Aktivis kritik penggunaan cenderawasih dalam kampanye Pemilu Papua

Jayapura  (ANTARA News) – Aktivis lingkungan  Yasminta Ridhian Wasaraka mengkritik penggunaan bulu burung Cenderawasih yang dibuat menjadi ikat kepala atau atribut lainnya untuk berkampanye dalam pemilu 2019 di Papua.

 “Selalu begitu, setiap ada Pemilu semua ingin dihormati, ingin dianggap merakyat dengan simbol ketokohan. Ikat kepala atau mahkota yang terbuat dari bulu burung Cenderawasih lantas dipakai sebagai pemanis, dan bukan satu tapi banyak sekali,” katanya di Kota Jayapura, Papua, Rabu.

 Kritikan ini sengaja dilontarkan oleh pengurus Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG) Jayapura itu terkait maraknya baliho, spanduk, hingga stiker para politisi yang akan bertarung dalam pemilu legislatif 2019.

 Ia menyebut bahwa seharusnya sudah ada paradigma baru dalam berkampanye yang juga memiliki poin positif dalam lingkungan, sehingga tak perlu menyematkan atribut yang diambil dari satwa yang sesungguhnya dilindungi.

 “Cenderawasih sudah jelas dilindungi dan saya heran kalau para calon wakil kita ini menggunakan dengan mudahnya hanya untuk menunjukkan jika ia memiliki kedekatan dengan masyarakat atau merasa diri tokoh Papua padahal menggunakan atribut dari satwa dilindungi,” katanya yang akrab disapa Dian.

 Dian yang juga Sekretaris Eksekutif Rumah Belajar Papua atau akrab disebut RBP ini mengajak agar para calon wakil rakyat lebih elegan dalam berkampanye, sehingga bisa mendapatkan simpati dari para pemilih.

 “Silahkan kita nilai calon wakil yang seperti ini,” ujar Dian yang dalam waktu dekat ini akan meluncurkan buku tentang Suku Korowai.

 Senada itu disampaikan Ketua FPPNG Fredy Wanda bahwa ada cara lain yang bisa digunakan untuk diterima masyarakat tanpa harus menunjukkan sikap yang tak mendukung isu konservasi.

 “Saya pikir dunia mengakui jika Cenderawasih dilindungi dan Pak Gubernur Papua juga sudah menyatakan itu lewat surat edaran bahkan Menteri KLHK juga menyetujui petisi tentang pelarangan mahkota Cenderawasih dan segala sesuatu yang berkaitan dengan satwa endemik yang dilindungi,” katanya.

 Untuk itu, mantan polisi hutan itu meminta kepada publik agar memberi penilaian terhadap calon wakil rakyat yang tidak bijak dengan kebanggaan Papua itu.

 “Ada noken yang sudah membumi, kenapa bukan itu saja yang dipakai. Saya pikir kita perlu bijak dalam bersikap dengan memberi dukungan pada pelestarian satwa dilindungi apalagi mahkota inikan budaya Papua dan sebaiknya ?jangan dikaitkan dengan politik,” katanya.

Baca juga: Kapolri imbau partai dan caleg lakukan kampanye santun
 Baca juga: Bawaslu: ASN tidak diperkenankan pakai atribut kampanye

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019