Nycticebus menagensis) di kawasan Cagar Alam Pararawen I dan Pararawen II Kecamatan Teweh Tengah.

“Dua ekor kukang berjenis kelamin jantan tersebut berasal dari penyerahan masyarakat dari dua desa yakni Desa Bukit Sawit Kecamatan Teweh Selatan dan Hajak Kecamatan Teweh Baru yang diantar langsung ke kantor BKSDA Kalteng SKW III,” kata Kepala BKSDA Kalteng SKW III Muara Teweh Nizar Ardhanianto di Muara Teweh, Jumat

Menurut Nizar, setelah dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan hasil kondisi fisik sehat dan gigi taringnya lengkap. Kondisi ini memungkinkan untuk kukang tersebut dilepasliarkan ke habitat alaminya. Sebelum dilakukan pelepasliaran, satwa ini terlebih dahulu dilakukan observasi dan perawatan.

Pelepasliaran yang dilaksanakan pada Rabu (13/3) itu dilakukan oleh enam personel tim Wild Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalteng – SKW III menembus Sungai Mantuhang yang secara administratif terletak di Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah untuk mengantar dua ekor kukang ini kembali ke habitatnya.
  Tim Wild Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalteng – SKW III Muara Teweh melepasliarkan dua ekor kukang di kawasan hutan Cagara Alam Pararawen Kecamatan Teweh Tengah, Rabu (13/3/2019). (Foto BKSDA Kalteng SKW III Muara Teweh)
“Kembalinya dua ekor kukang ke habitat alaminya diharapkan dapat meningkatkan populasi satwa tersebut di alam dan kelestariannya dapat terus terjaga. Sekali satwa punah dari muka bumi, dunia akan menjadi tempat yang sepi dan tidak ramah lagi bagi manusia. Mari kita lestarikan kekayaan alam bumi Kalimantan ini,” kata Nizar.

Kukang merupakan satwa dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Sementara itu, Badan Konservasi Dunia IUCN, memasukkan kukang dalam kategori vulnerable (rentan), yang artinya memiliki peluang untuk punah 10 persen dalam waktu 100 tahun. Sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) memasukkan kukang ke dalam apendix I.

“Pelepasliaran bukanlah akhir, tapi justru ini merupakan langkah awal dari primata pemalu tersebut untuk beradaptasi dan berkembang biak dialam. Membiarkan mereka hidup liar merupakan cara bijak kita melestarikan kukang di alam,” ujarnya.

Baca juga: BKSDA rawat seekor kukang liar dari warga

Baca juga: 27 kukang korban perdagangan jalani rehabilitasi

Pewarta: Kasriadi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Beruang masuk ke pemukiman gegerkan warga Kalimantan Tengah

Jika dilihat dari kondisi lokasi yang sangat jauh dari hutan, mungkin beruang tersebut adalah peliharaan warga yang terlepas. Kalau beruang liar sangatlah kecil kemungkinannya

Palangka Raya (ANTARA) – Warga Jalan Mentaya Raya, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, digegerkan dan dibuat takut akibat seekor beruang masuk di permukiman .

“Kami sedang berupaya melakukan pencarian serta memasang perangkap besi di sekitar lokasi beruang tersebut terlihat,” kata Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit, Muriansyah, Kamis.

Dia mengatakan berdasarkan keterangan masyarakat yang sempat melihat beruang, satwa liar tersebut berwarna hitam dengan ukuran tubuhnya seukuran anjing dewasa.

“Kejadian munculnya beruang itu terjadi pada Rabu (13/3). Saat ini Masih belum kami ketahui jenis beruang tersebut, namun jika dilihat dari ciri-ciri yang disampaikan warga, satwa dilindungi tersebut sepertinya beruang madu,” kata Muriansyah.

Untuk menangkap beruang tersebut, tim BKSDA Pos Jaga Sampit memasang perangkap yang terbuat dari besi dan diberi umpan buah cempedak.

“Mudah-mudahan beruang tersebut tertarik dengan umpan yang kami pasang di dalam perangkap, sehingga beruang itu bisa segera kita tangkap,” katanya.

Muriansyah memperkirakan beruang tersebut saat ini masih berada di dalam semak-semak di sekitar permukiman tersebut.

“Jika dilihat dari kondisi lokasi yang sangat jauh dari hutan, mungkin beruang tersebut adalah peliharaan warga yang terlepas. Kalau beruang liar sangatlah kecil kemungkinannya,” katanya.

Menurut Muriansyah, beruang madu saat ini mulai langka dan sangat sulit ditemukan. Beruang madu juga termasuk dalam kategori dilindungi karena satwa tersebut sudah hampir punah.

Beruang madu memiliki ukuran kecil dibanding dengan beruang jenis lainnya. Satwa ini memiliki cakar kuku yang tajam.

Berkurangnya jumlah beruang di Kotawaringin Timur karena habitat aslinya yang sudah rusak dan membuat satwa dilindungi itu kesulitan mencari makan.

Baca juga: Bayi beruang madu ditemukan warga Katingan

Baca juga: 1.000 euro “Red Dress Run” ekspatriat untuk konservasi beruang madu

Pewarta: Rendhik Andika/Untung Setiawan
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Atas alasan ini, BKSDA Kalteng berencana bongkar perangkap buaya di Sungai Seranggas

BKSDA Kalteng memasang perangkap berupa kerangkeng besi dan alat pancing dengan umpan bebek untuk menangkap buaya. Tindakan itu dilakukan setelah seorang warga bernama Julhaidir (41) diterkam buaya hingga tangan kirinya putus saat mandi di Sungai Ser

Palangka Raya (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), berencana membongkar perangkap dan pancing buaya yang sudah sekitar satu bulan dipasang di Sungai Seranggas Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit.

“Info terakhir dari ketua RT, buaya sudah tidak pernah terlihat lagi. Rencananya minggu depan perangkap itu akan dibongkar,” kata Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit, Muriansyah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kamis.

BKSDA Kalteng memasang perangkap berupa kerangkeng besi dan alat pancing dengan umpan bebek untuk menangkap buaya. Tindakan itu dilakukan setelah seorang warga bernama Julhaidir (41) diterkam buaya hingga tangan kirinya putus saat mandi di Sungai Seranggas.

Jumat (8/2) dini hari lalu, seekor buaya berukuran sekitar 3,5 meter berhasil ditangkap menggunakan perangkap besi yang dipasang di Sungai Serangas. Buaya itu kemudian dibawa ke Taman Wisata Bukit Tangkiling Palangka Raya.

Sabtu (23/2) sekitar pukul 21.00 WIB, seekor buaya berukuran 3,6 meter tersangkut pancing yang dipasang BKSDA. Namun pagi harinya buaya tersebut mati dan bangkainya dikubur di kompleks pemakaman di desa itu.

Masyarakat memperkirakan masih banyak buaya berkeliaran di Sungai Seranggas yang merupakan anak Sungai Mentaya. Bahkan satu malam sebelumnya, sempat ada seekor buaya tersangkut pancing namun kemudian buaya itu berhasil melepaskan diri.

Atas permintaan masyarakat, pancing dan perangkap buaya itu kembali dipasang hingga saat ini. Namun karena tidak ada lagi buaya yang tertangkap dan tidak ada buaya yang muncul, pancing dan perangkap itu segera dibongkar.

“Rencananya Sabtu atau Minggu akan kami bongkar perangkapnya. Meski begitu, kami selalu mengimbau kepada masyarakat untuk terus waspada saat beraktivitas di sungai untuk menghindari kemungkinan terjadinya serangan buaya,” kata Muriansyah.

Populasi buaya di Sungai Mentaya dan anak sungainya diperkirakan masih cukup banyak. Habitatnya diperkirakan berada di kawasan Pulau Lepeh, yaitu pulau kecil tak berpenghuni yang terletak di tengah Sungai Mentaya karena warga sering melihat buaya berjemur di bantaran pulau itu.

Buaya menyasar ke perairan sekitar permukiman penduduk diduga untuk mencari makan karena kelaparan. Sumber makanan di habitatnya diduga makin sulit didapat sehingga satwa ganas itu menyebar mencari makanan hingga ke perairan permukiman penduduk.

Pewarta: Rendhik Andika/Norjani
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sebanyak ini jumlah anak gajah jinak dimiliki TN Way Kambas

16 ekor anak gajah itu terdiri dari hasil evakuasi dari hutan karena ditinggal induk serta kelompoknya dan anak dari gajah jinak Way Kambas,

Lampung Timur (ANTARA) – Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung kini memiliki 16 ekor anak gajah sumatera jinak.

Kepala Balai TNWK Lampung, Subakir di Lampung Timur, Kamis, menyebutkan 16 ekor anak gajah itu terdiri dari hasil evakuasi dari hutan karena ditinggal induk serta kelompoknya dan anak dari gajah jinak Way Kambas.

Nama-nama bayi gajah jinak itu, di antaranya Yulia, betina (berusia 4 tahun), Amel, betina (4), Fatra, jantan (4), Pangeran, jantan (3), Verdy, jantan (3), Ratu Fitria, betina (1), Desti, betina (1), Nunik, betina (1), Qori, betina (1), Linda, betina (1), Sonja, betina (kurang dari setahun).

Ditambah dua anak gajah jantan yang lahir di Camp Eru Way Kambas pada 14 Januari 2019, dan 26 Februari 2019.

Lalu, anak gajah dari evakuasi, Yeti, betina (4), Erin, betina (3), Elene, betina (3).

Humas Balai TNWK Sukatmoko menambahkan secara total jumlah gajah jinak di Way Kambas mencapai 68 ekor. “68 ekor itu sudah termasuk 16 ekor anak gajah itu,” katanya lagi.

Sedangkan jumlah gajah liar berdasarkan survei Balai TNWK pada tahun 2010 diperkirakan mencapai sebanyak 247 ekor.

Menurut Sukatmoko, akan dilakukan survei ulang pada tahun ini untuk mengetahui peningkatan atau penurunan populasi gajah liar sumatera (Elephas maximus sumatranus) di hutan Way Kambas.

Selain di Taman Nasional Way Kambas, gajah liar di Lampung juga terdapat di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berada pada empat wilayah, yaitu Kabupaten Lampung Barat, Pesisir Barat, Tanggamus (Provinsi Lampung), dan wilayah Provinsi Bengkulu.

Pewarta: Budisantoso B & Muklasin
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Inilah… jumlah orangutan yang dilepasliarkan ke TNBBBR

Kami di Balai TNBBBR bersama tim dari Yayasan BOS, bertanggung jawab menjamin keselamatan dan kesejahteraan para orangutan itu. Kami berharap mereka pun bisa membentuk generasi baru populasi orangutan liar yang mandiri dan lestari,

Palangka Raya (ANTARA) – Yayasa Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah, kembali melepasliarkan enam orangutan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Katingan.

Melestarikan satwa liar di habitatnya, adalah langkah penting untuk memastikan keberhasilan upaya konservasi dalam jangka panjang, kata Kepala Balai TNBBBR Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, Agung Nugroho di Palangka Raya, Kamis.

“Kami di Balai TNBBBR bersama tim dari Yayasan BOS, bertanggung jawab menjamin keselamatan dan kesejahteraan para orangutan itu. Kami berharap mereka pun bisa membentuk generasi baru populasi orangutan liar yang mandiri dan lestari,” ucapnya.

Enam orangutan itu terdiri dari tiga jantan yakni Rosidin umur 20 tahun, Tristan umur 16 tahun, dan Borneo 1 tahun, dan tiga betina yakni Buntok umur 12 tahun, Paijah 15 tahun, dan Danida 13 tahun.

CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite mengatakan keenam orangutan itu sebelum dilepasliarkan, harus menempuh perjalanan selama 10 hingga 12 jam menempuh jalur darat dan sungai menuju titik-titik pelepasliaran yang telah ditentukan di hutan TNBBBR.

“Manusia sebenarnya menerima manfaat terbesar apabila lingkungan hidup terjaga baik dan lestari. Oleh karena itu, kita seharusnya bekerja bersama untuk mewujudkan hal ini,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalteng, Adib Gunawan mengaku pihaknya terus menjalin kerja sama erat dengan berbagai pihak yang aktif bergerak dalam upaya pelestarian lingkungan.

Dia mengemukakan Yayasan BOS yang membantu pihaknya merehabilitasi orangutan korban deforestasi pun secara teratur melepasliarkan orangutan ke habitat alaminya, yang dengan baik dikelola rekan-rekan kami di Balai TNBBBR.

Sejak 2016, kerja sama ini telah berhasil memulangkan ratusan orangutan ke habitatnya. pelepasliaran enam orangutan itu pun sebagai hasil kerja bersama yang luar biasa, jumlah totalnya mencapai 120,” ujarnya.

Dia pun berharap upaya ini bisa direplikasi atau bahkan dikembangkan oleh para pemangku kepentingan lain, demi pelestarian lingkungan di provinsi Kalteng.

Pewarta: Rendhik Andika
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA rawat seekor kukang liar dari warga

Bengkulu (ANTARA) – Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Bengkulu-Lampung di Kabupaten Rejang Lebong, saat ini tengah merawat seekor primata dilindungi jenis kukang yang diserahkan warga di daerah itu.

Kepala Unit Polisi Hutan BKSDA Wilayah I Bengkulu-Lampung, Reza Al Fitriansyah, di Rejang Lebong, Rabu, mengatakan satwa dilindungi itu diserahkan warga dalam kondisi mengalami luka dibagian paha kiri.

“Saat ini sedang dilakukan perawatan guna memulihkan lukanya. Kukang ini diserahkan oleh warga Kelurahan Kampung Jawa, setelah ditangkap karena berkeliaran untuk mencari makan di wilayah itu,” ujarnya.

Kukang yang diserahkan warga ini tambah dia, akan dilakukan perawatan hingga satu bulan ke depan guna menyembuhkan lukanya, dan nantinya akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Dari pemeriksaan yang dilakukan pihaknya, diketahui jika kukang dewasa yang belum diketahui umur dan jenis kelaminnya itu masih tergolong liar, hal ini bisa dilihat dari perilaku, gigi dan kukunya masih tajam.

Sejauh ini kasus penemuan kukang yang masuk ke pemukiman penduduk, kata dia, sudah sering terjadi sejak beberapa tahun belakangan karena lokasi habitat kukang di Kabupaten Rejang Lebong terus menyusut karena perkembangan penduduk.
Habitat primata ini biasanya berada di hutan dan juga sering ditemukan di perkebunan warga serta hutan bambu.

Untuk itu, dia mengimbau warga agar tidak memperdagangkannya, atau warga yang memeliharanya agar diserahkan kepada petugas BKSDA, karena kukang termasuk satwa dilindungi sesuai dengan UU No.5/1990, Konservasi SDA Hayati dan Ekosistemnya, di mana ancaman hukumannya bisa mencapai 5 tahun penajara.*

Baca juga: Warga Sukabumi serahkan hewan dilindungi

Baca juga: 77 kukang diserahkan ke BKSDA Jabar

Pewarta: Nur Muhamad
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Warga diimbau waspada ancaman buaya

Ambon (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku mengimbau warga Desa Mamala Kabupaten Maluku Tengah, untuk mewaspadai munculnya buaya muara di sungai air besar.

“Akhir-akhir ini sering munculnya buaya muara di Desa Mamala, kami menghimbau kepada warga yang sering melakukan aktifitas sehari di sungai air besar untuk waspada, terutama di malam hari karena buaya sifatnya nokturnal artinya aktif di malam hari,” kata Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi, Rabu.

Ia mengatakan, imbauan disampaikan mengingat seekor buaya muara kembali ditangkap warga Pukul 13.05 WIT di Dusun Air Besar, Desa Mamala.

Buaya muara jenis kelamin jantan dengan panjang sekitar 1,2 meter ditemukan warga Mamala Zakaria pukul 01.00 wit dini hari di sungai air besar, Desa Mamala.

“Informasi dari warga bahwa buaya sudah terlihat di sungai air besar sejak seminggu yang lalu, dan tidak ada korban dari keberadaan buaya di sungai karena buaya tergolong masih kecil,” katanya.

Menurut dia, sebelum buaya tersebut diserahkan kepada petugas BKSDA Maluku, ada oknum warga yang tidak mau menyerahkan buaya, karena diduga buaya akan dikomersilkan.

“Akhirnya warga menyerahkan buaya muara kepada petugas BKSDA disaksikan anggota Polsek Leihitu dan Babinsa TNI,” ujarnya.

Mukhtar mengakui, buaya muara saat ini berada di kandang karantina di Desa Passo untuk direhabilitasi dahulu yakni mengobati luka dikepalanya, sebelum buaya tersebut dilepasliarkan ke habitatnya.

Proses pelepasliaran akan dilakukan setelah buaya dinyatakan sehat. Sesuai rencana akan diliarkan di kawasan suaka alam Sungai Nief Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Selain itu sesuai rencana Kamis (14/3) petugas BKSDA Maluku (Resort Pulau Ambon) bersama warga Desa Mamala akan melakukan investigasi dan penyisiran ke TKP untuk mencari kemungkinan masih adanya buaya lainnya di sungai tersebut.

