9.000 pohon berhasil ditanam melalui gerakan memungut sehelai sampah

Hampir semua pohon yang ditanam merupakan tanaman khas sungai

Samarinda (ANTARA) – Komunitas pecinta sungai yang tergabung dalam Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda, Kalimantan Timur, sejak 2016 hingga saat ini telah berhasil menanam sekitar 9.000 pohon di ruang sungai.

“Pohon yang kami tanam ini berada di jalur hijau kanan maupun kiri Sungai Karang Mumus dengan ruang yang termanfaatkan baru sekitar 1,5 km di kedua sisinya, sehingga masih luas ruang yang belum tertanami,” kata Ketua GMSS-SKM Samarinda, Misman, di Samarinda, akhir pekan lalu.

Penanaman pohon sebanyak itu, kata dia,  belum termasuk hasil sulam karena yang harus dihitung adalah pohon yang tumbuh, bukan asal tanam lantas dihitung.

“Hampir semua pohon yang ditanam merupakan tanaman khas sungai,” katanya.

Untuk memastikan pohon dapat tumbuh dengan baik, maka ia bersama anggotanya dan masyarakat yang peduli terhadap kebersihan air dan fungsi sungai kerap merawat pohon tersebut, baik merawat dengan cara menyiram, membersihkan rumput di sekitar pohon yang masih kecil, maupun menyulam tanaman yang mati.

Ia mengakui bahwa penanaman pohon sebanyak itu tidak dilakukan seorang diri, namun banyak juga masyarakat perseorangan maupun atas nama kelompok dan lembaga yang datang untuk membantu. Bahkan ada juga bantuan bibit pohon dari dinas dan lembaga.

“Kelompok yang datang untuk menanam cukup banyak dan berasal dari berbagai latar belakang baik mahasiswa, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan lainnya. Mereka biasanya melakukan giat di momentum tertentu seperti peringatan lembaganya, peringatan Hari Air, Hari Bumi, dan berbagai momentum lain,” katanya.

Dari banyaknya kelompok yang datang menanam pohon tersebut, kata dia, banyak yang tidak datang lagi untuk merawat tanamannya, hanya sedikit dari mereka yang datang kembali untuk merawat maupun membantu pembibitan.

Ia mengaku tidak masalah mereka mau kembali atau tidak. Jika ada yang kembali, maka apreasiasi tinggi ia ucapkan karena gerakan ini merupakan inisiatif pribadi yang dilandasi dari kesadaran terhadap lingkungan.

“Kalau tidak ada komunitas yang datang, ya dengan beberapa anggota saja kita merawat maupun membibitkan, terutama dengan Mas Yus (Yustinus – salah seorang pengurus GMSS-SKM). Kalau pun semua lagi ada kerjaan lain, ya saya sendiri merawat semampunya,” ucap Misman.

Dalam usaha menciptakan hutan kota dari jalur SKM demi kemaslahatan umat, ia mengaku senang jika ada lembaga maupun pemerintah yang mengapresiasi apalagi membantu, namun jika tidak ada yang membantu pun, itu bukan masalah karena ia akan terus berbuat semampunya. 

Baca juga: Normalisasi Sungai Karang Mumus solusi anggulangi banjir di Samarinda

Baca juga: Ekologi sungai Karang Mumus di Samarinda alami kerusakan

Baca juga: Pegiat lingkungan benahi ekosistem sungai karang Mumus

Pewarta: M.Ghofar
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Harimau korban jerat hanya mau minum air gambut.

Pekanbaru (ANTARA) – Harimau sumatera yang terjerat kawat baja beberapa waktu lalu ternyata hanya mau minum air khusus, yakni air gambut yang diambil dari Kabupaten Pelalawan.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono di Pekanbaru, baru-baru ini mengatakan awalnya harimau yang diberi nama Inung Rio diberi air jernih biasa namun ternyata tidak disukai.

“Setelah kami berikan air gambut yang jernih, harimau itu langsung minum dan berendam. Mungkin dia sudah akrab dengan aromanya,” kata Suharyono.

Dia mengatakan harimau sumatera yang hidup di kawasan hutan gambut berbeda dengan macan yang hidup di pegunungan.

Menurutnya, warna dan ukuran harimau yang hidup di kawasan hutan bergambut berukuran lebih besar dan warnanya agak gelap dibanding harimau yang hidup di pegunungan.

Saat ini tim BKSDA rutin mengambil air gambut dari Kabupaten Pelalawan yang merupakan daerah terdekat dengan lokasi Inung Rio.

Selain itu, harimau sumatera yang dievakuasi dari kawasan hutan restorasi ekosistem di Provinsi Riau akibat terjerat kawat baja ternyata mengalami luka-luka parah dan juga mengidap tumor.

“Diagnosa sementara saat ini adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh luka terbuka di kaki kiri, dan infeksi organ hepatika atau hati akan dilakukan diagnostik lanjutan untuk memperkuat diagnosa sementara,” kata Suharyono.

Sebelumnya, harimau sumatera terjerat di kawasan restorasi ekosistem Riau (RER) yang dikelola PT Gemilang Cipta Nusantara (GCN) di Desa Sangar Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, pada pekan lalu.

Untuk mengevakuasi harimau nahas dari lokasi terjerat tersebut membutuhkan waktu selama 22 jam yang harus ditempuh menggunakan perahu kecil dan kemudian dilanjutkan menggunakan kendaraan darat.

Harimau jantan yang diperkirakan berusia 3-4 tahun itu terluka parah di kaki depan bagian kirinya. Saat ini kondisi harimau sudah mulai membaik dan diharapkan terus membaik.

Baca juga: Empat kamera dipasang untuk deteksi harimau sumatra
Baca juga: Pembunuh tiga harimau sumatera divonis tiga tahun
Baca juga: Harimau dan singa di Taman Rimba Jambi mati

Pewarta: Riski Maruto
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pohon cemara udang dimanfaatkan atasi abrasi Pesisir Selatan-Sumbar

Dampak abrasi pantai, angin kencang hingga tsunami bisa diminimalkan jika terdapat pepohonan yang tumbuh subur di sepanjang pantai

Painan (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, memanfaatkan pohon cemara udang  (Casuarina equisetifolia) untuk mengatasi persoalan abrasi yang mengancam pemukiman masyarakat di pinggir pantai serta antisipasi bencana tsunami.

“Dampak abrasi pantai, angin kencang hingga tsunami bisa diminimalkan jika terdapat pepohonan yang tumbuh subur di sepanjang pantai,” kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten setempat, Muskamal di Pantai Sago, Pesisir Selatan, Sabtu.

Ia mengatakan itu usai mencanangkan penanaman sejuta pohon dalam upaya meminimalkan dampak bencana alam di pinggir pantai pada daerah setempat.

Kabupaten Pesisir Selatan memiliki garis pantai terpanjang di Sumatera Barat. Selama ini daerah itu belum melaksanakan upaya meminimalkan dampak bencana secara permanen.

“Pesisir Selatan memiliki garis pantai lebih kurang 218 kilo meter, situasi ini perlu diwaspadai dan pencanangan penanaman seribu pohon merupakan upaya meminimalkan bencana secara permanen,” katanya.

Cemara udang, katanya, merupakan tanaman yang dipilih pada kegiatan itu karena selain cocok ditanam di pinggir pantai akarnya yang kuat dan daunnya yang rindang dimungkinkan dapat meminimalkan dampak abrasi pantai dan angin kencang.

Hanya saja, menurutnya, kegiatan itu tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya campur tangan dari masyarakat sekitar.

“Butuh waktu bertahun-tahun agar pohon cemara udang tumbuh besar dan dalam hal ini tentu butuh keikutsertaan masyarakat menjaganya,” katanya.

Sementara itu, Komandan Kodim 0311/Pesisir Selatan, Letkol (Kav) Edwin Dwiguspana mengatakan di sepanjang pantai di daerah setempat akan ditanam sebanyak 250.000 batang cemara udang.

“Hari ini merupakan penanaman cemara udang tingkat kabupaten dan berikutnya akan dilakukan tingkat kecamatan dan nagari,” katanya.

Selain Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten Pesisir Selatan, Muskamal dan Komandan Kodim 0311/Pesisir Selatan, Letkol (Kav) Edwin Dwiguspana pada kesempatan itu juga hadir pejabat daerah lainnya dan disaksikan oleh ratusan masyarakat.

Baca juga: BNPB apresiasi tanam cemara udang sepanjang pantai Sumbar

Pewarta: Miko Elfisha
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penanaman pohon di pantai dukung pengembangan wisata Pariaman-Sumbar

Wilayah pantai Kecamatan Pariaman Tengah dan Kecamatan Pariaman Selatan sudah rindang, sekarang tinggal di bagian Kecamatan Pariaman Utara

Padang, (ANTARA) – Sekretaris Daerah Kota Pariaman, Sumatera Barat, Indra Sakti mengatakan penanaman ribuan pohon di sepanjang pantai kota itu dapat mendukung rencana pemkot dalam mengembangkan wisata di daerah itu.

“Wilayah pantai Kecamatan Pariaman Tengah dan Kecamatan Pariaman Selatan sudah rindang, sekarang tinggal di bagian Kecamatan Pariaman Utara,” katanya usai penanaman pohon di Pantai Ampalu Pariaman, Sabtu.

Menurut dia pantai bagian Pariaman Tengah dan Selatan tersebut telah menjadi objek wisata serta ramai dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah.

Ia mengatakan dengan adanya penanaman pohon tersebut maka sepanjang Pantai Pariaman akan menjadi objek wisata yang mana masing-masing lokasi memiliki karakter tersendiri.

Ia menyebutkan untuk wilayah Pariaman Tengah merupakan lokasi wisata pemuda sedangkan untuk wilayah Sunua atau selatan dan Nareh atau utara akan disiapkan oleh pemerintah kota itu .

“Nanti lokasinya kami siapkan sehingga dapat menarik wisatawan,” katanya.

Menurutnya dengan adanya skema tersebut maka untuk menikmati objek wisata di Kota Pariaman tidak cukup satu hari saja.

“Bisa saja wisatawan membutuhkan waktu tiga hari untuk menikmati objek wisata di Pariaman,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, lanjutnya pihaknya juga menyiapkan penginapan yang representatif guna menunjang pertumbuhan wisata di Kota Pariaman.

Sebelumnya, Komando Distrik Militer (Kodim) 0308 Pariaman bersama Pemerintah Kota Pariaman menanam 1.500 batang pohon di pantai daerah itu guna mengantisipasi bencana alam.

“Penanaman pohon ini merupakan program Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” kata Dandim 0308 Pariaman Letkol (Arm) Heri Pujiyanto saat penanaman pohon di Pantai Ampalu Pariaman, Sabtu.

Ia mengatakan penanaman tersebut merupakan salah satu upaya untuk mitigasi bencana karena Sumbar berpotensi tsunami.

Baca juga: Pariaman bangun jalur penelusuran wisata mangrove

Pewarta: Altas Maulana
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ribuan bibit bakau ditanam di Kabupaten Badung, Bali

Dari sekitar 5.000 bibit bakau yang ditanam, terdapat 10 pohon bakau yang merupakan tanaman mangrove langka jenis Banang-Banang

Badung (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Badung, Provinsi Bali, melakukan penanaman 5.000 bibit bakau (mangrove) saat aksi bertajuk “Badung Peduli Lingkungan, 5000 Mangrove Berjuta Manfaat” di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Patasari Kuta, Badung.

“Kegiatan pelestarian lingkungan ini merupakan wujud nyata dari pro lingkungan, yang merupakan salah satu dari enam prinsip dasar pembangunan di Badung, yaitu Pro Growth, Pro Poor, Pro Job, Pro Law Enforcement, Pro Environment dan Pro Culture,” kata Bupati Badung, Giri Prasta, Jumat, di Badung.

Dari sekitar 5.000 bibit bakau yang ditanam, terdapat 10 pohon bakau yang merupakan tanaman mangrove langka jenis Banang-Banang.

Selain itu, dalam kegiatan tersebut dilakukan pelepasliaran satwa spesies hutan mangrove, yaitu seekor burung berjenis elang bio, 25 ekor burung tekukur, tujuh ekor biawak, dua ekor kura-kura dan seekor empas atau bulus.

Selain dihadiri Bupati Giri Prasta, kegiatan itu juga dihadiri Wabup Badung, Ketut Suiasa, Sekda Badung I Wayan Adi Arnawa dan ratusan peserta yang terdiri dari aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Badung, lembaga masyarakat, pemuda serta warga masyarakat.

Bupati menjelaskan, kegiatan itu sekaligus merupakan bentuk komitmen Pemkab Badung dalam pengamalan ajaran Tri Hita Karana, atau tiga sebab yang membuat manusia bahagia, khususnya pada hubungan harmonis antara manusia dengan alam.

“Ini implementasi Tri Hita Karana yang wajib dilakukan. Hubungan manusia dengan lingkungan ini salah satu bentuk riilnya adalah normalisasi sungai yang telah kita lakukan dan penanaman hutan mangrove,” katanya.

Menurutnya, upaya menjaga kawasan hutan mangrove harus senantiasa digelorakan, karena itu merupakan salah satu langkah normalisasi, yaitu bagaimana membuat kawasan yang tidak normal menjadi kembali normal. Selain itu, sedimentasi yang terjadi di muara, menurutnya, harus diangkat, sehingga tidak terjadi banjir rob.

“Kami berkomitmen kebijakan pro lingkungan akan terus dikembangkan. Yaitu, dengan melakukan rebosisasi di daerah aliran sungai (DAS0 di hulu, bersama dengan pekaseh subak,” katanya.

“Mangrove merupakan salah satu paru-paru dunia, jadi kami harus jaga. Kebijakan pro lingkungan ini adalah komitmen kami sedari awal, jadi diawali dulu di daerah pesisir atau hutan mangrove, nanti kami akan telusuri juga ke hulu untuk melakukan reboisasi,” kata Giri Prasta.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DLHK) Kabupaten Badung, I Putu Eka Merthawan, menjelaskan, aksi penanaman pohon tersebut merupakan inovasi nyata dari Bupati Giri Prasta, yang mengadopsi konsep Badung darurat berbenah.

Kegiatan tersebut terfokus pada prinsip kelima Kabupaten Badung, yaitu Badung Pro-Environment atau peduli lingkungan dengan berbasis pada pembangunan berkelanjutan.

“Diharapkan pohon yang ditanam ini bisa hidup sekitar 70-80 persen dengan perawatan dari nelayan. Apabila dibandingkan ditempat lain harapan hidupnya hanya 10 persen,” katanya.

Baca juga: Hutan Bakau Bali Terbaik di Asia

Baca juga: LPPM Unud tanam 3.000 pohon bakau

Pewarta: Naufal Fikri Yusuf
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

16 ribu bibit ikan garing ditebar di dua lubuk larangan Agam-Sumbar

Penebaran bibit ikan garing itu dalan rangka melestarikan ikan endemik dari Sumbar, karena ikan itu sudah mulai punah

Lubukbasung, (ANTARA) – Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Agam, Sumatera Barat menebar sebanyak 16 ribu bibit ikan garing (Tor Tambroides) di dua lubuk larangan di Batu Hampa, Nagari Manggopoh, Kecamatan Lubukbasung.

Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Ermanto di Lubukbasung, Kamis, mengatakan sebanyak 16 ribu bibit ikan garing ini ditebar ke lubuk larangan milik Kelompok Garuda Mas dan lubuk larangan milik Mushala Al Muttakin.

“Masing-masing lubuk larangan mendapatkan bantuan 8 ribu ekor dan bibit ini merupakan bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar,” katanya.

Ia mengatakan, bantuan ini berdasarkan permohonan yang diajukan kelompok tersebut ke DPKP setempat.

Setelah itu permohonan tersebut disikapi dan bibit ikan itu langsung diantar ke lokasi lubuk larangan.

Penebaran bibit ikan garing itu dalan rangka melestarikan ikan endemik dari Sumbar, karena ikan itu sudah mulai punah.

Selain itu juga untuk meningkatkan ekononi masyarakat sekitar lubuk larangan, karena lokasi itu akan menjadi destinasi wisata baru.

“Rencananya salah satu lubuk larangan ini akan kita kirim saat penilaian lubuk larangan tingkat provinsi pada akhir 2019,” kata dia.

Staf Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Eni Rice menambahkan pada 2019 sebanyak 12 lubuk larangan di lima kabupaten mendapatkan bantuan ikan garing itu.

Kelima kabupaten itu yakni Kabupaten Agam dua lubuk larangan, Sijunjung dua lubuk larangan, Limapuluh Kota dua lubuk laranga , Solok Selatan dua lubuk larangan dan Tanah Datar dua lubuk larangan.

“Masing masing lubuk larangan mendapatkan 8 ribu ekot bibit ikan garing,” katanya.

Baca juga: Sumbar buat aturan untuk selamatkan ikan bilih

Baca juga: Pemkab Agam bakal patenkan gurami masang

Pewarta: Altas Maulana
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

KEE di Berau Kaltim berupaya jadi model penyelamatan orang utan

Samarinda (ANTARA) – Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) koridor orang utan liar di Wehea-Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur berupaya menjadi model dalam penyelamatan orang utan dan habitatnya.

“Keberhasilan KEE Wehea-Kelay saat ini adalah terwujudnya basis data potensi populasi orang utan dan keanekaragaman hayati lain. Data ini yang akan dijadikan rujukan penyusunan Rencana Aksi Forum KEE 2019-2021,” ujar Manajer Kemitraan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Edy Sudiono di Samarinda, Jumat.

Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) koridor orang utan liar di Wehea-Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, memfokuskan kegiatan  pada tiga aktivitas, yakni mengutamakan pengelolaan terbaik, menjaga fungsi lindung, dan pengelolaan kolaboratif skala bentang alam.

KEE Wehea-Kelay diperkuat oleh Surat Keputusan Gubernur yang dikeluarkan pada 2016 lalu tentang forum pengelolaan KEE, sehingga dalam kegiatannya lebih fokus ke forum kolaboratif untuk pengelolaan habitat orang utan berbasis bentang alam secara lestari.

