WWF apresiasi tuntutan 4,5 tahun penjara bagi pembunuh harimau

Harapannya putusan nantinya bisa lebih tinggi, atau sama dengan tuntutan,

Pekanbaru (ANTARA News) – Organisasi perlindungan satwa World Wildlife Fund (WWF) menilai tuntutan 4,5 tahun penjara terhadap terdakwa pembunuh tiga harimau sumatera di Provinsi Riau merupakan yang tertinggi sejauh ini. 

“Dari kasus-kasus sebelumnya, ini termasuk yang tinggi. Harapannya putusan nantinya bisa lebih tinggi, atau sama dengan tuntutan,” kata Humas WWF Program Riau, Syamsidar di Pekanbaru, Jumat. 

Syamsidar mengatakan hal itu terkait Jaksa Penuntut Umum yang menuntut Falalini Halawa, terdakwa pembunuh tiga harimau Sumatera, dengan hukuman pidana 4,5 tahun penjara di Pengadilan Negeri Telukkuantan, Kuantan Singingi, pada 12 Februari lalu. 

Kasus serupa sebelumnya pada 2017, ketika tuntutan Jaksa Penuntut Umum terhadap dua terdakwa anggota sindikat perdagangan kulit harimau di Pengadilan Negeri Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu. JPU pada sidang itu menuntut dua terdakwa, yakni Muzainul Achyar dan Joko Sujarwanto, dengan hukuman tiga tahun penjara dan denda Rp100 juta. 

Vonis Majelis Hakim dalam sidang itu justru lebih tinggi dari tuntutan jaksa, yakni empat tahun penjara dan denda Rp100 juta. 

Syamsidar mengatakan WWF mengapresiasi penegak hukum terkait yang memastikan proses berjalan sebagaimana mestinya. Karena yang terpenting semangat penegakan hukum terhadap kejahatan satwa dilindungi ini dapat terus ditingkatkan dan menjangkau pelaku utama dari kejahatan luar biasa tersebut. 

“Kami berharap putusan atas kasus ini dapat maksimal sehingga menjadi pembelajaran bagi semua pihak,” ujarnya. 

Sebelumnya, JPU dari Kejaksaan Negeri Kuantan Singingi, Mochamad Fitri Adhy mengatakan terdakwa Falalini dalam kasus pembunuhan tiga harimau sumatera, bisa dibuktikan telah melanggar Pasal 40 Ayat (2) Jo. Pasal 21 Ayat (2) huruf a Undang-Undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sebabnya, terdakwa dinilai dengan sengaja menangkap, melukai, membunuh, dan menyimpan satwa yang dilindungi. 

Sebabnya, dalam pemeriksaan, terdakwa sudah mengetahui bahwa tempat dia memasang jerat adalah habitat harimau, dan masyarakat di sana sudah memperingatkan untuk tidak memasang jerat di sekitar hutan yang merupakan tempat perlintasan harimau. 

Namun, terdakwa mengacuhkan peringatan tersebut dan tetap memasang jerat-jerat dari ukuran kecil hingga besar yang terbuat dari kawat (sling) baja bekas rem motor. Alasannya adalah untuk menangkap babi dan landak yang kerap merusak kebun kelapa sawit. Namun, ukuran jerat tidak sesuai untuk menangkap hewan berukuran kecil.

Falalini Halawa merupakan pemasang jerat yang membunuh tiga harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) di Desa Pangkalan Indarung Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi pada September 2018. Jerat kawat baja yang dipasangnya mencekik induk harimau sumatera liar hingga ikut membunuh dua janin di dalam perut harimau, yang tengah bunting besar itu.

Baca juga: Pembunuh tiga harimau sumatera dituntut 4,5 tahun penjara
Baca juga: Bangkai harimau Sumatera Taman Rimba Jambi dibakar
Baca juga: Harimau dan singa di Taman Rimba Jambi mati

 

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kisah kepedulian pedagang kain pada orangutan di Antang Kalang

Sampit, Kalimantan Tengah (ANTARA News) – Saat berdagang di Desa Tumbang Maya, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, seorang penjual kain keliling bernama Suryani melihat anak orangutan kurus di satu rumah warga, yang mendapatkan anak orangutan betina itu dari hutan.

Dia merasa kasihan, dan ingin membawa anak orangutan itu pulang supaya bisa merawatnya. “Saya memang merasa sedih karena anak saya juga suka binatang,” katanya di Sampit, Jumat.

Namun warga pemilik anak orangutan berusia sekitar enam bulan itu semula tidak mengizinkan Suryani membawa pulang piarannya.

“Sampai di rumah, saya bercerita kepada suami tentang kejadian itu,” kata Suryani.

Suami Suryani kemudian menjelaskan bahwa orangutan merupakan satwa dilindungi dan tidak boleh dijadikan peliharaan. Beberapa hari setelah kejadian itu, Suryani kembali ke Desa Tumbang Maya dan menyampaikan penjelasan yang dia dapat dari suaminya ke warga pemilik anak orangutan.

Suryani diizinkan membawa anak orangutan bernama Keri itu pada 9 Januari 2019, setelah berdiskusi dengan pemilik dan berjanji akan mengganti biaya perawatan anak orangutan. Keluarga Suryani merawat anak orangutan itu selama sekitar satu bulan sebelum menyerahkannya ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Sampit.

“Saya menghubungi Polsek Antang Kalang dan dihubungkan dengan BKSDA,” katanya.

Bersama suami dan anaknya, Suryani kemudian membawa anak orangutan itu ke Sampit, menempuh perjalanan lima jam lebih untuk menyerahkan anak orangutan itu ke BKSDA Pos Jaga Sampit.

“Anak saya sempat meminta untuk merawat lebih lama sebelum diserahkan ke BKSDA,” kata Suryani, yang terlihat terharu saat berpisah dengan Keri.

Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit Muriansyah berterima kasih kepada Suryani dan keluarganya. Dia salut Suryani rela jauh-jauh datang ke Sampit untuk menyerahkan satwa dilindungi tersebut.

“Anak orangutan ini akan kami bawa ke Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, untuk direhabilitasi. Kondisi orangutan sehat, walaupun ada luka kecil di bagian kaki, tetapi sudah kering, dan badan terlihat kurus,” kata Muriansyah.

Dia menjelaskan bahwa induk orangutan biasanya tidak pernah meninggalkan anaknya sendirian meski sedang berada di sarang. Orangutan, menurut dia, biasanya selalu membawa anaknya kemana pun pergi. Berdasarkan fakta itu, Muriansyah menduga induk orangutan bernama Keri itu mati.

Muriansyah juga mengingatkan warga bahwa menjadikan orangutan sebagai hewan piaraan termasuk perbuatan melanggar hukum.

“Warga yang memelihara, apalagi membunuh orangutan diancam sanksi hukum yang berat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5/1990 Pasal 21,siapa saja yang memelihara, memburu, memperjualbelikan dan menyelundupkan orangutan, owaowa, kukang, beruang dan satwa liar dilindungi lainnya, akan dikenakan hukuman penjara lima tahun dan denda Rp100 juta,” katanya.

Baca juga:
90 persen orangutan berada di luar hutan lindung
Orangutan Albino dilepasliarkan ke taman nasional

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gajah liar rusak tanaman perkebunan di Aceh Utara

Menurut informasi masyarakat, gangguan gajah tersebut terjadi sejak awal Januari 2019 hingga beberapa hari sesudahnya,

Lhokseumawe (ANTARA News) – Akibat gangguan sejumlah gajah liar, ribuan batang tanaman produktif rusak di pedalaman Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.

Kasi Perlindungan dan Pengembangan Tanaman Dinas Perkebunan Peternakan Dan Kesehatan Hewan (DPPKH) Aceh Utara,  Muslim, Jumat, menyebutkan, ribuan batang tanaman perkebunan seperti sawit, kelapa dan juga pinang dirusak oleh gajah.

Dia mengatakan, dari laporan masyarakat gangguan gajah tersebut terjadi di Dusun Krueng Baree, Gampong (desa) KM VIII, Kecamatan Simpang Kramat, Aceh Utara.

“Menurut informasi masyarakat, gangguan gajah tersebut terjadi sejak awal Januari 2019 hingga beberapa hari sesudahnya. Lalu melaporkan kepada kita melalui pihak kecamatan tanaman dan luasan areal yang diganggu oleh gajah,” ujar Muslim.

Sebagaimana disebutkan dalam laporan masyarakat, bahwa jenis tanaman yang dominan diganggu gajah adalah sawit, kelapa dan pinang yang masih berusia muda.

Hal itu dikarenakan, selain mudah dijangkau oleh satwa tersebut juga jaringan tanaman masih segar. Sedangkan luasan areal gangguan gajah tersebut dilokasi dimaksud pada radius 137 Hektare.

Menindaklanjuti laporan masyarakat tersebut, hingga saat ini pihaknya masih mendata jumlah kerusakan akibat gangguan gajah tersebut.

Baca juga: Walhi: gangguan gajah di Aceh akan berlanjut tanpa penghentian alih fungsi hutan
Baca juga: Gajah liar serang gajah jinak di Bener Meriah
Baca juga: Tujuh gajah liar dihalau kembali ke hutan

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA wilayah Madiun amankan empat kera ekor panjang

Madiun  (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah Madiun mengamankan empat kera ekor panjang milik warga Desa Rejosari, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, karena dinilai meresahkan masyarakat desa setempat.

Kepala Resort 05 Madiun BKSDA Wilayah Madiun, Suparni, mengatakan empat kera ekor panjang tersebut terdiri dari sepasang kera jantan dan induk, dengan dua anaknya. Penangkapan empat kera ekor panjang itu berdasarkan laporan pemiliknya yang merupakan perangkat Desa Rejosari, Sri Lestari.

“Atas laporan tersebut, kami kemudian mendatangi lokasi dan mengevakuasi tiga dari empat kera tersebut pada Selasa (12/2),” ujar Suparni kepada wartawan, Kamis (14/2).

Tiga ekor kera yang berhasil ditangkap dan dievakuasi adalah satu induk dan dua ekor anaknya. Sedangkan satu ekor kera yang paling besar, yakni yang jantan, belum bisa dievakuasi karena keluar dari kandang.

Setelah kembali di kandangnya, petugas kemudian mengevakuasi kera jantan tersebut. Proses pemindahan dari kandang permanen ke kandang portable juga membutuhkan waktu cukup lama. Petugas harus ektra sabar menunggu kera tersebut masuk ke kandang yang telah disiapkan.

“Kemarin proses penangkapan sampai pukul 17.00 WIB. Itu karena keranya lari dan sulit menangkapnya. Harus menunggu mau masuk kandang dengan sendirinya,” kata dia.

Ia menjelaskan, kera ekor panjang bukan termasuk satwa yang dilindungi sehingga warga boleh memeliharanya. Setelah diambil dari pemiliknya, empat ekor kera itu nantinya akan dikirim ke BBKSDA Jawa Timur untuk dikarantina, sebelum nantinya akan dilepaskan.

Selain dikembalikan ke habitatnya yaitu di wilayah hutan Ngawi, BKSDA juga menawarkan kera terebut ke sejumlah lembaga konservasi seperti di Umbul Madiun maupun Banyu Biru Magetan.

“Namun, dua lembaga konservasi Umbul dan Banyu Biru sudah menolak. Karena kera ekor panjang di dua lembaga itu sudah banyak,” katanya.

Sementara, pemilik empat ekor kera itu, Sri Lestari, mengatakan dirinya sengaja menyerahkan kera kesayangannya itu karena sudah tidak sanggup merawatnya. Apalagi, beberapa hari sebelumnya, kera tersebut keluar kandang dan membuat anak-anak sekitarnya takut.

“Kemarin tangan saya digigit sama yang jantan, karena saya menggendong anaknya yang sakit. Jadi mungkin lebih baik saya serahkan ke BKSDA. Saya sudah ikhlas,” kata dia.

Sesuain informasi, kera-kera tersebut telah dipelihara sejak 10 tahun lalu dari mulai saat indukan jantan dan betina masih kecil. Bertahun-tahun dipelihara, sepasang kera indukan tersebut itu akhirnya punya anak.

Baca juga: Pemkot Bekasi libatkan JAAN evakuasi monyet ganas
Baca juga: Kera cari makan ke pemukiman penduduk

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Maluku pasang perangkap buaya yang muncul di Pelabuhan Yos Sudarso

Ambon (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku memasang perangkap untuk menangkap buaya yang dilaporkan masyarakat muncul di kawasan Pelabuhan Yos Sudarso, Kota Ambon.

“Penyisiran Kamis ini dilakukan dengan memasang mata kail untuk menangkap buaya, mata kail kita pasang bangkai binatang sebagai umpan buaya di tiga lokasi,” kata petugas BKSDA Maluku, Junaidi Sam, di Ambon, Kamis.

Ia mengatakan, proses pencarian dilakukan di tiga titik, yaitu tempat muncul pertama buaya, yakni dekat di kantor Ambon Ekspress, kedua di belakang kantor itu, titik ketiga di kontainer pelabuhan Yos Sudarso.

“Hari ini kami belum mendapatkan hasil karena kondisi air laut naik dan kemungkinan besar buaya sembunyi, kami terus melakukan upaya pencarian buaya yang sesuai informasi warga sebanyak dua ekor,” katanya.

Menurut Junaidi, informasi dari warga, buaya dilaporkan muncul sejak Selasa (12/2)  di gorong-gorong samping pusat perbelanjaan Ambon Plaza (Amplaz).

Sebelumnya pada 31 Desember 2018, warga melaporkan kemunculan buaya di kawasan pasar lama atau  Pelabuhan Slamet Riyadi.

Kemunculan buaya tersebut dilihat warga saat ingin berjemur di sekitar got besar atau tempat pembuangan kotoran di kawasan pasar lama atau Pelabuhan Slamet Riyadi.

“Laporan masyarakat ditindaklanjuti dengan penyisiran dan rencana penangkapan buaya, kami juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan ke `call center` BKSDA Maluku jika buaya terlihat kembali,” katanya.

Ia mengakui, jika buaya tersebut telah ditangkap, sesuai rencana akan direlokasi ke habitat yang lebih aman dan jauh dari masyarakat.

“Sesuai rencana kita akan merelokasi ke habibatnya di Seram Bagian Barat, mengingat sebelumya kita telah melakukan relokasi beberapa kali ke sana,” katanya.

Baca juga: Dua warga tewas diterkam buaya di Maluku
Baca juga: Kemunculan buaya di Ambon disisir BKSDA Maluku

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ular piton empat meter masuk ke kamar mandi warga di Kotawaringin Barat

Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (ANTARA News) – Joko langsung bergegas membawa anak pertamanya keluar ketika melihat ular besar di kamar mandi rumah mertuanya di Jalan A Yani KM 5,5, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kamis pagi.  

“Saya langsung menyelamatkan anak saya, membawanya keluar dari kamar mandi,” katanya.

Joko kemudian memberitahu bapak mertuanya, Juhri Hadinata, bahwa ada ular besar di kamar mandi. 

“Bapak mertua membawa parang untuk jaga-jaga. Jangan sampai ular itu menyerang keluarga. Apalagi itu kan masih pagi hari,” katanya.

Dia lalu menghubungi Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah Agung Widodo untuk meminta bantuan mengevakuasi ular tersebut.

Petugas BKSDA beserta pawang ular kemudian datang, menangkap ular tersebut menggunakan sebilah papan, dan menutup moncongnya menggunakan selotip supaya tidak membahayakan orang di sekitarnya.

Butuh tenaga lima orang dewasa untuk mengevakuasi ular dengan bobot sekitar 30 kilogram dan panjang empat meter lebih itu.

Warga dan pengendara yang melintasi Jalan A Yani menyempatkan diri melihat aksi petugas mengevakuasi ular.

Tenaga para petugas BKSDA cukup terkuras saat melakukan evakuasi, karena ular yang awalnya sudah berhasil dimasukan ke dalam kandang kemudian lolos sehingga petugas harus menangkapnya lagi lantas memasukkannya ke dalam karung sebelum menaruhnya di dalam kandang.

Seorang petugas BKSDA yang bernama Ibnu mengatakan ular itu akan di bawa kantor Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Kalimantan Tengah sebelum dilepaskan ke Suaka Margasatwa Lamandau.

“Perkiraan usianya kita kurang tahu, yang pasti dengan ukuran besar itu bisa memakan anak sapi atau kambing dewasa,” kata Ibnu.