“Upaya ini dilakukan karena sungai air besar bukanlah habitat buaya,” tandasnya.

Mukhtar juga mangimbau waraga jika melihat adanya kemunculan atau keberadaan buaya agar disampaikan kepada petugas, atau melaporkan melalui call center BKSDA Maluku 085244440772.

“Hal ini penting karena buaya muara merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi undang undang,” katanya.*

Baca juga: BKSDA Maluku amankan buaya muara di kandang transit

Baca juga: BKSDA Maluku pasang perangkap buaya yang muncul di Pelabuhan Yos Sudarso

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Aceh evakuasi orangutan dengan kondisi luka tembak

Kami menyesalkan dan mengutuk siapapun yang melukai serta menyiksa kedua individu orangutan tersebut. Kami bersama penegak hukum akan berupaya mengungkap pelaku kekejaman tersebut

Banda Aceh (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengevakuasi dua individu orangutan ((Pongo abelii) , induk dan anak yang mengalami luka tembak senapan angin.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Selasa, mengatakan, orangutan tersebut dievakuasi dari kebun warga di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

“Evakuasi berlangsung pada Minggu (10/3). Kondisi induk saat dievakuasi memrihatinkan. Begitu juga anak orang utan tersebut, kekurangan nutrisi, sehingga menyebabkan satwa dilindungi tersebut mati saat dalam perjalanan ke lokasi karantina,” katanya.

Evakuasi melibatkan personel Satuan Konservasi Wilayah II Resor 17 Rundeng bersama mitra kerja Wildlife Conservation Center Indonesia Program (WCS-IP) dan Orangutan Information Centre (OIC).

Sapto Aji Prabowo menyebutkan, induk orangutan saat dievakuasi kurang sehat dengan kondisi luka kaki dan jari tangan. Mata induk orang utan tersebut juga terkena peluru senapan angin.

Setelah berhasil ditangkap, anak dan induk orang utan tersebut ke lokasi karantina di Sibolangit, Sumatera Utara. Namun, dalam perjalanan anak orang utanmati karena kondisinya malnutrisi.

“Anak orangutan tersebut dikubur di Sibolangit. Sedangkan hasil pemeriksaan induk orangutan di Sibolangit, ditemukan 73 butir peluru senapan angin,” katanya.

Selain itu, induk orangutan tersebut juga mengalami patah tulang tangan, kaki tangan, dan jari. induk orang utan tersebut mengalami luka bacok bernanah di punggung.

“Kami menyesalkan dan mengutuk siapapun yang melukai serta menyiksa kedua individu orang utan tersebut. Kami bersama penegak hukum akan berupaya mengungkap pelaku kekejaman tersebut,” demikian Sapto Aji Prabowo. 

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ratusan hektare hutan mangrove di Secanggang Langkat-Sumut rusak

Kerusakan disebabkan karena banyaknya alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. pertambakan dan faktor alam lainnya

Langkat (ANTARA) – Kerusakan hutan mangrove di Desa Selotong Kecamatan Secanggang, Langkat, Sumatera Utara, hingga kini diperkirakan mencapai 650 hektare disebabkan alih fungsi menjadi perkebunan sawit dan pertambakan, kata pejabat berwenang

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Wampu dan Sei Ular, Heru Winarto, di Langkat, Selasa, mengatakan 640 hektare lahan hutan mangrove (bakau) yang sudah rusak tersebut harus segera diantisipasi dengan dilakukan penanaman kembali.

“Kerusakan disebabkan karena banyaknya alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. pertambakan dan faktor alam lainnya,” katanya.

Padahal, kata dia, hutan mangrove tersebut memiliki banyak fungsi dan mamfaat di antaranya bisa menanahan ombak (abrasi), tempat tumbuh dan berkembang biaknya biota laut seperti ikan, udang, kepiting, serta tempat berlindungnya mamalia lainnya seperti monyet.

“Kalau sampai kondisi tersebut dibiarkan berlarut tentunya akan berdampak pada ekositem alam disana. Tentunya kita sangat mengharapkan kepada masayrakat agar sama-sama menjaga kelestarian hutan bakau,” katanya.

Selotong Imran, salah seorang warga setempat, mengatakan, saat ini sudah ada upaya untuk perbaikan yang dilakukan dengan menanam kembali di atas lahan seluas dua hektare dengan 2.000 batang pohon mangrove.

Selain itu juga akan ditanam 5.000 batang pohon bibit lainnya yang disumbangkan dari Kemeneterian Kehutanan maupun swadaya dari relawan, katanya.

“Direncanakan lahan yang rusak yang berada di Desa Selotong itu, akan diupayakan untuk dilakukan penanaman kembali,” katanya.

Baca juga: Kerusakan hutan mangrove Langkat sangat mengkhawatirkan

Baca juga: Hutan mangrove Langkat kawasan wisata belajar

Pewarta: Juraidi dan imam Fauzi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BPBD sebut karhutla di Nagan Raya-Aceh diduga sengaja dibakar

Kuat dugaan, lahan di Cot Meu sengaja dibakar oknum untuk proses pembersihan guna membuka lahan baru

Banda Aceh (ANTARA) – Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut awalnya terjadi di Gampong (desa) Cot Meu hingga meluas menjadi sekitar 18,7 hektare di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, diduga kuat segaja dibakar.

“Kuat dugaan, lahan di Cot Meu sengaja dibakar oknum untuk proses pembersihan guna membuka lahan baru,” kata Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Senin.

Ia menjelaskan bahwa total ke-18,7 hektare lahan yang terbakar ini, 12,2 hektare di antaranya merupakan milik masyarakat di Desa Cot Mue, Kecamatan Tadu Raya yang mulai terbakar pada Jumat (8/3).

Lahan yang terbakar tersebut meluas hingga ke lahan di dua gampong milik masyarakat, dan satu perusahaan, yakni Desa Lawa Batu, Kecamatan Kuala seluas lima hektare, dan PT SPS di Kecamatan Darul Makmur seluas 1,5 hektare pada Sabtu (9/3).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagan Raya, aparat gabungan unsur TNI/Polri, dan masyarakat setempat hingga kini masih melakukan upaya pemadaman di lokasi dengan mengerahkan satu unit mobil pemamdam, tiga unit mesin pompa air, dan satu alat berat.

“Di PT SPS, titik api sudah padam. Sedangkan di Gampong Cot Mue, dan Gampong Lawa Batu telah dilakukan lokalisir menggunakan ekskavator agar api tidak merambat ke lahan kering yang lain,” katanya.

“Petugas di lapangan juga menghadapi kendala akibat tanah gambut, sehingga mobil pemadam tidak bisa masuk kelokasi lahan yang terbakar. Kurangnya peralatan, dan minimnya sumber air,” kata Dadek.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun lalu menyatakan, sedang mengembangkan teknologi tepat guna yang memudahkan masyarakat membuka lahan tanpa melakukan pembakaran.

“Kami sedang melakukan studi dan pelatihan untuk pembukaan lahan tanpa bakar dan ini diperlukan teknologi, tentunya teknologi yang tepat guna sehingga rakyat tidak perlu membakar tapi cukup dengan menggunakan teknologi ini,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Ruandha Agung Sugardiman.

Ruandha menjelaskan membuka lahan dengan melakukan pembakaran, apalagi pada yang lahan luas, berisiko mengganggu lingkungan sekitar selain menambah buangan gas rumah kaca yang mempengaruhi perubahan iklim.

Kementerian, ia melanjutkan, melakukan sosialisasi dari rumah ke rumah untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai bahaya melakukan pembakaran lahan atau area hutan.

“Jadi kami lakukan sosialisasi door to door (rumah ke rumah) sehingga rakyat akan sadar bahwa kebakaran hutan ini menjadikan bahaya tidak saja bagi daerah mereka masing-masing, tapi juga bagi Indonesia pada umumnya,” katanya.

Baca juga: Api hanguskan 10 hektare lahan gambut di Nagan Raya

Baca juga: Kebakaran landa 6,5 hektare hutan di Nagan Raya

Pewarta: Muhammad Said
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Isteri menteri Kabinet Kerja tanam mangrove di Lombok

Luas hutan mangrove yang rusak mencapai 1,81 juta hektare dari total 3,48 juta hektare. Kerusakan mangrove itu berdampak pada hilangnya kemampuan menyerap 190 juta ton CO2 setiap tahunnya.

Mataram (ANTARA) – Sejumlah istri menteri yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) bersama Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Nusa Tenggara Barat menanam 5.000 mangrove di Pantai Cemare, Desa Lembar Selatan, Senin (11/3).

Hadir dalam kegiatan penanaman tersebut, istri Menteri Agama Trisna Willy Lukman Hakim, istri Menteri Pemuda dan Olahraga Shobibah Rohmah Nahrawi, Ketua TP-PKK NTB Hj Niken Zulkieflimansyah, Ketua TP-PKK Kabupaten Lombok Barat Hj Khairatun Fauzan Khalid, dan Komandan Distrik Militer 1606 Lombok Barat Letkol (Czi) Djoko Rahmanto.

Istri Menteri Agama, Trisna Willy Lukman Hakim, dalam sambutannya mengatakan kegiatan penanaman mangrove tersebut sebagai upaya peningkatan pengetahuan dan membangun peran perempuan dalam mitigasi bencana dan perubahan iklim di wilayah pesisir.

Kondisi saat ini, kata dia, luas hutan mangrove yang rusak mencapai 1,81 juta hektare dari total 3,48 juta hektare. Kerusakan mangrove tersebut berdampak pada hilangnya kemampuan menyerap 190 juta ton CO2 setiap tahunnya.

“Serta meningkatnya kerentanan terhadap abrasi dan bencana gelombang laut atau tsunami,” katanya.

Trisna juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menumbuhkembangkan kesadaran untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove dan hutan pantai serta memulihkan ekositem mangrove yang kondisinya rusak melalui upaya rehabilitasi.

Sementara itu, Ketua TP-PKK Lombok Barat Hj Khairatun Fauzan Khalid mengaku sangat antusias dengan program yang diinisiasi Ibu Negara Iriana Joko Widodo.

Melalui kegiatan tersebut diharapkan mampu memberi keteladanan kepada masyarakat untuk menjaga ekosistem lingkungan pantai.

“Ekosistem laut yang kita lihat sekarang jauh lebih baik dibanding dengan tahun sebelumnya. Dan jangan merusak lingkungan kita, apa yang sudah kita tanam terkait mangrove ini dan harus dipertahankan untuk penanaman kembali,” katanya.

Agung, salah seorang nelayan sekitar, menyampaikan dukungannya atas kegiatan penanamam ribuan batang bibita mangrove

Menurut dia, pohon mangrove yang tumbuh di sekitaran pesisir pantai dapat berfungsi untuk membantu ekosistem lingkungan pantai.

“Harapan ke depannya semoga lingkungan di pantai cemare khususnya di daerah pantai tetap alami dan tidak tercemar oleh polusi dan limbah sehingga kelangsungan ekosistem biota laut dapat tumbuh dan berkembang biak,” tuturnya.

Program penanaman bibit mangrove yang digagas Ibu Negara Iriana Joko Widodo tersebut menargetkan jumlah pohon yang ditanam sebanyak 1 juta batang.

Untuk tahap pertama, sebanyak 53 ribu batang pohon ditanam secara serentak pada Senin (3/11), di 10 provinsi, yakni di kawasan pantai Kabupaten Langkat Sumatera Utara, Kecamatan Pasir Saleti Lampung Timur, Lemah Wungkuk Cirebon Jawa Barat, Sawo Jajar Brebes Jawa Tengah, Tanah Bumbu Kalimantan Selatan.

Selain itu, Pohuwato Gorontalo, Donggala Sulawesi Tengah, Pandeglang Banten, Teluk Ambon Maluku, dan Pantai Cemare, NTB. 

Baca juga: Warga Lombok Barat berikrar menjaga kelestarian mangrove

Baca juga: Lombok Barat targetkan tanam 80 ribu mangrove

Pewarta: Awaludin
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengakhiri eksploitasi kera ekor panjang

Jakarta (ANTARA) – Atraksi topeng monyet yang kembali muncul di Jakarta menjadi alasan bagi aparat terkait melakukan tindakan tegas berupa razia. Tujuannya agar ibu kota benar-benar bebas dari atraksi tersebut.

Akhir pekan lalu, aparat Dinas Kehutanan DKI Jakarta dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyita delapan kera ekor panjang (Macaca Fascicularis) yang dijadikan media atraksi topeng monyet. Penyitaan dari pelaku usaha topeng monyet dilakukan saat razia di Gang Sawah Lio 8, Jembatan Lima, Jakarta Barat.

Selain menyita delapan kera, tim juga mengamankan dua pelaku usaha beserta sejumlah alat peraga topeng monyet. Dua pelaku usaha topeng monyet ditangkap ketika bersiap untuk berangkat ngamen.

Setelah dicek identitasnya, pelaku menujukkan Karta Tanda Penduduk (KTP). Kedua pelaku berasal dari Cirebon (Jawa Barat).

Hanya saja, untuk pelaku usaha topeng monyet tidak dikenai sanksi melainkan diminta datang ke Dinas Kehutanan DKI Jakarta. Tujuannya supaya tidak mengulang tindakannya, yakni menggunakan kera sebagai sumber mata pencaharian.

Kera dan alat peraga topeng monyet disita agar tidak lagi digunakan untuk atraksi. Kemudian pelakunya yang diminta datang ke Dinas Kehutanan untuk diberi pembinaan dan pengarahan agar tidak melakukan usahanya lagi.

Petugas BKSDA dan Dinas Kehutanan DKI Jakarta kemudian menyerahkan barang bukti kera dan alat peraga topeng monyet kepada Jakarta Animal Aid Network (JAAN) untuk dilakukan rehabilitasi. Namun sebelum proses rehabilitasi, pihak JAAN akan melakukan tes kesehatan kepada delapan monyet di Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

Saat berlangsung penyitaan, teridentifikasi satu kera bersin-bersin hingga keluar ingusnya. Ada dugaan sementara terkena flu, namun untuk kepastiannya masih menunggu hasil laboratorium.

Jika hasil tes kesehatan kera teridentifikasi terkena tuberkulosis (TBC) dan rabies maka pihak JAAN akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan pengecekan kesehatan. Pengecekan kesehatan tidak saja terhadap monyet atau keranya, namun juga kepada pemilik topeng monyet.

Setelah dilakukan tes kesehatan nantinya delapan kera ini akan direhabilitasi di pusat rehabilitasi eks topeng monyet di Cikole, Lembang, Bandung (Jawa Barat).

Baca juga: Pelaku usaha topeng monyet harus ditindak tegas Seekor Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) diikat oleh petugas saat tertangkap dalam razia topeng monyet di kantor BKSDA DKI Jakarta, Jalan Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu (9/3/2019). (ANTARA/Galih Pradipta)
Hentikan Pelatihan
Menurut Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsitawati mengatakan saat razia di Jakarta Barat, petugas dari Dinas Kehutanan tidak melakukan penangkapan terhadap para pelaku. Hal itu dilakukan mengingat belum adanya regulasi larangan topeng monyet yang memuat sanksi tegas bagi para pelaku.

Yang jelas, pencegahan masuknya kelompok usaha topeng monyet ke Jakarta tidak hanya dilakukan melalui razia. Namun juga mendorong pihak terkait lainnya agar tempat-tempat pelatihan topeng monyet di beberapa daerah dihentikan.

Dinas Kehutanan dan BKSDA DKI Jakarta telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menghentikan kegiatan pelatihan atau “sekolah” topeng monyet yang berada di Jawa Barat. Selama tempat melatih kera itu masih ada, maka tidak mudah menghentikan keinginan menghentikan munculnya kelompok yang mengusahakan topeng monyet sebagai pekerjaan.

Berdasarkan inormasi yang diterima Dinas Kehutanan dan BKSDA Jakarta, tempat-tempat pelatihan topeng monyet berdi Sumedang, Tasikmalaya dan Cirebon. Semua di Jawa Barat.

Ke depan, jika kelompok topeng monyet itu masih masuk Jakarta, akan dijerat dengan KUHP pasal penyiksaan hewan. Dengan tindakan tegas itu dharapkan tempat pelatihan topeng monyet tutup dan tidak ada lagi topeng monyet dari daerah-daerah.

Untuk sementara, Dinas Kehutanan DKI tidak melakukan penangkapan terhadap pelaku usaha topeng monyet. Yang dilakukan adalah upaya persuasif dan pemberitahuan bahwa kegiatan yang mereka lakukan dilarang.

Hasil rapat koordinasi dengan BKSDA salah satunya adalah mendorong Dinas Kehutanan untuk menyusun perda tentang larangan topeng monyet.

Pemerintah provinsi memang belum membuat perda yang memuat sanksi bagi para pelaku usaha topeng monyet yang bertujuan untuk mberikan efek jera. Pemerintah harus mencari solusi untuk memberikan alih profesi bagi pelaku usaha topeng monyet.