Fokus kerja sama dalam pengelolaan ini tentu untuk mempermudah penanganannya, apalagi kesepakatan para pihak sudah dibangun di tingkat tapak dengan bahasa yang sama, yaitu perlindungan orang utan secara kolaboratif, ujar dia.

Ia melanjutkan, berkat kesamaan visi tersebut, maka para pihak yang berada di bentang alam Wehea – Kelay, yakni pemegang konsesi hutan alam, pemegang konsesi hutan tanaman industri, pemegang konsesi kelapa sawit, masyarakat adat Wehea, Pemerintah Kutai Timur, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Pusat dan YKAN, sepakat mengelola habitat secara bersama-sama dengan prinsip berkelanjutan.

YKAN adalah organisasi konservasi yang bermitra dengan pemerintah, masyarakat dan sektor swasta selama lebih dari 25 tahun untuk perlindungan hayati, pengelolaan sumber daya alam dan perubahan iklim demi kepentingan masyarakat dan alam.

Prinsip KEE adalah pengelolaan ekosistem penting di luar kawasan konservasi. Hal ini tentu berpotensi menimbulkan gesekan dengan para pihak yang berkepentingan dalam kawasan esensial tersebut, ujarnya.

Untuk itu, menurut Edy, hal utama yang perlu digarisbawahi dalam pembentukan KEE adalah mencari jawaban dari tiga pertanyaan kunci, yakni pertanyaan yang harus diselesaikan para pemangku kepentingan di calon KEE.

“Pertanyaan itu adalah  apakah proyeksi pengelolaan calon KEE akan efektif? Kemudian, nilai penting apa yang ada di kawasan itu? Dan terakhir, bagaimana membangun pengelolaan areal KEE dengan melakukan manajemen pengelolaan berdasarkan prinsip kelestarian,” katanya.

Proses pencarian jawaban tersebut bisa ditemukan dengan pemetaan para pemangku kepentingan dan diskusi-diskusi panjang untuk memperoleh kesepakatan bersama.

Ia melanjutkan, keberadaan KEE di Kaltim digagas sejak penetapan Hutan Lindung Wehea pada 2005 yang kemudian mendapat pengakuan oleh Gubernur Kaltim pada 2016.

Sementara Kepala Bidang Perencaan dan Pemanfaatan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim, Saleh mengatakan pihaknya membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak dalam program konservasi. Bahkan pihaknya tahun ini akan mengindentifikasi potensi KEE dan membuat peta indikatifnya  bekerja sama dengan mitra kerja.  

Baca juga: BKSDA Aceh evakuasi orangutan dengan kondisi luka tembak
Baca juga: Orangutan berkeliaran di sekitar terminal
 

Pewarta: M.Ghofar
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kasus perdagangan bayi komodo diharapkan Asita diusut tuntas

Pada dasarnya kami sesalkan kasus ini. Dan kami kaget ketika tahu bahwa komodo yang diperjualbelikan itu adalah komodo yang berada di kawasan Balai Taman Nasional Komodo (BTNK)

Kupang (ANTARA) – Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Nusa Tenggara Timur berharap agar pihak kepolisian mengusut hingga tuntas kasus perdagangan bayi satwa purba komodo  (Varanus komodoensis) yang berhasil dibongkar oleh Polda Jawa Timur ketika hendak dikirim ke luar negeri.

“Kami sangat berharap masalah ini diusut sampai tuntas agar jangan sampai aset berharga bagi pariwisata kita ini diambil orang lain,” kata Ketua Asita NTT Abed Frans kepada Antara di Kupang, Jumat.

Ia mengatakan, satwa komodo merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan telah dinobatkan UNESCO sebagai warisan dunia yang hanya ada di Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores.

Untuk itu, lanjutnya, sangat disayangkan jika komodo bisa diperjualbelikan apalagi dengan cara-cara yang tidak sesuai aturan hukum.

“Sehingga semua komodo yang sudah terjual di manapun berada harus diambil kembali, karena ini seharusnya hanya menjadi milik kita yang selama ini menjadi ikon wisata unggulan NTT,” katanya.

Sejalan dengan itu, Kepala Dinas Pariwisata NTT, Wayan Darmawa yang dihubungi terpisah juga menyesalkan adanya kasus jual beli komodo dengan harga per ekor Rp500 juta yang berhasil dibongkar oleh Polda Jawa Timur beberapa waktu lalu.

“Pada dasarnya kami sesalkan kasus ini. Dan kami kaget ketika tahu bahwa komodo yang diperjualbelikan itu adalah komodo yang berada di kawasan Balai Taman Nasional Komodo (BTNK),” kata mantan Kepala Bappeda NTT itu.

Ia menambahkan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dirjen Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait kasus itu.

Selain itu, pihaknya juga sudah dengan Polres Manggarai Barat soal kasus itu dan saat ini Polres setempat tengah melakukan investigasi kasus komodo untuk mengetahui siapa sesungguhnya dalang dibalik aksi tersebut.

Baca juga: KLHK terjunkan tim terpadu tanggapi penyelundupan komodo

Baca juga: DPD-RI minta Kapolri usut jaringan penyelundup bayi Komodo

Baca juga: Enam bayi komodo akan dibawa kembali ke NTT

Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Profauna: Pembalakan liar hutan Apusan ancam kelestarian satwa langka

Malang (ANTARA) – Koordinator Program Konservasi Hutan Dataran Rendah (KHDR) Profauna Indonesia, Erik Yanuar, mengemukakan pembalakan liar di hutan lindung Apusan, Desa Tambakrejo, Kabupaten Malang, mengancam kelestarian rangkong dan lutung jawa, padahal kedua hewan tersebut merupakan satwa langka dan dilindungi.

“Kerusakan Hutan Apusan yang berada di bawah pengelolaan Perhutani ini diperkirakan mencapai 200 hektare dari luas keseluruhan yang mencapai 566,20 hektare. Padahal, hutan ini menjadi habitat berbagai satwa liar dan dilindungi,” kata Erik di Malang, Jawa Timur, Jumat (29/3).

Hutan lindung Apusan di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang ini masuk dalam petak 68B dengan luas total sekitar 566,20 hektare dan merupakan hutan heterogen dataran rendah yang menjadi habitat berbagai jenis satwa liar.

Beberapa satwa yang ada di kawasan hutan Apusan itu termasuk jenis yang kian hari kian, terancam punah yaitu burung rangkong jenis kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris) dan lutung jawa (Trachypithecus auratus). Keberadaan kedua jenis satwa ini terancam dengan adanya deforestasi di Hutan Apusan.

Erik menerangkan burung rangkong dan lutung jawa itu jenis satwa yang sangat tergantung dengan keberadaan hutan yang bagus sebagai tempat tinggal dan mencari makan. Khusus rangkong, burung yang sudah dilindungi ini membutuhkan pohon yang besar dan tinggi sebagai sarangnya.

“Burung rangkong itu burung unik, dia biasanya bersarang di pohon yang diameternya lebih dari 40 cm dan dia akan tinggal dalam lubang pohon untuk menjaga anaknya yang masih bayi,” kata Erik.

Pantauan Profauna Indonesia pada bulan Desember 2018 dan Februari 2019, lanjut Erik, ditemukan dua kelompok lutung jawa dan kangkareng perut putih di hutan Apusan. Satu kelompok lutung itu berangotakan 7 sampai 10 ekor.

Menurut keterangan penduduk Desa Tambakrejo yang dekat dengan hutan Apusan, kata Erik, dulu ketika hutannya masih bagus, burung rangkong bisa dijumpai hingga puluhan ekor.

Selain burung rangkong, jenis burung lainnya yang terpantau ada di Hutan Apusan antara lain elang bido (Spilornis cheela), elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster ), kutilang (Picnonotus aurigaster), terucuk (Picnonotus goiavier), takur tenggeret (Megalaima australis), tohtor (Megalaima armillaris), cekakak sungai (Todirhampus chloris), raja udang biru (Alcedo coerulescens) dan cipoh (Aegithina tiphia), serta monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Oleh karena itu, ujar Erik, Profauna Indonesia menyesalkan pembalakan liar di hutan Apusan yang sudah terjadi dalam setahun terakhir ini dan terkesan terjadi pembiaran oleh petugas Perhutani yang ada. Pembalakan liar itu terjadi secara terbuka dan juga jelas penampungnya. Seharusnya ketika pembalakannya belum meluas, petugas Perhutani sudah mengantisipasinya, tetapi sayang hal itu terkesan dibiarkan saja.

“Kami mendesak agar pembalakan liar itu dihentikan dan dilakukan rehabilitasi hutan yang telah rusak. Apalagi kerusakan hutan. Apusan ini juga menyebabkan keresahan sebagian warga Desa Tambakrejo, karena khawatir dengan dampak bencana banjir dan longsor jika kerusakan hutan Apusan itu terus dibiarkan,” tutur Erik.

Menurut dia, rehabilitasi hutan itu mutlak perlu dilakukan agar fungsi ekologi hutan Apusan menjadi pulih. Profauna mendorong agar rehabilitasi hutan itu melibatkan masyarakat setempat.

“Pembalakan liar itu tidak bisa dibiarkan, harus diusut tuntas siapa aktornya dan penampung kayunya, karena ini sudah masuk kejahatan konservasi sumber daya alam,” kata Siti Nur Hasannah, juru kampanye Profauna Indonesia.

Menurut UU Kehutanan nomor 41 tahun 1999 pasal 50, pelaku perambahan atau penebangan liar di kawasan hutan bisa diancam hukuman penjara 10 tahun dan denda Rp5 miliar.

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Harimau Sumatera yang terjerat juga idap tumor

Tumor ada pada bagian mulut rahang bawah

Pekanbaru (ANTARA) – Harimau sumatera yang dievakuasi dari kawasan hutan restorasi ekosistem di Provinsi Riau akibat terjerat kawat baja, mengalami luka-luka parah dan juga mengidap tumor.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono, menyampaikan hal tersebut di Pekanbaru, Jumat, berdasarkan hasil rekam medik tim medis terhadap harimau yang kini diberi nama Inung Rio itu.

“Diagnosa sementara saat ini adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh luka terbuka di kaki kiri, dan infeksi organ hepatika atau hati akan dilakukan diagnostik lanjutan untuk memperkuat diagnosa sementara,” kata Suharyono.

Sebelumnya, harimau sumatera terjerat di kawasan restorasi ekosistem Riau (RER) yang dikelola PT Gemilang Cipta Nusantara (GCN) di Desa Sangar Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, pada pekan lalu.

Harimau jantan yang diperkirakan berusia 3-4 tahun itu terluka parah di kaki depan bagian kirinya.

Untuk proses penanganan lebih lanjut, harimau itu dititipkan ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dhamasraya (PR-HSD) di Sumatera Barat.

Ia menjelaskan, pada Kamis (28/3), petugas medis BBKSDA Riau, BKSDA Sumbar dan Yayassn Arsyari / PRHSD melakukan kegiatan rekam medik terhadap harimau itu.

Rekam medik yang dilakukan antara lain pengukuran tubuh (morfometri), pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan, koleksi sampel, pemeriksaan USG, dan pengobatan kaki kiri depan yang terkena jerat.

Suharyono mengatakan, harimau Inung mengalami tiga luka terbuka (laserasi) pada bagian medial kaki kiri. Luka ini merupakan bagian terparah dengan infeksi stadium tiga, yang telah terbentuk jaringan nekrotik atau jaringan membusuk, dengan diameter luka 4 centimeter (cm) kedalaman 3 cm.

Saat rekam medik itu tim medis menemukan tumor di harimau malang itu.

“Tumor pada bagian mulut rahang bawah, dan akan diperiksa lebih lanjut ke laboratorium apakah tumor ganas atau tumor jinak,” katanya.

Tim medis selanjutnya akan melakukan pemeriksaan laboratorik sampel darah sebagai penunjang diagnosa penyakit.

“Selanjutnya Inung Rio akan menjalani masa karantina selama 14 hari,” katanya.

Baca juga: BBKSDA Riau gelar operasi gabungan bersihkan jerat harimau
Baca juga: BBKSDA: kaki harimau sumatera infeksi akibat jerat terancam diamputasi

 

Pewarta: FB Anggoro
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

KEE di Berau Kaltim upayakan jadi model penyelamatan orang utan

Samarinda (ANTARA) – Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) koridor orang utan liar di Wehea-Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur berupaya menjadi model dalam penyelamatan orang utan dan habitatnya.

“Keberhasilan KEE Wehea-Kelay saat ini adalah terwujudnya basis data potensi populasi orang utan dan keanekaragaman hayati lain. Data ini yang akan dijadikan rujukan penyusunan Rencana Aksi Forum KEE 2019-2021,” ujar Manajer Kemitraan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Edy Sudiono di Samarinda, Jumat.

Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) koridor orang utan liar di Wehea-Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, memfokuskan kegiatan  pada tiga aktivitas, yakni mengutamakan pengelolaan terbaik, menjaga fungsi lindung, dan pengelolaan kolaboratif skala bentang alam.

KEE Wehea-Kelay diperkuat oleh Surat Keputusan Gubernur yang dikeluarkan pada 2016 lalu tentang forum pengelolaan KEE, sehingga dalam kegiatannya lebih fokus ke forum kolaboratif untuk pengelolaan habitat orang utan berbasis bentang alam secara lestari.

Fokus kerja sama dalam pengelolaan ini tentu untuk mempermudah penanganannya, apalagi kesepakatan para pihak sudah dibangun di tingkat tapak dengan bahasa yang sama, yaitu perlindungan orang utan secara kolaboratif, ujar dia.

Ia melanjutkan, berkat kesamaan visi tersebut, maka para pihak yang berada di bentang alam Wehea – Kelay, yakni pemegang konsesi hutan alam, pemegang konsesi hutan tanaman industri, pemegang konsesi kelapa sawit, masyarakat adat Wehea, Pemerintah Kutai Timur, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Pusat dan YKAN, sepakat mengelola habitat secara bersama-sama dengan prinsip berkelanjutan.

YKAN adalah organisasi konservasi yang bermitra dengan pemerintah, masyarakat dan sektor swasta selama lebih dari 25 tahun untuk perlindungan hayati, pengelolaan sumber daya alam dan perubahan iklim demi kepentingan masyarakat dan alam.

Prinsip KEE adalah pengelolaan ekosistem penting di luar kawasan konservasi. Hal ini tentu berpotensi menimbulkan gesekan dengan para pihak yang berkepentingan dalam kawasan esensial tersebut, ujarnya.

Untuk itu, menurut Edy, hal utama yang perlu digarisbawahi dalam pembentukan KEE adalah mencari jawaban dari tiga pertanyaan kunci, yakni pertanyaan yang harus diselesaikan para pemangku kepentingan di calon KEE.

“Pertanyaan itu adalah  apakah proyeksi pengelolaan calon KEE akan efektif? Kemudian, nilai penting apa yang ada di kawasan itu? Dan terakhir, bagaimana membangun pengelolaan areal KEE dengan melakukan manajemen pengelolaan berdasarkan prinsip kelestarian,” katanya.

Proses pencarian jawaban tersebut bisa ditemukan dengan pemetaan para pemangku kepentingan dan diskusi-diskusi panjang untuk memperoleh kesepakatan bersama.

Ia melanjutkan, keberadaan KEE di Kaltim digagas sejak penetapan Hutan Lindung Wehea pada 2005 yang kemudian mendapat pengakuan oleh Gubernur Kaltim pada 2016.

Sementara Kepala Bidang Perencaan dan Pemanfaatan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim, Saleh mengatakan pihaknya membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak dalam program konservasi. Bahkan pihaknya tahun ini akan mengindentifikasi potensi KEE dan membuat peta indikatifnya  bekerja sama dengan mitra kerja.  

Baca juga: BKSDA Aceh evakuasi orangutan dengan kondisi luka tembak
Baca juga: Orangutan berkeliaran di sekitar terminal
 

Pewarta: M.Ghofar
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Generasi milenial Aceh diajak menjaga ekosistem laut

Pelepasan100 tukik hijau oleh adik-adik SMA Negeri 1 Lhoknga, Aceh Besar patut dicontoh oleh sekolah lainnya di Aceh. Kita mengajak generasi milenial di Aceh mencintai serta melestarikan ekosistem laut

Banda Aceh (ANTARA) – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh mengajak generasi milenial di provinsi paling barat Sumatera itu untuk bersama-sama menjaga serta melestarikan ekosistem laut untuk masa depan bangsa.

“Pelepasan 100 tukik hijau oleh adik-adik SMA Negeri 1 Lhoknga, Aceh Besar patut dicontoh oleh sekolah lainnya di Aceh. Kita mengajak generasi milenial di Aceh mencintai serta melestarikan ekosistem laut,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Cut Yusminar melalui Kepala Seksi Konservasi, Ridwan, usai pelepasliaran 100 tukik atau anak penyu hijau (chelonia mydas) di pantai Kuala Lhoknga, Aceh Besar, Kamis.

Pelepasliaran tukik tersebut digagas Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Lhoknga, Aceh Besar.

“Ini momen terbaik bagi adik-adik yang ikut langsung melepasliarkan tukik. Melepasliarkan tukik bagian dari menjaga ekosistem laut,” kata dia.

Tukik hijau yang dilepasliarkan tersebut merupakan hasil budi daya SMA Negeri 1, Lhoknga, Aceh Besar.

“Anak penyu hijau ini hasil budi daya SMA Negeri 1 Lhoknga dan kami sudah membudidayakan serta melepasliarkannya sejak tahun 2013,” kata Kepala SMA Negeri 1 Lhoknga, Aceh Besar, Elly Suzanna.

Menurut dia, anak tukik hijau yang dilepasliarkan itu merupakan salah satu jenis penyu yang terancam punah. Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi penyelamatan spesies tersebut pada generasi bangsa.

“Kami terus menyosialisasikan penyelamatan penyu kepada generasi bangsa sejak dini agar spesies yang dilindungi undang-undang itu tidak punah,” ujar Elly Suzanna.

Pihaknya berharap, anak penyu yang dilepasliarkan tersebut suatu saat nanti bisa kembali untuk bertelur ke pantai Lhoknga, Aceh dan Indonesia serta dunia secara umum.