Ini bukan kali pertama ular piton menimbulkan kehebohan warga di Kotawaringin Barat. Pada Selasa (5/2/2019), ular piton dengan panjang kurang lebih delapan meter dan berat sekitar 150 kilogram membuat gempar warga di area Terminal Natai Suka.

Baca juga:
Ular piton 10 meter jadi anggota baru THPS
BKSDA target lepas 3.000 ular piton/tahun

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Agam data populasi buaya muara untuk pengusulan lokasi KEE

Lubukbasung (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam, Sumatera Barat, akan mendata populasi buaya muara di sejumlah sungai dan rawa di Kecamatan Tanjungmutiara untuk pengusulan lokasi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) di daerah setempat.

Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam, Ade Putra di Lubukbasung, Kamis, mengatakan pendataan jumlah populasi buaya muara itu akan dilakukan pada akhir Februari 2019.

“Pendataan jumlah populasi buaya muara dilakukan selama lima sampai 10 hari melibatkan lima orang petugas BKSDA, dan nantinya akan bekerja sama dengan Satpol Air Polres Agam,” katanya.

Lokasi penghitungan populasi buaya berada di Sungai Antokan, Sungai Masang dan sejumlah rawa di Tiku Lima Jorong, karena di lokasi ini sering bermunculan buaya muara.

Kegiatan ini dilaksanakan menggunakan metode penentuan populasi buaya dengan cara hitung malam atau night count yang dilakukan secara berulang.

Dalam pelaksanaanya, tim yang terdiri dari pengemudi, pencatat, navigator dan pengamat menggunakan perahu motor dan spotlight untuk mendapatkan sorotan atau pantulan mata buaya di sepanjang lokasi pengamatan.

Sedangkan untuk siang hari, survey diawali dengan orientasi lapangan untuk membuat lokasi dengan panjang tergantung pada panjang sungai dan kondisi habitat.

Untuk menentukan jalur transek dilakukan dengan mengimput titik koordinat awal dan akhir pada GPS.

“Data yang diperoleh kemudian diolah secara tabulasi, karena buaya merupakan satwa yang cenderung menyukai area-area di tepi perairan,” katanya.

Tujuan penghitungan populasi buaya muara itu untuk mengetahui kondisi jumlah populasi satwa buaya muara di Nagari Tiku Lima Jorong.

Penghitungan populasi akan dijadikan sebagai dasar rencana pengusulan lokasi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE).

KEE merupakan daerah luar areal kawasan hutan baik berupa lahan hak milik ataupun bentuk lainnya yang memiliki potensi keanekaragaman hayati.

“Apabila telah ditetapkan menjadi KEE, katanya, maka pola ke depan ada kegiatan konservasi dan bisa sebagai objek wisata,” katanya.

Baca juga: BKSDA Sampit wacanakan survei populasi buaya Mentaya
Baca juga: Kawasan konservasi penyu Pariaman dijadikan ekosistem esensial
Baca juga: BKSDA Jambi lepasliarkan tiga buaya muara

 

Pewarta:
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pembunuh tiga harimau sumatera dituntut 4,5 tahun penjara

Pekanbaru, Riau (ANTARA News) – Jaksa Penuntut Umum menuntut 4,5 tahun penjara atas Falalini Halawa, terdakwa pembunuh tiga harimau sumatera di Provinsi Riau. Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Kuantan Singingi, Mochamad Fitri Adhy, ketika dihubungi Antara dari Pekanbaru, Kamis, menyatakan, dia juga menuntut denda sebesar Rp100 juta subsidair enam bulan kurungan. 

Ia menjelaskan, Halawa bisa dibuktikan telah melanggar pasal 40 Ayat (2) juncto pasal 21 Ayat (2) huruf a UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Terdakwa telah dengan sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, satwa yang dilindungi. 

“Dalam pemeriksaan, terdakwa sudah mengetahui bahwa tempat dia memasang jerat adalah habitat harimau sumatera, dan masyarakat di sana sudah memperingatkan untuk tidak memasang jerat disekitar hutan yang merupakan tempat perlintasan harimau sumatera,” katanya. 

Namun, terdakwa mengacuhkan peringatan itu dan tetap memasang jerat-jerat dari ukuran kecil hingga besar yang terbuat dari kawat baja bekas rem motor. Alasannya adalah untuk menangkap babi dan landak yang kerap merusak kebun kelapa sawit. Namun, dari ukuran jerat tidak sesuai untuk menangkap hewan berukuran kecil. 

Dalam kasus tersebut, JPU menghadirkan barang bukti yang memberatkan terdakwa, yaitu jerat dari tali nilon, jerat dari kabel baja bekas rem sepeda motor, satu induk harimau sumatera beserta dua bayi bayi harimau sumatera dalam keadaan mati, empat jerat yang terbuat dari tali nilon, dan dua karung plastik bulu landak. 

Dalam persidangan juga diungkapkan bahwa terdakwa Falalini juga menangkap landak, yang dagingnya untuk dimakan.  “Landak itu juga binatang yang dilindungi,” kata Adhy. 

Sebelumnya, Balai Penegakan Hukum Wilayah II Sumatera Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menangkap Halawa karena dia tersangka pemasang jerat yang membunuh tiga harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Pangkalan Indarung Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi, pada September 2018. Halawa, 41 tahun, sebenarnya berasal dari Kabupaten Nias Selatan dan tinggal di Desa Pangkalan Indarung karena bekerja sebagai penjaga kebun kelapa sawit dan ubi di sana. Ia mengklaim terpaksa memasang jerat untuk melindungi tanaman dari hama babi. 

Namun, pada 25 September 2018, satu harimau sumatera terkena jerat ukuran besar yang terbuat dari sling baja milik dia. Satwa dilindungi itu akhirnya ditemukan mati akibat jerat kabel baja mencengkram pada bagian pinggangnya.

Posisi harimau sumatera itu tewas ditemukan di Kawasan Hutan Produksi Terbatas Batang Siabu Desa Pangkalan Indarung Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi, yang mana kawasan itu adalah habitat dan perlintasan satwa-satwa liar, salah satunya harimau sumatera.

Hasil pemeriksaan dokter Hewan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, menyatakan, harimau sumatera itu  mati akibat gangguan dalam pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh yang disebabkan fungsi paru-paru terganggu, pembuluh darah ataupun jaringan tubuh. Selain itu, dua ginjal harimau sumatera juga pecah karena jerat pada bagian pinggang dan pinggul sehingga menyebabkan kematian. 

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Empat jenis penyu ditangkarkan nelayan Bengkulu

Sebanyak 450 ekor anak penyu atau disebut tukik sudah dilepasliarkan

Bengkulu, (ANTARA News) – Zulkarnedi, seorang nelayan di Desa Pekik Nyaring, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu menangkarkan empat jenis penyu di penangkaran sederhana yang dibangun di sekitar pantai Pekik Nyaring.

“Awalnya kami mendapat bimbingan tentang hewan laut yang dilindungi, ternyata penyu termasuk salah satu hewan laut yang langka,” kata Zulkarnedi saat ditemui di area penangkaran penyu di Pekik Nyaring, Kamis.

Penangkaran penyu mulai ia bangun pada 2016 dengan dorongan untuk pelestarian sebab selama ini masyarakat sekitar desa itu hanya mengetahui penyu sebagai hewan laut.

Awalnya, kata dia, hanya ada satu jenis penyu yang ditangkarkan yakni penyu lekang (Lepidochelys olivacea) lalu ditemukan telur jenis penyu lainnya seperti penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas) serta terakhir jenis penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

Penangkaran penyu sisik dan penyu hijau dimulai pada 2017 setelah ia mengamankan telur-telur penyu tersebut dari Pantai Pekik Nyaring dan sekitarnya. Selanjutnya, pada awal 2019 ia pun menangkar jenis penyu belimbing yang saat ini sedang dalam proses pengeraman.

Menurut Zulkarnedi, penangkaran penyu yang dilakukan sendiri itu merupakan bagian dari balas budi terhadap alam di mana selama ini nelayan hanya fokus mencari dan menangkap ikan.

“Nelayan di sini hanya tahunya menangkap ikan saja sehingga saya tergerak untuk membudidayakan hewan laut yang sudah langka ini,” ujarnya.

Sejak awal menangkar penyu, ia sudah melepasliarkan sebanyak 450 ekor anak penyu atau disebut tukik. Kini lanjut Karnedi, ia mendapat dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) kemudian dukungan dari mahasiswa pecinta alam yang mendukung untuk mengumpulkan donasi pelestarian penyu.

Ia berharap penangkaran penyu ini nantinya bisa menjadi objek wisata edukasi bagi generasi muda khususnya untuk mengenal hewan laut yang dilindungi.

Baca juga: Komunitas tangkarkan 170 telur penyu di Bengkulu

Baca juga: Puluhan tukik dilepasliarkan di Pantai Panjang Bengkulu

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Walhi: gangguan gajah di Aceh akan berlanjut tanpa penghentian alih fungsi hutan

Banda Aceh (ANTARA News) – Gangguan gajah akan terus berlanjut di wilayah Provinsi Aceh kalau pemerintah tidak menghentikan alih fungsi hutan yang menyebabkan habitat dan daerah jelajah satwa berbelalai itu menyempit menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh.

“Konflik gajah itu tidak akan pernah berakhir sampai gajah habis, karena hutan lindung terus beralih fungsi menjadi proyek energi, tambang dan perkebunan,” kata Direktur Eksekutif Walhi Aceh M Nur di Banda Aceh, Kamis.

Ia mengatakan tingginya laju alih fungsi hutan di wilayah provinsi paling ujung barat Indonesia itu, ia melanjutkan, mengubah sebagian habitat dan jalur jelajah satwa menjadi wilayah industri serta perkebunan dan memaksa gajah masuk ke areal perkebunan dan permukiman warga untuk mencari makan.

“Gajah itu sudah hidup di luar kawasan karena jalur lintasannya berubah fungsi. Gajah tidak akan berkonflik dengan manusia jika wilayah hidupnya dilindungi,” kata M Nur.

Ia menambahkan pemburuan gading gajah meningkatkan ancama terhadap mamalia besar dari famili Elephantidae tersebut.

Konflik gajah sering terjadi di wilayah Provinsi Aceh termasuk Bener Meriah, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Jaya, Aceh Tenggara dan Aceh Barat hingga Kabupaten Aceh Selatan.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mencatat 103 kasus konflik gajah sepanjang 2017 dan 73 kasus konflik gajah pada 2018. Pada awal 2019, gangguan gajah kembali terjadi di Kabupaten Bener Meriah, Pidie, Aceh Barat hingga Aceh Utara.

Baca juga:
32 gajah liar rusak belasan hektare kebun warga di Aceh
Gajah liar ditemukan mati tanpa gading di Aceh

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Klinik satwa BKSDA Riau

Seekor Owa Ungko (Hylobates agilis) yang tengah menjalani masa pemulihan berada di kandang transit Klinik Satwa Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau di Pekanbaru, Riau, Rabu (13/2/2019). BBKSDA Riau menyiapkan klinik satwa khusus untuk perawatan dan pemulihan satwa-satwa dilindungi yang berhasil diamankan sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/wsj.

Belasan burung yang dilindungi alami stres

Pekanbaru (ANTARA News) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyatakan sebanyak 14 burung jenis bangau jambul putih berparuh hitam kuning yang teridentifikasi sebagai Ardea sp dan merupakan jenis dilindungi mengalami stres hingga membutuhkan perawatan khusus.

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Mahfud kepada Antara di Pekanbaru, Rabu, mengatakan, belasan burung karnivora pemakan ikan yang masih anakan dan diperkirakan berusia kurang dari satu tahun tersebut sebelumnya disita Polisi Kehutanan BBKSDA Riau dari tangan warga.

“Beberapa kondisinya stres karena ketika ditemukan mereka dalam kondisi terikat,” katanya.

Dia mengatakan, dokter hewan BBKSDA Riau saat ini terus memantau kesehatan seluruh unggas akuatik yang banyak menghabiskan hidupnya di perairan tersebut sebelum melepasliarkannya.

Mahfud mengemukakan, burung bangau Adrea sp tersebut secara umum unggas yang acap ditemukan di Provinsi Riau.

Selain itu, penyebaran satwa tersebut juga ada di sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir populasinya terus menurun. Meski dia tidak menyebut angka pasti jumlahnya, tetapi menyatakan, burung itu dalam kondisi terancam sehingga harus dilindungi.

Belasan burung tersebut disita dari seorang warga Desa Kampung Pinang, Kecamatan Perhentian Raja, Kabupaten Kampar.

Saat ditemukan, seluruh burung yang masih anakan itu ditemukan dalam keadaan terikat pada bagian kaki. “Diikat seperti ayam begitu,” ujar Mahmud.

Burung itu selanjutnya disita petugas, dan untuk sementara pihaknya tidak menangkap warga tersebut.

“Kita memberikan pembinaan saja. Tetapi kalau diulangi lagi tentu ada tindakan tegas,” katanya.

Humas BBKSDA Riau, Dian Indriani menjelaskan dalam tiga hari terakhir telah menyita 32 unggas jenis Ardea sp.

Selain 14 ekor di Kampar, 18 ekor lainnya turut disita petugas di Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu.

“Untuk yang 18 ekor sudah dilepasliarkan. Nanti, apabila 14 ekor ini sudah sehat juga segera kita lepasliarkan,” kata Dian.*

Baca juga: BBKSDA Riau sita 14 burung cangak merah yang dijual di pinggir jalan

Baca juga: Satgas Pamtas RI-PNG sita satwa burung dilindungi

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Kalteng evakuasi sejumlah satwa dilindungi

Palangka Raya (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mengevakuasi satwa dilindungi seperti kukang, owa-owa, beruk dan dua monyet milik warga yang bermukim di Jalan RTA Milono Kilometer 5, Kota Palangka Raya.

Proses evakuasi satwa tersebut, berlangsung cukup lama, kecuali kukang yang hanya butuh waktu beberapa menit saja karena tubuh kukang tersebut masih kecil, kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 BKSDA Kalteng, Junaedy Slamet Wibowo di Palangka Raya, Rabu.

Evakuasi yang dilakukan pihak BKSDA setempat disaksikan langsung oleh Iwan  kakak Na’in,  pemilik satwa-satwa tersebut.

Petugas sempat kesulitan dalam mengevakuasi beruk, namun dengan berbagai cara, petugas berhasil mengevakuasi beruk yang dalam kondisi terikat tersebut.

“Satwa lainnya dilakukan evakuasi lusa, karena tim dokter dari Kalaweit belum datang, sehingga baru kukang dan owa-owa yang hari ini dievakuasi,” katanya.

Di lokasi yang sama, Na`in maupun Iwan mengaku iklhas dan sama sekali tidak ada rasa penyesalan dengan evakuasi yang dilakukan oleh BKSDA , walaupun satwa-satwa itu ada yang sudah beberapa tahun dipelihara.

“Sebenarnya sudah dari beberapa waktu lalu kami serahkan satwa tersebut, namun baru bisa dievakuasi hari ini,” kata Iwan.

Iwan menambahkan, untuk beruk sudah dirawat sekitar empat tahun atau sejak masih kecil, sedangkan yang baru dirawat adalah kukang.

“Satwa-satwa ini kami dapatkan dari warga yang datang ke rumah kami lalu menjualnya. Sekarang kami berpikir satwa ini alangkah baiknya mereka dilepasliarkan ke alam bebas sesuai dengan habitatnya,” demikian Iwan.

Baca juga: Satgas Pamtas RI-PNG sita satwa burung dilindungi
Baca juga: Polda Bali sita lima satwa dilindungi
Baca juga: BKSDA terima penyerahan satwa dilindungi dari warga Agam

Pewarta:
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BBKSDA Riau sita 14 burung cangak merah yang dijual di pinggir jalan

Pekanbaru (ANTARA News) – Petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau menyita 14 cangak merah, jenis burung yang dilindungi, ketika dijual warga di pinggir Jalan Lintas Pekanbaru – Lipat Kain pada 12 Februari 2019.

Petugas Humas BBKSDA Riau Dian Indriati pada Rabu menjelaskan saat Polisi Kehutanan bernama Putrapper dan M. Hendri menuju SM Bukit Rimbang Bukit Baling pada Selasa pagi (12/2) untuk berpatroli, dalam perjalanan mereka mendapati seorang warga Desa Kampung Pinang, Kecamatan Perhentian Raja, Kabupaten Kampar, menjualnya di pinggir jalan.

Saat diinterogasi petugas, pemuda penjual burung itu mengaku tidak tahu kalau cangak merah termasuk jenis satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang.