Baca juga: JAAN bersama Pemprov DKI merazia topeng monyet Petugas menyita seekor monyet berikut peralatan atraksi topeng monyet usai dilakukan razia di Jakarta Pusat, Sabtu (9/3/2019). (ANTARA/Shofi Ayudiana)
Luar Jakarta
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ahmad Munawir mengatakan hukuman yang terdapat di pasal 302 KUHP belum diterapkan kepada pelaku usaha topeng monyet. Kebanyakan para pelakunya ini dibina oleh Dinas Sosial untuk dididik dan mendapatkan pelatihan supaya tidak melakukan atraksi topeng monyet lagi.

Berdasarkan identifikasi, mayoritas pelaku usaha topeng monyet berasal dari luar Jakarta. Setelah pembinaan itu, pelaku usaha topeng monyet diminta pula ke daerahnya masing-masing.

Bagi JAAN, razia topeng monyet itu sebagai langkah yang tepat. Tanpa ada tindakan tegas berupa razia dan penegakan aturan, dikhawatirkan topeng monyet akan marak di Jakarta.

Itulah sebabnya, JAAN mendukung Dinas Kehutanan mendesak pemerintah mengeluarkan peraturan untuk memberikan sanksi kepada para pelaku usaha topeng monyet. Ke depan harus ada aturan yang mengatur berkoordinasi terkait pelarangan topng monyet.

Pihaknya pun mendorong agar ada peraturan tegas dengan menambah berat sanksi bagi para pelaku. Ini dinilai penting agar ada efek jera kepada pelakunya.

Kepala Divisi Satwa Liar JAAN Rahmat Zai menyatakan pelaku usaha topeng monyet harus ditindak tegas. Hukuman kepada pelaku usaha topeng monyet salah satunya diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 302 tentang penyiksaan hewan.

Namun ketentuan hukuman dalam pasal tersebut dikeluarkan pada zaman Belanda. Sanksi yang diberikan pun tergolong ringan, yaitu kurungan penjara selama tiga bulan dan denda Rp2.500.

Baca juga: JAAN: waspadai penyakit menular dari topeng monyet Kepala Divisi Satwa Liar Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Rahmat Zai (kiri) mengamankan pelaku usaha topeng monyet di Ragunan, Jakarta, Jumat (7/12/2018). (ANTARA/Andi Firdaus/Ist)
Penyiksaan
Atraksi topeng monyet melanggar KUHP karena merupakan bentuk eksploitasi dan kekerasan terhadap hewan untuk semata-mata memperoleh keuntungan dari hewan tersebut. Namun sanksinya masih terbilang ringan sehingga mereka yang tertangkap tidak jera dan berusaha untuk tetap kembali ke Jakarta.

Dengan hukuman yang ringan, pelaku masih bisa mencari celah untuk tetap melakukan usaha topeng monyet di Jakarta. Meski monyet atau keranya telah disita, pelaku berusaha melanjutkan usaha topeng monyetnya dengan menyewa monyet yang lain.

Bahkan ada temuan bahwa pelaku sampai melakukan kredit monyet. Artinya, menyewa atau membeli monyet dengan cara mengkredit yang angsurannya berasal dari pendapatan saat atraksi.

JAAN pun mendorong seluruh pemerintah provinsi di Indonesia untuk membuat surat keputusan yang mengatur pelarangan topeng monyet karena hal tersebut adalah bentuk eksploitasi dan penyiksaan hewan. Selain DKI Jakarta, beberapa provinsi di Indonesia sudah mengeluarkan edaran pelarangan topeng monyet di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur.

Selain melanggar KUHP, topeng monyet juga melanggar Peraturan Kementan Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 Pasal 66 ayat 2 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1995 tentang Pengawasan Hewan Rentan Rabies dan Peraturan Daerah Nomor 2007 Pasal 11 ayat 2 tentang Ketertiban Umum.

Meski telah ada aturan mengenai pelarangan topeng monyet, tetapi atraksi itu masih kerap muncul di permukiman penduduk. Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah-daerah.

Butuh keseriusan dan ketegasan untuk menyikapinya. Namun juga bijak dalam menindaknya terutama terkait alih profesi bagi orang-orang yang selama ini menggeluti dan menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut.

Baca juga: Sekolah topeng monyet harus segera ditutup

Pewarta: Sri Muryono dan SDP XIX-10
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menghalau topeng monyet

Topeng monyet. Demikian nama y (ANTARA) – Topeng monyet. Demikian nama yang sangat populer di kalangan masyarakat, khususnya warga Jakarta untuk menggambarkan sebuah atraksi semacam sirkus jalanan yang menggunakan kera ekor panjang.

Entah apa yang mendasari penamaan atraksi itu dengan sebutan topeng monyet. Mungkin karena aktor utamanya, yaitu monyet kadang dipasangi topeng atau hal lain.

Yang pasti, monyet dalam atraksi ini tampak terlatih. Bisa menggunakan beragam peralatan yang dimaui pelaku usahanya, termasuk menggunakan sendiri topengnya.

Tak hanya itu, monyet dalam atraksi ini juga kadang dipakaikan baju atau celana. Kadang juga topi dan asesoris, seperti gelang dan kalung.

Dalam atraksi ini, monyet diminta pengasuhnya untuk memeragakan adegan yang diinginkan. Misalnya, naik sepeda mainan, main bola, berjoget atau menari.

Musik dari pengeras suara atau seperangkat gamelan sering mengiringi semua adegan kera dalam beragam gaya. Dalam setiap pertunjukkan, suara gaelan atau musik berbunyi keras sehingga menarik perhatian orang untuk mendekat dan menyaksikan atraksi ini.

Semakin keras bunyi atau suara yang diperdengarkan, semakin banyak orang berdatangan. Anak-anak adalah sasaran utama pertunjukan jalanan ini.

Ada gelak tawa dan keriuhan dari pertunjukkan ini. Anak-anak dan warga kadang sedikit takut mendekat kera yang sedang beratraksi, namun tetap menyaksikannya.

Takut dicakar atau digigit kera. Namun anak-anak dan sebagian warga tidak juga pergi meninggalkan atraksi yang cukup mengibur suasana.

Dari kerumunan itu, pemilik usaha topeng monyet meraup lembaran dan keoingan rupiah yang dilemparkan anak-anak dan warga. Dari lembaran rupiah itu, pemiik usaha topeng monyet bisa hidup.

Dulu pertunjukkan semacam itu sempat marak di perempatan atau lampu merah (traic light) di Jakarta. Sejak 2013, dilakukan pelarangan dan secara rutin dilakukan razia. Mereka pun hilang dari perempatan di ibu kota.

Bukan hanya di perempatan di kawasan yang jauh dari jalan protokol, aksi mereka pernah sering dilakukan di kawasan yang dekat objek vital kenegaraan. Sebut saja, mereka pernah sering mangkal di perempatan Patung Tani (Jakarta Pusat) atau perempatan sekitarnya.

Atraksi itu menarik perhatian pengguna jalan yang berhenti saat lampu merah menyala. Saat itu, selalu ada pengguna jalan yang melemparkan uangnya ke arah monyet yang menari atau beratraksi.

Sejak pelarangan dan razia, mereka tidak terlihat lagi. Praktis atraksi topeng monyet tak pernah terlihat lagi di perempatan lampu merah.

Namun pemilik usaha topeng monyet tampaknya tidak kehabisan akal untuk terus mempertahankan usahanya. Mereka pun berpindah tempat, dari jalanan ke permukiman atau kawasan padat penduduk.

Sampai akhirnya dilakukan penertiban atau pelarangan atraksi tersebut. Razia dilakukan secara rutin diiringi penyitaan peralatan atraksi dan monyet-monyetnya.

Monyet-monyet yang disita kemudian dikirim ke Taman Marga Satwa Ragunan untuk direhabilitasi. Hal itu menjadikan Jakarta bebas dari topeng monyet.
Baca juga: JAAN: waspadai penyakit menular dari topeng monyet Seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) diikat oleh petugas saat tertangkap dalam razia topeng monyet di kantor BKSDA DKI Jakarta, Jalan Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu (9/3/2019). (ANTARA/Galih Pradipta)
Eksploitasi
Alasan penyiksaan atau eksploitasi hewan sejenis monyet menjadi landasan aparat terkait melarang pertunjukkan ini. Pengelola usaha topeng monyet dianggap tidak manusiawi menyiksa kera untuk tujuan komersialisasi.

Penyiksaan terhadap monyet atau kera itu terlihat dari fisiknya yang terlihat kurus. Bulu-bulunya juga terlihat jarang.

Eksploitasi atau penyiksaan terlihat pula dari cara pengelolanya saat memerintahkan monyet memeragkaan atraksi tertentu. Kadang monyet harus dipecut dulu, setelah berlari sambil memeragakan atraksi tertentu kemudian memeragakan adegan lainnya.

Monyet juga ditarik dan diminta berlari ke sana-ke mari.Tali atau rantai dari baja dikalungkan di leher monyet.

Cara-cara seperti dipandang sebagai sebuah penyiksaan atau eksploitasi untuk memberi pendapatan kepada pelaku usahanya. Beragam kecaman pun diutarakan pegiat dan penyayang hewan.

Mereka bersama aparat terkait kemudian melakukan razia. Razia rutin dan tindakan tegas bisa mengakhiri maraknya atraksi topeng monyet di DKI.
Baca juga: Sekolah topeng monyet harus segera ditutup Kepala Divisi Satwa Liar Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Rahmat Zai (kiri) saat mengamankan pelaku usaha topeng monyet di Ragunan, Jakarta, Jumat (7/12/2018). (ANTARA/Andi Firdaus/Ist)
Penyakit Menular
Selain alasan manusiawi dan penyiksaan atau eksploitasi, hal lain yang mendasari dilakukan razia dan pelarangan topeng monyet adalah alasan kesehatan. Ini merupakan temuan dari kera-kera yang disita ternyata mengandung penyakit yang potensial menular ke manusia.

Adalah Jakarta Animal Aid Network (JAAN) yang selama ini aktif menentang ekspolitasi kera untuk atraksi tersebut. Organisasi non pemerintah yang terdiri atas para pegiatan atau aktivis perlindungan satwa itupun banyak melakukan edukasi kepada masyarakat terkait risiko dari atraksi topeng monyet.

Berdasarkan temuan dari monyet atau era yang disita kemudian direhabilitasi, JAAN mengimbau masyarakat untuk mewaspadai zoonosis atau penularan penyakit hewan kepada manusia dari kera jenis buntut panjang yang kerap merebak melalui aksi topeng monyet. Temuan itu tentu saja membuka mata hati masyarakat terkait atraksi topeng monyet.

Hasil kajian JAAN bersama tim medis menyebutkan bahwa aksi topeng monyet di tengah masyarakat berpotensi menularkan penyakit rabies, cacingan hingga tuberculosis (TBC). Temuan itu disampaikan Kepala Divisi Satwa Liar JAAN, Rahmat Zai di Jakarta, Jumat (8/3)..

Pada kurun 2013, JAAN bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta mendeteksi pengusaha topeng monyet yang dinyatakan positif mengidap TBC pada salah satu kawasan di wilayah setempat. Penyakit TBC diduga ditularkan kepada manusia melalui udara dari monyet pengidap penyakit pernafasan itu selama interaksi pelatihan maupun penangkaran.

Sejumlah kasus monyet yang pernah menggigit manusia pun dideteksi mengidap rabies. Kasus monyet atau kera menyerang beberapa bocah di kawasan Jakarta pernah terjadi.

Temuan itu menguatkan tekad untuk melakukan edukasi kepada masyarakat. Di samping itu, bersama pihak terkait gencar melakukan razia terhadap kelompok pelaku usaha topeng monyet.

Namun berdasarkan laporan dari masyarakat yang masuk melalui call center JAAN di nomor telepon 082210800810, eksploitasi terhadap satwa yang tidak dilindungi itu kembali muncul di Jakarta sejak Januari 2019 hingga sekarang.

Sebelumnya topeng monyet sempat terhenti di Jakarta pada kurun 2013 hingga 2018 karena masifnya penertiban. Namun dalam beberapa bulan terahir dideteksi muncul lagi.

Modus yang dilakukan mulai bergeser dari titik keramaian di persimpangan jalan besar menuju ke gang sempit di beberapa perkampungan di Jakarta. Biasanya atraksi marak pada hari Minggu.
Baca juga: JAAN intensifkan razia pelaku usaha topeng monyet Petugas menyita monyet yang biasa digunakan untuk atraksi topeng monyet (Ist)
Rabies
Pada kurun waktu 2013-2018, lembaga nonprofit itu bersama otoritas terkait menyita total 170 monyet dari berbagai tempat di Jakarta. Dari monyet sebanyak itu, 18 persen di antaranya positif TBC dan 100 persen cacingan.

Ada pula yang positif rabies walau angkanya tidak terlalu besar. Ini merupakan potensi risiko apalagi pengusaha topeng monyet diduga melepas liar hewan peliharaannya di lingkungan masyarakat di Jakarta.

Biasanya kalau monyet sudah berusia tua, sudah tidak laku lagi menjadi topeng monyet karena anak kecil biasanya takut dengan tubuhnya yang besar sehingga pelakunya melepaskan begitu saja monyet di Jakarta hingga dikhawatiran menyerang manusia.

Itulah sebabnyak, JAAN bersama pihak terkait kembali mengitensifkan razia kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang biasa digunakan para pelaku usaha topeng monyet selama beroperasi di wilayah Jakarta.

Upaya penyitaan monyet dari tangan pelaku usaha topeng monyet dilakukan JAAN dengan melibatkan sejumlah unsur terkait. Sebut saja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta hingga Satpol PP di wilayah masing-masing.

Tidak ada kompensasi untuk para pelaku usaha topeng monyet. Pelaku biasanya berkelompok yang berjumlah dua hingga tiga orang per monyet.

Dari 170 monyet yang disita, telah dilepaskan ke alam bebas sebanyak 145 ekor. Pelepasan itu dilakukan setelah monyet menjalani perawatan di penangkaran.

Terakhir JAAN dan BKSDA DKI pada Febuari 2019 melepas kera ekor panjang ke alam sebanyak 22 ekor. Pelepasan dilakukan di Gunung Tilu Bandung (Jawa Barat).

Sebelum dilepasliarkan kera-kera menjalani pembinaan, rehabilitasi dan perawatan oleh tim medis dalam waktu satu hingga tiga tahun. Melalui penangkaran, petugas bertugas mengembalikan kebiasaan alaminya dan menormalkan trauma hewan selama pertunjukan.

Menurut Kepala BKSDA DKI Jakarta Ahmad Munawir, sebenarnya sudah ada edaran gubernur (era Gubernur Joko Widodo) tentang pelarangan topeng monyet. Namun belakangan muncul lagi.

Karena itu, pihaknya bekerjasama dengan pihak terkait akan melakukan penyitaan terhadap kera-kera yg digunakan sebagai media topeng monyet itu. Diakui memang sudah lama vakum penindakan, namun baru-baru ini ada laporan lagi dari warga adanya topeng monyet di daerahnya.

Petugas telah melakukan beberapa kali penangkapan para pelaku usaha topeng monyet tersebut mayoritas berasal dari luar DKI Jakarta, yaitu Tasikmalaya dan Cirebon. Jika pelakunya dari DKI Jakarta akan dibina di Dinas Sosial untuk mendapat pelatihan tapi jika dari luar daerah akan dikembalikan ke daerah asalnya.

Aturan hukum terkait larangan aktivitas topeng monyet di Jakarta tertuang dalam sejumlah peraturan.Para pelaku usaha topeng monyet telah melanggar KUHP Pasal 302, Peraturan Kementan Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 Pasal 66 ayat 2 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dasar hukumnya juga diperkuat melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1995 tentang Pengawasan Hewan Rentan Rabies serta Pencegahan dan Penanggulangan Rabies Pasal 6 ayat 1 dan Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum Pasal 17 ayat 2.

Dari sisi aturan, lebih dari cukup alasan untuk melarang topeng monyet beraksi di Jakarta.
Baca juga: Pelaku usaha topeng monyet harus ditindak tegasatraksi

Pewarta: Sri Muryono dan SDP XIX-10
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sekolah topeng monyet harus segera ditutup

Jakarta (ANTARA) – Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsitawati mendesak pemerintah pusat untuk segera menutup sekolah topeng monyet yang ada di Sumedang, Cirebon dan Tasikmalaya (Jawa Barat).

“Menjerat pelaku sekolah usaha topeng monyet dengan pasal KUHP (penyiksaan hewan) sehingga diharapkan tidak ada lagi topeng monyet di daerah-daerah,” katanya ketika dihubungi Sabtu.

Dia menambahkan Dinas Kehutanan DKI tidak melakukan penangkapan terhadap pelaku pengguna jasa sekolah topeng monyet. Yang dilakukan adalah upaya persuasif dan pemberitahuan bahwa kegiatan yang mereka lakukan dilarang.