Pelepasan anak tukik tersebut dihadiri puluhan siswa dan guru SMA Negeri 1 Lhoknga, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB), Azwar Abubakar, General Manager Lhoknga Plant PT SBA, Durain Parmanoan, wisatawan asing dan masyarakat setempat.

Penyu merupakan salah satu spesies yang dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 

Baca juga: Siswa Aceh lepasliarkan 100 tukik

Baca juga: Wisatawan Inggris lepasliarkan tukik bersama warga di Aceh

Baca juga: Mantan Menpar-RB apresiasi pelepasliaran tukik di Aceh

Pewarta: Irman Yusuf
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wisatawan Inggris lepasliarkan tukik bersama warga di Aceh

Banda Aceh (ANTARA) – Wisatawan asal Inggris, Mark ikut berpartisipasi melepasliarkan 100 tukik atau anak penyu hijau (chelonia mydas) bersama warga di Pantai Kuala Lhoknga, Aceh Besar pada, Kamis.

Mark mengenakan baju kaos hitam lengan pendek dan celana ponggol didampingi pemandu wisata, Aidil Adhari di Pantai Lhoknga, Aceh Besar terlihat mengambil beberapa tukik lalu melepasliarkannya bersama-sama warga pada aksi pelepasliaran 100 tukik.

“Ia senang melihat warga Aceh ikut membudidayakan dan melindungi spesies langka ini,” kata Mark melalui  pemandu wisata, Aidil Adhari usai melepasliarkan tukik tersebut.

Tukik hijau yang dilepasliarkan tersebut merupakan hasil budidaya SMA Negeri 1, Lhoknga, Aceh Besar

Aidil menjelaskan, wisatawan asal Inggris dan Mark sudah sering berlibur di Aceh yang  menghabiskan masa liburnya di Pantai Lhoknga, Aceh Besar dengan aktifitas surfing.

“Dia bilang ombak di Pantai Lhoknga bagus dan sangat cocok untuk surfing. Dia juga senang dengan penduduk setempat karena ramah dengan wisatawan,” ucap Kepala Pemuda Lhoknga itu.

Kepala SMA Negeri 1 Lhoknga, Aceh Besar, Elly Suzanna menyatakan, anak penyu hijau yang dilepasliarkan itu merupakan hasil budidaya sekolah setempat dan pihaknya mulai membudidayakan serta melepasliarkannya sejak tahun 2013.

“Kami terus menyosialisasikan penyelamatan penyu kepada generasi bangsa sejak dini agar spesies yang dilindungi undang-undang itu tidak punah,” ujar Elly Suzanna.

Menurut dia, anak tukik hijau yang dilepasliarkan itu merupakan salah satu jenis penyu yang terancam punah. Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi penyelamatan spesies tersebut pada generasi bangsa.

Pihaknya berharap, anak penyu yang dilepasliarkan tersebut suatu saat nanti bisa kembali untuk bertelur ke pantai Lhoknga, Aceh dan Indonesia serta dunia secara umum.

Pelapasan anak tukik tersebut dihadiri puluhan siswa dan guru SMA Negeri 1 Lhoknga, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB), Azwar Abubakar, General Manager Lhoknga Plant PT SBA, Durain Parmanoan, wisatawan asing dan masyarakat setempat.

Pewarta: Irman Yusuf
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Siswa Aceh lepasliarkan 100 tukik

Banda Aceh (ANTARA) – Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar melepasliarkan sebanyak 100 tukik atau anak penyu hijau (chelonia mydas) di pantai setempat.

Penyu hijau yang dilepasliarkan pada, Kamis di Pantai Kuala Lhoknga, Aceh Besar merupakan hasil budidaya SMA Negeri 1, Lhoknga, Aceh Besar.

“Anak penyu hijau ini hasil budidaya SMA Negeri 1 Lhoknga dan kami sudah membudidayakan serta melepasliarkannya sejak tahun 2013,” kata Kepala SMA Negeri 1 Lhoknga, Aceh Besar, Elly Suzanna usai pelepasan 100 tukik hijau dilokasi.

Menurut dia, anak tukik hijau yang dilepasliarkan itu merupakan salah satu jenis penyu yang terancam punah. Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi penyelamatan spesies tersebut pada generasi bangsa.

“Kami terus mensosialisasikan penyelamatan penyu kepada generasi bangsa sejak dini agar spesies yang dilindungi Undang-undang itu tidak punah,” ujar Elly Suzanna.

Ia mengaku, telur penyu itu diambil di Pantai Lhoknga oleh warga setempat dan kemudian diserahkan kepada pihak sekolah untuk dibudidayakan.

“Penetasan telor penyu dengan cara tradisional yaitu, kami kubur dengan pasir sekitar 50 centimeter dan netasnya variatif dari, 50-55 hari,” sebut Kepala SMA Negeri 1 Lhoknga.

Pihaknya berharap, anak penyu yang dilepasliarkan tersebut suatu saat nanti bisa kembali untuk bertelur ke pantai Lhoknga, Aceh dan Indonesia serta dunia secara umum.

Pelapasan anak tukik tersebut dihadiri puluhan siswa dan guru SMA Negeri 1 Lhoknga, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB), Azwar Abubakar, General Manager Lhoknga Plant PT SBA, Durain Parmanoan, dan perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh.

Penyu merupakan salah satu spesies yang dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.*

Baca juga: 18 Penyu Hijau dilepasliarkan di Pantai Kuta

Baca juga: Mengunjungi rumah penyu hijau Tanjung Waka

Pewarta: Irman Yusuf
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

TSI-Hino kerja sama konservasi Elang Jawa

Bogor (ANTARA) – Taman Safari Indonesia (TSI) sebagai lembaga konservasi exsitu bekerja sama dengan PT Hino Indonesia untuk melakukan konservasi Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility – CSR).

“Kerja sama ini untuk meningkatkan jumlah populasi Elang Jawa yang sampai hari ini terus menurun agar anak cucu kita kedepan dapat juga melihat Elang Jawa,” kata Group Head of Life Science TSI, Biswajit Guha usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan kandang perkembangbiakan Elang Jawa di TSI Bogor, Kamis.

Menurut dia,  kandang perkembangbiakan ini dibangun dengan ukuran 9×9 meter dengan ketinggian 12 meter. Elang Jawa jika dialamnya bersarang di atas 25 meter. Elang Jawa merupakan spesies endemik yang hanya terdapat di sepanjang pulau Jawa.

“Populasi Elang Jawa diperkirakan hanya tinggal 300-500 ekor dengan kecenderungan yang terus menurun dan mengalami resiko kepunahan,” ujar Biswajit.

Dikatakannya, TSI berkomitmen meningkatkan populasi exsitu dari segi perkembangbiakan Elang Jawa. Saat ini ada tujuh ekor Elang Jawa di TSI.

Pemerintah Indonesia menetapkan Elang Jawa sebagai spesies yang dilindungi dan pada 993 melalui Keputusan Presiden No.4 Tahun 1993. Elang Jawa ditetapkan sebagai salah satu satwa nasional.

Sementara itu Senior General Manager PT Hino Indonesia, Bagas Krihsnamurti mengatakan, ini merupakan langkah awal kerja sama dengan TSI, nantinya akan dibuat sangkarnya untuk pengembangbiakan dan juga ada penelitian reproduksi Elang Jawa.

“Kami berharap apa yang dapat dibantu benar-benar bermanfaat bagi Taman Safari ke depannya dan makin banyak Elang-Elang Jawa yang dikembangbiakan di Taman Safari,” ujarnya.

Bagas mengatakan, setelah kandang tersebut selesai maka, akan diisi oleh sepasang Elang Jawa dan proses pengembangbiakkan Elang JAwa akan dimonitor dan dipelajari oleh peneliti ahli dari TSI dan Universitas lokal.

“Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan tingkat keberhasilan pengembangbiakan Elang Jawa di dalam penangkaran,” katanya.

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Alex Sariwating
COPYRIGHT © ANTARA 2019

KLHK: komodo yang diselundupkan bukan dari TN Komodo

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkap enam ekor komodo yang diselundupkan dalam kasus jual beli komodo yang dibongkar Polda Jawa Timur, bukan berasal dari Taman Nasional (TN) Komodo di Nusa Tenggara Timur.

“Dari penampakan morfologi fisiknya itu (komodo-komodo yang diselundupkan) bukan dari Taman Nasional Komodo tapi dari daratan Flores Utara, kondisinya lebih kecil dan lebih ‘colorful’ (berwarna-warni),” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno kepada Antara, di Jakarta, Kamis.

Untuk memastikan asal komodo yang diselundupkan itu, Wiratno mengatakan saat ini Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sedang melakukan tes DNA terhadap komodo-komodo itu.

“Ini sedang kita tes DNA-nya di Eijkman untuk melihat karena peta genetika peta DNA komodo ini sudah dimiliki oleh LIPI nanti kita cek petanya dengan pakar,” ujarnya.

Dia berharap hasil uji DNA komodo-komodo yang diperjualbelikan itu dapat segera diperoleh dalam waktu dekat.

“Kita sedang menunggu, prosesnya sudah dimasukkan ke Eijkman, semoga dalam waktu seminggu atau dua minggu ini sudah kita dapatkan,” ujarnya.

Menurut dia, komodo-komodo yang ditangkap di luar taman nasional itu jauh lebih eksotik dibandingkan komodo yang berada di dalam taman nasional, karena lebih berwarna-warni.

Kepolisian Daerah Jawa Timur mengungkap penjualan 41 komodo ke luar negeri dengan harga Rp500 juta per ekor oleh jaringan penjahat, yang sudah tujuh kali melakukan aksi semacam itu sejak 2016 sampai 2019.

Menurut polisi, tersangka melakukan aksinya dengan mengambil anak-anak komodo setelah membunuh induknya.

Baca juga: KLHK mengecam keras penyelundupan anak komodo
Baca juga: Kasus perdagangan komodo diduga melibatkan jaringan internasional
Baca juga: Gubernur minta Polda NTT tempatkan personelnya amankan TNK

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bayi gajah jantan kembali lahir di Taman Nasional Way Kambas

Sukadana, Lampung Timur (ANTARA) – Seekor anak gajah jantan kembali lahir di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Kabupaten Lampung Timur hari ini dan berat badannya diperkirakan mencapai 137 kilogram.

Kepala Balai TNWK Subakir mengabarkan kelahiran anak gajah jantan di TNWK Lampung Timur itu pada Kamis (28/3) pagi.

“Pada hari ini, Kamis tanggal 28 Maret 2019, jam 02.45 WIB telah lahir anak gajah jenis kelamin jantan dari induk yang bernama Bunga,” kata Subakir.

Ia menyebutkan tinggi badan bayi gajah jantan itu 91 cm, panjang badan 110 cm, lingkar dada 119 cm, estimasi berat badan sekitar 137 kilogram.

Sebelumnya, kata Subakir, pada awal 2019 dua ekor anak gajah telah lahir dengan jenis kelamin jantan pula.

“Gajah Wulan melahirkan anak gajah jantan pada 14 Januari 2019 di Camp Eru Tegal Yoso TNWK dan tanggal 26 Februari 2019, telah lahir anak gajah jenis kelamin jantan dari induk yang bernama Meli,” sebut Subakir.

Baca juga: Gajah jinak Yeti akhirnya mati di Way Kambas Lampung
Baca juga: Sebanyak ini jumlah anak gajah jinak dimiliki TN Way Kambas
Baca juga: Warga Lampung diajak bawakan makanan untuk gajah “Erin”

Pewarta: Hisar/Muklasin
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Melestarikan satwa liar di Bali menjadi komitmen sejumlah instansi

Itu karena selain populasinya yang semakin menurun, Penyu Hijau juga memiliki peran penting dalam ekosistem,

Badung (ANTARA) – Sejumlah instansi melakukan penandatanganan pernyataan bersama antara penegak hukum dan instansi terkait tentang komitmen dan peran serta bersama dalam melakukan upaya pelestarian tumbuhan dan satwa liar di wilayah Provinsi Bali.

“Penandatanganan pernyataan bersama ini kami lakukan bersamaan dengan kegiatan pelepasliaran 18 ekor Penyu Hijau (Chelonia mydas) hasil sitaan di Buleleng dan Gianyar beberapa waktu yang lalu,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Budhy Kurniawan, di Pantai Kuta, Badung, Rabu.

Dalam penandatanganan pernyataan itu, pihak-pihak yang dilibatkan diantaranya adalah, Pemprov Bali, Polda Bali, Kejaksaan Tinggi Bali, Lanal Denpasar, Pangkalan PSDKP Benoa, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Denpasar, Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar, serta Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Denpasar.

Ia menjelaskan, semua jenis penyu berdasarkan Undang-Undang No.5 tahun 1990 jo. PP Nomor 7 tahun 1999 dan berdasarkan Lampiran Permen LHK Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/ 2018 sebagaimana telah diubah dengan Permen LHK Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/ 2018 merupakan satwa liar dilindungi yang segala macam pemanfaatan dilarang kecuali untuk kepentingan penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan atau penyelamatan jenis.

“Itu karena selain populasinya yang semakin menurun, Penyu Hijau juga memiliki peran penting dalam ekosistem,” ujarnya.

Ia menerangkan peran penting Penyu diantaranya untuk menjaga ekosistem biota laut, mengontrol distribusi spons, memangsa ubur-ubur, mendistribusikan nutrisi dan mendukung kehidupan biota atau mahluk lainnya.

“The World Conservation Union (IUCN) telah menyatakan Penyu Laut masuk dalam ‘Red List of Threatened Species’ atau daftar merah spesies yang terancam dengan kategori ‘Endangered’,” kata Budhy.

Ia menambahkan Penyu sebenarnya memiliki fertilitas yang tinggi, banyak produksi telur dalam sekali musim bertelur. Penyu dapat menghasilkan antara 200 hingga 250 telur. Namun, angka kematian yang juga sangat tinggi.

“Bahkan pendapat ahli mengatakan, dari 1.000 tukik yang menetas, diperkirakan hanya 1 ekor yang dapat bertahan hingga dewasa,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagai spesies yang daur hidupnya secara alamiah sudah rentan, kelangsungan populasi Penyu Laut makin terancam dengan meningkatnya aktivitas manusia.

Aktivitas-aktivitas tersebut mencakup hilangnya habitat bersarang, tangkapan tidak sengaja, tangkapan sampingan, pencurian telur, perdagangan ilegal produk penyu, dan berbagai eksploitasi lainnya. Hilangnya habitat bertelur penyudiantaranya yaitu akibat abrasi dan pembangunan fisik didaerah pesisir.

Pewarta: Naufal Fikri Yusuf
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

18 Penyu Hijau dilepasliarkan di Pantai Kuta

Dari jumlah itu, empat ekor Penyu telah dilepasliarkan di Pantai Penimbangan Buleleng, tiga ekor masih dirawat oleh tim medis Universitas Pendidikan Ganesha karena sakit serta dua ekor dirawat dan disisihkan sebagai barang bukti di Turtle Conservatio

Badung (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, bersama sejumlah instansi terkait, melepasliarkan 18 ekor Penyu Hijau (Chelonia mydas) yang merupakan hasil sitaan, Pantai Kuta, Badung, Bali.

“Penyu yang dilepasliarkan ini berasal dari hasil sitaan Polres Gianyar pada 13 Maret 2019 dan sitaan pada 17 Maret 2019 oleh Polres Buleleng bersama TNI AL,” ujar Kepala BKSDA Bali, Budhy Kurniawan di Bali, Rabu.

Ia menjelaskan, total Penyu hasil sitaan selama bulan Maret 2019 ada sebanyak 27 ekor yang semuanya berjenis Penyu Hijau, dengan ukuran panjang kerapas bervariasi, mulai dari 30 cm hingga 100 cm.

“Dari jumlah itu, empat ekor Penyu telah dilepasliarkan di Pantai Penimbangan Buleleng, tiga ekor masih dirawat oleh tim medis Universitas Pendidikan Ganesha karena sakit serta dua ekor dirawat dan disisihkan sebagai barang bukti di Turtle Conservation And Education Center (TCEC) Serangan, Denpasar,” tambahnya.

Sebelumnya dilepasliarkan, Penyu tersebut telah melalui tahapan perawatan dan rehabilitasi di TCEC Serangan. Diperkirakan, sebelum disita Penyu Hijau itu telah melalui perjalanan panjang mulai dari penangkapan di laut, perjalanan darat sampai pada akhirnya tertangkap di tempat kejadian.

“Perawatannya itu diantaranya, pengobatan terhadap luka ‘flipper’ bekas ikatan serta pemulihan kondisi dari stres perjalanan jauh sampai pada akhirnya tim medis menyatakan satwa telah layak untuk dilepasliarkan,” ujar Budhy Kurniawan.

Sebelum dilepasliarkan, telah dilakukan pemasangan “tag” berbahan logam anti karat pada salah satu bagian “flipper” Penyu, sebagai penanda jika Penyu tersebut terdampar, tertangkap atau ditemukan lagi oleh masyarakat dapat dilaporkan kepada Balai BKSDA Bali.

“Itu juga dapat digunakan sebagai bahan kajian ilmiah untuk mengetahui daya jelajah penyu setelah dilepasliarkan. Di ‘tag’ juga telah dilengkapi dengan alamat email narahubung untuk nantinya dapat digunakan sebagai tujuan pelaporan,” ujarnya.

Selain pelepasliaran penyu hasil sitaan, petugas bersama masyarakat dan juga wisatawan mancanegara melepasliarkan 50 ekor anak penyu (Tukik) jenis Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) hasil relokasi dan penetasan semi-alami yang dilakukan oleh kelompok pelestari penyu Satgas Pantai Kuta.

Pewarta: Naufal Fikri Yusuf
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

OFI Kampanye orangutan di sekolah Kalteng

Anak-anak sekolah saya beri dulu pemahaman seperti sosialisasi, berbagai cerita pertama kalinya dilakukan konservasi orangutan oleh Prof.Dr.Birute M.F Galdikas (President OFI) dilanjutkan dengan menyampaikan secara rinci dan jelas kehidupan hutan dan

Pangkalan Bun (ANTARA) – Orangutan Foundation International (OFI) menggelar giat kampanye yang kini sudah masuk ke 107 sekolah mulai dari tingkat SD, SLTP, SLTA di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (Kalteng), baik itu sekolah negeri maupun swasta, dan semua sekolah akan dikunjungi dalam memberikan penyuluhan serta kampanye orangutan.