“Petugas segera mengamankan satwa sekaligus memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada penjual dan beberapa masyarakat yang berada di sekitar kejadian,” kata Indriati.

Burung-burung cangak merah yang disita di Kabupaten Kampar tersebut kini berada di kandang transit satwa BBKSDA Riau di Pekanbaru. Petugas akan melakukan observasi pada burung-burung itu sebelum menjalankan tindakan konservasi.

Sebelumnya, petugas Bidang KSDA Wilayah I Riau mengamankan 18 burung cangak merah pada Senin 11 Februari 2019 di Jalan Lintas Pematang Reba, Kabupaten Indragiri Hulu.

Baca juga:
Satgas Pamtas RI-PNG sita satwa burung dilindungi
Ratusan burung langka disita

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hiu paus terdampar di laut Palabuhanratu Sukabumi

Sukabumi, Jawa Barat (ANTARA News) – Nelayan dan warga dikejutkan ada hiu paus (Rhincodon typus) yang terdampar di dermaga II Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPNP), Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

“Sebelum ditemukan terdampar, saya yang merupakan nelayan kerap berpapasan di laut, namun tidak mengganggu nelayan yang tengah melakukan mencari ikan. Tapi kami menemukan hiu tersebut sudah terdampar di dermaga,” kata nelayan yang pertama kali menemukan hiu paus tersebut kepada wartawan, di Palabuhanratu, Selasa.

Informasi yang dihimpun, ikan pemakan plankton dengan corak bintik-bintik putih pada punggungnya ini kira-kira berat badannya mencapai sekitar 300 kilogram dengan panjang sekitar dua meter.

Warga dan nelayan yang melihat adanya ikan yang sudah langka tersebut langsung melaporkannya kepada pihak Satpolair Polres Sukabumi untuk dilakukan evakuasi. Namun sayang, hiu paus tersebut sudah dalam keadaan mati.

Sementara, Kepala Jaga Satpolair Polres Sukabumi, Aipda Sutiadji, membenarkan ada temuan hius paus itu dan sudah mendapatkan laporan dari warga. Petugas yang menerima laporan itu langsung ke lokasi untuk melihat kondisinya.

“Saat akan dievakuasi hiu paus itu sudah dalam keadaan mati. Namun, bangkainya belum dievakuasi karena masih berkoordinasi untuk penanganan lebih lanjut dari intansi yang berkompeten karean status ikan ini dilindungi sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/2013,” katanya.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tujuh gajah liar dihalau kembali ke hutan

Sudah dari kemarin (Senin) tim kami turun dan telah mengusir kawanan gajah liar kembali ke hutan,

Meulaboh, Aceh (ANTARA News) – Tim Conservation Response Unit (CRU) Alu Kuyun, Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat telah mengusir kawanan gajah liar hingga meninggalkan permukiman masyarakat pedalaman kembali ke hutan.

“Sudah dari kemarin (Senin) tim kami turun dan telah mengusir kawanan gajah liar kembali ke hutan. Hari ini lokasinya sudah melewati Kreung Meulaboh, untuk sementara sudah aman,” kata pimpinan CRU Alu Kuyun, Boim, di Meulaboh, Selasa.

Dua hari lalu kawanan gajah liar berjumlah tujuh ekor masuk permukiman dan merusak tanaman di kebun warga Kecamatan Pante Ceureumen, satwa berbelalai panjang itu juga sempat merusak infrastruktur pendidikan, berupa pagar SD Krueng Meulaboh.

Ia mengatakan kawanan gajah tersebut turun karena merasa terusik akibat adanya aktivitas warga di kawasan pedalaman, seiring tingginya kebutuhan untuk pembukaan lahan baru sehingga mengganggu jalur lintasan gajah.

Boim mengatakan kawanan gajah liar tersebut juga sempat mendatangi lokasi CRU mengganggu gajah-gajah jinak, akan tetapi masih bisa ditangani dan tidak berakibat fatal, walaupun sempat mendapat serangan langsung dari pejantan.

“Ke CRU juga ada, kawanan gajah ini sempat menyerang gajah jinak tetapi tidak sampai cedera. Gajah liar di daerah kita tidak ada yang terpasang GPS, sebab masih bisa diawasi dan dipantau secara manual lokasi keberadaanya,” ujarnya.

Dia mengatakan gajah-gajah liar tersebut belum dapat dipastikan akan meninggalkan kawasan tersebut secara permanen, apalagi merupakan sebagian dari jalur lintasan habitat satwa dilindungi undang-undang tersebut.

Boim mengatakan konflik satwa di wilayah Aceh Barat masih relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan wilayah Aceh Timur dan Bener Meriah, demikian halnya proses penanganan satwa tersebut di Aceh Barat hanya memakan waktu 3-5 hari sudah selesai.

Ia mengataan sebenarnya satwa liar tersebut tidak akan mengusik dan turun kepermukiman penduduk apabila habitat atau jalur lintasannya tidak terganggu oleh adanya kegiatan atau aktivitas yang memancing psikologis satwa tersebut sehingga mengamuk.

“Di daerah kita hanya tujuh ekor, yang puluhan ekor itu di Bener Meriah. Kawanannya juga tidak sama, kalau di Pante Cermen itu satu kelompok dengan kawanan di Meureubo, berbeda dengan kelompok di Bener Meriah,” kata Boim.
Baca juga: Kawanan gajah liar masih bertahan di Negeri Antara, Aceh
Baca juga: BKSDA Aceh giring kawanan gajah liar keluar pemukiman warga

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gajah liar serang gajah jinak di Bener Meriah

Banda Aceh  (ANTARA News) – Kawanan gajah liar mengamuk, dan sempat menyerang seekor gajah jinak yang sedang di tambat di salah satu dusun, Kampung (desa) Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rimbee, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Senin (11/2) dini hari.

Irwansyah Putra (43), fotografer Antara yang sedang mengikuti tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melakukan penggiringan gajah liar di lokasi kejadian menjelaskan, akibatnya seekor gajah jinak yang diserang kawanan gajah liar mengalami cidera pada bagian kaki.

“Gajah jinak itu bernama Ida dengan usia 40 tahun. Saat kejadian, gajah untuk penggiring gajah liar tersebut sedang di tambat sekitar 500 meter dari base camp (tempat penampungan) tim penjinak,” katanya melalui sambungan telepon seluler dari Banda Aceh, Selasa.

Ia melanjutkan, mengetahui hal tersebut tim medis BKSDA Aceh di bawah pimpinan drh Arman langsung mengobati cedera yang dialami, setelah memisahkan kedua kelompok kawanan yang memiliki belalai panjang dan kuping lebar tersebut.

“Dokter hewan Arman, kini sedang bekerja ektra untuk mengobati cidera serius yang dialami oleh gajah jinak ini di lokasi kejadian,” ujar Irwansyah.

Kepala Conservation Response Unit Daerah Aliran Sungai Peusangan, Syahrul Rizal mengaku, Kawanan gajah Sumatera liar ini memasuki Gampong Negeri Antara sejak enam hari yang lalu, dan telah merusak belasan hektare kebun milik masyarakat setempat.

“Keseluruhan ada 32 gajah liar, dan sekarang sudah berpencar di tiga titik,” kata Rizal, yang memiliki wilayah kerja mencakup di tiga kabupaten, yakni Bener Meriah, Gayo Lues, dan Bireuen.

Petugas BKSD Aceh, menurutnya, hingga kini masih berusaha menggiring kawanan gajah liar ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan dan hutan lindung di wilayah tersebut.

Petani dan penduduk kampung setempat berharap pemerintah secara serius menangani konflik satwa, dan melakukan upaya pencegahan agar kawanan gajah tidak lagi masuk ke pemukiman dan merusak areal pertanian warga.

Kasus gangguan gajah liar hampir bersamaan dalam beberapa hari terakhir, juga terjadi di kawasan Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Barat, dan Nagan Raya.

Baca juga: Kawanan gajah liar masih bertahan di Negeri Antara, Aceh
Baca juga: BKSDA Aceh giring kawanan gajah liar keluar pemukiman warga

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Satwa ungko disita BKSDA Riau karena gigit seorang anak

Kami mengimbau kepada warga masyarakat yang gemar memelihara satwa liar untuk segera menyerahkan kepada Balai Besar KSDA Riau

Pekanbaru, (ANTARA News) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Riau menyita satwa dilindungi jenis ungko ( Hylobates Agilis) atau owa sumatera yang dipelihara warga di Kabupaten Kampar, karena telah menggigit dan melukai seorang anak berusia dua tahun baru-baru ini.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono dalam pernyataaan pers di Pekanbaru, Selasa, mengimbau masyarakat untuk tidak memelihara satwa liar karena bisa membahayakan keluarga dan warga sekitar, apabila tidak ditangani secara benar. 

“Kami mengimbau kepada warga masyarakat yang gemar memelihara satwa liar untuk segera menyerahkan kepada Balai Besar KSDA Riau,” kata Suharyono.

Hal ini disampaikan Suharyono terkait insiden tergigitnya seorang anak oleh ungko, satwa dilindungi, yang dipelihara warga di Desa Bandur Picak, Dusun Batas Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar. 

Satwa itu sempat menggigit lengan anak tetangga pemelihara Ungkau yang masih berumur dua tahun.

“Kondisi korban saat ini telah diberikan pengobatan,” katanya. 

Berdasarkan informasi, lanjutnya, ungko tersebut telah dipelihara warga bernama Yusman kurang lebih sejak sembilan tahun lalu. Kondisi satwa sehat,?berumur sekitar 9 tahun dan berkelamin jantan.

Tim melakukan penyelamatan dibantu warga setempat, dengan cara dilakukan penggiringan ke kandang.

Satwa dilindungi tersebut saat ini telah berada di kandang transit satwa BBKSDA Riau di Pekanbaru, untuk dilakukan observasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Baca juga: Kalaweit Lepas Enam Ekor Siamang dan Ungko

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dishut segera evakuasi 35 ekor bekantan masuk perkampungan

Kami akan segera melakukan pelepasliaran seluruh bekantan tersebut, sehingga mendapatkan tempat dan kehidupan yang layak

Banjarbaru, Kalsel (ANTARA News) – Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan segera mengevakuasi 35 ekor bekantan yang terjebak di pemukiman warga yang kini kondisinya sangat memprihatinkan.

Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan Hanif Faisol Nurofiq di Banjarbaru Senin mengatakan, ke 35 bekantan tersebut yaitu 20 ekor kini berada di depan kantor Pekerjaan Umum Muarabahan, Kabupten Barito Kuala.

Ke-20 ekor bekantan yang terjebak di permukiman warga tersebut, kini kondisinya sangat memprihatinkan, sehingga dalam minggu-minggu ini juga, seluruh hewan yang telah ditetapkan menjadi maskot Kalsel tersebut akan segera dievakuasi.

Menurut Hanif, pihaknya akan segera mengirim tim penjinak bekantan, agar seluruh hewan berhidung panjang tersebut, bisa segera dikirim ke lokasi yang telah disiapkan.

Selain di Muarabahan, sebanyak 15 ekor bekantan yang kini berada di daerah Sungai Taib Kabupaten Kotabaru, juga akan segera dipindahkan ke lokasi yang lebih layak.

Saat ini, bekantan yang ada di Sungai Taib berkembang cukup pesat sehingga lokasinya tidak memungkinkan bagi bekantan untuk berkembang dan hidup lebih baik.

Dinas Kehutanan Kalsel, telah menetapkan Pulau Bekantan yang ada di Taman Hutan Rakyat Sultan Adam, sebagai tempat berkembang biaknya bekantan-bekantan tersebut.

“Kami akan segera melakukan pelepasliaran seluruh bekantan tersebut, sehingga mendapatkan tempat dan kehidupan yang layak, di lokasi yang telah disiapkan,” katanya.

Tim BKSDA telah meninjau lokasi rencana tempat pelepasliaran seluruh bekantan tersebut, dan lokasinya dinyatakan sangat layak untuk menjadi tempat baru bagi hewan dilindungi tersebut.

Hanif mengungkapkan, saat ini pihaknya sangat serius untuk memperhatikan perkembangbiakan bekantan, mengingat hewan khas Kalimantan tersebut, telah ditetapkan sebagai ikon Kalsel.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan juga segera memboyong sebanyak 20 ekor bekantan yang kini berada di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur, untuk ditempatkan di pulau yang terletak di Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan luas 24 hektare.

Menurut Hanif, pihaknya telah berkoordinasi dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk memboyong hewan berhidung panjang tersebut.

Pemprov Kalsel, juga telah izin kekementerian terkait, untuk bisa memindahkan ke 20 ekor binatang khas Kalimantan tersebut, ke habitat aslinya.

Hewan yang kini menjadi maskot Kalsel tersebut, terpaksa dipindahkan, karena lokasi di KBS yang menjadi tempat berkembangbiaknya bekantan tersebut, telah melebihi kapasitas.

Lahan seluas satu hektare di KBS, telah dihuni sebanyak 53 ekor bekantan, padahal idealnya satu hektare hanya dihuni oleh empat ekor bekantan.

Mempercepat proses pemindahan atau realokasi hewan-hewan tersebut, Dinas Kehutanan Kalsel, telah mengirimkan surat ke KBS dan Balai Besar Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Jawa Timur, perihal dukungan realokasi Bekantan dari Surabaya ke Kalsel.

Baca juga: Gubernur Kalsel inginkan bekantan mendunia
Baca juga: Sahabat Bekantan temukan orang utan di Kalsel

 

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tujuh pemegang konsesi Riau sepakat ikut konservasi gajah

Pekanbaru (ANTARA News) – Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono mengatakan sebanyak tujuh perusahaan pemegang konsesi izin kehutanan di Provinsi Riau sepakat untuk menerapkan manajemen yang ramah lingkungan guna meningkatkan upaya konservasi gajah Sumatera.

“Secara ekologis, kondisi habitat Gajah Sumatera di Provinsi Riau mengkhawatirkan, walaupun ada indikasi penurunan kematian dan peningkatan populasi,” kata Suharyono menjelaskan latar belakang kesepakatan tersebut di Pekanbaru, Senin.

Penandatanganan komitmen itu sendiri dilakukan pada hari Jumat tanggal 8 Februari 2019 di Kantor BBKSDA Riau.

Ia menjelaskan degradasi habitat, perburuan dan kebakaran hutan dan lahan adalah beberapa sebab terjadinya penurunan kualitas kondisi habitat alami satwa yang terancam punah itu.

Lebih lanjut ia mengatakan ada tujuh perusahaan yang menandatangani komitmen untuk melaksanakan Better Management Practice (BMP) dalam bentuk pengkayaan pakan gajah di kawasan lindung di konsesi, pembuatan dan atau pengelolaan koridor gajah, patroli perlindungan gajah, dan mitigasi konflik gajah dan manusia.

“Perusahaan juga bersedia memberikan informasi untuk menyusun desain dari praktik-praktik pengelolaan terbaik itu, melakukan implementasi serta bersama-sama memantau perkembangan BMP yang diterapkan,” katanya.

Ketika pemerintah terus berusaha melakukan perlindungan terhadap gajah Sumatera di antaranya dengan menetapkan beberapa kawasan konservasi sebagai kawasan perlindungan gajah.

Namun, di satu sisi, ruang jelajah gajah yang luas dan kurangnya ketersediaan pakan di kawasan konservasi mengakibatkan gajah berada di luar kawasan konservasi.

“Wilayah di luar kawasan konservasi dikelola oleh pemegang hak, baik itu kehutanan, perkebunan maupun tambang selain negara dan masyarakat. Untuk itu diperlukan keterlibatan aktif para pemegang hak tersebut untuk berperan dalam melindungi gajah,” ujarnya.

Menurut dia, beberapa perusahaan secara partial sudah melakukan kegiatan-kegiatan untuk melindungi gajah, apalagi tuntutan regulasi dan kebijakan sertifikasi juga mengharuskan para pemegang hak tersebut untuk melakukan kegiatan konservasi.

Mereka melakukan kegiatan perlindungan habitat, patroli, pengkayaan habitat dan mitigasi konflik. Namun beberapa perusahaan lain belum menunjukkan inisiatif dan aktifitas yang sama.

Atas dasar itu, lanjutnya, maka BBKSDA Riau bersama Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo dan WWF-Indonesia dengan dukungan pendanaan dari TFCA Sumatera memfasilitasi perusahaan-perusahaan pemegang hak untuk menerapkan BMP Konservasi Gajah.