“Hasil rapat koordinasi dengan kepala BKSDA salah satu poinnya adalah mendorong Dinas Kehutanan untuk membuat perda tentang larangan topeng monyet,” katanya.

Namun pemerintah, menurut dia, memang belum membuat perda yang memuat sanksi bagi para pelaku usaha topeng monyet yang bertujuan untuk memberikan efek jera. Pemerintah harus mencari solusi untuk memberikan alih profesi bagi pelaku usaha topeng monyet.

Sementara itu, Jakarta Animal Aid Network (JAAN) mendukung Dinas Kehutanan mendesak pemerintah mengeluarkan peraturan untuk memberikan sanksi pada para pelaku usaha sekolah topeng monyet.

“Harus ada aturan yang mengatur berkoordinasi dan didorong untuk mengeluarkan peraturan untuk menambah sanksi bagi para pelaku,” kata Kepala Divisi Satwa Liar, Rahmat Zai ketika ditemui di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Sabtu.

Dinas Kehutanan bersama dengan JAAN dan BKSDA melakukan razia pemeliharaan monyet yang digunakan untuk atraksi topeng monyet di Gang Sawah Liong 8, Jembatan Lima, Jakarta Barat, setelah beberapa lama tidak melakukan penertiban terhadap pelaku usaha topeng monyet di DKI Jakarta.
Baca juga: JAAN intensifkan razia pelaku usaha topeng monyet
Baca juga: Pelaku usaha topeng monyet harus ditindak tegas
Baca juga: JAAN: waspadai penyakit menular dari topeng monyet

Pewarta: Sri Muryono dan Shofi Ayudiana
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hutan orangutan terancam alih lahan

Palangka Raya (ANTARA) – Ketua Yayasan Borneo Nature Foundation, Juliarta Bramansa Ottay menyebut spesies langka di sejumlah wilayah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) terancam punah.

“Melalui penelitian yang kami lakukan, terungkap keragaman satwa liar, termasuk sejumlah spesies langka, kini terancam,” kata Juliarta Bramansa Ottay di Palangka Raya, Jumat.

Dia menerangkan, penelitian yang dilakukan tersebut meliputi bentang wilayah sungai Rungan yang berada Kota Palangka Raya, Kabupaten Gunung Mas dan Pulang Pisau Kalimantan Tengah.

Juliarta mengatakan, melalui pengamatan kamera jebakan dan survei fauna, pihaknya berhasil mendokumentasikan sebanyak 34 spesies mamalia yang 19 diantaranya dilindungi oleh hukum dan 108 spesies pohon yang 12 diantaranya rentan dan terancam.

Kemudian sebanyak 118 spesies burung yang 27 diantaranya dilindungi oleh hukum, 20 spesies reptil dan amfibi yang lima diantaranya dilindungi oleh hukum serta 20 spesies ikan.

World Conservation Union mengklasifikasikan, dua dari spesies ini statusnya sangat terancam punah, yakni orangutan Kalimantan dan ibis berbahu putih. Kemudian empat lainnya berstatus terancam punah dan 16 dalam kondisi rentan.

“Mereka semua menghadapi ancaman kepunahan yang tinggi di masa depan, makanya penting bagi kita untuk melestarikannya,” katanya.

Juliarta menjelaskan, rangkaian penelitian berkualitas tinggi sengaja dilakukan untuk menyediakan informasi berbasis bukti ilmiah bagi pengelolaan dan strategi pelestarian serta pembuatan kebijakan di masa mendatang terhadap bentang alam Rungan.

Khususnya berupa identifikasi, deskripsi dan penelitian potensi konservasi serta menghasilkan rencana konservasi untuk wilayah tersebut bersama masyarakat, pemerintah dan pihak terkait lainnya.

Sementara itu, pada penilaian kelayakan habitat dan populasi orangutan tahun 2016 yang dilakukan KLHK dan FORINA, lanskap Rungan berada pada urutan ke-4 prioritas konservasi orangutan dengan proyeksi meta-populasi sebanyak 2.260 orangutan.

“Hutan Rungan merupakan salah satu lokasi populasi orangutan terbesar di dunia, berada di wilayah yang tidak dilindungi serta memiliki rencana alih lahan hutan,” ungkap Juliarta.

Diharapkan melalui sejumlah upaya yang telah dan sedang dilakukan, mampu melindungi keanekaragaman hayati dan mencegahnya dari berbagai potensi kerusakan maupun upaya perusakan dari oknum tidak bertanggung jawab.*

Baca juga: Orangutan masuk desa di pedalaman Barito Utara-Kalteng

Baca juga: Orangutan berkeliaran di kebun warga ditangkap BKSDA Kalteng

Pewarta: Rendhik Andika/Muhammad Arif Hidayat
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sarang buaya yang menyerang warga Pasaman ditemukan BKSDA Agam-Sumbar

Kita akan memasang imbauan berupa spanduk agar warga tidak melakukan aktivitas di dalam sungai dan meminta pemerintah ‘nagari’ untuk melarang warga melakukan aktivitas di sungai

Lubukbasung (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam, Sumatera Barat, menemukan tiga lokasi diduga merupakan sarang buaya muara (Crocodylus porosus) di Sungai Batang Masang Kiri, tempat Misrel (35) warga Pasaman diserang hewan dilindungi itu, Rabu (6/3) malam.

Kepala BKSDA Resor Agam Syarial Tanjung didampingi Pengendali Ekosistem Hutan, Ade Putra di Lubukbasung, Jumat, mengatakan, pihaknya menemukan jejak kaki dari buaya di lokasi itu dengan berbagai ukuran.

“Ini berdasarkan penyisiran yang kita lakukan di sepanjang Sungai Masang Kiri di Silareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kamis (7/3),” katanya.

Penyisiran itu melibatkan petugas BKSDA, anggota Polres Agam, aparat pemerintahan nagari setempat, petugas keamanan PT AMP Plantation dan salah seorang teman korban.

Dari keterangan teman korban, petugas melakukan penyisiran dihampir sepanjang Sungai Batang Masang Kiri dan menemukan beberapa lokasi yang diduga merupakan sarang satwa dilindungi tersebut.

Pihaknya juga menemukan puluhan warga yang sedang menangkap ikan di dalam sungai dan meminta untuk keluar atau tidak melakukan aktivitas.

“Kita akan memasang imbauan berupa spanduk agar warga tidak melakukan aktivitas di dalam sungai dan meminta pemerintah ‘nagari’ untuk melarang warga melakukan aktivitas di sungai,” katanya.

BKSDA akan meningkatkan pemantauan dan patroli di sekitar lokasi setiap saat, karena buaya dalam keadaan terluka.

“Ini berdasarkan keterangan teman korban pada malam naas tersebut, buaya dalam kondisi terluka akibat pertarungan sengit dengan korban dan teman-temannya dalam upaya menyelematkan korban,” katanya

“Dengan kondisi itu dikhawatirkan buaya akan semakin agresif dan mengganas, sehingga akan menyerang warga saat berada di dalam sungai,” tambahnya.

Sebelumnya, Misrel (35) beserta tiga orang temannya atas nama IN (37), Birin (50) dan Sarel (30) menangkap ikan di Sungai Batang Masang Kiri dengan cara menyelam untuk menembak ikan, Rabu (6/3) malam.

Tidak berapa lama, tambahnya, tiba-tiba Misrel digigit buaya, namun korban berhasil melepaskan diri dari terkaman buaya setelah dibantu temannya.

Setelah itu korban langsung dibawa ke rumah bidan yang ada di Silareh Aia, Kecamatan Palembayan dan sesampai di rumah bidang korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubukbasung dan dirujuk ke Rumah Sakit

Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang setelah mengalami patang tulang dan luka robek pada kaki kanan.

“Tiga orang teman korban selamat dari gigitan buaya itu,” tambahnya. 

Baca juga: BKSDA Agam pasang jaring antisipasi buaya muara masuk permukiman

Baca juga: BKSDA Agam data populasi buaya muara untuk pengusulan lokasi KEE

Pewarta: Altas Maulana dan Yusrizal
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Koalisi aktivis desak pemerintah selamatkan orangutan tapanuli

Jakarta (ANTARA) – Koalisi Perlindungan Orangutan pada Rabu mendesak pemerintah Indonesia menyelamatkan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) dari dampak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Sumatera Utara.

“Orangutan tapanuli adalah spesies yang berbeda yang harus dilindungi,” kata Glenn Hurowitz, pemimpin eksekutif Mighty Earth, organisasi nirlaba yang gencar melakukan kampanye untuk melindungi hutan tropis, laut dan iklim dunia.

Dia mengatakan investasi luar negeri sesungguhnya dapat digunakan untuk membantu Indonesia melindungi sumber daya alam dan faunanya serta mengembangkan infrastruktur hijau.

Hurowitz menekankan bahwa harus ada alternatif untuk pengembangan ekonomi yang secara bersamaan melindungi lingkungan di sekitar area pembangunan PLTA Batang Toru.

Dia mengatakan hilangnya habitat akan menimbulkan efek jangka panjang yang parah bagi keberlangsungan hidup spesies, apalagi bagi orangutan tapanuli yang populasinya sudah sedikit dan sangat terancam punah.

Menurut perkiraan ada 800 orangutan tapanuli di kawasan tempat PLTA Batang Toru akan dibangun.

Dan jika Indonesia ingin meluncurkan program konservasi komprehensif untuk memperluas habitat spesies, Hurowitz mengatakan, maka akan ada dukungan keuangan yang kuat dari dunia internasional.

Ia menuturkan investasi luar negeri sesungguhnya dapat digunakan untuk membantu Indonesia melindungi sumber daya alam dan faunanya serta mengembangkan infrastruktur hijau.

Koalisi Perlindungan Orangutan telah mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo dalam upaya mendesak pemerintah melindungi spesies orangutan tapanuli dengan menghentikan rencana pembangunan PLTA Batang Toru. Surat itu diterima oleh Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko pada Selasa sore (5/3).

Koalisi mendorong pemerintah melakukan peninjauan lokasi bendungan dan bekerja dengan lembaga pemerintah daerah terkait untuk mengidentifikasi pilihan alternatif guna meningkatkan produksi energi, misalnya dengan tenaga surya dan panas.

Sementara peneliti dari Sumatra Orang Utan Conservation Arrum Harahap mengatakan pemerintah Indonesia bisa memanfaatkan potensi panas bumi untuk menghasilkan lebih banyak energi.

Dia mengemukakan kawasan di mana PLTA Batang Toru akan dibangun merupakan kawasan yang strategis untuk habitat spesies orangutan tapanuli karena tanahnya subur dan kaya sumber pakan.

  Peneliti dari Sumatra Orang Utan Conservation Arrum Harahap berbicara dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (06/03/2019). (ANTARA News/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meminta PT North Sumatera Hydro Energi (NSHE), perusahaan yang akan membangun PLTA Batang Toru, memperkuat konservasi habitat orangutan dan satwa liar lainnya.

“Kami sudah mengirimkan surat. Nantinya hasilnya akan menjadi pedoman sejak pembangunan (PLTA) hingga beroperasi,” kata Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta pada 28 September 2018.

Pembangunan PLTA di Batangtoru ini, kata Wiratno, bisa menjadi contoh bahwa kelestarian bisa sejalan dengan pembangunan. Pembuktian itu nantinya bisa direplikasi untuk pembangunan PLTA di tempat lain di Indonesia.

Baca juga:
Pemerintah minta pengembang buat jembatan arboreal di Batang Toru
Pemerintah minta Amdal PLTA Batang Toru diperbaiki

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua Jenis Kakatua Dirawat Oleh BBKSDA NTT

Kupang (ANTARA) – Dua jenis burung Kakatua saat ini sedang dirawat di lokasi penangkaran milik Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur di Kota Kupang.

Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara kepada wartawan di Kupang, Rabu (6/3) mengatakan bahwa dua jenis burung kakatua yang dirawat itu adalah Kakatua Jambul kuning (Cacatua sulphurea) dan kakatua Maluku (Cacatua moluccensis).

“Ada dua jenis yakni kakatua jambul kuning satu pasang yang habitatnya ada di NTT, dan satu pasang lagi adalah kakatua Maluku yang habitatnya ada di Maluku,” kata dia.

Ia menjelaskan bahwa dua jenis kakatua yang dirawat di tempat penangkaran sementara itu adalah kakatua yang ditemukan ditangan warga.

Ia memberi contoh sepasang kakatua Maluku yang dirawat saat ini adalah kakatua yang ditemukan di atas sebuah kapal dari Maluku saat tiba di Kupang.

“Saat ditemukan jumlahnya belasan. Tetapi sebagian sudah dikirim kembali ke Maluku, agar kembali ke habitatnya, sementara dua kakatua Maluku ditinggalkan di Kupang untuk dirawat terlebih dahulu,” tambah dia.

Sejumlah kakatua itu tambah dia, nantinya akan dilepas ke habitatnya jika memang sudah dirasa perlu untuk dilepas.

“Kami juga khawatir jika dilepas nanti ada yang memburunya lagi, tentu jadi masalah baru lagi,” tambahnya.

Selain dua jenis kakatua yang dirawat di kadang penangkaran BBKSDA, ada juga burung Nuri Merah juga dirawat di tempat penangkaran itu.

Baca juga: Kakatua jambul kuning tersisa 40 di NTT
Baca juga: Kakatua jambul kuning NTB tersisa 145 ekor
Baca juga: 21 kakatua akan dilepas ke Pegunungan Cyclop, Papua

Pewarta:
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Orangutan masuk desa di pedalaman Barito Utara-Kalteng

Sore tadi orangutan tersebut sudah kembali naik pohon sebagai tempat tidurnya di kawasan Desa Lampeong I

Muara Teweh, Kalteng (ANTARA) – Seekor orangutan (Pongo pygmaeus) yang diperkirakan jenis kelamin jantan diduga tersesat dan masuk kampung di wilayah Desa Lampeong I Kecamatan Gunung Purei Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

“Sore tadi orangutan tersebut sudah kembali naik pohon sebagai tempat tidurnya di kawasan Desa Lampeong I,” kata anggota Tim WRU Wildlife Rescue unit Seksi Konservasi Wilayah III Muara Teweh Badan Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng, Perdi saat berada di Desa Lampeong Kecamatan Gunung Purei ketika dihubungi dari Muara Teweh, Selasa malam.

Orangutan yang terlihat sudah tua dan punya jipet (pipi yang menggelambir) ini diketahui warga setempat masuk desa pada Selasa (4/3) pagi sekitar pukul 08.00 WIB.

Satwa primata menjadi tontonan masyarakat setempat karena sudah tua sehingga banyak aktif di bawah, kecuali kalau sudah malam atau mau tidur baru naik ke atas pohon.

“Saat kami datang pada sore hari, orangutan ini sudah berada di atas pohon, namun berdasarkan keterangan warga binatang ini diperkirakan sudah tua,” katanya.

Rencananya Rabu (6/3) pagi orangutan tersebut dievakuasi oleh tim dari Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng Palangka Raya.

Kedatangan organisasi yang memang khusus menangani orangutan ini akan membawa orangutan itu ke kawasan program reintroduksi orangutan Kalteng.

“Malam ini mereka berangkat dari Palangka Raya menuju Muara Teweh kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Lampeong yang perkirakan dinihari nanti sudah sampai di desa tersebut.Pagi harinya akan mengevakuasi orangutan itu,” kata Perdi.

Orangutan itu diperkirakan berasal dari kawasan hutan di perbatasan Kecamatan Gunung Purei Kabupaten Barito Utara, Kalteng dengan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur yang hutannya sudah mulai habis untuk kegiatan tambang batu bara.

Baca juga: Orangutan berkeliaran di kebun warga ditangkap BKSDA Kalteng

Baca juga: BOSF sesalkan temuan bangkai orangutan tanpa kepala

Baca juga: Tujuh orangutan diserahkan kepada BKSDA Kalteng

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peneliti imbau pengunjung bijak perlakukan bunga bangkai

Cianjur, Bogor (ANTARA) – Peneliti Bungai Bangkai di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Destri mengimbau pengunjung bijak memperlakukan bunga bangkai dan tanaman lain saat berwisata ke Kebun Raya Cibodas di Cianjur, Jawa Barat.

Di Kebun Raya Cibodas, Selasa, Destri mengatakan perlakuan pengunjung akan mempengaruhi daya bertahan hidup tanaman, termasuk tumbuhan langka seperti bunga bangkai yang rapuh.

Satu bunga bangkai (Amorphophallus titanum Becc) di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas mekar pada Senin (4/3) dini hari. Bunga bangkai itu tingginya 281 centimeter dan lebar 124,4 centimeter.

“Sejak pertama kali bunga ini mekar di Kebun Raya Cibodas, selalu mendapat perlakuan buruk dari pengunjung. Mereka merusak bunga dengan melempar dari luar pagar dengan batu,” kata Destri.

Ia menjelaskan bunga tersebut rapuh, ketika dalam proses berkembang bunga terganggu, bunga akan rusak dan mekar dengan kondisi patah.