“Tujuan dari kampanye orangutan ini, agar semua pihak khususnya anak-anak sekolah bisa sedini mungkin menjaga dan melestarikan kehidupan hutan dan orangutan.” kata Manager Kampanye OFI Dorprawati Siburian saat dihubungi di Pangkalan Bun, Rabu.

Kini sebanyak 90 persen populasi orangutan hidup di Indonesia, sementara 10 persen ada di Sabah dan Serawak, Malaysia. Sehingga wajar kalau kita bangga dengan keberadaan orangutan yang hingga kini masih ada di wilayah kita.

Ia menambahkan, OFI juga melakukan edukasi kepada anak-anak sekolah melalui penanaman pohon dengan tujuan mengembalikan hutan sesuai fungsinya dan menjadi rehabilitasi hutan.

“Anak-anak sekolah saya beri dulu pemahaman seperti sosialisasi, berbagai cerita pertama kalinya dilakukan konservasi orangutan oleh Prof.Dr.Birute M.F Galdikas (President OFI) dilanjutkan dengan menyampaikan secara rinci dan jelas kehidupan hutan dan orangutan,” kata mantan Komisioner KPU Kotawaringin Barat periode 2013 hingga 2018 bagian Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat.

Kegiatan ini, tambah dia terlaksana mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Parawisata, Dinas Lingkungan Hidup, TNI, Media Publik dan Dinas lainnya yang turut mendukung pelaksanaan kampanye orangutan.

Tidak hanya ke sekolah, giat kampanye ini juga akan digelar di berbagai kantor dan komunitas lingkungan alam.

Pihaknya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat Kalteng untuk tetap menjaga orangutan dan habitatnya demi generasi.

“Stop pembunuhan, penyiksaan, pemburuan dan pemeliharaan terhadap orangutan,” demikian Dorprawati.

Pewarta: Kasriadi/Rini Andriani
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penyebab kian menyusutnya populasi orang utan di Aceh, menurut BKSDA

Populasi orang utan semakin menyusut karena habitatnya kian berkurang. Berkurangnya habitat orang utan karena perubahan kawasan hutan menjadi perkebunan atau lainnya,

Banda Aceh (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyatakan populasi orang utan (pongo abelii) di provinsi itu kian menyusut akibat maraknya konversi lahan, perambahan hutan, maupun perburuan.

Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo yang dihubungi dari Banda Aceh, Rabu, mengatakan, populasi orang utan di Aceh dan Sumatera Utara sekarang ini diperkirakan mencapai 13.700 individu.

“Populasi orang utan semakin menyusut karena habitatnya kian berkurang. Berkurangnya habitat orang utan karena perubahan kawasan hutan menjadi perkebunan atau lainnya,” tambahnya.

Selain konversi lahan, penyusutan populasi orang utan juga disebabkan karena masih adanya anggapan sebagian masyarakat bahwa satwa dilindungi tersebut adalah hama.

“Orang utan dianggap hama karena masuk kebun masyarakat. Karena merasa orang utan hama, maka masyarakat membasminya. Padahal, ini persepsi yang salah di masyarakat,” ujarnya.

Oleh karena, BKSDA Aceh akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat bahwa orang utan bukan hama, tetapi satwa yang harus dilindungi karena populasinya kian menyusut.

“Kami juga mengajak tokoh masyarakat dan tokoh agama serta media massa maupun media sosial untuk mengampanyekan penyelamatan dan perlindungan orang utan,” kata Sapto.

Menyangkut sebaran orang utan di Aceh, menurutnya penyebarannya ada di sejumlah kabupaten/kota di antaranya Nagan Raya, Aceh Tengah, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan

Kemudian, Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Aceh Timur, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara, dan Aceh Tamiang. Serta kawasan reintroduksi di Kabupaten Aceh Besar.

Kawasan reintroduksi orang utan di Aceh Besar memang dibangun untuk penyelamatan satwa dilindungi tersebut. Orang utan yang sebelumnya dipelihara warga, dilatih agar sifat alamnya kembali hingga akhirnya dilepasliarkan ke kawasan reintroduksi.

“Kami juga akan menurunkan petugas ke lapangan guna menyampaikan kepada masyarakat bahwa orang utan satwa dilindungi yang harus diselamatkan populasinya, baik di Aceh maupun Sumatera Utara,” tambah Sapto Aji Prabowo.

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

5.050 Kura kura moncong babi gagal diselundupkan dari Asmat

Jayapura (ANTARA) – Anggota Subdit IV Titer Ditreskrimsus Polda Papua,Selasa (26/3) menggagalkan penyelundupan 5.050 kura-kura moncong babi, dari Agats, Kabupaten Asmat ke Timika, Kabupaten Mimika.

Gagalnya penyelundupan hewan dilindungi itu setelah tim yang dipimpin Ipda Irmun Jaya didampingi tiga anggota mendatangi lokasi dan menemukan ribuan kura-kura yang hendak diselundupkan ke Timika.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal di Jayapura membenarkan digagalkannya penyelundupan 5.050 ekor kura-kura moncong babi.

Dua orang saat ini ditahan, yakni Abdul Latif Hame (49), warga Distrik Agats, Kabupaten Asmat, dan Abdul Tahir (34), warga Kelurahan Emnam, Kecamatan Suwator, Kabupaten Asmat.

“Keduanya akan dikenakan pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (2) UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah),” jelas Kamal.

Baca juga: Bareskrim tangkap dua penjual hewan langka

Baca juga: Lebih 1.000 ekor kura-kura moncong babi diamankan di bandara Merauke

Baca juga: Barantan gagalkan penyelundupan 2.968 ekor kura-kura

Pewarta: Evarukdijati
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BBKSDA: kaki harimau sumatera infeksi akibat jerat terancam diamputasi

Diharapkan 2-3 hari ke depan ada kejelasan dari dokter hewan yang menangani. Mudah-mudahan tidak diamputasi

Pekanbaru (ANTARA) – Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono, mengatakan harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) liar yang terjerat di kawasan hutan Restorasi Ekosistem Riau (RER) terluka parah dan ada kemungkinan kakinya diamputasi.

“Diharapkan 2-3 hari ke depan ada kejelasan dari dokter hewan yang menangani. Mudah-mudahan tidak diamputasi,” kata Suharyono di Pekanbaru, Selasa.

Satwa langka dilindungi itu berhasil dievakuasi oleh tim gabungan dari BBKSDA Riau dan Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dhamasraya (PR-HSD) dari lokasi terjeratnya pada Senin (24/3).

Hasil diagnosa awal tim medis menyatakan harimau itu berjenis kelamin jantan dengan perkiraan usia 3-4 tahun, dan bobotnya sekitar 90 kilogram. Harimau itu terkena jerat di kaki kiri bagian depan, yang diperkirakan sudah berlangsung selama tiga hari.

“Saat ditemukan (harimau) diperkirakan sudah terjerat selama tiga hari sampai kakinya mengalami infeksi dan lukanya dikerumini lalat,” ujarnya.

Untuk proses penanganan lebih lanjut, ia mengatakan BBKSDA Riau telah menyerahkan harimau terluka itu kepada Balai KSDA Sumatera Barat (Sumbar) yang selanjutnya dititipkan ke PR-HSD di Dhamasraya, Sumbar.

“Setelah tiba di Dhamasraya, harimau itu baru mau minum, belum mau makan karena masih trauma. Harimau itu juga demam karena luka di kakinya sampai suhu tubuhnya sekitar 41 derajat Celcius,” ujarnya.

Sebelumnya, harimau sumatera itu terjerat di kawasan RER yang dikelola PT Gemilang Cipta Nusantara (GCN) di Desa Sangar Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.

Perusahaan dari APRIL Group ini mengantongi izin restorasi ekosistem dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Kawasan Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan, sejak 2012 dengan luas 20.265 hektare.

Berdasarkan riset dari lembaga perlindungan satwa WWF dan WCS (Wildlife Conservation Society), kawasan Semenanjung Kampar merupakan kantong populasi harimau sumatera kelas 2 yang mampu menampung hingga 50 individu.

Suharyono berharap harimau tersebut bisa diselamatkan sehingga jumlah satwa belang yang mati di Riau tidak bertambah. Sebelumnya, tiga ekor harimau sumatera liar mati akibat jerat yang dipasang warga di Riau pada 2018.

Baca juga: Jagawana dan harimau Sumatera liar terperangkap jerat pemburu di Riau

Baca juga: Harimau Sumatera tewas terjerat di Riau

Pewarta: FB Anggoro
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemahaman penanganan konflik satwa liar disosialisasikan kepada kades

Pada kondisi tertentu konflik antara manusia dan satwa liar dapat merugikan semua pihak

Muara Teweh (ANTARA) – Puluhan kepala desa di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, mendapat sosialisasi pemahaman penanganan konflik satwa liar di dalam ataupun luar kawasan hutan guna menghindari terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar.

Sekretaris Daerah Kabupaten Barito Utara Jainal Abidin di Muara Teweh, Selasa, menjelaskan kegiatan itu  harus diketahui para aparatur desa sehingga tidak menimbulkan kerugian harta benda maupun keselamatan jiwa manusia atau satwa liar yang harus diselesaikan dengan tetap memperhatikan keselamatan manusia dan kelestarian satwa liar.

“Kami menyosialisasikan peraturan yang berlaku saat ini tentang tumbuhan dan satwa liar,” katanya.

Menurut Jainal, pada kondisi tertentu konflik antara manusia dan satwa liar dapat merugikan semua pihak.

“Kerugian yang umum terjadi akibat konflik di antaranya seperti rusaknya tanaman pertanian dan atau perkebunan, pemangsaan ternak dan dapat menimbulkan korban jiwa manusia, pada sisi lain tidak jarang satwa liar mengalami kematian akibat penanggulangan konflik yang salah,” katanya.
  Sekretaris Daerah H Jainal Abidin didampingi Kepala SKW III Muara Teweh Nizar Ardhanianto menyosialisasikan pemahaman penanganan konflik satwa liar kepada para kepala desa di Muara Teweh, Selasa (26/3/2019). (Istimewa) Dia mengatakan, konflik antara manusia dan satwa liar yang terjadi cenderung meningkat akhir-akhir ini.

Bahkan, baru-baru ini dari laporan surat kabar atau media informasi lainnya bahwa telah terjadi kejadian seperti masuknya hewan dilindungi ke dalam areal pemukiman warga.

“Semoga dengan adanya sosialisasi penangan konflik satwa liar ini diharapkan semua pihak yang terkait memilih kesamaan pemahaman, persepsi, serta langkah dan komitmen bersama dalam menanggulangi konflik,” kata Jainal.

Kepala Kantor Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Muara Teweh BKSDA Kalteng, Nizar Ardhanianto mengatakan kegiatan ini merupakan tindak lanjut ketika ada kejadian orangutan masuk perkampungan di Desa Lampeong dan ada buaya masuk ke Sungai Butong.

Karena itu, katanya, BKSDA perlu melakukan sosialisai penanganan konflik agar penanganan ini tidak salah dalam penanganannya.

“Bagaimanapun satwa-satwa ini merupakan satwa yang dilindungi, kita mengundang sekitar 63 kades se-Barito Utara yang kita anggap daerahnya rawan terjadi konflik antara satwa liar dengan manusia, yang wilayahnya berbatasan langsung dengan hutan,” ujarnya.

Baca juga: Orangutan masuk desa di pedalaman Barito Utara-Kalteng

Baca juga: Orangutan berkeliaran di kebun warga ditangkap BKSDA Kalteng

Pewarta: Kasriadi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kelahiran pertama bayi Lutung Jawa di Taman Satwa Taru Jurug

Untung, seekor bayi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) berumur empat hari bersama induknya di kandang Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo. Jawa Tengah, Senin (25/3/2019). Bayi satwa yang dilindungi tersebut merupakan kelahiran pertama dari pasangan Lutung Jawa hibah dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc.

Bayi Lutung Jawa

Untung, seekor bayi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) berumur empat hari bersama induknya di kandang Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo. Jawa Tengah, Senin (25/3/2019). Bayi satwa yang dilindungi tersebut merupakan kelahiran pertama dari pasangan Lutung Jawa hibah dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc.

Banyak Burung Cenderawasih “menari” di Hutan Warkesi Raja Ampat

Masyarakat setempat menjaga kawasan tersebut dari penebangan pohon secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga Burung Cenderawasih tidak berpindah tempat

Waisai (ANTARA) – Wisatawan asing khususnya pencinta alam sangat mengagumi keindahan hutan Pulau Waigeo Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, khususnya kawasan Hutan Warkesi.

Kawasan Hutan Warkesin merupakan salah satu kawasan hutan di Pulau Waigeo yang dikagumi wisatawan. Kawasan hutan itu dinilai oleh wisatawan sebagai kawasan hutan ramah burung, karena sangat banyak Burung Cenderawasih.

Untuk menjangkau Hutan Warkesi guna melihat Burung Cenderawasih menari, wisatawan dapat menggunakan ojek dan mobil dengan jarak tempuh 25 menit dari Waisai, ibu kota Raja Ampat.

Penjaga kawasan Hutan Warkesi Orgenes Manggaprou di Waisai, Papua Barat, Minggu, mengatakan setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan Hutan Warkesi pasti mengagumi keindahannya.

Dia mengatakan pekan lalu ada enam orang wisatawan asal Thailand yang berkunjung ke kawasan Hutan Warkesi dan mereka sangat kagum melihat Burung Cenderawasih menari.

“Wisatawan fotografer Thailand tersebut berjam-jam di dalam kawasan hutan di Pulau Waigeo mengambil gambar Burung Cenderawasih menari,” ujarnya.

Menurutnya, hutan yang asli dan Burung Cenderawasih menari mendatangkan wisatawan. Ia mengatakan kunjungan wisatawan adalah sumber penghasilan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

“Masyarakat setempat menjaga kawasan tersebut dari penebangan pohon secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga Burung Cenderawasih tidak berpindah tempat,” tambah dia.

Pewarta: Ernes Broning Kakisina
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BBKSD sosialisasi perlindungan ketam kenari di Kepulauan Fam

Sorong (ANTARA) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat menggandeng Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan atau UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat dan Conservation International (CI) Indonesia menyelenggarakan sosialisasi peraturan tentang tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi.

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Papua Barat Heri Wibowo di Waisai, Minggu mengatakan sosialisasi tersebut merupakan upaya merespon banyaknya keluhan dan laporan dari wisatawan yang berkunjung ke Piaynemo terkait dengan maraknya perdagangan ketam kenari (Birgus latro) atau kepiting kelapa, salah satu satwa dilindungi.

Dia mengatakan, salah satu tugas BBKSDA Papua Barat adalah pengawasan dan pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar dilindungi termasuk ketam kenari.

“Sosialisasi tumbuhan dan satwa dilindungi merupakan upaya penyadaran masyarakat akan satwa dilindungi salah satu ketam kenari,” ujarnya.

Dia menjelaskan, ketam kenari dimanfaatkan masyarakat guna menunjang ekonomi meskipun dilarang sebab itu pemerintah berupaya mencari jalan tengah dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat.

Dikatakannya, ketam kenari dilindungi berdasarkan peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan (PERMEN-LHK) P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Namun, dalam paparannya status perlindungan ketam kenari juga menyiratkan pemanfaatan yang bersifat non konsumtif yaitu melalui upaya penangkaran berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan (PERMENHUT) No. 19 tahun 2005.

“Masyarakat kepulauan Fam berinisiatif membuat penangkaran ketam kenari sebagai bentuk pemanfaatan yang berkelanjutan melalui Kelompok Tani Hutan binaan BBKSDA Papua Barat yang akan direalisasikan dalam waktu dekat,” tambah dia.*

Baca juga: Ketam kenari gagal diselundupkan dari Baubau

Pewarta: Ernes Broning Kakisina
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Walhi: selamatkan orangutan dari perburuan liar

Penyelamatan satwa langka yang dilindungi itu, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga warga masyarakat

Medan (ANTARA) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sumatera Utara meminta kepada pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar menyelamatkan orangutan yang berada di kawasan hutan dan pengunungan.

“Penyelamatan satwa langka yang dilindungi itu, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga warga masyarakat,” kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut Dana Tarigan, di Medan, Sabtu.

Masyarakat, menurut dia, harus mengawasi ekstra ketat perburuan orangutan dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mencari keuntungan dari satwa yang dilindungi.

“Pemburu liar yang melanggar hukum, dan tidak mendukung penyelamatan orangutan agar dijatuhi hukuman berat, sehingga dapat membuat efek jera,” ujar Dana.

Ia mengatakan, perlindungan orangutan tersebut, untuk menyelamatkan satwa langka itu, agar populasinya tidak berkurang dan dikhawatirkan akan mengalami kepunahan. Orangutan tersebut, harus dipertahankan dan jangan sampai ditangkap pemburu liar, orang yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu, katanya, orangutan yang kesasar masuk ke perkampungan masyarakat, jangan sampai dianiaya atau “diramai-ramaikan” masyarakat.

“Orangutan tersebut bisa diserahkan kepada petugas Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat, dan selanjutnya dikembalikan ke hutan,” katanya.

Sebelumnya, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) sejak Januari hingga Maret 2019 berhasil mengevakuasi dan menyita sedikitnya 10 individu orangutan dari sejumlah lokasi, baik dari Sumatera Utara maupun Aceh.

Ketua YOSL-OIC, Panut Hadisiswoyo di Medan, Sabtu (23/3), mengatakan, ke-10 orangutan yang berhasil dievakuasi tersebut ada yang disita dari masyarakat yang memeliharanya maupun yang terjebak di perkebunan-perkebunan sawit.

Ke-10 orangutan yang dievakuasi maupun hasil penyitaan tersebut selanjutnya menjalani pemeriksaan kesehatan di Karantina Orangutan Sumatera milik SOCP di Sibolangit, Sumatera Utara.

“Sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya, orangutan itu terlebih dahulu menjalani perawatan di pusat karantina,” katanya.

Baca juga: Walhi: Selamatkan orangutan Tapanuli

Pewarta: Munawar Mandailing
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karantina Bandara Bali gagalkan penyelundupan orang utan ke Rusia

Badung, Bali (ANTARA) – Otoritas karatina Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menggagalkan penyelundupan seekor anak orang utan yang dibius, di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (22/3) malam, yang dilakukan seorang warga Rusia berinisial Z.A untuk dikirim ke negaranya.

Penanggung jawab Karantina Wilayah Kerja Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Dewa Delanata, saat dikonfirmasi di Badung, Sabtu, mengakui adanya upaya penyelundupan satwa yang dilindungi pemerintah itu ke Rusia.

“Ya betul, Petugas Karantina Denpasar dan Avsec yang berjaga mendapatkan orang utan ini di keberangkatan internasional pada Jumat malam, Pukul 22:30 WITA,” ujar Dewa.

Ia menuturkan penemuan orang utan yang dibius dan dimasukkan dalam keranjang kecil ini membuat geger di Bandara Ngurah Rai.

Awalnya, petugas menduga yang dibawa pelaku ini kera sehingga petugaa tidak berani membuka keranjang tersebut, karena takut kera itu agresif dan lepas di ruang keberangkatan.

Namun setelah dibawa ke ruang pemeriksaan, ternyata satwa itu orang utan yang dilindungi.

“Pelaku kemudian diperiksa lebih lanjut terus ditahan di Kantor Polsek KP3 Bandara Ngurah Rai untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.

Menurut keterangan pelaku, orang utan tersebut dibeli dari seseorang yang ada di jawa dengan harga 300 dollar Amerika.

Menurut keterangan, Z.A mengatakan anak orang utan berjenis kelamin jantan berumur sekitar dua tahun ini, dibius pelaku dengan cara diberikan tablet bius yang dicekoki melalui spuit dengan kerja obat selama 2-3 jam.

“Hal ini ini dibuktikan dengan temuan spuit dan obat bius dikopernya. Rencana penerbangan akan transit di Korea Selagan dan akan ditambahi lagi obat bius disana untuk melanjutkan perjalanan ke Rusia, sadis memang,” katanya.

Selain ditemukan obat bius dalam kopernya, ternyata WNA ini juga rencananya akan menyelundupkan dua ekor tokek dan lima ekor kadal yang didapatkan dalam kopernya.

Sementara, barang bukti di serahkan BKSDA dan KP3 untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut dan si pembawa telah diamankan untuk dilakukan pemeriksaan.

Pewarta: Made Surya dan Naufal Fikri Yusuf
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Amankan satwa dilindungi

Burung Kakatua Raja (Probosciger aterrimus) berdiam dalam kandang saat konferensi pers tindak lanjut terhadap penggagalan penyelundupan satwa liar yang dilindungi di Kantor BBKSDA Riau, di Pekanbaru, Riau, Sabtu (23/3/2019). BBKSDA Riau menerima sebanyak 40 ekor satwa liar dilindungi diantaranya 2 ekor Owa Ungko dan 38 ekor burung yang hendak diselundupkan ke Malaysia melalui perairan Dumai oleh lima orang pelaku dan berhasil digagalkan petugas Bea Cukai Dumai bekerjasama TNI AL Dumai. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/foc.

BKSDA Sumatera Barat temukan populasi bunga raflesia di Sigantang

Simpang Empat, Sumatera Barat (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menemukan populasi bunga raflesia di Sigantang, Kecamatan Ranah Batahan, Kabupaten Pasaman Barat, Sabtu.

Menurut Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Sumatera Barat Ade Putra mengatakan populasi tumbuhan langka itu ditemukan di perkebunan karet milik warga di Jorong Sigantang, Nagari Persiapan Batahan Utara, Pasaman Barat.

Populasi bunga raflesia itu, menurut dia, berada sekitar 600 meter dari pemukiman warga.

“Bunga raflesia ternyata cukup banyak di daerah ini. Kita akan terus melakukan eksplorasi beberapa hari ke depan,” kata Ade.

Di Sigantang, tim BKSDA menemukan populasi tumbuhan raflesia yang terdiri atas setidaknya 17 individu dengan ukuran diameter bunga beragam.

“Satu knop diketahui sudah mekar lima hari yang lalu dengan diameter 53 centimeter dan sudah mengalami fase layu membusuk,” Ade menjelaskan.

Tim BKSDA hingga beberapa hari ke depan akan melanjutkan pencarian populasi bunga raflesia di daerah itu, karena menurut keterangan warga jenis bunga langka itu setidaknya tersebar di tiga lokasi di daerah tersebut.

Ade mengatakan sebelumnya bunga raflesia diketahui hanya ada di cagar alam Batang Palupuh, Kabupaten Agam.

Dalam dua tahun terakhir, BKSDA sudah menemukan setidaknya 16 lokasi populasi bunga raflesia yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Kepala Jorong Sigantang Hansastri berharap penemuan bunga raflesia bisa menarik wisatawan ke daerahnya.

“Tanaman bunga raflesia merupakan tanaman langka yang dilindungi. Tentu kita berharap kerja samanya dengan BKSDA dalam upaya melindungi bunga raflesia yang ada,” katanya.

Baca juga:
Rafflesia gaduatensis raksasa ditemukan Hutan Angkola Tapanuli Selatan
15 bunga raflesia mekar di Bukit Barisan Bengkulu

Pewarta: Altas Maulana
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

10 orangutan disita YSOL-OIC selama 2019

Sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya, orangutan itu terlebih dahulu menjalani perawatan di pusat karantina,

Medan (ANTARA) – Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) sejak Januari hingga Maret 2019 berhasil mengevakuasi dan menyita sedikitnya 10 individu orangutan dari sejumlah lokasi baik dari Sumatera Utara maupun Aceh.

Ketua YOSL-OIC Panut Hadisiswoyo di Medan, Sabtu, mengatakan, ke-10 orangutan itu disita dari masyarakat yang memeliharanya maupun yang terjebak di perkebunan-perkebunan sawit.

Ke-10 orangutan yang dievakuasi maupun hasil penyitaan tersebut selanjutnya menjalani pemeriksaan kesehatan di Karantina Orangutan Sumatera milik YOSL-OIC di Sibolangit, Sumatera Utara.

“Sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya, orangutan itu terlebih dahulu menjalani perawatan di pusat karantina,” ujarnya.

Dalam kesmepatan tersebut, ia juga menyampaikan harapan agar masyarakat dapat membantu dalam upaya menjaga habitat orangutan dengan tidak mengalihfungsikan lahan menjadi perkebunan.

“Beri ruang bagi mahluk lain untuk eksis karena bumi ini bukan hanya untuk manusia tempat hidup tapi ada mahluk lain seperti orangutan. Orangutan bukan satwa berbahaya, kalau melihat orangutan masuk ke perkebunan mohon hubungi kami agar dapat membantu upaya mengevakuasinya secara aman,” jelasnya.

Sebelumnya Kamis (21/3) Tim dari BKSDA Aceh berhasil mengevakuasi satu individu orangutan dengan perkiraan umur 7 tahun dari perkebunan sawit di Dusun Rikit, Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

Penyelamatan orangutan yang kemudian diberi nama Pertiwi tersebut tanpa melalui proses pembiuasan karena Pertiwi dalam kondisi lemah.

Dari hasil pemeriksaan fisik, Orangutan Pertiwi memiliki berat badan sekitar 5 kg, berjenis kelamin betina, dengan kondisi malnutrisi (kurus) dan kondisi tangan sebelah kanan yang kurang resposif (kurang gerak).

Setelah semua pemeriksaan fisik selesai dinyatakan orangutan itu tidak layak untuk di lepasliarkan kembali kehabitatnya serta harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Karantina Orangutan Sumatera milik YOSL-OIC di Sibolangit Sumatera Utara.
 

Pewarta: Juraidi
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Riau jalur favorit penyelundupan satwa

Pekanbaru (ANTARA) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyatakan bahwa Provinsi Riau merupakan jalur tradisional sekaligus favorit dalam kejahatan penyelundupan satwa dilindungi bagi para jaringan penyelundup satwa internasional.

Kepala BBKSDA Riau Suharyono kepada Antara di Pekanbaru, Sabtu mengatakan aktivitas penyelundupan satwa dilindungi dari Indonesia ke luar negeri cukup marak dilakukan pada tahun 1990 hingga awal 2000-an.

“Jadi Riau ini jalur tradisional. Dari dulu dipakai namun sempat ditinggalkan, beralih menggunakan transportasi udara. Sekarang mereka balik lagi. Ini sama kejadiannya seperti awal 2000 an saat marak penyelundupan trenggiling,” kata Haryono.

Ia menjelaskan bahwa sepanjang 2019 ini tercatat tiga kali kasus penyelUndupan satwa dilindungi yang terjadi dibawah area kewenangan BBKSDA Riau.

Sekitar dua pekan lalu, katanya, terjadi aksi penyelundupan 31 satwa dilindungi jenis unggas, termasuk diantaranya jenis cenderawasih yang terjadi di Batam, Kepulauan Riau. Kemudian, sekitar satu bulan yang lalu juga terjadi aksi penyelundupan dengan jenis satwa yang sama via pelabuhan tikus di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

Terakhir, aktivitas penyelundupan satwa dilindungi kembali berhasil diungkap di Kota Dumai dengan 40 satwa jenis unggas dan primata berhasil diselamatkan sebelum sempat menyeberang secara gelap ke Malaysia.

Dia mengatakan rangkaian aktivitas tersebut menjadi indikasi kuat bahwa aksi penyelundupan kembali marak terjadi, dengan Riau sebagai wilayah yang kerap digunakan sebagai jalur utama pelaku.

“Mereka ini satu rangkaian yang terorganisir. Meskipun beda narkoba, namun mereka juga punya jaringan dari Indonesia ke Malaysia,” jelasnya.

Untuk itu, dia mengimbau kepada masyarakat apabila menemukan aktivitas mencurigakan yang terindikasi bagian dari jaringan penyelundupan satwa dilindungi untuk dapat segera melaporkan ke pihak berwajib. Dia mengatakan, khusus BBKSDA Riau sendiri telah membuat ‘call center’ atau sistem pelaporan terpadu sehingga masyarakat dapat dengan mudah memberikan informasi ke petugasnya.

“Kepada masyarakat sekiranya menemukan atau mengetahui terkait perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dilakukan secara ilegal dapat melaporkan ke call center kita di 0813-7474-2981,” ujar Haryono.

Petugas Bea dan Cukai Kota Dumai serta TNI AL berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 40 satwa dilindungi. 38 diantar satwa itu merupakan jenis unggas yang terdiri dari tujuh ekor cenderawasih minor (Paradisea minor), dua ekor cenderawasih mati kawat (Seleucidis melanoleucus), dua ekor cenderawasih raja (Cicinnurus regius), dua cenderawasih botak (Cicinnurus republica).

Selanjutnya turut disita 12 ekor burung kakak tua raja (Probosciger aterrimus) dan tiga ekor burung julang emas Sulawesi (Acetos cassidix). Selain itu, petugas turut menyita dua ekor ungko dan 10 burung lainnya yang belum terindentifikasi.

Suharyono mengatakan terdapat lima orang pelaku turut ditangkap dari pengungkapan tersebut. Mereka terdiri dari empat pria warga Lampung masing-masing YA (28), TR (21), AN (24) dan SW (36). Sementara turut diamankan seorang warga lokal asal Kabupaten Bengkalis berinisial EF (48), yang diduga berperan sebagai penghubung.

Kepala Balai Gakkum Sumatera Eduwar Hutapea menjelaskan status para pelaku masih terperiksa. Dia mengatakan pihaknya memiliki waktu 24 jam untuk menetapkan status para pelaku.

“Kita masih terus melakukan pemeriksaan secara maraton karena baru tiba di Pekanbaru jam tiga dinihari tadi setelah kita jemput ke Dumai,” kata Edo.

Pewarta: Anggi Romadhoni
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gerakan tanam sejuta pohon penahan tsunami dimulai di Kota Padang

Diharapkan melalui penanaman pohon dan menciptakan hutan pantai bisa menyerap tekanan air sampai 80 persen sehingga memberi daya tahan terhadap daya rusak daerah pantai, dan yang terpenting untuk mitigasi bencana tsunami

Padang, (ANTARA) – Pemerintah Kota Padang memulai penanaman pohon dalam rangka Gerakan Sejuta Pohon yang digagas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk penahan tsunami di sepanjang pantai yang dimulai di kawasan Pantai di Kelurahan Parupuak Tabing.

“Diharapkan melalui penanaman pohon dan menciptakan hutan pantai bisa menyerap tekanan air sampai 80 persen sehingga memberi daya tahan terhadap daya rusak daerah pantai, dan yang terpenting untuk mitigasi bencana tsunami,” kata Wali Kota Padang Mahyeldi di Padang, Jumat

Pada kesempatan itu Wali Kota Padang Mahyeldi melakukan penanaman pohon bersama TNI, Polri, aparatur pemerintah dan komponen masyararakat.

Ia menyampaikan Kota Padang terletak di garis pantai dengan panjang lebih kurang 68,126 kilometer sehingga wilayah di sekitar pantai berpotensi terkena abrasi dan gelombang air laut.

Proses penanaman pohon, katanya, dirancang sebaik mungkin agar akses nelayan ke laut juga tersedia dan masyarakat diimbau bersama-sama bertanggung jawab merawat dan menjaga pohon tersebut.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyampaikan terdapat potensi gempa megathrus dengan kekuatan 8,9 Skala Richter (SR) yang berpusat di Mentawai dan diperkirakan mendatangkan gelombang tsunami dengan jangkauan hingga 12 kilometer dengan kecepatan 827 kilometer per jam.

“Ini bukan menakut-nakuti tapi memang riil dan sesuai dengan pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Manando beberapa waktu lalu, untuk itu Gerakan Tanam Sejuta Pohon merupakan salah satu upaya mitigasi bencana,” kata dia.

Nasrul berharap,gerakan seperti ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai kawasan pantai.

Gerakan Tanam Sejuta Pohon di kawasan Pantai Simpang Gia, Kelurahan Parupuak Tabing juga diikuti Danrem 032 Wirabraja Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo, Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Fakhrizal Danlantamal II Padang Laksamana Pertama TNI Agus Sulaeman, Dandim 0312 Padang Letkol (Czi) RN Yudha Tri Ananda, Kepala BPBD Sumatera Barat Erman Rahman, Kepala Kemenkumham Sumatera Barat Ajub Suratman dan SKPD Pemkot Padang.

Baca juga: Pemkab tanam 5.000 pohon penghijauan pantai

Baca juga: Dinas Kehutanan Sumbar bagikan 1.000 bibit pohon

Baca juga: Pemerintah rencanakan penanaman Pohon Pule sebagai penahan tsunami

Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

WWF-UNAS sepakati pendidikan pembangunan keberlanjutan dan konservasi

Jakarta (ANTARA) – WWF-Indonesia dan Universitas Nasional (UNAS) menyepakati kerja sama mewujudkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan penelitian konservasi alam.

CEO WWF-Indonesia Rizal Malik dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Jumat (22/3), mengatakan pendidikan tinggi harus peka terhadap perubahan, mengajarkan pembaharuan sehingga dapat menjadi inspirasi bagi peserta didik, sehingga menghasilkan perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, menurut dia, pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan harus menjadi arus utama di tingkat pendidikan tinggi, sehingga tujuan untuk mencetak manusia berkarakter demi pelestarian lingkungan dapat diwujudkan.

Universitas Nasional juga sudah lama berkegiatan bersama WWF-Indonesia, di antaranya kerja sama untuk sosialisasi Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerja sama Universitas Nasional Prof Dr Ernawati Sinaga mengatakan dunia pendidikan adalah kunci bagi pembentukan manusia berkarakter dan berkualitas, salah satunya demi bumi yang lebih baik.

Lebih lanjut ia mengatakan univeristas mempunyai peranan yang sangat penting demi tercapainya Sustainable Development Goal (SDG).

“MoU ini menjadi dasar untuk kolaborasi lebih jauh dalam upaya perguruan tinggi menyinergikan bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar dia.

Ada tiga hal yang menjadi peranan universitas dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, pertama, terus melakukan penelitian tentang sustainability, kedua, melakukan pengajaran tentang pembangunan berkelanjutan kepada peserta didik, ketiga, membentuk kampus ramah lingkungan agar menjadi contoh dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat sekitar.

“Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, sudah seharusnya kita mengetahui info lebih dalam bagaimana cara melindungi dan memanfaatkannya secara bijak. Hal ini didapatkan melalui kegiatan perkuliahan, diskusi dan lain-lain di lembaga pendidikan tinggi,” lanjutnya.

Kegiatan dengan Universitas Nasional melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan konservasi alam di Indonesia, dengan menyelenggarakan beberapa kegiatan seperti kuliah umum tentang pembangunan berkelanjutan, pengetahuan tentang konservasi spesies, peningkatan kapasitas seperti pelatihan, kegiatan penelitian, kuliah kerja di lokasi kerja WWF-Indonesia serta kegiatan umum lainnya.

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

FAO-KLHK suarakan pendidikan hutan untuk selamatkan kehidupan

Jakarta (ANTARA) – Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyuarakan pendidikan hutan untuk menyelamatkan kehidupan dengan mempertahankan tegakan.
 

“Pendidikan dan pelatihan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran di antara pengguna hutan dan masyarakat umum tentang hutan dan kehutanan,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya pada peringatan Hari Hutan Internasional yang mengangkat tema Hutan dan Pendidikan.
 

Siti Nurbaya dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Kamis, juga menekankan setelah menerapkan tindakan korektif untuk memulihkan hutan dan lingkungan yang sehat, langkah selanjutnya adalah menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas dalam mengelola hutan dan lingkungan, melalui pendidikan dan pelatihan.
 

Lebih lanjut ia mengatakan pendidikan hutan membantu anak-anak terhubung dengan alam. Proses ini akan membuat generasi masa depan sadar akan manfaat pohon dan hutan serta kebutuhan untuk mengelolanya secara berkelanjutan.
 