Ada serangkaian kegiatan yang dilakukan, dimulai dari penyamaan persepsi dan peningkatan kapasitas terhadap pengertian BMP dan praktiknya, yang intinya mambangun komitmen dan melegalkan komitmen itu melalui penandatanganan komitmen bersama.

Baca juga: Pertamina bantu pelestarian gajah sumatera, elang bondol

Baca juga: Bengkulu siapkan rencana aksi koridor gajah sumatera

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kawanan gajah liar masih bertahan di Negeri Antara, Aceh

Banda Aceh (ANTARA News) – Kawanan gajah sumatera liar masih bertahan di area perkebunan warga Gampong (Desa) Negeri Antara, Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.

“Masih bertahan di Gampong Negeri Antara dan Tim BKSDA Aceh terus melakukan pengiringan dengan membakar mercon,” kata Kepala Conservation Response Unit Daerah Aliran Sungai Peusangan Syahrul Rizal saat dihubungi dari Banda Aceh, Senin.

Syahrul mengatakan kawanan gajah liar itu memasuki Gampong Negeri Antara sejak enam hari yang lalu dan telah merusak belasan hektare kebun warga.

“Keseluruhan ada 32 gajah liar dan sekarang sudah berpencar di tiga titik,” kata Rizal, yang wilayah kerjanya mencakup Kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues, dan Bireuen.

Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam, menurut dia, berusaha menggiring kawanan gajah liar itu ke Daerah Aliran Sungai Peusangan dan hutan lindung di wilayah itu.

Menurut petani di Gampong Negeri Antara, kawanan gajah liar tersebut merusak tanaman durian, pinang, pisang hingga palawija di kebun warga.

Para petani dan warga desa berharap pemerintah serius menangani konflik satwa tersebut, melakukan upaya pencegahan supaya kawanan gajah tidak lagi masuk ke permukiman dan merusak kebun warga.

Baca juga: 32 gajah liar rusak belasan hektare kebun warga di Aceh
 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Aceh giring kawanan gajah liar keluar pemukiman warga

Banda Aceh (ANTARA News) – Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menggiring kawanan gajah liar sumatera (elephas maximus sumatranus) ke kawasan hutan keluar dari pemukiman warga di Gampong (desa) Negeri Antara, Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.

“Tim BKSDA Aceh terus berupaya menggiringkan kawanan gajah liar itu dari pemukiman warga,” kata Kepala Conservation Response Unit (CRU) Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan, Syahrul Rizal saat dihubungi dari Banda Aceh, Minggu.

Menurut dia, kawanan gajah itu keseluruhan berjumlah 32 ekor dan sejak lima hari yang lalu merusak kebun warga di Gampong Negeri Antara, Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.

“Gajah liar tersebut sudah berada di belakang rumah warga di Gampong Negeri Antara dan Singah Mulo. Agak sulit digiring kawanan gajah liar itu karena ada anaknya juga,” ujar Syahrul.

CRU DAS Peusangan dari BKSDA Aceh membawahi wilayah Kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues dan Bireuen, sebutnya akan terus mengiring kawanan gajah itu ke kawasan sungai Peusangan dan hutan lindung.

Seorang warga Gampong Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Ismail mengaku, kawanan gajah liar tersebut merusak belasan hektar kebun warga dan belum ada upaya pencengahan dari pemerintah setempat.

“Keseluruhan ada 32 ekor gajah liar dan telah merusak belasan hektar kebun warga di Gampong Negeri Antara,” ujarnya.

Kawanan gajah liar sumatera itu merusak belasan hektare lahan pertanian warga meliputi, duren, pinang, pisang hingga tanaman palawija lainnya.

“Konflik gajah ini sangat merugikan petani dan kami berharap pemerintah serius menangani konflik gajah,” ucap warga Gampong Negeri Antara.

Baca juga: 32 gajah liar rusak belasan hektare kebun warga di Aceh

Baca juga: Gajah masuk perkampungan rusak tiga rumah
 

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

32 gajah liar rusak belasan hektare kebun warga di Aceh

Banda Aceh (ANTARA News) – Setidaknya ada 32 gajah sumatera liar yang dalam sepekan terakhir berkeliaran dan merusak belasan hektare kebun warga di Gampong Negeri Antara, Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, menurut warga setempat.

“Keseluruhan ada 32 ekor gajah liar yang turun dan telah merusak belasan hektare kebun warga,” kata Ismail, warga Gampong Negeri Antara, ketika dihubungi Antara dari Banda Aceh, Minggu.

Kawanan gajah sumatera itu merusak kebun duren, pinang, dan pisang serta tanaman palawija warga.

Ismail mengatakan sampai sekarang kawanan gajah liar masih berkeliaran di gampong, membuat warga takut pergi ke kebun.

“Kami berharap pemerintah serius menangani konflik gajah,” katanya.

Kepala Conservation Response Unit (CRU) Peusangan Syahrul Rizal mengonfirmasi kedatangan kawanan gajah di Gampong Negeri Antara. CRU Peusangan membawahi wilayah Kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues dan Bireuen.

“Ada 32 gajah liar, sedang dilakukan pengiringan oleh Tim BKSDA Aceh,” kata Syahrul Rizal, yang biasa disapa Yah Mu.

“Kawanan gajah itu masih bertahan di Pintu Rime Gayo dan Tim BKSDA Aceh terus melakukan pengiringan dengan membakar marcon,” ia menambahkan.

Baca juga:
Belasan gajah masih berkeliaran di permukiman warga Nagan Raya
Gajah masuk perkampungan dan merusak tiga rumah

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kalimantan Selatan ingin boyong 20 bekantan dari Surabaya

Banjarbaru (ANTARA News) – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan ingin memboyong 20 bekantan yang kini berada di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur, ke Taman Hutan Raya Sultan Adam yang luasnya 24 hektare.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan Hanif Faisol Nurofiq di Banjarbaru, Sabtu, mengatakan pemerintah provinsi sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Surabaya untuk membawa satwa berhidung panjang tersebut ke habitat aslinya di Kalimantan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan meminta izin dari kementerian terkait untuk memulangkan 20 binatang yang menjadi maskot Kalimantan Selatan tersebut ke habitat aslinya karena jumlah bekantan di Kebun Binatang Surabaya sudah melampaui kemampuan tampung kebun binatang.

Lahan seluas satu hektare di Kebun Binatang Surabaya telah dihuni 53 bekantan, padahal idealnya hanya bisa menjadi tempat tinggal empat bekantan.

Untuk keperluan pemindahan bekantan-bekantan itu, Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan telah mengirimkan surat ke Kebun Binatang Surayaba dan Balai Besar Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Jawa Timur.

Aparat Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan juga telah mengunjungi Kebun Binatang Surabaya untuk melihat kondisi bekantan-bekantan yang akan dipindahkan.

“Setelah melihat kondisi bekantan di KBS, maka kami memutuskan untuk segera memboyong hewan dilindungi tersebut ke habitat aslinya,” kata Hanif.

Dinas Kehutanan sudah menyiapkan lokasi yang aman dan nyaman bagi bekantan di satu kebun karet.

“Jadi saat hewan khas Kalsel tersebut datang, lokasi tempat mereka berkembangbiak juga telah siap,” kata Hanif.

Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) sejak 2016 telah merintis upaya pemindahan bekantan dari Kebun Binatang Surabaya.

Baca juga: Merestorasi rambai untuk bekantan Pulau Curiak

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sepanjang 2018, BKSDA Maluku selamatkan 1.402 satwa

Ambon, (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku berhasil menyelamatkan sebanyak 1.402 ekor satwa pada periode Januari-Desember 2018.

Kepala BKSDA Maluku, Muhktar Amin Ahmadi, di Ambon, Kamis, menyatakan pada periode Januari-Desember 2018 pihaknya berhasil menyelamatkan 1.402 satwa dengan rincian 1.177 ekor jenis burung, 156 ekor kepiting kenari (Birgus latro), 32 ekor monyet hitam/Yaki (Macaca nigra) dan 20 ekor kura-kura air tawar (Freswater terrapins).

Selain itu, enam ekor buaya muara (Crocodylus porosus), enam ekor penyu, tiga ekor ular sanca batik (Phyton reticulatus), satu ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan satu ekor ikan paus sperma (Physter macrocephalus).

Selain satwa hidup, kata dia, juga berhasil diamankan bagian-bagian satwa seperti kulit buaya muara (Crocodylus porosus), telur burung gosong (Eulipoa, sp) dan tanduk rusa (Cervus timorensis)

Beberapa jenis lain yang juga diamankan di antaranya 29 opsetan cendrawasih, tujuh opsetan tanduk rusa, lima telur burung gosong, termasuk tumbuhan, yakni empat akar bahar, tiga rumpun anggrek.

“Kami juga mengamankan masing-masing satu ekor alap-alap coklat, junai mas, elang bondol, elang laut perut putih, burung kasuari, monyet ekor panjang, penyu hijau, penyu belimbing, ikan paus sperma , dan walik,” katanya.

Ia menjelaskan, penanganan barang bukti hasil tangkapan dan penyerahan dari masyarakat tersebut dilakukan melalui kegiatan pelepasliaran sebanyak 11 kali dengan jumlah burung yang berhasil dilepaskan sebanyak 596 ekor, buaya satu ekor, ular tiga ekor dan penyu sebanyak satu ekor. 

Sedangkan untuk satwa yang belum bisa dilepasliarkan dilakukan tindakan karantina di kandang transit Passo, kandang transit Kantor SKW I Ternate, kandang transit Resort Bacan dan kandang transit Resort Dobo dengan jumlah total satwa sebanyak 254 ekor.

Satwa yang dikarantina untuk dilakukan observasi tindakan penyelamatan satwa selanjutnya (animal dissposal) yakni dilepasliarkan apabila kondisinya memungkinkan dan dilakukan tindakan rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Masihulan.

Mukhkar mengakui, pihaknya juga menemukan sebanyak 327 ekor satwa mati di dalam kandang transit dan rehabilitasi.

Menurut dia, penyebab utama tingginya kematian pada satwa tersebut adalah tingkat stres yang dialami oleh satwa, akibat penangkapan dan pengakutan oleh pemburu dan jaringannya yang tidak memperhatikan kesejahteraan satwa (Animal Welfare).

Dia menambahkan pihaknya juga melakukan empat kali pemusnahan barang bukti berupa bagian satwa yang dianggap sudah tidak bermanfaat lagi.

“Seperti kulit buaya, bangkai ikan paus, bangkai penyu,dan bangkai ular sanca burung-burung yang sudah siap dilepasliarkan ke habitat alaminya,” demikian Mukhtar Amin Ahmadi.

Baca juga: BKSDA Maluku selamatkan 1.007 tumbuhan dan satwa dilidungi

Baca juga: BKSDA Maluku lepasliarkan rusa timor ke Pulau Seram

Baca juga: Empat ekor penyu sisik dilepasliarkan BKSDA Maluku

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tangan nelayan putus diterkam buaya

Sampit (ANTARA News) – Buaya di Sungai Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali mengganas dan menerkam seorang warga Dusun Seranggas Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit bernama Julhaidir (41) hingga tangan korban putus.

“Kejadian itu memang benar terjadi. Korban sudah dilarikan ke rumah sakit. Kami sangat berharap ini menjadi perhatian pemerintah agar bisa ditanggulangi,” kata Yansyah, seorang warga di Sampit, Jumat malam.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.30 WIB saat korban mandi di Sungai Seranggas yang merupakan anak Sungai Mentaya wilayah RT 09 Desa Lempuyang. Saat itu korban mandi seperti biasanya, meski hari mulai gelap.

Buaya berukuran besar itu diduga sudah berada di sekitar lanting tempat korban mandi, sementara korban tidak menyadarinya. Tanpa diduga, saat tangan korban diulurkan ke sungai untuk mengambil air, tiba-tiba buaya besar muncul dan langsung menerkam tangan kiri korban.

Satwa ganas itu menarik korban hingga tubuh korban terseret ke dalam sungai. Korban berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari gigitan buaya yang belum diketahui jenisnya itu.

Kuatnya gigitan buaya membuat tangan kiri korban hingga bagian siku, putus diterkam buaya. Tapi saat itulah korban dengan kemampuan yang tersisa berenang hingga berhasil muncul ke permukaan sungai.

Korban berteriak meminta pertolongan dan warga pun berdatangan. Warga bergegas mengeluarkan korban dari dalam sungai sebelum buaya ganas itu muncul lagi.

Warga langsung mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Pratama Samuda. Informasinya, korban akan dirujuk ke RSUD dr Murjani Sampit untuk mendapatan penanganan lebih intensif.

Komandan Pos Jaga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah di Sampit, Muriansyah saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sedang berkoordinasi terkait kejadian itu. Ini merupakan kejadian pertama serangan buaya terhadap manusia pada 2019 ini.

Muriansyah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat berada di sungai. Masyarakat diminta menghindari beraktivitas di sungai saat hari mulai atau sudah gelap karena itu merupakan saat sangat rawan kemunculan buaya.

“Hampir setiap tahun terjadi serangan buaya terhadap manusia di Sungai Mentaya. BKSDA sudah sejak lama memasang papan pengumuman untuk mengingatkan masyarakat mewaspadai serangan buaya karena di wilayah itu terdapat habitat buaya, diperkirakan di kawasan Pulau Lepeh yang terletak di tengah Sungai Mentaya,” ujarnya.*

Baca juga: BKSDA Kalteng pancing buaya ganas Sungai Mentaya Sampit dengan bebek

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Populasi komodo di TNK masih stabil

Kupang (ANTARA News) – Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) mencatat, jumlah populasi satwa purba Komodo di TNK, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih stabil yaitu sebanyak 2.897 ekor hingga 2018.

“Dalam catatan kami jumlah populasi Komodo masih stabil karena berada di kisaran antara 2.000 ekor sampai 3.000 ekor,” kata Petugas Monitoring Satwa Komodo BTNK, Jackson, kepada Antara ketika dihubungi dari Kupang, Sabtu.

Ia menjelaskan, jumlah populasi komodo ini menyebar di Pulau Komodo sebanyak 1.727 ekor, Pulau Rinca 1.049 ekor, Pulau Gili Motang 58 ekor, Pulau Nusa Kode 57 ekor, dan Pulau Padar enam ekor.

Jumlah poluasi pada 2018, lanjutnya, juga tercatat naik dari sebelumnya di 2016 sebanyak 1.186 ekor, dan 2017 sebanyak 1.412 ekor.

“Jumlah populasi ini juga fluktuatif, kadang di Pulau Komodo naik sedangkan di Pulau Rinca turun, dan sebaliknya,” katanya.

Ia menjelaskan, perhitungan jumlah populasi itu berdasarkan hasil penelitian dari BTNK bekerja sama dengan Komodo Survival Project yang didukung dari luar negeri.

Jackson mengatakan, BTNK terus menjaga keberlangsungan populasi kadal raksasa itu dengan menjaga kealamian lingkungan di kawasan tersebut.

“Jadi kita tidak pernah memberikan makanan kepada komodo seperti yang dilakukan di kebun binatang. Yang kita lakukan menjaga lingkungan agar pakannya tetap aman,” katanya.

Selain itu, BTNK juga secara rutin melakukan patroli pengamanan kawasan untuk mencegah adanya aktivitas terlarang seperti perburuan liar, pembakaran hutan, maupun pengeboman ikan dan lainnya.

“Dalam beberapa tahun terakhir ini kegiatan pengamanan ditingkatkan sepanjang tahun, baik dilakukan sendiri dari BTNK, maupun dengan Kepolisian,” ujar Jackson.

Baca juga: Menpar sebut isu penutupan TN Komodo tidak relevan bagi pariwisata
Baca juga: KLHK: Penutupan kawasan Taman Nasional Komodo masih dalam pembahasan
Baca juga: Wapres: TN ditutup atau tidak, komodo tetap perlu makan

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Prestasi “Silver Award” untuk Panda “Caitao” akan dipertahankan Taman Safari Indonesia

Cisarua, Bogor (ANTARA News) – Prestasi yang diraih satwa panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca) di Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bernama “Caitao” mendapatkan medali perak dari organisasi “Giant Panda Global” pada 2018 akan berusaha dipertahankan lembaga konservasi satwa “ex-situ” (di luar habitat alami) itu pada 2019.

“Indonesia sangat bangga karena pada masa awal kedatangan panda ke Indonesia, ‘Cai Tao’ sudah memperoleh medali perak (silver award) sebagai panda terfavorit di luar China, sebagai tempat habitat aslinya,” kata Direktur TSI Cisarua, Drs Jansen Manansang, M.Sc, seperti disampaikan Humas TSI Yulius H Suprihardo di Bogor, Minggu.