Sampai tahun 2016, dia mengatakan, perilaku buruk pengunjung terhadap tanaman itu tidak berubah sehingga akhirnya pengelola kebun raya membuat “kandang” untuk melindungi tanaman itu.

“Jadinya tidak nyaman untuk melihat, tapi itu semua karena kita belum bisa menghargai makhluk hidup dengan baik,” tuturnya.

Pada Selasa pengunjung kebun raya juga berdatangan untuk melihat bunga bangkai yang mekar.

Destri berharap pengunjung yang antusias melihat bunga bangkai itu ramah memperlakukan tanaman koleksi kebun raya, tidak melakukan tindakan yang dapat merusak atau menganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Baca juga:
Bunga bangkai kembali mekar di Kebun Raya Cibodas LIPI
Perburuan liar ancam keberadaan Bunga Bangkai

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

74 anakan komodo lahir di Kebun Binatang Surabaya

Sejumlah anakan komodo (Varanus komodoensis) berada dalam kandang di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Surabaya, Jawa Timur, Selasa (5/3/2019). Sebanyak 74 anakan komodo tersebut lahir pada Januari sampai Februari 2019 yang berasal dari tujuh induk Komodo sehingga menambah koleksi Komodo di kebun binatang itu menjadi 142 ekor. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/pras.

Buaya yang resahkan warga berhasil ditangkap

Banda Aceh (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menangkap seekor buaya muara yang dilaporkan berada di pemukiman penduduk dan meresahkan warga di Kabupaten Aceh Selatan.

Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Selasa, mengatakan, buaya muara tersebut ditangkap di Sungai Mangki, Desa Ujung Mangki, Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan.
 
“Buaya muara tersebut ditangkap Minggu (3/3). Sebelum ditangkap, tim sudah memasang jerat lebih dari seminggu,” kata Sapto Aji Prabowo menyebutkan.

Kepala BKSDA Aceh itu menyebutkan, buaya muara yang ditangkap tersebut berjenis kelamin jantan dengan panjang 2,65 meter. Buaya dengan berat 90 kilogram itu diperkirakan berumur tujuh hingga delapan tahun.

Sapto Aji menyebutkan, buaya muara itu ditangkap berdasarkan laporan masyarakat. Masyarakat melaporkan buaya tersebut memasuki pemukiman penduduk.

“Beberapa warga mengaku pernah dikejar buaya tersebut. Kendati begitu tidak ada korban keberadaan buaya tersebut. Begitu juga dengan ternak warga, tidak ada laporan dimangsa buaya tersebut,” ujar dia.

Buaya tersebut sudah dievakuasi ke Banda Aceh. Untuk sementara waktu, buaya muara tersebut ditempatkan di sebuah kandang di halaman depan Kantor BKSDA Aceh.

“Sementara ini, buaya ditempatkan di kandang khusus hingga pelepasan liar ke habitat yang aman dari masyarakat. Kami masih mencari lokasi pelepasan buaya tersebut,” pungkas Sapto Aji Prabowo.*

Baca juga: Warga Aceh Tamiang tangkap buaya 2,5 meter di kebun sawit

Baca juga: Buaya yang ditangkap warga Aceh berusia 70 tahun

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

11 ekor penyu dilepasliarkan di Banggai

Luwuk (ANTARA) – Bupati Banggai Herwin Yatim bersama pejabat dari Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Kemanan Hasil Perikanan Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, melepasliarkan 11 ekor penyu dan tiga ekor ikan napoleon di Pantai Kilo Lima, Kota Luwuk.

Kepala Kantor Stasiun KIPM Luwuk Banggai, Darwis Darwis S.Pi, M.P mengemukakan di Luwuk, Selasa, kedua jenis hewan laut ini merupakan hasil operasi lapangan yang dilakukan oleh Satuan Polisi Air dan Udara (Polair) Sulawesi Tengah dari masyarakat di Kecamatan Pagimana.

Darwis mengungkapkan pelepasliaran penyu hasil tangkapan baru kali ini dilakukan di Kabupaten Banggai.

“Harapan kami masyarakat mengetahui ini, bahwa hewan yang dilindungi itu tidak boleh ditangkap apalagi diperdagangkan,” katanya.

Ia menjelaskan pelepasliaran itu sengaja dilakukan di objek wisata Pantai Kilo Lima agar dapat memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa wilayah perairan tersebut sudah ditetapkan sebagai zona aman dari perburuan hewan laut.

Senada dengan itu, Alip Muntoha, SH, perwakilan dari Dirpolairud Polda Sulawesi Tengah mengungkapkan meski barang bukti berupa penyu dan ikan telah diamankan dan dilepasliarkan, namun tidak menghapus perbuatan hukum yang dilakukan masyarakat.

“Ini tidak menghapus tindak pidananya. Proses penyidikan masih berlanjut,” ucapnya.

Alip mengaku sejak tahun 2018, tercatat ada tiga kasus yang ditangani Polairud Polda Sulawesi Tengah akan tetapi kasus tersebut kebanyakan berlokasi di Kabupaten Morowali.

“Untuk pelanggaran dengan barang bukti, kemarin sudah kami limpahkan ke kejaksaan,” ungkap Alip.

Sementara itu, Bupati Banggai Herwin Yatim mengapresiasi apa yang dilakukan Polairud dan BKIPM dan menurutnya sudah seyogyanya semua elemen menjaga kelestarian lingkungan laut, termasuk hewan dan biota lautnya.

Atas pengungkapan dan pengembalian 11 ekor penyu dan tiga ekor ikan napoleon itu, bupati mengaku sangat bersyukur dan mengapresiasi kinerja dua instansi pemerintah ini cukup membantu pemerintah Kabupaten Banggai dalam menjaga amanat undang-undang terkait perlindungan terhadap sejumlah hewan laut.

“Berkat kinerja Polairud bekerja sama dengan stasiun karantina, alhamdulillah bisa menyelamatkan hewan yang dilindungi,” kata Herwin yang mengaku sangat gembira atas pelepasliaran itu.

Di daerah ini, kata Herwin, ada sejumlah hewan yang dilindungi seperti burung maleo, penyu, cardinal fish, napoleon dan sejumlah ikan lainnya. “Saya pernah ke Bualemo dan selalu mencari kesempatan untuk melihat penyu hijau tapi tidak pernah ketemu. Alhamdulillah, kali ini berkat kerjasama semua saya bisa melihat langsung,” ujarnya.*

Baca juga: Mengunjungi rumah penyu hijau Tanjung Waka

Baca juga: Mencegah penyu dari ancaman kepunahan

Baca juga: Polisi tangkap maling penyu hijau

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Polisi ingatkan warga berhati-hati soal harimau sumatera liar

Tembilahan, Riau (ANTARA News) – Polres Kabupaten Indragiri Hilir dan Polsek Gaung berkoordinasi bersama BBKSDA dan Polisi Kehutanan Riau mengupayakan langkah yang akan dilakukan pasca harimau sumatera menerkam Mardian (31) warga Desa Pungkat, Sabtu malam (2/3).

Kepala Subbag Humas Polres Indragiri Hilir, AKP Syafri Joni, Minggu, sudah mengintruksikan Polsek Gaung agar bekerja sama dengan unsur Forkopimcam mengimbau masyarakat tidak mencari kayu di hutan sementara waktu.

“Karena tidak menutup kemungkinan binatang yang telah menerkam warga desa Pungkat itu masih berkeliaran,” ujar Joni.

Masyarakat Desa Pungkat dan sekitarnya juga diminta lebih berhati-hati dan selalu waspada karena biasanya raja hutan itu tidak bisa hilang begitu saja justru akan kembali mencari objek perburuan baru.

“Kami bersama Polsek Gaung juga meminta bantuan kepada masyarakat jika melihat harimau tersebut agar secepatnya memberikan laporan,” imbaunya.

Kemarin, satu harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) menerkam Mardian hingga dia luka parah dan dirawat di RSUD Puri Husada Tembilahan, saat dia menggesek kayu di hutan Sungai Rawa, Desa Simpang gaung bersama dua orang rekannya Bujang dan Nahar,

Akibat dari kejadian itu, Mardian luka gigitan pada bagian punggung sebelah kanan dan luka gigitan pada bagian kepala.

“Sampai saat ini kondisi Korban masih dalam keadaan trauma dan mengalami kesakitan bekas gigitan binatang buas tersebut,” ucap Joni.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BBKSDA Riau utus penembak jitu tangkap harimau penyerang warga

Pekanbaru (ANTARA) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau akan segera mengirim tim penembak jitu untuk menangkap harimau yang menyerang warga di Kabupaten Indragiri Hilir.

“Kita telah kirim tim pertama untuk memastikan lokasi kemunculan dan serangan harimau tersebut. Setelah dipastikan lokasi persisnya, kita akan segera kirim lagi (tim), terdiri penembak jitu serta kerangkeng besi,” kata Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Mahfud kepada Antara di Pekanbaru, Minggu.

Saat ini, Mahfud mengatakan, tim masih menggali informasi dari korban serta dua rekan korban yang menyaksikan serangan harimau tersebut.

“Teman-teman kita masih terus menggali informasi dan berkoordinasi dengan aparat TNI dan Polri di sana. Lokasi persisnya belum tahu, karena informasi sementara di Sungai Gaung. Begitu kita tahu, langsung segera kirim tim ke sana,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Polres Indragiri Hilir AKBP Christian Rony Putra telah memerintahkan Kepala Polsek Gaung menuju lokasi serangan harimau dan meminta anggotanya menjalin komunikasi dan koordinasi dengan BBKSDA Riau.

“Saya telah perintahkan Kapolsek Gaung untuk membentuk tim pencari harimau dengan berkoordinasi bersama Pak Camat, juga tiga pilar, serta BBKSDA,” kata Rony.

Rony mengatakan proses pencarian dan evakuasi harimau yang penyerang warga tersebut serupa dengan upaya yang sebelumnya dilakukan untuk menangkap harimau Bonita.

Saat itu, Polri bersama TNI dan BKSDA Riau membentuk tim gabungan guna menangkap harimau betina yang kehilangan habitat dan masuk ke perkebunan sawit milik perusahaan swasta di Pelangiran tersebut.

“Polanya akan sama dengan Bonita. Bedanya, Bonita di Pelangiran, yang sekarang di Gaung. Selain itu, kami juga mengimbau kepada masyarakat setempat agar sementara waktu tidak ke hutan,” katanya.

Mardian, warga Sungai Rawa, Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir, diserang harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) saat mencari kayu di hutan pada Sabtu (2/3).

Akibat serangan harimau itu, Mardian (31) terluka cukup parah, terutama pada bagian kepala dan punggung.

Hingga hari ini, Mahfud mengatakan, Mardian masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.

Baca juga:
Warga Inhil kembali diterkam harimau
Satu pekerja ditemukan tewas diterkam harimau di Tambling

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anak burung kuntul

Anak burung kuntul (Babulcus Ibis) dan kuntul kecil (Egretta garzetta) atau little egret yang terancam punah berdiam di kawasan penimbunan hutan mangrove pinggiran sungai Kota Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (2/3/2019). Berdasarkan sensus Internasional Waterbird Cencus (IWC) kedua jenis burung habitat dari hutan magrove terus mengalami penurunan populasi, akibat semakin berkurangnya kawasan hutan mangrove dampak perusakan dan perambahan hutan mangrove untuk pembangunan dan di buru oleh manusia. ANTARA FOTO/Rahmad/foc.

Mengunjungi rumah penyu hijau Tanjung Waka

Di Tanjung Waka, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, penyu-penyu hijau pada malam hari bermunculan di pantai untuk bermain atau bertelur.

Mereka yang menyelam di sekitar perairan objek wisata Tanjung Waka, biasanya juga akan berjumpa dengan penyu hijau (Chelonia mydas) , yang tak jarang mendekati para penyelam seakan ingin menyampaikan ucapan selamat datang.

Wisatawan asal Jakarta, Sugianto, menyebut Tanjung Waka sebagai tempat yang paling mengasyikan untuk melihat penyu hijau.

Perairan Tanjung Waka yang berarus tenang dan bersih dari polusi menjadi tempat hidup banyak penyu hijau. Hamparan pasir putih di sekitar tujuh kilometer pantainya menjadi tempat penyu laut itu singgah, bermain dan bertelur.

Populasi penyu hijau di wilayah itu juga relatif tidak banyak terganggu karena warga sekitar sudah tidak lagi menangkap penyu atau mengambil telurnya.

Muhammad Hamid, tokoh masyarakat setempat, mengatakan warga tidak lagi mengambil telur-telur penyu hijau setelah mendapat sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa yang banyak hidup di perairan tropis dekat dengan pesisir benua dan sekitar kepulauan tersebut.

Dengan menjaga kelestarian penyu hijau serta habitatnya, warga sekitar merasakan keuntungan dari banyaknya wisatawan dalam mau pun luar negeri yang berkunjung ke Tanjung Waka.

Perkembangan pariwisata memberi mereka kesempatan untuk berdagang cendera mata dan kuliner, menawarkan jasa transportasi, dan menyewakan penginapan bagi turis.

Tanjung Waka juga menawarkan keindahan pemandangan kehidupan bawah laut dengan keragaman jenis ikan dan terumbu karang.

Kondisi terumbu karang Tanjung Waka umumnya masih bagus, karena warga sekitar ikut menjaga kelestariannya dengan tidak menangkap ikan menggunakan bahan peledak atau zat kimia penyebab kerusakan terumbu karang.

Berbenah

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Sula Muhammad Drakel mengatakan pemerintah daerah membenahi infrastruktur untuk mendukung pengembangan pariwisata di Tanjung Waka.

Jalan sepanjang 48 kilometer dari Sanana, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sula, menuju Tanjung Waka diperbaiki. Pemerintah daerah menargetkan tahun 2019 seluruh jalur jalan itu sudah beraspal.

Muhammad Drakel mengakui jalur transportasi dari dan ke Kepulauan Sula belum sebaik di daerah lain di Maluku Utara. Namun dia mengatakan bahwa wisatawan tidak akan kesulitan jika ingin mengunjungi Kepulauan Sula dan Tanjung Waka.

Wisatawan menuju ke Kepulauan Sula dengan menggunakan sarana transportasi udara dari Ternate ke Sanana, yang menyediakan layanan dua kali sepekan, atau menggunakan kapal laut yang membuka layanan tiga kali seminggu dari Ternate. Dari Sanana menuju Tanjung Waka, tersedia angkutan umum atau angkutan sewa.

Wisatawan yang ingin mengunjungi Tanjung Waka, sebaiknya mengindari bepergian pada Juni hingga September karena pada masa itu cuaca biasanya kurang bersahabat.

Baca juga:
Penyu hijau dapat penjagaan
Dilema konservasi penyu di Bali

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Warga Inhil kembali diterkam harimau

Tembilahan (ANTARA News) – Warga di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, kembali menjadi korban keganasan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) hingga mengalami luka parah.

Kali ini, Mardian (31) warga Desa Pungkat, Kecamatan Gaung, menjadi korban gigitan binatang bertaring kuat itu saat bekerja menggesek kayu di hutan Sungai Rawa, Desa Simpang Gaung.

Saat itu dia sedang bersama dua rekannya, Bujang dan Nahar. Kejadian berlangsung pada Sabtu (2/3) sekira pukul 13.00 WIB.

Kejadian tersebut diketahui bermula saat Bujang dan Nahar mendengar teriakan minta tolong dari Mardian yang bekerja dengan posisi berada di belakang kedua rekannya.

Menanggapi teriakan tersebut, kedua rekannya menoleh ke belakang dan melihat korban Mardian sudah menjadi korban terkaman harimau.

Setelah mencoba meminta bantuan kepada masyarakat, korban Mardian masih terlihat berada dalam terkaman harimau tersebut dan mengalami luka gigitan pada bagian punggung belakang sebelah kanan.

Selain itu ada luka gigitan pada bagian kepala . Korban saat itu sudah berusaha melakukan perlawanan dengan cara menendang harimau.

Akibat beberapa luka parah yang dialaminya, Mardian langsung dilarikan ke Rumah Sakit Puri Husada Tembilahan untuk penanganan lebih lanjut.
Baca juga: Empat kamera dipasang untuk deteksi harimau sumatra
Baca juga: WWF hargai vonis penjara pembunuh harimau sumatera
Baca juga: Pembunuh tiga harimau sumatera divonis tiga tahun

Pewarta:
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Warga Sukabumi serahkan hewan dilindungi

Sukabumi, Jabar (ANTARA) – Warga Desa Mangkalaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat menyerahkan seekor hewan dilindungi yakni kukang atau Nycticebus coucang kepada relawan Palang Merah Indonesia (PMI) kabupaten setempat, Sabtu.

“Hewan dilindungi ini diserahkan secara sukarela dari seorang warga yang tidak sengaja menemukan di area persawahan sekitar Kecamatan Cisaat,” kata Ketua PMI Kabupaten Sukabumi Hondo Suwito di Sukabumi, Sabtu.

Hewan yang terancam punah ini rencananya akan diserahkan kepada Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi agar kondisi kesehatannya terjaga dan mendapatkan perawatan yang baik.