Bagi beberapa anak, hutan adalah sumber makanan langsung, selain juga tempat mereka memperoleh kayu untuk tempat tinggal, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Anak-anak lain dapat menemukan hutan di ruang kelas dan sekolah hutan, dengan menghabiskan waktu di hutan dan taman kota, atau dengan belajar tentang pohon yang tumbuh di kota dan kebun, ujar dia.
 

Rimbawan yang telah menyadari pentingnya peran hutan, tetap membutuhkan pelatihan dan pendidikan untuk mengakses teknologi terbaru dalam kehutanan. FAO, lanjutnya, membantu rimbawan Indonesia untuk belajar bagaimana menggunakan teknologi satelit terbaru untuk memastikan bahwa hutan dipantau dan dikelola secara berkelanjutan.
 

Masyarakat pedesaan dan adat juga memiliki pengalaman dan pengetahuan penting tentang bagaimana melindungi sumber daya hutan dan memastikan bahwa mereka dikelola dan dipanen secara berkelanjutan.
 

“Dengan berinvestasi dalam pendidikan kehutanan di semua tingkatan, negara-negara dapat membantu memastikan para ilmuwan, pembuat kebijakan, rimbawan dan masyarakat lokal bekerja untuk menghentikan deforestasi dan memulihkan lahan yang terdegradasi. Pada gilirannya, hutan yang sehat akan membantu kita mencapai banyak tujuan pembangunan berkelanjutan,” ujar Kepala Perwakilan FAO di Indonesia (AI) Adam Gerrand.

Hutan
 

Populasi dunia akan bertambah menjadi 8,5 miliar pada 2030, sehingga peran hutan menjadi lebih penting dari sebelumnya. Hutan menjaga udara, tanah dan air tetap sehat.
 

Siti mengatakan hutan juga memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan terbesar seperti perubahan iklim, menghilangkan kelaparan dan membuat pembangunan masyarakat perkotaan dan pedesaan berkelanjutan
 

Hutan mencakup sepertiga dari semua daratan di bumi dan merupakan bagian mendasar dari ekosistem global. Hutan juga menyediakan kayu, makanan, bahan bakar dan obat-obatan untuk lebih dari sepertiga populasi dunia.
 

Selain itu, ia mengatakan hutan juga melindungi lingkungan dan mampu menyerap 2,6 miliar ton karbon dioksida (CO2) per tahun dan membantu menghadapi perubahan iklim.
 

Daerah aliran sungai memasok 75 persen air segar yang digunakan di rumah, dan lahan pertanian irigasi di hilir. Mereka melindungi daratan dari erosi, dan dapat mengurangi dampak bencana alam seperti tsunami.
 

Hutan adalah rumah bagi 80 persen spesies hewan dan tumbuhan darat di planet ini.
 

Hutan adalah salah satu sistem pendukung kehidupan, penting bagi setiap insan untuk mengelola hutan secara berkelanjutan yang hanya dapat dicapai melalui pemahaman tentang hutan yang lebih baik.*

Baca juga: Ratusan hektare hutan bakau di Nagekeo terancam punah

Baca juga: Empat hektare lahan gambut di Aceh hangus terbakar

Baca juga: Di Batam terjadi 30-40 kebakaran lahan dalam sebulan

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Satu orangutan diselamatkan dari perkebunan sawit

Penyelamatan tanpa adanya kendala karena memang kondisinya sudah lemah

Medan (ANTARA) – Tim dari BKSDA Aceh berhasil mengevakuasi satu individu orangutan dengan perkiraan umur 7 tahun dari perkebunan sawit di Dusun Rikit, Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

Ketua Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) Panut Hadisiswoyo di Medan, Kamis, mengatakan penyelamatan orangutan yang kemudian diberi nama Pertiwi tersebut tanpa melalui proses pembiusan karena Pertiwi dalam kondisi lemah.

“Tim penyelamat yang terdiri dari BKSDA Aceh, tim HOCRU OIC, dan WCS-IP berhasil mengevakuasi orangutan tersebut. Penyelamatan tanpa adanya kendala karena memang kondisinya sudah lemah,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan fisik, Orangutan Pertiwi memiliki berat badan sekitar 5 kg, berjenis kelamin betina, dengan kondisi malnutrisi (kurus) dan kondisi tangan sebelah kanan yang kurang resposif (kurang gerak).

Setelah semua pemeriksaan fisik selesai dinyatakan orangutan itu tidak layak untuk di lepasliarkan kembali ke habitatnya serta harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Karantina Orangutan Sumatera milik SOCP di Sibolangit Sumatera Utara.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan saat ini tim dari BKSDA Aceh dan mitra terus memantau daerah perkebunan yang diperkirakan masih ada orangutan yang terisolasi.

BKSDA akan terus serius melakukan upaya-upaya mengatasi konflik antara manusia dan orangutan sehingga insiden konflik yang mengakibatkan kematian dan perburuan orangutan dapat dicegah. 

Baca juga: Orangutan turun ke perkebunan warga di Subulussalam

Baca juga: Orangutan dengan puluhan peluru di tubuh jalani operasi tulang

Pewarta: Juraidi dan Irsan
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mangrove Muara Angke bertambah jadi 32 ribu dalam 10 tahun

Jakarta (ANTARA) – Kawasan Hutan Mangrove Ecomarine di Muara Angke, Jakarta Utara, mendapat tambahan naungan menjadi 32 ribu pohon dalam 10 tahun terakhir.

“Dari penanaman 2008 hingga sekarang ada 32 ribu pohon mangrove tumbuh di sini,” kata Ketua Komunitas Mangrove Muara Angke Muhammad Said (44) di Hutan Mangrove Ecomarine, Muara Angke, Jakarta Utara, Rabu.

Mangrove yang tumbuh di kawasan hutan seluas 1,8 hektare di pinggiran Muara Kali Adem itu, menurut dia, meliputi mangrove pidada (Sonneratia), api-api (Avicennia), nipah (Nypa fruticans) dan bakau (Rhizophora).

Said mengungkapkan penanaman mangrove di kawasan Muara Angke semula ditujukan untuk memulihkan ekosistem hutan mangrove di kawasan pesisir utara Jakarta yang mulai terancam akibat konversi lahan.

“Dulu memang sempat ada mangrove, namun sejak 1990-an sudah tidak ada lagi karena dampak pembangunan. Pada 2008, kami membentuk komunitas mangrove dan mulai menanam atas dasar sosial, peduli lingkungan,” katanya.

Penanaman mangrove dimulai tahun 2008. Ketika itu komunitas menanam 100 bibit mangrove di daerah Muara Kali Adem, yang bagian atas tanahnya bercampur dengan banyak plastik sehingga sulit ditanami.

“Muara ini adalah destinasi 12 sungai di Jakarta, sampah menumpuk. Kami harus menggali tanah lebih dalam supaya akar mangrove dapat berkembang dengan baik,” jelas Said.

Meski demikian, penanaman mangrove di kawasan tersebut tetap dilanjutkan sehingga jumlah pohonnya sampai ribuan seperti sekarang.

Said mengemukakan sekarang hutan mangrove itu membawa berkah bagi lingkungan sekitarnya.

“Dulu angin kencang sering masuk ke rumah, tapi kini terhalang karena adanya pohon mangrove. Air pasang yang dulunya tinggi, sekarang sudah kurang karena diserap akar pohon,” ungkapnya.

Makanan olahan yang terbuat dari buah mangrove hasil produksi industri rumahan di Muara Angke, Jakarta, Rabu (20/3/2019). Bahan baku buah mangrove diambil dari Hutan Mangrove Ecomarine yang dikelola masyarakat. (ANTARA/Sugiarto P)
Selain itu, mangrove bisa menyerap karbon dioksida (CO2), sehingga turut andil meredam pemanasan global.

Hutan mangrove bisa menjadi tempat tinggal, mencari makan dan berkembangbiak bagi banyak spesies satwa.

Bagi masyarakat sekitarnya, hutan mangrove juga memberikan manfaat ekonomi.

Warga sekitar Hutan Mangrove Ecomarine mengolah buah mangrove jenis pidada menjadi sari buah, dodol dan selai serta menjualnya.

Sari buah mangrove ukuran 300 mililiter (ml) dijual seharga Rp15 ribu, dodol mangrove Rp25 ribu per 250 gram, dan selai mangrove Rp15 ribu untuk ukuran 200 gram.

“Buah mangrove yang awalnya hanya jatuh ke tanah, kini bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. Ibu-ibu di sekitar sini bisa kerja bikin makanan sehat dari olahan mangrove,” kata Saanit (58).

Hutan Mangrove Ecomarine berada di ujung perkampungan nelayan di Muara Angke, sekitar 10 menit berjalan kaki dari Pelabuhan Kali Adem.

Di sana, ada tiga saung kecil, satu rumah edukasi serta tambak budi daya ikan mujair. Pengunjung tidak ditarik uang sepeser pun untuk memasuki kawasan hutan mangrove yang dikelola masyarakat tersebut.

Pewarta: Virna P Setyorini, Sugiarto P
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Burung Dara Laut Terpantau Migrasi Ke Australia

Ambon (ANTARA) – Hasil pemantauan dan penandaan burung dara laut jambul (Thalasseus bergii) yang dilakukan tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya (BKSDA) Maluku, Burung Indonesia di Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, terpantau telah bermigrasi ke Australia.

Hasil penandaan yang dilakukan 17 Februari 2019 terhadap tiga ekor burung dara laut jambul, terpantau pada pertengahan Maret 2019 telah migrasi ke Australia sebanyak satu ekor.

“Sedangkan satu ekor terpantau masih di sekitar pulau Seram dan satu ekor lagi belum terpantau,” kata Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi, Rabu.

Ia mengatakan, burung dara laut Cina (Thalasseus bernsteini) dan Dara Laut Jambul (Thalasseus bergii), merupakan dua dari sekian jenis burung dalam famili Sternidae yang dilindungi pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Ia menjelaskan, menurut International Union for Conservation of Nature IUCN, status konservasi Dara Laut Cina tersebut yaitu critically endangered/CR atau kritis. Diperkirakan jumlah individu dewasa di dunia kurang dari 100 ekor.

“Kedua burung tersebut merupakan burung yang bermigrasi melalui Indonesia. Pada 2018, burung-burung tersebut terpantau berada di perairan Seram Utara, Maluku Tengah,” ujarnya.

Menurut Mukhtar, pemantauan dan penandaan tersebut dilakukan Februari 2019, bertepatan dengan musim migrasi dara laut Cina dari tempat berbiaknya di Cina ke tempat-tempat yang lebih hangat seperti Indonesia dan Australia.

Dalam pemantauan tersebut, diketahui satu ekor dara laut Cina (Thalasseus bernsteini) bersama dalam kelompok beberapa ekor Dara Laut Jambul (Thalasseus bergii).

“Hasilnya tim berhasil menandai dan memasang satelite pada dua ekor Dara Laut Jambul untuk mendeteksi jalur migrasinya,” katanya.

Ditambahkannya, burung dara laut jambul saat penandaan telah dipasang cincin plastik berwarna orange dengan kode tertentu, semua burung yang ditangkap dipasangi tanda berupa pita logam permanen yang berisi kode internasional tersendiri pada kaki burung tersebut.

“Dara laut jambul   dipantau setiap hari selama durasi umur sattelite tag. Sattelite tag tersebut dapat berfungsi optimal sekitar 12 – 18 bulan, karena menggunakan solar panel sebagai sumber energi, dan akan terlepas dengan sendirinya,” ujarnya.  

Baca juga: BirdLife deteksi jalur migrasi dara laut di Seram Utara
Baca juga: Burung Dara Dilarang Berkeliaran Saat Hari Nasional

 

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tiga direktur pemilik kayu ilegal dari Jayapura berstatus tersangka

Jakarta (ANTARA) – Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan dan Kehutanan (GAKKUM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan tiga direktur perusahaan kayu pemilik 140 kontainer merbau ilegal asal Jayapura menjadi tersangka.

Saat ini ketiga tersangka sudah ditahan untuk keperluan penyidikan lebih lanjut, dan menahan dua tersangka lainnya untuk kasus kayu ilegal dari Papua Barat.

Dirjen Gakkum KLHK Rasio Ridho Sani dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Rabu, mengatakan ketiga tersangka itu adalah DG merupakan Direktur PT MGM, dengan barang bukti 61 kontainer kayu merbau ilegal, DT merupakan Direktur PT EAJ, dengan barang bukti 31 kontainer kayu merbau ilegal, dan TS yang merupakan Direktur PT RPF, dengan barang bukti 38 kontainer kayu merbau ilegal.

Penetapan ketiganya sebagai tersangka merupakan hasil pengembangan dari dua penangkapan serta penyitaan 57 kontainer dan 199 kontainer kayu merbau asal Jayapura diawal 2019.

Ia mengatakan ketiga tersangka diduga kuat telah melanggar Pasal 12, Pasal 14 dan Pasal 16 Undang Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pengamanan Hutan dengan ancaman hukuman kurungan 10 tahun dan denda Rp100 miliar.

Ia menegaskan akan terus bekerja untuk membongkar jaringan kayu illegal yang sudah merugikan negara dan menghancurkan ekosistem.

“Kami mengapresiasi putusan Hakim PN Makassar Baslin Sinaga yang menolak gugatan praperadilan terkait penyidikan kayu illegal asal Papua ini,” katanya.

Baca juga: Polisi sita delapan truk bermuatan kayu ilegal

Baca juga: Gakkum KLHK amankan 384 kontainer kayu ilegal asal Papua

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tim SOCP selesai mengoperasi bahu orangutan Hope

Medan (ANTARA) – Tim Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) sudah selesai mengoperasi bahu Hope, namun belum mengeluarkan puluhan peluru yang bersarang pada tubuh orangutan tersebut.

Dokter hewan senior YEL-SOCP Yenny Saraswati di Medan, Rabu, mengemukakan tim dokter memprioritaskan penanganan cedera tulang bahu Hope mengingat risiko infeksi pada bagian tersebut.

“Sepanjang proses operasi kondisi Hope cukup stabil. Saat ini dia masih dalam perawatan pasca-operasi dan kita semua berharap semoga proses penyembuhan pasca operasi ini juga bisa berjalan baik,” katanya.

Kalaupun nantinya Hope berhasil diselamatkan, orangutan itu tidak akan dapat dilepasliarkan ke alam mengingat satwa itu buta total karena kedua matanya juga kena peluru. Hope kemungkinan akan dipindahkan ke fasilitas Orangutan Haven yang sedang dalam pembangunan.

Supervisor Rehabilitasi dan Reintroduksi untuk YEL-SOCP drh. Citrakasih Nente mengatakan karantina dan rehabilitasi orangutan dimaksudkan untuk memeriksa secara intens kondisi kesehatan orangutan dan merehabilitasi mereka baik secara fisik maupun psikologis.

Selain mengoperasi Hope, Tim SOCP juga melakukan operasi pada bayi orangutan berumur sekitar tiga hingga empat bulan yang diberi nama Brenda.

Brenda lengan atas bagian kirinya patah dan dievakuasi minggu lalu oleh seorang anggota TNI dari area pembukaan lahan di daerah Aceh Barat Daya.

Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh dan SOCP pada Senin (11/3) bergerak ke Aceh Barat Daya lalu membawa Brenda ke Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan di Sibolangit agar bisa mendapat perawatan intensif.
 

Pewarta: Juraidi dan Irsan
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Delapan gajah di hutan konservasi Lahat terpaksa dievakuasi

Palembang (ANTARA) – Sebanyak delapan ekor gajah di kawasan hutan konservasi Sumber Daya Alam, Lahat, Sumatera Selatan terpaksa dievakuasi petugas untuk merespon semakin meruncingnya konflik lahan dengan sekelompok warga Dusun Padang Baru, Kecamatan Merapi Selatan.

Kepala Seksi BKSDA wilayah II Lahat, Martialis yang dihubungi Antara, Rabu, mengatakan delapan gajah sudah dievakuasi menggunakan truk pada Selasa (19/3), untuk dipindahkan ke kawasan hutan konservasi Padang Sugihan, jalur 21, Banyuasin.

Sementara dua ekor gajah lainnya terpaksa ditinggal karena satu ekor gajah bernama Nensi, berusia sekitar 30 tahun, mengamuk saat akan dinaikkan ke dalam truk. Nensi diketahui baru sekali berpengalaman dievakuasi, yakni saat dipindahkan ke Lahat.

“Nensi tidak biasa dibawa naik truk. Dia ngamuk, sepertinya stress jadi terpaksa ditinggal,” kata dia.

Lantaran itu, terpaksa seekor gajah lagi namanya Argo usia juga sekitar 30 ditinggalkan juga untuk menemani Nensi.

Ia mengatakan BKSDA terpaksa mengambil keputusan sulit mengevakuasi gajah-gajah ini karena konflik dengan sekelompok warga kian meruncing.

Warga yang diketahui merupakan warga dusun Padang Baru ini telah menanam bibit karet di kawasan konservasi. Dari cara penanamannya, dinilai lebih kepada ingin membatasi atau menandai lahan.

Kemudian petugas BKSDA melakukan pencabutan terhadap tanaman karet tersebut sehingga memicu konflik. Bahkan beberapa hari lalu sempat ada pengancaman dan pemukulan terhadap pawang gajah.

“Untuk kejadian ini kami sudah lapor polisi, dan pawang juga sudah divisum,” kata dia.

Kemudian, pemicu lainnya adanya pemindahan gajah ini yakni sebanyak empat ekor gajah mendadak sakit.

“Gajah ini serentak mencret dan feses (kotoran) mengeluarkan darah. Kenapa serempak tapi sekarang feses gajah lagi dicek di laboratorium, wajar kami curiga karena gajah-gajah ini mendapat suplai daun pelepah dari sekitar kawasan konservasi,” kata dia.

Dengan adanya konflik yang sudah terang-terangan tersebut membuat nyawa gajah-gajah ini semakin terancam. Apalagi wilayah jelajah gajah semakin berkurang dari 210 hektare yang ditetapkan pemerintah sebagai kawasan konservasi, praktis kini hanya tersisa 10-20 hektare yang terbilang aman untuk gajah.