Giant Panda Global, sebuah organisasi yang berpusat di Belgia, yang dipimpin Jeroen Jacobs itu, bertujuan untuk memromosikan pekerjaan penting konservasi panda raksasa di China maupun di luar RRC, dan setiap tahun mengadakan penghargan “Giant Panda Global Awards”.

Cai Tao, panda jantan yang ada di TSI Cisarua mendapatkan penghargaan kategori terfavorit di antara yang hidup di luar habitat alaminya di luar RRC.

Dalam penobatan yang berlangsung di Berlin, Jerman, pada Juli 2018, “Cai Tao” berhasil memperoleh 300.000 suara dari empat negara, yaitu Tiongkok, Prancis, Amerika Serikat, dan Indonesia.

Saat ini di seluruh dunia ada 1.864 ekor panda raksasa berada di habitat aslinya. Sedangkan populasi di kebun binatang berbagai negara berjumlah 520 ekor.

Tidak hanya “Caitao”, penghargaan juga diperoleh Jansen Manansang juga dinobatkan sebagai tokoh peduli panda (human panda personality), setelah Direktur China Conservation and Reseach Center for Giant Pandas, Zhang Hemin, dan Direktur Chendgu Panda Base Sichuan, China, Zhang Zhihe.

Menurut Jansen Manansang, pengelolaan “Cai Tao” di TSI Cisarua menunjukkan kepada dunia bahwa panda juga mampu hidup di luar habitat alaminya.
   

Sementara itu, pada perinatan “World Nature Conservation Day” tahun lalu, apresisasi “Global Conservationist Award” juga diberikan oleh Giant Panda Global kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, Siti Nurbaya Bakar, dan Dubes RRC di Indonesia, Xiao Qian.

Dukungan kedua pejabat tersebut membuat masyarakat Indonesia dapat lebih dekat dengan panda raksasa.

Sepasang panda dari China bernama Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina), didatangkan ke Indonesia pada 28 September 2017 melalui program peminjaman untuk pengembangbiakan (breeding loan) dari Pemerintah China kepada Pemerintah Indonesia.

KLHK sebagai pembina Lembaga Konservasi (LK) telah menetapkan PT TSI sebagai lokasi “breeding loan” panda raksasa itu.

Baca juga: Panda Cai Tao-Hu Chun dikarantina di TSI

Baca juga: Panda raksasa TSI makin diminati pengunjung

Pewarta: Andi Jauhary
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kampanye perlindungan primata

Aktivis Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia menggelar aksi teatrikal saat kampanye simpatik satwa primata dilindungi di Taman Hutan Kota Ciamis, Jawa Barat, Minggu (3/2/2019). Aksi tersebut mengajak masyarakat untuk berhenti melakukan perburuan dan memelihara primata dilindungi karena dari 60 spesies hewan primata yang ada Indonesia hampir 70 persennya terancam punah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/foc.

31 penyu raksasa bertelur di Raja Ampat

Waisai  (ANTARA News) – Sebanyak 31 ekor Penyu Belimbing yang dikenal sebagai penyu raksasa, sang penjelajah dunia, mendarat dan bertelur di Kampung Yenbekaki, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, sepanjang 2018.

Kelompok Penggiat Konservasi Penyu Kampung Yenbekaki mencatat pada Mei 2018 sebanyak delapan ekor Penyu Belimbing mendarat dan bertelur di kawasan Pantai Warebar, Kampung Yenbekaki.

Selanjutnya pada Juni sebanyak lima ekor, Juli sebanyak delapan ekor, Agustus sebanyak tiga ekor, September sebanyak tiga ekor, dan Oktober sebanyak empat ekor, Sehingga total 31 ekor penyu raksasa tersebut mendarat dan bertelur di Kampung Yenbekaki.

Ketua Kelompok Penggiat Koservasi Kampung Yenbekaki Yusuf Mayor di Waisai, Papua Barat, Senin, mengatakan sebanyak 31 ekor Penyu Belimbing yang mendarat di kawasan Pantai Warebar sepanjang 2018, bertelur sebanyak 3.706 butir.

Dia mengatakan masyarakat penggiat konservasi penyu kampung Yenbekaki menjaga kawasan Pantai Warebar tempat sarang penyu raksasa tersebut dari serangan predator yang mengincar telurnya.

Ia menjelaskan bahwa dari total 3.706 telur penyu belimbing tersebut, sebanyak 1.000 rusak dan berhasil menetas sebanyak 2.706 menjadi tukik. Masyarakat penggiat konservasi penyu kampung Yenbekaki melakukan penangkaran terhadap tukik penyu tersebut agar terhindar dari serangan predator.

Menurut dia, penangkaran terhadap tukik dilakukan paling lama dua minggu setelah telur menetas. Agar tukik tersebut benar-benar kuat dan dapat menghindar dari serangan predator barulah dilepaskan ke laut.

“Hasil kerja masyarakat penggiat konservasi penyu Kampung Yenbekaki, Raja Ampat, sepanjang 2018 berhasil melepaskan sebanyak 2.706 ekor tukik penyu raksasa ke laut,” ujarnya.

Baca juga: Ratusan penyu dilepas menjaga konservasi keragaman hayati

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Warga Aceh Jaya selamatkan 117 telor penyu belimbing

Banda Aceh (ANTARA News) – Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja, Aceh Jaya bersama warga setempat memindahkan atau menyelamatkan 117 butir telur penyu belimbing (Dermochelys coriacea) yang dilindungi undang-undang.

“Telur penyu belimbing di bibir pantai Aceh Jaya sebanyak 117 butir sudah kami selamatkan,” kata Koordinator Tim Konservasi Penyu Aroen Menbanja, Aceh Jaya, Dedi, saat dihubungi Antara dari Banda Aceh, Senin.

Selain warga setempat, pemindahan telur penyu belimbing itu juga melibatkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penanggulangan Kebencanaan (PK) Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh.

Ia menjelaskan penyu belimbing salah satu spesies dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Pemindahan telur penyu pada Sabtu (2/2) untuk tujuan penyelamatan dan dibenarkan oleh undang-undang,” ujar dia.

Dedi menyatakan penyu belimbing itu bertelur sekitar 10 meter dari bibir pantai setempat. Jika tidak dipindahkan, dikhawatirkan basah saat air pasang sehingga tidak akan menetas.

Hal itu, katanya, artinya pemindahan telur penyu belimbing itu untuk menghindari basah saat air pasang.

“Telur penyu itu menetas maksimal 70 hari dan nanti akan dilepas liarkan kembali,” katanya.

Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja, Aceh Jaya sejak 2012 hingga sekarang telah melepaskanliarkan tukik atau penyu 11 ribuan di wilayah tersebut.

Pasal 19 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 menyebutkan setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam.

Pada Pasal 40, barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 Ayat 1 dan Pasal 33 Ayat 1 dipidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp200 juta.

Baca juga: Ratusan telur penyu yang akan dijual diamankan di Jember
Baca juga: Penyu mulai bertelur di pesisir selatan DIY

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pencinta alam imbau masyarakat hentikan pembunuhan buaya

Sungailiat, Babel, (ANTARA News) – Ketua Umum Komunitas Pencinta Alam dan Relawan (Pelawan) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tri Harmoko mengajak masyarakat di daerah itu menghentikan pembunuhan buaya.

“Saya mengajak masyarakat untuk menghentikan pembunuhan binatang buaya. Dan buaya yang tertangkap harus ditangkar,” katanya di Sungailiat, Senin.

Dia menyarankan agar masyarakat yang menangkap buaya hendaknya terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKDSDA) setempat atau dipindahkan ke habitat yang masih layak untuk kehidupannya.

Dikatakan, buaya salah satu hewan predator yang memiliki peranan penting dalam ekosistem di sungai, rawa, kolong. Terjadinya penyerangan buaya pada beberapa tempat kepada manusia dengan kesalahan ditimpakan kepada buaya adalah sebuah pemikiran yang keliru.

“Suatu anggapan yang keliru ketika buaya menyerang manusia atau warga disalahkan pada binatang tersebut, padahal proses alamiah itu terjadi karena habitatnya terganggu, cadangan makanan buaya menipis,” jelasnya.

Menurut dia, perilaku manusia yang kerap menganggu saat buaya muncul di permukaan air, sehingga naluri pada binatang itu melakukan perlawanan.

“Serangan buaya dibalas dengan perburuan buaya hingga pembunuhan menjadi fenomena berulang yang mendesak ekosistem buaya,” katanya.

Perlakuan itu, kata Tri Harmoko, menganggu rantai makananan yang mana apabila buaya terus diburu akan mengakibatkan terjadi ketidakseimbangan rantai makanan dengan predator tertinggi yang ada seperti babi dan monyet hingga mengakibatkan masalah baru berupa terlalu banyak babi atau monyet dan sejenisnya sebagai hama bagi peternakan atau pertanian.

Padahal untuk kesimbangan alam, buaya lah menjadi pemangsa monyet atau babi dalam rantai makanan. “Untuk itu, bijaknya tidak membalas serangan buaya dengam perburuan hingga pembunuhan buaya, tetapi lebih kepada menjaga ekosistemnya dan tidak mengganggu cadangan makanannya,” ujar Tri.*

Baca juga: Buaya raksasa resahkan warga Bangka akhirnya tertangkap-mati

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Kalteng pasang perangkap buaya pemangsa di Sungai Seranggas

Sampit (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah memasang perangkap dan alat pancing untuk menangkap buaya pemangsa di Sungai Seranggas Desa Lempuyang, Kabupaten Kotawaringin Timur.

“Sampai saat ini belum ada hasil. Rencananya alat pancing dan perangkap buaya itu akan dipasang selama satu minggu,” kata Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit Kotawaringin Timur Muriansyah di Sampit, Selasa.

Ia menjelaskan konflik antara buaya dengan manusia kembali menjadi perhatian masyarakat setempat. Mereka khawatir karena aktivitas buaya makin meningkat dan dirasakan membahayakan keselamatan mereka.

Pada Jumat (1/2), sekitar pukul 18.30 WIB, seorang warga Dusun Seranggas, Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit bernama Julhaidir (41), diterkam buaya saat mandi di sungai. Akibatnya, tangan kirinya putus.

Buaya sempat menyeret korban ke sungai. Saat tangannya putus akibat gigitan buaya, korban berenang ke permukaan sungai dan berteriak meminta pertolongan warga, sebelum buaya itu muncul lagi.

Setelah kejadian, Tim BKSDA dari Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat didatangkan ke Kotawaringin Timur untuk menangkap buaya tersebut. Mereka membawa perangkap buaya yang terbuat dari besi berbentuk sangkar berukuran besar.

Perangkap dipasang tidak jauh dari lokasi serangan buaya. Tim juga memasang pancing buaya dengan umpan seekor bebek untuk menarik buaya pemangsa itu muncul.

Saat terjadi serangan buaya di anak Sungai Remiling Kecamatan Seranau beberapa waktu lalu itu, Tim BKSDA juga mencoba menangkap buaya dengan cara memancing menggunakan umpan bebek. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil.

“Dalam beberapa hari ini akan ada evaluasi, terutama untuk lokasi pemasangan dan umpan. Perangkap dan pancing buaya itu terus kami pantau,” kata Muriansyah.

Populasi buaya di Sungai Mentaya diperkirakan masih cukup banyak karena warga masih sering melihat buaya muncul di perairan dekat permukiman.

Aktivitas buaya yang mengganas dan menyasar perairan kawasan permukiman diduga karena kelaparan karena sumber makanan di habitat mereka makin sulit didapat.

Muriansyah meminta masyarakat lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai karena buaya masih berkeliaran.

Masyarakat juga diimbau tidak beraktivitas di sungai saat hari gelap karena rawan serangan buaya.

“Dari beberapa kasus yang terjadi, serangan buaya terjadi saat menjelang malam hingga subuh,” ujarnya.*

Baca juga: Tangan nelayan putus diterkam buaya

Baca juga: Pencinta alam imbau masyarakat hentikan pembunuhan buaya

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penelitian Hiu Tikus

Mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP)  Universitas Syiah Kuala mengukur panjang ikan Hiu Tikus (thresher Shark) sebagai bahan penelitian di Pelabuhan Perikanan Koutaraja, Banda Aceh, Selasa (5/2/2019). Penelitian tersebut untuk mendata dan mengetahui tingkat kepunahan, kematian, dan penyakit, terkait menurunnya populasi hiu itu. ANTARA FOTO/Ampelsa/foc.

Warung kopi galang dana pelestarian penyu Aceh Jaya

Banda Aceh (ANTARA News) – Salah satu warung kopi, Leuser Caffee, di Banda Aceh, mengalang dana melalui penjualan bubuk kopi Arabica untuk pelestarian penyu di Panga, Kabupaten Aceh Jaya. 

“Kami menyisihkan 50 persen dari hasil penjualan bubuk kopi Arabica dengan kemasan khusus pemeliharaan penyu Panga yang bekerja sama dengan Komonitas Aroen Meubanja,” kata Pemilik Leuser Coffee, Danurfan di Banda Aceh Aceh, Jumat. 

Ia menjelaskan dana yang terkumpul dari penggalangan dana dari penjualan kopi Arabica akan dimanfaatkan untuk program pemeliharaan penyu di Panga, sehingga populasi terus terjaga. 

Ia menyebutkan untuk penjualan kopi Arabica dengan kemasan khusus pemeliharaan penyu dihargai Rp75.000 dengan isi 250 gram.

“Pemeliharaan yang dilakukan termasuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak mengkonsumsi lagi telur penyu,” kata Danurfan.

Ia menjelaskan dalam program pemeliharaan penyu tersebut masyarakat yang tergabung dalam komunitas tersebut juga akan melakukan patroli di daerah kawasan pantai yang menjadi lokasi penyu bertelur.

Danurfan mengatakan donasi yang dilakukan tersebut tidak terlepas dari konsep konservasi yang diusung dari kehadiran usaha Leuser Coffee. 

Ia mengatakan penggalangan tersebut akan dilakukan hingga Maret 2019 dan saar ini yang sudah terkumpul Rp765 ribu. 

Ia menambahkan sebelumnya pihaknya juga telah menggalang dana pengobatan anak gajah yang diberi nama Amirah.

Baca juga: LSM jajagi konservasi penyu di Simeulue

Baca juga: Yogyakarta gencarkan kaderisasi penyelamat penyu

Baca juga: Bantul kembangkan konservasi penyu di empat pantai
 

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua warga tewas diterkam buaya di Maluku

Ambon (ANTARA News) – Satu warga Negeri Makariki di Kabupaten Maluku Tengah dan satu warga Desa Atubul Dol di Kecamatan Wertambrian, Kabupaten Maluku Tengara Barat, tewas diterkam buaya menurut pejabat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku.

“Di hari yang sama Kamis (7/2) dua warga di lokasi yang berbeda tewas secara mengenaskan diterkam buaya,” kata Kepala BKSDA Maluku Mukhtar Amin Ahmadi, Jumat.

Adamalik Batalata (48) tewas diterkam buaya di perairan Desa Atubul Dol, sementara Jonias Makaweru (37) diterkam harimau di muara Sungai Ruata di Negeri Makariki saat mencari ikan pada Kamis (7/2).

“Petugas BKSDA bersama warga mencari bagian tubuh korban yang diduga masih ada di Sungai Ruata, tetapi tidak ditemukan bagian tubuh korban,” kata Mukhtar tentang upaya pencarian jasad Jonias.

Sementara Adamalik Batalata sempat mendapat pertolongan dari dua nelayan yang mencari ikan tak jauh darinya di perairan Desa Atubul Dol. Dua nelayan itu memanah buaya yang menerkam Adamalik hingga melepaskan terkamannya.

“Korban mengalami luka gigitan tetapi korban tidak tertolong, kedua nelayan membawa pulang jenazah dan melaporkan peristiwa ini ke Kepala Desa,” kata Mukhtar.

Petugas BKSDA terus melakukan pemantauan di lokasi kejadian. “Kami terus melakukan pemantauan di lapangan, mengimbau warga untuk selalu waspada dan tidak beraktivitas di lokasi rawan buaya,” kata Mukhtar.

Baca juga:
Serangan buaya menewaskan seorang bocah di Riau
Pekanbaru perlu rambu peringatan bahaya buaya

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

25 monyet akan dilepasliarkan ke Pulau Nusa Barong

Jember, 8/2 (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bekerja sama dengan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) akan melepasliarkan 25 monyet ke Cagar Alam Pulau Nusa Barong di kawasan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 20 Februari.