Kukang merupakan primata nocturnal atau yang aktif di malam hari ini saat diserahkan dalam kondisi stres berat sebab hewan ini senang dengan kondisi yang sunyi dan tidak terganggu dengan aktivitas manusia.

Namun, kata Hondo, kondisi kesehatannya belum diketahui secara pasti, yang terpenting kukang tersebut bisa diselamatkan terlebih dahulu dan diserahkan ke PPSC agar bisa dilepas liarkan kembali ke habitatnya.

“Rencana hewan tersebut kami serahkan ke PPSC pada Minggu, (3/3) untuk menjalani rehabilitasi dan pemeriksaan kesehatan serta stresnya bisa segera hilang,” tambahnya.

Satwa ini dilindungi oleh Undang-Undang nomor 5 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dan sudah terancam punah.

Pihaknya juga mengimbau jika menemukan adanya kukang atau hewan dilindungi lainnya agar diserahkan ke lembaga terkait seperti PPSC.
 

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peneliti: 9.600 tumbuhan Indonesia teridentifikasi sebagai obat

Sebagian besar dari tanaman obat tersebut masih merupakan tumbuhan liar di hutan dan belum dibudidayakan.

Bogor (ANTARA) – Peneliti yang juga Guru Besar Tetap Ekofisiologi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Sandra Arifin Aziz mengemukakan bahwa hingga saat ini, dari sekitar 90.000 jenis tanaman yang tumbuh di Indonesia, 9.600  teridentifikasi digunakan sebagai tanaman obat.

“Yakni dengan berbagai formula dan terindikasi memiliki kegunaan untuk pengobatan atau sayuran fungsional,” katanya melalui Humas IPB di Bogor, Jawa Barat, Sabtu. 

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar dari tanaman obat tersebut masih merupakan tumbuhan liar di hutan dan belum dibudidayakan.

Meski punya kekayaan tumbuhan dengan aneka manfaat obat itu, Sandra Arifin Aziz mengingatkan hal yang saat ini perlu disadari adalah adanya ancaman bagi pengakuan tumbuhan yang ada di Indonesia dimaksud.

“Ancaman pengakuan dari negara tetangga yang serumpun dengan Indonesia terhadap jenis-jenis tumbuhan dan tanaman potensial sebagai kedaulatan dan hak kekayaan Indonesia merupakan hal yang perlu diperhatikan,” katanya.

Ia memberi rujukan sejumlah jenis tumbuhan potensial di daerah tropis yang ada di Indonesia itu seperti bambu, anggrek, dan yang terpenting adalah tanaman obat sebagai sumber bahan baku pengobatan.

Dikemukakannya bahwa terdapat beberapa kelemahan yang perlu untuk dibenahi oleh pemangku kebijakan dalam menjaga kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia. 

Di antaranya, kata dia, saat ini belum tersedia Standard Operating Procedure (SOP) budi daya, ketersediaan bahan tanaman yang terbatas, dan teknologi pengolahan yang umumnya masih tradisional dan tidak higienis, termasuk membuat banyak tanaman obat belum dibudidayakan. 

Menurut dia, hal tersebut disebabkan oleh masih kurangnya kesadaran dalam melakukan teknik budi daya maupun penanganan pascapanen yang terstandariasasi sehingga tanaman obat lokal yang potensial tidak termanfaatkan dengan baik.

Ia menegaskan bahwa tanaman obat sangat berperan dalam menyediakan bahan baku terstandar yang bermutu dan berkelanjutan. 

SOP budi daya tanaman obat, kata dia, diperlukan untuk berbagai tanaman obat akibat kekhasan setiap jenis spesies tanaman obat. 

Ia menambahkan ketersediaan bahan baku obat yang terstandar diperlukan akibat berbagai penyakit yang ditemukan misalnya penyakit-penyakit infeksius, non-ifeksius dan degeneratif yang ada pada saat ini, dan di masa mendatang.

Sandra menambahkan sebanyak 50 persen spesies yang saat ini berada di hutan hujan tropis, menjadi sumber tanaman dan bahan baku obat. 

Disebutkannya bahwa tanaman yang berada di daerah tropika berasal dari tumbuhan di hutan alam atau tanaman yang dibudidayakan. 

Fenomena ini, kata dia, seharusnya membuat bangsa Indonesia menghargai kekayaan jenis tumbuhan di daerah tropis sebagai kedaulatan dan hak kekayaan milik Indonesia, yang disesuaikan dengan konvensi keragaman biologi dunia.

Indonesia memiliki potensi kekayaan obat tradisional yang terekspresikan dengan keragaman etnis, sehingga kemudian menjadi pengetahuan sistem pengobatan tradisional dan penggunaan tanaman obat untuk kesehatan, demikian Sandra Arifin Aziz. 

Baca juga: IPB teliti obat herbal untuk cegah kepikunan

Baca juga: Pakar gizi: Tanaman torbangun berkhasiat obati diabetes

Baca juga: Fahutan IPB diminta kembangkan “Herbal Forest”

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Empat kamera dipasang untuk deteksi harimau sumatra

Pekanbaru (ANTARA News) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memasang empat unit kamera pengintai setelah mendapat laporan kemunculan tiga ekor harimau sumatera, terdiri dari seekor induk dan dua anak.

Humas BBKSDA Riau, Dian Indriati kepada Antara di Pekanbaru, Jumat mengatakan keempat kamera itu dipasang di Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, lokasi kemunculan si raja rimba bernama latin Panthera tigris sumatrae tersebut.

“Ada empat kamera yang dipasang. Dua di Desa Tanah Datar dan dua lainnya di Desa Sungai Baung,” kata Dian.

Dian menjelaskan kemunculan harimau sumatera tersebut pertama kali diketahui oleh warga setempat saat bekerja di kebun karet pada awal pekan ini. Menurut pengakuan warga, mereka awalnya melihat dua anak harimau sedang bermain-main tidak jauh dari lokasi kebun karet.

Ketika dilihat, ternyata ada seekor harimau besar yang diduga kuat induk kedua anak harimau itu. Warga langsung berlari dan melaporkan kejadian itu ke perangkat desa terdekat.

Mendapat laporan tersebut, tim Rescue Bidang KSDA Wilayah I Rengat, Indragiri Hulu bersama dengan Polisi langsung melakukan pemeriksaan. Petugas menemui warga bernama Warsan yang menjadi saksi mata kemunculan si kulit belang itu.

Selanjutnya, petugas juga langsung menuju ke lokasi kemunculan harimau, dan benar memang ditemukan bekas jejak rebahan rumput harimau. “Di lokasi tim menemukan bekas semak rumput yang rebah tempat dua ekor anak harimau dan satu ekor induknya,” ujarnya.

Untuk itu, dia menuturkan tim langsung memetakan lokasi potensi kemunculan dengan memasang kamera pengintai. Selain itu, dia juga mengatakan tim segera melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang berpotensi mencederai satwa dilindungi tersebut.

“Tim juga menyampaikan kepada masyarakat agar tidak memasang jerat dan tidak melakukan tindakan yg melanggar hukum, karena satwa harimau sumatera tersebut dilindungi Undang-Undang,” tuturnya.*

Baca juga: Pembunuh tiga harimau sumatera divonis tiga tahun

Baca juga: Harimau dan singa di Taman Rimba Jambi mati

Baca juga: Harimau Sumatra kehilangan kampung halaman

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Korban banjir Bangka diminta waspadai serangan buaya

Pangkalpinang  (ANTARA News) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meminta warga korban banjir di Kabupaten Bangka mewaspadai serangan buaya, guna mengantisipasi korban jiwa akibat serangan reptil tersebut.

“Kami sudah mengimbau korban banjir tidak mendekati sungai dan kawasan yang terkena banjir,” kata Kepala BPBD Provinsi Kepulauan Babel, Mikron Antariksa di Pangkalpinang, Kamis.

Selain itu, tim gabungan penanganan bencana juga telah bersiaga di tenda-tenda pengungsian di Desa Deniang, Kayu Besi dan Dusun Transmigrasi Kabupaten Bangka yang terendam banjir setinggi 40 centimeter hingga satu meter lebih. 

“Desa dan dusun yang terkena banjir berdekatan dengan sungai, sehingga buaya bisa masuk ke pemukiman warga untuk mencari mangsa,” ujarnya.

Menurut dia biasanya buaya tersebut akan masuk ke daerah banjir untuk mencari hewan peliharaan warga yang mati terjebak banjir.

“Kita sudah memperingatkan warga untuk tidak mendekati daerah-daerah yang masih terendam banjir, untuk menghindari serangan buaya ini,” katanya.

Kepala Dinkesos Kepulauan Babel M Aziz Haradad juga meminta warga tidak hanya mewaspadai banjir, tetapi juga serangan buaya yang mulai mengganas menyerang manusia.

“Kita sering menerima laporan masyarakat korban banjir bahwa buaya sering muncul di pemukiman yang terkena banjir,” ujarnya.

Menurut dia buaya itu tidak sekedar muncul tetapi juga menyerang korban banjir.

“Saat ini banyak sungai yang rusak karena penambangan timah dan rawa-rawa, hutan bakau banyak beralih fungsi menjadi pemukiman dan pembangunan pabrik, sehingga mengganggu habitat buaya ini,” ujarnya.

Baca juga: Dua desa di Bangka terendam banjir
Baca juga: Jembatan di Bangka putus dihantam banjir

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Burung maleo di penangkaran sempat berhasil bertelur

Sayang, telurnya pecah karena terlambat ditemukan petugas

Palu, (ANTARA News) – Penangkaran burung maleo milik PT  DSLNG yang dikelola bersama BKSDA Sulteng dan Universitas Tadulako Palu akhirnya berhasil membuat burung endemik Pulau Sulawesi bernama latin “macrocephalon maleo” itu sempat bertelur.

Hal itu diungkapkan Dr Ir. Mobius Tanari MP, peneliti satwa endemik maleo dari Universitas Tadulako yang mengelola penangkaran PT  DSLNG di Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Kamis.

Ia menjelaskan bahwa dari 16 ekor burung maleo dewasa yang ada di penangkaran itu, pernah ditemukan satu di antaranya bertelur. “Sayang, telurnya pecah karena terlambat ditemukan petugas,” katanya.

Meski begitu, ditemukannya maleo bertelur di penangkaran merupakan satu pertanda baik. Sebab selama ini maleo dewasa tersebut baru sekali bertelur dan belum diketahui apa penyebab mereka susah bertelur di penangkaran.

“Semua masih kita pelajari, apakah itu karena faktor lokasi atau asupan protein yang menjadi kebutuhan dari maleo sendiri,” katanya.

Kabar baik lainnya yang disampaikan Mobius Tanari, yakni para peneliti telah berhasil menemukan perbedaan dari maleo jantan dan maleo betina. Perbedaan jenis kelamin maleo ini terlihat dari bentuk tubuhnya, yang betina menonjol simetris dengan leher tetapi yang jantan menonjol dan agak melebar.

Ia menjelaskan, saat akan kawin, maleo jantan dan betina sama-sama mengeluarkan suara khasnya. Kemudian maleo jantan mengais pasir secara cepat sambil berputar mengelilingi maleo betina. Selang beberapa saat, maleo betina akan duduk tegak, kemudian maleo jantan naik ke atas punggung betina dan secara cepat jatuh ke kanan saat terjadi perkawinan.

“Duduk tegak maleo jantan naik ke punggung betinanya dan memegang leher betina dengan paruh lalu terjadilah perkawinan,” katanya.

Terkait kemungkinan maleo akan diternakkan seperti unggas lainnya, ia mengaku belum bisa dipastikan meski sudah ada maleo yang bertelur di penangkaran.

Ia mengatakan, pihaknya masih terus mempelajari berbagai hal dan kelakuan dari maleo yang ada di penangkaran, sebagai tambahan materi penelitian.

Ia juga mengaku masih mempelajari terkait komposisi atau presentase kebutuhan protein dan energi, baik kebutuhan hidup pokok atau saat masuk fase reproduksi maleo tersebut.

“Kalau untuk diternakkan mungkin masih butuh waktu yang panjang, karena masih rawan punah. Pasnya mungkin bahwa satu ketika maleo bisa didomestikasi,” katanya.

Domestikasi ialah pengadopsian tumbuhan dan hewan dari kehidupan liar ke dalam lingkungan kehidupan sehari-hari manusia. Dalam arti sederhana, domestikasi merupakan proses penjinakan yang dilakukan terhadap hewan liar.

“Mungkin pasnya bukan diternakkan tapi didomestikasi,” katanya.

Selain di penangkaran PT. DSLNG, pihaknya juga mengelola penangkaran maleo di PT. Panca Amarah Utama.

“Ada dua tempat penangkaran yang menjadi sumber penelitian kami. Pertama di PT. DSLNG dengan 16 ekor maleo dewasa dan di PT. PAU dengan 23 maleo dewasa dengan usia di atas 3 tahun,” ujarnya.

Selain meneliti perkembangan kehidupan maleo, ia bersama tim juga melakukan penetasan telur maleo bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah.

Saat ini ada sekira 30 butir telur yang tengah berada di inkubator. Tiga di antaranya telah menetas, sementara 27 butir lainnya masih dalam proses.

“Dari 27 butir itu yang teridentifikasi subur ada 15 butir, lainnya kemungkinan sudah terisi air dan tidak bisa menetas,” katanya.

Baca juga: Burung Maleo terancam punah

Baca juga: 1.000 ekor Maleo ditangkarkan sejak 2005

Baca juga: Taman Nasional Lore Lindu lepas sekitar 1.000 ekor anak maleo

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

50.000 pohon ditargetkan ditanam Borneo Nature Foundation di lahan gambut

Penanaman itu akan kita fokuskan tiga jenis pohon yakni belangiran, gerongan dan perupuk. Lokasinya di kawasan Taman Nasional Sabangau, terutama yang dikelola Cimtrop

Palangka Raya, (ANTARA News) – Borneo Nature Foundation (BNF) pada 2019 menargetkan akan menanam sebanyak 50.000 pohon di lahan gambut di kawasan Taman Nasional Sabangau yang sebelumnya terbakar.

“Penanaman itu akan kita fokuskan tiga jenis pohon yakni belangiran, gerongan dan perupuk. Lokasinya di kawasan Taman Nasional Sabangau, terutama yang dikelola Cimtrop,” kata Direktur Pelaksana BNF, Bernat Ripol Capilla, di Palangka Raya, Kamis.

Centre for International Co-Operation in Sustainable Management of Tropical Peatland (Cimtrop) adalah sebuah unit pelaksana teknis (UPT) Laboratorium Lahan Gambut di Universitas Palangkaraya.

Ia mengatakan ketiga jenis pohon itu dipilih karena dinilai paling cocok dan kuat dari segi ketahanan hidup. Hal itu juga dikuatkan dengan hasil penelitian dan uji coba yang dilakukan sebelumnya.

Dia menyatakan, penanaman pohon itu sebagai upaya mengembalikan ekosistem alam di lahan gambut yang rusak akibat kebakaran hutan.

“Selain menanam pohon kami juga menargetkan membuat blokir kanal lebih dari 200 dam. Kami pada 2019 juga berencana melaksanakan `workshop` internasional dan lokal,” katanya usai acara sosialisasi BNF program Sebangau bertema “Upaya bersama untuk pelestarian bentang alam Sebangau: penelitian, konservasi dan pemberdayaan masyarakat”.

Acara yang dibuka Sekda Kalteng, Fahrizal Fitri itu dihadiri sejumlah pihak seperti pemerintah Kota Palangka Raya, pemerintah provinsi Kalteng serta kalangan akademisi dan guru di Palangka Raya.

Sekda mengatakan, untuk menjaga dan memelihara hutan gambut dari degradasi yang semakin meningkat, diperlukan aksi konservasi maupun restorasi di semua tingkatan, baik dari tingkat internasional, nasional hingga lokal.

“Namun kegiatan konservasi maupun restorasi tidak akan terlaksana maksimal, jika tidak didukung dengan penelitian dan kerja sama multi pihak dan pendanaan yang memadai,” katanya.

Dia pun ingin setiap penelitian yang dilakukan BNF lebih terkoordinir dan bermanfaat. Bukan hanya diukur dari banyaknya informasi ilmiah yang diperoleh, namun harus terjalin kebersamaan yang kuat, saling menghargai dan bersinergi dengan program pembangunan Pemprov Kalteng.

Baca juga: Taman Nasional Sebangau Kembangkan Pariwisata Alam

Baca juga: Taman Nasional Sebangau Dihuni 250 Orangutan

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

WWF hargai vonis penjara pembunuh harimau sumatera

Pekanbaru, Riau (ANTARA News) – Organisasi perlindungan satwa World Wildlife Fund (WWF) menghargai vonis tiga tahun penjara yang dijatuhkan kepada Falalini Halawa, terpidana penjerat hingga menyebabkan satu induk harimau sumatera dalam kondisi bunting terbunuh.