“Padahal jelajah angon satu ekor gajah itu mencapai 50 hektare. Ini kami ada 10 ekor, jelas sudah kondusif lagi di sini,” kata dia.
Baca juga: Tujuh gajah liar dihalau kembali ke hutan

Oleh karena itu, keputusan pemindahan gajah ini dinilai paling tepat untuk sementara ini, sembari BKSDA mencari cara agar kawasan konservasi di Lahat ini kembali kondusif.

Asal muasal berdirinya kawasan konservasi ini juga atas permintaan Pemkab Lahat karena dapat dijadikan pusat pelatihan gajah.

Kemudian beberapa gajah mulai dikirim ke lokasi tersebut sejak beberapa tahun lalu.

“Gajah-gajah ini umumnya berlatar belakang dari konflik lahan juga di daerah lain. Mereka dipindahkan di kawasan konservasi dengan maksud dapat terlindungi,” ujar dia.

Ia mengatakan berdasarkan dokumen legal pemerintah, kawasan ini sebenarnya berada di Desa Ulak Pandan. Sementara Desa Padang Baru ini baru muncul belakangan hari karena sebelumnya hanya ada Desa Padang.

Baca juga: Kawanan gajah yang masuk perkebunan digiring ke hutan Minas

Baca juga: Walhi: gangguan gajah di Aceh akan berlanjut tanpa penghentian alih fungsi hutan

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Orangutan dengan 74 peluru

Petugas kesehatan memeriksa Hope, orangutan betina dewasa yang diselamatkan dari Subusssalam, Aceh (10/3/2019) di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan  Sumatera di Sibolangit, Sumatera Utara, Minggu (17/3/2019). Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 74 peluru senapan angin di badan dan wajahnya sehingga menyebabkan buta total di kedua matanya. Selain itu Orangutan Hope juga mengalami patah tulang di bahu kiri serta dengan luka-luka benda tajam di sekujur tubuh dan kemudian menjalani operasi patah tulang dengan bantuan seorang ahli bedah tulang dan syaraf dari Swiss Dr. Andreas Messikommer, seorang relawan dokter yang sudah beberapa kali membantu tim medis YEL-SOCP menangani kasus serupa. ANTARA FOTO/HO/YEL-SOCP/Suryadi/foc.

Benih ikan koi ditebar di taman hutan Kota Madiun-Jatim

Benih ikan koi di kolam Taman Hutan Kota Patihan guna memaksimalkan fungsi ruang hijau terbuka (RTH) di wilayah setempat

Madiun (ANTARA) – Wali Kota Madiun, Jawa Timur, Sugeng Rismiyanto menebar benih ikan koi di kolam Taman Hutan Kota Patihan guna memaksimalkan fungsi ruang hijau terbuka (RTH) di wilayah setempat.

Ratusan ikan benih ikan koi tersebut diharapkan mampu menjadikan taman kota yang baru selesai digarap pada akhir tahun 2018 tersebut menjadi lebih indah.

Wali Kota Sugeng mengatakan Taman Hutan Kota Patihan yang terletak di Jalan Basuki Rahmat tersebut selain untuk RTH juga bisa dikembangkan sebagai sarana edukasi.

“Selain kawasan hijau, juga untuk edukasi mengenal tanaman dan habitatnya. Pokoknya rimbun dulu, tanam apa saja,” katanya di sela kegiatan sambung rasa Wali Kota Madiun dengan warga Kecamatan Manguharjo di Taman Hutan Kota Patihan Madiun.

Ia ingin, taman hutan kota tersebut nantinya dapat digunakan maksimal oleh warga Kota Madiun.

Kepala Bidang Pertamanan, Pemakaman, dan Penerangan Jalan, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Madiun Aang Marhendra mengatakan, Taman Hutan Kota Patihan tersebut belum bisa dinikmati secara maksimal, sebab masih dalam masa karantina.

“Beberapa tanaman belum tumbuh sempurna. Namun, kalau warga mau melihat-lihat, boleh,” kata Aang.

Saat ini Kota Madiun telah memiliki tiga hutan kota. Selain Taman Hutan Kota Patihan, dua lainnya adalah taman hutan kota di wilayah Ngegong dan Tawangrejo.

Sementara, berdasarkan data Dinas Perkim Kota Madiun, Taman Hutan Kota Patihan dibangun dengan dana sebesar Rp4,042 miliar. Sesuai kontrak, taman tersebut dikerjakan oleh PT Mutiara Rejeki Nusantara.

Selain bertujuan sebagai tempat rekreasi warga, taman tersebut juga berfungsi sebagai ruang terbuka hijau Kota Madiun. Adapun Pemkot Madiun saat ini telah memiliki sebanyak 52 RTH dan diharapkan akan terus bertambah.

Baca juga: Madiun berencana bangun tujuh ruang terbuka hijau tahun ini

Baca juga: Ikan Koi sumbang devisa Rp178 miliar

Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hasil riset LIPI sebut kawasan Pura Balingkang Bali layak jadi kebun raya

Bangli, Bali (ANTARA) – Hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  menyatakan lahan seluas 15,9 hektare pada kawasan Pura Dalem Balingkang, di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali layak dijadikan kebun raya, kata Bupati Bangli I Made Gianyar, di Bangli, Selasa.

Kepastian ini didapat ketika Bupati Bangli I Made Gianyar menghadiri undangan LIPI, dalam rangka penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, LIPI dengan Bappeda Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Bangli tentang Pembangunan, Pengelolaan dan Pengembangan Kebun Raya Bangli.

Juga dari hasil penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bupati Bangli dengan Kepala LIPI tentang Penelitian Pengembangan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, di Jakarta, Kamis (14/3).

Sebelum Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan MoU ini ditandatangani, Bupati Bangli I Made Gianyar sempat melakukan diskusi dengan Kepala LIPI Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati  Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Dr. R. Hendrian, M.Sc., Kepala Bidang Pengembangan Kawasan Kebun Raya Danang Wahyu Purnomo, M.Sc dan sejumlah pejabat LIPI lainnya.

Diskusi tentang rencana penyususan topografi dan pembuatan Master Plan Kebun Raya Bangli, sebagai salah satu yang diisyaratkan dalam Perpres No. 93 Tahun 2011 tentang Kebun Raya.

Diskusi ini menghasilkan kesimpulan bahwa pelaksanaan pekerjaan Master Plan Kebun Raya Bangli akan dikerjakan oleh LIPI.

Master Plan ini, direncanakan mulai dikerjakan pada minggu kedua bulan April tahun 2019 mendatang.

Di sela-sela acara berlangsung, Ketua LIPI Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya hayati terkaya di dunia.

Oleh karena itu, konservasi tumbuhan baik secara in-situ maupun ex-situ harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. “Dengan ini, LIPI akan membantu perencanaan pembangunan Kebun Raya Bangli, mulai dari perencanaan, pengelolaan, pendampingan, monitoring hingga evaluasi,” katanya.

 Baca juga: Kebun raya terbesar bakal ada di Kotawaringin Timur 2020
Baca juga: Presiden ajak Jan Ethes jalan-jalan di Kebun Raya Bogor

Pewarta: Adi Lazuardi
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peneliti jelaskan asal hiu Sentani menyusul kemunculan hiu pascabanjir

Hiu yang merupakan ikan air asin kemudian beradaptasi dengan air danau dan air sungai atau sumber mata air tawar yang terhubung dengan Danau Sentani…

Jayapura (ANTARA) – Peneliti dari Balai Arkeologi Papua menjelaskan asal hiu Sentani menyusul penemuan beberapa ikan hiu oleh warga BTN Sosial Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa pagi, setelah banjir melanda daerah itu.

Berkenaan dengan penemuan ikan hiu pascabanjir di Sentani yang menjadi viral di berbagai media sosial itu, peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto mengemukakan bahwa pada masa lalu Danau Sentani merupakan bagian dari laut yang menjorok ke darat.

“Bagian laut ini, sebelah utara berbatasan dengan Gunung Dafonsoro atau kini Cagar Alam Cycloops. Bagian laut ini terhubung oleh sungai dan mata air dari Cycloops,” katanya.

Pergerakan lapisan bumi, alumnus Universitas Udayana Bali itu melanjutkan, kemudian membuat air Danau Sentani yang semula asin menjadi tawar.

“Hiu yang merupakan ikan air asin kemudian beradaptasi dengan air danau dan air sungai atau sumber mata air tawar yang terhubung dengan Danau Sentani. Dalam perkembangannya hiu-hiu ini berubah menjadi ikan hiu air tawar,” katanya berpendapat.

Dia mengungkapkan bahwa bukti arkeologi menunjukkan adanya motif-motif ikan hiu di Situs Megalitik Tutari. Selain itu, ia menambahkan, Suku Sentani yang tinggal di Pulau Asei menggambarkan ikan hiu pada lukisan kulit kayu.

Hari menuturkan memori Suku Sentani tentang ikan hiu, yang dikabarkan sempat menghilang dari Sentani dan terakhir ditangkap tahun 1970-an, juga tertuang dalam lambang klub sepakbola kebanggaan Kabupaten Jayapura, Persidafon Dafonsoro.

Baca juga:
Korban meninggal banjir bandang di Kabupaten Jayapura capai 83 orang
Bupati Jayapura instruksikan relokasi BTN Gajah Mada

 

Pewarta: Alfian Rumagit
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Orangutan dengan puluhan peluru di tubuh jalani operasi tulang

Penanganan saat ini masih fokus dan intensif mengobati luka trauma yang infeksi,

Banda Aceh (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengatakan orangutan yang diberi nama Hope dengan puluhan peluru di tubuhnya, berhasil menjalani operasi pada tulang bahunya yang patah.

“Operasi melibatkan dokter hewan YEL-SOCP dan dokter spesialis tulang dari Swiss. Operasi dilakukan pada Minggu (17/3), berlangsung selama tiga jam,” kata Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo di Banda Aceh, Senin.

Operasi berlangsung di Pusat Karantina dan Rehabilitasi orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara, Hope saat ini dalam perawatan Tim Sumatran Orangutan Conservation Programme atau SOCP.

Untuk rencana operasi pengambilan peluru, sebut Sapto Aji, ditunda dengan mempertimbangkan kondisi Hope. Saat ini, konsentrasi operasi adalah pemasangan plat pada bahu yang patah.

“Penanganan saat ini masih fokus dan intensif mengobati luka trauma yang infeksi. Hope sudah sadar setelah proses pembiusan,” ungkap Sapto Aji Prabowo.

Sebelumnya, BKSDA Aceh mengevakuasi Hope dan anaknya yang berusia satu bulan. Namun, bayi orangutan tersebut akhirnya meninggal dunia ketika dibawa ke pusat karantina di Sibolangit. Bayi orangutan tersebut meninggal karena kekurangan nutrisi.

Sapto Aji Prabowo mengatakan, orangutan tersebut dievakuasi dari kebun warga di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

“Evakuasi berlangsung pada Minggu (10/3). Kondisi induk saat dievakuasi memprihatinkan. Begitu juga anak orangutan tersebut, kekurangan nutrisi, sehingga menyebabkan satwa dilindungi itu mati saat dalam perjalanan ke lokasi karantina,” sebut dia.

Sapto Aji menyebutkan, induk orangutan saat dievakuasi memprihatinkan dengan kondisi luka kaki dan jari tangan. Mata Hope buta terkena peluru senapan angin serta ditemukan 74 butir peluru senapan angin di tubuhnya.

“Kami berkomitmen membantu mengungkap kasus penganiayaan dan penembakan orangutan dan anaknya. Kami juga berterima kasih kepada tim medis yang telah mengoperasi Hope,” kata Sapto Aji Prabowo. 

Baca juga: Polisi didesak usut penembakan orang utan
Baca juga: BKSDA Aceh evakuasi orangutan dengan kondisi luka tembak

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kawasan Taman Nasional Lore Lindu jadi momok masyarakat

Kami berharap pada 2019 jalannya sudah mulai dikerjakan

Poso,Sulteng (ANTARA) – Kawasan Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah menjadi momok bagi masyarakat sekitar karena dianggap sebagai suatu area yang tidak bisa dijamah sama sekali.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) menjembatani kerja sama antara pengelola Taman Nasional Lore Lindu dengan pemerintah desa di Kecamatan Lore Barat.

Wakil Bupati Poso, Zamsuri, Senin mengharapkan kerja sama tersebut bisa menghapus anggapan bahwa Taman Nasional Lore Lindu tidak bisa disentuh sama sekali oleh masyarakat di Lembah Bada yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.

Selain itu, ia mengharapkan kerja sama tersebut bisa memberikan dampak saling menguntungkan di mana pengelola kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu bisa membina masyarakat dalam memanfaatkan kawasan tersebut sesuai aturan yang berlaku.

Wakil Bupati Zamsuri mengatakan masyarakat bukan tidak boleh menyentuh kawasan konservasi. Dibolehkan, kata dia, asal kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan pemerintah dan juga atas bimbingan dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu.

Menurut dia, dengan adanya kerja sama dimaksud, pihak Taman Nasional Lore Lindu tentu akan mendidik dan membina masyarakat bagaimana agar bisa meningkatkan ekonomi dan taraf hidup mereka, tanpa harus mengganggu kawasan konservasi.

Karena itu, pihaknya  mendorong program pemberdayaan yang dilakukan selama ini oleh pengelola Taman Nasional Lore Lindu kepada masyarakat yang ada di sekitar kawasan konservasi, khususnya yang berada di wilayah Kabupaten Poso.

Wabup Zamsuri juga mengatakan pemerintah akan membuka akses jalan untuk menghubungkan Kecamatan Lore Barat dan Lore Selatan dengan Kecamatan Lore Timur, Lore Tengah, Lore Piore dan Lore Utara sehingga masyarakat yang akan menuju Lore Barat dan Lore Selatan tidak lagi harus berputar lewat Poso-Tentena.

Begitu pula dengan masyarakat dari Lore Barat dan Lore Selatan bisa langsung menuju Palu, tanpa harus lewat Poso-Tentena yang jaraknya memang cukup jauh.

Jarak dari Palu menuju Lembah Bada mencapai sekitar 400 kilometer. Padahal jika dari Palu lewat Napu, Lore Utara hanya sekitar 200 kilometer saja. “Kami berharap pada 2019  jalannya sudah mulai dikerjakan,” ujar Zamsuri.

Pewarta: Anas Masa
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pencurian satwa di Taman Nasional Togean Sulteng masih berlangsung

Paling banyak dilakukan oleh masyarakat lokal yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional kepulauan Togean

Tojo,Sulteng (ANTARA) – Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Bustang, mengaku hingga kini pencurian berbagai hasil hutan dan satwa baik di darat maupun laut di kawasan konservasi itu masih berlangsung.

“Paling banyak dilakukan oleh masyarakat lokal yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional kepulauan Togean,” katanya di Palu, Sulawesi Tengah, Senin.

Ia mengatakan dengan jumlah personil polisi hutan (polhut) yang sangat terbatas, cukup menyulitkan untuk mengamankan dan mengawasi berbagai gangguan berupa pencurian ikan dengan menggunakan bom dan juga pembalakan liar.

Namun, kata dia, dalam tiga tahun terakhir ini, gangguan di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean baik di laut maupun di daratan sudah semakin berkurang.

Pihaknya terus melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan pemberdayaan dan juga sosialisasi dan cukup berhasil.

Bahkan, katanya, ada sejumlah desa yang cukup proaktif membantu petugas Taman Nasional Kepulauan Togean melakukan berbagai kegiatan di lapangan sehingga masyarakat sudah tidak ada lagi yang melakukan pencurian ikan dan satwa lainnya serta pembalakan liar. Tetapi, ada juga beberapa desa yang masyarakatnya masih tetap melakukan kegiatan tak terpuji tersebut.

“Kami terus mendekati mereka dan mencoba untuk mengubah pola pikir, meski tantangan cukup berat,” ujar Bustang.

Padahal pihaknya telah memberi akses bagi masyarakat lokal untuk mengelola bersama kawasan konservasi bagi kesejahteraan dan juga perolehan devisa negara dari berbagai objek wisata yang ada di Taman Nasional Kepulauan Togean.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung di kawasan konservasi Kepulauan Togean dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan cukup mengembirakan.

Dengan demikian, pendapatan masyarakat juga setidaknya bisa meningkat. Begitu pula perolehan devisa bagi negara dari sektor pariwisata dipastikan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya kunjungan wisatawan.

Bustang juga menambahkan jika tidak ada aral melintang, Taman Nasional Kepulauan Togean akan dideklarasikan sebagai cagar biosfer anggota jaringan dunia oleh Unesco.

“Kami sudah usulkan kepada Unesco untuk bisa menjadi anggota cagar biosfer dunia dan berharap pada 2019 ini juuga bisa dideklarasikan,” ujar dia.

Luas kawasan konservasi TN Kepulauan Togean mencapai 365.241 hektar terdiri darat sekitar 25.000 hektar, sedangkan kawasan konservasi laut mencapai 340.000 hektar.

Pewarta: Anas Masa
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hutan kekayaan masyarakat Jambi harus dilestarikan, kata Kepala BNPB

Apakah kita hanya akan mengenang satwa-satwa tadi kelak..?”,

Jakarta (ANTARA) – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan hutan yang menjadi kekayaan masyarakat Jambi harus dilestarikan untuk generasi mendatang jangan ditebang dan dibakar.

“Hutan merupakan aset berharga bagi kehidupan masyarakat Jambi,” katanya dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana Provinsi Jambi sebagaimana siaran pers diterima di Jakarta, Sabtu.

Ia menambahkan wilayah Jambi dikenal dengan kekayaan satwa yang langka seperti harimau, gajah dan badak. Bila hutan tidak dilestarikan satwa-satwa langka itu tidak akan bisa bertahan hidup.

“Apakah kita hanya akan mengenang satwa-satwa tadi kelak..?”, tanyanya.

Menurut Doni, hutan sangat erat berkaitan dengan peluang bahaya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Jambi.

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, empat wilayah kabupaten yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan adalah Tanjung Jabung Timur, Batang Hari, Bungo, dan Sarolangun.