Sebelum pelepasliaran, monyet-monyet ekor panjang dan monyet yang sebelumnya digunakan untuk pertunjukan topeng monyet itu ditempatkan di kawasan City Forest and Farm Arum Sabil di Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jumat sore.

“Monyet itu berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, baik dari hasil sitaan, hasil penyerahan, maupun penertiban topeng monyet,” kata Kepala BKSDA Wilayah III Jember Setyo Utomo di Jember, Jumat.

Ia menjelaskan monyet-monyet itu sudah menjalani tahapan rehabilitasi sebelum pelepasliaran dan dalam dua pekan terakhir dititipkan di City Forest and Farm Arum Sabil Jember.

“Saya juga mengimbau kepada masyarakat yang memiliki peliharaan monyet agar diserahkan kepada pihak yang berwenang atau BKSDA karena hewan tersebut dapat membahayakan warga yang memilikinya dan masyarakat sekitar,” tuturnya.

Kepala Polres Jember AKBP Kusworo Wibowo mengatakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah mengeluarkan surat edaran tentang pelarangan topeng monyet dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur menindaklanjutinya dengan melakukan penertiban. Hasilnya, BKSDA menyita dan menerima 25 monyet.

“BKSDA Jatim menyerahkan 25 ekor monyet itu kepada Jakarta Animal Aid Network untuk direhabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Hari ini puluhan monyet ekor panjang transit lebih dulu ke kawasan City Forest and Farm Arum Sabil, yang sudah disurvei layak untuk tempat transit,” katanya.

“Saya juga mengimbau masyarakat yang memelihara monyet untuk diserahkan kepada BKSDA, karena monyet-monyet tersebut sangat berbahaya dan bisa menyerang anak-anak, bahkan monyet tersebut kadang bisa menularkan penyakit yang berbahaya bagi kesehatan manusia,” ia menambahkan.

Baca juga:
Desa Sidoarjo pertahankan monyet ekor panjang
50 satwa topeng monyet disita di Jabar

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aktivis kritik penggunaan cenderawasih dalam kampanye Pemilu Papua

Jayapura  (ANTARA News) – Aktivis lingkungan  Yasminta Ridhian Wasaraka mengkritik penggunaan bulu burung Cenderawasih yang dibuat menjadi ikat kepala atau atribut lainnya untuk berkampanye dalam pemilu 2019 di Papua.

 “Selalu begitu, setiap ada Pemilu semua ingin dihormati, ingin dianggap merakyat dengan simbol ketokohan. Ikat kepala atau mahkota yang terbuat dari bulu burung Cenderawasih lantas dipakai sebagai pemanis, dan bukan satu tapi banyak sekali,” katanya di Kota Jayapura, Papua, Rabu.

 Kritikan ini sengaja dilontarkan oleh pengurus Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG) Jayapura itu terkait maraknya baliho, spanduk, hingga stiker para politisi yang akan bertarung dalam pemilu legislatif 2019.

 Ia menyebut bahwa seharusnya sudah ada paradigma baru dalam berkampanye yang juga memiliki poin positif dalam lingkungan, sehingga tak perlu menyematkan atribut yang diambil dari satwa yang sesungguhnya dilindungi.

 “Cenderawasih sudah jelas dilindungi dan saya heran kalau para calon wakil kita ini menggunakan dengan mudahnya hanya untuk menunjukkan jika ia memiliki kedekatan dengan masyarakat atau merasa diri tokoh Papua padahal menggunakan atribut dari satwa dilindungi,” katanya yang akrab disapa Dian.

 Dian yang juga Sekretaris Eksekutif Rumah Belajar Papua atau akrab disebut RBP ini mengajak agar para calon wakil rakyat lebih elegan dalam berkampanye, sehingga bisa mendapatkan simpati dari para pemilih.

 “Silahkan kita nilai calon wakil yang seperti ini,” ujar Dian yang dalam waktu dekat ini akan meluncurkan buku tentang Suku Korowai.

 Senada itu disampaikan Ketua FPPNG Fredy Wanda bahwa ada cara lain yang bisa digunakan untuk diterima masyarakat tanpa harus menunjukkan sikap yang tak mendukung isu konservasi.

 “Saya pikir dunia mengakui jika Cenderawasih dilindungi dan Pak Gubernur Papua juga sudah menyatakan itu lewat surat edaran bahkan Menteri KLHK juga menyetujui petisi tentang pelarangan mahkota Cenderawasih dan segala sesuatu yang berkaitan dengan satwa endemik yang dilindungi,” katanya.

 Untuk itu, mantan polisi hutan itu meminta kepada publik agar memberi penilaian terhadap calon wakil rakyat yang tidak bijak dengan kebanggaan Papua itu.

 “Ada noken yang sudah membumi, kenapa bukan itu saja yang dipakai. Saya pikir kita perlu bijak dalam bersikap dengan memberi dukungan pada pelestarian satwa dilindungi apalagi mahkota inikan budaya Papua dan sebaiknya ?jangan dikaitkan dengan politik,” katanya.

Baca juga: Kapolri imbau partai dan caleg lakukan kampanye santun
 Baca juga: Bawaslu: ASN tidak diperkenankan pakai atribut kampanye

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

KLHK: Penutupan kawasan Taman Nasional Komodo masih dalam pembahasan

Jakarta (ANTARA News) – Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno mengatakan rencana  penutupan Taman Nasional Komodo (TN Komodo) di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut. 

“Wacana penutupan sementara TN Komodo yang bertujuan untuk melakukan perbaikan tata kelola khususnya untuk mendukung tujuan konservasi, perlu segera dibahas antara Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pariwisata, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Keuangan,” kata  Wiratno di Jakarta, Senin. 

Pengelolaan TN Komodo berada di bawah Direktorat Jenderal KSDAE KLHK, sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan bidang lingkungan hidup dan Kehutanan.
 
Peraturan perundangan tersebut yaitu UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, UU No.23/2014 tentang Pemerintahan Daerah, PP No.28/2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, Perpres No.16/2015 tentang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.18/MENLHK-II/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.7/MENLHK/SETJEN/OTL.0/1/2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional.

Wiratno mengatakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan cq Direktur Jenderal KSDAE memiliki kewenangan untuk menutup atau membuka kembali suatu taman nasional, berdasarkan pertimbangan ilmiah, fakta lapangan, kondisi sosial ekonomi dan masukan dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten serta para pihak lainnya.

“Dengan demikian penutupan kawasan taman nasional menjadi kewenangan Direktorat Jenderal KSDAE KLHK,” ujar Wiratno.

Dia juga mencontohkan kasus penutupan pendakian sementara di TN Gunung Rinjani, TN Gunung Merapi, TN Bromo Tengger Semeru, karena terjadi erupsi gunung berapi dan kondisi cuaca ekstrim. 

“Dapat juga dikarenakan adanya kerusakan habitat, atau gangguan terhadap satwa liar yang dilindungi, akibat dari aktivitas pengunjung, bencana alam, dan mewabahnya hama dan penyakit seperti di TN Way Kambas,” lanjutnya.

Berdasarkan monitoring Balai TN Komodo dan Komodo Survival Programme, pada 2017, jumlah populasi komodo sebanyak 2.762 individu yang tersebar di Pulau Rinca (1.410), Pulau Komodo (1.226), Pulau Padar (2), Pulau Gili Motang (54) dan Pulau Nusa Kode (70). Sedangkan populasi rusa adalah sebanyak 3.900 individu dan kerbau sebanyak 200 individu.

Pada 2018, ditemukan satu individu komodo mati secara alamiah karena usia. Ancaman terhadap spesies biawak besar ini adalah masih ditemukannya perburuan rusa, namun saat ini program breeding rusa telah dibangun di Kecamatan Sape Kabupaten Bima, untuk mengurangi tingkat perburuan rusa di TN Komodo.*

Baca juga: Wapres: TN ditutup atau tidak, komodo tetap perlu makan

Baca juga: Peneliti LIPI: rumah penetasan lebih efektif tingkatkan populasi komodo

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pengelolaan kebun binatang Taman Rimbo

Seekor Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) betina berumur 13 tahun, Uni berjalan di dalam kandang Kebun Binatang Taman Rimbo, Jambi, Senin (28/1/2019). BKSDA Jambi mengevaluasi pengelolaan kebun binatang oleh UPTD Kebun Binatang Taman Rimbo pascakematian beruntun seekor Harimau Sumatra betina bernama Ayu (8 tahun) akibat penyakit paru-paru basah (Pneumonia) dan seekor Singa (Phantera leo) jantan bernama Hori (11 tahun) akibat sakit di bulan ini. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc.

15 persen burung endemik Indonesia terancam punah

Padang (ANTARA News) – Sekurangnya 15 persen dari sekitar 400 jenis burung endemik Indonesia berada diambang kepunahan karena rusaknya habitat serta perburuan oleh oknum.

“Di Indonesia ada sekitar 1.771 jenis burung, 400 jenis di antaranya adalah endemik. Burung endemik itu sebagian sudah terancam punah,” kata Presiden Indonesian Ornithology Union (IdOU) Ignatius Pramana Yuda di Padang, Senin.

Ia mengatakan itu dalam Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung di Indonesia (KPPBRI) ke V bekerja sama dengan Jurusan Biologi Universitas Andalas (Unand).

Jenis burung yang terancam punah itu diantaranya jalak putih (Sturnus melanopterus), ekek-geling jawa (Cissa thalassina), trulek jawa (Vanellus macropterus) , kakatua, elang, rangkong gading, jalak bali dan jenis kuau raja yang menjadi endemik Sumbar.

Menurut Ignatius, ulah manusia menjadi ancaman terbesar untuk kelangsungan hidup beberapa jenis burung di Indonesia. Perburuan dan upaya memperjualbelikan burung untuk dipelihara membuat populasi burung berkurang drastis.

Padahal berdasarkan Undang-undang No 5 Tahun 1990 Tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pemburu, penangkap serta penjual satwa liar di Indonesia bisa dikenai pidana.

Dalam pasal 40 UU Nomor 5 tahun 1990 ayat 2 disebutkan bahwa hukuman pidana bagi pihak-pihak yang memperjualbelikan di dalam atau negeri, memburu, dan menyimpan dalam bentuk hidup atau mati tumbuhan dan satwa yang dilindungi adalah kurungan penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah.

Ia berharap ada aturan turunan dari UU itu hingga ke tingkat desa atau nagari agar semua pihak menjadi lebih awas dan bisa berpartisipasi dalam pelestarian satwa dilindungi.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyatakan dukungan terhadap upaya pelestarian satwa endemik milik daerah, termasuk jenis burung.

Namun kendala selama ini, tidak semua masyarakat mengetahui jenis burung yang dilindungi dan terancam punah itu sehingga perburuan masih menyasar jenis tersebut.

“Butuh informasi dan rekomendasi terkait jenis atau spesies burung yang harus dilindungi ini agar pemerintah daerah bisa menyikapi,” ujarnya.

Jenis burung di Sumbar sangat beragam karena memiliki kawasan taman nasional seluas 1,2 juta hektar dengan 500 hektar diantaranya masih alami untuk menjaga habitat beragam fauna yang ada di dalamnya.

“Ke depan kita akan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, serta merangkul organisasi dan masyarakat pecinta burung untuk membantu perlindungan jenis burung itu,” katanya.

Sementara itu Rektor Unand Tafdil Husni menyebutkan pihaknya memiliki wilayah kampus 500 hektar, dan 200 hektar diantaranya merupakan hutan lindung.

Kawasan hutan lindung itu adalah tempat penelitian jurusan biologi, termasuk tempat kawasan bebas berbagai jenis burung untuk berkembangbiak.

“Unand sangat peduli dan berperan aktif terkait konservasi serta menjaga lingkungan, termasuk menjaga keberadaan spesies burung. Bahkan, lebih 40 hasil penelitian dosen dan mahasiswa Unand terkait hal ini,” katanya.

Baca juga: Jenis burung khas Indonesia bertambah
Baca juga: Burung endemik Rote resmi bernama Myzomela irianawidodoae

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bangkai harimau Sumatera Taman Rimba Jambi dibakar

Jambi  (ANTARA News) – Bangkai harimau sumatera (Panthera tigris Sumatrae) yang mati di kebun binatang Taman Rimba Jambi telah dibakar untuk menghindari pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan bangkai spesimen satwa langka tersebut.

“Bangkainya sudah dibakar karena dari BKSDA Jambi tidak mau ambil risiko nantinya ada pihak yang memanfaatkan spesimen bangkai itu,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Rimba Jambi, Taufik Bukhari di Jambi, Senin.

Bangkai harimau Sumatera bernama Ayu yang berusia delapan tahun itu setelah mati pada Sabtu 26 Januari lalu langsung dibakar kemudian dikuburkan.

Sedangkan bangkai Singa yang bernama Hori yang juga mati pada Sabtu pekan lalu (19/1) itu juga telah dikuburkan setelah dilakukan bedah bangkai untuk mengetahui penyebab kematiannya.

“Kasus kematian kedua binatang buas, langka dan dilindungi itu sudah saya sampaikan semuanya ke Polda Jambi dan pihak Polda juga telah memeriksa terkait apakah ada unsur kesengajaan terkait kematian beruntun satwa ikonik tersebut,” kata Taufik Bukhari.

Selain itu, pasca-kematian beruntun dua ekor satwa yang dilindungi tersebut pihak Pemerintah provinsi (Pemprov) Jambi langsung mengevaluasi pengelolaan kebun binatang satu-satunya di Provinsi Jambi tersebut.

Sekda Provinsi Jambi juga hari ini langsung meninjau ke Taman Rimba guna mengetahui langsung dan meminta untuk melakukan pembenahan.

Sebelumnya, dua ekor satwa koleksi kebun binatang Taman Rimba Jambi, yakni harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) dan singa (panthera leo) mati karena sakit. Keduanya mati hampir berbarengan atau hanya selisih sepekan.

Harimau bernama Ayu mati, Sabtu (26/1) dinihari sekitar pukul 01.00 WIB diketahui akibat menderita penyakit paru-paru basah (Pneumonia) setelah dilakukan bedah bangkai oleh tim medis dokter hewan.

Sedangkan singa jantan dewasa yang bernama Hori yang kandang display-nya bersebelahan lebih dulu mati atau sepekan yang lalu, Sabtu (19/1).

Singa jantan dewasa yang sekitar dua tahun telah menghuni kebun binatang kebanggaan masyarakat Jambi itu diketahui mati juga akibat sakit.

“Hori mati mendadak, gejalanya menurut tim dokter terjadi pembengkakan pada jantungnya,” kata Kepala UPTD Taman Rimba Jambi, Taufik Bakhori.

Setelah kematian beruntun dua ekor satwa ikonik itu, saat ini Taman Rimba Jambi masih menyisakan satu ekor Harimau Sumatera, yakni Uni (induk Ayu) dan singa betina bernama Cinta yang sebelumnya didatangkan dari Taman Satwa Siantar, Sumatera Utara.

Baca juga: Harimau dan singa di Taman Rimba Jambi mati
 Baca juga: Kronologis kematian singa dan harimau di Jambi

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bangkai dugong ditemukan terdampar di pesisir Karimun

Karimun, Kepri  (ANTARA News) – Bangkai seekor dugong dengan bobot hampir setengah ton ditemukan terdampar di pesisir pantai Kelurahan Teluk Uma, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, Senin.

Bangkai dugong atau duyung tersebut ditemukan nelayan bernama Zaini dalam kondisi membusuk.

“Diperkirakan sudah mati 2 atau 3 hari,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Karimun Ruffindy Alamsyah di lokasi penemuan bangkai dugong tersebut.

Menurut Ruffindy, temuan bangkai dugong tersebut baru pertama kali terjadi di Karimun dan kemungkinan terseret arus. “Perairan Karimun juga bukan habitat dugong,” katanya.

Di tempat yang sama, koordinator Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang Satker Tanjungpinang Ice Muhammad Rizqan mengatakan, bangkai dugong tersebut berjenis kelamin betina dan mengalami pembusukan tingkat lanjut, terdampar dengan kondisi perut pecah.

Bobot bangkai dugong tersebut, jelas dia, sekitar sekitar 400 kilogram, panjang sekitar 3,4 meter, lingkar badan 187 centimeter, lebar 115 cm dan lebar sirip 23 cm.