Humas WWF Indonesia Program Riau, Syamsidar, di Pekanbaru, Kamis, mengatakan, tetap menghormati vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, meski vonis lebih ringan satu setengah tahun dibanding tuntutan jaksa.

“Majelis hakim sudah memiliki pertimbangan dalam memutuskan hukuman. Kita menghormati dan yakin dengan proses hukum yang berlaku,” katanya.

Syamsidar menilai, proses penegakan hukum tindak pidana pembunuhan harimau sumatera yang menarik perhatian publik pada September 2018 lalu berjalan cepat. Proses penegakan hukum secara cepat hingga vonis pada akhir Februari 2019 ini, lanjutnya, menjadi catatan positif dari WWF.

Atas putusan ini, Syamsidar berharap dapat dijadikan sebagai pembelajaran kepada setiap orang agar tidak bertindak serupa yang berpotensi melukai, atau yang lebih parah menyebabkan matinya satwa dilindungi.

“Terpenting lagi, penegakan hukum sudah berlangsung dengan cepat hingga putusan. Ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak, bahwa ada pelanggaran dan konsekuensi hukum ketika melakukan sesuatu yang berpotensi mencelakai satwa liar dilindungi,” katanya.

Lebih jauh, WWF juga menyatakan jika pemerintah harus lebih intensif dalam melakukan sosialisasi dan edukasi, terutama kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dilindungi. Selain itu, WWF juga mendorong peran aktif perusahaan perkebunan dan industri kayu untuk turut melakukan sosialisasi serta edukasi hingga akar rumput.

Ia menjelaskan, berdasarkan data WWF, 75 persen perlintasan satwa dilindungi seperti gajah dan harimau berada di kawasan konsesi. Sehingga, perusahaan memiliki tanggung jawab tidak kalah besar untuk terus membantu pemerintah melakukan edukasi ke masyarakat.

“Semua pihak harus lebih intensif melakukan edukasi dan sosialisasi potensi keberadaan satwa dilindungi. Tidak hanya pemerintah, namun juga perusahaan-perusahaan yang memiliki konsesi. Pemasangan rambu-rambu keberadaan satwa dilindungi juga harus terus dilakukan,” tuturnya.

Falalinin Halawa divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Teluk Kuantan dalam perkara pembunuhan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Dalam putusannya di Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Rabu malam (27/2), majelis hakim yang dipimpin Hakim Reza Himawan Pratama menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 40 Ayat (2) juncto pasal 21 Ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Menyatakan terdakwa Falalini Halawa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pembunuhan satwa dilindungi. Menjatuhkan pidana tiga tahun penjara,” kata Himawan, didampingi dua hakim anggota, Rina Lestari Br Sembiring dan Duano Aghaka.

Selain pidana tiga tahun penjara, hakim juga menjatuhkan hukuman denda kepada Halawa, pria berusia 41 tahun asal Nias, Sumatera Utara tersebut sebesar Rp100 juta subsidair tiga bulan kurungan.

Putusan hakim tersebut lebih ringan dibanding tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri setempat. Dalam tuntutannya pada pekan lalu, jaksa Mochamad Fitri Adhy menuntut terdakwa dengan hukuman empat tahun enam bulan penjara.

Menanggapi putusan itu, Halawa dan kuasa hukumnya Yogi Saputra dari LBH Missiniaki Legal Coorporation serta JPU Fitry Ady sepakat menyatakan pikir-pikir.

Halawa sendiri dalam pembelaannya menyatakan dirinya tidak mengetahui jika Desa Indarung, Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuansing yang menjadi tempat dia tinggal dan berkebun merupakan areal perlintasan harimau.

Dia mengaku tidak pernah mendapat sosialisasi atau melihat rambu-rambu larangan pemasangan jerat. Jerat yang dipasang pria 41 tahun asal Nias, Sumatera Utara itu sejatinya dipergunakan menjerat babi agar tidak mengganggu perkebunan ubi miliknya. Nahas, jerat tersebut justru mengenai harimau bunting hingga mati. Total tiga harimau sumatera, terdiri satu induk dan dua janin yang telah terbentuk mati dalam insiden itu.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kawanan monyet makin resahkan petani di Tapanuli Selatan

Tapsel  (ANTARA) – Hama monyet yang semakin merajalela membuat resah para petani di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara karena bukan sekadar mengancam hasil panen, tapi juga sudah berani memasuki pemukiman warga.

“Perkembangan hewan itu cukup tinggi. Dua tahun terakhir ini sudah semakin ramai terutama di daerah pertanian warga di Lembah Tor (gunung) Sibohi dan Tor Sibual-buali,” kata Pengurus Forum Petani Sipirok Herman Harahap, di Sipirok, Kamis.

Tanaman para petani, seperti buah-buahan, sayur-mayur, cabai, ubi, coklat, bahkan padi dan kopi apalagi pisang di  lahan di lembah kedua gunung itu sudah rata-rata rusak akibat hama monyet.

“Warga petani Desa Sumuran, Desa Parsorminan, Desa Paran Dolok, Desa Huta Baru, Desa Padang Bujur, Desa Mandura dan lainnya sudah hampir putus asa  bercocok tanam di lembah tersebut, karena trauma hama monyet,” katanya.

Ia mengatakan cukup banyak kerugian yang diderita warga sebagai dampak kerusakan tanaman  akibat serangan monyet  itu.

Sebenarnya, kata dia, masyarakat ingin menghabisi hama monyet tersebut, tetapi tidak tahu caranya.

“Meski sudah diracun tidak berdampak, diusir malah melawan, pakai senapan takut kena sanksi, monyet memang licik,” katanya.

Sekarang, kata dia, kaum ibu banyak yang takut pergi berkebun atau berladang ke lembah apalagi sendirian. Mereka khawatir serangan monyet yang secara tiba-tiba apalagi sebagian monyet badannya besar.

Untuk itu petani di Sipirok mengharapkan instansi terkait  dapat turun tangan guna meminimalisir puluhan bahkan ratusan monyet tersebut.

Apalagi, tambahnya, sekawanan monyet tersebut belakangan ini  sudah mulai memasuki permukiman warga, diduga karena sudah kehabisan makanan yang ada di areal kebun maupun pertanian.

Baca juga: Banyak monyet berkeliaran di jalan pascagempa Lombok
Baca juga: 50 satwa topeng monyet disita di Jabar

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gajah masih berkeliaran pemukiman warga di Pidie

Banda Aceh (ANTARA News) – Kawanan gajah liar hingga kini masih berkeliaran dan bahkan sempat mengamuk akibat habitatnya di hutan telah rusak karena alih fungsi lahan dilakukan masyarakat, sehingga pemukiman penduduk menjadi sasaran dalam mencari makanan di empat gampong (desa), Kabupaten Pidie, Aceh.

“Di empat gampong, yakni Pulo Lhoih dan Keune di Geumpang, serta Alue Calong dan Lhok Keutapang di Tangse,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Selasa.

Ia mengaku, konflik gajah liar dan manusia ini telah terjadi pekan lalu dengan kondisi lahan perkebunan dan persawahan warga setempat menjadi sasaran amukan hewan memiliki belalai panjang tersebut.

Pemerintah setempat telah memberikan bantuan berupa petasan kepada kelompok masyarakat di empat gampong tersebut guna menghalau gajah liar demi menjaga lahan pertanian, terutama di malam hari.

Ia memastikan, Pemerintah Kabupaten(Pemkab) Pidie telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh untuk melakukan penanganan, termasuk mengusir hewan bertubuh tambun yang memiliki daya ingat kuat ini kembali ke dalam hutan.

“Akibat konflik ini, belum menimbulkan korban jiwa baik anak-anak maupun dewasa. Walau kawanan gajah ini, masih berkeliaran di dekat lahan-lahan pertanian milik penduduk,” ujar Dadek.

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Lhokseumawe, Dedi Irvansyah mengatakan, populasi gajah Sumatera liar, baik di wilayah Utara, Timur maupun Barat-Selatan di Aceh diperkirakan cuma tinggal sekitar 800 ekor.

“Jumlah tersebut meningkat sekitar 10 persen dari 2018. “Hal itu dikarenakan terlihat anak gajah di dalam kelompoknya masing-masing,” katanya.

Ia mengemukakan, satwa yang dilindungi dengan nama latin Elephas maximus sumatranus di provinsi paling Barat di Indonesia ini tersebar di beberapa daerah, akibat memiliki habitat yang selalu dilintasi setiap tahun dalam mencari makanan.

Dia merujuk Aceh Timur dan Tamiang sendiri terdapat sekitar empat sampai lima kelompok kawanan gajah, sedangkan Aceh Utara ada tiga kelompok, dan Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Bireuen diperkirakan sekitar empat kelompok.

Sedangkan, Pidie Jaya dan Pidie terdapat dua kelompok.

“Yang terpantau kita di beberapa wilayah tersebut, ada beberapa kelompok gajah. Dalam satu kelompok kawanan gajah ini berjumlah mulai dari 15 hingga 20 ekor lebih,” katanya.*

Baca juga: Konflik gajah dan manusia di Aceh Utara

Baca juga: Kelompok gajah di Aceh tersebar di beberapa daerah

Baca juga: Ketika “Poe Meurah” tak lagi bersahabat dengan manusia

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kabupaten Bogor akan miliki kebun raya

Cibinong, Bogor, Jawa Barat (ANTARA News) – Kabupaten Bogor akan membangun kebun raya seluas 60 hektare di kawasan Cibinong bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Sebentar lagi Kabupaten Bogor punya Kebun Raya sendiri. Lebih luas dari Kebun Raya Bogor…,” kata Bupati Bogor Ade Yasin di Cibinong, Senin.

Ia menambahkan Pemerintah Kabupaten Bogor dan LIPI sudah menandatangani kesepakatan kerja sama pembangunan Kebun Raya Cibinong pada 21 Februari.

Kebun raya yang akan dinamai Cibinong Science Center Botanical Garden (CSC-BG) itu, ia melanjutkan, akan melengkapi daftar destinasi wisata Kabupaten Bogor.

“Kebun Raya Cibinong sangat potensial untuk dijadikan tempat wisata baru di Cibinong, dan (sumber) pendapatan PAD dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor,” ujar Ade.

Menurut dia, proses pembangunan kebun raya di area yang berdekatan dengan pusat kota dan Stadion Olahraga Pakansari itu akan segera dilaksanakan.

Baca juga:
5.000 bibit mangrove ditanam di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar Surabaya
Kebun raya terbesar bakal ada di Kotawaringin Timur 2020
Magelang jadikan Gunung Tidar kebun raya

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Masyarakat di sekitar Sungai Seranggas minta perangkap buaya tetap dipasang

Sampit, 25/2 (ANTARA News) – Masyarakat di kawasan Sungai Seranggas Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, meminta perangkap buaya tetap dipasang meski sudah dua ekor buaya besar berhasil ditangkap dalam sebulan terakhir.

“Masyarakat masih takut karena diperkirakan masih ada buaya di sungai itu. Bahkan perkiraan warga, ada lagi buaya yang lebih besar dari dua ekor yang sudah tertangkap itu,” kata Camat Teluk Sampit Juliansyah di Sampit, Senin.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah memasang perangkap berupa kerangkeng besi dan alat pancing dengan umpan bebek untuk menangkap buaya. Tindakan itu dilakukan setelah seorang warga bernama Julhaidir (41) diterkam buaya hingga tangan kirinya putus saat mandi di Sungai Seranggas.

Pada Jumat (8/2) dini hari lalu, seekor buaya berukuran sekitar 3,5 meter berhasil ditangkap menggunakan perangkap besi yang dipasang di Sungai Serangas. Buaya itu kemudian dibawa ke Taman Wisata Bukit Tangkiling Palangka Raya.

Sementara pada Sabtu (23/2) sekitar pukul 21.00 WIB, seekor buaya berukuran 3,6 meter tersangkut pancing yang dipasang BKSDA. Namun pagi harinya buaya tersebut mati dan bangkainya dikubur di kompleks pemakaman di desa itu.

“Masyarakat memperkirakan masih banyak buaya berkeliaran di Sungai Seranggas yang merupakan anak Sungai Mentaya. Bahkan satu malam sebelumnya, sempat ada seekor buaya tersangkut pancing namun kemudian buaya itu berhasil melepaskan diri,” katanya.

Masyarakat masih takut beraktivitas di sungai karena khawatir menjadi sasaran serangan buaya. Buaya diduga kelaparan sehingga mencari makan masuk ke perairan dekat permukiman warga.

Juliansyah mengakui, selama ini banyak laporan warga tentang kemunculan buaya di wilayah yang dipimpinnya. Selain di Sungai Seranggas, juga ada laporan kemunculan buaya di Sungai Lempuyang dan Parebok.

“Kami terus mengingatkan masyarakat untuk selalu berhati-hati saat beraktivitas di sungai. Masyarakat kami minta untuk tidak beraktivitas di sungai saat hari gelap karena sangat rawan menjadi sasaran serangan buaya,” kata Juliansyah.

Disinggung soal bangkai buaya yang dikubur di Desa Lempuyang, Juliansyah mengatakan hal itu memang atas permintaan masyarakat setempat. Alasannya karena kejadian itu akan menjadi bagian sejarah desa itu, sekaligus sebagai pengingat kepada masyarakat untuk selalu waspada karena di sekitar mereka juga hidup satwa ganas.

“Kami meyakinkan tidak ada tujuan untuk mencari keuntungan dari kejadian itu. Dia yakin masyarakatnya juga tidak akan membongkar atau mencuri bangkai buaya yang sudah dikubur tersebut,” ujarnya.

Baca juga: Perangkap buaya dipasang di Sungai Seranggas hingga pekan depan
Baca juga: Seekor buaya masuk perangkap di kotawaringin timur
Baca juga: BKSDA Kalteng pasang perangkap buaya pemangsa di Sungai Seranggas

Pewarta:
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

LIPI keluarkan varietas Begonia Lovely Jo

Bogor  (ANTARA News) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus melakukan pengembangan  tanaman hias Begonia menjadi lebih bervariasi dan melahirkan varietas baru yang bernama “Begonia Lovely Jo”.

Menurut Peneliti Begonia LIPI, Hartutiningsih di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Senin, pengembangan itu dengan cara melakukan penyilangan antara begonia yang ada dengan begonia aslinya sehingga menghasilkan keturunan langsung  varietas baru yang diberi nama Begonia Lovely Jo.

“Kami sudah mendapatkan permohonan hak PVT (Perlindungan Varietas Tanaman) dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian, Kementrian Pertanian No.00237/PPVT/S/2013,” tambahnya.

Tanaman ini, lanjut dia, juga mempunyai prospek  nilai jual tinggi sebagai tumbuhan hias komersial, karena begonia ini  memiliki berbagai bentuk dan warna yang menarik.

“Tapi, ini masih dilakukan penelitian lanjutan tentang domestikasi  begonia hias,” ujarnya.

Hartutiningsih menambahkan Kebun Raya Bogor telah berhasil mengoleksi 134 jenis begonia, yang terdiri dari 37 jenis Begonia eksotik dan 97 berasal dari alam. 

Namun untuk Begonia alam yang diperoleh dari hasil eksploitasi hutan, sebanyak 34 jenis di antaranya belum teridentifikasi dan berpotensi sebagai jenis baru.

“Saat ini masih terus dilakukan pengembangan dan penelitian tentang manfaat lainnya terkait Begonia bagi kehidupan,” kata Hartutiningsih.

Baca juga: Peneliti LIPI identifikasi begonia jenis baru di Pulau Seram
Baca juga: Dua begonia jenis baru ditemukan di Halmahera

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Konflik gajah dan manusia di Aceh Utara

Lhokseumawe (ANTARA News) – Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, juga merupakan salah satu wilayah konflik satwa gajah dengan manusia, namun belum ada laporan korban di kedua belah pihak.

Dibandingkan dengan daerah lain di wilayah Provinsi Aceh tentang konflik gajah dan manusia, di Aceh Utara, belum pernah terdengar ada yang menjadi korban. Baik manusia maupun gajah sendiri, ungkap Dedi Irvansyah Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Lhokseumawe.

Di beberapa daerah lain dalam Provinsi Aceh, yang menjadi wilayah persebaran satwa yang dilindungi tersebut, ada korban dari pihak manusia yang disebabkan oleh gajah baik dengan cara diinjak atau dalam bentuk lain. Di pihak satwa gajah sendiri ada yang terbunuh karena diburu baik dengan cara diracun ataupun ditembak.

“Namun selama saya bertugas di KSDA wilayah I Lhokseumawe, belum pernah ada kasus atau laporan tentang korban manusia ataupun gajah di Aceh Utara. Padahal Aceh Utara juga memiliki kelompok gajah liar di hutan, sama dengan dengan daerah lain di Aceh,” ujar Dedi.

Padahal di Aceh Utara juga ada konflik gajah-manusia yakni dengan kerusakan tanaman kebun milik masyarakat yang dilakukan oleh kawanan gajah. Akan tetapi tidak sampai jatuh korban jiwa.