Pada 2018, luas hutan dan lahan terbakar mencapai 970,16 hektare, dengan rincian gambut 272,06 hektare dan lahan mineral 698,1 hektare. Sementara itu, luas lahan gambut di Jambi mencapai 617.562 hektare.

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

12.000 bibit bakau ditanam di TN Way Kambas

Lampung Timur (ANTARA) – Balai Pengembangan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Way Seputih-Way Sekampung Lampung bersama Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur, LSM mitra TNWK, polisi hutan (polhut), aparat TNI, Polri dan warga serta pelajar setempat menanam sebanyak 12.000 bibit pohon bakau (mangrove) jenis rhizophora.

Penanaman bibit bakau itu dilaksanakan di kawasan pantai areal hutan TNWK di Kabupaten Lampung Timur, Sabtu, bertepatan dengan peringatan Hari Bakti Rimbawan setiap tanggal 16 Maret.

Pelaksanaan penanaman bibit bakau itu dimulai secara seremonial di kawasan pantai TNWK, di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Sabtu pagi.

Kegiatannya kembali akan dilanjutkan pada Minggu (17/3) besok oleh warga, pelajar, dan unsur pemerintah daerah setempat.

“Kegiatan hari ini intinya edukasi dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan,” kata Kepala BPDAS Way Seputih-Way Sekampung, Idi Bantara yang ditemui di lokasi penanaman bibit bakau itu.

Idi Bantara menjelaskan, semangat yang diusung pada kegiatan ini, yakni menjaga lingkungan untuk mengembalikan lingkungan yang rusak dengan cara penghijauan.

Dia menyebutkan, sebanyak 12.000 bibit pohon mangrove spesies rhizophora akan ditanam di atas lahan seluas 30 hektare.

Kepala Balai TNWK Subakir menyebutkan panjang pantai TNWK yang gundul sepanjang 75 kilometer.

Subakir menyatakan, manfaat adanya hutan bakau selain menjaga lahan dari abrasi, juga sangat mendukung kelestarian satwa-satwa liar yang hidup di sekitarnya.

Menurut Subakir, hutan Way Kambas memiliki lima ekor satwa kunci, yaitu badak, harimau, gajah, tapir, dan beruang. Satwa-satwa besar tersebut sering keluar ke hutan bakau manakala hutan bakaunya tumbuh rimbun dan rindang.

“Hutan bakau ini sangat bagus untuk kelestarian ekosistem, terutama untuk satwa-satwa besar, kalau pantainya tertutup mereka akan datang mencari makan dan minum, tapi kalau lahannya terbuka mereka tidak akan mau keluar,” ujarnya lagi.

Ke depan, kata Subakir, kawasan pantai TNWK seluruhnya bakal dihijaukan supaya hutannya terlindungi berikut satwa di dalamnya agar terjaga kelestariannya.

Baca juga: TN Way Kambas jadi kawasan Taman Warisan ASEAN
Baca juga: WCS : tercatat 26 gajah Way Kambas ditemukan mati akibat perburuan

Pewarta: Budisantoso B & Muklasin
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

SILFA Aceh dukung pembentukan kawasan konservasi penyu di Simeulue

Meulaboh, Aceh (ANTARA) – Pegiat lingkungan yang tergabung dalam Selamatkan Isi Alam dan Flora Fauna (SILFA) Aceh mendukung pembentukan kawasan konservasi penyu di Kabupaten Simeulue untuk menjaga habitat kura-kura laut di pulau terluar Provinsi Aceh itu.

Mereka sudah menemui para pemangku kepentingan terkait di Simeulue untuk mendukung penyiapan qanun atau peraturan daerah mengenai penetapan kawasan konservasi penyu. 

“Kita sudah melakukan sosialisasi ke masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjaga dan mengelola kawasan konservasi penyu tersebut,” kata Direktur Eksekutif SILFA Aceh Irsadi Aristora saat dihubungi dari Meulaboh, Sabtu.

Pelibatan warga sekitar, ia mengatakan, penting dalam pengelolaan kawasan konservasi dan pelestarian habitat penyu di kawasan pesisir Simeulue. 

Irsadi mengatakan bahwa di Simeulue dia melihat banyak telur penyu diperjualbelikan. “Itu menunjukkan bahwa di sana banyak habitat penyu dan penyu masih menyukai pantai setempat untuk bertelur, maka harus dijaga,” ia menambahkan.

Saat melakukan observasi dan pemetaan lokasi penangkaran penyu di Simeulue, pegiat SILFA menemukan beberapa lubang tempat penyu bertelur dan telur-telur penyu. Di kawasan Pantai Lasikin misalnya, pegiat SILFA menemukan 80 telur penyu hijau dan 29 telur penyu belimbing.

Selama ini, menurut Irsadi, warga sekitar masih mengonsumsi telur penyu. Pembentukan kawasan konservasi, ia melanjutkan, memungkinkan pengaturan pengelolaan habitat untuk minimal membatasi pengambilan telur penyu di pantai.

Kalau telur-telur penyu tidak diambil dan dibiarkan menetas dan tumbuh, ia menjelaskan, maka populasi penyu di Simeulue akan meningkat dan pemerintah daerah bisa membangun kawasan wisata penyu yang bisa mendatangkan penghasilan bagi warga sekitar.

“Tanggal 14 April 2019 ini, akan ada telur penyu dalam penangkaran yang menetas dan akan dilepas bersama pemda. Harapan kita Simeulue menjadi daerah wisata penyu sebagaimana di Aceh Jaya,” katanya.

Pewarta: Anwar
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gajah jinak Yeti akhirnya mati di Way Kambas Lampung

Lampung Timur (ANTARA) – Gajah jinak sumatera (Elephas maximus sumatranus) berusia empat tahun bernama Yeti, berjenis kelamin betina yang menderita sakit di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur, akhirnya mati.

Yeti mati di Camp Elephant Response Unit (ERU) Margahayu, TNWK, di Kabupaten Lampung Timur, Kamis (14/3) kemarin.

“Iya, Yeti mati Kamis kemarin, penyebabnya mungkin karena sakit,” kata Kepala Balai TNWK Subakir, saat dihubungi, Jumat.

Subakir menerangkan, gajah Yeti merupakan anak gajah hasil evakuasi pihaknya dari kanal gajah di Desa Braja Yekti pada 28 November 2013. Pada waktu dievakuasi, usianya masih sekitar tiga bulan. Gajah itu dievakuasi karena ditinggal oleh induk dan kawanannya.

Yeti lalu dibawa ke Rumah Sakit Gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK untuk mendapatkan perawatan oleh tim dokter hewan.

Menurut Subakir, Yeti tergolong anak gajah yang malang, mengingat semenjak dievakuasi sering sakit-sakitan. “Yeti memang sudah sakit-sakitan dari awal, semenjak pertama kali ditemukan,” katanya pula.

Upaya mengobatinya telah dilakukan oleh tim dokter hewan, namun akhirnya tidak tertolong juga.

“Catatan terakhir Yeti mengalami sakit kejang-kejang dan gatal-gatal,” ujarnya lagi.

Subakir menyatakan, Yeti telah dikuburkan, namun sebelum dikubur, oleh tim dokter bagian dalam tubuhnya diambil untuk diteliti agar mengetahui sakit yang dialami.

“Penyakitnya bisa diketahui setelah diuji di laboratorium, bagian dalam tubuhnya sudah diambil untuk dibawa ke lab,” ujarnya pula.

Baca juga: Yeti, gajah Way Kambas Lampung sakit
Baca juga: Seekor gajah jinak ditemukan mati di Pidie
Baca juga: 11 ekor gajah mati di Aceh selama 2018

Pewarta: Budisantoso B & Muklasin
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Polisi didesak usut penembakan orang utan

Penembakan terhadap orang utan menggunakan senapan angin merupakan bentuk penyiksaan. Satu individu induk orang utan mengalami luka parah setelah 74 peluru senapan angin bersarang di tubuhnya,

Banda Aceh (ANTARA) – Kalangan aktivis lingkungan hidup mendesak kepolisian mengusut kasus penembakan terhadap satu individu orang utan yang menyebabkan di tubuh satwa dilindungi itu bersarang puluhan peluru senapan angin di Kota Subulussalam, Aceh.

Desakan tersebut disuarakan dua puluhan aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam Koalisi Peduli Orang Utan pada unjuk rasa di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Jumat.

Nuratul Faizah, koordinator aksi menyebutkan, penembakan terhadap orang utan menggunakan senapan angin merupakan bentuk penyiksaan. Satu individu induk orang utan mengalami luka parah setelah 74 peluru senapan angin bersarang di tubuhnya.

“Induk orang utan diberi nama Hope juga mengalami kebutaan total. Akibat penembakan tersebut menyebabkan bayi Hope berusia sebulan mati setelah mengalami kekurangan nutrisi,” tambahnya.

Penembakan orang utan tersebut semakin mengancam keberadaan satwa dilindungi itu. Pengusutan terhadap penembakan Hope merupakan upaya memberi efek jera bagi pelaku dan yang lainnya untuk tidak membunuh satwa dilindungi.

Menurut Nuratul Faizah, pelaku penembakan Hope yang menyebabkan bayinya mati harus dihukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam.

“Ancaman hukuman terhadap pelaku penembakan satwa dilindungi lima tahun penjara dan denda maksimal Rp100 juta. Karena itu, kami mendesak polisi menangkap pelakunya,” kata dia.

Selain itu, ia menyebutkan, aktivis lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Peduli Orang Utan Sumatera juga mendesak kepolisian menertibkan penggunaan senapan angin.

Sebab, senapan angin banyak digunakan menembak satwa dilindungi seperti orang utan maupun burung langka. Penertiban ini juga agar kasus penembakan terhadap Hope tidak terulang,” tambah Nuratul Faizah.

Unjuk rasa berlangsung tertib. Aksi aktivis lingkungan hidup tersebut menjadi perhatian masyarakat yang melintas di bundaran pada lalu lintas itu. Massa aktivis akhir membubarkan diri dengan tertib setelah menyampaikan aspirasinya.

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemkab Lumajang lestarikan anggrek ekor tupai

Kegiatan itu sebagai salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai lingkungan dan mengajak masyarakat semakin sadar terhadap lingkungan dengan ikut aktif menanam tanaman di lingkungan sekitar

Lumajang (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama Komunitas Puspa Semeru melestarikan anggrek ekor tupai (Rhycostilis retusa) yang merupakan tanaman endemik di wilayah setempat dengan menanamnya secara simbolis dalam rangkaian acara “Lumajang Menanam Bunga” di kawasan alun-alun Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Jumat.

“Kami mendapatkan sumbangan dari komunitas pecinta bunga Puspa Semeru sebanyak 1.000 anggrek ekor tupai yang akan ditempel di pohon dan secara simbolis ditanam di depan rumah dinas saya,” kata Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati di Lumajang.

Wakil bupati Lumajang menanam anggrek dengan menggunakan sky lift milik Dinas Lingkungan Hidup karena anggrek tersebut harus ditanam menempel di pohon bagian atas sehingga perlu alat bantu untuk menanamnya.

“Kegiatan itu sebagai salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai lingkungan dan mengajak masyarakat semakin sadar terhadap lingkungan dengan ikut aktif menanam tanaman di lingkungan sekitar,” katanya.

Indah mengucapkan terima kasih kepada komunitas Puspa Semeru yang telah berpartisipasi dan berkontribusi dalam kegiatan peduli lingkungan, khususnya dalam kegiatan menanam pohon di Kabupaten Lumajang.

Sementara Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dinas Lingkungan Hidup Lumajang Yuli Harismawati menyampaikan apresiasinya terhadap Paguyuban Puspa Semeru Lumajang atas sumbangsihnya memperindah kota Lumajang dengan memberikan tanaman anggrek ekor tupai.

“Dengan partisipasi kepedulian mempercantik Lumajang, semakin meyakinkan Pemkab Lumajang bahwa teman-teman komunitas juga peduli terhadap lingkungan, terutama terhadap pelestarian keanekaragaman hayati,” katanya.

Ia menjelaskan tanaman anggrek ekor tupai banyak ditemui di beberapa wilayah di Kabupaten Lumajang dan dapat disebut sebagai tanaman endemik Kota Pisang dan seringkali anggrek jenis itu dianggap sebagai gulma yang menempel di pohon asem dan jati karena ketidaktahuan masyarakat.

“Selama ini orang menganggap tanaman itu sebagai gulma, padahal anggrek itu sangat cantik. Teman-teman dari Puspa Semeru nanti akan mengawal adaptasi di pohon karena ada 1.000 anggrek yang disumbangkan dan menjadi kebanggaan yang akan membuat masyarakat mencintai kotanya dengan keindahan tanaman hias,” ujarnya.

Baca juga: Pemkab Lumajang Siapkan Ribuan Masker Antisipasi Abu Bromo

Baca juga: Tiga kecamatan di Lumajang-Jatim diterjang angin kencang

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Izinkan warga manfaatkan TWA, Menteri LHK syaratkan jaga ekosistem hutan

Warga berhak memanfaatkan dan mengelola daerah areal wisata alam tanpa merusak tatanan ekosistem laut dan hutan untuk untuk mencari nafkah…

Aceh Singkil (ANTARA) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nurbaya, meninjau objek Taman Wisata Alam (TWA) di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh dan mengizinkan warga memanfaatkan areal WTA dengan konsep perhutanan sosial, tanpa merusak ekosistem laut dan hutan.

Dalam kunjungannya ke pulau terluar Aceh Singkil, pada Kamis (14/3) siang itu, Siti Nurbaya berdiskusi dengan masyarakat setempat membicarakan persoalan pengelolaan TWA untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

“Warga berhak memanfaatkan dan mengelola daerah areal wisata alam tanpa merusak tatanan ekosistem laut dan hutan untuk untuk mencari nafkah dan meningkatkan perekonomian,” katanya di sela sela kegiatan itu.

Hal itu menanggapi usulan dari masyarakat setempat yang mengharapkan pemerintah memberikan ruang terhadap pengelolaan sumber daya alam laut di taman wisata alam sebagai sumber perekonomian warga di kepulauan tersebut.

Dalam kunjungannya Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, selain membahas pengelolaan taman wisata alam, juga menyikapi persoalan abrasi yang terus terjadi selama belasan tahun di Kecamatan Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil.

Siti Nurbaya menyampaikan warga boleh memanfaatkan areal taman wisata alam dengan konsep perhutanan sosial, tanpa merusak ekosistem laut dan hutan.

Sementara terkait permasalahan abrasi yang dilaporkan warga, Siti Nurbaya, berjanji akan segera melakukan penanaman pohon bakau (mangrove) dan tanaman pantai lainnya secara massal.

Siti Nurbaya mengatakan kedatangannya kali ini merupakan bukti keseriusannya dalam menanggapi surat dari Bupati Aceh Singkil Dulmusrid, bulan Oktober 2018 lalu, terkait sejumlah persoalan yang ada di kepulauan itu.

Sejumlah warga terlihat antusias dan menyambut meriah kedatangan menteri LHK yang mendarat pukul 10.30 WIB dengan menggunakan helikopter di lapangan bola Desa Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak Kabupaten Aceh Singkil.

Pewarta: Anwar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BKSDA Kalteng lepasliarkan dua ekor kukang di Pararawen

Kembalinya dua ekor kukang ke habitat alaminya diharapkan dapat meningkatkan populasi satwa tersebut di alam dan kelestariannya dapat terus terjaga

Muara Teweh (ANTARA) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melalui Kantor Seksi Konservasi Wilayah III Muara Teweh, kembali melepasliarkan satwa primata dua ekor kukang (Nycticebus menagensis) di kawasan Cagar Alam Pararawen I dan Pararawen II Kecamatan Teweh Tengah.

“Dua ekor kukang berjenis kelamin jantan tersebut berasal dari penyerahan masyarakat dari dua desa yakni Desa Bukit Sawit Kecamatan Teweh Selatan dan Hajak Kecamatan Teweh Baru yang diantar langsung ke kantor BKSDA Kalteng SKW III,” kata Kepala BKSDA Kalteng SKW III Muara Teweh Nizar Ardhanianto di Muara Teweh, Jumat

Menurut Nizar, setelah dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan hasil kondisi fisik sehat dan gigi taringnya lengkap. Kondisi ini memungkinkan untuk kukang tersebut dilepasliarkan ke habitat alaminya. Sebelum dilakukan pelepasliaran, satwa ini terlebih dahulu dilakukan observasi dan perawatan.

Pelepasliaran yang dilaksanakan pada Rabu (13/3) itu dilakukan oleh enam personel tim Wild Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalteng – SKW III menembus Sungai Mantuhang yang secara administratif terletak di Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah untuk mengantar dua ekor kukang ini kembali ke habitatnya.
  Tim Wild Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalteng – SKW III Muara Teweh melepasliarkan dua ekor kukang di kawasan hutan Cagara Alam Pararawen Kecamatan Teweh Tengah, Rabu (13/3/2019). (Foto BKSDA Kalteng SKW III Muara Teweh)
“Kembalinya dua ekor kukang ke habitat alaminya diharapkan dapat meningkatkan populasi satwa tersebut di alam dan kelestariannya dapat terus terjaga. Sekali satwa punah dari muka bumi, dunia akan menjadi tempat yang sepi dan tidak ramah lagi bagi manusia. Mari kita lestarikan kekayaan alam bumi Kalimantan ini,” kata Nizar.

Kukang merupakan satwa dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Sementara itu, Badan Konservasi Dunia IUCN, memasukkan kukang dalam kategori vulnerable (rentan), yang artinya memiliki peluang untuk punah 10 persen dalam waktu 100 tahun. Sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) memasukkan kukang ke dalam apendix I.

“Pelepasliaran bukanlah akhir, tapi justru ini merupakan langkah awal dari primata pemalu tersebut untuk beradaptasi dan berkembang biak dialam. Membiarkan mereka hidup liar merupakan cara bijak kita melestarikan kukang di alam,” ujarnya.

Baca juga: BKSDA rawat seekor kukang liar dari warga

Baca juga: 27 kukang korban perdagangan jalani rehabilitasi

Pewarta: Kasriadi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019