“Kami menduga dugong ini terseret arus gelombang musim angin utara,” katanya.

Ia mengatakan bangkai dugong tersebut merupakan yang terberat yang pernah ditemukan di Kepulauan Riau.  Penemuan bangkai dugong menjadi tontonan warga yang penasaran dengan mamalia langka tersebut.

“Sekilas mirip anjing laut. Tapi setelah saya amati, ?bentuk kepalanya berbeda dengan anjing laut,” kata salah seorang warga.

Bangkai dugong tersebut langsung dikubur di lokasi dengan menggunakan alat berat yang dipinjam dari perusahaan setempat.

Mengutip Wikipedia, dugong atau dugon atau duyung adalah sejenis mamalia laut yang merupakan salah satu anggota Sirenia atau lembu laut yang masih bertahan hidup hingga usia 22 sampai 25 tahun.

Duyung bukanlah ikan karena menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat?evolusi?dari?gajah. Ia merupakan satu-satunya hewan yang mewakili suku Dugongidae.

Selain itu, ia juga merupakan satu-satunya lembu laut yang bisa ditemukan di kawasan perairan sekurang-kurangnya di 37 negara di wilayah Indo-Pasifik walaupun kebanyakan duyung tinggal di kawasan timur Indonesia dan perairan utara Australia.

Baca juga: Pakar kelautan sebut mamalia mati di Riau bukan dugong
Baca juga: Dalam sepekan dua dugong ditemukan mati di Dumai, Riau

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kontes kucing di Bali

Juri memeriksa tubuh kucing saat kontes kucing “Catzvaganza” di Kuta, Badung, Bali, Minggu (27/1/2019). Kontes yang diikuti puluhan kucing berbagai jenis tersebut menggelar berbagai kegiatan seperti lomba ketangkasan kucing, peragaan kostum kucing serta pemberian vaksin bagi kucing peliharaan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pras.

BKSDA Maluku lepasliarkan rusa timor ke Pulau Seram

Ambon,  (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Maluku kembali melepasliarkan tiga ekor satwa liar jenis rusa timor (Cervus Timorensius Mollucensis) ke habitatnya di kawasan hutan lindung kaki Gunung Manusela, Pulau Seram, Kabupaten Maluku Tengah.

“Ketiga ekor rusa timor itu merupakan hasil penyerahan masyarakat Ambon secara sukarela, dan dilakukan pelepasliaran oleh petugas pada Sabtu (26/1),” kata Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi, di Ambon, Minggu.

Ia menjelaskan bahwa setelah dilakukan penangkapan, petugas melakukan perjalanan ke lokasi pelepasliaran di kaki Gunung Manusela, Pulau Seram.

Sesampainya di lokasi, ketiga rusa tersebut langsung dilepasliarkan, katanya.

Menurut dia, satwa tersebut dipelihara di atas lahan seluas dua hektare di kawasan Desa Passo selama tiga tahun, sehingga rusa tersebut benar-benar liar.

Proses menangkap ketiga ekor rusa di tempat pemeliharaanya dibutuhkan waktu dua hari.

Hari pertama penangkapan dipimpin drh Dirwan, dengan cara memberikan obat bius oral (anastesi) yang dicampurkan ke dalam makanan.

Tetapi upaya tersebut tidak berhasil, karena dosis obat yang dibutuhkan sampai rusa terbius sulit terpenuhi akibat obat tersebut tidak termakan oleh rusa.

“Selanjunya penangkapan di hari kedua penangkapan menggunakan perangkap jaring yang dibantu 10 orang masyarakat sekitar lokasi,” katanya.

Mukhtar mengakui, petugas awalnya mengalami kesulitan untuk melakukan penggiringan rusa tersebut untuk masuk ke dalam jaring, tetapi akhirnya dengan kesabaran yang tinggi rusa dapat ditangkap.

Setelah rusa masuk jaring, segera diberikan obat bius suntik dengan dosis tertentu agar rusa tidak mengamuk.

Ketiga ekor rusa yang diliarkan terdiri atas satu ekor jantan dengan tanduk yang sudah bercabang dan diperkirakan berusia empat tahun, sedangkan dua ekor betina dara usia sekitar dua tahun.

Ia mengimbau masyarakat jika ada yang masih memelihara satwa jenis rusa atau jenis lainnya yang dilindungi, agar segera diserahkan secara sukarela ke BKSDA untuk diliarkan kembali ke habitatnya.

“Jika ada masyarakat yang hobi memelihara rusa, maka dapat mengusulkan kepada BKSDA Maluku melalui izin penangkaran rusa sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” demikian Mukhtar Amin Ahmadi.

Baca juga: Empat ekor penyu sisik dilepasliarkan BKSDA Maluku

Baca juga: BKSDA Maluku selamatkan 1.007 tumbuhan dan satwa dilidungi

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Jambi evaluasi kebun binatang terkait kematian hewan

Jambi (ANTARA News)- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi mengevaluasi pengelolaan  Taman Rimba Jambi terkait kematian beruntun dua ekor satwa yakni harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan singa (Panthera leo) di kebun binatang itu.

“BKSDA melakukan evaluasi dengan melibatkan beberapa ahli yang nantinya untuk merumuskan rekomendaisnya seperti apa,” kata Kepala BKSDA Jambi Rahmat Simbolon dalam gelaran jumpa pers di Jambi, Minggu.

Saat ini pihaknya tengah menunggu hasil evaluasi yang dilakukan oleh tim. Kemudian hasil rekomendasi dari evaluasi tersebut akan dijadikan sebagai bahan untuk langkah selanjutnya.

“Dan yang menerbitkan izin LK (Lembaga konservasi) itu pusat. Saat ini izin LK tersebut masih aktif dan sudah kitalakukan peninjauan dan ada beberapa catatan,” katanya.

Pascakematian beruntun dua ekor satwa ikonik di kebun binatang tersebut tim BKSDA, menurut Rahmat, juga akan melakukan medical chek-up terhadap semua satwa yang menjadi koleksi kebun binatang satu-satunya di Provinsi Jambi itu.

Harimau sumatera betina yang sebelumnya ditemukan mati pada Sabtu dini hari (26/1), sekitar pukul 01.00 WIB, bernama Ayu berusia delapan tahun. Tim dokter hewan menemukan penyebab kematiannya akibat menderita penyakit paru-paru basah (Pneumonia). 

Sedangkan singa jantan dewasa yang bernama Hori yang kandang display bersebelahan dengan kandang Ayu itu lebih dulu mati atau sepekan yang lalu, Sabtu (19/1).

Singa jantan dewasa yang sekitar dua tahun telah menghuni kebun binatang kebanggan masyarakat Jambi itu, diketahui mati karena sakit. “Shiro mati mendadak, gejalanya menurut tim dokter terjadi pembengkakan pada jantungnya,” kata Kepala UPTD Taman Rimba Jambi Taufik Bakhori.

Setelah kematian beruntun dua ekor satwa ikonik itu, saat ini Taman Rimba Jambi masih menyisakan satu ekor harimau sumatera, yakni Uni (induk Ayu) dan singa betina bernama Cinta yang sebelumnya didatangkan dari Taman Satwa Siantar, Sumatera Utara.

Baca juga: Harimau dan singa di Taman Rimba Jambi mati

Baca juga: Empat anak harimau sumatera diperkenalkan di Kebun Binatang Tierpark, Jerman

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pasukan kuning Singkawang temukan ikan berkepala buaya

  Pontianak,  (ANTARA News) – Pasukan Kuning Singkawang, Kalimantan Barat dihebohkan dengan penemuan seekor ikan berkepala buaya tepatnya di saluran di Jl Tani Gang Kelapa Dua, Kelurahan Kuala, Kecamatan Singkawang Barat.

Kepala UPT Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Singkawang, Rustam Effendy di Singkawang, Minggu, mengatakan, ditemukannya seekor ikan berkepala buaya itu ketika dia bersama anak buahnya sedang membersihkan saluran yang terletak di Jl Tani Gang Kelapa Dua.

 “Sewaktu pembersihan parit sedang berjalan, anak buah saya melihat ada seekor ikan sedang berenang,” kata Rustam.

Tetapi, sewaktu mau ditangkap, ikan tersebut sempat lari. “Anggota ke kanan, dia (ikan) ke kiri. Begitu seterusnya,” ujarnya.

Namun, upaya yang dilakukan tak sia-sia, akhirnya anak buahnya berhasil menangkap seekor ikan berkepala aneh tersebut.

“Anehnya, sewaktu ditetak pakai parang, badan ikan tersebut tidak apa-apa, bahkan sisiknya pun tidak tergores sama sekali, keras kulitnya,” ungkapnya.

Sekarang ini, ikan berkepala aneh itu sedang dibawa anak buahnya. “Tidak tahulah mau diapakan. Sewaktu dibawa pakai mobil pun, ikannya masih menggelepar,” katanya.

Secara terpisah, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang, Dani Arief Wahyudi, menduga jika ikan yang ditemukan merupakan ikan sejenis predator yang berasal dari perairan daerah tropis Amerika Selatan.

“Ikan ini dinamakan ikan Arapaima Gigas,” katanya.

 Jika dibiarkan, katanya, cukup berbahaya karena bisa mendominasi spesies lokal.

Arapaima Gigas yang merupakan ikan air tawar terbesar di dunia dari perairan daerah tropis Amerika Selatan dan berbahaya bila dibudidayakan di Indonesia.

Habitat asli spesies ikan Arapaima ini berasal dari Sungai Amazon yang mempunyai iklim tropis. “Sehingga penyebarannya ada pada daerah iklim tropis, di antaranya Indonesia, Australia bagian utara, Papua Nugini, dan tentu Amerika Selatan,” ucap Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Hasil Perikanan KKP, Rina.

Dengan demikian, peluang penyebaran di Indonesia cukup tinggi. Sebab, pada prinsipnya penyebaran secara alami bisa terjadi pada daerah yang beriklim sama dengan habitat aslinya, padahal keseluruhan spesies Arapaima sp itu bersifat invasif.

Baca juga: KKP paparkan karakteristik ikan berbahaya Arapaima gigas
 Baca juga: Ikan Mirip Buaya Ditangkap Warga Banjar

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tujuh bunga Rafflesia gagal mekar di Agam

Lubukbasung (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam, Sumatera Barat, menemukan tujuh knop atau calon bunga Rafflesia jenis tuan-mudae gagal mekar di kawasan Cagar Alam Maninjau Marambuang, Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan.

Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resor Agam, Ade Putra di Lubukbasung, Sabtu, mengatakan tujuh knop bunga rafflesia yang gagal mekar itu berada di titik petak pengamatan dengan diameter sekitar lima meter.

“Knop bunga rafflesia itu dengan kondisi membusuk berdasarkan pengamatan di lokasi,” ujarnya.

Menurutnya tumbuhan yang dilindungi itu gagal mekar akibat curah hujan cukup tinggi melanda daerah itu pada akhir 2018, sehingga menyebabkan udara di lokasi itu menjadi lembab.

Selain itu juga akibat aktivitas satwa di kawasan Cagar Alam Maninjau.

“Kami menemukan jejak kaki babi hutan di sekitar tumbuhan langka ini,” sebutnya.

Selain knop bunga gagal mekar, tambahnya di lokasi itu juga ditemukan tujuh bunga yang sudah melalui fase mekar sempurna.

Diperkirakan bunga itu mekar sempurna pada beberapa minggu yang lalu.

“Bunga itu mekar sempurna berbagai ukuran dan kita tidak bisa menentukan diameter akibat bunga sudah membusuk,” katanya.

Sebelumnya, BKSDA Resor Agam menemukan 46 knop bunga rafflesia di Cagar Alam Maninjau Marambuang.

Dari 46 knop itu, sekitar 26 knop yang sudah mekar sempurna dan gagal mekar. Saat ini masih tinggal sekitar 25 knop yang akan mekar beberapa bulan lagi.

“Pada Sabtu (26/1), pihaknya menemukan dua individu baru di lokasi tersebut. Di lokasi ini juga pernah mekar bunga rafflesia terbesar di dunia dengan diameter 107 centimeter pada akhir 2017,” jelasnya.

BKSDA Resor Agam telah memasang papan imbauan di lokasi agar tidak diganggu warga, karena tumbuhan itu dilindungi Undang-undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Data Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Kedepan, lokasi ini akan dijadikan sebagai pusat atau stasiun pengamatan dan penelitian bunga rafflesia dan direncanankan akan dikembangkan pada 2019.

Pada 2018, mahasiswa dari Universitas Negeri Padang, Universitas Andalas Padang, Universitas Muhanmadiyah Sumatera Barat, Universitas Sumatera Utara dan Universitas Nasional Jakarta telah melakukan penelitian di lokasi.

Baca juga: Rejang Lebong-Bengkulu termasuk habitat bunga rafflesia, sebut BKSDA
Baca juga: BKSDA temukan lokasi baru Rafflesia

 

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Harimau dan singa di Taman Rimba Jambi mati

Jambi (ANTARA News) – Dua ekor satwa koleksi kebun binatang Taman Rimba Jambi, yakni Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) dan Singa (Panthera leo) mati karena sakit.

Kepala UPTD Taman Rimba Jambi, Taufik Bakhori dihubungi di Jambi, Sabtu, membenarkan dua ekor satwa di kebun binatang tersebut mati yang kejadiannya hampir berbarengan atau hanya selisih sepekan.

Harimau Sumatera betina tersebut bernama Ayu berusia delapan tahun yang mati Sabtu (26/1) dinihari sekitar pukul 01.00 WIB.

Satwa yang dikenal dengan julukan raja rimba itu, kata Taufik diketahui mati akibat menderita penyakit paru-paru basah (Pneumonia) setelah dilakukan bedah bangkai oleh tim medis dokter hewan.

“Hasil labor dari tim medis seperti itu, karena kemungkinan ini si Ayu (Harimau sumatera) suka tidur dilantai semen,” katanya.

Sedangkan Singa jantan dewasa yang bernama Shiro yang kandang display bersebelahan dengan kandang Harimau Sumatera itu lebih dulu mati atau sepekan yang lalu, Sabtu (19/1).

Shiro, Singa jantan dewasa yang sekitar dua tahun telah menghuni kebun binatang kebanggan masyarakat Jambi itu, diketahui mati juga akibat sakit.

“Shiro mati mendadak, gejalanya menurut tim dokter terjadi pembengkakan pada jantungnya,” katanya.

Setelah kematian beruntun dua ekor satwa ikonik itu, saat ini Taman Rimba Jambi masih menyisakan satu ekor Harimau Sumatera dan satu ekor Singa betina.

“Sekarang Harimau tinggal satu, yakni Uni (induk Ayu) dan Singa tinggal satu ekor betina,” katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Rahmat Simbolon saat dikonfirmasi membenarkan dan telah mengetahui kematian dua ekor satwa yang dilindungi itu.

Baca juga: Harimau mati terjerat seharusnya lahirkan dua anak
 

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pohon cemara udang ditanam Pemkot Surabaya untuk pemecah ombak

Surabaya, (ANTARA News) – Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, melakukan penanaman pohon cemara udang di kawasan pantai utara sebagai salah satu solusi untuk memecah ombak besar yang melanda pesisir tersebut.

“Selain bikin tanggul, kami juga tanami cemara udang. Jadi cemara udang itu untuk nahan ombak-ombak laut. Jadi ombak menghantam cemara udang dulu sebelum ke daratan,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Surabaya, Jumat.

Sejak awal kepemimpinannya, pihaknya terus melakukan penanaman pohon cemara udang di tepi pantai utara, seperti kawasan Bulak, Kenjeran, hingga sekitar Jembatan Suramadu.?

“Karena daerah tersebut tidak bisa ditanami mangrove sehingga kami memilih menaman pohon cemara udang,” katanya.

Ia menilai kawasan pantai lebih rawan terkena banjir. Ada dua faktor kemungkinan yang dapat menyebabkan wilayah pesisir banjir, yakni intensitas curah hujan tinggi dan timbulnya rob.

“Jadi memang yang daerah-daerah pantai itu menghadapi dua faktor,  curah hujan tinggi sama air rob. Makanya kita harus pintar-pintar menyiasati itu,” ujarnya.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya itu, menuturkan selain membangun tanggul untuk penghadang rob, penanaman pohon cemara udang juga penting sebagai metode pemecah ombak besar.

Dia mengharapkan pohon tersebut dapat mengurangi derasnya ombak sebelum mencapai daratan.

Ia mengatakan jika di luar negeri mereka biasa menggunakan alat konstruksi bangunan untuk memecah derasnya ombak sebelum mencapai daratan.