Menurutnya, tidak ada korban jiwa baik manusia ataupun gajah sendiri di Aceh Utara dikarenakan tidak ada yang memulainya. Sehingga tidak ada yang menjadi korban, apalagi gajah merupakan satwa yang memiliki insting kuat dan menandai sesuatu dalam hidupnya.

“Gajah itu satwa yang instingnya sangat kuat dan akan membalas bagi siapa yang pernah menyakitinya termasuk manusia. Bagi manusia yang pernah menyakitinya jangan pernah masuk hutan, jika ditemui oleh gajah atau kawanannya yang pernah disakitinya maka akan dibalas,” ungkap Dedi.

Terkait korban manusia yang disebabkan oleh satwa berbelalai ini pernah terjadi dibeberapa daerah di Provinsi Aceh, seperti di kawasan Bener Meriah, Aceh Barat dan kawasan Pidie. Sedangkan korban pada pihak gajah juga pernah terjadi di beberapa daerah seperti di Aceh Timur dan Bener Meriah baik dengan cara diracun maupun dengan cara ditembak.

Kembali ke Aceh Utara, terkait penanganan gangguan satwa dilindungi tersebut yang memangsa tanaman petani, oleh masyarakat petani masih dilakukan dengan cara-cara yang tidak menyakiti satwa tersebut dan masyarakat petani sudah mengerti karakter satwa tersebut sehingga tidak ada yang pernah disakiti oleh gajah.

“Jika, gangguan akibat gajah, di Aceh Utara sama juga dengan daerah lain. Yakni, tanaman perkebunan menjadi sasarannya. Akan tetapi di Aceh Utara penanganan gajah yang masuk ke kebun masyarakat itu dilakukan dengan membunyikan meriam karbit ataupun mercon, sebagai upaya menghalau agar gajah-gajah yang terlanjur bermain ke kebun petani untuk kembali ke hutan,” katanya.

Sementara itu, mengenai kerusakan tanaman petani di wilayah Aceh Utara sendiri berdasarkan data terakhir dari Dinas Perkebunan dan Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Utara menyebutkan, bahwa ribuan batang tanaman perkebunan seperti sawit, kelapa dan juga pinang dirusak oleh gajah, tepatnya di kawasan Krueng Baree, Kecamatan Simpang Kramat.

“Jenis tanaman yang sering dirusak, pinang, sawit dan kelapa yang masih berusia muda. Hal itu dikarenakan selain mudah dijangkau juga jaringan tanamannya masih segar, sehingga sangat disukai dan menjadi makanan satwa tersebut,” ungkap Muslim Kasi Perlindungan dan Pengembangan Tanaman beberapa waktu lalu.

Sementara itu, sebagaimana dikatakan oleh Kepala KSDA Wilayah I Lhokseumawe tersebut, bahwa alasan gajah yang terbunuh merupakan bagian dari buruan. Hal itu didasarkan pada hilangnya gading pada gajah. Seperti diketahui, gading merupakan salah satu bagian dari tubuh gajah yang sangat berharga.

Jika dibeberapa tempat didaerah lain yang memiliki laporan dan kasus terbunuhnya gajah disebabkan oleh motivasi berburu gading, lantas mengapa di Aceh tidak ada gajah yang terbunuh untuk diburu seperti di daerah lain. Dedi menjelaskan, bahwa kontur alam di Aceh Utara akan menjadi kendala bagi pemburu gading gajah. Hal itu berbeda dengan daerah lain yang banyak akses ke daerah lain.

“Bentuk alam wilayah Aceh Utara menjadi kendala tersendiri bagi pemburu, hal itu berbeda dengan daerah lain yang terkoneksi antara satu daerah dengan daerah lain dan mudah untuk keluar. Seperti Aceh Timur dapat tembus ke Bener Meriah, Aceh Tamiang dan juga ke Aceh Tengah,” jelas Ka. Seksi KSDA wilayah I Lhokseumawe itu.

Mengenai jumlah kelompok gajah bervariasi di masing-masing daerah. Seperti di Aceh Timur terdapat sekitar 4 sampai dengan 5 kelompok gajah yang tersebar di hutan-hutan wilayah tersebut. Sedangkan di Aceh Utara terdapat 3 kelompok. Sementara Aceh Tengah, Bener Meriah dan Kabupaten Bireun diperkirakan sekitar 4 kelompok. Sementara di wilayah Pidie Jaya dan Kabupaten Pidie terdapat dua kelompok.

“Yang terpantau oleh kita di beberapa wilayah tersebut ada beberapa kelompok gajah. Dimana dalam satu kelompok berjumlah mulai dari 15 hingga 20 ekor lebih,” ungkap Dedi.

Bahkan sebagaimana diungkapkan oleh Dedi, di wilayah Aceh Utara diperkirakan mulai muncul tiga kelompok. Hal itu didasarkan pada hasil pemantauan pada kelompok gajah yang berada di sekitar kawasan Cot Girek, Matangkuli hingga Kecamatan Langkahan. Apalagi dalam kelompok gajah di Aceh Utara dipasangi GPS Collar untuk memantau gerak dan aktivitas kelompok gajah di pedalaman hutan Aceh Utara.

Populasi Gajah Sumatera baik di wilayah utara dan timur maupun di wilayah barat dan selatan Provinsi Aceh, diperkirakan sekitar 800 ekor. Jumlah tersebut meningkat sekitar 10 persen dari tahun sebelumnya. Hal itu dikarenakan terlihat anak gajah didalam kelompoknya masing-masing.*

Baca juga: Kelompok gajah di Aceh tersebar di beberapa daerah

Baca juga: Ketika “Poe Meurah” tak lagi bersahabat dengan manusia

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Seekor orangutan dilepasliarkan ke Cagar Alam Jantho Aceh

Orangutan yang akan dilepasliarkan tersebut diberi nama Lamtuha. Orangutan jantan ini berusia sekitar 25 tahun dengan berat 60 kilogram,

Banda Aceh (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh akan melepasliarkan seekor orangutan Sumatera (pongo abelii) ke Cagar Alam, Jantho, Kabupaten Aceh Besar.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Jumat, mengatakan, sebelum dilepasliarkan, orangutan tersebut ditempatkan terlebih dahulu di Stasiun Reintroduksi, Taman Wisata Alam, Jantho.

“Orangutan yang akan dilepasliarkan tersebut diberi nama Lamtuha. Orangutan jantan ini berusia sekitar 25 tahun dengan berat 60 kilogram,” ujar Sapto.

Lamtuha diselamatkan personel Resor Konservasi Tapaktuan Seksi Konservasi Wilayah 2 Subulussalam BKSDA Aceh dibantu tim YEL-SOCP pada 21 Februari 2019.

Orangutan tersebut diselamatkan atau dievakuasi di areal perkebunan sawit di Desa Blang Makam, Kecamatan Lamtuha, Kabupaten Aceh Barat Daya.

“Lokasi perkebunan sawit tersebut hanya menyisakan satu hektare kawasan hutan. Evakuasi dilakukan dengan pembiusan,” kata Sapto.

Selanjutnya, orangutan diberi nama Lamtuha tersebut ditranslokasi ke Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera di Taman Wisata Alam Jantho, Aceh Besar, untuk selanjutnya dilepasliarkan di tempat itu.

Orangutan Sumatera merupakan satwa liar dilindungi berdasarkan peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Lembaga konservasi internasional IUCN menyebutkan Orangutan Sumatera berstatus kritis dan terancam punah.

Menurut Sapto, penyebaran Orangutan Sumatera di Provinsi Aceh meliputi 11 kabupaten/kota dengan jumlah sekitar 13 ribu individu dan luasan habitat mencapai 16,7 ribu kilometer persegi.

“BKSDA bersama mitra kerja terus berupaya menyelamatkan orangutan di Provinsi Aceh. Kepada masyarakat juga diharapkan dukungannya untuk menyelamatkan satwa dilindungi yang terancam punah tersebut,” kata Sapto.

Baca juga: Enam orangutan dilepasliarkan di TN Bukit Baka Bukit Raya-Kalbar
Baca juga: Kisah kepedulian pedagang kain pada orangutan di Antang Kalang

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Masyarakat diminta TNBBS tidak sembarangan mengusir gajah

Masyarakat jangan gegabah mengusir kawanan gajah yang masuk ke permukiman warga, kalau bisa saling berkoordinasi dengan petugas yang ada agar tidak ada memakan korban

Oleh Triono Subagyo dan Emir FS

Bandarlampung, (ANTARA News) – Kepala Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Agus Wahyudiono mengimbau masyarakat untuk tidak mengganggu habitan gajah atau mengusirnya secara sembarangan ketika kawanan itu memasuki permukiman.

“Masyarakat yang ada jangan sampai mengganggu kawanan gajah, bila tidak mau kawanan gajah ini merusak rumah, perkebunan dan pertanian warga,” kata Agus saat dihubungi dari Bandarlampung, Jumat.

Menurut dia, sering ke luar dan masuknya kawanan gajah ke permukiman warga, diakibatkan sering merasa terganggu habitatnya dengan keberadaan manusia. Apalagi dengan keterbatasan makanan.

Selain itu, masyarakat itu juga jangan gegabah saat mengusir kawanan gajah yang masuk ke permukiman warga, kalau bisa saling berkoordinasi dengan petugas yang ada agar tidak ada memakan korban.

“Masyarakat jangan suka gegabah untuk mengusir kawanan gajah yang ada, karena bisa membahayakan warga sendiri,” katanya.

Ia menjelaskan, untuk mengusir kawanan gajah ini, harus saling berkoordinasi antara petugas dan masyarakat untuk bisa bersama-sama agar tidak ada korban.?

Sebelumnya, kawanan gajah liar kembali masuk ke perkebunan serta merusak puluhan hektare tanaman di sawah yang berada di Pekon (Desa) Roworejo, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat.

“Iya tadi sore kawanan gajah kembali masuk dan merusak lahan perkebunan dan pertanian milik warga termasuk sawah,” ujar Eko, salah satu warga saat dihubungi dari Bandarlampung, Sabtu, pekan lalu.

Menurut dia, kawanan gajah sudah hampir dua pekan menginap di lahan perkebunan dan pertanian milik warga di Pekon Roworejo, Kecamatan Suoh, Lampung Barat.

Dia menjelaskan, para pemilik lahan perkebunan dan pertanian hanya dapat melihat dari jarak terdekat sekitar 50 meter saja.

“Kami hanya bisa melihat dari jarak 50 meter saja. Dan belum berani mendekat, karena tidak mau mengambil risiko,” katanya.

Eko menjelaskan, puluhan gajah ini sudah hampir satu bulan menginap di dekat permukiman warga dan sampai saat ini kawanan gajah tersebut berpindah dari pekon (desa) satu ke pekon lainnya.

“Bila diusir dari pekon Roworejo maka akan berpindah ke pekon lainnya. Karena hutan ini dikelilingi oleh rumah penduduk,” katanya.

Baca juga: Kawanan Gajah Liar di TNBBS Berhasil Dipasangi Alat Deteksi Satelit

Baca juga: Balai TNBBS : kematian gajah “Yongki” sedang diselidiki

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pertamina EP lepasliarkan owa jawa di Gunung Malabar

Jakarta (ANTARA News) – PT Pertamina EP Asset-3 Subang Field, unit bisnis PT Pertamina EP, melepasliarkan lima ekor Owa jawa yang terancam punah ke habitatnya di hutan lindung Gunung Malabar, Jawa Barat, setelah direhabilitasi di Javan Gibbon Center, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
    
“Pelepasliaran ini adalah yang keenam kalinya yang sebelumnya telah dilepasliarkan 19 individu sejak tahun 2013. Upaya pengembalian Owa jawa ke habitatnya bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu, kemitraan dan dukungan berbagai pihak sangat diperlukan untuk menyelamatkan primata ini dari kepunahan,” ujar Manager PEP Asset 3 Subang Field, Armand Mel Hukom dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis.
     
Pelepasaliaran ini dilakukan kepada dua keluarga primata tersebut, yaitu keluarga Jowi-Cuplis dan anaknya Maral yang lahir di pusat rehabilitasi serta pasangan Mimis-Cika. Sebelum dilepasliarkan mereka menjalani proses habituasi selama tiga bulan di Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar.
    
Menurut Armand, inisiatif pelepasliaran ini merupakan implementasi kerjasama Yayasan Owa Jawa dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang didukung PEP Asset 3 Subang Field, Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Perum Perhutani, Conservation International Indonesia, dan Silvery Gibbon Project.
    
Owa jawa merupakan spesies karismatik, memiliki peran penting dalam merestorasi hutan secara alami dengan menyebarkan benih untuk membantu menjaga kesehatan hutan untuk menunjang kehidupan manusia antara lain sebagai daerah resapan air, mencegah banjir, penyuplai oksigen dan penyerap karbon dan lokasi penelitian.
    
Oleh karena itu, diperlukan upaya konservasi dengan pelibatan masyarakat. Salah satu upaya konservasi dimaksud adalah pelestarian owa jawa dari ancaman kepunahan di habitat alaminya akibat perburuan dan perdagangan.
    
Armand menegaskan komitmen PEP Asset 3 Subang Field untuk mendukung kegiatan pelestarian owa jawa dan habitatnya. Apalagi PEP telah mendukung dan bekerja sama dengan Yayasan Owa Jawa sejak 2013 dalam program reintroduksi owa jawa dan penyadartahuan konservasi.
    
PEP Asset 3 juga mendukung dalam pemberdayaan masyarakat melalui Program Melintang (Masyarakat Pecinta Alam Puntang) yang terfokus pada pemberdayaan ekonomi berupa budidaya tanaman kopi kepada warga Desa Campaka Mulya yang berada dibawah naungan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Bukit Amanah yang lokasinya berbatasan langsung dengan area konservasi owa jawa di Gunung Puntang.
    
Ia mengharapkan seluruh kegiatan yang dijalankan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar di lokasi konservasi Owa Jawa. “Sejalan dengan misi PEP untuk memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan, kami akan terus bersinergi dengan pihak terkait agar menghasilkan dampak positif bagi lingkungan,” katanya.
    
Wahju Rudianto, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, mengatakan bahwa Owa jawa merupakan salah satu dari 25 satwa prioritas yang menjadi target sasaran strategis Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem yang tertera pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 untuk ditingkatkan populasinya.
    
“Program rehabilitasi owa jawa di Javan Gibbon Center merupakan kerjasama Yayasan Owa Jawa dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang berperan penting dalam mempersiapkan Owa jawa yang pernah dipelihara masyarakat, kemudian dilepasliarkan untuk penguatan populasi di alam,” ujarnya.

Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BirdLife deteksi jalur migrasi dara laut di Seram Utara

Ambon  (ANTARA News) – Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku, Burung Indonesia, BirdLife International, Indonesia Bird Banding Scheme (IBBS), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan pemantauan dan penandaan burung dara laut di Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah.

Burung dara laut Cina (Thalasseus bernsteini) dan Dara Laut Jambul (Thalasseus bergii), merupakan dua dari sekian jenis burung dalam famili Sternidae yang dilindungi pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

 Hasilnya tim berhasil menandai dan memasang satelit pada dua ekor Dara Laut Jambul untuk mendeteksi jalur migrasinya,  katanya. 

“Kedua burung tersebut merupakan burung yang bermigrasi melalui Indonesia. Pada 2018, burung-burung tersebut terpantau berada di perairan Seram Utara, Maluku Tengah,” kata Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi, di Maluku, Kamis.

Menurut dia, pemantauan dan penandaan tersebut dilakukan pada 14 hingga 19 Februari 2019, bertepatan dengan musim migrasi dara laut Cina dari tempat berbiaknya di Cina ke tempat-tempat yang lebih hangat seperti Indonesia dan Australia.

Dalam pemantauan tersebut, diketahui satu ekor dara laut Cina (Thalasseus bernsteini) bersama dalam kelompok beberapa ekor Dara Laut Jambul (Thalasseus bergii).

Mukhtar mengatakan, menurut International Union for Conservation of Nature IUCN, status konservasi Dara Laut Cina tersebut yaitu critically endangered/CR (kritis). Diperkirakan jumlah individu dewasa di dunia kurang dari 100 ekor.

“Informasi yang terpantau dari satelit memberikan data dan informasi baru untuk mengetahui pergerakan dara laut jambul yang bergerak di sekitar wilayah Pulau Seram hingga ke Australia bagian Utara,” kata Biodiversity Conservation Specialist Burung Indonesia, Ferry Hasudungan yang memaparkan rute yang dilewati burung dara laut yang telah diamati selama 2018.

Ferry berharap, informasi tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokasi penting bagi konservasi Dara Laut.

“Harapannya kita bisa melihat ke mana saja burung ini bermigrasi, khususnya di wilayah Indonesia, hingga ke depannya mudah-mudahan kita dapat melihat lokasi di perairan Indonesia yang penting untuk dara-laut Cina,” tandasnya.

Baca juga: Jenis burung Indonesia bertambah jadi 1.777
Baca juga: 15 persen burung endemik Indonesia terancam punah

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019