Namun, karena harganya realatif mahal, ia kemudian memilih menanam pohon cemara udang sebagai salah satu solusi.?

“Kalau yang mangrove, maka ombak dihadapi mangrove, tapi yang daerah-daerah seperti Bulak, Kenjeran, sekitaran Jembatan Suroboyo kan tidak bisa, makanya kita tanam cemara udang,” katanya.

Dia mengatakan pohon cemara udang memiliki struktur batang yang kuat dan proses penanamannya juga mudah.

Apalagi, katanya, pohon tersebut juga dapat membuat kawasan pesisir utara menjadi lebih rindang.

“Kira-kira lima tahunan sudah besar. Kita terus tanami itu, tambah makin maju, makin maju ke laut, untuk nanggkal pemecah ombak,” katanya.

Baca juga: Pepohonan cemara udang Pantai Bantul terancam hilang

Baca juga: Menteri Susi tinjau pemecah ombak di Jember

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rejang Lebong-Bengkulu termasuk habitat bunga rafflesia, sebut BKSDA

Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Bengkulu-Lampung mengatakan wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu termasuk salah satu habitat bunga rafflesia arnoldii.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Kantor Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu yang berada di Rejang Lebong, Hayu, Jumat mengatakan ditemukannya bungai rafflesia arnoldii yang tumbuh di daerah itu menunjukkan jika Kabupaten Rejang Lebong termasuk habitat puspa langka yang dilindungi tersebut.

“Jika melihat mekarnya bunga rafflesia dalam beberapa lokasi di Kabupaten Rejang Lebong dalam beberapa tahun belakangan menunjukkan jika daerah ini termasuk habitat dari bunga rafflesia arnoldii,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam dua tahun belakangan pihaknya setidaknya sudah empat kali menerima laporan dari masyarakat di beberapa di Rejang Lebong yang melaporkan temuan bunga rafflesia yang mekar di tempat meraka, di antaranya pada 2017 di Hutan Lindung Bukit Balai Rejang dan di Desa Pal Batu, Kecamatan Selupu Rejang.

Sedangkan pada 2018, ada di Desa Air Dingin, Kecamatan Sindang Kelingi dan Desa Dataran Tapus, Kecamatan Bermani Ulu Raya, dan yang terbaru ditemukan mekar di Desa Kampung Melayu, Kecamatan Bermani Ulu pada Rabu (23/1).

“Di Desa Kampung Melayu ini kami baru tahu ini, dan rencananya kami akan ke lokasi untuk mengeceknya. Untuk menjaga kelestariannya, agar diperhatikan inang atau tempat bunga ini tumbuh agar tidak dirusak sehingga nantinya bisa tumbuh lagi,” kata Hayu.

Tanaman ini tumbuh setelah melakukan simbiosis yang terdiri dari akar dan pohon sebagai tempatnya inangnya menempel. Untuk itu inang pada pohon ini jangan sampai mati agar nantinya bunga endemik Bengkulu itu bisa kembali tumbuh di Rejang Lebong.

Sementara itu, itu sebaran bungan rafflesia arnoldii di Bengkulu di antaranya berada di cagar alam Taba Penanjung, cagar alam Pagar Gunung dan cagar alam Bukit Kaba. Selain itu, bunga ini juga sering tumbuh di kebun milik warga di luar kawasan hutan lindung.

Baca juga: Bunga bangkai mekar di lahan pertanian warga

Baca juga: Rafflesia Arnoldii mekar di Bukit Daun Bengkulu

Baca juga: Bengkulu ajak warga lestarikan habitat rafflesia arnoldii

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PLG Saree amankan gajah liar

Mahout Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menunggangi gajah jinak untuk menarik gajah liar (kiri) yang diamankan sementara di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, Aceh, Jumat (25/1/2019). BKSDA Aceh terpaksa mengamankan gajah liar yang diberi nama Septi karena merusak perkebunan warga di Kota Subulussalam. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/foc.

Semua pihak diajak Forina selamatkan orangutan

Pontianak, (ANTARA News) – Forum Orangutan Indonesia (Forina) mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama-sama dalam menjaga dan menyelamatkan satwa dilindungi, yakni orangutan.

“Khusus di Kalimantan Barat, ada dua sub spesies orangutan, yakni Pongo Pygmaeus Morio di utara Sungai Kapuas, dan Pongo Pygmaeus Wurmbii yang berada di selatan Kalbar,” kata Ketua Forina Aldrianto Priadjadti di Pontianak, Jumat.

Ia menjelaskan, di dua kawasan itu ada meta populasi (kelompok populasi) yang harus dijaga benar-benar agar populasi orangutan di Kalbar tidak sampai terancam, bahkan punah.

“Terutama meta populasi orangutan antarnegara seperti di Kabupaten Bengkayang, kemudian ada meta populasi di TNBK (Taman Nasional Netung Kerihun) di Kabupaten Kapuas Hulu yang tantangannya juga sangat besar, karena ada pengembangan perkebunan,” katanya.

Ia menambahkan, meta populasi orangutan tersebut harus dipetakan dan dijaga kelestariannya. “Untuk penjagaan tersebut tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan semua pihak, mulai dari pengambil kebijakan, sektor swasta, LSM, akademisi dan pemerhati lingkungan,” katanya.

Menurut dia, kalau meta populasi tersebut tidak diselamatkan, maka orangutan akan terencam punah. “Sementara populasi orangutan yang kecil-kecil mari kita carikan solusinya agar orangutan tidak terus terancam,” ujarnya.

Sementara itu, populasi orangutan, menurut data Forina di Pulau Kalimantan, yakni untuk jenis Pongo Pygmaeus Morio sebanyak 14.630 individu populasi liar di Kalimantan, kemudian jenis Pongo pygmaeus wurmbii sebanyak 38.200 individu (sekitar 2.760 individu di Kalbar, Kalteng, dan beberapa di Kalsel).

Sementara itu, Kasubag TU BKSDA Kalbar, Lidia Lili menyatakan, sekitar 90 persen orangutan berada di luar kawasan hutan lindung dan konservasi sehingga rawan konflik dengan manusia.

“Untuk menyelamatkan orangutan tersebut, maka dibutuhkan komitmen bersama dalam melindungi habitat orangutan itu agar tidak rusak atau tetap ada,” katanya.

Ia menjelaskan, orangutan adalah satwa yang harus dilindungi semua pihak, karena hanya ada di Indonesia dan sebagian kecil di Malaysia, dan di Indonesia hanya ada di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Baca juga: Peneliti: kondisi populasi orangutan Kalimantan kritis

Baca juga: BKSDA Kalimantan Barat sita orangutan dan kucing hutan

Baca juga: Ditemukan habitat orangutan di pembukaan lahan tanpa izin

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

90 persen orangutan berada di luar hutan lindung

 Pontianak  (ANTARA News) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat menyatakan, sekitar 90 persen orangutan berada di luar kawasan hutan lindung dan konservasi sehingga rawan konflik dengan manusia.

 “Sehingga untuk menyelamatkan orangutan tersebut dibutuhkan komitmen bersama dalam melindungi habitat orangutan itu agar tidak rusak atau tetap ada,” kata Kasubag TU BKSDA Kalbar, Lidia Lili di Pontianak, Jumat.

 Ia menjelaskan, orangutan adalah satwa yang harus dilindungi semua pihak, karena hanya ada di Indonesia dan sebagian kecil di Malaysia. Di Indonesia pun hanya ada di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

 “Dengan semakin majunya pemukiman, pembangunan jalan yang membuka daerah-daerah yang terisolasi serta kawasan hutan, kemudian perluasan perkebunan dan tambang tidak dipungkiri semakin mempersempit ruang gerak orangutan tersebut,” ungkapnya.

  Saat ini yang bisa dilakukan, yakni bagaimana memperlambat dan memperkecil dampak dari aktivitas manusia.

  “Sehingga ke depannya semua pihak harus bersinergi dengan baik dalam mencegah agar orangutan tidak semakin terjepit dan terus bisa hidup aman serta dilindungi agar tidak punah,” ujarnya.

 Memang, menurut dia, tidak mudah untuk melakukan hal tersebut, karena itu, pihaknya mengundang berbagai pihak, mulai dari pengambil kebijakan, LSM peduli orangutan, pemerhati, akademisi dan pelaku usaha seperti dari pihak perkebunan dan tambang untuk hadir dalam acara diseminasi kehidupan orangutan di lanskap multifungsi pada Jumat ini.

 “Artinya dalam melindungi orangutan butuh dukungan semua pihak, karena kami tidak bisa bekerja sendiri dalam hal ini,” katanya.

 Sebelumnya, Acting Manager Protected and Conserved Areas sekaligus focal point untuk spesies orangutan WWF-Indonesia, Albertus Tjiu mengatakan upaya penetapan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) satwa liar yang saat ini dibahas secara langsung akan berkontribusi dalam mendukung target pencapaian nasional yang tertuang di dalam dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) orangutan dan bekantan.

 Hal itu, termasuk merespon rekomendasi dari laporan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016 yang menyebutkan salah satu meta-populasi orangutan, yaitu Pygmaeus Fragmented South yang datanya masih belum tersedia.

  “Koridor orangutan yang dimaksud adalah bagian meta-populasi untuk jenis pygmaeus. Dengan demikian, Kalbar telah berupaya menjalankan rencana aksi di level nasional ke tingkat sub-nasional, sekaligus menjawab rekomendasi PHVA 2016,” ujar Albert.

Baca juga: Orangutan berkeliaran di kebun warga ditangkap BKSDA Kalteng
Baca juga: orangutan sumatera yang terisolasi ditranslokasikan BKSDA Aceh

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pertamina bantu pelestarian gajah sumatera, elang bondol

Jakarta (ANTARA News) – PT Pertamina (Persero) menyalurkan bantuan Rp1 miliar yang terkumpul dari hasil penjualan tiket Pertamina Eco Run Desember 2018 untuk upaya pelestarian gajah sumatera dan elang bondol.

“Donasi yang diperoleh dari partisipasi masyarakat yang turut serta dalam Pertamina Eco Run akan disalurkan untuk melestarikan dua satwa yaitu elang bondol dan gajah sumatera, masing-masing sekitar Rp 549 juta,” kata Manajer Komunikasi Media Pertamina Arya Dwi Paramita dalam siaran pers perusahaan.

Sumbangan untuk konservasi gajah sumatera disalurkan ke Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli. 

Arya mengatakan Marketing Operation Region (MOR) 1 Pertamina bekerja sama dengan Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli selaku pemangku Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) di Kabupaten Simalungun menetapkan peta jalan perlindungan gajah sumatera dari 2017 hingga 2021. 

Perusahaan pada 2017 telah membantu penanaman tumbuhan pakan gajah, serta penyediaan klinik gajah. Tahun 2018 perusahaan membantu pemasangan papan informasi, edukasi serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung konservasi gajah.

Selanjutnya, pada 2019, perusahaan akan mendukung pembangunan sarana produksi biogas dari kotoran gajah dan pemberdayaan ekonomi kader kelompok peduli gajah.

“Hingga tahun 2021, Pertamina berharap program CSR Kehati ini akan menciptakan ekosistem alami untuk gajah sumatera berkembang biak,” kata Arya.

Baca juga:
Bengkulu segera jalankan program koridor gajah sumatera
Dukungan internasional mengalir untuk pelestarian gajah sumatera

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Lhokseumawe terima sanca batik tangkapan pekerja

Lhokseumawe (ANTARA News) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe menerima satu ular sanca batik (Python reticulatus) tangkapan pekerja PT Perta Arun Gas.

Menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe Dedi Irvansyah di Lhokseumawe, Kamis malam, ular sanca batik berbobot tujuh kilogram yang panjangnya 4,5 meter itu ditangkap oleh pekerja di kompleks perusahaan.

Dedi mengungkapkan dalam sebulan terakhir ular sering ditemukan di area perusahaan itu, membuat para pekerja resah.

Menurut dia ular berkeliaran di kompleks PT Perta Arun Gas karena lingkungan tersebut kondusif bagi perkembangan ular.

Oleh karena itu, besar harapan PT PAG agar dilakukan penangkapan ular di area tersebut supaya tidak menjadi ancaman serius bagi pekerja, kata Dedi Irvansyah.

Baca juga:
Warga Surabaya digegerkan penemuan 2 ular sanca
Polisi amankan ular sanca selundupan

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perawatan bayi Siamang

PERAWATAN BAYI SIAMANG

Dokter hewan dan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memeriksa kondisi kesehatan bayi Siamang (Symphalangus syndactylus) di kandang rehabilitasi BKSDA, Banda Aceh, Aceh, Kamis (24/1/2019). Bayi Siamang yang diberi nama Billy merupakan satwa langka dan dilindungi yang disita BKSDA dari warga di Kabupaten Pidie. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/wsj.

Ratusan pohon perindang ditambah di Yogyakarta

Yogyakarta, (ANTARA News) – Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta akan menambah 500 pohon perindang tahun ini yang akan ditanam di beberapa lokasi, khususnya di tepi jalan.

“Untuk lokasinya sudah ada, namun kami tetap harus melihat secara langsung apakah di lokasi tersebut memungkinkan atau tidak untuk ditanami pohon perindang,” kata Kepala Seksi Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Pramu Haryanto, di Yogyakarta, Kamis. 

Menurut dia, di Kota Yogyakarta memang tidak ada lokasi yang benar-benar ideal untuk ditanami pohon perindang, namun lokasi yang dinilai mendekati ideal masih ada di beberapa titik.

DLH, lanjut Pramu, akan memastikan bahwa di lokasi yang akan ditanami pohon perindang bebas dari gangguan, yaitu tidak berada di dekat saluran air limbah atau saluran air hujan, serta tidak berada di dekat jaringan listrik atau telepon.

“Kami pun tidak akan melakukan penanaman pohon perindang di dekat lampu lalu lintas karena dikhawatirkan pertumbuhan pohon bisa menutupi lampu lalu lintas dan kemudian mengganggu pengguna jalan,” katanya.

Sebagian besar pohon perindang, lanjut dia, akan ditanam di tepi trotoar sehingga lokasi penanaman diusahakan tidak mengganggu pejalan kaki atau pengguna jalan lainnya. DLH akan memilih trotoar yang cukup lebar untuk menanam pohon.

“Kalau trotoarnya sudah kecil, maka tidak akan ditanami perindang. Mencari lokasi yang ideal memang cukup sulit, tetapi kami tetap usahakan untuk terus memperbanyak pohon perindang di Kota Yogyakarta,” kata Pramu. 

Pada tahun 2018 DLH Kota Yogyakarta juga menambah sekitar 500 pohon perindang sehingga saat ini jumlah pohon perindang mencapai sekitar 18.000 pohon.

Pohon perindang milik Pemerintah Kota Yogyakarta biasanya diberi tanda, yaitu sebagian batang pohon dicat putih.

“Artinya, pohon itu adalah pohon perindang milik Pemerintah Kota Yogyakarta dan tidak bisa ditebang sembarangan,” katanya.

Sementara itu, jenis pohon perindang yang disiapkan tahun ini di antaranya adalah gayam untuk ditanam di Jalan Gayam, atau kenari untuk ditanam di Jalan Kenari.

“Tujuannya adalah menegaskan karakteristik kawasan, katanya.

Selain itu, DLH juga menyiapkan beberapa jenis pohon perindang seperti tanjung dan tabebuya, serta angsana.

Total anggaran yang dialokasikan tahun ini untuk penambahan pohon perindang mencapai sekitar Rp60 juta, demikian Pramu Haryanto.

Baca juga: Yogyakarta tanam pohon langka sebagai identitas wilayah

Baca juga: Pohon buah-buahan hijaukan Stasiun di Yogyakarta

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penyitaan Orangutan peliharaan warga

Petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Aceh bersama Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) memeriksa Orangutan Sumatera (Pongo abelii) peliharaan warga sebelum disita di Desa Suka Makmur, Kecamatan Indra Makmur, Aceh Timur, Aceh, Rabu (23/1/2019). Petugas terkait menyita dan mengevakuasi hewan dilindungi tersebut untuk mendapat perawatan lebih lanjut. ANTARA FOTO/Zamzami/foc.

Orangutan peliharaan warga aceh disita

(Antara)-Sebuah organisasi penyelamat orangutan  mengevakuasi seekor orangutan, yang dipelihara warga di Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh. Hewan langka yang dilindungi itu, rencananya akan dirawat di pusat karantina Orangutan Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.